Remake dari Abbi Glines "Fallen Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Aku harap alur cerita akan cukup masuk akal ^^
Sekuel dari FF "The Virgin And The Playboy"
This sekuel is for you all!
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Rate M!
Romance, Drama, Hurt/Comfort
Yaoi, boyXboy
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 4
Yoongi POV
Ada catatan yang terjepit dibawah kaca depan mobil. Aku menariknya keluar dan membaca:
"Bensin sudah penuh. -Hoseok."
Hoseok sudah mengisi bensin mobilku. Dadaku tiba tiba terasa hangat. Dia sangat baik. Kata kata Jimin tentang "menjadi benalu" terngiang di telingaku dan aku menyadari aku perlu membayar Hoseok secepat mungkin. Aku tidak mau dianggap sebagai benalu seperti ayahku.
Masuk ke mobil, aku memutarnya dengan mudah dan mundur dari jalan masuk. Beberapa mobil masih diluar, meskipun tidak sebanyak tadi malam. Aku bertanya-tanya siapa yang menginap semalam. Apakah mereka selalu berada disini? Aku tidak melihat siapapun pagi ini selain Jimin dan pria yang dia buat marah tadi.
Jimin bukanlah orang yang baik tapi dia adil. Itu yang ku sampaikan padanya. Dia juga seksi. Aku hanya harus belajar untuk mengabaikannya. Ini seharus nya cukup mudah. Aku tidak mengharapkan Jimin akan sering berada disekitarku. Dia tampaknya juga tidak ingin berada disekitarku.
Aku memutuskan bahwa aku akan mendapatkan pekerjaan di sekitar pantai Gwangali untuk menghemat bensin. Lalu aku bisa pindah dari rumah Jimin lebih cepat. Aku telah menemukan sebuah koran lokal dan aku akan melingkari beberapa pekerjaan yang berbeda. Dua diantaranya adalah menjadi pelayan di restoran lokal dan aku berhenti untuk melamar.
Aku yakin aku akan mendapatkan panggilan kembali dari salah satu atau keduanya tetapi aku tidak yakin ingin bekerja di sana. Aku mau jika hanya itu semua yang tersedia sekalipun. Itu hanya tidak terlihat seperti ada tips yang akan lebih baik tentunya dan dengan pekerjaan seperti itu yang kubutuhkan adalah tips.
Aku juga berhenti di apotek setempat untuk melamar posisi pendaftaran didepan tapi mereka sudah mengisinya. Lalu aku pergi ke dokter anak setempat untuk melamar pekerjaan resepsionis tapi mereka butuh yg berpengalaman dan aku tidak punya.
Ada satu pekerjaan terakhir yg kulingkari dan aku telah menundanya karena aku pikir itu akan menjadi pekerjaan yg sulit untuk ditangkap, posisi melayani di klub lokal. Gajinya tujuh ribu won lebih per-jam ditambah tips akan jauh lebih baik. Aku bisa keluar dari rumah itu dan mendapatkan tempat sendiri lebih cepat. Plus adanya keuntungan. Asuransi kesehatan yg juga lebih bagus.
Iklan yg membutuhkan pekerjaan mengatakan untuk datang ke kantor utama dibelakang lapangan golf club bangtanhouse untuk melamar pekerjaan. Aku mengikuti arah dan memarkir mobilku disamping Volvo mewah. Aku menyesuaikan kaca spion untuk memeriksa wajahku. Aku mengusap rambut pirang pucatku dan mengucapkan doa singkat bahwa aku mampu untuk mendapatkan pekerjaan ini.
Aku telah berganti dari celana pendek dan kaos putihku ketika aku pergi untuk mengambil tasku. Aku pikir setelan kemeja dan celana jeans lebih membantuku mendapatkan pekerjaan.
Aku tidak repot-repot mengunci mobil. Mobilku tidak dalam bahaya untuk dicuri disini. Tidak ketika sebagian besar mobil yg diparkir didekatnya biayanya lebih dari enam puluh juta won. Langkah menuju kepintu kantor sangat dekat. Mengambil napas dalam dalam di saat terakhir aku membuka pintu dan melangkah masuk.
Seorang wanita mungil dengan rambut bob pendek coklat dan sepasang kacamata berbingkai kawat sedang berjalan melintasi ruang tamu saat aku melangkah masuk. Dia menatapku sambil berjalan ke salah satu kantor tetapi berhenti ketika dia melihatku. Dia memandangku sekilas diseluruh tubuhku dan kemudian menganggukkan kepalanya ke arahku.
"Anda disini untuk pekerjaan?" pertanyaannya memerintah.
Aku mengangguk,
"Ya, Ahjumonim. Aku disini untuk melamar pekerjaan."
Dia memberiku senyum yang erat.
"Bagus. Anda memiliki daya tarik. Para anggota akan mengabaikan kesalahan dengan wajah seperti itu. Dapatkah anda mengendarai mobil golf dan dapatkah anda membuka botol bir dengan pembuka botol ?"
Aku mengangguk.
"Anda diterima. Aku membutuhkan seseorang di lapangan sekarang. Ikuti saya, kami akan mengganti seragam anda."
Aku tidak membantah, ketika ia berputar kembali dan mulai berjalan menuju ruangan yang lain aku mengikuti di belakangnya. Dia adalah seorang wanita yang punya misi. Dia membuka pintu dan melangkah masuk.
"Anda memakai ukuran S untuk celana pendek? Atasan anda akan menjadi lebih kecil dari apa yg anda kenakan. Para tamu akan menyukainya"
Dia meraih sepasang celana pendek putih dari rak dan menyodorkan padaku. Lalu ia meraih kaus polo biru pucat dari rak dan menyodorkan nya kearahku.
"Atasannya kecil. Butuh yang ketat. Kami adalah perusahaan berkelas disini tapi para pria suka seseorang yangg menarik juga. Oleh karena itu kami menawarkan sepasang celana pendek putih dan baju ketat polos. Jangan khawatir tentang laporan. Aku akan memilikinya, anda akan mengisi semuanya setelah selesai bekerja. Anda melakukan ini selama seminggu dan kerjakanlah dengan baik, dan kami akan memikirkan kepindahanmu ke bagian ruang makan. Kami kekurangan staf disana. Tapi wajah pria cantik seperti anda tidak mudah untuk ditemukan. Sekarang bergantilah dan aku akan menunggu untuk membawa anda ke kereta minuman".
Dua jam kemudian aku berhenti disemua delapan belas lubang golf, di lapangan golf dua kali dan semua minuman terjual habis. Semua para pegolf bertanya padaku apakah aku masih baru dan mengomentari pelayananku yang sangat baik.
Aku bukanlah orang bodoh. Aku melihat cara mereka melirik padaku. Untungnya mereka semua tampak berhati hati untuk tidak melampaui batas.
Wanita yang mempekerjakanku akhirnya memberitahu namanya saat dia mendorongku naik keatas kereta dan mengirimku pergi.
Namanya Kim Woori .Dia bertanggung jawab dalam mempekerjakan staf. Dia juga cepat seperti angin puyuh. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku harus kembali dalam waktu empat jam atau ketika aku kehabisan minuman, mana yg lebih dulu. Aku kehabisan minuman dalam dua jam.
Aku berjalan ke dalam kantor dan Woori Ahjumma melongokkan kepalanya keluar di salah satu ruangan.
"Kau sudah kembali?," dia bertanya, sambil berjalan keluar dengan tangan berada dipinggang nya.
"Ya Ahjumonim, aku kehabisan minuman."
Alisnya terangkat,
"Semuanya?"
Aku mengangguk.
"Ya. Semuanya."
Senyum tampak diwajahnya yang kaku dan dia tertawa.
"Yah, tentu saja. Aku tau mereka menginginkanmu, tapi para pria yang bernafsu itu bersedia untuk membeli apapun yg kau punya hanya untuk membuatmu tinggal lebih lama."
Aku tidak yakin itu terjadi. Di luar sana sangat panas. Setiap kali aku berhenti disebuah lubang golf, pegolf tampak lega.
"Ayo, aku akan menunjukkan tempat untuk mengisi kembali. Kau harus tetap melayani sampai matahari terbenam. Kemudian kembali kesini dan kita akan mendapat dokumen yang sudah terisi".
.
.
.
Hari sudah gelap saat aku kembali ke rumah Jimin. Aku sudah pergi sepanjang hari. Mobil-mobil lain di jalan masuk sudah hilang. Ketiga garasi mobil ditutup dan satu mobil merah yang mahal terparkir di luar. Aku memastikan untuk memarkir mobil ku keluar dari jalur jalan.
Jimin mungkin masih memiliki teman teman yang akan datang dan aku tidak mau mobil ku menjadi masalah. Aku sangat lelah. Aku hanya ingin pergi tidur.
Aku berhenti di pintu dan bertanya tanya apakah aku harus mengetuk atau langsung masuk ke dalam. Jimin mengatakan aku bisa tinggal disini selama satu bulan. Tentunya itu berarti aku tidak harus mengetuk setiap kali aku datang kembali.
Aku memutar kenop dan berjalan kedalam. Di jalan masuk lorong sepi dan mengejutkan tampak bersih. Seseorang telah membereskan kekacauan disini. Lantai marmer bahkan tampak mengkilap.
Aku mendengar suara tv datang dari ruangan tamu besar yang terbuka. Tidak ada banyak suara lainnya. Aku berjalan ke dapur. Aku punya kasur yang sudah menungguku.
Aku benar benar ingin mandi tapi aku belum bicara dengan Jimin tentang kamar mandi mana yang harus ku gunakan dan aku sedang tidak ingin menganggunya malam ini. Aku akan menyelinap keluar besok dan aku akan memakai kamar mandi yang sama dengan yang kugunakan pagi ini ketika aku bangun besok.
Bau masakan tercium di hidungku saat aku melangkah kedapur. Perut ku keroncongan meresponnya. Aku punya satu kotak kraker kacang mentega di tasku dan sekotak kecil susu yang kubeli di swalayan dalam perjalanan pulang. Aku mendapat uang tips hari ini tapi aku tidak bisa membuang buang uangku untuk makanan. Aku perlu menyimpan semua yang aku bisa.
Ada panci tertutup diatas kompor dan botol anggur terbuka diatas dimeja. Dua piring dengan sisa-sisa hidangan yang menggoda juga ada di meja. Jimin masih punya tamu.
Sebuah erangan datang dari luar di ikuti dengan suara keras. Aku berjalan ke jendela tetapi ketika sinar bulan menyinari bagian belakang tubuh telanjang Jimin, aku membeku.
Itu adalah pantatnya.
Ya aku tahu karena aku pernah menyentuhnya.
Itu adalah pantat yang sangat bagus. Sangat, sangat bagus. Meskipun aku tidak pernah benar benar melihat bagian belakang pria yg telanjang selain dirinya.
Aku membiarkan mataku menelusuri sampai ke punggungnya. Aku tahu-tetapi-seakan-tidak-mau-tahu apa yang sedang mereka lakukan. Cahaya bulan itu tidak cukup terang dan ia bergerak. Pinggulnya bergerak maju mundur dan aku melihat dua kaki panjang yang menekannya ke sisi tubuhnya. Suara erangan yang keras muncul kembali saat ia bergerak lebih cepat. Aku menutup mulutku dan melangkah mundur.
Ya, Jimin sedang bercinta. Di luar. Di beranda rumahnya. Aku tidak bisa berpaling darinya. Tangannya meraih kaki di kedua sisi itu dan ia mendorongnya membuka agar lebih lebar. Teriakan keras menyebabkan aku melompat. Dua tangan muncul di sekitar punggung dan jari yang mencakar punggungnya menutupi kulit semi kecoklatan itu.
Aku tidak seharusnya menonton ini. Menggelengkan kepalaku untuk menjernihkan pikiranku aku berbalik dan bergegas kedapur dan kamar tidurku yang tersembunyi. Aku tidak boleh berpikir tentang Jimin seperti itu. Dia sangat seksi. Melihat dia sedang berhubungan seks membuat hatiku melakukan hal hal yang lucu.
Aku seperti kembali di Jeju.
Bagaimana ketika dia memasukiku...
Melihat tubuhnya seperti itu dan mendengar bagaimana ia membuat pria itu puas membuatku merasa sedikit cemburu.
Aku teringat kehidupan percintaanku yang adalah menyedihkan. Zhoumi mengatakan ia mencintaiku tapi ketika aku sedang membutuhkan dukungannya, dia menginginkan seorang kekasih yang menyelinap keluar dan berhubungan seks tanpa harus mengkhawatirkan ibunya yang sakit. Dia ingin pengalaman kuliah yang normal. Aku terhalang oleh hal itu jadi aku membiarkannya pergi.
Lalu aku yang akhirnya membuang keperjakaanku dan pertemuan di Jeju itu…
Bertemu dengan Jimin.
Bercinta dengannya.
Dia memberikanku pengalaman pertama yang terbaik, dan mungkin adalah malam terakhirku mengecap nikmatnya bercinta.
Ya, sejak itu aku tidak pernah lagi bercinta.
Kehidupanku terlalu sibuk untuk mengurusi kebutuhanku akan hal itu.
Ketika aku pergi kemarin pagi untuk datang kesini, Zhoumi telah memintaku untuk tetap tinggal. Dia mengaku dia mencintaiku. Bahwa ia tidak pernah melupakanku. Bahwa setiap pria yang pernah menjadi kekasihnya hanyalah pengganti yang buruk. Aku tidak percaya semua itu.
Dia bahkan memberiku sebuah senjata sembilan millimeter yang dimilikinya. Katanya,
"Aku tidak bisa menjagamu lagi. Di luar sana banyak orang jahat. Bawalah senjata ini, jika ada yang berani mengganggumu bisa kau gunakan untuk mengancam mereka."
Aku hanya tersenyum, berterimakasih, dan pamit padanya.
Malamnya aku menangis sampai tertidur sendirian dan ketakutan sepanjang malam. Aku membutuhkan seseorang untuk memeluk ku. Dia tidak ada disana saat itu. Dia tidak mengerti cinta.
Aku menutup pintu kamarku dan ambruk di tempat tidur. Aku bahkan tidak menarik selimut. Aku butuh tidur. Aku harus berada di tempat kerja pukul sembilan pagi. Aku tersenyum sendiri karena rasa bersyukur.
Paling tidak aku sudah punya tempat tidur dan pekerjaan
-TBC-
