Balasan review :

Sasusaku uciha

Sasuke itu apa? Jawabannya ada di chap depan, so tungguin aja ya XD. Review again? ^^

sasu love saku

Siapa wanita pirangnya? Jawabannya ada di chapter ini kok. Review?

akasuna no ei-chan

Di chap ini ada hints lagi soal musuhnya, semoga bisa sedikit memberi gambaran deh #dilempar ke Alaska. Yosh, reviewnya ditunggu XD.

Tomat-23

Salam kenal juga ^^. Nggak apa-apa kok review sekarang dari pada nggak sama sekali XD. Ok, review again? ^^

Scarlet24

Saya juga belum berani pindah rate sih jadi T aja dulu, ok review? XD
sonedinda

Halo juga, makasih nih udah dibilang keren. Review again?^^

hanazono yuri

Gomen nggak bisa up date kilat nih m(_ _)m, semoga chapter ini memuaskan deh. Reviewnya ditunggu ya XD

ShifukiKafudo

Ini lanjutannya XD, semoga nggak mengecewakan ya. Review?

Jellalna

Sasuke masuk ke tubuh Sakura? Iya, dia minjem badannya pirangnya siapa? Jawabannya ada di chap ini. Review again? XD

aguma

Makasih udah dibilang keren XD, reviewnya ditunggu lagi ^^

NE

Iya Hana sama Itachi udah punya anak, masa lalu saku? Ada di chap depan, tunggu aja ya. Review again?

syifafadilah

Hubungan 'mereka' sama Sasuke ada di chap depan, so stay tune aja ya XD. Reviewnya ditunggu ^^

dheeviefornaruto19

Salam kenal juga dheevi-san ^^, boleh panggil gitu kan? Ini chap 4 nya semoga ga mengecewakan ya XD. Reviewnya ditunggu XD

Please Help the Ghost ! © cherry aoi

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Genre : Supernatural, Romance

Rated : T/ T+

AU, Alternative Universe

Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.

Summary : Bagaiman jika seorang gadis yang paranoid pada hal-hal berbau mistis terutama hantu tiba-tiba justru bisa melihat makhluk yang paling tidak ingin ia lihat? Dan apa jadinya jika ia diharuskan hidup berdua bersama si hantu yang tidak jelas asal usulnya?

.

.

.

Chapter 4 : Our Trouble

.

.

Sosok transparan itu masih menatap gadis berambut merah muda yang tengah terlelap, rambut merah mudanya berserakan di sekitar bantal sementara tangan kanannya masih menggenggam sebuah revolver berwarna hitam dengan ukiran kipas berwarna merah putih. Untuk kesekian kalinya sosok pemuda berambut raven itu melirik singkat ke arah jendela, memastikan bahwa Mercedes hitam yang tadi mengejar Sakura tidak mengikuti mereka. Ada sebersit rasa bersalah dalam hatinya karena melibatkan gadis itu dengan masalahnya, gadis itu terlalu polos untuk berurusan dengan masalahnya.

"Kau harus kuat agar bisa tetap hidup," gumam Sasuke pelan entah pada siapa.

Sosok gadis yang tengah terlelap di ranjang tiba-tiba saja menggeliat pelan, merasa terusik dengan sesuatu. Dahi gadis itu mengerut, kemudian sepasang viridiannya terbuka sedikit demi sedikit. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengenali tempatnya berada sekarang. Mendadak gadis itu mengubah posisinya menjadi terduduk, mengamati seluruh sudut ruangan seperti tengah mencari sesuatu.

"Ke-kenapa aku bisa ada di sini? Bu-bukankah tadi ada mobil yang menabrakku?," tanya gadis itu pada sosok transparan dihadapannya. Sasuke hanya bisa mendengus melihat ekspresi gadis itu, bahkan gadis itu tidak menyadari bahwa ia masih menggenggam sebuah revolver.

"Kau sudah membereskannya," kata Sasuke akhirnya, bosan dengan tingkah laku gadis itu.

"AKU?! Hahahahaha, yang benar saja! Itu tidak lucu, Sasuke!" Sepertinya gadis itu tidak mempercayai kata-kata sosok hantu dihadapannya.

"Lihat apa yang kau pegang, Pinky"

Sakura memang merasakan sesuatu yang dingin dan keras di genggaman tangannya, seperti sejenis logam. Sepasang viridian itu terbelalak kala mendapati apa yang tengah berada di tangannya, sebuah revolver berwarna hitam dengan simbol kipas berwarna merah putih. Melihat benda itu membuat ingatan Sakura seolah dipaksa kembali ke beberapa jam yang lalu saat ia dikejar sebuah mobil tidak dikenal. Saat ia menyentuh revolver ini, ia merasa kesadarannya menghilang, rasanya ia seperti tertarik dari tubuhnya. Setelah itu ia tidak mengingat apa pun dan sekarang tiba-tiba saja bisa berada di apartemen.

"Sebenarnya apa yang terjadi?," lirih gadis itu, kepalanya masih sedikit pusing karena berbagai kejadian yang terjadi hari ini.

"Aku masuk ke dalam tubuhmu."

Sakura membelalakkan matanya tak percaya, pemuda berambut chicken butt itu membicarakan masalah ini seolah ia tengah berkata 'Sakura, aku pinjam mainanmu'. Gadis beriris viridian itu benar-benar tak menyangka akan terlibat masalah dengan orang seperti Sasuke.

"Lalu apa yang kau lakukan setelah masuk ke dalam tubuhku?," tanya Sakura yang mencoba mengendalikan dirinya, berusaha mendapatkan cerita yang lengkap dari pemuda Uchiha itu. Berulang kali ia menarik nafas kemudian menghembuskannya kembali agar tenang.

"Mengusir serangga pengganggu itu."

"Kau menembaknya? Aku sudah menembak orang?!," teriak Sakura histeris, ia benar-benar tak menyangka jika Sasuke akan bertindak seperti itu.

"Kalau aku tidak menembaknya, dia yang akan membunuhmu. Mulai sekarang kau harus selalu membawa revolver itu atau kau akan menggali lubang kuburmu sendiri," kata Sasuke memberi ultimatum.

"Tunggu dulu, bagaimana kau bisa masuk ke dalam tubuhku?"

"Saat kau memegang revolver itu, aku bisa masuk ke tubuhmu," jawab Sasuke kalem. Refleks, Sakura melemparkan revolver yang masih ia pegang ke arah lantai. Ia benar-benar tidak tahu jika Sasuke bisa memasuki tubuhnya, lagi pula bagaimana bisa revolver itu ada di dalam tasnya? Apa Sasuke yang memasukkan revolver itu ke dalam tasnya? Tapi bukankah pemuda itu sekarang berwujuud hantu yang tembus pandang?

Baiklah, semua kegilaan ini harus segera diatasi mengingat ia tidak bisa menjauh dari si chicken butt itu. Sepertinya sekarang Sakura benar-benar terjebak bersama pemuda Uchiha itu, ia tidak mungkin menjauhi Sasuke karena para hantu akan segera mengejarnya ditambah lagi sekarang ada orang yang mengincar nyawanya. Ah, tiba-tiba ia merindukan kehidupannya yang dulu.

"Dengar, kau tidak bisa seenaknya memasuki tubuhku. Kita akan membuat perjanjian," putus Sakura akhirnya. Kenyataan tentang Sasuke yang bisa masuk ke dalam tubuhnya membuat Sakura mengkhawatirkan berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan pemuda itu ketika masuk ke dalam tubuhnya. Sasuke hanya bisa mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi ketika mendengar kata-kata Sakura.

Gadis berambut merah muda itu segera menulis sesuatu di atas sebuah kertas sementara Sasuke lebih suka mengecek kembali keadaan di luar. Ia tidak menyangka 'mereka' mulai bergerak mungkin saja atasannya sekarang juga mulai bergerak mencarinya, memikirkan atasannya membuatnya memutar mata bosan. Sepertinya hidup damainya akan segera berakhir ketika orang-orang yang menjadi atasannya menemukan keberadaannya, ah, mungkin mereka hanya akan menemukan tubuhnya yang koma, siapa yang tahu?

"Ini, tanda tangani ini!," perintah gadis itu pada Sasuke.

"Kau lupa sekarang aku hantu?"

"Kau bisa masuk ke tubuhku, baka chicken butt!," kata Sakura yang segera mengambil revolver berwarna hitam itu. Detik itu juga Sakura kembali merasakan perasaan yang sama ketika Sasuke pertama kali memasuki raganya, perasaan seperti tertarik dan gelap yang membayanginya.

Viridian itu kembali berubah untuk kedua kalinya, sorot dingin khas Uchiha kini terlihat jelas pada sepasang mata hijau milik Sakura. Tangannya segera bergerak menuliskan tanda tangan di atas kertas putih itu, sesekali ia melirik revolver yang ada digenggamannya sekarang. Dalam otaknya terus berputar satu pertanyaan yang belum ia ketahui jawabannya, sampai kapan ia harus terikat pada Sakura? Gadis merah muda yang ia pinjam tubuhnya ini tidak tahu apa-apa tentang orang-orang yang mengincar nyawanya.

"Apa pun yang terjadi nanti, kau harus tetap kuat, Sakura," ucap pemuda berambut raven itu sebelum melepaskan revolver yang ia genggam.

.

.

.

Haruno Sakura kembali mendapati dirinya terbangun di atas ranjang di apartemen milik Uchiha Sasuke, kepalanya terasa begitu berat ketika ia terbangun. Di sebelahnya ada sebuah revolver berwarna hitam yang sejak kemarin selalu menemaninya, ingatannya melayang pada kejadian kemarin, ketika Sasuke memasuki tubuhnya.

"Aku merindukan hidupku yang dulu," gumam gadis itu, sepasang viridian milik Sakura kini mengelilingi ruangan itu, berusaha mencari sosok transparan berambut raven yang biasanya menampakkan diri.

"Kemana dia?"

"Siapa yang kau cari?," suara dingin di sampingnya membuat Sakura refleks menengok mendapati sepasang onyx yang tengah menatapnya dengan intens. Ia merasakan laju darahnya kini berpindah pada kedua pipinya, rasanya wajahnya kini memanas.

"K-kau! Kau menakutiku!," kata Sakura setengah berteriak berusaha menutupi kegugupannya dihadapan Sasuke. Pemuda berambut raven itu hanya menaikkan sebelah alisnya, merasa heran dengan tingkah laku gadis dihadapannya itu.

TING! TONG!

"Siapa yang datang pagi-pagi?," gumam Sakura pelan sambil beranjak dari ranjang.

"Sebaiknya kau membawa revolver itu, kita tidak tahu siapa yang datang."

Benar juga apa yang dikatakan pemuda itu, siapa yang tahu kalau ternyata orang yang menekan bel berniat membunuh Sakura. Kemungkinan itu jelas membuat bulu kuduk Sakura berdiri, ia tidak ingin mati muda, masih banyak hal yang ingin ia lakukan.

"Tapi kau jangan mengambil kesempatan, chicken butt. Kau masuk ke tubuhku kalau dia berbahaya," ancam Sakura sebelum gadis itu membuka pintu.

Sepasang viridian milik Sakura melebar kala mengetahui siapa yang ada di balik pintu, sosok pria berambut raven yang diikat dengan sepasang onyx yang menatapnya penuh tanya. Gadis berambut merah muda itu jelas tahu siapa yang ada dihadapannya, Uchiha Itachi kakak dari sosok transaparan yang kini berada di sebelahnya.

"Kau, siapa?," tanya pria itu. Sakura hanya bisa mengusap tengkuk belakangnya, bingung harus menjawab apa pada Itachi. Haruskah ia membohongi Itachi juga?

"Aku kekasih Sasuke."

Ekspresi pria dihadapan Sakura tidak bisa ditebak, mungkin ia terkejut, mungkin tidak percaya dengan kebohongan Sakura atau mungkin pria itu menyadari bahwa Sakura berbohong? Ah, semua kemungkinan itu membuat kepala Sakura pusing. Sepasang onyx milik sulung Uchiha itu tampak menilai Sakura dari ujung rambut hingga ujung kaki, pandangannya kini terhenti pada sebuah benda yang ada digenggaman Sakura.

"Sepertinya kau memang kekasih Sasuke."

"Hah? Ah, eh, i-iya, aku kekasih Sasuke-kun," balas Sakura kikuk, ia tidak menyangka Itachi akan secepat ini percaya padanya.

"Jadi, sudah berapa lama kalian tinggal bersama?," tanya Itachi sambil meniup espresso yang dihidangkan oleh Sakura.

"Baru akhir-akhir ini saja, Itachi-san."

"Tidak perlu memanggilku seperti itu, panggil saja Nii-san," balas pria itu santai. Gadis berambut merah muda itu tidak menyangka sosok Itachi akan seperti ini, begitu berbeda dengan Sasuke yang dingin dan terkesan cuek. Itachi terlihat lebih ramah juga lebih sering tersenyum dari pada Sasuke.

"Omong-omong, dimana anak itu sekarang? Apa dia meninggalkanmu sendirian?"

"Uhmm, Sasuke-kun bilang dia sedang ada urusan jadi aku menunggunya," kata Sakura lancar, ia benar-benar terdengar seperti kekasih Sasuke sekarang padahal ia baru mengenal pemuda itu selama beberapa hari, bahkan ia masih tidak tahu identitas Sasuke yang sebenarnya.

Ekspresi Itachi kini mendadak tampak berbeda, sulung Uchiha itu terlihat khawatir sekaligus penuh penyesalan. Tentu saja ekspresi Itachi membuat gadis merah muda dihadapannya menatap penuh tanya, apakah Itachi tahu sesuatu tentang Sasuke?

"Seharusnya anak itu tidak perlu mengambil jalan seperti ini padahal ia cukup menikmati pekerjaannya saja," gumam Itachi pelan.

"Maksud Nii-san?," tanya Sakura, rupanya gadis berambut merah muda itu mendengar gumaman bervolume rendah pria itu. Itachi hanya bisa tersenyum pada Sakura, kakak Sasuke itu tampaknya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang pertanyaan Sakura.

Sulung Uchiha itu justru merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk kipas berwarna merah putih sama seperti ukiran pada revolver hitam yang ada di tangan Sakura. Itachi meletakkan kalung itu di atas meja, ia yakin Sakura adalah gadis yang tepat untuk menerima kalung itu. Mungkin saja adiknya benar-benar telah menemukan seorang gadis yang tepat.

"Itu milikmu."

"Milikku?," tanya Sakura tak mengerti arah pembicaraan Itachi.

Itachi tahu benar betapa berharganya kalung itu dalam keluarga Uchiha, kalung berliontin simbol klan Uchiha hanya boleh dimiliki oleh menantu dari klan itu. Dulu, enam tahun yang lalu, ia ingin memberikannya pada seorang gadis tapi sebuah aturan dalam keluarga Uchiha membuatnya kehilangan wanita yang ia cintai. Ia tahu, mungkin saja Sakura dan Sasuke akan mengalami berbagai hal yang sulit tapi entah mengapa ia begitu yakin jika gadis berambut merah muda dihadapannya adalah gadis yang tepat untuk adiknya.

"Kalung itu milik keluarga Uchiha, kami memberikannya pada menantu keluarga Uchiha."

Gadis merah muda dihadapan Itachi mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba meyakini bahwa apa yang dialaminya saat ini adalah sebuah kenyataan. Pikirannya benar-benar kosong saat ini, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Berbeda dengan Sakura, sosok transparan Sasuke justru menatap tajam ke arah Itachi. Pemuda berambut raven itu memang hanya diam tapi ia berulang kali menatap ke arah Itachi dan kalung milik keluarganya. Sebuah pertanyaan kembali menggema di kepalanya, seberapa jauh benang merah yang menghubungkannya dan Sakura?

Sakura POV

Aku tidak mengerti kenapa Nii-san Sasuke memberikan kalung ini padaku padahal benda ini sepertinya begitu berharga bagi keluarga mereka. Rasanya aku tidak pantas menerima benda seperti ini, terlebih lagi aku dan Sasuke hanya terikat karena kami saling membutuhkan. Sasuke membutuhkanku untuk menolongnya karena sekarang dia adalah hantu dan aku membutuhkan Sasuke agar terhindar dari hantu.

"Kalau begitu, aku harus segera pergi. Sampaikan pada Sasuke aku menunggu kalian di mansion Uchiha."

"Itachi-nii," panggilku tiba-tiba. Ada sebuah pertanyaan yang ingin ku tanyakan padanya, tentang cinta pertamanya yang diceritakan oleh Sasuke. Pria yang mirip dengan Sasuke itu berhenti sebelum mencapai pintu.

"Ada apa?"

"Kenapa, kalung ini tidak diberikan pada wanita yang Itachi-nii cintai? Sasuke-kun bilang kau masih menunggu seorang wanita," kataku dengan lancar tanpa beban, seolah aku sudah lama mengenal Uchiha Itachi dan bebas bicara hal macam ini dengannya.

Sudut-sudut bibir pria itu terangkat membentuk sebuah senyuman di wajahnya sebelum berucap,"Aku sudah terlalu banyak menyakitinya jadi lebih baik kau saja yang memiliki kalung itu."

"Kau hanya perlu menyimpannya," kata sebuah suara dingin yang akhir-akhir ini sering ku dengar. Aku menoleh ke belakang, mendapati sosoknya yang tengah memandangi punggung kakaknya dengan sebuah tatapan yang berbeda.

Selama aku bersama dengannya, baru kali ini aku melihat Sasuke menatap seseorang dengan tatapan lembut sekaligus khawatir. Biasanya dia akan menatap orang lain dengan tatapan tajamnya, tatapan penuh selidik, tatapan dingin yang menusuk atau kadang memberikan death glare padaku. Eh, tunggu dulu, kenapa aku jadi mengingat semua tatapannnya?

"Kau kenapa?"

"Ah, eh, ti-tidak apa-apa," balasku cepat sambil merutuk dalam hati, kenapa aku gugup hanya karena melihat tatapan matanya yang berbeda? Sadarlah Sakura, kau berada di sini karena dia membutuhkanmu untuk membantunya.

"Sakura baa-chan!," sebuah suara khas anak kecil membuatku bergegas melongok keluar, siapa anak kecil itu?

"Sakura baa-chan, ayo kita pergi!"

Di depanku sekarang sudah gadis cilik berambut raven dengan sepasang mata berwarna onyx, rasanya seperti déjà vu, seolah aku pernah bertemu orang yang mirip dengan gadis kecil dihadapanku, Kimiko. Aku baru ingat aku memiliki janji dengan gadis kecil itu, janji karena aku melihat sebuah ikatan yang telah lama aku lupakan.

"Kimiko-chan tidak bersama Kaa-sanmu?," tanyaku sambil mensejajarkan tinggi dengan gadis kecil itu, aku memang tidak melihat ibu Kimiko dari tadi, ku pikir ia akan ikut bermain bersama kami.

"Tidak, Kaa-san sedang sibuk jadi Kimiko datang sendiri. Kaa-san bilang akan menjemputku nanti sore."

Aku masih memperhatikan senyuman dari wajah polos Kimiko, entah mengapa ketika melihat Kimiko, aku seolah melihat diriku yang dulu. Ketika aku masih begitu naïf dengan semua keadaanku, aku yang selalu berpikir bahwa Kaa-san akan ada untukku tapi kenyataannya dia tidak pernah ada untukku, bahkan membuatku mengalami sesuatu yang mengerikan. Ah, sudahlah, tidak ada gunanya mengingat masa lalu, lebih baik aku menjalani hidupku sekarang.

"Apa Kimiko-chan mau menunggu Baa-chan di dalam?," tawarku padanya.

"Uhm," balasnya sambil kembali memamerkan senyuman.

End Sakura POV

"Siapa anak itu?," suara Sasuke membuat gadis berambut merah muda itu berjengit untuk kesekian kalinya, selang beberapa detik sebuah perempatan muncul di dahi lebar gadis itu.

"Kau! Bukankah diperjanjian tertulis kau dilarang muncul tiba-tiba?," tanya Sakura dengan nada kesal, ia ingat betul menulis larangan itu di surat perjanjian mereka. Pemuda Uchiha itu hanya mengangkat alis tinggi-tinggi, tatapannya seolah berkata-apa-maksudmu?

Sadar jika ia berargumen lebih lama dengan Sasuke hanya akan menimbulkan masalah, Sakura segera menjawab pemuda itu,"Namanya Inuzuka Kimiko, aku akan pergi dengannya hari ini."

"Inuzuka Kimiko? Rasanya dia begitu familiar."

.

.

.

Senyum Kimiko tidak pernah hilang dari wajahnya, gadis kecil itu begitu senang ketika Sakura mengajaknya pergi ke Konoha Land, salah satu taman hiburan terbesar di Konoha. Sebenarnya ini pertama kalinya Sakura mendatangi tempat ini lagi setelah empat taun, sebelumnya ia lebih suka menghindari tempat ini karena memori masa lalunya tapi hari ini ia memutuskan untuk datang ke tempat ini.

"Baa-chan, ayo main," ajak Kimiko riang sambil menunjuk salah satu wahana permainan .

Gadis kecil itu mampu membuat Sakura tersenyum di tengah kegetirannya karena berada di tempat ini. Gadis berambut merah muda itu menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengenyahkan semua pemikiran tentang masa lalunya. Lebih baik menikmati wahana permainan yang ada di tempat ini dari pada ia tetap terjebak dengan nostalgia masa lalunya. Keduanya melangkah menuju wahana permainan yang ditunjuk Kimiko, mengabaikan tatapan penuh selidik dari sosok transaparan yang mengikuti mereka.

"Jika aku tidak mengenalmu, aku sudah mengira gadis kecil yang bersama Sakura adalah anakmu," sebuah suara membuat sosok hantu Sasuke mengangkat alisnya tinggi-tinggi, tak mengerti kenapa si pemilik suara bisa menyimpulkan hal macam itu. Anaknya? Ia bahkan belum memiliki istri.

"Untuk apa kau datang ke sini, Kakashi?," tanya Sasuke pada dokternya itu, inilah rahasia lain Sasuke yang tidak diketahui Sakura, ada orang lain yang bisa melihatnya.

"Hanya ingin memberitahumu agar waspada, mungkin akan ada hal buruk hari ini."

"…"

"Aku tidak tahu siapa yang akan mengalami hal buruk itu tapi yang aku tahu dia adalah orang yang dekat denganmu. Baiklah, sebaiknya aku segera pergi ada pasien yang menunggu," tambah dokter yang selalu memakai masker itu.

Sasuke POV

Aku tidak menyangka dokter hentai itu akan datang ke sini untuk memberi informasi macam itu, biasanya ia tidak mau membantuku. Dia bilang jika dia membantuku maka semuanya akan gagal dan aku mengacaukan sistem keluarga Uchiha juga takdirku. Cih, siapa yang peduli dengan sistem keluarga jika waktuku tinggal beberapa hari? Seandainya saja Kakashi bisa membantuku pasti aku tidak akan melibatkan gadis merah muda itu dan semuanya bisa cepat selesai. Tapi kata-kata Kakashi tadi benar-benar membuatku bingung, siapa yang dibicarakan Kakashi? Apa semua ini ada kaitannya dengan 'mereka'? Jika memang berhubungan dengan 'mereka' kemungkinan besar gadis merah muda itu yang menjadi sasaran kecuali jika dua orang bodoh itu ada di tempat ini juga. Bicara soal gadis merah muda itu, kemana dia dan anak kecil tadi?

"Baa-chan, ayo makan es krim!," sebuah suara nyaring membuatku menemukan mereka, anak itu benar-benar mengingatkanku pada seseorang. Dia begitu berisik seperti Baka dobe dan Baka Aniki, tunggu dulu, Baka Aniki? Jangan-jangan, anak itu….

End Sasuke POV

"Kimiko-chan ingin es krim rasa apa?," tanya Sakura pada gadis kecil beriris onyx itu. Kimiko tampak tengah bingung ketika harus memilih satu dari sekian banyak varian es krim yang ada di tempat itu sementara gadis berambut merah muda di sebelahnya tampak terkikik geli melihat ekspresi bingung anak itu.

"Kau….," sebuah suara khas pria membuat Sakura menoleh, ia separuh tak percaya jika ia bertemu orang itu di tempat seperti ini.

"Ah, Konichiwa, Gaara," balas Sakura pada pemuda berambut merah yang masih mengamati dirinya dan Kimiko berulang-ulang kali. Jade milik pemuda itu tampak terbelalak ketika menatap si gadis merah muda dan gadis cilik berambut raven itu sementara gadis berambut cokelat pendek di sebelahnya tampak kebingungan dengan tingkah Gaara.

"Apa dia anakmu dan Sasuke?"

Kali ini giliran sepasang viridian milik Sakura yang terbelalak, ia tak menyangka jika pemuda berambut merah itu melontarkan pertanyaan macam itu. Sakura jelas tidak menyangka jika sahabat Sasuke itu akan menanyakan sebuah pertanyaan yang membuatnya cukup shock. Gadis berambut merah muda itu kini mengamati Kimiko dari atas hingga bawah, sekarang ia tahu kenapa ia merasa Kimiko mirip dengan seseorang. Gadis cilik itu memang memiliki penampilan khas Uchiha dengan rambut raven dan sepasang mata onyx, hanya bentuk wajahnya dan caranya tersenyum yang mirip dengan sang ibu.

"Anak Sasuke? Mungkinkah dia anak Sasuke? Tapi rasanya dia tidak terlalu mirip dengan chicken butt itu," gumam Sakura pelan.
"Siapa itu Sasuke?," tanya Kimiko pada Gaara.

"Kau tidak mengenal Sasuke? Sebenarnya siapa dia, Sakura?"

Seperti kepingan puzel yang disatukan, sekarang Sakura bisa menghubungkan tiap kejadian yang berhubungan dengan Kimiko. Anak ini memiliki fisik layaknya keluarga Uchiha, bahkan Gaara sampai menduga jika Kimiko adalah anak Sasuke. Sakura memang belum tahu siapa ayah Kimiko tapi ia tahu pasti siapa ibu gadis itu. Inuzuka Hana. Hana. Mungkinkah Kimiko….?

"Ah, Eh, dia anak temanku. Aku berjanji mengajaknya bermain kemarin," kata Sakura yang baru sadar ia belum menjawab pertanyaan Gaara.

"Hn, ternyata begitu."

"Gaara-kun, dia kenalanmu?," tanya gadis berambut cokelat pendek yang ada di sebelah Gaara.

"Dia kekasih Sasuke, namanya Haruno Sakura."

"Haruno Sakura, yoroshiku," kata Sakura sambil mengulurkan tangan pada gadis itu.

"Matsuri," balas gadis itu sambil tersenyum.

Gadis berambut merah muda itu mengangkat sudut-sudut bibirnya, membalas senyuman Matsuri. Senyuman Sakura terhenti ketika ia melihat tatapan benci mengarah pada Matsuri, tentu saja Matsuri tidak akan melihat tatapan itu karena yang menatapnya penuh kebencian adalah sesosok hantu yang ada di dekat Sakura. Dari awal Sasuke memang tidak terlalu menyukai Matsuri apa lagi sekarang ia bertemu dengan gadis itu, ya meskipun gadis itu tidak bisa melihatnya. Lupakan sejenak kehadiran Matsuri dan Gaara, yang harus Sasuke lakukan sekarang adalah bicara dengan Sakura.

"Cepat pergi ke tempat yang lebih sepi, aku ingin bicara denganmu," kata Sasuke sebelum menghilang dari penglihatan Sakura.

.

.

.

Sakura tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Sasuke sampai pemuda itu harus menyuruhnya pergi ke tempat yang lebih sepi, sejujurnya ia memang ingin membicarakan sesuatu dengan Sasuke, tentang Kimiko.

"Kau tau siapa nama ibu anak kecil itu?," tanya Sasuke to the point tanpa basa-basi.

"Hana. Inuzuka Hana."

"Dengar, aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu tentang Kimiko tapi semuanya masih belum jelas. Kita harus mempertemukan Kaa-san Kimiko dengan Itachi-nii dulu," tambah Sakura.

Pemuda Uchiha itu masih terdiam, memang benar apa yang dikatakan Sakura tadi. Bisa saja semua dugaannya salah dan semua ini terjadi atas dasar kebetulan semata apa lagi ia memang tidak terlalu mengenal cinta pertama Itachi. Ia hanya tahu jika Itachi meninggalkan cinta pertamanya karena sebuah aturan dalam keluarga Uchiha.

"Kau membawa revolver itu?," tanya Sasuke yang tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Gadis berambut merah muda itu hanya menjawab pertanyaan Sasuke dengan sebuah anggukan, entah kenapa ia merasa begitu cemas meninggalkan Kimiko bersama Gaara dan Matsuri.

"Sebaiknya kau berhati-hati pada gadis itu."

"Gadis itu? Matsuri maksudmu? Kenapa aku harus berhati-hati dengannya?," tanya Sakura, menurutnya Matsuri bukanlah gadis yang berbahaya apa lagi Matsuri bersama Gaara.

"Hn. Turuti saja kata-kataku."

Sakura POV

Sasuke benar-benar aneh, sebenarnya ada apa dengan Matsuri? Menurutku dia terlihat seperti gadis baik-baik lagi pula gadis itu bersama Gaara, sahabat Sasuke. Mana mungkin Gaara akan pergi bersama orang yang berbahaya?

"Lebih baik kau hubungi Itachi-nii, suruh dia segera kemari dan bertemu dengan anak itu."

"Aku tidak punya nomor kakakmu," balasku cepat.

"Aku sudah memasukkannya dalam ponselmu ketika aku meminjam tubuhmu," katanya enteng.

Entah kenapa aku masih merasa aneh dengan konsep meminjam tubuh yang Sasuke katakan, dia begitu mudah menyuruhku membantunya, masuk ke dalam tubuhku padahal aku tak tahu apa pun tentang Sasuke. Ah, benar juga, rasanya tidak adil jika aku tidak mendapatkan apa pun darinya.

"Sasuke," panggilku sembari sibuk mengetik pesan untuk Itachi-nii.

"Hn."

"Kalau aku berhasil membantumu kali ini, apa kau akan segera pergi dariku?," tanyaku akhirnya, setidaknya aku harus tahu kapan semua kegilaan ini akan berakhir. Aku tidak mungkin terus bersama Sasuke seperti ini dan Sasuke pasti tidak selamanya membutuhkanku.

"Kau masih harus membantuku untuk beberapa urusan, setelah semua yang menghambatku tidak ada, aku akan pergi dari hidupmu," jelasnya. Eh, kenapa begitu?

"Ta-tapi aku sudah membantumu menemukan cinta pertama kakakmu, kenapa kau tidak pergi setelah itu?"

"Ada banyak hal yang harus ku lakukan sebelum aku pergi dari hidupmu, jadi jangan terlalu cerewet," kata Sasuke sambil mengawasi keadaan sekitar. Cerewet katanya? Dasar chicken butt menyebalkan! Memangnya dia pikir dia siapa? Sudah seenaknya masuk ke dalam hidupku, meminjam tubuhku padahal aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

"Baiklah tapi aku akan mendapatkan satu permintaan setiap aku berhasil membantumu, bagaimana?," tawarku, ini imbal balik yang pantas menurutku. Kami masih bisa mendapatkan keuntungan masing-masing.

"…"

"Cepatlah," desakku lagi.

"Hn, baiklah."

Haaah, ternyata aku masih harus berhubungan dengan hantu chicken butt itu sampai waktu yang belum ditentukan. Awalnya ku pikir jika aku sudah menemukan cinta pertama kakaknya, maka aku akan terbebas dari Sasuke tapi ternyata perkiraanku itu salah. Mungkin aku harus membiasakan diri meminjamkan tubuhku pada Sasuke.

DOR! DOR! DOR!

KYAAAA!

Suara tembakan disusul suara teriakan, tidak berselang satu detik para pengunjung berlarian menuju pintu keluar. Ekspresi panik dan takut tergambar jelas di wajah mereka, para ibu segera menggandeng anaknya yang menangis karena terlalu terkejut, beberapa pedagang segera berlari meninggalkan tempat berjualan mereka. Ada apa? Kimiko! Bagaimana dengan Kimiko?

"Cih. Sepertinya ada serangga pengganggu di sini. Sakura, ambil revolvermu," perintah Sasuke cepat.

Aku segera mengambil revolver hitam yang tersimpan dalam tasku, sensasi itu kembali muncul ketika aku mneyentuh benda itu. Rasanya seperti ditarik paksa dari tubuhku dan kemudian yang bisa ku lihat hanyalah kegelapan.

End Sakura POV

Sosok gadis berambut merah muda itu segera berlari ke arah kedai es krim tempatnya meninggalkan Kimiko, kecurigaannya jelas mengarah kepada gadis yang dibawa oleh Gaara. Mungkin saja Gaara menganggap Matsuri bukanlah bagian dari 'mereka' tapi ia tahu dengan pasti siapa Matsuri sebenarnya. Rahangnya mengeras, genggamannya pada revolver hitam itu semakin mengencang, ia akan membuat perhitungan dengan 'mereka'.

Teriakan histeris para pengunjung Konoha Land beradu dengan suara tembakan yang memekakan telinga, gelombang pengunjung yang berusaha merangsek ke arah pintu gerbang semakin besar saja. Sayangnya mereka tidak tahu jika pintu gerbang Konoha Land sudah ditutup, tidak akan ada yang bisa keluar dari tempat itu. Suara tembakan masih terus terdengar, beberapa tubuh tak bernyawa tumbang di sekitar wahana permainan, membuat pengunjung yang tersisa semakin panik.

"Sebenarnya apa yang 'mereka' inginkan?," gumam Sasuke yang kini berada dalam tubuh Sakura.

Tiba-tiba saja gadis berambut merah muda itu berbalik, mengarahkan revolvernya pada sosok pria berbadan besar yang ternyata mengekorinya. Awalnya sebuah seringai terbentuk di wajah pria itu, tentu saja ia senang karena bisa bermain-main dengan seorang gadis kecil yang menurutnya amatiran. Sayangnya seringai kemenangan itu berganti dengan wajah pucat pasi ketika ia menyadari sebuah tanda pada revolver itu.

"K-kau, dari mana kau mendapatkan revolver itu?,"tanya pria besar itu, keringat dingin mulai menuruni wajahnya, sepertinya pria itu tak menyangka akan berhadapan dengan orang yang memiliki revolver itu.

"….."

"Argh!," pria itu mengerang kesakitan ketika sosok gadis berambut merah muda dihadapannya tiba-tiba saja menembakkan sebuah peluru pada lututnya. Tidak ada suara tembakan, hanya ada bau mesiu samar yang tercium di udara.

"Apa tujuan kalian?," tanya Sasuke sambil mengarahkan revolver miliknya tepat pada wajah pria itu.

"Aku tidak akan mengatakannya."

"Sepertinya kau lebih suka mati, baiklah, akan aku kabulkan," ucap Sasuke. Dari mata pria itu, Sasuke bisa melihat pantulan sosok seorang gadis berambut merah muda yang tengah menyeringai.

"Apa kau gadis yang dimaksud Sasori? Kekasih Uchiha Sasuke?," sebuah suara lembut khas perempuan membuat Sasuke mengurungkan niatnya untuk membunuh pria dihadapannya. Pandangannya kini beralih pada sosok wanita yang mengusik kegiatannya.

"Sepertinya menarik membiarkan kekasihmu tetap hidup, Haruno Sakura."

Sepasang mata hijau milik Sakura melebar ketika Sasuke mengenali sosok itu, sosok wanita pirang itu adalah wanita yang masuk ke dalam kamarnya tempo hari. Kenapa wanita itu ada di tempat ini? Dan lagi, kenapa wanita itu mengenal Sakura? Apa hubungan 'mereka' dengan Sakura?

"Siapa kau?"

"Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Aku adalah putri sulung keluarga Sabaku, Sabaku Temari," balas wanita itu sambil mengarahkan shot gun yang ia bawa ke arah pria yang seharusnya dibunuh Sasuke tadi.

"A-ampuni saya Nona, be-berikan saya kesempatan lagi," mohon pria itu.

DOR!

Arghh…!

"Itu jawabanku," kata Temari enteng, jade milik wanita pirang itu beralih pada sosok berambut merah muda dihadapannya.

"Sepertinya kekasihmu benar-benar mencintaimu ya, sampai memberikan revolvernya padamu. Apa dia juga mengajarkanmu untuk bertahan hidup?"

"Untuk apa kau ada di sini?" Jika wanita pirang dihadapannya ini adalah Temari tidak mungkin ia hanya bermain-main menyerang sebuah taman hiburan, pasti ada sesuatu yang diinginkan wanita ini. Tapi apa?

"Tentu saja membawa pulang pewaris Sabaku, Sabaku Gaara. Kau tahu, adik kecilku itu lebih suka bermain-main bersama seoarang Uchiha dari pada mengurus organisasi kami," balas Temari sambil memainkan shot gun yang ada digenggamannya.

Harusnya Sasuke sudah bisa menebak apa yang diinginkan Temari, Gaara, sudah pasti keluarga Sabaku menginkan putra bungsunya sekaligus pewaris keluarga kembali pulang. Ia jelas tahu seperti apa keluarga Sabaku, keluarga yang menjadi pimpinan mafia kelas atas. Menurut penyelidikannya beberapa tahun yang lalu, keluarga Sabaku juga berhubungan dengan 'mereka', ada kemungkinan 'mereka' menggunakan kekuasaan keluarga Sabaku untuk melindungi kegiatan 'mereka'.

"Lalu kenapa kau ada di sini? Seharusnya kau segera membawa adikmu dan tidak berada dihadapanku," balas Sasuke.

"Aku hanya ingin menyapamu, lagi pula sudah ada orang yang akan membawanya ke hadapanku."

"Maksudmu gadis itu?," tebak Sasuke, dalam hati ia mengumpat kebodohan Gaara sekarang. Pemuda berambut merah itu sepertinya benar-benar masuk ke dalam perangkap keluarganya sendiri padahal ia sudah memperingatkan Gaara tentang Matsuri. Temari hanya menyunggingkan seulas senyum sebagai jawaban, pemuda Uchiha itu jelas tidak menyukai situasi ini.

"Ah, sepertinya dia juga membawa seorang gadis kecil ya. Apa gadis kecil itu putrimu?," tanya Temari sambil kembali tersenyum dan Sasuke tahu senyuman itu bukanlah pertanda yang bagus apa lagi wanita pirang itu membawa-bawa Kimiko.

.

.

.

Di luar sekelompok orang menunggu dengan cemas, sebagian besar dari mereka adalah keluarga dari orang-orang yang terjebak di Konoha Land. Mereka berusaha mencari tahu keadaan di dalam tempat hiburan itu melalui pihak manajemen, sosok pria berambut raven juga tampak terlihat di sana, sebenarnya ia bingung kenapa kekasih adiknya memintanya untuk datang ke tempat ini. Itachi membuka ponselnya berusaha kembali menghubungi Sakura untuk kesekian kalinya, kegiatannya terhenti ketika sepasang onyx miliknya menangkap sesosok wanita yang begitu ia kenali.

"Hana?," gumamnya pelan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha membuktikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah mimpi. Berapa kali pun ia mengerjapkan mata sosok wanita berambut cokelat itu masih ada di sana, ini bukan mimpi, ini kenyataan.

"Hana!"

Pria Uchiha itu berusaha merangsek lautan manusia yang ada dihadapannya, selama ini ia selalu mengharapkan sebuah kesempatan untuk bertemu wanita itu jadi ia tidak akan membuang kesempatan ini begitu saja. Ia akan membawa cinta pertamanya itu masuk ke dalam keluarga Uchiha, menjadi menantu keluarga Uchiha apa pun yang terjadi, itulah janjinya. Nafas Itachi terengah-engah, sebentar lagi, tinggal beberapa langkah lagi ia akan mencapai wanita itu.

GREEPP!

"Hana!," panggilnya sekali lagi.

Wanita berambut cokelat itu menoleh, sepasang mata miliknya terbelalak ketika mnegenali siapa yang tengah mencengkeram lengannya. Inuzuka Hana tahu betul siapa yang ada dihadapannya, pria yang paling tidak ingin ia temui, Uchiha Itachi.

"K-kau, kenapa kau bisa ada di sini?," tanya Hana dengan suara bergetar. Kenapa pria itu bisa menemukannya? Apakah semua usahanya untuk bersembunyi selama enam tahun ini akan sia-sia?

"Ku mohon dengarkan aku, sekali ini saja dengarkan aku."

"Harap semuanya tenang, kami sedang berusaha mengecek keadaan di dalam. Silahkan melapor identitas keluarga Anda," sebuah suara dari pihak manajemen Konoha Land membuat Hana segera melepaskan cengkeraman Itachi. Itachi bisa diurus nanti, yang paling penting sekarang ia harus menemukan putrinya.

"Apa aku tidak memiliki kesempatan lagi?," gumam Itachi pelan.

Sabaku Temari masih berdiri dihadapan sosok berambut merah muda yang dikenalnya sebagai Haruno Sakura, jade miliknya kembali mengamati gadis itu untuk kesekian kalinya. Sulung Sabaku itu tak menyangka jika Sakura adalah kekasih Uchiha Sasuke, musuh besar kroni keluarga Sabaku.

"Kau benar-benar berbeda sekarang, terakhir kali kita bertemu kau sama seperti gadis biasa lainnya," kata Temari yang memulai monolognya sementara sepasang viridian milik gadis itu menatapnya sinis sekaligus penuh tanya.

"Sepertinya kau memang sudah melupakan masa lalumu ya, Haruno Sakura."

.

.

.

TBC

.

.

.

Akhirnya selesai ngetik chapter ini di tengah wb berkepanjangan, saya bener-bener stuck dengan wb jadi jadwal up date semuanya molor. Omong-omong, gimana dengan chapter ini? Semoga nggak hancur-hancur amat ya XD. Buat typo dan eyd saya angkat tangan deh, gomen ne m(_ _)m. Sebagai bonus karena saya lama up date saya bakal kasih sedikit spoiler soal chapter depan.

"Apa kau lupa masa lalumu, Haruno Sakura?"

"Apa maksudmu?"

"…."

"Kau hanya sampah, jauhi Sasuke-kun. Dia milikku."

"…."

"Aku sudah membantumu, jadi aku ingin minta imbalanku."

"Apa yang kau inginkan?"

"Jelaskan siapa dirimu."

Ok, makasih buat reader yang udah menyempatkan diri untuk membaca, makasih juga buat yang udah meninggalkan review, follow dan favorite. Buat para silent readers semoga berkenan mereview karena review kalian adalah penyemangat saya buat nulis ^^.

.

.

.

^^ Review? ^^