Chapter sebelumnya:
"Bisakah kalian kembali kerumah? Nee-chan mengantuk" ucap Ino. Lalu ketiga anak itu mengangguk mengerti dan pulang. Ino langsung berlari kedalam rumahnya dan mengambil jaket serta rok ungunya yang ia gunakan sebelum ia 'di-culik'. Kemudian ia membeli beberapa persenjataan di pasar dekat rumahnya, serta celana dan sepatu ninja. Setelah itu ia melesat pergi ke Konoha, dengan panduan peta yang tak lupa ia beli tadi. Ia mengikat rambutnya seperti biasa.
'Semoga belum terlambat'
Berakhir © LavenMick Amanda
Naruto © Masashi Kishimoto, saya hanya pinjam beberapa karakter.
Warn: Gaje, abal, typo(s) –maybe?, Semi-canon, ItaIno slight SasuIno.
.
N'joy!
.
.
.
Tap... Tap...
Baik, tetap tenang Ino. Yang harus kau lakukan sekarang adalah melacak chakra Itachi.
Jaket tebalnya kini melindungi badannya dengan baik dari suhu luar. Sebiji peluh meluncur dari dahinya. Bukan, bukan peluh kepanasan atau kelelahan. Itu adalah tanda kalau gadis Yamanaka itu kini tengah cemas dan kalut. Ia benar-benar takut kalau pertarungan Itachi dan Sasuke sudah di mulai. Kakinya terus melompat dengan cepat. Ia terus mendeteksi chakra di sekitarnya. Ia melewatkan seharian penuh dengan melompat di dahan pohon. Ia benar-benar tak berhenti sejak ia berangkat kemarin pagi, dan sekarang surya sudah menjejal di atas kepalanya, yang artinya ini sudah siang hari.
Matanya menyipit menyadarii dua sosok chakra yang sangat ia kenal. Ia berhenti sebentar pada satu batang pohon. Ino pun berusaha mendeteksi chakra itu lebih lanjut. Benar, ternyata itu adalah chakra Itachi. Seperti dugaan Ino, ada chakra Sasuke di sana, dan juga chakra... seseorang? Berarti ada tiga orang?
Ino pun melompat menuju arah chakra itu. Ia berusaha sekuat mungkin menyembunyikan chakranya. Ia pun sampai pada sebuah gua. Semakin Ino mendekatinya, semakin besar terasa chakra Itachi dan Sasuke. Ino pun masuk kedalam gua yang penuh dengan batu-batu mencuat dari bawah dan atap gua. Ino tak berusaha membuat penerangan atau apalah pada gua yang gelap itu. Ino hanya mengikuti aliran chakra Itachi. Samar-samar, Ino menangkap penerangan di sana. Ternyata itu adalah elemen api Sasuke. Mata Ino membulat melihat sosok Itachi yang kini.
"Wah... wah... ternyata ada tikus di sini. Mari kita lihat, pihak Konoha atau pihak kita hm... Yamanaka?" ucap seorang berkacamata yang aneh. Sebuah ular keluar dari tubuhnya. Jantung Ino berdegup dengan cepat saat Kabuto –siluman ular itu menyebut namanya.
"Ino!" ucap Itachi terkejut.
"Ino?" tanya Sasuke. Ino pun memperlihatkan dirinya dari balik batu.
"Sasuke, lindungi Ino. Aku akan menggunakan Izaname pada Kabuto" ucap Itachi.
"I-Izaname?" tanya Ino bingung. Lalu Sasuke mendekat kearah Ino.
"Kenapa kau kesini? Kau membuat situasi semakin rumit!" bentak Sasuke.
"Kalau ingin membongkar jurus, aku bisa membantu kalian!" ucap Ino tak menghiraukan bentakan Sasuke. Kabuto menarik sudut bibirnya sinis dan Itachi mendekat kearah Sasuke dan Ino.
"Jurus Shinteshin tidak mempan padaku, Yamanaka!" ucap Kabuto terkekeh sinis.
"Dasar siluman, aku tidak menggunakan jurus itu padamu!" ucap Ino.
"Ino! Kenapa kau di sini! Di sini berbahaya! Pergilah!" ucap Itachi. Ino pun maju melangkah menuju Kabuto, mengabaikan ucapan Itachi.
"Heh, jelek, kau kira aku takut padamu?" ucap Ino. Ia tetap melangkah pelan menuju Kabuto. Saat dekat, tiba-tiba Ino menyerang Kabuto dengan tinjuan yang mengenai pipinya. Memang bukan tinjuan yang kuat. Namun dapat membuat kesan kebiru-biruan pada pipi Kabuto yang 'Setengah-ular' itu. Lalu Ino melompat kebelakang di mana Sasuke dan Itachi memerhatikannya, sedangkan Kabuto memegangi pipinya.
"Apa yang kau lakukan, Ino?!" tanya Sasuke.
"Itu tadi adalah awal mula jurusku. Tidak menggunakan chakra atau aura." Jeda Ino, Itachi memandang penuh tanda tanya.
"Itulah yang di sebut Hipnotis. Hipnotis sendiri hanya berfungsi ketika kita menggunakan jurusnya dengan menyentuh anggota tubuh lawan. Dia memasuki alam bawah sadarnya sekarang. Dia mengira aku tengah bertarung melawannya. Yosh, aku punya waktu tiga menit untuk ini." Ucap Ino. Ia lalu mendekati Kabuto lagi dan menyentuh dahi Kabuto dengan tangan kanan. Sedangkan tangan lainnya menyentuh dahinya sendiri. Ia menutup matanya, mencoba melakukan jurus ayahnya menggali informasi dari pikiran lawannya.
"Apa yang dia lakukan, nii-san?" tanya Sasuke. Itachi tersenyum tipis.
"Itu adalah jurus keturunan Yamanaka. Jurus menggali pikiran lawan. Ia sudah banyak berubah sekarang." Jelas Itachi. Sasuke mengangguk mengerti atas penjelasan Itachi. Dua menit berlalu, memasuki menit ketiga. Itachi mulai resah, sama halnya dengan Sasuke.
BUAAGHH!
"Sialan kau Yamanaka!" ucap Kabuto meninju Ino. Ia ternyata sudah sadar dari hipnotis Ino. Ino pun terpental jauh, namun Itachi dapat menangkapnya.
"Aku dapat jurusnya, Itachi-nii!" ucap Ino menahan sakit di perutnya. Itachi mengangguk dan mereka berdua mendekati Kabuto. Saat Kabuto lengah, Itachi langsung menggunakan Tsukiyomi-nya dan menjebak Kabuto lagi dalam ilusinya.
"Ucapkan jurusnya, Ino" ucap Itachi. Ino mengangguk.
"Ne..." ucap Ino mengawali jurusnya.
"Ushi, Saru..." jeda Ino. Sasuke menutup matanya guna menonaktifkan sharingan-nya. Sedangkan Itachi sedikit melirik pada Ino.
"Sudah kuduga, apapun yang kukatakan tak akan menghentikanmu, kan?" ucap Sasuke. Ino pun tak berniat melanjutkan jurusnya, ia tak ingin mengganggu percakapan antara Itachi dan Sasuke. Sebenarnya Ino bingung, kenapa ada garis-garis aneh di wajah Itachi, seperti sebuah retakan tanah. Namun gadis Yamanaka ini sadar, bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya. Ino merasa tak berhak mengikuti urusan keluarga Uchiha.
"Walaupun kau melindungi Konoha, aku akan menghancurkannya suatu hari" ucap Sasuke penuh dengan emosi. Itachi diam, namun Ino tahu bahwa jauh di dalam batinnya Itachi sangat terpukul dengan ucapan Sasuke barusan.
"Lanjutkan, Ino" tak menghiraukan, Ino hanya bisa menuruti perintah orang yang sangat di sayanginya.
"Tora... Tatsu"
"Sayonara..."ujar Sasuke. Bahkan Sasuke yang sekarang terlihat sangat sedih. Ino tak mengerti, untuk apa Sasuke mengucapkan salam perpisahan? Bukankah mereka akan bersama-sama lagi setelah ini?
"I... Edo tensei no jutsu, kai!" ucap Ino mengakhiri segelnya. Angin pun berhembus mengelilingi mereka. Tubuh Itachi di kelilingi oleh cahaya putih. Itachi pun berbalik menuju Sasuke. Langkahnya terseret-seret menuju Sasuke. Tangannya mengadah seakan ingin menggapai Sasuke.
"Sepertinya masih ada sedikit waktu" ucap Itachi lemah. Ino pun hanya menatap Itachi yang berjalan menuju Sasuke. Kulitnya pun perlahan-lahan mengelupas dan terbang. Ino mengikuti langkah Itachi dari belakang, agar dapat menahannya sewaktu-waktu pemuda Uchiha itu akan jatuh. Sasuke hanya menatap Itachi, menunggu kata-kata selanjutnya yang akan meluncur dari mulut kakak kesayangannya.
"Aku merasa... bahwa kesadaranku perlahan-lahan memudar..." ucap Itachi di sela langkahnya. Mata Ino melebar sebagai reaksi dari kata-kata anak sulung Fugaku tersebut. Apa maksud Itachi-nii? Apa dia akan—Tidak mungkin! Tidak boleh terjadi!
"Aku ingin menceritakan semuanya ketika kita berpisah. Tidak akan ada kebohongan lagi" ucap Itachi lagi. Mata Ino membulat.
"I-Itachi –nii..." cicit Ino memanggil Itachi. Dari nadanya, Ino meminta penjelasan apa maksud ucapan Itachi tadi.
"Pada malam aku meninggalkanmu, aku melakukan semua yang Tobi dan Danzo katakan padamu" lanjut Itachi. Sasuke sedikit tersentak dengan ucapan Itachi. Ino jelas tak terkejut, karena faktanya ia mengetahui hal tersebut.
Flashback
"Tidak, aku hanya menuntutmu untuk membuat pilihan. Berada di pihak Uchiha, mengajukan kudeta dan mati bersama Uchiha. Atau berada di pihak Konoha, menyelamatkan adikmu sebelum kudeta terjadi, dan bantu kami menghabisi seluruh anggota Uchiha" ucap Danzo. Matanya sedikit bergerak menyadari ada seseorang di sekitarnya.
'Tidak mungkin, Itachi-nii tak kan mungkin melakukan itu!'
End Flashback
"Aku akan menunjukan kebenarannya padamu..." ucap Itachi mengaktifkan Sharingan-nya. Sasuke pun terjebak dalam Sharingan Itachi. Itachi memutar kepalanya kebelakang, melihat Ino yang membeku beberapa langkah di belakangnya.
"Ino..." panggil Itachi. Ino pun tersentak dan mendekat.
"Waktuku sudah tak lama lagi, jagalah dirimu..." ucap Itachi.
"Ti-tidak Itachi-nii! Kau belum berakhir di sini!" ucap Ino tak dapat menahan tangisnya. Ia pun memeluk Itachi sambil menenggelamkan kepalanya di dada Itachi. Lembut, Ino merasakan sebuah tepukan di kepalanya. Ino pun mengadah kepada wajah yang lebih tinggi darinya dan...
Cup!
"Aku percaya kau kuat tanpaku, Hime" ucap Itachi setelah mengecup dahi Ino. Itachi melepaskan pelukan Ino sambil tersenyum padanya. Itachi kembali menatap pada Ino.
"Sayonara, Ino" ucap Itachi. Ino pun jatuh terduduk di tempatnya. Air matanya membentuk sebuah sungai kecil di pipinya. Ia menatap tanah di bawahnya sambil membiarkan air matanya mengalir. Itachi kembali melangkah ketempat Sasuke, dan melepaskannya dari genjutsu Sharingan.
"Aku menyesal tak menceritakan semuanya sebelum akhirnya seperti ini. Sekarang tak ada lagi yang perlu kukatakan." Ucap Itachi pada Sasuke. Sasuke hanya bergeming membiarkan kakanya berkata.
"Aku sudah memberitahu kebenarannya. Aku tak akan bertahan lama..."
"Aku, selalu berbohong padama dan selalu mengatakan untuk memaafkanku. Sengaja menahan jarakmu dengan tanganku..."
"Semua kulakukan karena aku tak ingin kau dapat mengejar semua beban ini. Namun sekarang aku percaya... mungkin kau yang dapat menggantikan ayah, ibu... dan semua Uchiha terdahulu..."
"Jika saja aku berterus terang dengan memberitahumu dari awal, lalu aku tak perlu memperjuangkannya sendiri sedari dulu, sebagai kegagalan dan memberitahumu semua ini..."
"Jadi saat ini, aku ingin memberitahumu semua kebenaran ini padamu." Ucap Itachi sambil memegang kepala belakang Sasuke. Ino pun memberanikan diri menatap semuanya. Itachi mendekatkan dirinya pada Sasuke.
"Kau... tak perlu memaafkanku lagi. Dan apapun yang kau lakukan setelah ini, ketahuilah..." jeda Itachi menempelkan dahinya pada dahi Sasuke.
"Aku akan selalu menyayangimu..." ucapnya sambil tersenyum. Lalu perlahan-lahan Itachi menjauhkan dirinya. Kulitnya semakin banyak mengelupas. Ino pun berlari menghampiri Itachi yang berada beberapa jengkal di depan Sasuke.
"Itachi-nii! Apa yang kau—TIDAK! ITACHI-NII!" teriak Ino histeris saat jasad Itachi terjatuh dan matanya peralahan-lahan menutup. Ino pun berjongkok di depan Itachi sambil menangis.
"Ino..." ucap Sasuke berjongkok sambil menepuk pelan bahunya. Lalu Sasuke menarik pelan Ino ke dalam pelukannya. Ia membiarkan bajunya basah terkena air mata Ino.
"Maafkan aku membunuh Itachi. Itu... yang di depanmu hanyalah Edo tensei... jurus yang memanggil arwah seseorang yang telah mati..." ucap Sasuke pelan. Ino pun menjauh dari Sasuke dan menatapnya marah.
"Jadi kau membunuhnya hanya karena kau marah padanya? Kau tahu? Aku ingin memberitahumu semua kejadian di saat aku... sore sebelum aku memberimu syal itu..." ucap Ino.
"Kau... jadi kau mengetahui semuanya? Kenapa kau tak mengatakan padaku?"
"Itachi-nii menyuruhku untuk merahasiakan semuanya. Ia menyuruhku untuk menjagamu!" ucap Ino. Sasuke pun tertegun mendengar ucapan Ino.
"Walau kau menganggapku sebagai pengganggu, aku akan selalu melindungimu! Ini adalah janjiku untu Itachi-nii!" ucap Ino sedikit berteriak.
"Jaga Sasuke ya, Ino-chan! Dia yang paling penting untukku."
"Aku selalu ingin memberitahumu untuk berhenti membenci Itachi-nii! Tapi kau selalu mengacuhkanku!" ucap Ino dengan nada bergetar. Matanya semakin banyak mengeluarkan air mata. Sasuke pun menatap Ino sendu. Sasuke kembali menarik gadis Yamanaka itu kedalam pelukannya.
"Maafkan aku... Ino"
.
Angin sore musim semi berhembus pelan membelai rambut pirangnya yang tergerai. Setelah meletakan bunga daisy putih di depan batu nisan ia berdiri dan menangkupkan kedua tangannya. Matanya menutup, mengirim doa untuk sang Uchiha yang telah gugur delapan tahun yang lalu. Sesekali ia mengusap air matanya yang bertengger di ekor matanya, guna menghalaunya untuk jatuh dan terlihat lemah. Ia menarik paksa sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tulus. Ia sudah menjadi kunoichi yang kuat kini, namun tetap menangis dengan kenyataan yang melemparnya dalam kesedihan yang dalam. Ia memutar tubuhnya menghadap belakang, saat chakranya mendeteksi kedatangan dua shinobi yang terikat oleh janji suci.
"Konnichiwa, Sasuke-san, Sakura-san" sapa Ino—nama gadis berumur dua puluh empat itu. Seorang anak berkacamata berada di tengah-tengah mereka, buah hati pertama mereka.
"Konnichiwa, Ino-chan... kau tak perlu terlalu formal untuk urusan di luar profesimu sebagai badan Intelejen dan Penyelidikan" sapa Sakura sambil mengelus perutnya yang agak menggembung itu.
"Kurasa aku harus bersikap profesional di setiap saat. Bagaimana kesehatanmu, Sakura-san?" tanya Ino. Ia masih memakai seragam Jounin karena kondisinya yang baru saja pulang dari misi. Penampilannya agak berantakan.
"Baik. Ini sudah masuk bulan ke-enam" ucap Sakura. Sasuke—ayah bagi anak-anak sahabat merah jambunya hanya bergeming mendengar percakapan kedua wanita di hadapannya.
"Senang mendengarnya, Sakura-san. Kurasa aku akan pergi dulu. Aku harus membersihkan diri. Jaa matta" ucap Ino mengakhiri pembicaraannya. Ia akan melangkah keluar dari kawasan pemakaman itu, namun sebuah tangan kecil menarik rompi ninjanya.
"Bibi Ino... nanti aku boleh kan bermain di kebun kecil di rumah bibi?" tanya anak Sakura –Sarada Uchiha.
"Tentu saja, tapi besok saja ya. Matahari akan tenggelam, dan tidak baik bermain saat malam hari" ucap Ino sambil berjongkok—menyetarakan tingginya dengan anak berkacamata itu. Setelah pamit undur diri, Ino pun benar-benar pergi dari pemakaman itu.
Pikirannya kosong. Matanya memandang jalan di bawahnya. Tubuhnya terasa gontai. Bukan, bukan karena misinya. Tiba-tiba sebuah ingatan kembali berputar di otaknya. Tentang seseorang yang selama delapan belas tahun yang mengisi hatinya.
"Jaga Sasuke ya, Ino-chan! Dia yang paling penting untukku."
"Dan Ino-chan... juga"
Ia menatap jalanan di depannya kosong. Pikirannya terus bergulat dan berhenti ketika menyadari ucapan sang pujaan hati. Kakinya juga berhenti tepat di depan gerbang pintu rumahnya. Demi apapun, ia baru sadar apa yang Uchiha Itachi ucapkan padanya. Ia baru saja tersadar bahwa selama ini Itachi juga memiliki...
...perasaan yang sama sepertinya.
'Aku sudah berusaha melangkah mendekat padamu. Kau membuatku gelisah, kau membuatku menangis. Mengapa hanya cintaku yang berakhir sedih? Tidak bisakah aku bahagia? Tidak bisakah aku tertawa bersamamu?
Bisakah kau mendengar tangisanku, Itachi-nii?'
Sebuah angin membelai pelan tubuhnya. Air matanya perlahan turun menyadari sebuah fakta tersembunyi. Fakta bahwa Itachi juga menyayanginya. Pelan, namun pasti, ia merasakan sebuah tubuh kekar memeluknya dari belakang. Menghapus air matanya. Ino memutar tubuhnya, lalu semua ototnya menegang, menyadari siapa yang menghapus air matanya.
"Kisah kita di dunia ini memang berakhir, Hime. Namun tidak dengan rasa yang tersembunyi ini."
Uchiha Itachi, entah hanya sebuah ilusi atau kenyataan, Ino tak percaya apa yang ada di depannya.
.
—THE END.
.
Hua, maafkan Fic ini berakhir dengan Gajenya, Sesuai judulnya, fiksi ini menceritakan bagaimana kedua insan ituh (nunjuk Itachi sama Ino) tak dapat mengungkapkan perasaan satu sama lain dan khususnya Itachi berakhir sebelum ia bisa ngungkapin rasanya ke Ino. Hueeee, bener-bener mengharukan.
Laven bingung banget kenapa fiksi fiksi Laven selalu berakhir empat chapter. Contohnya Water and Oil, sama kehangatan. Oke, Laven mulai promosi lagi -_-'
Baiklah, Laven balas di sini saja ya reviewnya, (for Login and non-login)
Ulin Nuha: Err, Ulin-chan panggilnya Laven aja yaa, kalo dini itu kaya ada manis-manisnya gimana gitu xD (korban iklan) / bahah, itu mah udah jadi tradisi turun menurun kalau tbcnya slalu kepo (?) / bahah, judulnya aja udah nyezek, jadi ga ada penggantinya :'( huhuhuhu, Laven butuh gentong /? / TerimaKasih atas ripiwnya, Ulin-san! ^o^
INOcent Cassiopeia: oya dong, aa' Nagato sama Yahiko kan aslinya baek. Tobipret aja yang buat mereka jahat -_- / Jawabannya sudah terjawab di sini :D / Terimakasih Ripiwnya Minna-san!
Inojokari: Ung, Injo-san, apa arti gracias? Hampir aja salah baca jadi 'gratis' -_- / duh biasalah, kebanyakan make sharingan jadi agak burem-burem gimana gitu xD / Terimakasih ripiwnya, Injo-san!
Special thank's for...
Semua pembaca dan kamu yang belum menampakan diri.
.
Salam manis,
LavenMick Amanda
.
(Psst, Laven ga janji tapi kalau ada waktu Laven akan buat sequel dari Berakhir, mungkin setelah sequel Kehangatan )
