[ Di katedral, sebulan setelah kejadian di Samudra Atlantik ]
Hhhhh...
Kini beberapa hari berlalu sudah, di mana para sisa awak kapal pirate itu sudah berhasil dievakuasi oleh kapal Angkatan Laut negara Spanyol yang kebetulan sekali (atau bahkan musibah) lewat tidak jauh dari mereka. Pada saat yang sama, pers di belahan Eropa Barat sepakat menyatakan bahwa kebangkitan sang Sky Emperor memang benar adanya. Semua kepala pemerintahan sontak saja ribut hendak mengklaim kepemilikan sang Sky Emperor tersebut.
Aku benar-benar capek...
Seorang anak laki-laki bersurai biru langit musim panas yang berbaring di ranjang sederhana dalam suatu katedral, berguling dengan tidak karuan. Berkali-kali ia lakukan gerakan berguling, hal itu sama sekali tidak membantunya kembali terlelap dalam mimpi yang sangat panjang.
Akhirnya, anak cowok itu lalu membukakan kedua matanya. Kedua mata anak itu menyadari bahwa langit ruangan tersebut benar-benar berbeda total dengan langit ruangan yang seringkali ia jumpai. Ia meringis pelan begitu menyadari adanya cahaya matahari yang masuk lewat jendela kamar yang asing tersebut. Ia lalu bangun, dan bergumam dengan lirih, "... Di mana ini?"
.
.
.
The Basketball Which Kuroko Plays ~ The Legend of Emperors
© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃
Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki
Warnings : OOC, AU, ada karakter dari game lain (Marlina, Roxy, Koris, Pravil / Hero Dream © Efunen Company) dan menggunakan surname khas Irish, OC, etc.
A/N (Mun) : Datang dengan chap 3 lol~ chapter berikutnya akan membahas isi Kitab The Legend of Emperors beserta aksi Kuroko dan Kagami! "text" = bahasa Jepang, "text" = bahasa Irish, "text" = bahasa Old-English / Middle English. Penggunaan 'text' bergantung pada situasi latar tempat. Dan, terima kasih banyaaaaakk buat kalian yang baca, review, fav dan follow! AI LAF YU~ *diteplok*
.
.
.
"Halo?"
DEG.
Remaja laki-laki itu sontak saja menolehkan kepalanya. Di sisi sebelah kanan, terdapat seorang laki-laki dewasa bersurai putih keperakan dengan pakaian ala pastor yang dominannya putih dan pada bagian dadanya terdapat garis yang membatasi warna putih dengan warna biru muda. Pada dahinya terdapat salib yang sepertinya ditato. Beliau rupanya sedang duduk dengan wajah penasaran, yang membuat anak itu risih. Ia sepertinya pastor atau pendeta ya...?
"Anu... Di mana ini...?" tanya anak remaja itu risih.
Pastor itu memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, bingung dengan apa yang baru saja diucapkan anak mungil itu. Sesaat kemudian, laki-laki dewasa itu lantas menoleh ke arah mulut pintu dan memanggil seseorang untuk kemari, "McLaughlin, kemari. Aku tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan anak mungil ini. Dia baru saja bangun tuh."
"Ah iya, iya, aku lupa menaruh mantra sihirnya. Tunggu sebentar."
TOK TOK.
Sesaat kemudian, pintu kamar tersebut terbuka, menampakkan sosok seorang wanita dewasa bersurai biru dongker yang sekarang memakai pakaian berwarna putih agak kekuningan dengan lengan panjang dan ujung pakaiannya mencapai lutut. Wanita itu lalu mendekati laki-laki dewasa itu sambil menatap anak muda yang baru saja bangun tersebut. Tanpa ragu-ragu, wanita itu lalu menjentikkan jari tangan kanannya.
CTIK.
Wanita itu lalu menggumamkan mantranya, "Universal Language."
SYUUUSSSHH.
Anak itu terlihat gelisah ketika mendapatinya cahaya aneh yang muncul sedari wanita itu menjentikkan jarinya, memasuki tubuhnya. Tak butuh beberapa detik, pengetahuan asing segera saja menguasai isi otak anak mungil itu. Remaja itu lalu melirik dua orang dewasa itu dengan pandangan takut, dan akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya, "Umm... Di mana ini?"
"Nah itu. Makasih ya, McLaughlin." Laki-laki dewasa itu menoleh lagi ke wanita dewasa itu dengan tatapan senang.
"Tidak usah begitu. Nah sekarang... Kita berada di dalam katedral milik laki-laki ini." Wanita itu lalu menjawab pertanyaan remaja itu dengan suara halus sambil menunjuk laki-laki dewasa yang duduk di dekat anak tersebut.
Anak itu lalu melirik laki-laki dewasa itu. Sadar bahwa dirinya dilirik anak tersebut, ia kemudian mengenalkan diri dengan cara khas orang Buddha, "Waduh, saya lupa mengenalkan diri. Nama saya Pravil Mullineaux, salam kenal. Saya merupakan keturunan Inggris-Perancis, tetapi besar di lingkungan Irlandia. Boleh saya tahu namamu, Nak?"
Anak itu lalu menggangguk pelan, "Namaku Kuroko Tetsuya... Salam kenal. Sebelumnya, katedral ini ada di mana? Dan... Bahasa apa yang baru saja aku gunakan ini?"
Wanita itu lalu duduk di pojok sebelah kanan bawah ranjang tersebut dan menjawab dengan datar, "Kita sekarang ada di pinggiran kota Waterford, Irlandia Tenggara. Kau benar-benar tertidur selama hampir sebulan lho. Kita baru saja menggunakan bahasa Irish."
Apa ini...? Kuroko terperangah kaget. Aku sekarang ada di Irlandia? Beribu-ribu kilometer jauhnya dari Tokyo...?
"Aku itu sedang bermimpi ya? Sebelumnya aku sedang latihan basket di sekolahku..." Kuroko mencoba berdelusi, saking tidak percayanya.
"Sayangnya kau tidak sedang bermimpi, Mr. Kuroko. Dan... Apa itu basket ya?" Pravil, sang pastor katedral itu, bertanya dengan wajah penasaran.
"Katakan padaku–ah aku ingat... Aku diculik anak gadis asing... Terus sebulan sebelum ini... Aku bermimpi aneh..." Kuroko mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi, dan juga menyusun kronologinya dengan wajah berkeringat saking syoknya.
Wanita yang disebutnya McLaughlin lalu menjelaskan keadaannya, "Maafkan aku. Aku kenal gadis yang menculikmu, dan... Yah, kau tahulah. Gadis itu salah satu awak kapalku yang sekarang sudah terkoyak-koyak. Nah, ganti baju anehmu dengan pakaian yang ada, kau bisa masuk angin lagi kalau masih memakai pakaian aneh itu."
Mendengar kata 'pakaian aneh' yang disebut-sebut wanita itu, Kuroko langsung menoleh ke tubuhnya. Benar saja, ia masih mengenakan seragam musim panas SMA Seirin-nya. Sebelum wanita itu hendak berdiri dan meninggalkan kamar tersebut, Kuroko langsung mencegahnya, "Tunggu! Aku kan belum tahu namamu, Nona."
PLOK.
Mendadak wanita itu menepuk dahinya. Saking seriusnya, ia sampai lupa mengenalkan namanya. Ia lalu memperkenalkan dirinya dengan ketus selagi ia berdiri, "Namaku Roxy McLaughlin. Oh ya, ada orang yang mengaku temanmu, kemari dan bersikeras ingin ngobrol denganmu. Ikuti Mullineaux, ia akan membimbingmu menemui orang itu. Pravil, aku mau mandi sekaligus pergi ke markas pirate terdekat."
"Baik, Ms. McLaughlin." goda Pravil tersenyum.
"Jangan pakai Miss atau apalah. Aku benci itu." tolak wanita itu kesal sambil membuka pintu kamarnya dan akhirnya keluar dari kamar tersebut.
BLAM.
Pravil lalu tersenyum simpel, dan kembali mengalihkan perhatiannya ke Kuroko. Beliau lalu berkata dengan tenang, "Kau boleh bertanya apapun, Mr. Kuroko."
"Baiklah... Pertanyaan pertama... Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Ceritanya sangat panjang... Mau saya ceritakan sekarang nih?" tanya Pravil tidak yakin.
Kuroko menggangguk mantap. Merasa sudah menyerah dan tidak bisa melawan keyakinan yang terpatri dari mata Kuroko, beliau lalu mulai bercerita, "Menurut cerita McLaughlin, setelah gadis itu menculikmu, naasnya, kalian sedang berhadapan dengan topan di Samudra Atlantik. Gadis itu hendak menjadikanmu persembahan untuk topan itu, tetapi yang ada kau malah terjatuh ke dalam lautan tersebut setelah gadis itu dengan cerobohnya melepaskanmu. Wajar saja, saat itu kapalnya sedang oleng sekali. Saya kurang tahu cerita selanjutnya, tetapi McLaughlin mengatakan bahwa dirimu berubah menjadi seekor burung super raksasa... Setelah mengusir topan, kau pingsan, dan awak kapal pirate yang masih hidup ditemukan oleh Angkatan Laut Spanyol yang kebetulan lewat. Kau bisa dibilang beruntung karena McLaughlin merupakan salah satu kepala pirate yang tercatat dalam Daftar Orang Yang Dilindungi milik Pemerintah Irlandia. Ia lalu membawa sisa awak kapal itu, termasuk kau, ke sini."
Menyimak cerita Pravil dengan seksama, Kuroko menggeleng tidak percaya. Aku berubah menjadi seekor burung raksasa? Ini pasti karena aku berdelusi... Tidak, aku masih di Jepang 'kan? Ini cuma mimpi 'kan...?
Tahu bahwa Kuroko makin tidak percaya terhadap ceritanya, Pravil lalu menepuk pelan kedua paha anak tersebut, "Saya kurang tahu, saya hanya sebatas mendengarkan cerita Ms. McLaughlin. Mau aku panggilkan orang yang mengaku temanmu itu? Dia sepertinya lebih bisa dipercaya daripada orang asing sepertiku."
"Tunggu, siapa namanya?" potong Kuroko singkat.
"Eh?"
"Nama orang yang mengaku temanku itu!"
Pravil lalu menggangguk mengerti, "Oh, ya saya mengerti. Namanya Kagami Taiga. Kau kenal?"
Ya Tuhan... Kuroko terkesiap. Ia lalu menggangguk singkat, dan memohonnya dengan melas, "Ya, dia adalah teman baikku. Mullineaux-san, tolong... Tolong panggilkan Kagami-kun. Aku ingin ngobrol dengannya."
Laki-laki dewasa itu dengan senang hati berdiri, memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu kamar tersebut. Ia lalu membuka pintunya, menyelipkan kepalanya keluar sambil memanggil nama orang yang mengaku sebagai teman Kuroko tersebut. Tak lama kemudian sosok seorang laki-laki bersurai merah gelap ikut masuk ke kamar tersebut. Muka laki-laki remaja yang lain itu terlihat sayu, pertanda ia sepertinya tidak tidur selama beberapa hari.
Pastor itu lalu menyilahkan remaja kekar itu masuk, dan sebagai gantinya, beliau yang keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya, meninggalkan Kagami dan Kuroko yang tenggelam dalam dunia mereka berdua sendiri.
BLAM.
Cowok bersurai merah kegelapan itu lalu berjalan perlahan mendekati Kuroko dengan wajah kaget dan kangen, "Kuroko..."
-xXx-
[ Di sekitar pelabuhan Waterford ]
Roxy McLaughlin benar-benar tidak sabar.
Dilihatnya sebuah jam pasir yang sudah diputar-putarkannya berkali-kali. Ia rupanya sedang berdiri di atas dermaga nomor 2 yang terletak di sisi kiri pelabuhan kuno tersebut, di mana sebuah kapal besar sedang parkir dan penumpangnya yang sedang turun. Dari lautan orang yang berlalu lalang di sana, terdapat satu orang yang mengenakan pakaian militer milik Angkatan Darat negara Inggris. Orang itu lalu turun dari kapal tersebut dengan mata awas; memeriksa sang penjemputnya di kota tertua negara Irlandia itu.
Mata berwarna ungu itu menemukan bahwa Roxy McLaughlin sedang berdiri di atas dermaga tersebut, bergabung dengan beratus-ratus penjemput penumpang VIP kapal tersebut. Orang itu lalu bergerak mendekati Roxy selagi ia benar-benar tiba di dermaga dengan aman. Dengan koper raksasanya, orang itu lalu menyapanya dengan datar, "McLaughlin."
TES.
"Cepat sekali kau, aku sudah menunggumu berjam-jam di sini." sindir Roxy datar sambil menyimpan jam pasirnya.
"Maafkan saya. Tadi saya ribut dengan salah satu penumpang yang sombong benar. Mr. Mullineaux masih sehatkah? Ms. O'Neil? Ms. Ivanovsky? Ms. de Gabriella? Saya turut berduka atas wafatnya banyak teman-teman piratemu, Roxy." tanya orang yang ternyata bergender wanita itu sambil melepaskan jubah Angkatan Daratnya.
"Semuanya masih sehat-sehat. Terima kasih atas belasungkawanya. Apa tujuanmu kemari ke sini berkaitan dengan Sky Emperor?" tanya Roxy datar sambil menyodorkan bantuannya mengangkut koper-koper yang dibawa wanita muda itu.
Wanita muda bersurai merah keunguan itu lalu menggangguk singkat sambil memberikan koper-kopernya ke Roxy, "Ya, saya hendak menanyakan perihal keaslian anak mungil yang kau ceritakan 2 minggu lalu sebagai Sky Emperor. Kami, para penyihir yang bergabung dalam korps Angkatan Darat Inggris, dibuat kebakaran jenggot mendengar berita itu. Masyarakat menuntut kebenaran atas kejadian ganjil ini."
Roxy bisa memahami kegetiran hati wanita yang dua tahun lebih muda darinya tersebut. Mereka mulai berjalan bersama-sama, dan wanita itu juga menambahkannya, "Selain itu, Mr. Łuchweizscz dan Ms. Oxenstjärna juga diliputi kebingungan dan ketidakpastian berkaitan dengan munculnya Sky Emperor tersebut."
"Sampai Mr. Łuchweizscz dan Ms. Oxenstjärna? Ini berita baru bagiku. Mr. Łuchweizscz kan masuk Angkatan Laut Kesatuan Polandia-Lithuania yang notabenenya masih bisa dikatakan netral, kenapa bisa sepanik itu? Kalau Ms. Oxenstjärna, masih bisa dimaklumi, karena ia sebenarnya berasal dari Angkatan Militer Kerajaan Swedia yang masuk dalam cabang persekutuan militer Eropa Barat sih..." ujar Roxy dengan nada takjub.
"Saya kurang tahu tentang itu. Tapi yang pasti, setelah ini, semuanya tidak akan pernah tenang. Perang Suku Suci II akan dimulai tidak lama setelah ini." Wanita itu mengangkat kedua bahunya.
"Kudengar hubungan diplomatik antara Eropa dengan Asia Timur memburuk. Ada apa?" tanya Roxy penasaran sambil mengalihkan topiknya.
"Karena Sky Emperor itu."
DEG.
Langkah kaki Roxy sontak saja berhenti. Wanita bersurai merah keunguan itu lalu menoleh ke belakang, memastikan kalau Roxy benar-benar ada di belakangnya. Seketika itu juga, langkah wanita itu berhenti. Ia lalu menoleh ke Roxy dan bertanya dengan wajah heran, "Kau kenapa? Mukamu sangat pucat, dan... Kau sepertinya sangat stress."
Roxy menggeleng kepalanya dengan pelan, dan menelan ludah. Sky Emperor... Apa dia sebegitu hebatnya, sampai-sampai bisa menimbulkan perasaan tidak enak macam ini?
"Apa Sky Emperor itu sebegitu hebatnya?" tanya Roxy dengan wajah makin memucat.
"Tentu saja. Legenda mengatakan, Tiga Serangkai itu saja sudah bisa menimbulkan fitnah dan perang tidak berkesudahan, apalagi dengan 'partner' mereka. Hanya saja, Sky Emperor tidaklah seberbahaya itu. Menurut buku penelitian terkini, Sky Emperor cenderung netral, bahkan tidak jarang Sky Emperor dan Sky Tribe mengkritik sikap Emperor yang lain, terutama Flame Emperor." Wanita itu menyilangkan kedua tangannya dengan santai.
"Sky Tribe kan, salah satu dari Komite Disipliner dalam susunan Suku Suci itu. Tetapi saat ini Komite Disipliner-nya sudah tidak ada, karena Sky Tribe sudah punah, Magic Tribe hilang tidak diketahui nasibnya, plus Forest Tribe mulai menyimpang. Apa anak itu benar-benar akan sanggup menjalankan misinya sebagai Sky Emperor sekaligus Ketua Komite Disipliner yang baru?" tanya Roxy khawatir.
Wanita itu lalu mengganguk singkat dan menjawabnya dengan nada super serius, "Nah, itulah yang ingin kami pastikan. Jika memang benar anak itu memiliki tanda yang jelas sebagai seekor—maksudku seorang Sky Emperor, maka dunia akan sangat heboh. Flame Emperor pasti tidak akan segan mengadakan perang dengan bangsa-bangsa Benua Eropa hanya untuk mendapatkannya. Karena itu, setelah dikonfirmasikan dengan jelas sejelas-jelasnya, saya, Mr. Łuchweizscz dan Ms. Oxenstjärna diutuskan sebagai pengawalnya, bersama kalian."
Eh? Roxy terperangah kaget. Dia, Mr. Łuchweizscz dan Ms. Oxenstjärna akan mendampingi anak itu?
Wanita bersurai biru dongker dan berbadan subur itu lalu mendongkakkan kepalanya menatap wanita bersurai merah keunguan itu dengan tatapan tidak percaya. Ia lalu mendekati wanita itu dan bertanya untuk sekedar memastikannya, "Kalian bertiga akan mendampingi Sky Emperor? Tidak mungkin. Kalau kalian bermimpi membuat satu Tribe dengan Sky Emperor sebagai ketua Tribe itu, maka kalian melanggar hukum Immortalitas, di mana satu Tribe harus terdiri dari satu bangsa, tidak mungkin dengan berbagai ras seperti halnya kau dan aku yang merupakan seorang Anglo-Saxon, Mr. Łuchweizscz yang merupakan bagian dari bangsa Tatar, sedangkan Ms. Oxenstjärna merupakan bagian dari bangsa Svenskar asli."
"Tidak. Kami tidak bermaksud mendirikan Tribe seperti itu. Jika memang kehendak Sky Emperor membuat Sky Tribe lagi, maka terjadilah. Itu semua terserah kehendaknya." Wanita itu membantahnya dengan tegas.
"Tapi… Anak itu berbeda suku dengan kita. Sangat berbeda."Roxy tetap bersikukuh.
PLIK.
Wanita itu mendelik ke Roxy begitu mendengar Roxy secara kelepasan (atau sengaja?) mengatakan bahwa anak itu berbeda suku dengan mereka. Ia lalu berbisik dengan pelan, "Berbeda suku? Apa suku dia?"
"Dia… Dia sepertinya berasal dari suku yang sama seperti suku Flame Emperor… Dan kita kedatangan satu tamu tidak diundang."
"Eh?"
Roxy menghela napas pasrah. Ia lalu celingak-celinguk. Kanan, aman. Kiri, aman. Sebagian besar orang-orang yang turun dari kapal tersebut sudah berkumpul di pintu keluar pelabuhan. Wanita kapten pirate itu lalu berbisik di telinga kanan wanita muda tersebut, "Kita kedatangan seorang anak laki-laki yang sebangsa dengan Sky Emperor dan Flame Emperor dan bersurai merah gelap… Ia datang ke sini melalui lubang yang dibuat Ms. O'Neil sewaktu menculik Sky Emperor."
GLEK.
Wanita muda itu terpana syok dengan apa yang baru saja dikatakan Roxy.
Ia lalu memijat-mijat dahinya, sedangkan Roxy hanya bisa menggeleng kepalanya pasrah. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Sky Emperor? Tidak pernah ada dalam catatan, ada seseorang entah berada dalam era yang jauh dari kami yang berani sekali memasuki Lubang Dimensi yang hanya bisa diciptakan oleh penyihir air sehebat O'Neil…
"Ini akan menjadi masalah yang sangat besar. Kita tidak boleh merusak catatan kehidupan anak yang tersesat tersebut. Bisa gawat kalau anak itu mati di era ini. Tidak pernah ada di dalam catatan The Legend of Emperors bahwa ada seorang manusia yang berasal dari era yang jauh dari era ini yang eksis di dalam situ–."
TING.
Sontak saja kedua wanita itu menyadari satu hal yang terlewatkan dari kitab The Legend of Emperors yang sangat terkenal itu.
Mereka lalu mendongkakkan kepalanya satu sama lain, seolah-olah mereka mendapatkan satu jawaban yang pasti dari misteri datangnya anak bersurai merah gelap tersebut.
"The Guardian of Sky Emperor…" Mereka berdua mengucapkan kalimat ini secara bebarengan, seolah-olah mereka tengah berhadapan dengan kenyataan yang tiada terperikan; datangnya seorang Guardian of Sky Emperor yang konon berhasil melindungi Sky Emperor dari terkaman sesuatu yang sangat berbahaya dan sangat licik…
And the story of The Legend of Emperors begins…
.
.
.
[ To be Continued ]
