I LOVE YOUR DAD
WU YIFAN X KIM JONGIN
.
.
Ini bukan tentang sugar dady apalagi pedofil
.
.
CHAPTER 4: UNEXPECTED
.
.
"Aku pikir kau melarang kami mendekatinya, karena kau mengincar dia." Ingat kalimat ini di chapter 2 atau 3, Luhan yang mengatakannya.
"Firasatku yang mengatakannya," ucap Yifan sambil berjalan beriringan dengan Luhan. "Belajar dari kesalahan orang lain, bukan hal yang buruk kan?" tanya Yifan yang membuat Luhan mendelik ke arah Yifan. Ah bukan, tepatnya seseorang yang tiba-tiba sudah ada disamping Yifan.
"Harus berapa kali aku katakan, jika aku bukan korban," keluh Suho dengan nada heran. "Aku yang mengejarnya bukan dia."
"Lalu dia menghilang begitu saja." Lanjut Luhan yang membuat raut wajah Suho berubah masam. "Setelah kau membelikannya.."
"Dua minggu yang lalu sudah ia kembalikan." Suho memotong perkataan Luhan yang malah tertawa terbahak-bahak.
"Setelah dua tahun, dia baru mengembalikan mobilmu?" kali ini malah Yifan yang bertanya dengan tatapan kesal.
"Dia bahkan tidak menggunakannya sama sekali," gumam Suho yang membuat Yifan dan Luhan mengerutkan dahi. "Semuanya masih terbungkus rapih, kursi hingga setirannya, tak ada goresan bahkan tanah di bannya."
"Kau serius?" Luhan yang biasanya jika melihat Kyungsoo langsung meninggalkan Yifan dan Suho. Kini malah diam, seolah ikut berpikir. Padahal Luhan bukan tipe orang yang akan ikut campur masalah orang lain. "Ini sedikit aneh."
"Saat kau berikan padanya, mobilnya dimana?" tanya Yifan tiba-tiba. Suho langsung menjawab jika mobilnya ada di diller. "Kalau kunci mobilnya?"
"Aku taruh di kotak surat."
"Jadi kau tidak memberikannya secara langsung?!" Luhan berteriak. Hingga membuat semua orang terkejut tidak hanya Yifan dan Suho.
"Kan kejutan," sebegitu simpelnya Suho hingga membuat Yifan dan Luhan gemas ingin menjitak kepalanya. "Aku memberikannya surat beserta kunci mobil yang aku kirim melalui pos, romantis namun berkelas." Suho bahkan mengatakannya dengan bangga.
"Bodoh!" celetuk Luhan sambil tertawa pelan. "Tapi yang membuatku janggal, dia sempat berpamitan padamu dan menghilang begitu saja." Lanjut Luhan dengan pelan.
"Bukankah itu berarti dia pergi sebelum suratmu datang?" tanya Yifan yang membuat Suho dan Luhan tampak saling bertatapan dengan mulut menganga. "Sudah ada surat elektronik masih sempat-sempatnya menggunakan surat biasa." Yifan mendadak kesal pada kelakukan Suho yang memang kadang nyeleneh. "Dia mengembalikannya sendiri kan?"
"Dengan surat juga." Jawab Suho pelan. Tiba-tiba Suho mengigit kuku jari tengahnya. Baik Yifan maupun Luhan tahu jika Suho itu termasuk orang jenius yang memiliki ingatan tajam. "Kalau dilihat dari cap posnya, sepertinya baru sampai tiga hari setelah surat itu dikirim." Suho tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dengan pelan. "Tunggu sebentar, itu berarti dia pamit saat suratnya baru sampai keesokan harinya." Suho menatap Luhan dan Yifan sambil membekap mulutnya dengan mata melotot.
Yifan tidak tahu kenapa tiba-tiba mengingat hal ini. Hanya saja sepanjang perjalanan mereka pulang dari pesta Baekhyun. Suho hanya diam dan tampak merencanakan sesuatu. Seperti yang sudah Yifan tekankan barusan. Suho itu bisa dibilang jenius. Tapi orang sejenius apa pun pasti memiliki kelemahan. Salah satunya memprediksi calon kekasihnya sendiri. Tolong dicatat, calon. Tetap saja, calon kekasih Suho itu hanya satu dari sekian banyak anggota yang memiliki latar belakang keuangan yang berada dibawah rata-rata.
ILYD
"Mau kemana?" Yifan menatap heran Sehun yang tergesah-gesah seperti orang kesetanan. Meraih asal semuanya mulai dari jaket, sepatu, dompet dan kunci mobil.
"Jongin di rumah sakit dia tertembak.. " Sehun mengeluh pelan karena tak menemumakan apa yang ia cari.
"Tertembak bagaimana?" Yifan jadi ikutan cemas melihat Sehun yang kalang kabut.
"Iya.. " Sehun kini malah merogoh kolong kasurnya. "Dia ada dirumah sakit sekarang dan.. Duh! Kunci mobilku dimana sih?!"
Yifan jadi kesal sendiri melihatnya. Kan sudah Sehun pegang kunci mobilnya.
"Hentikan aktifitasmu jika sedang berbicara dengan orang tua!" bentak Yifan dengan kesal dan cukup membuat Sehun tersentak kaget.
"Aku tidak tahu, bagaimana ceritanya," keluh Sehun sambil menggaruk kepalanya dengan kesal. "Jongdae bilang, Jongin terkena serangan dari lawan Triad keluarga Chanyeol," terang Sehun sambil menarik nafasnya dengan perlahan. "Dan ayah tahu, Chanyeol malah meninggalkan Jongin sendiri di jalanan, sampai polisi datang, dia baru ditolong!" geram Sehun dengan kesal. "Kalau Jongin kehabisan darah bagaimana? Kalau polisi datang terlambat bagaimana?!"
Yifan mengangguk dan langsung menyeret Sehun. Bukan waktunya marah-marah. "Ayah ikut ke rumah sakit."
"Tapi kunci mo.. "
"Sudah kau pegang dari tadi."
Inilah yang Yifan maksud abstraknya kehidupan Triad. Kemarin kau dijamu dengan wine paling mahal. Besoknya kau bisa dipaksa meminum racun paling mematikan. Yifan mengerti kemarahan Sehun. Dan entah kenapa Yifan juga jadi ikut emosi dengan tindakan Chanyeol.
Yifan yang mengendalikan kemudi. Karena Sehun sibuk menelfon Jongdae. Yifan cukup terkejut melihat Sehun yang tampak frustasi dan khawatir. Yifan tidak menyangka jika pertemanan Sehun dan Jongin sedalam itu. Yifan sengaja meminta Sehun untuk me-load speeker-kan telfonnya.
Info yang Jongdae dapatkan dari salah satu anggota Triad yang membuat kemarahan Yifan memuncak. Fakta bahka anggota Triad yang lain memilih menjaga Chanyeol kakaknya serta tunangan kakanya. Dan melupakan Jongin begitu saja. Dan fakta lain bahwa Jongin yang justru berusaha melindungi Seongwoo. Padahal betis Jongin tergores peluru. Dan dia berlari ke arah Seongwoo hingga mendapat tembakan di bahu kirinya.
"Tapi Jongin terlambat dan mengakibatkan Seongwo-Gege terkena peluru tepat di kepalanya." Ucap salah satu dari kedua Triad muda saat keduanya sampai di rumah sakit. Yifan bahkan sampai harus menahan lengan Sehun kuat-kuat agar tidak melayangkan bogeman mentah. Bisa runyam jika mereka harus berurusan dengan Triad.
Sehun hanya bisa menghela nafas dengan berat. Dan sejak tadi ia tengah mencari Chanyeol yang tidak kelihatan batang hidungnya. Sehun hanya tidak suka saat kedua Triad ini beranggapan keterlambatan Jongin sebagai akibat dari peluru yang bersarang di kepala ahli waris Triad. Jadi Sehun hanya duduk diam disamping Jongdae, Baekhyun dan Kyungsoo. Meski Baekhyun dan Kyungsoo diam-diam penasaran kenapa Sehun dan Yifan bisa datang dengan bersamaa.
"Kenapa kalian di luar?" Yifan penasaran. Karena sudah dipastikan mereka bertiga ini teman Jongin. Meski ia tak mengenal lelaki yang duduk di samping Sehun.
"Ada keluarganya di dalam," jawab Jongdae karena Kyungsoo dan Baekhyun masih sibuk dengan pikiran mereka sendiri. "Kata suster sih kakaknya."
"Bagaimana keadaan Jongin?"
Suara lemah dan lemas itu cukup membuat Yifan membalikkan badannya. Melihat orang itu masih bisa berlari kecil dan hanya mengalami luka ringan diwajahnya. Orang itu maksud Yifan adalah Chanyeol. Keadaan Chanyeol yang baik-baik saja cukup membuat otak Yifan, tidak, bukan hanya Yifan tapi Sehun, Jongdae, Baekhyun bahkan Kyungsoo mendidih.
BUAGH!
Semua anggota Triad langsung bereaksi menodong pistol tepat ke kepala Yifan. Tapi Chanyeol langsung mengangkat tangannya. Yifan tahu ini tindakan bodoh untuk memberikan bogem mentah pada anak dari Triad yang berkuasa di Beijing. Anggap saja tindakannya ini merupakan perwakilan dari kekesalah semua orang yang ada disini.
"Kepercayaan, PANTATMU!" bentak Yifan yang membuat Chanyeol terkejut. Yifan bahkan menarik kerah kaos hitam Chanyeol.
"Ada apa ini?" tanya seseorang yang keluar dari kamar rawat Jongin.
"Yixing?" gumam Yifan dengan heran. Sama herannya dengan Chanyeol dan Baekhyun.
"Kok gege bisa disini?" tanya Baekhyun dengan heran.
Sehun terlalu malas untuk menjelaskan mereka-mereka yang tengah berbingung ria. Karena Sehun satu-satunya teman Jongin yang pernah bertemu dengan Yixing. Sejak SMP Jongin tinggal bersama Yixing bukan dengan Kyungsoo dan Jongdae. Wajar jika mereka tidak tahu. Terkecuali untuk Baekhyun, Yifan dan Chanyeol. Mereka bertiga tahu nama kakak tiri Jongin entah dari mana.
"Jongin baik-baik saja kan?" tanya Sehun. Yixing hanya mengangguk pelan. "Apa aku boleh masuk?"
"Kalian teman Jongin juga kan?" tanya Yixing pada Jongdae, Kyungsoo dan Baekhyun. Ketiganya langsung mengangguk denga kompak. "Tolong jaga Jongin sebentar." Titah Yixing sambil menepuk bahu Sehun.
"Chanyeol ikut aku!" titah Yixing yang langsung diamini oleh Chanyeol. "Yifan, kau ikut aku juga." Yixing bahkan melepas cengkraman Yifan dan menarik Yifan bersamanya.
"Ayah pergi dulu!" seru Yifan sambil melempar kunci mobil pada Sehun. Dan Sehun hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayah?" bukan hanya Yixing yang bingung tapi Baekhyun dan Kyungsoo juga. Jongdae sejak tadi hanya bisa diam dan mengamati. Jongdae merupakan orang yang paling tidak tahu dan masa bodoh. Karena prioritasnya sekarang adalah Jongin.
"Nanti aku jelaskan." Ucap Sehun dan Yifan berbarengan.
_ILYD_
Yixing hanya mengajak keduanya ke cafe dekat rumah sakit. Yixing menatap dua Triad yang berdiri dibelakang Chanyeol dengan jengah. Rasanya sedikit tidak nyaman ketika melihat orang lain berdiri saat kita duduk. Yixing sendiri bingung kenapa juga ia harus mengajak Yifan.
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi?" bukan Yixing yang bertanya tapi Yifan.
"Biar aku yang bercerita dari sisi Jongin," ucap Yixing sambil menatap Chanyeol yang diberi anggukan oleh Chanyeol. Cerita singkatnya adalah Jongin dan Chanyeol mengantar kakak Chanyeol ke bandara. Mungkin berita kakak Chanyeol datang bocor ke kelompok Triad lainnya. Dan akhirnya terjadilah keributan di bandara hingga akhirnya kakaknya Chanyeol tewas dan Jongin terkena tembakan di punggung. "Intinya seperti itu."
"Dulu hanya ada satu Triad di Daratan China, namun akhirnya pecah menjadi beberapa kelompok, termasuk keluargaku," jelas Chanyeol pada Yifan dan Yixing. Karena Triad awalnya dibentuk dengan tujuan menumbangkan kekaisaran Manchu era Dinasti Qing dan merestorasi peraturan Han di Tiongkok. Dan dengan berbagai alasan Triad berubah jadi sebuah organisasi kriminal. "Perpecahan ini yang membuat kami sering berebut tempat kekuasaan," Chanyeol menghela nafas pelan melihat Yixing yang bersidekap sambil memiringkan kepalanya. "Dan yah, yang menembak adikmu adalah lawan keluarga kami." Lanjut Chanyeol sambil membungkukkan kepalanya. "Maafkan kelalaian kami."
"Kenapa kau bisa-bisanya meninggalkan Jongin?" Yifan bertanya dengan nada tidak habis pikir. "Kekasihmu itu terkena tembakan di punggungnya."
"Karena kakaknya tewas terkena tembakan di kepalanya." Jawab Yixing dengan kalem. Yixing menghela nafas sambil menggurut pelipisnya dengan pelan. "Jika anakmu terkena tembakan apa kau masih memikirkan kekasihmu?" tanya Yixing pada Yifan yang hanya mengerjapkan mata. "Nah itu, Jongin saja mengerti."
"Aku sempat heran karena kau menurut saat aku memintamu mengikutiku tadi," Yixing tidak bisa untuk tidak mengalihkan tatapannya dari tattoo di lengan Chanyeol. "Kau berarti tahu jika Jongin itu adikku kan?" Chanyeol mengangguk dan Yixing tersenyum pelan sebelum akhirnya mengarahkan pistol semi otomatisnya pada dahi Chanyeol hingga semua orang terkejut. Termasuk pengunjung cafe. Kedua anak buah Chanyeol dengan cepat juga mengarahkan moncong pinstolnya pada Yixing. "Berani-beraninya kau memacari adikku."
"Kalian hanya saudara tiri kan?" tanya Chanyeol pelan.
Yixing hanya menghela nafas pelan. Menarik senjatanya, Yifan sudah mau bernafas lega namun rupanya. Yixing malah mengokang penutup geser untuk mengaktifkan senjatanya. Chanyeol yang awalnya terlihat santai kini menelan ludah. Tapi Chanyeol mengangkat tangannya kepada kedua anak buahnya yang siap menancapkan pistol ke kepala Yixing. Terbiasa memegang senjata membuat Chanyeol tahu jika terdapat peluru di senjata Yixing.
"Jongin mungkin bisa mengerti jika ia ditinggalkan," Yixing bahkan menatap Chanyeol dengan tatapan tajam. "Tapi aku tidak bisa mengerti, kenapa malah Jongin yang melindungi kakakmu?" Yixing masih mengangkat senjatanya di depan dahi Chanyeol. "Dan kenapa Jongin yang mendapatkan luka yang lebih banyak?" Yixing awalnya akan berbaik hari pada Chanyeol yang katanya terkena tembakan juga. Tapi ternyata itu hanya goresan di pipi.
"Karena kami yang memiliki kewajiban untuk melindungi gege." Yixing tidak tahu siapa yang menjawab pasti salah satu dari dua orang yang tetap mengacungkan senjatanya pada Yixing. Tapi jawaban itu yang justru membuat Yixing tertawa sinis.
"Jadi karena itu juga kalian tidak memprioritaskan Jongin?" lagi semua terdiam termasuk Chanyeol yang hanya diam. "Asal kalian tahu! Jongin bukan anggota kelompok yang memiliki tanggung jawab untuk melindungi gege-gege kalian!" Yixing kini mengarahkan matanya kepada Chanyeol dan menatap bengis pada kekasih adiknya sendiri. "Jongin itu kekasih keparat sialan yang kalian agungkan sebagai gege!"
Chanyeol hanya diam dan mengalihkan tatapannya. Tidak berani menatap mata Yixing secara langsung. Ia tahu, apa pun jawabannya. Yixing bisa menarik pelatuknya. Toh Chanyeol juga manusia biasa yang takut mati.
"Inikah ahli waris Triad yang baru?" Yixing tersenyum picik dan cukup membuat Chanyeol mematung. "Orang yang tidak becus menjaga kakaknya sendiri dan meninggalkan kekasihnya di jalanan."
Chanyeol memiliki gerakan yang sangat cepat. Hingga Yifan hanya bisa menahan nafasnya. Karena kini Chanyeol sudah berdiri dan mengarahkan moncong senjatanya tepat ke ubun-ubun Yixing. Yifan bahkan hanya bisa mendengar suara Chanyeol mengokang senjatanya tanpa melihat gerakan tangan Chanyeol. Yixing sendiri hanya tersenyum dan kembali mengokang pistolnya lalu mengunci slide top lever. Untuk menguci senjatanya agar peluru tidak keluar.
"Sekarang kau mengerti perasaanku kan?" tanya Yixing pelan. "Aku ikut prihatin dengan hal yang menimpa kakakmu," Yixing menatap Chanyeol yang masih menatapnya dengan tajam. "Aku hanya tidak suka saat kau tak menunjukkan rasa khawatir sama sekali karena Jongin hanya mengalami luka tembak di punggung," Chanyeol melakukan hal yang sama dengan yang Yixing lakukan untuk mengunci senjatanya. "Aku hanya ingin mengingatkanmu, Jongin itu bukan anggota Triad, dia bahkan tidak pernah memegang senjata."
Yifan hanya bisa tersenyum saat Yixing menyarankan Chanyeol untuk menemui Jongin. Setidaknya untuk meminta maaf. Sejak tadi ada yang membuat Yifan penasaran. Yixing yang dikenal sebagai orang yang tidak punya apa-apa bisa memiliki izin kepemilikan senjata.
"Kau bukan Triad juga kan?" Yifan tidak tahan untuk tidak bertanya. Dan Yixing malah tertawa mendengar pertanyaan Yifan.
"Bukan." keluh Yixing sambil mengurut pelipisnya dengan lelah.
"Dua tahun ini kau kemana saja?" Yifan cukup terkejut dengan kembalinya Yixing sebagai kakak tiri Jongin. "Kami pikir kau membawa kabur mobil pemberian Suho." Yixing tertawa dengan suara pelan.
"Aku anggota NNCC," Yixing menatap Yifan yang membulatkan mulut dan matanya. NNCC itu National Narcotics Control Commission of China, kalo di Indonesia namanya BNN, Badan Narkotika Nasional. "Dua tahun kemarin, aku ditugaskan di Toronto, untuk menyelidiki kasus penyelundupan kokain dari China." Yixing tersenyum pelan kala Yifan menganggukkan kepalanya. "Dan dulu aku bergabung dengan kelompokmu untuk menyelidiki sesuatu."
"Kau mau menyelidiki Suho?" Yifan bertanya dengan terkejut. Apa Suho menggunakan narkotika kah? Dia keliatan sehat-sehat saja.
"Bukan, kenapa kau selalu mengaitkannya dengan Suho?" keluh Yixing. "Chanyeol, dia anak Triad aku pikir dia bergabung dengan MoGB untuk jualan," kekeh Yixing yang membuat Yifan mengerutkan dahinya. "Tenang, kelompokmu clear, entah kalo diperiksa perorang."
"Tapi kau gay kan?" pertanyaan Yifan tidak digubris sama sekali oleh Yixing. Kakak dari Jongin itu hanya berdiri meninggalkan Yifan. "Kau mempermainkan Suho ya?" Yifan itu orangnya setia kawan. Makannya ia sampai segininya pada Suho.
Yixing menghentikan langkah dan membalikkan badannya. Yixing menemukan Yifan yang menatapnya dengan tajam. "Aku sampai dikatai bajingan brengsek oleh temanmu," kekeh Yixing dengan pelan. "Mana aku tahu dia memberikanku mobil."
"Kenapa tidak kau terima?"
"Nanti bisa dikira dia menyuap aparatur negara kan?" Yixing bertanya balik pada Yifan. Ayah Sehun ini hanya menggigit bibir bawahnya. Bingung untuk menjawab. "Kau bisa ceritakan hal ini pada Suho juga Luhan." Yixing yang awalnya akan benar-benar pergi tiba-tiba bergumam kaget dan Yixing membalikkan badannya. "Aku baru tahu kau itu ayahnya Sehun," Yixing berkata sambil menatap tubuh Yifan yang hanya bisa tertawa kaku. "Itu-mu masih ada gunanya ya." Kekeh Yixing yang membuah Yifan melotot.
_ILYD_
"Jadi Kris-ge itu ayahmu?" tanya Kyungsoo tanpa basa basi sama sekali.
"Kris?" kali ini Sehun yang balik bertanya. Kapan ayahnya mengganti nama.
"Nama panggung itu." Kekeh Jongdae yang sejak dulu selalu mengejek nama Kris untuk Yifan. "Cocok sih emang kalau ayahmu pakai nama Kris."
"Kau tidak bilang!" bentak Kyungsoo. "Kau juga!" kali ini diarahkan pada Jongin.
"Ya, bagaimana lagi memang aku dilarang sampai kena bintang," Jongin tertawa pelan saat melihat Sehun yang bingung sendiri. "Sudahlah, lagi pula kau sudah punya Luhan."
"Bukan itu masalahnya!" Kyungsoo dalam mode marah dan itu cukup menyeramkan. Tapi kali ini hanya dianggap remeh oleh Jongin. "Masa aku curhat sama anaknya sendiri." Tidak seperti biasanya, Kyungsoo hanya mengeluh tanpa ada bantingan dan pelintiran seperti biasanya. Yang mau di pelintir sudah terkapar dengan perban dimana-mana. "Dan sejak kapan aku memiliki Luhan?"
"Kau kan tinggal bilang ya dan selesai." Ejek Baekhyun yang membuat Kyungsoo menatapnya dengan tajam.
"Bisakah kalian keluar sebentar?" tanya Jongin dengan pelan. Sangat pelan.
Tapi Sehun langsung menyadari keberadaan Chanyeol. Sehun orang pertama yang meninggalkan ruangan tanpa menatap Chanyeol.
"Hanya sebentar." Tekan Jongdae sebelum mereka semua keluar.
Chanyeol hanya diam. Jongin juga diam. Tapi Jongin diam karena bingung melihat Chanyeol yang menundukkan kepalanya.
"Aku ikut menyesal karena kakakmu,,"
"Aku yang salah," gumam Chanyeol pelan. "Aku memang tidak becus menjaga siapa pun, kakakku sendiri bahkan kekasihku sendiri." Chanyeol bahkan mengusap surainya dengan frustasi. "Sampah!" geram Chanyeol yang membuat Jongin tersentak kaget. "Aku akan membalas mereka semua." Gigi Chanyeol bergemerutuk dengan tatapan kelam. Hingga Jongin refleks menarik tangan Chanyeol.
Tidak ada yang bisa Jongin lakukan. Kecuali membuat Chanyeol mendekat hingga duduk diatas ranjang. Jongin tidak bisa berkata manis bahkan saat Chanyeol menunjukkan wajah mendung seperti ini. Kehilangan kakak dan.. Sudahlah, Jongin hanya menghela nafas dan memeluk Chanyeol. Jongin mengusap pelan rambut Chanyeol yang menenggelamkan wajahnya di pundah Jongin. Dan Jongin bisa merasakan punggungnya yang telanjang itu basah. Triad juga manusia kan? Dan Jongin juga manusia. Kecewa karena ditinggalkan? Iya, tentu saja. Tapi Chanyeol punya beban yang lebih berat.
"Adikmu baik ya?" gumam Yifan yang mengintip karena penasaran sama seperti Yixing.
"Sepertinya dia lahir untuk menjadi malaikat di keluarga kami." Jawab Yixing sambil menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya meski memasang ekspresi datar. "Aku bahkan bingung dengan kenaifan yang dia miliki."
"Berbeda dengan kakaknya." Lanjut Yifan yang mengingat Yixing menodong senjata macam itu ke kepala Chanyeol, ingat Chanyeol itu anak Triad loh.
"Tutup mulutmu!" umpat Yixing sambil menyikut perut Yifan.
**ILYD**
Setelah Chanyeol datang ke rumah sakit hingga ia sudah keluar dan kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasanya. Chanyeol tidak lagi menunjukkan dirinya lagi. Benar-benar menghilang. Jongin mencoba menghubungi Chanyeol beberapa kali. Hingga akhirnya dia menyerah dan membiarkan Chanyeol. Dan Jongin bukan orang yang bernyali besar untuk mendatangi rumah Chanyeol.
Belum lagi ia juga dijadikan tumbal kekesalan dan menjadi alasan mengapa kakak Chanyeol bisa tertembak. Lihat saja beberapa luka di ujung bibir dan pelipis dekat alisnya yang masih basah. Katanya balas dendam untuk gege yang sudah ia buat mati.
"Itu bukan salahmu." Sehun selalu mengulang kata itu.
"Aku tahu." Jongin juga selalu memberikan respon yang sama. Karena mencari kambing hitam lebih mudah dibanding menerima kesalahan sendiri. "Mau sampai kapan kau terus-terusan mengulang kata itu?" jengah dan kesal. Jongin terkadang tidak suka dengan cara Sehun.
Jongin yang tiba-tiba meringis membuat Sehun tidak tahan lagi. Sehun tahu ada lembam yang cukup lebar di punggung, pinggang dan perut Jongin. "Karena aku tahu sifatmu itu." Keluh Sehun yang membuat Jongin bertambah kesal. "Moodmu itu kacau setelah kejadian itu." Bagaimana tidak kacau, setelah ditembak, ditinggalkan di jalanan sekarang ditinggal sungguhan oleh kekasih sendiri. Ditambah dengan perintilan lain, ia diberi bogeman mentah kalau sedang sial saat bertemu dengan kelompok Triad Chanyeol.
"Kalau mood aku baik-baik saja, bukannya itu lebih aneh lagi." Dan selalu, setelah ini mereka akan mendebatkan hal yang sama. Terus menerus hingga ada yang mau mengalah. Untuk Jongin, itu merupakan hal yang melelahkan. Meski Jongin tahu maksud Sehun itu baik. "Ujian baru saja selesai, dan kenapa kita selalu mendebatkan hal yang sama?"
"Karena setelah ini kita akan jarang bertemu." Lanjut Sehun seperti kekasih yang akan ditinggal berperang. Padahal Jongin bukan kekasih Sehun. Dan Jongin juga tidak akan pergi perang, dia hanya akan menghabiskan waktu liburnya di rumah kakaknya.
Namun pembicaraan mereka terhenti saat segerombolan orang bertatto menghadang jalan mereka. Oke, Jongin sedang sial termasuk Sehun. Tapi di sisi lain ada mobil yang sangat Jongin hafal. Jongin memundurkan langkahnya ketika lima orang yang dulu memukulnya maju ke hadapannya dengan wajah babak belur. Meski Jongin tidak dihajar langsung oleh lima orang sepanjang minggu ini. Tapi muka di hadapannya inilah penyebab wajahnya babak belur.
"Maafkan kami gege!" teriak kelima orang itu sambil bersujud pada Jongin.
Jongin dan Sehun refleks memundurkan langkahnya. Meski berbisik Jongin bisa mendengar jelas Sehun berkata. Apa-apaan ini. Jongin meringis sambil menatap resah pada orang yang ada di dalam mobil. Apa-apaan panggilan Gege barusan.
"Aku bukan Gege kalian." Keluh Jongin.
Jongin memaksa tapi kelima orang itu tetap berlutut. Hingga pintu mobil yang ia kenal terbuka. Tapi bukan Chanyeol yang keluar. Namun seorang pria dengan kantung mata menghitam. Tatapan tajam pria yang ada di hadapannya itu cukup membuat Jongin begidig ngeri.
"Kekasih barumu?" diluar dugaan, suara pria itu bahkan lebih lembut dibandingkan tampilannya. Jongin menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kau mau dipaksa atau diseret untuk ikut denganku?" tawar oke ralat, paksa pria tersebut.
Jongin diam tak menjawab. Sehun yang berada di samping Jongin langsung menggenggam pergelangan tangan Jongin dengan erat. Jaga-jaga jika mereka berdua harus kabur. Karena mereka tidak mungkin bisa melawan dalam situasi macam ini.
"Namaku, Huang Zitao." Ucap pria panda itu dengan pelan sambil tersenyum pelan. Untuk Jongin itu merupakan senyuman lembut ala psikopat yang membuat bulu kuduk meremang. "Kau bisa memanggilku Zitao."
"Kenapa aku harus ikut denganmu?" tanya Jongin pada akhirnya.
"Perintah Chanyeol."
Jongin mengerutkan dahinya dengan pelan. Dia sedikit heran, ketika semua anggota Triad memanggil nama Chanyeol dengan sebutan Gege. Zitao tidak menambahkan kata Gege saat menyebut nama Chanyeol. Kecurigaan Jongin hanya dijawab dengan Zitao yang menarik lengan kemeja panjangnya. Disana terdapat tato tribal kelompok Chanyeol.
Zitao melirik pelan tangan Sehun yang semakin erat menggenggam lengan Jongin. Sejak awal Sehun sudah curiga dengan kedatangan Zitao yang mencolok. Hingga Sehun terus-terusan bergumam, 'jangan'. Tapi Jongin itu tipikal orang yang senang masuk ke jebakan seseorang.
"Aku ulangi tawaranku," Zitao berdeham pelan dan membuat Sehun sedikit ciut. "Kau mau dipaksa atau diseret untuk ikut denganku?"
Satu lagi, Jongin juga tidak mungkin menyeret Sehun. Lagi pula Jongin juga sudah janji pada ayah Sehun. Jongin dengan mudah melepas cengkraman Sehun yang begitu erat. Jongin hanya tersenyum sebelum masuk ke dalam mobil. Entah terkesan sok melankolis atau pasrah. Sehun yakin ini bukan pertanda baik. Jadi Jongin tentu saja langsung mengontak kakak Jongin.
"Ge, Jongin dibawa kelompok Triad!"
ILYD
Jongin hanya bisa diam dan duduk dengan tenang di samping Zitao. Jongin sedikit risih dengan Zitao yang dengan jelas nampak mengamatinya. Hingga Jongin pada akhirnya menoleh dan menatap langsung Zitao. Bukannya memalingkan wajahnya, Zitao malah memamerkan senyumannya.
"Kenapa?" tanya Jongin terus terang.
"Hanya penasaran," Zitao menjawab dengan begitu tenang. "Kenapa Chanyeol bisa tergila-gila padamu." Zitao sadar dengan ketidaknyamanan Jongin. Tapi dia benar-benar penasaran dengan satu hal lainnya. "Aku hanya sedang menebak bagaimana reaksimu nanti."
Jongin hanya bisa mengerutkan dahinya. Ia tahu ia akan dibawa ke rumah utama Triad, karena dia hafal dengan jalanannya. Belum lagi saat mereka berbelok ke dalam hutan rimbun. Jongin sebenarnya ingin bertanya mengenai keadaan Chanyeol. Tapi belum sempat Jongin bertanya, Zitao sudah tersenyum dengan aroma mengancam. Jadi Jongin lagi-lagi hanya bisa diam.
Berbeda dengan Chanyeol yang disambut dengan senyuman lebar. Zitao malah disambut dengan dingin meski semua orang memberi hormat kepadanya. Jongin diam-diam menatap Zitao yang hanya menatap lurus ke depan dengan wajah datar. Zitao menoleh pada Jongin dengan senyuman pelan yang membuat Jongin terkejut.
Zitao membawa Jongin ke sebuah ruangan utama yang begitu besar. Disana sudah terdapat ayah, ibu serta adik Chanyeol yang duduk diatas bantalan lantai kayu. Biasanya mereka menyambut hangat kedatangan Jongin. Tapi sekarang tidak. Mereka menatap Jongin tanpa senyuman sama sekali.
Pikiran negatif Jongin muncul, mungkin merek juga menyalahkan Jongin yang menyebabkan anak tertua Triad ini tewas. Dan Jongin tidak suka disituasi menyesakkan seperti ini. Jongin cukup terkejut saat ia duduk berhadapan dengan Zitao. Sedangkan Zitao duduk bersebelahan dengan ayah Chanyeol dan sejajar degan posisi ibu Chanyeol.
"Selir?" lirih Jongin dengan nada heran.
Keterkejutannya belum berakhir. Kini ia melihat Chanyeol dengan wanita lain. Tidak ada sapaan seperti biasa. Chanyeol duduk dihadapan sang ayah. Sedangkan wanita berwajah teduh itu duduk berhadapan dengan ibu Chanyeol. Jongin mengamati posisinya sekarang. Meski Chanyeol duduk disampingnya tapi Chanyeol duduk dengan posisi lebih ke depan. Hingga Jongin bisa melihat wanita yang tadi datang dengan Chanyeol.
"Sepertinya kau mengikuti jejak ayah." Ayah Chanyeol memecah keheningan yang membuat keadaan justru semakin tegang. Jongin bisa melihat Somi menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Aku berbeda dengan Ayah," ucap Chanyeol dengan nada sedingin es. "Aku bertemu Jongin terlebih dahulu," Chanyeol tidak menatap Jongin sama sekali namun tangannya bergerak untuk menggenggam tangan Jongin. Jongin refleks melirik Chanyeol. "Sedangkan ayah, ayah sudah menikah dengan ibu," Chanyeol kini melirik Zitao dengan tajam. "Dan membawa Zitao sebagai kekasih ayah."
Jongin bingung tapi tanpa sadar menatap wanita disamping Chanyeol dengan rasa bersalah. Namun ia menemukan wanita itu tersenyum padanya. Jongin tidak membalas senyuman itu. Karena Jongin bisa merasakan aura mengancam yang tak asing. Belum lagi tattoo di lengan wanita itu yang masih terlihat baru terlalu mengusik pemikiran Jongin.
"Bukankah seharusnya kalian menjelaskan apa yang tengah kita bicarakan pada Jongin?" Zitao yang bersuara. Dan itu cukup membuat Ibu, Somi dan Chanyeol menatap Zitao dengan tajam. Tersirat rasa kebencian yang begitu sangat dalam. Namun Zitao hanya tersebyum dan lebih memilih menatap Jongin.
"Kami butuh keturunan." Perkataan singkat dari ketua Triad itu membuat semua orang terdiam. Istri sah sang Triad pun hanya menunduk dengan terluka. Hingga membuat Jongin terlalu takut untuk melihat reaksi wanita yang ada disamping Chanyeol. "Kami merestui hubungan kalian, tapi kami juga harus menjaga keberlangsungan hidup kelompok kami."
Jongin sedikit mengerti dengan situasi ini. Dan hal itu juga yang membuat Jongin mengikuti nalurinya sendiri untuk melepas genggaman Chanyeol. Meski kaku Jongin berusaha untuk tersenyum. Jongin memejamkan matanya sambil menghela nafas. Posisi duduk ini menunjukkan bahwa Jongin berada di posisi yang sama seperti Zitao. Namun dari cara mereka memperlakukan Zitao. Rasanya Jongin tidak terlalu berani untuk melangkah sejauh itu. Dan lebih dari itu..
Bukan hanya soal menjadi orang yang harus berbagi ranjang, tapi juga menjadi bagian dari Triad. Ia menyukai Chanyeol tapi tidak sedalam itu hingga menyerahkan seluruh hidupnya untuk kelompok Triad yang hampir membuatnya mati dengan meninggalkan bekas luka. Dan jangan lupa satu hal. Mana mungkin keluarganya rela membuat ia masuk ke dalam organisasi terlarang macam ini.
Jongin membuka kelopak matanya dengan lebih berani. "Jika aku memiliki hak untuk memilih, aku menolak," Jongin berkata dengan lantang. Tapi percayalah, jantungnya terus berdegub dengan kencang. "Aku tidak punya keberanian untuk bergabung dengan kelompok kalian." Jongin bisa melihat rahang Chanyeol yang mengeras. Mungkin Chanyeol kecewa atau bahkan marah. "Dan aku juga tidak punya kepercayaan diri yang cukup untuk duduk diposisi Tao-ge."
"Kau tidak mencintaiku?" itu pertanyaan pertama yang Chanyeol katakan setelah menghilang beberapa lama. Jongin menoleh dan menemukan Chanyeol yang terus menatap ke depan. Tidak menoleh bahkan melirik pada Jongin sama sekali.
"Menikah bukan hanya tentang cinta," jelas Jongin dengan pelan. Jongin menyukai keluarga ini. Namun semanis dan sehangat apa pun keluarga Triad. Ia tidak akan kuat untuk mengetahui sekelam apa keluarga ini. "Tapi juga tentang keluarga," Jongin melirik pelan Zitao. Tentu Zitao membalas Jongin dengan tatapan terkejut. "Aku melihat dengan jelas bagaimana cara kalian menatap Zitao," Jongin kembali menoleh pada Chanyeol dan wanita yang berada disamping Chanyeol. "Dan aku akan mendapatkan tatapan itu juga dari keluarga barumu nanti."
"Posisimu berbeda." Chanyeol bersikeras akan hal itu.
"Ini terlalu cepat." Entah kenapa ia jadi teringat ibunya yang untungnya bertemu dengan ayah Yixing. Jongin menarik nafanys dalam-dalam dan masih saja terasa sesak saat berkata. "Wanita bukan alat untuk berkembang biak." Jongin berkata dengan penuh penekanan sambil senyum satir. Secinta apa pun ia pada Chanyeol, ia masih harus berpikir dengan logis.
"Ikut denganku!" titah Chanyeol sambil menyeret Jongin keluar.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan lain yang jauh dari ruang utama. Chanyeol melepas lengan Jongin dan menatap Jongin dengan tajam. Marah dan kecewa. Sesuai tebakan Jongin dan Jongin bisa merasakan hal itu.
"Aku tidak bisa hidup tanpamu." Namun Chanyeol mengatakannya dengan nada memaksa. Entah tulus atau apa. Jongin merasa rasa cintanya menguap begitu saja saat melihat Chanyeol dengan calon istrinya.
"Bisa." Jongin pun menjawab dengan dingin.
"Jadi kenapa dulu kau menerima ku?" Chanyeol menuntut dengan pikiran negatif. "Karena aku bisa memberikan apa pun yang kau mau?"
Jongin tertawa dengan kesal. "Saat aku menerimamu, aku pikir kau hanya orang biasa," Jongin melihat Chanyeol berdecih. "Aku tidak akan tahu jika keluargamu Triad jika aku tidak memaksamu untuk memperkenalkanku dengan keluargamu!"
"Aku tidak mencintai wanita itu." Tekan Chanyeol.
Jongin menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kita tidak membicarakan hal itu," keluh Jongin dengan kesal. "Aku bukannya tidak mau tapi tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena.." Jongin terdiam. "Jika kau ada diposisiku, apa yang akan kau lakukan?" Jongin mengusap surainya dengan pelan. Oke, emosinya meledak sekarang, kepalanya akan pecah jika ia terus menahannya. "Fakta bahwa kekasihmu anak dari ketua kelompok Triad sudah cukup membuatku bingung, saat aku mencoba untuk menerima," Jongin menatap sama tajamnya dengan Chanyeol. "Hasilnya, punggungmu dan kakimu ditembak oleh lawan kelompok Triad lain," Jongin tahu ini sedikit berlebihan tapi ya, memang ini kenyataannya. "Saat kau tertembak kau ditinggalkan begitu saja di jalanan," percaya pada Jongin, dilupakan sama buruknya dengan ditinggalkan. "Dan menjadi orang yang disalahkan atas kematian calon pewaris Triad," Jongin mengepalakan tangannya dengan nafas terengah. Giginya bergemurutuk. Jongin menarik nafasnya dalam – dalam sebelum kembali berkata. "Saat kau baru keluar dari rumah sakit, kekasihmu menghilang dan kemudian diberi hadiah pukulan dari anak buah kekasihmu.."
"Siapa yang melakukannya?!" tanya Chanyeol sambil menangkup wajah Jongin yang memar. Jongin langsung menepis tangan Chanyeol dengan kasar.
Kenapa Chanyeol baru sadar dengan luka baru di wajah Jongin? Tentu saja Chanyeol baru sadar karena sejak tadi, Chanyeol tidak menatap Jongin sama sekali. Dan sibuk berdebat dengan ayahnya sendiri.
"Bukan itu intinya!" geram Jongin dengan kesal. "Kemudian kau dipaksa datang ke rumah kekasihmu untuk dijadikan istri kedua!" Jongin bahkan berteriak di depan wajah Chanyeol. Jongin bisa merasakan luka kering di bibirnya kembali terbuka. "Aku bahkan tidak tahu siapa istri pertama kekasihku tapi aku sudah diberikan posisi sebagai orang kedua!"
Chanyeol tentu hanya bisa diam menanggapi Jongin yang meledak.
"Apa kau pikir aku akan menerimanya dengan lapang dada?"
"Kita harus mendinginkan kepala kita," keluh Chanyeol pelan. "Kita akan mendiskusikannya lagi nanti." Chanyeol buru-buru mengusap surainya dan keluar dari ruangan.
"Aku sudah menentukan pilihanku." Tegas Jongin.
"Tidak, kau memilih dengan emosimu." Chanyeol langsung meninggalkan Jongin yang hanya bisa menggeram dengan kesal. Jongin mengusak surainya dengan kasar.
"Aku tidak perlu belas kasihanmu," suara wanita yang tidak Jongin kenal membuat Jongin sedikit terkejut. "Aku mau menikahinya untuk kelangsungan kelompok Triadku."
"Aku tidak sedang mengasihanimu." Jongin menatap wanita calon istri kekasihnya dengan malas. Tebakannya benar, senyuman wanita ini tidak benar-benar lembut. Dan wajahnya pun tak seteduh ibu Chanyeol.
"Wanita di kelompok Triad memang berguna untuk memberikan keturunan dan alat kerja sama," wanita itu mendekati Jongin dengan cara yang sedikit congkak. "Jadi ya, kita memang alat untuk berkembang biak."
Jongin sedikit tidak suka dengan cara bicara wanita di depannya itu. Merendahkan diri sendiri bukan hal yang patut dibanggakan.
"Jika Triad memandang wanita seperti itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa," Jongin tersenyum pelan dan tertawa sinis. "Aku hanya tidak suka saja mendengar, wanita diperlukan hanya untuk menghasilkan keturunan," Jongin melangkah ke arah wanita itu dengan senyuman yang sama seperti wanita itu. "Karena yang melahirkanku juga seorang wanita."
Oke, ini bukan cara yang pantas untuk berhadapan dengan anak dari Triad lain. Hanya saja Jongin sudah terlalu emosional untuk berbaik hati dengan senyuman dan perkataan manis.
"Berita buruk, untukmu" Zitao tiba-tiba datang menyela. "Kau tidak bisa pulang sekarang," sebelum Jongin protes, Zitao mengangkat tangannya dengan cepat. "Aku sudah berjanji pada kakakmu."
"Apa?" wajarkan Jongin bingung. Bukannya menjawab Zitao malah menarik lengan Jongin.
Tapi sang calon istri menyela. Seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. "Karena kau akan menjadi istri kedua, apa kita perlu mengakrabkan diri?"
"Tidak, terimakasih." Jongin berkata sambil tersenyum terpaksa. "Bisa kau jelaskan padaku, apa kau mengenal kakaku?"
Zitao tersenyum kecut sambil mengulum bibir bawahnya. "Sepertinya aku harus mengantarmu ke kamar," ucap Zitao sambil menarik lengan Jongin dengan kasar. Dan entah kenapa Jongin merasa ia begitu lemah seperti wanita. "Mantan."
"Apa?" Jongin menatap Zitao dengan bingung dan tidak percaya. Jongin bahkan seolah kehilangan kata-katanya. Yang benar saja.
"Rekan kerja."
"Oh! Thanks God!" seru Jongin sambil menghela nafas dengan lega. "Jangan merasa tersinggung, dengan semua kegilaan yang terjadi di sini," Jongin bisa melihat Zitao menatapnya dengan tersinggung dan itu tergambar dengan sangat jelas. "Aku akan sangat keberatan jika kau menjadi kakak iparku."
"Kalau pun aku mau, aku tidak bisa keluar dari sini." Zitao membuka kamar untuk Jongin. Dan lucunya Jongin tidak terlalu terkejut dengan seberapa besar kamar yang akan ia inap entah untuk berapa malam. "Aku akan diincar oleh banyak orang, oleh negara, kelompok ini juga kelompok lainnya," Zitao cukup terkejut saat Jongin hanya mengangguk pelan seolah tak terlalu tertarik. "Jadi aku rasa kau masih punya banyak pilihan sebelum mendapatkan tanda."
"Tatto?"
Zitao mengangguk pelan.
"Cinta atau kebebasan?" Zitao kembali bersuara. "Aku memilih cinta."
"Tentu aku pilih kebebasan." Jongin membuka sepatunya untuk bersila di atas kasur. Sedangkan Zitao memilih untuk duduk di satu-satunya bangku yang ada di kamar ini.
"Sepertinya kau tidak terlalu mencintai Chanyeol?"
"Oh, setelah apa yang aku alami hingga hari ini," Jongin tertawa sumbang. "Aku harus berhenti..."
"Berharap menjadi Cinderella yang dipertemukan dengan seorang pangeran?" Zitao tertawa saat Jongin mengangguk dengan setuju. "Baik boleh, tapi jangan bodoh." Zitao beranjak berdiri dan berhenti di ambang pintu. "Aku hanya memberikanmu sebuah pilihan, jika kau merasa yakin dengan keputusanmu sekarang, sebaiknya kau kunci rapat-rapat kamar ini."
"Kenapa?"
"Triad merupakan negosiator yang handal," jelas Zitao yang membuat Jongin mengangguk pelan. "Terutama Chanyeol."
Tentu saja Jongin langsung beranjak berdiri dengan cepat. Bahkan menguci pintunya dengan timing yang tepat saat seseorang mengetuk pintunya. Jantung Jongin berdegup dengan kencang saat orang yang mengetuk pintu kamarnya mulai berteriak marah.
"Jongin! Buka pintunya!"
"Dinginkan kepalamu dulu!" balas Jongin dengan nada bergetar.
UNEXPECTED/END
TBC
