Baekhee memang penggambaran bule gila. Pikirannya sudah terlalu tinggi sejak dia hobi menceritakan ukuran penis para mantan pacarnya. Bahkan wanita itu juga sempat membandingkan milik Baekhyun dengan milik temannya. Dan hasilnya, Baekhee mengatakan milik Baekhyun ibarat anak TK.
Meski begitu Baekhyun cukup bangga. Setidaknya dalam masa pertumbuhan, anak TK memiliki tubuh lebih tinggi dari anak bayi.
"Brotha, aku akan bertemu Chanyeol."
Baekhyun yang kala itu melepas safety-belt di kursi penumpang sebelah kemudi seketika membolakan mata. "Untuk?"
"Well," Baekhee mengutak-atik ponselnya, menyodorkan pada Baekhyun sembari tersenyum lebar, "Fred mengajakku kembali."
"Jangan katakan kau menemui Chanyeol untuk memutuskan hubungan kalian?!"
"Bingo!" Jentikan jari lentik itu terjadi sebagai simbol kebenaran yang mutlak dari ucapan Baekhee, "Aku bukan tipe yang suka mendua."
"Kau gila!"
"Hidup itu pilihan, brotha."
"Dan kau memilih ukuran yang lebih besar?"
"Exactly! Lagipula aku juga tidak cinta dengan Chanyeol."
"Kau benar-benar sesuatu." Gelengan kepala Baekhyun menggambarkan betapa berbedanya jalan pikiran Baekhee. "Kalau Chanyeol sunbae tidak mau, bagaimana?"
"Dia akan mau. Lagipula aku bukan sekedar memilih Fred karena dia perkasa, tapi Fred jauh lebih matang untuk hubungan kami selanjutnya. Aku tidak bisa mengandalkan anak kuliah ketika usiaku semakin hari akan bertambah. Aku juga butuh menata masa depanku."
Lalu senyum kecil Baekhyun mengembang setelah mendengar tuturan dewasa Baekhee yang sanhat langka terjadi. "Baiklah. Lakukan dengan baik."
Siang itu Baekhee mengantar Baekhyun ke kampus dan menemui Chanyeol di food-court. Keduanya terlibat pembicaraan yang entah mengapa tidak terlihat serius.
Baekhyun mengamati dari jauh. Seharusnya ada mimik keseriusan ketika pemutusan hubungan adalah apa yang kini tengah mereka bicarakan. Nyatanya, mereka cukup santai dengan minuman di gelas masing-masing dan sesekali Baekhyun melihat Chanyeol menyibakkan anak rambut Baekhee di sekitat telinga.
Cara Chanyeol melihat Baekhee menggambarkan lelaki itu memiliki ketulusan. Perlakuannya cukup manis tapi terasa menyesakkam bagi Baekhyun yang melihat.
Ada retakan-retakan dalam hatinya yang meminta diselamatkan. Tapi sayangnya Baekhyun tak memiliki pelampung atau bala bantuan lain karena sesak sakit itu akan ia hadapi seorang diri. Entah akan bertahan seberapa lama, yang jelas bukan pekara gampang karena mata dan hati tengah berkabung.
.
Jengah dan penat tengah melingkup nyata pada diri Baekhyun. Mata kuliah yang seharusnya biasanya berjalan normal mendadak terasa membosankan.
Baekhyun menjulurkan tangannya di atas meja, menopang kepala pada juluran itu lalu sedikit memejamkan mata untuk menghalau bertambahnya penat.
Masih teringat jelas dalam otak Baekhyun bagaimana semalam dia tak berdaya melerai pikirannya. Tugas kuliah memiliki andil besar dalam menciderai kenormalan pikiran lelaki mungil itu. Sebenarnya bukan pertama kali ini saja dia mendapat tugas sebanyak itu, tapi kontaminasi dengan pikiran-pikiran lain menjadi penyeban terbesar mengapa belakangan Baekhyun mempersempit ruang pikirnya.
Terlebih beberapa hari ke belakang tidur malam Baekhyun memiliki kebasahan hingga dunia nyata. Dia terpaksa berjalan terseok menuju kamar mandi saat puncak dari mimpi itu tergapai dan selayaknya seorang lelaki berhormon, Baekhyun menumpahkan semua dalam satu erangan.
Belakangan yang gencar merusak adalah perihal hubungan Baekhee dan Chanyeol. Rasanya sakit, tapi tidak berdarah. Dan beruntungnya dalam hal ini Baekhyun tak brutal mencakar Baekhee karena berpacaran dengan sunbae yang ia sukai. Tapi tetap saja, cubitan yang menyesakkan di hati tak bisa di sembunyikan apalagi di cegah.
"Aku saja yang kurang dewasa." Begitu pikir Baekhyun. "Tapi aku harus bagaiman-AH!"
Erangan itu karena kepalanya terbentur sesuatu yang keras. Kepalanya seperti dipukul oleh batuan runcing hingga nyerinya menyebabkan matanya jadi memiliki pandangan lain.
Kenapa sakit karena benturan itu justru memunculkan wajah Chanyeol sunbae? Astaga! Aku benar-benar sudah tidak waras.
"Kau tidak apa?"
Bahkan suaranya. Apa sakit di kepalaku juga bisa merusak telinga?
"Hallo... kau baik?"
Tidakkah ini terlalu nyata?
"Kau Baekhyun, kan? Adiknya Baekhee?"
"I-iya, sunbae."
"Kita bertemu lagi. Aku Park Chanyeol, pacar Baekhee yang baru putus dua jam lalu."
"..."
"Ayo pacaran denganku."
"Hah?"
"Aku ingin tahu bagaimana rasanya pacaran dengan orang manis sepertimu."
"T-tapi, Sunbae.. A-aku lelaki."
"Tidak masalah. Yang penting kau mau. Bagaimana? Apa aku diterima?"
Baru putus dua jam lalu? Jadi Baekhee benar-benar melakukannya. Cukup gila.
Dan untuk ukuran seseorang yang baru putus, senyum Chanyeol mengembang terlalu manis. Dia tidak sedang memaksa senyum itu merekah layak adonan kue yang diberi soda kue, kan? Atau memang itu caranya menghadapi kisah cintanya yang berakhir?
Banyak spekulasi yang mendadak berlomba memenangkan kepercayaan Baekhyun. Keterdiaman Baekhyun seperti menyusun kebingungan dan kekosongan otak kala ajakan berpacaran itu nyata terdengar di telinga.
"Bagaimana? Baekhyun?
"Ah? Oh, i-itu..." brengsek! Aku kenapa jadi tidak bisa berbicara seperti ini?
"Kalau masih ragu, kau bisa memikirkannya. Tapi jangan lama-lama, ya?"
"O-oh.."
"Nanti malam mau ku ajak nonton? Kebetulan ada film bagus."
"E-em, i-itu,"
"Aku jemput, ya? Sampai jumpa, calon tambatan hati."
Baekhyun hanya bisa membantin dalam hati, rasa-rasanya mimpi basah semalam terlalu berlebihan memberi reaksi. Kalau begini akhirnya aku bisa terkapar basah setiap malam berdebar karenamu, Chanyeol Sunbae.
.
Sekiranya semua yang terjadi di kampus hanya ilusi belaka. Tapi ternyata Chanyeol tidak main-main, dia benar datang dengan pakaia rapi. Denim membungkus tubuh bagian atas sedang celana hitam robek bagian lutut seperti menceritakan sang pemakai dengan pendeskripsian maha tampan.
Mereka pergi dengan mobil hitam mengkilat milik Chanyeol; menyusuri ruang di jalanan pada Sabtu malam bersama keheningan dari dua bibir.
Tak ada yang membuat obrolan. Chanyeol terlihat tenang dengan kemudi di depannya sedang Baekhyun merasa berlebihan ketika menganalogikan ada konser The Script dalam hatinya. Degupan itu membuat pipinya panas, bahkan mungkin sekarang sudah memerah seperti tomat busuk.
Keadaan seperti itu tak berubah kala mereka ada di dalam studio. Layar lebar di depan Baekhyun tak ubahnya televisi biasa yang bisa Baekhyun abaikan. Katakan saja Baekhyun sedang apatis; sibuk dengan hatinya sendiri untuk membuat semua terasa baik-baik saja ketika hatinya terlalu berbunga.
Tapi melihat keterdiaman ini, Baekhyun perlahan terkontaminasi pikiran buruk. Diamnya Chanyeol seperti pengabaian. Mereka berangkat bersama, menonton film bersama, dan kembali ke rumah bersama-sama pula. Jika ungkapan cinta tadi siang benar-benar serius, seharusnya Chanyeol melakukan satu hal yang semestinya dilakukan oleh seseorang yang sedang pendekatan. Tapi dia hanya diam, bahkan terus pada keadaan itu sewaktu perjalanan pulang.
Lalu ketika mobil tiba di depan pintu gerbang rumah dan Baekhyun melepas safety-belt yang melingkup tubuhnya, senyum kosong Baekhyun ukur dalam pandangan kekecewaannya.
"Terima kasih, sunbae."
"Ya. Aku juga berterima kasih karena kau mau ku ajak menonton film."
Masih dengan senyumnya yang kecewa, "Ku kira setelah ini kita tidak perlu melakukan hal ini lagi."
"Hm? Maksudnya?"
"Ya, kita tidak perlu pergi bersama lagi." Kepalanya mendongak, melihat langsung pada wajah tampan Chanyeol yang kebingungan. "Takutnya..aku terlalu terbawa perasaan."
"Baekhyun,"
"Kita saling berdiam diri ketika pernyataan tadi siang selalu ku pikirkan." Kemudian Baekhyun tertawa kering, "Terima kasih, sunbae."
"Tunggu," tangannya di cekal, berbalik lagi untuk menghadap tubuh tegap tinggi berbalut denim, "kau belum menjawab pertanyaanku tadi siang. Apa kau mau jadi pacarku?"
"S-sunbae..."
"Setidaknya beri aku jawaban terlebih dahulu sebelum kau masuk rumah. Kau kira menunggu itu enak? Dari kita berangkat sampai detik ini, aku tersiksa menunggu jawabanmu."
"Kau butuh jawabanku?"
"Tentu, Baekhyun. Setidaknya beri aku kepastian, apakah setelah ini aku bisa memanggilmu 'Baby' atau tetap memanggilmu sebagai Baekhyun."
Ayolah, sebenarnya apa yang sedang Chanyeol rencanakan? Semua terlalu abu-abu dan Baekhyun tak diberi opsi untuk mewarnai dengan warna lain.
"B-bagaimana jika kita saling mengenal dulu? Maksudku, aku butuh tahu dirimu terlebih dahulu."
"Boleh. Mau berapa lama?"
"Satu bulan?"
"Astaga, itu lama sekali, Baekhyun. Kau berniat menguji batas kesabaranku menunggumu?"
"Bagaimana kalau 3 minggu? Kurasa itu cukup."
"Oke. Tiga minggu dari sekarang. Aku sudah mengikatmu sebagai calon pacar jadi kau tidak bisa dekat dengan yang lain. Aku-pun begitu."
"O-oke. Tiga minggu. Aku masuk dulu. Selamat malam, sunbae."
"Tunggu!"
Rasanya menggelitik, seperti bulu-bulu ayam yang sengaja di putar di sekitar pinggang ketika sesuatu lunak dan terasa seperti pop corn caramel menempel di bibir Baekhyun.
"S-sunbae.."
"Ya, Baekhyun?"
"Aku tidak sedang bermimpi, kan? Coba cubit aku-AW!"
"Ada apa?"
"Kenapa mencubir putingku?" Bibir Baekhyun mengerucut lucu.
"Oh, di dalam sana ada puting? Maaf aku tidak melihatnya. Aku hanya mencubitmu secara random karena kau tidak bilang bagian mana yang harus ku cubit."
Satu pukulan mengenai dada Chanyeol dari si mungil yang bersemu merah.
"Aku masuk dulu, sunbae."
Lunak rasa pop corn caramel itu kembali terasa, bahkan kini melakukan sedikit gerakan dengan menggigit kecil bibir bawah Baekhyun. Kejadian itu tak lama, hanya sebentar tapi ada tali saliva tipis yang menyambung.
"K-kau sudah menciumku dua kali."
"Aku?" Chanyeol menunjuk dirinya.
"Ya, menciumku di bibir."
"Oh, yang baru saja ku gigit itu bibir? Ku kira marshmallow, rasanya kenyal dan manis, sih."
Chanyeol terlalu ahli membuat Baekhyun semakin bersemu merah. Dan akibat dari semua itu pasti malam ini Baekhyun tak sanggup memejamkan mata karena terlalu bahagia.
TBC
Basyot : selamat malam minggu semuaaaahhhh...
