Kadang cinta memang butuh kesabaran yang lebih. Kita harus bersabar saat dikecewakan, karena semua pasti akan manis diujungnya, walaupun tak selamanya ujung kekecewaan selalu manis.
.
..
[Name] berjalan santai di koridor sekolah. keadaan masih terlihat begitu sepi. Wajar saja, ini masih terlalu pagi, dan sudah menjadi kebiasaan [Name] untuk berangkat sekolah pagi-pagi sekali.
"Ohayou." Sapanya sesekali pada siswa yang berpapasan dengannya, tapi beberapa orang tak membalas dan mengacuhkannya. [Name] mendengus pelan.
"[Name]-chan! Matte!" Sebuah teriakkan dari belakang membuat [Name] segera menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Didapatinya Sakura tengah berlari dengan napas tersengal sembari melambai-lambai ke arahnya.
"Ah—Sakura, Ohayou."
Sakura sedikit membungkuk, sibuk mengatur napasnya yang tak beraturan. "Oh—hah—yoh—" Balasnya di sela-sela napasnya.
[Name] geleng-geleng kepala menatap Sakura. "Masih pagi, dan kau sudah berlarian seperti ini."
"[Name]-chan sih!" Sakura menuding, "Aku sudah memanggilmu berkali-kali, tapi [Name]-chan tidak dengar." Sakura menyejajarkan langkahnya beriringan dengan [Name].
Gadis cantik itu hanya mengulas senyum simpul, "Gomen." Sesal [Name]. "Suaramu terlalu lembut."
Sakura mencibir memonyongkan bibirnya. "Sindirannya halus sekali."
Mereka berdua sama-sama tertawa lepas sembari terus berjalan menuju ruang kelas. [Name] sengaja tak membahas tentang kejadian kemarin, dia tak ingin memperpanjang hal tersebut. Dia sudah menganggap masalah itu selesai sampai di sana, karena semua sudah dijelaskan oleh Akashi.
Mengingat tentang Akashi, [Name] jadi senyum-senyum sendiri yang tentu saja membuat Sakura keheranan.
"Wah, ada yang kesambet." Celetuk Sakura. "Senyum-senyum sendiri begitu."
"Jangan sembarangan bicara." [Name] menyikut lengan Sakura pelan. "Apa salahnya mengawali hari dengan senyum?"
"Cieee... bahasanya kekinian sekali."
Dan mereka berdua kembali larut dalam tawa di sepanjang langkah. Sampai sadar-sadar mereka telah sampai di ruang kelas. Sudah ada beberapa siswa di dalam. [Name] berjalan menuju mejanya. Netra hitamnya terpaku pada sebungkus cokelat berpita kuku-kupu yang tergeletak di mejanya. Dia langsung meraih cokelat itu.
"Ciee... Yang mengawali pagi dengan senyum langsung dapat cokelat. Dari siapa?" Tanya Sakura menyambar cokelat tersebut dari tangan [Name].
"[Last Name]-cchi sekarang banting stir jadi penjual cokelat ssu?" Sindir Kise Ryoka yang baru saja memasuki kelas. Perempuan berambut pirang cantik itu saudara kembar salah satu anggota klub basket, Kise Ryouta. Bahkan cara berbicaranya pun mirip.
"Tutup mulutmu, Ryoka." Bentak Sakura yang pada dasarnya memang membenci Ryoka dari akar-akarnya. Dia terlibat suatu konflik lumayan serius dengan gadis itu. Ryoka hanya nyengir sembari meraih tempat duduk.
"Siapa yang mengirim?" Tanya Sakura lagi. [Name] menggeleng mengisyaratkan ketidaktahuan. Bahkan tidak ditemukan benda lain selain cokelat itu. "Akashi, mungkin?" Ujarnya tak begitu yakin. Cokelat tersebut dikembalikan ke tangan [Name].
"Cokelat dari siapa, [Last Name]-san?"
[Name] dan Sakura seketika langsung menoleh, "KUROKO-KUN?!" Pekik keduanya bersamaan.
"Doumo." Sahut Kuroko pelan.
"S-Sejak kapan kau di sana?!" Dahi [Name] mengerut penuh heran. Hawa keberadaan tipis sih boleh saja, tapi kalau munculnya jadi mirip hantu begini kan jadi menyebalkan juga lama-lama.
Kuroko masih tetap duduk di bangkunya seraya memandang [Name]. "Sudah sejak tadi, sebelum [Last Name]-san dan Miyawaki-san masuk ke kelas."
[Name] dan Sakura sekejap saling melempar pandangan, dari sorot mata itu seolah keduanya saling bertanya 'Kau tadi melihatnya?' kemudian keduanya sama-sama menggelengkan kepala.
"[Last Name]-san belum menjawab pertanyaanku." Tukas Kuroko lagi karena merasa terabaikan. Bagi Kuroko sendiri, memiliki keberadaan tipis juga ada tidak enaknya. Sering terlupakan, misalnya.
Cokelat di tangan di bolak-balik. "Oh, ini?" Tunjuknya pada Kuroko. "Entahlah, Kuroko-kun. Tiba-tiba ada di mejaku. Tapi kupikir ini dari Akashi-kun, karena kemarin dia juga menyelipkan cokelat dalam tasku." [Name] tersenyum riang, cokelat tersebut disimpan ke dalam tas. "Biarpun menyebalkan, Akashi-kun romantis sekali."
"Sou desu ka?" Pemuda biru itu hanya menatap datar.
"Uhm." [Name] mengangguk, "Sou desu."
Kuroko tersenyum kecut memandang [Name] yang tengah tersenyum riang. Mungkin tak akan ada kesempatan baginya untuk mendekati [Name], gadis itu sudah terlalu mencintai Akashi.
Andai dia yang menyatakan perasaannya terlebih dulu.
Andai dia bisa memiliki [Name]...
"Kuroko-kun?" Sakura melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kuroko.
"Ya, Miyawaki-san?" Tersadar dari lamunan. Wajahnya kembali seperti yang sudah-sudah.
"Jangan melamun, masih pagi lho." Cengir Sakura. "Nanti kesambet."
[Name] langsung membungkam mulut Sakura secepat kilat. "Ahahaha jangan dengarkan dia, Kuroko-kun. Dia sedang kumat gilanya." Sakura sibuk meronta dan menggumam tidak jelas. Sedangkan Kuroko hanya memasang senyum simpul.
"Ah iya, aku harus mengucapkan terimakasih pada Akashi-kun!" Bungkaman tangannya dilepaskan dan segera merogoh ponsel dalam saku. Mengabaikan Sakura yang terus-terusan melempari umpatan untuknya.
Jemari lentiknya menari terampil menekan layar.
To : Akashi Seijuurou
Terima kasih untuk cokelatnya, Akashi-kun. Aku suka :)
Ditekannya tombol kirim. Senyum riang menghiasi wajah cantiknya. Tak butuh waktu lama sampai balasan pesan itu masuk ke dalam ponselnya.
From : Akashi Seijuurou
Cokelat apa?
Balasan pesan itu terlampau singkat. Namun bukan itu yang membuat [Name] tertegun. Kenapa Akashi justru bertanya?
To : Akashi Seijuurou
Cokelat yang kau berikan untukku pagi ini :) dan untuk cokelat yang kemarin juga :) aku sangat menyukainya :*
[Name] mengirim pesan yang diketiknya. Dan secepat itu juga balasan pesan langsung masuk.
From : Akashi Seijuurou
Kau tahu aku tak pernah memberikan benda murahan sejenis cokelat padamu. Yah, mungkin saja itu dari kekasih gelapmu, [Name].
Gadis cantik itu menatap balasan dari Akashi dengan raut penuh kekecewaan. Kekasih gelap? Hatinya mencelos seketika.
Teganya Akashi-kun beranggapan seperti itu.
Kalau bukan dari Akashi-kun, lalu dari siapa?
.
..
Di balik rak-rak buku, [Name] berdiri memilah bacaan. Dia memilih untuk menenangkan diri dengan cara larut ke dalam kesibukan. Dari pada berdiam diri di taman atau di kantin. Di deretan tempat duduk di sisi rak yang lain, dia mendengar suara gadis bercengkrama.
"Kau tau, Minami-chan? Kemarin Akashi-kun mengantarkanku pulang sampai ke rumah. senangnyaaaa" Kata seorang gadis di kursi.
Akashi? Akashi Seijuurou-kun kah yang mereka maksud? [Name] kembali memfokuskan pendengaran.
"Woah! Hontou ka?" Tanya gadis yang satunya lagi. "Itu tandanya Akashi-kun sudah mulai mempedulikanmu, Satsu-chan. Kau benar-benar hebat!"
"Hehehe. Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh Satsuki? Sebentar lagi Akashi-kun akan segera kumiliki."
[Name] membelalak tak percaya. Satsuki? Momoi Satsuki? Dia kan gadis yang bersama Akashi kemarin.
Bukannya Akashi-kun kemari berkata bahwa Momoi-san yang menyuruhnya untuk segera menemuiku? Lalu ini apa maksudnya?! Kupikir Momoi-san orang yang baik...
Kupikir Akashi-kun jujur padaku...
Perlahan tubuh [Name] melemas. Napas dihela perlahan. Pelan-pelan kristal bening mencair, mengalir melalui pipi gembilnya. Tak bosankah kehidupan memainkan perasaannya?
Terasa begitu menyakitkan. Di saat aku mulai mempercayainya, dia meruntuhkan kepercayaanku.
Akashi-kun, nyatakah cintamu untukku? Atau hanya sepihak saja?
Rambut indahnya diremat kesal. Air mata diseka dengan kasar, namun masih terus berlinang.
Sampai kapan kau akan terus mempermainkanku, Akashi-kun?
[Name] memutuskan untuk pergi keluar dari perpustakaan, mengabaikan kondisinya yang kelewat acak-acakan, wajah kusut dan rambut yang mencuat kesana kemari. Baru selangkah dari pintu dia berpapasan dengan Sakura.
"What on earth is going on?" Pekik Sakura menatap [Name] dari atas keb bawah berulang-ulang. Maniknya melotot seakan tak percaya dengan apa yang ada di depannya. "Ini benar-benar [Full Name] sahabatku, bukan?" Tanyanya sedikit konyol.
"Kau berisik, Sakura." Tukasnya lesu. [Name] setengah berlari menuju ruang kelas dengan kelopak mata yang sembab, meninggalkan Sakura yang mamanggil-manggil di belakang.
Kadang sesekali [Name] terisak pelan. Pandangannya mengabur kala air mata kembali menggenang. Namun dia tetap berlari tanpa memandang ke depan, alhasil dia jatuh terjembab menubruk seseorang di koridor yang sepi.
"Ow—" Rintihnya pelan. Tidak sakit. [Name] langsung mengerjap-ngerjapkan mata saat merasakan sesuatu yang janggal. Jatuh tapi kok tidak terasa sakit?
Iris hitamnya seketika membelalak saat mengetahui bahwa dia jatuh menimpa seseorang.
"Aa—gomen—" Ujarnya sedikit terbata, "—aku tidak memperhatikan jalan." Dia berusaha untuk bangkit, namun kakinya kepleset dan menimpa orang itu sekali lagi. Terdengar rintihan pelan.
"Ugh—"
"Ma-maaf, aku begitu cerobo—eh? Kuroko-kun?" Masih di posisi yang sama, [Name] memastikan dengan benar. Sebelum kemudian kembali untuk bangkit dan terduduk, diikuti oleh Kuroko yang mengusap dadanya sendiri pelan. Mungkin terasa sakit karena menjadi tumpuan.
[Name] begitu panik melihat Kuroko meringis seperti menahan sakit. "Kuroko-kun aku benar-benar tidak sengaja! Maafkan aku! Aku akan mengantarkanmu ke U—"
"Daijoubu—" Kuroko segera memotong ucapan [Name]. "Aku baik-baik saja, [Last Name]-san. Hanya sedikit sakit." Kuroko mencoba menenangkan [Name].
"Bagian mana yang sakit, Kuroko-kun?! A-aku benar-minta maaf, sungguh aku hanya—"
"Ssstttt." Kuroko meletakkan ujung jemari telunjuknya ke permukaan bibir [Name], dan gadis itu langsung terdiam seketika. "Ini bukan salahmu, [Last name]-san. Tidak perlu minta maaf." Tegas Kuroko. "[Last name]-san sungguh ingin tahu bagian mana yang terasa sakit?" Kuroko memandangi wajah sembab [Name].
[Name] hanya mengangguk singkat.
Diraihnya tangan kanan [Name] perlahan, kemudian mengarahkan telapak tangan [Name] tepat di dada kirinya. "Di sini."
Wajah [Name] seketika memerah. "A-apa aku begitu berat?" Gadis itu malu. Dia berpikir mungkin memang dia terlalu berat sampai membuat Kuroko kesakitan.
Kuroko menggeleng, senyum simpul terpoles. "Bukan karena itu, [Last Name]-san." —tapi karena aku tak bisa memilikimu.
"L-lalu karena apa?" Tangan [Name] sedikit gemetar.
"Karena [Last Name]-san bersedih, makanya dadaku jadi terasa sakit." Sebelah tangannya yang bebas bergerak mengusap sisa air mata di sudut mata [Name]. Gadis itu sedikit terpejam. "Jangan bersedih lagi, [Last name]-san. Wajah cantikmu menjadi kusut." Usapan itu beralih menangkup pipi [Name] dengan lembut.
Sontak saja wajahnya langsung memerah layaknya tomat yang siap panen. Kedua iris gelapnya bertatapan langsung dengan iris biru jernih Kuroko tanpa halang. "Uhm aku tidak bersedih, aku hany— "
"Oh, jadi begitu ya, [Name]?"
[Name] terkejut mendengar sebuah suara, sontak dia menarik tangan dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Betapa terkejutnya saat dia mendapati siapa yang berdiri di sana.
"A-Akashi-kun?" Bola matanya melotot seperti ingin meninggalkan tempatnya. Napasnya menjadi tak teratur. Tegukan ludahpun terasa menjadi begitu susah.
"Apa yang kau lakukan bersama Tetsuya, [Name]?" Manik berbeda warna itu menatap tajam seolah berusaha menusuk. [Name] tak bisa melakukan apapun selain menatap Akashi ketakutan.
"Akashi-kun." Kuroko lantas ikut menyebutkan namanya. "Ini tidak seperti yang kau bayangkan."
"Tutup mulutmu, Tetsuya. Tidak ada yang menyuruhmu untuk berbicara." Tatapan mengintimidasi itu dialihkan, detik berikutnya kembali menatap [Name] dingin. "Ikut aku sekarang." Pintanya—atau lebih tepat disebut perintah.
Namun [Name] bergeming, tak juga berpindah dari posisi.
Pemuda merah itu mendecak pelan. Terlihat sekali bahwa dia sedang dalam kondisi yang tidak baik. Tangan kekarnya perlahan terulur dan mencengkeram lengan kiri [Name], memaksanya untuk segera bangkit.
Tidak memberontak, tapi [Name] hanya merintih pelan. "Akashi-kun... s-sakit..." Wajahnya masih menunduk, tak berani menatap wajah Akashi. "S-sakit..." Akashi tak menggubris, tak juga melonggarkan cengkeramannya.
"Kau menyakiti [Last name]-san, Akashi-kun." Kuroko segera berdiri dan memprotes kelakuan Akashi.
"Lebih baik kau diam, Tetsuya." Akashi segera menarik [Name] ke dalam pelukannya tanpa melepaskan cengkeraman tangannya. "Dan ingat baik-baik dalam kepalamu, jauhi [Name]. Dia milikku." Tegasnya penuh penekanan pada dua kata terakhir.
[Name] mulai terisak menahan sakit, namun tak menimbulkan banyak suara.
"Ayo jalan. Kau perlu diberi pelajaran."
.
..
TBC
..
.
Terima kasih untuk minna-san yang sudah membaca cerita abal nan gaje ini (^^) dan terima kasih untuk yang sudah menyempatkan diri untuk mereview :3
Di sini ceritanya Elis memang bikin karakter weak!readers. Jadi ya begitulah :3 Maaf kalo malah aneh :'(
RnR? :3
