Summary: Sang kakak telah tercuri hati nya oleh sang adik, sang teman telah tercuri hatinya oleh sang kakak. Triangel love? Who knows?

Assasination Classroom

STORY milik AUTHOR Levy Aomine Michaelis

SETTING: At school, at home.

MAIN CHARACTER:

Asano Gakushuu, Shiota Nagisa, Karma Akabane

READ AND REVIEW

~Happy Reading~

Flashback on

Karma berdiri menyendiri di belakang kelas sambil menerima telepon dari seseorang.

"Apa maksudmu Seijuuro-nii? " Ujarnya membalas telepon.

" Aku minta maaf Akabane. Aku janji akan kembali tiga tahun lagi, lagipula ini perintah dari ayah. Kau pasti mengerti kan?" Jawab suara di seberang sana.

"Baik. Tapi... kenapa aku juga harus pindah dari sekolah ini ? " Nada suara Karma melunak, tak rela sang berpisah dengan orang yang disayanginya.

Akashi Seijuuro—Kakak Karma—menjawab lama.

"Ayah berniat menikah lagi tahun depan."

Kedua iris jingga itu (tolong kasih tau kalau saya salah menerka warna mata Karma-kun) melebar sempurna. Karma akui jika ayahnya masih terbilang muda untuk menikah lagi, tetapi ia tidak yakin bisa menerima begitu saja anggota keluarga baru. Kematian sang ibunda juga belum terlalu lama, ia belum siap.

" Itu berarti... baiklah aku sudah terlalu lama diluar kelas. Sampai nanti nii, ah jangan pergi dulu sebelum aku pulang." Pinta Karma.

"Apapun untukmu, adikku." Jawab Akashi, kemudian telepon di tutup secara sepihak.

Akashi menatap foto diri nya dan Kuroko di dalam bingkai foto kamarnya.

"Aku yakin dia akan menerima keluarga barunya dengan senang hati."

.

.

.

.

Tiga hari setelah nya...

Karma kembali ke kelasnya. Guru matematika yang seharusnya mengajar ternyata tidak hadir dengan alasan sakit. Karma bersyukur, ini berarti dia ada waktu untuk bermalas-malasan diatap.

"Tunggu! Kau mau kemana Akabane?"

Asano mencengkram erat lengan Karma. Si merah menarik lengannya namun pegangan Asano tak mau lepas.

"Jawab Akabane."

"Bukan urusanmu!" Bentak Karma. Pegangan Asano merenggang. Suara yang di rindukannya akhirnya terdengar juga dari mulut Karma karena si doi mengabaikannya semejak kejadian 'kejahilan' Asano enam hari lalu.

"Ikut aku!" Asano mengeret paksa Karma ke belakang sekolah.

"Apa-apaan kau! Lepaskan aku brengsek!" Bentak Karma, setelah sampai ditempat Asano melepas cengkramannya dengan kasar.

"Kau itu yang apa-apaan! Kenapa kau tiba-tiba jadi pemurung begini huh?" Tanya Asano balik, ia menatap Karma , dan sekali lagi si merah itu tak ingin menatap wajahnya. Asano dapat melihat jika wajah Karma sekarang tengah memerah, membuat dirinya jadi khawatir.

"A—apa kau sakit Akabane? " Asano menyentuh dahi Karma namun tangannya ditepis, " Berhenti menyentuhku brengsek!"

Berhenti membuat degup jantungku jadi tidak karuan begini! Batin Karma.

Asano terbelalak kaget, apa ini semua ada hubungannya dengan perlakuan diri nya terhadap Karma seminggu lalu?

"Akabane , aku tidak bermaksud—"

"Aku membencimu, Gakushuu." Sergah Karma.

Kenapa kau harus ada dihidupku? Kenapa harus kau yang menyelamatkanku?

"Ha?" Asano tidak mengerti.

"Aku tidak ingin melihat wajahmu." Karma berucap pelan, namun terdengar menyakitkan di hati Asano.

Aku berharap selalu bisa melihat wajah bodohmu sialan!

Hati Karma semakin sakit, dan ia ingin menangis. Seandainya ego nya tak sebesar ini, Karma pasti sudah memeluk sosok didepannya itu, dan mengaduh tak ingin berpisah dengan si jingga. Namun tetap saja, naluri lelaki nya berkata lain, dan Karma pun berlari seperti pengecut.

Aku tak ingin menemuimu lagi, cinta pertamaku.

.

.

.

Flashback off

"Aku masih ingin menemuimu, Akabane."

"!"

Karma berjengit kaget, terlalu tenggelam pada masa lalu nya hingga tak menyadari Asano datang yang mencuri pelukan untuknya. Dirinya berbalik lalu menolak pelukan itu.

"He... ternyata kau masih suka men-sekuhara orang ya?" Karma tersenyum mengejek.

"Pendapatmu tentang ku jelek sekali Akabane. Lagipula jika ada orang yang ingin aku sekuhara , tentu nya hanya kau seorang saja."

Panas menjalar disekujur tubuh Karna .

"A-apa maksudmu sialan!" Satu pukulan dari orang yang lagi kumat tsundere-nya mampir di kepala Asano.

Asano tak melawan, ia menatap lekat wajah lawan bicaranya. "Lakukan lagi jika itu membuatmu senang Akabane-kun."

Karma mendecih. Tak tahukah si jingga itu jika jantungnya sudah kembali berdegup tak karuan?

"Apa yang membuatmu datang kemari Gakushuu?"

"Aku ingin mendengar alasanmu Akabane."

Si merah menyamankan posisi duduknya, seakan tidak peduli dengan topik pembicaraan.

"Jelaskan padaku, kenapa kau tiba-tiba menghilang saat itu?" Asano berkata lagi.

"Memang kau mau apa jika tahu? Menikahi ku begitu?" Karma tersenyum mengejek.

"Ya , jika itu maumu."

Karma seketika tersedak air ludahnya sendiri. Well, ini Asano yang lagi niat ngejahilin Karma atau emang otak itu anak sudah terlalu error diterjang badai pelajaran.

"Aku Cuma bercanda, bodoh." Balas Karma enggak santai.

"Aku tidak sedang bercanda padamu Akabane." Si jingga menjawab dengan serius, membuat Karma risih plus doki-doki.

"Hmm.. waktu itu aku pindah sekolah di Kyoto. Ayahku menjual perusahaan nya lalu pindah untuk mendirikan perusahaan baru di sana. Lagipula, ayahku akan menikahi ibu nya Nagisa, semua itu dilakukan agar hubungan mereka berjalan lancar."

"Oh. Apa sebegitu pentingnya pindahan itu sampai-sampai kau tak memberitahuku?"

Karma menahan tawa, "Pff.. memangnya kau itu siapa ku heh?"

Asano tak menjawab.

"Baiklah, baiklah. Jangan menatap sok serius begitu dong." Karma kemudian melanjutkan, " Aku tidak memberi tahumu karena... aku tidak ingin kau merindukan aku Gakushuu. Hahahhaa... Hahhahaa.. Hahhaa..." Karma tertawa sendiri, ya hanya sendiri karena Asano sekarang sudah ancang-ancang, menarik wajah si merah mendekat lalu menghentikan tawa berisik itu dengan ciumannya.

"Ummff—"

Asano tak mau melepaskan, tak ingin melepaskannya lagi.

"Mmhpph.. " Karma berontak sesaat namun kemudian pasrah.

Beberapa menit kemudian ciuman lepas, tanpa lumatan maupun gigitan.

"Apa kau mencintaiku, Akabane Karma?"

Iris jingga Karma menatap dalam mata Asano, mencari kebenaran disana.

"Memang kenapa?" Karma membalas pelan.

"Dasar ." Dikecupnya dahi Karma. "Aku mencintaimu, Strawberry ku. " Satu kecupan lagi di pangkal hidung.

"Jangan tinggalkan aku lagi." Desis Asano.

"Hmm... " Karma memejamkan mata, kemudian tersenyum tipis.

Terimakasih telah mencintaiku, Gakushuu.

Finish~

OMAKE:

Nagisa bangkit dari kasurnya.

"Apa Karma-kun lupa menjemputku ya?"

Panasnya sudah agak turun, si baby blue memutuskan untuk pulang sendiri. Lagipula hari sudah mulai senja dan semua kelas sudah dibubarkan. Beruntung sekolahnya selalu tutup pukul enam.

"Apa aku telepon saja ya..." Nagisa mengeluarkan HP nya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti melihat sepasang makhluk adam sedang duduk berdua di gazebo sekolah. Nagisa tentu sangat mengenali sosok itu.

"Kalian bersatu juga akhirnya." Ia tersenyum kecil. Meski hati nya masih agak tidak rela, namun ia akan berusaha ikut bahagia demi sang kakak.

Tak ingin menganggu moment itu, Nagisa pun pergi dari sana.

"Shiota." Suara lemah lembut itu menyapa pendengaran Nagisa.

"Kayano? Kau belum pulang."

"Hu'um. Aku ketiduran di perpustakaan tadi. Hehe " Kayano berjalan mendekati Nagisa. "Bareng ya..." Ujar si gadis kuncir dua itu.

"Tidak masalah." Jawab Nagisa. Mungkin dia bisa move-on sekarang, walau tidak dengan yang berbatang lagi.

.

.

.

Tamaattt...

Sekian lama, akhirnya saya bisa menyelesaikan cerita ini.

Terima kasih atas semua review, fav, follow dari reader semua. Saya minta maaf kalau cerita saya tidak bagus dan tak menarik. Saya minta maaf kalau banyak typo dan eyd yang menyimpang sana-sini. Saya hanya author yang suka menuangkan imajinasi untuk menghibur diri sendiri dan orang lain.

Well, yang paling penting saya minta maaf kalau gak sempat balas review, terutama dari pada guest yang kadang saya gak tau siapa identitasnya.

Akhir kata, wassalamualaikum wr wb.

:D Tee hee.. Love you minna :*