The Time Between Love and Revenge

Chapters 4

NaruHina . Yugao

Romance . Hurt/Comfort

T+ semi M+

Masashi Kishimoto

By Author Mitsuki HimeChan

Baturaja, 29 September 2015

#

Happy Reading

Kebencian

"Ayah hiks hiks..." Hinata terus menangis didepan makam sang ayah. Beberapa ANBU berdiri dibelakangnya dan juga para tetangga. Naruto dan Yugao berdiri agak jauh dari tempat pemakaman.

"Apakah Hinata akan membenciku?" tanya Naruto dalam duka.

"Mungkin." jawab Yugao dingin. Sesosok Itachi menghampiri dan berdiri disamping Naruto.

"Hizashi mengatakan kalau kau lah yang membunuh Hiashi dan Hinata menjadi saksi mata dan ku rasa kau akan disidang Naruto meskipun kini kau seorang ketua tapi bukan berarti kau bisa lolos dari jeratan hukum." kata Itachi.

"Ya aku tau itu." sahut Naruto.

"Ku dengar Hizashi akan membawa Hinata ke Eropa." kata Yugao.

"Terserah dia mau membawa Hinata kemana asal dia tidak menyakiti Hinata dan bila itu terjadi aku akan membunuh Hizashi dan aku tak peduli jika ia adalah paman atau lebih tepatnya ayah Hinata secara tidak langsung." kata Naruto dengan sungguh-sungguh.

"Ayo kita pulang." tambahnya lalu berbalik kebelakang siap meninggalkan pemakaman.

.

.

.

.

.

.

[8 Tahun Kemudian]

Sudah tujuh tahun Hinata berada di benua Eropa dan satu tahun yang lalu ia dikembali ke Jepang dan melanjutkan sekolahnya di Konoha Internasional Shcool dan sudah kelas dua belas. Pamannya Hizashi telah membuangnya ke Jepang dan kini ia hanya tinggal di apartemen kumuh. Hizashi telah berhasil menguasai harta benda yang diwariskan Hiashi kepada Hinata dan setelah Hinata tidak berguna, dengan mudahnya ia membuang Hinata begitu saja dan ia pun menjelaskan bahwa kejadian delapan tahun yang lalu bukan Naruto yang membunuh ayahnya tapi anak buah pamannya sendiri dan Hinata sangat menyesal telah menuduh Naruto tapi nasi telah menjadi bubur dan tak mungkin lagi untuk diperbaiki dan saat ini sangat malu pada dirinya sendiri dan ia malu jika harus bertemu dengan Naruto.

Tapi tanpa ia ketahui bahwa Naruto selama ini selalu mengawasinya bahkan Naruto tau bahwa Hinata telah pulang ke Jepang dan Naruto juga tau bahwa Hinata telah dibuang ole Hizashi.

Hari ini Hinata baru saja sampai kesekolah dan baru saja memasuki kelas tercintanya yang sangat berisik ini. Hinata merebahkan kepalanya diatas meja dan menghela napas cukup berat. Tahun depan adalah tahun kelulusannya dan ia sadar bahwa kelas dua belas sangat banyak sekali mengeluarkan biaya dan ia cukup pusing memikirkannya apalagi dalam waktu satu hari ia berkerja paruh waktu di dua tempat yang berbeda.

"Hinata-chan!" seru Sakura dengan ceria lalu duduk dibangku didepan meja Hinata.

"Ada apa Sakura-chan?" Hinata mendongakkan kepalanya dan menatap gadis cantik berambut gulali dihadapannya.

"Kau tau Hinata, aku akan bertunangan dengan Sasuke-kun!" seru Sakura dengan sangat bahagia dan tersenyum lebar.

Hinata sendiri juga ikut tersenyum mendengar pernyataan Sakura.

"Selamat ya Sakura-chan kalian memang sangat cocok." timpal Hinata dan mengacungkan jempolnya.

"Eh itu Sasuke!" seru Hinata melihat kedatangan Sasuke.

"Benarkah?" ucap Sakura dan menoleh kebelakang dan benar saja, Sasuke sedang berjalan memasuki kelas dan duduk diam dikursinya.

"Waaah..." ucap Hinata bermaksud menggoda Sakura dan ia pun tersenyum jahil. "Jangan lupa pt ya Sakura hihihi..." imbuhnya.

"Pt? apaan?" tanya Sakura bingung.

"Pajak tunangan hahaha..." jawab Hinata dengan geli

"Eeeee ish kau ini Hinata... Baiklah-baiklah nanti deh aku bayar pajaknya." timpal Sakura dengan sinis tapi sedetik kemudian ia pun tertawa bersama sang sahabat.

*skip time.

Sudah pukul lima sore, Hinata segera menyelesaikan tugasnya sebagai pelayan cafe lalu berpamit pulang kepada atasannya karena ia harus segera menuju minimarket yang terletak tak jauh dari apartemennya. Hinata berkerja sebagai kasir di minimarket itu dari pukul lima sore hingga pukul sepuluh malam.

Sebuah mobil sedan berhenti dipinggir jalan dan seorang pria bertubuh besar keluar dari mobil tersebut lalu menghampiri Hinata.

Hinata tau siapa pria itu dan ia pun berlari dengan sangat cepat sebelum pria itu menangkapnya.

Hinata berlari secepat dia bisa tapi tak mudah karena saat ini ia benar-benar ketakuttan bahkan kedua kakinya bergetar dan tak sanggup berlari tapi jika ia tidak berlari maka...

"Kyaaaa..." Hinata refleks berteriak setelah pria itu berhasil menangkapnya lalu membius Hinata agar jatuh pingsan. Pria itu menyeringai lalu menggendong tubuh mungil Hinata dipundaknya seperti karung beras.

Mobil sedan tadi berjalan dengan lamban dan setelah sang sopir menemukan pria tadi telah berhasil menangkap Hinata ia pun memberhentikan laju mobilnya dipinggir jalan.

Pria itu membuka pintu belakang dan mendudukkan tubuh Hinata dikursi belakang disamping bosnya dan ia duduk dikursi depan disamping sopir.

"Kita langsung saja menuju Rose." kata bos yang tak lain adalah Hyuuga Hizashi.

Mobil itu melaju cepat menuju pinggiran kota tepatnya didaerah Oto dan berhenti didepan sebuah bangunan yang dihiashi banyak lampu berwarna-warni. Siapa yang tak kenal rumah bordir apalagi jika nama rumah bordir itu adalah Rose. Disana sering menjual perawan dengan harga tinggi dan setiap tiga tahun sekali para bunga disana diganti dengan bunga yang baru dan segar agar para pengunjung akan selalu setia mampir kerumah bordir milik salah satu anak buah Hizashi. Dan tentunya jika para bunga itu masih segar akan dijual mahal dan primadonanya akan diberi nama Rose.

"Oh Hizashi-sama kau datang oh ayo masuklah." ujar Kakuzu pemilik dari rumah bordir.

Hizashi mengangguk dan berjalan masuk dan pria bertubuh besar dan bernama Juugo juga ikut masuk dengan membawa Hinata dibahunya.

"Oh dia gadis yang sangat cantik sekali tuan, aku jamin harganya pasti sangat mahal." ujarnya penuh seringai.

"Kau bisa menjualnya dan kau bisa menikmati uang hasil penjualannya tapi aku ingin melihat dia ditiduri oleh pembelinya dan aku ingin melihat gadis itu hancur." ujar Hizashi.

"Kau pamannya dan kau kejam sekali hahahaha..." Kakuzu tertawa ria sementara itu Hinata telah sadar dan kini dikurung disalah satu kamar.

"Hiks keluarkan aku... aku gak mau disini aku mohon..." Hinata terus menggedor pintu kamar meminta agar dia dikeluarkan tapi sia-sia tidak ada orang yang akan mengeluarkannya meski ia akan menangis darah.

Ia terisak dan terduduk dilantai kamar.

Beginikah akhir dari kisah kehidupannya? Hinata tidak tau harus apa, ia sudah cukup menderita. Ibunya meninggal saat melahirkannya dan ayahnya meninggal ditangan anak buah pamannya dan Naruto membencinya. Dan sekarang ia akan jadi wanita pemuas nafsu para lelaki hidung belang. Apakah tuhan tidak pernah mendengar do'a nya? Hinata hanya bisa menangis meratapi nasibnya.

"Ayaah..." Hinata terisak.

Cklek.

Pintu terbuka dan seorang wanita berbaju seksi masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu kamar.

Ia berjongkok dihadapan Hinata dan memegang dagu milik Hinata dan mendongakkannya agar wajah Hinata menatapnya.

"Sebentar lagi kau akan menjadi wanita seperti diriku dan setiap wanita disini diberi nama dengan nama bunga, nama ku Jasmine dan kau diberi nama Lavender." ucapnya lalu melepaskan dagu Hinata dan berdiri didepan Hinata lalu melempar sebuah baju kepada Hinata.

"Pakai baju ini dan cepatlah!" serunya dengan nada membentak.

Hinata menggeleng dan masih menangis.

"CEPAT KAU PAKAI JALANG!" kini ia membentak dengan cukup keras tapi Hinata masih menangisi nasibnya.

"Aku akan memukulmu jika tidak mau pakai baju itu!" ucap Jasmine dengan geram dan Hinata masih bersikukuh tidak mau mengganti bajunya.

Jasmine cukup kesal melihat tingkah Hinata dan secara terpaksa ia berjalan menuju sebuah meja dan mengambil sebuah gunting.

"Aku akan memaksa mu." katanya dengan sangat kesal.

"Gak mau." Hinata menggelengkan kepalanya.

Baru saja Jasmine berusaha merobek pakaian Hinata. Hinata lebih dulu melawan dan gunting yang hendak mengenai pakaian sekolahnya itu meleset dan mengenai telapak tangan Jasmine.

"Akh! Sakit apa yang kau lakukan hah?!" Jasmine melepaskan gunting lalu ia membuka pintu dan memanggil teman-temannya.

"Dasar kau jalang! apa kau tidak tau hah bahwa aku ini siapa? tangan ku ini sangat berharga!" kata Jasmine dengan emosi dan hampir menampar wajah Hinata tapi dihalangi oleh wanita lain.

"Hentikan Jasmine. Kau bisa mengobati tangan mu dan akan segera sembuh. Kita tidak boleh melukai gadis ini dan ini printah tuan Kakuzu." ujarnya.

"Berengsek!" dengan sangat kesal Jasmine keluar dari kamar itu meningglkan Hinata dengan ketiga temannya.

"Aku tau kau sedih karena dulu aku juga seperti dirimu takdir sudah menentukan diriku menjadi seperti ini." ucapnya dan membantu Hinata untuk berdiri.

"Nama ku Rose dan ini kedua teman ku namanya Tulip dan Dahlia." ia tersenyum.

"Sekarang kau harus menganti bajumu atau tidak tuan akan memarahi kami." ujar Tulip.

Hinata terlihat seperti mayat hidup. tubuhnya putih pucat dan matanya sembab dan untunglah tertutupi dengan make up tapi make nya cukup tipis karena wajah Hinata sudah berwarna putih alami bak salju dan Rose hanya memberikan sedikit warna merah muda di kedua pipi Hinata dan Hinata kini terlihat sangat cantik dan seksi.

Dada Hinata hanya tertutupi kain halus berwarna hitam dan rok panjang berwarna hitam transparan hinggah memperlihatkan celana dalam yang ia kenakan dan juga berwarna hitam dan terbelah dikiri dan kanannya memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah. pinggang, perut, dan punggungnya terekspos dengan sangat jelas dan dijamin akan membuat semua pria tergiur dan meneteskan air liur apalagi pusar Hinata diberi hiasan subuah permata dan tentunya hanya imitasi tapi meskipun begitu imitasi itu cukup mahal karena cukup indah dan menawan. Lalu rambutnya di sanggul keatas dan menyisahkan poni dan beberapa helai rambut disisi kiri dan kanan wajah Hinata dan Rambutnya diberi hiasan bungan Lavender yang masih segar dan harum bahkan tubuhnya diberi farpum Lavender yang begitu menyengat.

"Ayo kita keluar." ujar Rose. Hinata hanya diam dan mengikuti arah angin yang akan membawanya.

Hizashi tersenyum senang. ia duduk sofa dengan ditemani gadis cantik dan masih perawan.

gadis itu duduk dipangkuannya dengan malu dan takut. Bagaimana tidak, usianya masih dua puluh tahun dan ia dijual ayahnya kemari. Begitu miris kehidupannya.

Lima menit kemudian lantai dansa tempat penari seksi telah di isi oleh lima gadis cantik berpakaian seksi termasuk Hinata yang berdiri ditengah dengan wajah murung. kelima gadis cantik itu terlihat ketakuttan.

"Selamat malam semua." ujar seorang pria yang berdiri disamping kelima gadis cantik itu.

"Aku Kakuzu baru saja memetik bunga-bunga baru dikebun hahaha..." ujarnya dan semua orang juga ikut tertawa.

"Oke gadis pertama ini namanya Anggrek, cantik bukan? Tubuhnya seksi aduhai dan lihat kakinya begitu owww..."

"Penawaran mulai dari harga sepuluh juta!" seru Kakuzu.

"15 juta."

"20 juta."

gadis dengan nama anggrek itu menutup matanya dan setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Sedangkan Hinata hanya diam dan menutup mulutnya dan air matanya telah mengering.

Hingga ia tinggal ia saja diatas lanati dansa tersebut. Tatapan mata Hinata kosong bahkan ia tidak berpikir apapun.

"Gadis ini adalah gadis yang paling cantik dan seksi malam ini."

"Lavender!"

"Cuit cuit!"

Bunyi siulan pria-pria hidung belang terdengar nyaring bahkan mereka menatap Hinata dengan cukup lapar.

"Karena dia primadona malam ini maka harganya dimulai dari tiga puluh juta."

"40 juta."

"50 juta."

"55 juta."

"60 juta."

Sementara para pria tengah memlelangnya dengan harga tinggi. Hinata semakin terhilahat gelisa meski tatapan matanya kosong.

"300 juta."

Semua orang terdiam bahkan Hizashi tercengang. Semua orang menatap keasal suara. Disana pemuda tampan bermata biru seperti orang luar, bule. Duduk disofa sendirian.

"Baiklah Lavender terjual." Semua orang hanya diam melihat ketejaman mata biru sang pembeli Lavender. Lavender sendiri tidak tau siapa yang telah membelinya karena ia langsung diminta masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian sekolahnya tadi sesuai permintaan dari pembelinya.

Pemuda yang tadi membelinya sudah tidak ada ditempat dan hanya ada seorang pria aneh berdiri disamping sebuah mobil sedan hitam.

"Masuklah nona." ujar pria itu setelah membukakan pintu mobil. Hinata menurut dan memasukki mobil.

Selama didalam perjalanan menuju rumah majikkannya Hinata masih diam. Sopir yang duduk didepan sesekali melihat wajahnya dari kaca spion.

Mobil sedan itu memasuki kawasan hutan lebat lalu lima menit kemudian terlihat sebuah lapangan luas dengan rumput yang tertata rapi dan beberapa pohon.

Hinata menatap pohon-pohon itu dengan rasa iri. Pohon itu tumbuh dan hidup sesuai keinginannya dan pohon itu akan mati kalau sudah tua atau akan mati karena ditebang, tergantung takdir yang menentukannya. Tidak seperti dirinya yang harus mengalami semua kepahitan ini.

Tanap terasa mobil telah berhenti didepan sebuah rumah yang begitu besar dan mewah bahkan rumah itu memiliki arsitektur bergaya khas Yunani.

"Nona." ucap pria itu setelah membukkan pintu mobil.

Hinata menoleh dan mengangguk lalu berjalan keluar dari dalam mobil dan pria itu membimbingnya masuk kedalam rumah dan beberapa pelayan berpakian rapi telah berbaris rapi menyambut kedatangan Hinata.

"Yumi."

"Iya Asuma-san."

"Bawa Hinata-sama kekamar Naruto-sama." ucap Asuma, nama pria yang menjemput Hinata dan juga sukses membuat Hinata terkejut bukan main termasuk para maid perempuan.

"Jangan-jangan dia gadis yang akan menjadi pelayang 'pribadi' Naruto-sama."

"Mungkin saja." para maid itu mulai bergunjing mengenai Hinata dan Hinata malah tak percaya dengan semua ini dan berarti pria yang membelinya adalah Naruto.

"Jangan berbicara sembarangan!" tegur Asuma.

"Dia adalah istri sah Naruto-sama." lanjutnya. Semua maid terdiam termasuk Hinata yang kini menatap Asuma penuh tanda tanya bahkan air mata mulai kembali membendung dipelupuk matanya.

"Hinata-sama silahkan masuk kedalam kamar dan istirahat karena Naruto-sama sebentar lagi pulang." ujar Asuma berojigi kemudian berjalan pergi.

Yumi menggandeng tangan Hinata dan membawanya menuju kamar Naruto.

Dengan telaten Yumi membantu Hinata melepaskan pakaian seragam sekolah lalu menyiapakan air hangat yang sudah diberi aroma terapi untuk Hinata mandi. Sepuluh menit Hinata berendam di air hangat sambil melamun dan Yumi menatap Hinata dengan prihatin.

Setelah selesai mandi. Yumi memakaikan Hinata piyama tidur berwarna ungun muda yang sangat lembut.

"Apakah nona lapar? kalau iya akan aku buatkan makan malam." kata Yumi.

Hinata hanya menggeleng.

Cklek.

Pintu kamar terbuka dan sosok Naruto masuk kedalam kamar. Melihat kedatangan tuannya, Yumi segera membungkuk hormat dan keluar dari kamar. Naruto mengunci kamarnya lalu masuk kedalam kamar mandi tanpa memperdulikan keberadaan Hinata yang melihatnya dengan tatapan sendu.

Setelah selesai membersihkan dirinya, Naruto segera keluar dari kamar mandi dan hanya memakai piyama putih.

"Kenapa kakak membeliku?" tanya Hinata tiba-tiba tanpa melihat wajah Naruto.

Naruto hanya diam lalu membuka lemari pakaian khusus miliknya tapi kini sudah bercampur dengan pakaian Hinata.

"Dan tadi pelayan mu bilang aku istri kakak."

"..." Naruto tak menyahut dan memilih baju yang pas untuk tidurnya.

"Apa kakak mau menertawaiku?"

"..." masih diam tak peduli.

"Apa kakak mau membalas dendam karena aku menuduh kakak yang telah membunuh ayahku?"

"..."

Hinata menitihkan air matanya karena Naruto tidak menjawab pertanyaannya sementara itu Naruto telah selesai memakai baju tidurnya.

"Jawab aku." ucapnya lirih.

"Aku sudah mendaptarkan pernikahan kita ke pemerintah dan bagaimana aku bisa mendapat tanda tangan mu itu karena kau bisa meniru tanda tangan siapa saja." kata Naruto lalu membuka laci dimeja rias dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar berwarna putih polos.

"Ini ponsel untukmu agar aku bisa selalu menghubungi mu." Naruto menyerahkan ponsel tersebut kepada Hinata. Hinata menerima ponsel itu lalu menaruhnya di atas meja nakas. Naruto berjalan menuju sisi lain dari kasurnya.

"Kakak, jawab aku." Hinata berdiri dan menghampiri Naruto lalu tangan mungilnya menahan lengan kanan Naruto agar tidak duduk dikasur.

"Kak."

Naruto melepaskan tangan Hinata dari lengannya lalu menarik gadis itu. Kedua tangannya memegang kedua tangan Hinata dengan erat.

"Aku mencintai mu Hinata..." Hinata menatap permata biru dihadapannya dengan sendu dan tak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Tapi itu dulu." hati Hinata terasa tertusuk duri kasat mata mendengarnya. Naruto. Pmuda bermata biru sapphire itu menatapnya tajam dan dingin bahkan nada suara dari pemuda itu terdengar dingin dan tajam.

"Dan sekarang aku hanya ingin memiliki mu Hinata lebih tepatnya ragamu karena aku tidak rela ada pria lain yang menyentuhmu kecuali aku." Naruto menyeringai lalu mendorong tubuh mungil Hinata ke atas kasur dengan sangat kasar.

"Jangan pernah mencoba atau berpikir untuk kabur dari ku, jangan pernah mencintai pria lain, jangan pernah mengadu pada orang lain atau orang yang akan mencoba membantu mu itu mati ditanganku dan aku Namikaze Naruto tidak pernah main-main dengan ucapannya " Hinata meneguk ludahnya melihat Naruto yang saat ini telah berubah.

"Sayangnya aku tidak tertarik untuk menyentuh mu saat ini jadi tidurlah dengan tenang, bukankah kau besok kau harus sekolah." lanjutnya.

Hinata mencoba bangkit tapi Naruto malah menarik tubuh Hinata kesisi ranjang dan ia pun naik keatas ranjang dan tidur disamping Hinata dengan memunggungi gadis itu.

Hinata memunggungi Naruto dan menangis dalam diam. Naruto cukup terganggu dengan tangisan Hinata meskipun gadis itu tidak menangis dengan teriak-teriak aneh tapi sesegukkan gadis itu membuat hati kecilnya terluka.

Naruto berbalik dan memeluk tubuh mungil Hinata dari belakang dan menaruh wajahnya dileher Hinata membuat siempunya terdiam.

"Kalau kau menangis lagi aku akan..."

"Hiks...hiks...Maaf..."

"Tidurlah jalangku."

Hinata menutup matanya dan air mata mengalir dari matanya yang tertutup.

Bersambung.