Author menulis dalam keadaan stres, maka kalau hasil tulisan dibawah ini mengecewakan tolong dimaklumi.

.

.

Bleach © Tite Kubo

Taiyou No Uta © Bandou Kenji

.

.

Warning: OOC/MissTypo/Abal/Gaje/Pendeskripsian kurang/plot acakadul/dll

Don't Like Don't Read!

.

.

Chapter Three

~Like a Stalker~

.

.


Dengan malas Soifon berangkat menuju sekolah –tempat paling ia benci. Kalau bukan untuk membantu Rukia, pasti sekarang Soifon masih bergelung di bawah selimutnya yang hangat. Ia tak tega saat melihat Rukia yang memandang sendu laki-laki yang ia juluki rambut jeruk itu.

Soifon ke sekolah hanya berbekal handycam. Dia tak berniat mengikuti pelajaran karna pelajaran yang diajarkan begitu membosankan dan Soifon sudah mempelajarinya semua sendiri, jadi untuk apa ia membuang-buang waktu untuk sekedar duduk sambil mendengar ocehan yang membuatnya merasa kantuk. Lebih baik tidur saja di rumah bukan?

Tak sulit bagi Soifon untuk mencari dimana letak kelas Ichigo, karna walaupun tidak mengetahui namanya tapi jika kita menyebutkan ciri-cirinya saja, hampir seantero sekolah tahu bahwa yang dicarinya adalah Ichigo karna dia sangat khas dengan rambut jeruknya itu.

Setelah mencari cukup informasi tentang Ichigo, Soifon langsung bergegas ke kelas Ichigo untuk merekam segala tindak-tanduknya. Soifon merekam Ichigo secara diam-diam disaat pelajaran Bahasa Inggris, terlihat Ichigo yang duduk dekat jendela sedang menguap, sepertinya merasa bosan dengan pelajaran yang sedang diterangkan. Lalu tak lama kemudian Ichigo merebahkan kepalanya di atas meja dan langsung tertidur.

Melihat kelakuan Ichigo, Soifon menggelengkan kepalanya dan bergumam "Dasar pemalas.", tak sadar bahwa dirinya juga sama pemalasnya dengan Ichigo, bahkan lebih parah.

.

.

"Dimama Rukia-chan?" tanya seorang laki-laki berjenggot dan berjas putih khas seorang dokter pada seorang wanita dihadapannya.

"Dia tak mau ikut." jawab sang wanita pelan.

"Seperti Rukia-chan yang biasa," dokter itu terkekeh "lalu bagaimana dengan keadaannya? Apakah dia mengalami suatu perubahan." tanya dokter itu dengan serius.

"Saya kira dia belum mengalami perubahan apapun, sensei."

"Kalian harus lebih memperhatikannya, jangan sampai ada perubahan sekecil apapun yang luput dari kalian berdua. Ini masa-masa rentan baginya." kata dokter itu bijak.

"Ya, Kurosaki-sensei. Saya mengerti." sahut wanita itu lemah.

"Sudah kubilang panggil Ishin saja, Hisana. Kita kan sudah lama kenal." ujar dokter itu sambil terkekeh.

"Tapi saya rasa itu kurang sopan." wanita itu tersenyum, tapi senyuman itu penuh dengan kegalauan.

"Ada apa?" Ishin sadar dengan ekspresi dari Ibu pasien tetapnya sajak 9 tahun yang lalu.

"Apakah sudah ditemukan obatnya?" tanya Hisana, wajahnya dipenuhi dengan pengharapan.

"Maaf, Hisana. Kami semua masih meneliti, belum ada obat yang benar-benar bisa mengobatinya. Kami hanya bisa membuat obat yang bisa menghambat gejala yang lebih lanjut saja. Tapi aku jamin, kalau obatnya sudah ditemukan aku akan segera memberi tahumu dan Byakuya." jelas Ishin.

Hisana hanya menunduk lemah, ia tahu harapan bahwa obatnya segera ditemukan akan sangat kecil, bahkan bisa dibilang bahwa harapannya nihil. "Ya, aku tahu kau pasti sangat berusaha. Tapi usia Rukia sudah tak akan lama lagi. Aku masih belum bisa menerima kenyataan ini." Hisana kemudian terisak, mengingat nasib buah hati satu-satunya mendapat cobaan yang begitu berat.

Ishin hanya memegang bahu Hisana, untuk sekarang, dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali ini.

.

.

Rukia dan Soifon sedang berada di kamar Rukia. Soifon sedang berbaring di ranjang Rukia sambil membolak-balik majalah –mencari sesuatu yang menarik. Sedangkan Rukia sedang duduk di depan layar televisi –melihat hasil investigasi Soifon.

Sedari tadi Rukia hanya tersenyum melihat hasil rekaman dari Soifon. Ia benar-benar terhibur dengan kelakuan-kelakuan konyol yang dilakukan Ichigo bersama kedua temannya.

"Namanya Ichigo Kurosaki." Soifon membuka percakapan.

"Eh?"

"Si Jeruk itu namanya Ichigo Kurosaki," ulang Soifon.

"Eh? Nama yang aneh, seperti nama anak perempuan." gumam Rukia.

"Haha. Aku juga berpikir sama sepertimu." sahut Soifon sambil tertawa."Ok, akan aku lanjutkan informasinya. Si rambut nanas merah itu namanya Abarai Renji, kalau si Kepang itu namanya Ggio Vega." lanjut Soifon.

Rukia hanya menganagguk-angguk saja mendengar kata-kata Soifon, "Sepertinya mereka akrab sekali ya." gumam Rukia.

"Menurut informasi yang aku dapat sih, memang begitu. Katanya mereka itu bersahabat sejak SMP, jadi wajar saja kalau mereka itu kelihatan akrab." Soifon membenarkan pernyataan Rukia.

"Lalu apalagi informasi yang kau dapatkan?" tanya Rukia penasara. Sedikit banyak dia jadi merasa seperti seorang stalker.

Melihat Rukia yang begitu antusias tentang Ichigo, Soifon jadi tertawa terbahak-bahak. Sudah lama ia tak melihat Rukia yang seperti ini.

"Kenapa kau tertawa, memang ada yang lucu?" tanya Rukia kesal.

Soifon menghentikan tawanya –tahu bahwa Rukia kesal dibuatnya, "Tidak ada apa-apa." Jawabnya sambil mengibaskan tangan kanannya dengan cengiran yang masih bertengger diwajahnya.

"Si Jeruk Strawberi itu anak seorang dokter di Rumah Sakit besar di kota ini. Dia anak sulung dari tiga bersaudara. Dia punya dua adik kembar yang tidak identik, namanya Karin Kurosaki dan Yuzu Kurosaki. Mereka berdua masih duduk di kelas 6 SD. Mereka tinggal di jalan Karakura, yang tidak terlalu jauh dari sini. Hobinya berelancar, dan walupun dia terlihat malas-malasan serta bodoh, tapi dia itu selalu mendapat peringkat antara satu sampai tiga di sekolah. Sungguh sangat mengherankan." Soifon menutup sebuah buku yang berisikan informasi tentang Ichigo tersebut.

"Eh, kenapa kau bisa tahu sampai sedetail itu sih?" tanya Rukia teheran-heran.

"Hehe. Begini ceritanya..."

Flashback

Ketika istirahat makan siang tiba, Soifon langsung bersiaga di depan pintu kelas Ichigo. Dia berencana untuk 'meminjam' salah seorang teman Ichigo yang kelihatannya agak sedikit mudah di 'bujuk', dan yang paling cocok adalah si Kepang, tak lain dan tak bukan Ggio Vega. Saat Ggio baru saja keluar dari kelas -entah untuk melakukan apa, yang jelas Soifon langsung menyambar tangan Ggio dan menariknya ketempat yang agak sepi, halaman belakang sekolah. Ggio sangatlah panik, dia sudah meronta-ronta tapi Soifon tak memperdulikannya dan terus menariknya sekuat tenaga. Soifon baru melepaskan tangan Ggio ketika sudah sampai ditujuan.

"Hei, m-mau apa kau?" tanya Ggio panik. "K-kau mau melakukan sesuatu yang buruk padaku ya?" tuduh Ggio.

Soifon yang mendengar itu hanya memutar bola matanya bosan. Dia berfikir 'Ini cowok bukan sih? Masa gitu aja takut sama cewek?'. "Aku kesini cuma mau bertanya padamu." akhirnya Soifon bicara.

"Hua! Jangan-jangan kau stalker ya?" Ggio menunjuk-nunjuk Soifon dengan telunjuknya.

'Ya ampu, ni cowok parah banget!' teriak Soifon dalam hati. "Diam, aku bukan stalkermu tau! Aku cuma mau nanya tentang orang yang bernama Ichigo Kurosaki, dan kau harus memberitahu semua yang kau tahu tentang Ichigo. Kalau kau tidak mau, aku akan membunuhmu!" ancam Soifon, aura kegelapan sudah menyelubungi seluruh tubuhnya.

Ggio yang melihat pemandangan horor di depannya pun menjadi takut. Dan akhirnya dia membeberkan informasi tentang Ichigo.

Flashback End

"Ckckck. Parah banget sih, aku jadi kasian sama si Ggio itu." ujar Rukia dengan penuh rasa iba.

"Haha, habisnya dia itu polos sekali, jadi sekalian saja aku kerjain." Soifon menjulurkan lidahnya.

"Ya, ya. Kau memang orang yang sangat jahil," Rukia memutar matanya, "hei, kalau kulihat-lihat sepertinya menjadi murid SMA itu menyenangkan ya. Kenapa kau malah suka bolos sih?" tanya Rukia heran, sahabat satu-satunya ini memang agak aneh.

"Menyenangkan dari sudut mana sih? Jadi murid SMA itu menyebalkan, tahu." sanggah Soifon yang menganggap bahwa sekolah itu sangat membosankan.

"Yah, kau bisa bertemu dan berteman dengan banyak orang, bisa bertemu dengan orang yang kau sukai disekolah dan masih banyak hal lainnya." jelas Rukia.

"Oh, aku mengerti maksud ucapanmu barusan. Kau ingin bertemu dengan si Jeruk itu ya? Ayo ngaku saja." goda Soifon.

Tanpa disadari, muncul semburan merah diwajah putih Rukia, membuatnya tampak sangat manis.

"Haha. Wajahmu memerah, lucu sekali!" Soifon tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang keram karena terlalu banyak tertawa.

"Oh, sudahlah. Diam kau!" bentak Rukia kesal.

.

.

Rukia selesai 'bermain' dengan gitarnya di stasiun, dan sekarang dia menyusuri jalan sambil melihat rekaman dari Soifon, dia benar-benar heran kok bisa-bisanya Soifon merekam tanpa diketahui Ichigo sama sekali. Rukia berhenti di halte tempat Ichigo biasa duduk menunggu teman-temannya. Karena merasa bosan, akhirnya Rukia mengeluarkan gitar dari boxnya.

Rukia bersenandung kecil sambil memetik gitar kesayangannya. Sebenarnya Rukia hanya mengulik lagu yang baru ia buat kemarin, itu juga baru separuh karena belum jadi lagu yang utuh. Rukia tak sadar bahwa sedari tadi sudah ada orang dihadapannya. Orang itu terpaku melihat Rukia, dan saat Rukia menyelesaikan senandung kecilnya itu, ia baru menyadarinya.

Betapa kagetnya ketika ia melihat Ichigo sudah berada dihadapannya, jarang sekali ia mengalami momen seperti ini. Selama beberapa saat Rukia dan Ichigo hanya saling menatap, mencoba menyelam kedalam mata masing-masing. Rukia yang tersadar lebih dulu dari aksi saling menatap itu mencoba menyapa Ichigo.

"K-konbanwa." Rukia tergagap dan semburat merah muncul di pipinya. Ia sangat malu untuk bertemu dengan Ichigo karena insiden menyatakan cintanya secara terang-terangan waktu itu.

"Konbanwa." sahut Ichigo, tiba-tiba ia merasa canggung bila secara langsung dihadapkan dengan gadis yang dicari-carinya selama ini. "Kau gadis yang waktu itu kan?" Ichigo merasa ini adalah pertanyaan bodoh. Tentu saja gadis yang didepannya adalah gadis yang waktu itu menyatakan cintanya secara terang-terangan padanya, memangnya siapa lagi.

Mendengar pertanyaan Ichigo, Rukia menunduk. Pastinya sekarang wajahnya sudah benar-benar seperti tomat. 'Kenapa pula Ichigo harus mengingat kejadian itu?' pikir Rukia. "Iya." jawab Rukia pelan.

"Kau baru selesai menyanyi di stasiun?" lagi-lagi Ichigo bertanya. Ia ingin sekali mengobrol banyak dengan Rukia.

"Hm." Rukia masih menunduk malu, dia tak sanggup bertatapan lagi dengan Ichigo, bisa-bisa dia meledak ditempat.

'Ugh, dia imut sekali kalau sedang seperti itu.' pikir Ichigo. "Lagu yang barusan kau mainkan itu bagus, lagu siapa itu?" tanya Ichigo, jujur dia sangat suka lagu barusan.

"Benarkah? Itu laguku." Rukia mendongak dan terlihat matanya sangat berbinar-binar.

"Wow, keren." ujar Ichigo, "Ngomong-ngomong aku belum sempat mengenalkan diriku," Ichigo berjalan dan duduk disamping Rukia, "namaku Kurosaki Ichigo. Salam kenal." Ichigo mengulurkan tangan dan langsung dijabat oleh Rukia.

"Maaf soal yang waktu itu." ucap Rukia sambil menunduk malu lagi.

"Tak apa-apa. Oh ya, rumahmu dekat sini ya? Kok kita kalau ketemu selalu disekitar stasiun terus ya?" tanya Ichigo, sebenarnya dia memang ingin tahu dimana rumag gadis yang telah mencuri hatinya tersebut.

"Rumahku disana." Rukia menunjuk sebuah rumah yang terletak di daerah yang agak tinggi.

"Wah, kalau dari sini terlihat sekali ya?"

"Memang."

DRRT. DRRT.

Ponsel Rukia bergetar, dia langsung mengambilnya dan melihat alarmnya tengah menyala. Rukia menghela nafas, sebenarnya ia masih ingin bersama Ichigo tapi ia tak bisa menghentikan waktu. Jadi terpaksa untuk Rukia beranjak dari tempat itu. "Ano, aku harus pulang sekarang. Senang bertemu denganmu lagi, sampai jumpa."

"Aku juga senang bertemu lagi denganmu, sampai jumpa." kata Ichigo, dan ketika Rukia berjalan menjauh tiba-tiba Ichigo memanggilnya kembali. "Hei, kalau liburan nanti aku pasti akan menontonmu di stasiun."

"Janji ya kau datang, jangan cuma bicara saja." balas Rukia.

"Pasti." kata Ichigo mantap, dia lalu melambaikan tangannya pada Rukia. Rukia pun balas melambai padanya dan tersenyum terus di sepanjang jalan. Dia tak sabar menantikan musim liburan.

~TBC~


balesan review bagi yang gak login:

Dela Chan: Tak apa-apa, hehe. Jelas aja pnyanyi fav Rukia itu Yui, wong authornya aja ampe tergila2 ma YUI. wkwkwk (tapi saya bkn YURI) XD. Thx Dela-chan dah ripiu :D

Anggra Way: Salam knal jg Anggra-san (blh kan aku pnggil gtu?) *nyumpel kuping pke linggis (?)*. Abis Ruki gak punya rem sih, jadinya main bablas aja, wkwkwk. Kan enakan main mlm2, jd kayak kalon *plakk. Thx ya dah ripiu :D

Erika-chan Kaoru males login: aku juga prnah baca fic mu yg jdulnya good bye days, tp gak ripiu #plakk. thx ya dah ripiu :D

Aoi KuchikiMizuu males login: Hallo juga! Haha, tak apa-apalah. Nah skarang dah update, thx ya bwt ripiunya :D

Fiuh, capek juga seharian nulis ini, maaf ya update agak lama cz baru masuk langsung padet kegiatan dan gak punya waktu luang. Fic ini fic terakhir yang aku publish sebelumH hiatus. Haha, hiatus mulu perasaan? Ya, apa blh buat, krna aku lagi sibuk xp. Aku bakal hiatus kurang lebih 2-3 bln, soalnya aku bakal ujian praktek, uas, dan dinas perdana di RS. Doakan semua kegiatan itu berjalan dengan lancar ya... TT_TT

Jangan lupa tinggalkan jejak di kotak REVIEW!

Adieu~

\090111/