Summary : Apa yang terjadi kalo desa Konoha ikut terlibas era globalisasi? Wah, gawaaaaatt!!! Nggak hanya para shinobi yang terlibat, tapi para Akatsuki juga ikutan kena imbasnya! Chapter 4 finally APDET!!
Disclaimer : Semua chara disini hanya milik mister tuan bapak ayah Masashi Kishimoto-sensei.
Warning : Sama kayak chapter kemaren. Liat aja deh, sono! –dilempar para senpai-
Akhirnyaaaaa~!!!! Akhirnyaaaaa~!!!! Akhirnyaaaaa~!!!! Datang jugaaaaa…..-digetok- Akhirnya saya bisa lanjutin lagi nih, penpik!!! Banzaiiii… Setelah stres sendiri sama bahasa lebai yang saya gunain di penpik romance, akhirnya saya memutuskan kembali dulu ke haluan genre humor! Yiipppi~!!!
Balesan REPIEW :
pink-violin (senpai) : Saya juga cinta senpaaaai~!!! (ditendang senpai) Anoo... yang kali ini SasuSaku enggak banyak muncul... Soalnya dari kemaren udah fokus ke mereka, jadi kali ini enggak. Nggak papa kan senpai? Chappie depan deh! :D Iyap betuul!! Kemaren adalah POV-nya si nanas!! Gomen, senpaai... chappie depan saya banyakin SasuSaku-nya! I'l promise! Okidoki? Ohya, manah spoiler penpik senpai yang Cherry Blossom blah-bleh-bloh ntu? (ditimpuk)
Kosuke Gege : Anoo... nggak usah senpai ya? (digampar) Ya! Betul sekali! Dapet mangkok cakep! Kemaren adalah POV-nya Shika! Ohya arigatou udah ngingetin kalau jutsu andalan Neji ituh jyuuken bukannya kuchiyose.... Arigatouu.... iya, ini apdetannya...
Dani D'mile Lucious-senpai : Buset ntuh nama panjang bener! (dijitak Dani-senpai) Yup! Kemaren jawabannya adalah POV Shika!! Yeeeyyy!!! -lebai- Iya, bener! Dasar si Rimo itu nggak modal!
Rimo : -entah dateng darimana- WUAPUAAA?? Lo bilang gue nggak modal??? Apaan lo! Sok tau aja! Tapi emang iya, sih.... (ditendang Dani-senpai)
dilia : -kembali setelah melepaskan iketan tali rapia si Rimo itu- Iyap! Kemaren ShikaTema aja yang nggak kena hipnotis. Soalnya Shika tidur dan Tema baru balik dari toilet. Iyaaa ini apdetannya! :D Ohya! Arigatou udah majang penpik Regret saya di propil senpai... meskipun tak bermaksud, tapi tetep aja bisa dijadiin ajang promosi... XD
Inuzumaki Helen-senpai : Busett, ntuh REPIEW pendek banget... (dibuang ke sumur karna protes mulu) Ho'oh! Bener! Jawabannya si Shika! Yeeyy!!! Keprok-keprok duluu... -lebai lagi-
kakkoii-chan (senpai) : Iya dong, punya alun-alun. Konoha punya keraton? Emang punya! Chappie depan saya munculin tuh, keraton! :) Ho'oh... saya salah soal jurus si Neji... harusnya jyuuken.. hehe arigatou udah ngingetin!! Yup, salam kenal juga senpai... (dengan muka innocent)
Hay0uki-chan : Iyaaa, silahkan diralat. Terima kasih ya sudah meralatnya... Saya baru inget, lemak nian itu bahasa Jambi... nyahaha!! Saya amnesia ama bahasa daerah sendiri! (digaplok ortu) Enggak papa kok, ngeralat...saya malah terima kasih banget.. :D
wit_chan : Iya, arigatou! Hoh? Kok banyak amat jawabannya? Maksud saya, siapa yang POV nya nggak ada keterangan kayak yang lainnya... Kalo Hinata kan, ada Hinata's POV... begicyu... nyahahaha! (sarap) Hah? Lucu POV-nya? Huweeee~!!! Makasih! Padahal POV-nya si Shino sama Tenten saya bikinnya lagi ngantuk... arigatou~!!!
himura kyou : Anoo... anda cewek atau cowok? Saya bingung manggilnyaaa.... nyahahaha!! (lagi-lagi sarap) Bedeeehh... bukan si Kiba ama Akamaru... Tapi si Shika... kan, Kiba ada noh, keterangan POV-nya... yang Magical Dreaming Samiming itu lho... yup, ini apdetannyaaa! :P
Uchiha Yuki-chan (senpai) : Wah! Senpai yang ber-colaboration dengan Dani-senpai bikin penpik yang judulnya 'Anime... Anime... apa judulnya ya? Lupa saya... (digetok) Setting-nya jaman batu biar dramatisasi-nya terlihat senpai... (halah) Iya, di chappie pertama, ngambil sudut pandang si Kiba. Nyahahaha! Iya tuh, si Sasuke emang nggak sensitip! Kasian si Sakura... udah nyangka yang enggak-enggak... (ditonjok Saku) Yup! Betul! Kawat gigi~!!! Iya yah... jadi takut nih.. Jangan-jangan ntar nama saya dicatet di Death Note ama Light gara-gara nama KIRA dijadiin nama hama...aduuuh, i'm scared! -lebai lebai- Nyahaha! Makasih senpaiii.... :D
Okeh! Lanjuuud!!!
Kakuzu menghitung-hitung uang yang masih tersisa di kas Akatsuki bulan ini. Matanya berkilat-kilat penuh kemarahan. Gimana enggak, duit itu cuma sisa 100 perak doang! 100 perak itu begitu kecil bagi Kakuzu yang mata duitaaaaannnn~!!!!!
"Heh!!! Liat nih, duit kas kita cuma tinggal cepek doang!! Kalian sih, males banget kalo dimintain uang kas harian!" seru Kakuzu kencang memecah keheningan. Anggota Akatsuki lainnya serentak menoleh ke arahnya. Meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakan masing-masing.
Pein yang sedang senam SKJ langsung diam tak berkutik. Sasori berhenti dari kegiatannya main boneka Barbie dan Teddy Bear. Deidara berhenti ngomong un. Hidan berhenti bertasbih memuja Dewa Jashin. Zetsu tak berani menampakkan bentuk venus flytrap-nya. Kisame hanya terdiam, menyelesaikan kuliah pagi tentang 'pentingnya melestarikan sumber daya laut' lebih cepat. Konan berhenti melipat-lipat tubuhnya. Sampai-sampai Itachi juga berhenti nonton film bokep. Hanya Tobi the gud boy yang tetap mengemut permen loli rasa jeruknya penuh cinta.
Kakuzu yang merasa di atas angin karena diperhatikan, kembali bicara. "Sudah! Sekarang ayo kalian bayar sesegera mungkin tagihan kas kalian! Satu orang, satu milyar!" kata Kakuzu sembari mengulurkan tangannya khas salesman minta duit.
Mendengar itu, anggota Akatsuki lainnya langsung memasang run one thousand step no jutsu mereka, untuk kabur dari kejaran penagih utang macam Kakuzu. Namun sebelum jutsu itu mereka lakukan, Kakuzu sudah terlebih dahulu menangkap mereka dengan bantuan jantung-jantungnya yang lain.
"JANGAN KABUR!! Kalian boleh kabur setelah bayar utang kalian pada kas ini! Cepaaaaattt!!!!" teriak Kakuzu mulai tarik darah –tarik urat naik darah-.
Akatsuki lainnya hanya terdiam masih dengan posisi siap kabur mereka masing-masing. Kakuzu benar-benar marah kali ini. Ia baru akan berkata lagi ketika Akatsuki lainnya segera menyela.
"Kita ENGGAK punya duit Kakuzuuuuuu, un!!!!! Hiksuuuu…un. Jangan bunuh kami, un!!!" seru mereka berbarengan. Begitu kompak dan seirama. Uoh, memesona telinga yang mendengarnya.
Kakuzu menatap mereka tak percaya. Sedang para Akatsuki lainnya segera membuat puppy eyes no jutsu, namun wajah kriminal mereka, membuat mereka tak dapat melakukan jutsu itu dengan sempurna.
Kecuali Sasori, Konan, dan Deidara tentunya. Mereka memang dasarnya udah kawaii, jadinya mau puppy eyes no jutsu kek, pupil eyes keluar kek, ato belekan eyes jijay sekali, tetep aja mereka keliatan amitnya. –digorok- Ehm, maksudnya keliatan imutnya.
Sedang yang lain mati-matian ngebikin puppy eyes no jutsu, yang keluar malah garang eyes no jutsu. Dan tentu aja itu malah bikin Kakuzu makin nggak percaya sama mereka.
Ia menyipitkan mata ijonya pada mereka. "Kalian pasti bohong kan? Bilang aja, kalian pelit!"
Akatsuki lainnya hanya pasrah pada keadaan. Mereka sakit hati nggak dipercaya oleh Kakuzu. Mereka sakit hati sudah dikhianati oleh Kakuzu. Ooh, mereka benar-benar ingin menangis sekarang… Kakuzu mengkhianati mereka!!! Tidak percaya pada mereka! Persahabatan mereka retak… Cermin di markas Akatsuki pun ikutan retak saking jeleknya Kisame yang lagi ngaca… (author dimakan Kisame)
Mereka menangis dengan air mata lebai berderai-derai. Menangis histeris yang membuat orang yang mendengarnya langsung merinding seperempat mati. Menangis pilu yang membuat mereka disambitin tetangga karna berisik. Menangis duka karena mereka tidak berhasil membohongi Kakuzu…
Sebenernya mereka memang punya duit, yah tapi sesekali pelit dikit ama Kakuzu yang pelit banyak nggak apa-apalah. Begitu pikir mereka. Namun sayang tetaplah sayang, ternyata Kakuzu bukanlah orang yang mudah dibohongi.
Tapi meskipun udah kepergok bohong, mereka tetap enggak mau ngasih duit mereka!
Sekali NO, tetep NO!!! Katakan NO! pada narkoba! Eh salah! Katakan NO! pada orang yang maksa kita bayar utang!
Tiba-tiba Pain dapet ide yang menurutnya cukup jenius dan fantastic four.
"Kakuzu… kau ingin membuat kas kita penuh lagi?" tanya sang leader sambil menghidupkan kembali musik dangdut sebagai temannya bersenam SKJ-ria.
Kakuzu mengangguk pasti, "Ya eyalahhh!!!"
Pain menyeringai, "Kalo gitu kita…-
Hinata lagi-lagi mengundang anak-anak shinobi ke rumah gubuknya ehm, maksud saya rumah mewahnya untuk melihat barang modern ap, yang sudah masuk desa Konoha. Dan tentu saja anak-anak shinobi dengan senang hati datang ke rumah Hinata. Lumayan, makan gratis book!!
Kali ini semua diundang Hinata, tak terkecuali Ino dan Chouji. Sepertinya Hinata dan Neji sudah merelakan rumahnya jadi tempat bergosip Ino dan makanan mereka amblas dimakan Chouji.
Kali ini pun Shikamaru tampak akan datang ke rumah mereka. Ya, seperti biasa, awalnya Shikamaru nggak mau dateng. Merepotkan katanya. Tapi begitu Temari dateng ke rumahnya, Shikamaru langsung mengiyakan untuk datang dengan meninggalkan wajah malasnya sebelum dikipas Temari sampe ke Afrika Selatan.
Intinya, rumah Hinata dan Neji yang adalah gubuk, ehm maksudnya yang adalah rumah mewah, penuh dengan anak-anak shinobi yang dengan noraknya datang kesana. Hinata sih, senang-senang saja selama Naruto darling-nya itu datang juga.
Tapi yang kasian saat itu adalah Neji. Dia harus memasak ekstra banyak untuk acara kali ini karena si Chouji juga diundang. Dia masak dari jam 12 malem sampe jam 5 pagi, belum selesai-selesai juga. Maklum, jaman-jaman ini, mereka belum make kompor minyak. Apalagi kompos gas. Mereka masih masak dengan kayu bakar.
Dan bagian terberat menurut Neji adalah itu. Bagian saat dia harus meniup kayu bakar agar menyala. Sumpah deh, niup kayu bakar tuh susah banget. Nafas jadi sesak, wajah jadi agak gosong, bau asep, punggung pegel-pegel, timbul jerawat pada wajah, hidung mampet, bau mulut, panas dalam, minum Adem Sari!
Intinya si Neji kasian banget, soalnya Hinata pun nggak bisa bantu apa-apa sebab Neji memang harus bekerja seperti itu di rumah ini. Sebab Neji adalah seorang babu. (disetrikaNeji)
Neji masih berusaha meniup kayu bakar itu walaupun dirinya sudah terengah-engah. Chakra-nya sudah habis sedari tadi saat ia mencuci baju, ngepel, nyapu, nyetrika, pangkas rumput, pangkas rambut, dan segala macam pekerjaan rumah lainnya.
Hinata berdiri di sebelahnya dan berusaha menyemangatinya. Sesekali Hinata menawarkan diri untuk membantu, namun Neji menolak halus. Neji tau kalo ini memang pekerjaannya. Ternyata Neji sadar diri sebagai babu.
Tapi Hinata benar-benar tidak tega melihat Neji yang terlihat benar-benar lelah itu. "Ano… Neji-niisan… biar aku gantikan sebentar…mm…a…aku juga bisa kok…," ucap Hinata masih berusaha membujuk Neji yang tak mau dibantu.
Neji menoleh pada Hinata lalu menggeleng dan tersenyum sedikit.
Hanabi yang melihat Neji jadi gemes pada kakak sepupunya satu itu. "Udaaaah… Neji-niisan! Kalo enggak mau dibantuin Hinata-neechan, biar Hanabi yang bantuinnnn!!" ucapnya sambil berusaha menyingkirkan Neji dari tungku tempat kayu bakar.
Naji masih keras kepala dan bersikeras tak mau dibantu oleh kedua adik sepupunya itu. Melihat Hanabi berusaha menyingkirkan Neji dari tempatnya, Hinata malah ikut-ikutan. Jadilah mereka dorong-dorongan ke kiri dan ke kanan.
Hiashi yang melewati dapur cengok melihat ulah mereka bertiga. Matanya mengikuti gerak para anak shinobi klan Hyuuga itu.
Hanabi dan Hinata mendorong Neji ke kiri-dan Neji balik mendorong mereka berdua ke kanan-Hanabi dan Hinata terus mencoba mendorong Neji ke kiri-Neji balik mendorong ke kanan lagi-kiri-kiri-kanan-kanan-kiri-kiri-kiri-kanan-kanan-kanan-kiri-kanan-kiri-kanan. Begitu seterusnya sampe Hiashi puyeng.
Hiashi akhirnya habis kesabaran lalu menghampiri mereka bertiga, "Eh! Ini pada ngapain sih? Kiri-kanan-kiri-kanan! Bingung tauk lihatnya!" ucapnya dengan kata-kata keluar dari EYD yang benar.
Hinata, Hanabi, dan Neji menoleh dari kegiatan yang sedang mereka lakukan itu, saling bertatapan lalu nyengir pada Hiashi. Tampang mereka sudah siap sedia takut dimarahi om-om satu itu.
"Emm…kita lagi… mm… mau niup kayu bakar… ottou-sama…," jawab Hinata takut-takut. Rambut panjang biru tuanya dibuatnya menutupi sebagian wajahnya yang sudah pucat pasi.
Hiashi mengerutkan kening, "Loh? Kok niup kayu bakar sambil senggol-senggol kiri-kanan gitu?" tanyanya lagi-lagi dengan tidak memperhatikan EYD.
Giliran Hanabi yang siap menyediakan alasan, "Mm… itu ottou-sama… biar acara niup kayu bakarnya jadi asik!! Y…ya kan Neji-niisan? Hinata-neechan?" katanya sambil tengak-tengok kiri kanan cari pendukung.
Serentak Hinata dan Neji yang masih memegang tiupan pun mengangguk kencang-kencang sampe leher mereka kecengklak.
Hiashi melihat mereka sekali lagi dengan pandangan menyelidik lalu mengangguk-angguk. "Ya sudah, daripada kalian malah ribut senggol-senggolan gitu, biar Ayah saja yang meniupnya!" kata Hiashi sambil menyingkirkan Neji.
Neji bengong saja melihat Paman yang sudah dianggapnya Ayah itu menyingkirkannya dan merebut alat tiupan itu dengan kecepatan cahaya. Neji bahkan belum sempat mengedip saking cepatnya gerakan Hiashi.
Hiashi tersenyum saja melihat tampang bengong Neji kemudian mulai meniup kayu bakar itu semangat.
BWUUUUURRRR!!!!
Dan hasilnya… luar biasa!!! Exlentooo!!!! Amazing!!! Fantastic!!! Wonderfull!!! Suggoi!!!
Begitu Hiashi yang meniup tungkunya, api kayu bakar yang tadinya ngumpet-ngumpet di sela kayu bakar langsung membara hingga mulai membakar seluruh kayu yang ada.
Neji, Hinata, dan Hanabi yang melihatnya bertepok tangan kagum. Daritadi mereka udah berebutan niup, apinya enggak muncul-muncul juga. Tapi begitu Hiashi yang niup, apinya seperti menuruti Hiashi agar membakar kayu-kayu itu. Wew… mereka masih kagum.
'Jangan-jangan itu api naksir Ayah/Paman Hiashi lagi?' pikir mereka bertiga bodoh sekali.
Hiashi masih harus meniup 4 tiupan lagi agar kayu tersebut terbakar sempurna. Tapi begitu tiupan ketiga ia lancarkan, Hiashi tiba-tiba terdiam di depan tungku kayu bakar itu. Anak-anak shinobi klan Hyuuga hanya menatapnya penuh kekaguman dengan sorot mata yang bersinar. Dikira mereka Hiashi lagi ngumpulin chakra atau apa. Tapi ternyata…
"Eh busett!! Onnechan! Ayah kenapa tuh?" Hanabi berteriak histeris sambil menunjuk-nunjuk Hiashi yang sedang terkapar megap-megap kayak ikan mas koki.
Hinata langsung gelagapan, ikutan panik. "Ne… Neji-niisan! To…tolong! Bengek-nya Ayah k…kumattt!!!"
Semua anak-anak shinobi sudah berdatangan ke rumah Hinata. Akhirnya setelah menangani insiden Hiashi bengek itu, Hinata dan Neji dapat juga, menyelesaikan masakan mereka.
Mereka pun kemudian menyambut anak-anak shinobi yang sudah datang ke rumah gubuk –mewah maksudnya- mereka dengan tubuh lelah luar biasa.
"Hei Hinata… Arigatou udah ngundang kami lagi ke sini…," terlihat Sakura yang sedang menggandeng Sasuke, tersenyum pada Hinata. Sasuke ikutan mengangkat sudut bibir kanannya sedikit.
Hinata balas tersenyum, "Iya sama-sama… silahkan masuk ke dalam, semuanya sudah berkumpul." Kata Hinata sambil menyilahkan pasangan itu masuk ke dalam. Setelah itu dia sendiri, beserta Neji ikut masuk ke dalam.
Dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat pemandangan di dalam. Mereka shock setengah mampus. Shock-seshock-shocknya-shock. Seketika itu juga mereka terdiam di depan pintu dengan wajah berkeringat dingin.
Mereka meamandang kenyataan menyakitkan itu dengan tatapan lemas. Sungguh, mereka merasa tubuh mereka kini tak bertulang. Merosot dengan lemas ke lantai rumah mereka seperti jelly. Mata mereka masih terbelalak kaget.
Namun kali ini mereka terlihat marah. Tapi terlalu capek untuk marah.
Pain baru selesai menceritakan ide cemerlangnya itu setelah tiga jam. Padahal idenya itu hanya terdiri dari satu kata. Tapi ngucapinnya, lama minta amplop!
Akatsuki yang lain ingin menggetoknya dengan palu sampe mati, tadinya. Hanya tadinya. Begitu nyadar yang ada ntar malah mereka yang mati, maka mereka pun memutuskan tak jadi menggetok Pain.
"Jadi… Ayo kita lakukan sekarang!" seru Kakuzu nepsong. Nepsong pengen cepet-cepet dapet duit. Ia langsung bersiap-siap memakai ransel Dora-nya dan bergegas keluar ruangan.
Pain menarik tali tas Kakuzu kesal. "Jangan dulu! Ada sesuatu yang harus kita lakukan terlebih dahulu!" kata Pain sambil menyeret Kakuzu kembali ke dalam ruangan markas.
Deidara mengerutkan keningnya, "Apa, un? Apa yang musti kita lakukan lagi, un?" tanyanya sambil membuat variasi baru bom-nya. Bom kali ini bernama d1L14. (Author digaplok. Keliatan banget pengen nampang)
"…" Pain tak menjawab pertanyaan Deidara tadi.
"Apa, un? Kok tak dijawab, un? Mm… apakah kita harus mengatur rencana dulu, un? Tapi itu tak seperti cara kerja kita yang biasa, un." Deidara berucap lagi. Kali ini dia meninggalkan pekerjaannya dalam membuat variasi baru bomnya yang bernama d1L14 itu.
"Bukan." Jawab Pain pendek.
Kakuzu yang sudah tak sabar mencoba menebak. "Apa kita harus mempersiapkan alat-alatnya? Tidak bisa! Kas kosong!"
Dengan helaan nafas, Pain menggeleng cepat. "Bukan, bukan itu."
"Apa kita harus berdo'a dulu pada sang Dewa Jashin?" tanya Hidan kemudian. Pain memandang ke arahnya lalu memberi sinyal 'ya bukan lahh-masa'-ya bukan dong!'
"Itu sih, elo aja!" timpal Sasori dingin. "Ng…aku tahu. Kita harus mempersiapkan kugutsu Barbie dan Teddy Bear-ku dulu kan?" katanya datar. Seketika Pain menyambit Sasori dengan sebelah kaki boneka Barbie-nya.
"Jelas bukan itu! Dasar bodoh! Kita pasti harus menikmati film bokep dulu kan?" Itachi yang mesum memberikan pendapatnya sambil ngiler-ngiler.
Pain melempar tisu gulung buat toilet ke arahnya. "Bukan! Makan tuh, tisu! Iler elo keluar noh!" serunya kesal setengah tewas.
Itachi hanya nyengir dan melap ilernya dengan tisu gulung itu. Ajaibb!! Tisu gulung yang banyak itu langsung habis dalam sekejab saking banyaknya iler Itachi!!! Amazing… Very very wonderful…
"Lalu apa?" Konan yang mulai tidak sabar segera menghardik Pain-nya (cieee) itu. "Sebelum aku melipat-lipat tubuhku jadi pesawat kertas lagi nih!"
Pain mendesah sok putus asa. "Tentu aja kita harus senam SKJ dulu!!!" serunya kemudian dengan semangat 2008.
Semua langsung menimpuknya dengan barang masing-masing. Dan barang Deidara adalah yang paling ampuh. Beberapa detik setelah dilempar, terdengar bunyi DOAARRR!! BUMMM!!!
Dan Pain pun berjanji tak akan senam SKJ lagi. Ia pun menyuruh Akatsuki segera menjalankan misi khusus itu.
Hinata dan Neji menggeleng tak percaya. Mereka menutup mata mereka rapat-rapat. Berharap ketika membuka mata, semua itu tak terjadi. 'Hanya mimpi. Hanya mimpi…' batin mereka berusaha meyakinkan diri.
Dengan perlahan dan sedikit takut, mereka membuka mata. Tapi itu tak berubah. Kenyataan menyakitkan itu tetap ada di hadapan mereka. Terbentang dengan begitu indahnya hingga membuat Hinata pingsan.
Neji membiarkan tubuh Hinata tergolek tak berdaya dan memasuki ruangan beratap langit di depannya itu.
Kemana atap rumah gubuk, ehm, mewah klan Hyuuga? Kemana semua dindingnya? Kemana perabot-perabotnya???
Kenapa yang ada hanya pintu depan dan kemudian saat masuk sudah menjadi tanah lapang???
Dengan aura membunuh, Neji mendekat ke arah anak-anak shinobi lain yang sudah mundur-mundur ketakutan. "A…PA… YANG… KA… LI…AN… LAKUKAN… PADA…RUMAH INI???!!!!" teriaknya menahan amarah.
Shikamaru yang angkat suara meskipun dengan setengah mati menghindar dari tebasan kipas Temari.
"Anu… Neji… Tadi Temari ngamuk padaku yang bermuka malas ini. Dia ingin mengipasku, tapi yang terkipas justru rumah ini beserta atap-atapnya….," ucapnya lemah.
Neji gemetaran menahan amarah mendengar itu.
"JYUUKEN!!!!" Dan semua anak shinobi langsung jatuh bergelimpangan. Kecuali Tenten.
Anggota Akastsuki baru saja akan datang ke rumah klan yang terkenal kaya, klan Hyuuga. Untuk mencuri barang yang kabarnya baru beredar limited edition di pasaran. Benda yang ingin ditunjukkan Hinata pada anak-anak shinobi.
Ketika mereka dengan semangat lari-larian menuju rumah klan Hyuuga, tau-tau ada sebuah benda besar berwarna putih terbang dan mendarat pas di wajah Kisame. Kisame langsung merasa banyak burung pipit berputar di kepalanya dan pingsan seketika dengan banyak darah keluar dari hidungnya.
Anak-anak Akatsuki yang lain menatapnya. Mengkhawatirkannya dengan kecemasan tinggi. Anuu… bukan mengkhawatirkan Kisame, tapi mengkhawatirkan barang yang baru saja menabrak ikan hiu itu.
"Heyyy!!! Ini dia yang kita cari!!! KULKAS!!! Yeahh!!! Kita bakal kaya mendadak nih!" ujar Pain sambil melompat-lompat senang ala Teletabis.
Kakuzu menatap Pain dengan mata terbelalak dan akhirnya mengikuti Pain melompat dan menari dengan wajah luar biasa riang gembira. Anggota Akatsuki lainnya pun akhirnya mengikuti gerakan tarian kebahagiaan mereka berdua.
Melupakan Kisame yang sedang kritis menghadapi hidup-matinya. Kritis karena ia baru saja menabrak benda bertitle'kulkas' yang dari namanya sudah ketahuan kalau bentuknya besar sekali.
Mereka menari bahagia di atas penderitaan Kisame.
Pesan moral : Ternyata arus globalisasi dapat membuat kita melupakan persahabatan dan kepedulian kita terhadap ikan hiu.
Nyahahaha!!! Apa ini? Kok begini ceritanya?? Akh, sudahlah! Jadinya begini…mau gimana lagi? (diterjunin ke jurang ama para senpai)
Okeh, pertanyaan buat chappie ini ya…
-Kenapa Tenten nggak di jyuuken Neji?
Jawablah dengan kreatifitas kalian sendiri! Okeh, REPIEW pliiss??? Nyahaha!!!!
