Winter Story
Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim Junsu
Park Yoochun
Shim Changmin
Serta cast yang lainnya
Rated : T—M
Warning : Boys love, Yaoi, GSHeechul [Cerita ini murni hasil pemikiran Author dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan apapun.]
Disclaimer :
Seluruh pemain disini bukan milik Author. Mereka adalah milik diri mereka sendiri, Management serta Tuhan YME. Author hanya meminjam sebentar, ne!
.
.
_This story Original _
by
Nyangiku
.
.
''If you don't like, Don't read it"
Tidak suka? Jangan baca!
.
.
Bagi yang sudah menyempatkan untuk membaca—
.
.
Onegaishimasu
~Selamat membaca~
.
.
"Apa dia benar-benar tidak akan kembali lagi?" Jaejoong menghentikan langkahnya tepat di depan dua buah ayunan kosong yang sedikit bergoyang akibat hembusan angin yang cukup kencang.
Angin musim gugur akan segera berakhir dan tergantikan oleh angin musim dingin.
Jaejoong meraih sebelah rantai ayunan berwarna biru dan kuning itu lalu menggenggamnya erat setelah sebelumnya meletakkan boneka gajah besar yang ia bawa di ayunan kosong sebelahnya. Berat badannya tidak terlalu berat tapi entah kenapa beban di pundaknya terasa melelahkan sekali. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya menjalani hidup ini dengan semangat yang selalu naik turun saat mengingat kejadian yang pernah ia alami di masa lalu.
Berharap seseorang yang telah pergi jauh itu pulang kembali.
"Bahkan rumahnya telah di tempati oleh orang lain yang memiliki tinggi seperti titan," gumam Jaejoong pelan. Menundukkan kepalanya sambil berayun pelan. Ia benar-benar ingin lepas dari masa lalu kelamnya yang selalu membuatnya merasa sendirian walaupun tengah berada di keramaian.
Lalu siapa yang akan membantunya?
"Jaejoong-hyung? Ini benar Jaejoong-hyung kan? Omo! Omo!" Jaejoong menoleh setelah menghentikan ayunan yang ia naiki. Sosok pemuda dengan tinggi luar biasa bertolak belakang dengan wajahnya yang kekanakan berdiri tepat di sebelah kirinya. Dengan bibir tebal yang tersenyum serta mata bambi yang menatapnya takjub.
"Dari mana ku tahu namaku?" tanya Jaejoong ragu, jujur saja ia baru pertama kali bertemu dengan pemuda yang mungkin berumur lebih tua darinya—di lihat dari tinggi badannya yang luar biasa—dan pemuda itu bahkan mengetahui nama Jaejoong lebih dahulu.
Siapa kah orang itu? tentu saja yang pasti bukan orang yang ia rindukan dari masa lalu.
"Minnie, Changminnie!" seru pemuda itu dengan semangat. Ia meletakkan kantung belanjaan yang seluruhnya berisi makanan di dekat ayunan yang di tempati si boneka gajah, kemudian tanpa permisi merengkuh bahu sempit Jaejoong sehingga Jaejoong terpaksa bangkit dari ayunannya lalu memeluknya dengan erat.
"Minnie..?" Jaejoong sempat berpikir keras sebentar, nama barusan seakan pernah terdengar di telinga nya namun ia tak ingat kapan.
.
.
.
"Oh, dia adikku, Changmin." Bocah kecil bermata musang itu meletakkan bola basket yang ia bawa. Sedangkan bocah kecil yang cukup tinggi untuk seumurannya itu mengikuti langkah sang kakak sambil menjinjing plastik berisi makanan yang di beli di minimarket yang berada di belokan sebelum taman dimana mereka berada.
Sebenarnya Yunho kecil ingin lebih dulu menjelaskan kenapa ia bisa terlambat datang bermain, namun tatapan bingung dari tiga temannya ketika melihatnya datang dengan membawa seorang bocah dengan wajah polos dan tinggi badan yang luar biasa membuatnya lebih dulu memperkenalkan sang adik yang sudah membuatnya repot di hari pertama ia menginjakkan kaki di lingkungan baru.
"Dia tidak mirip denganmu, Yun." kata Yoochun polos dan di hadiahi pelototan oleh Changmin kecil.
"Memangnya kenapa kalau tidak mirip?!" jawab Changmin sebal. Mereka memang kakak beradik, tidak harus mirip kan? Kecuali kalau mereka kembar.
"Minnie. Aku suka jika aku di panggil Minnie, noona." Changmin kecil duduk dengan polosnya di kursi taman sambil memakan cemilan kesukaannya—yaitu keripik kentang. Setelah berkata dengan nada sebal ia kembali pada mode kalem dan polosnya. Seolah-olah ia adalah makhluk paling polos di muka bumi.
"Mwo? Siapa yang dia bilang noona? Chunnie, dia tidak mengira aku ini yeoja, kan?" tanya Junsu kecil pada Yoochun kecil yang hanya menggeleng menjawab pertanyaan Junsu. Sepertinya Yoochun kapok tidak ingin di bentak oleh Changmin lagi.
"Kau tidak bilang punya adik, Yunnie." Jaejoong kecil menatap bocah berumur enam tahun itu dengan tatapan takjub. Jaejoong memang tidak mempunyai satu adik pun, sama halnya Junsu yang hanya memiliki kembaran dan Yoochun yang memiliki satu adik laki-laki namun tinggal terpisah. Jadi wajar saja jika reaksinya pertama kali melihat Changmin begitu.
"Noona ini yang sering Yunho-hyung ceritakan padaku? Kecantikannya sesuai dengan bayanganku," Changmin pun meletakkan cemilannya bangkit dari duduknya lalu menghampiri Jaejoong. Meletakkan tangan mungilnya dan menangkupkannya di wajah Jaejoong.
"Wajah ini akan selalu kuingat sampai dewasa." ucapnya dengan nada dan ekspresi serius.
"M-mwo?"
Jaejoong membulatkan matanya. Terkejut dengan apa yang di katakan bocah kelas satu sekolah dasar itu yang menurutnya terdengar dewasa untuk dikatakan anak seumurnya
"Ah, lupakan saja apa yang di katakan Changmin. Tingkahnya memang selalu berlebihan, maafkan aku maaf." dan lagi lagi Yunho harus membungkukkan badannya meminta maaf atas tingkah dan perkataan adiknya yang memiliki otak jenius itu.
.
.
.
"Kau masih mengingatku, Min?" Jaejoong mengusap setetes air mata yang entah kenapa keluar begitu saja dari matanya. Sungguh tidak terduga perkataan bocah berumur enam tahun yang kini telah bertambah tinggi yang duduk di ayunan sebelahnya terbukti. Jaejoong terharu dan terbawa oleh perasaannya.
"Aku menepati perkataanku kan? Noo-na." Changmin tersenyum bangga. Sebuah senyuman manis bukan lagi senyuman polos yang sering Jaejoong lihat dulu.
"YA! Jangan panggil aku dengan panggilan memalukan itu! akibat panggilan itu aku menanggung malu sampai sekarang tahu!" Jaejoong memalingkan wajahnya sambil cemberut. Tak lupa sebelumnya ia memukul-mukul Changmin dengan boneka gajahnya. Selain benci di bilang 'cantik' namja cantik itu juga benci di panggil 'noona' oleh siapapun.
Lagi pula, hei! Dia itu namja! Mana ada namja yang mau dipanggil Noona bukan Hyung?
"Aigoo.. Jae-noona—ah, Jae-hyung sampai menangis begini. Aku rasa aku akan di marahin Yunho-hyung kalau dia—"
"—Min, sejak kapan kau kembali ke sini?" Changmin tertegun ketika Jaejoong memotong kalimatnya tiba-tiba. Namun ketika sebuah cuplikan kenangan masa lalu terlintas dalam otaknya, akhirnya Changmin pun terdiam. Changmin mengerti apa yang telah terjadi di antara dua manusia itu.
Ia mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh pipi tirus Jaejoong yang pernah ia sentuh satu kali saat Changmin masih kecil. Menghapus setetes air mata yang menetes jatuh di pipi namja cantik berkulit pucat itu.
"Sudah hampir satu bulan—OMO! Jadi Jae-hyung tidak menyadarinya? Jae-hyung tidak mengenali wajah tampanku ini? Jae-hyung kejam!"
PUK!
Jaejoong memukul pelan kepala namja yang tinggi badannya kini melebihi tingginya itu. Mengelusnya pelan dengan penuh kasih sayang. Membuat Changmin semakin tersenyum lebar. Changmin suka diperlukan seperti itu oleh Jaejoong.
"Oh ya, hyung! Aku baru saja membeli banyak makanan? Apa kau mau?" Changmin mengambil bungkusan plastik berisi makanan dan memaksa Jaejoong untuk memakannya.
.
.
.
15 menit sebelumnya.
"Min, apa masih lama? Hyung kan harus memasak makan malam untuk kita, kau mau tidak makan malam ini?" Yunho sejak tadi terus melihat jam di ponselnya, sedangkan Changmin masih asyik memilih cemilan yang akan di belinya. Dua jam lagi memasuki makan malam. Masih cukup lama? Tentu saja, itu bagi orang yang sudah terbiasa memasak. Namun bagi Yunho yang sama sekali tidak bisa memasak waktu itu amat sempit.
"Aku makan ramyun instan saja, lebih enak dari masakan hyung yang sangat amat tidak jelas dan tidak enak itu."
PLAK!
"Yaa.. Appo hyung." meskipun hanya di pukul menggunakan snack ukuran sedang berisi sedikit dan berangin banyak, jika itu yang memukulnya adalah Yunho dengan tenaga beruangnya maka akan tetap terasa sakit. Itu lah yang Changmin rasakan akibat ucapannya yang pedas barusan.
"Tapi bukankah itu memang kenyataan? Aku sarankan hyung untuk berhenti memasak dan kita delivery saja setiap hari, atau mencari ahjumma yang bersedia bekerja dirumah kita dan memasak setiap hari? Aku hanya khawatir rumah kita akan terbakar kalau hyung terus memaksakan diri memasak, hyung." cerocos Changmin seperti tidak akan ada habisnya dan membuat panas telinga Yunho.
"Bayar belanjaanmu sendiri, Jung Changmin." Yunho pun pergi meninggalkan Changmin sendirian menuju kasir untuk membayar belanjaannya, dan Changmin masih belum sadar karena ia masih bingung memilih antara keripik kentang rasa sapi panggang atau rumput laut yang saat itu sedang promo beli dua gratis satu. Yang sebenarnya hanyalah modus belaka agar orang mau membeli tiga dengan harga tidak berbeda jauh dengan harga aslinya. Dan Changmin sedang memikirkan itu, apakah ia mendapatkan untung ataukah rugi?
"Hyung, aku pinjam uangmu ya? sepertinya uangku kurang dan—" Changmin tertegun sebentar.
Hening? Dan tidak terdengar deru nafas dari sampingnya. Changmin mendadak memiliki firasat tidak enak.
Dan saat ia menoleh benar saja sang hyung tidak berada di tempatnya dan dia sudah keluar dari minimarket meninggalkannya sendirian.
"HYUUNG!"
.
.
Bagi Yunho meninggalkan Changmin tidak membuatnya merasa bersalah sama sekali. Toh, kalau ia masih berada disana justru dompetnya yang tidak akan selamat. Biarkan anak jangkung itu menghabiskan uang saku dan isi atmnya yang selalu utuh jika mereka pergi belanja bersama.
Yang ia pikirkan untuk saat ini hanya memasak makan malam. Ah, jadi teringat dulu ketika mereka masih tinggal utuh sebagai keluarga jika melewati taman kecil penuh kenangan itu. Disana, dulu ia selalu dibawakan bekal makanan oleh bocah cantik yang bersahabat dekat dengannya secara tidak sengaja. Walaupun saat itu umurnya masih sepuluh tahun namun keahlian memasaknya sudah baik. Andaikan saja ia bisa memasak seperti Jaejoong kecil.
"Yunho!" Yunho menghentikan langkahnya di depan taman saat suara Yoochun terdengar memanggilnya.
"Yo! Yoochun ada apa?" tanya Yunho.
Yoochun menggeleng. "Tidak. Hanya kebetulan melihatmu saja, jadi tidak ada salahnya kalau kita pulang bersama kan?" Yoochun segera merangkul bahu lebar Yunho dengan akrab. "Aku baru saja dari rumah Junsu, dia sedang memasak makan malam untuk dibawa kerumahku." Yoochun tersenyum lebar.
Yunho menganggukkan kepalanya merespon perkataan Yoochun. "Ah, begitu. Junsu bisa memasak sekarang?" tanya nya. Setahu Yunho, dulu Junsu itu tidak bisa memasak sama sekali. Bahkan ia sempat mengatakan kalau tidak akan mau belajar memasak.
"Jaejoong yang mengajarkannya, kau tahu? Masakan Jaejoong selalu menjadi nomor satu meskipun Junsu sekarang sudah mahir memasak juga. Terkadang Jaejoong selalu membawakan kami bekal yang banyak seperti dulu. Dia tidak pernah berubah sedikitpun."
Yunho terdiam mendengarkan Yoochun. Sedih rasanya tidak dapat tubuh dewasa bersama mereka, banyak hal yang telah ia lewatkan selama enam tahun ini.
"Jadi, Junsu akan datang kerumahmu membawakan makan malam? Bukankah itu aneh? Kenapa ia tidak memasak langsung dirumahmu?" pertanyaan Yunho itu seakan mengalihkan pembicaraan Yoochun. Namun hal itu tidak di ambil pusing oleh Yoochun. Yoochun tahu, Yunho sedang dalam masa sulitnya saat ini. Masalah dari masa lalu yang belum terselesaikan akan membuat Yunho sedih kalau Yoochun terus bercerita tentang kenangan mereka.
"Ya, itu memang aneh. Tapi baginya itu adalah cara paling efektif jika ingin benar-benar makan malam yang membuat perut kenyang. Bukan 'makan malam' yang lain." Yoochun menaik turunkan alisnya, dan Yunho tahu apa maksudnya itu.
Hah.. dasar pasangan mesum. Dan Yunho menjiplak julukan yang diberikan Jaejoong pada mereka.
"Boleh aku bergabung makan malam dengan kalian? Aku ingin mencoba masakan Junsu. Kita bisa memakan masakannya dirumahku." tawar Yunho. Akhirnya Yunho pun memutuskan tidak akan memasak makan malam hari ini. Memang benar kata Changmin, ia tidak perlu memasak. Tapi hanya untuk hari ini. Semoga saja Yoochun mau menerima tawarannya.
Yoochun tersenyum tulus. "Tentu saja! Junsu pasti akan senang kalau tahu kau bergabung."
"Tapi jangan berbuat mesum atau kalian ku denda!" ancaman Yunho hanya di balas oleh tawa geli dari Yoochun.
.
.
.
"Jadi, Yoochun-hyung membuat keputusan itu? dan sekarang hyung malah berkumpul bersama kami bukannya latihan bersama klub hyung?" Changmin membelalakkan matanya setelah Jaejoong selesai bercerita tentang apa yang ia alami saat rapat bersama Yoochun dan para ketua klub ekstrakulikuler sekolahnya empat hari yang lalu.
Disitu Jaejoong bercerita dengan jelas menjadi dirinya sendiri tanpa ada Kim Jaejoong yang angkuh dan tegas seperti saat memimpin klub musik. Di depan Changmin, dan dua namja lain yang berbeda umur. Jaejoong meruntuhkan segala tembok pertahanan dirinya. Ia bercerita seperti seorang anak gadis yang baru saja di putuskan oleh pacarnya.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama Kyuhyun sebelum raja iblis itu kembali ke Jepang untuk mengurus kepindahannya," elak Jaejoong. Dan si raja iblis yang di sebutkan namanya hanya berdiam diri asyik dengan game PSPnya.
"Biarkanlah Jaejoong menenangkan diri dulu, Minku." namja berwajah dewasa itu meminum es kopi nya dengan tenang.
"Alasan Jae-hyung saja," Changmin berdecih. Entah karena sebal dengan Jaejoong atau dua namja lain yang duduk di hadapannya.
"Berisik kalian, aku sedang fokus bermain tahu!" semprot Kyuhyun yang sejak tadi tidak merespon dan menanggapi curhatan Jaejoong yang panjang lebar serta telah menghabiskan waktu hampir dua jam.
Changmin pun menghampiri Kyuhyun lalu duduk disampingnya, merangkul namja berwajah imut itu dengan halus.
"Babykyu, matikan sebentar saja game-mu itu dan berikan solusi untuk Jae-hyung dengan otak jeniusmu itu." Changmin berusaha dengan sabar menghadapi kekasihnya itu agar beralih dari game nya yang sudah dianggap seperti belahan jiwanya. Sama halnya seperti Changmin menganggap makanan sebagai kekasihnya.
"Berisik kau bambi jelek!"
"MWO?"
"Haisssh sudah-sudah, kalau kalian akan memulai keributan lebih baik aku pulang saja lalu tidur. Kalian sama sekali tidak memberikanku solusi!" marah Jaejoong. Jaejoong bermaksud untuk bangkit dari kursi café namun suara berat Dongwook menghentikannya.
"Bagaimana kalau kita berlatih bersama?" kata Dongwook.
"Maksud hyung?" Jaejoong kembali duduk untuk mendengarkan lebih jelas kalimat dari Dongwook yang sepertinya belum selesai.
Dongwook kembali meminum es kopi nya untuk memberikan jeda dan itu membuat Jaejoong terlihat semakin tidak sabar mendengarkan pendapat dari pemuda itu. Ingin rasanya menarik-narik kerah kaus senior mereka itu agar cepat berkata.
"Kau, Minku. Bukankah kau juga memiliki kemampuan dance yang hampir menyamai Yunho?" akhirnya Dongwook pun berkata sambil menunjuk Changmin yang asyik memakan kentang goreng pesanannya disamping Khyuhyun sambil sesekali menyuapi kekasihnya itu. Changmin menatap Dongwook dengan bingung.
"Dia yang melatihku selama ini, bisa dibilang begitu. Hampir setiap ada waktu kita selalu berlatih bersama." kata Changmin masih di landa kebingungan dengan pertanyaan Dongwook yang sedikit out of topic jika di pikirkannya.
"Aku mengerti, mengerti—" Khyuhyun akhirnya meletakkan PSP kesayangannya. Menyingkirkan tangan Changmin yang akan kembali menyuapinya kentang goreng. Entah situasi apa ini Changmin semakin bingung dan Jaejoong malah semakin penasaran. Dan bukankah sejak tadi Kyuhyun tidak peduli dengan pembicaraan ini dan lebih asyik memainkan gamenya? tapi kenapa dia malah ikutan berbicara seperti Dongwook. Apa yang sedang terjadi disini? Pikir Changmin.
"Kau, Chwang. Kurasa kau yang harus melatih Jae-hyung untuk mempersiapkan kolaborasinya dengan hyungmu. Berhubung Jae-hyung tidak ingin berlatih bersama si beruang itu. Benar begitu kan maksud Dongwook-hyung?" jelas Kyuhyun panjang lebar. Dan diangguki oleh Dongwook sang pemilik ide awal yang di curi dan malah di jelaskan oleh Kyuhyun.
"Ide yang bagus, aku setuju. Bagaimana denganmu Min? apa kau mau melatihku? Tentu saja tanpa di ketahui oleh hyungmu yang jelek itu. Dan kalian berdua pun harus ikut membantu!" Jaejoong telah memutuskannya. Dia menerima ide dan saran dari Kyuhyun dan Dongwook. Dua orang itu mengangguk. Tapi Changmin masih diam. Ia sedang berpikir. Bukannya Changmin tidak setuju, hanya saja ia tidak begitu yakin apakah ia bisa melatih Jaejoong hyungnya diam-diam tanpa diketahui sang hyung. Mengingat mereka hanya tinggal berdua saat ini dirumah besar mereka.
Bagaimana caranya ia memberikan alasan pada hyungnya nanti?
Jaejoong menunggu reaksi Changmin selanjutnya dengan tatapan mata berbinar yang menyilaukan mata bambi Changmin. Ia juga sangat ingin membantu Jaejoong, dan ide dari Dongwook itu merupakan ide jenius.
"Apa lagi yang kau pikirkan?" tanya Kyuhyun sambil memelototi Changmin. Kalimat Kyuhyun memang sebuah pertanyaan, tapi tatapan matanya merupakan sebuah ancaman bagi Changmin.
"Baiklah. Aku memang ingin sekali membantu Jae-hyung. Mungkin ini sudah jalannya. Semoga dengan ini masalah yang Jae-hyung hadapi akan lebih mudah." putus Changmin pada akhirnya. Apa yang menjadi kecemasannya akan ia pikirkan nanti. Yang penting Jaejoong bahagia dan Kyuhyun tetap bersamanya.
Jaejoong tersenyum lebar. Satu masalah teratasi.
.
.
.
"Aku tidak terlambat, kan?" Jaejoong tersenyum lebar dan manis. Dengan menggunakan celana training berwarna abu dengan dalaman kaus lengan pendek berwarna pink yang dipadukan jaket dengan warna senada celana trainingnya. Berdiri di ambang pintu rumah Dongwook tanpa dosa. Diatas kepalanya langit masih gelap dan belum memancarkan sinar matahari sedikitpun.
Dongwook berdiri sambil mengucek kedua matanya yang sangat lengket dan mengantuk. "Apa kau bercanda Jae? Ini masih terlalu pagi!" geramnya. Bahkan mungkin Changmin dan Kyuhyun masih terlelap di dalam mimpinya.
Jaejoong hanya bisa nyengir. Ia terlalu bersemangat hari ini sehingga tidak bisa tidur semalaman dan memutuskan untuk datang kerumah Dongwook sepagi—sesubuh itu menggunakan sepeda nya. Tadinya ia ingin mengajak Changmin pergi bersama, namun mengingat mereka akan berlatih secara rahasia maka ia mengurungkan niatnya dan pergi sendirian.
"Aku hanya terlalu bersemangat. Boleh aku masuk untuk menumpang tidur sebentar sebelum Changmin dan Kyuhyun datang?" pinta Jaejoong. Dan tentu saja Dongwook mengiyakan permintaan itu mengingat hari masih sangat pagi yaitu jam empat dini hari. Dongwook tidak habis pikir bagaimana anak itu bisa sampai dengan selamat di saat orang-orang masih terlelap tidur. Apakah ia tidak memiliki sedikit ketakutan sama sekali? entahlah.
"Silahkan masuk, Jae." Dongwook menggeser tubuhnya dari daun pintu sehingga Jaejoong bisa langsung masuk. Dan tanpa disuruh siswa tingkat dua sekolah menegah akhir itu pun merebahkan dirinya di sofa empuk ruang tamu kediaman Dongwook yang memang sederhana dan berukuran tidak terlalu luas dibandingkan dengan rumahnya. Dongwook memang tinggal sendirian dirumah mewah nan minimalis itu, kedua orang tuanya berada di luar negeri untuk beberapa waktu.
"Apa kau tidak ingin beristirahat di kamar, Jae?" tanya Dongwook tidak tega melihat anak itu berbaring di sofa yang memang tidak diperuntukkan untuk tidur. Jaejoong menggeleng.
"Lanjutkan saja tidurmu, hyung. Aku disini saja." kata Jaejoong. Dongwook pun tidak bisa memaksa dan kembali ke kamarnya setelah mengunci kembali pintu rumahnya.
.
.
Bau masakan membuat Changmin berjalan dengan tidak sabar dari halaman rumah Dongwook setelah memarkir mobilnya. Bau masakan ini terasa familiar di indera penciumannya dan kebetulan sekali perutnya memang sudah lapar karena pagi-pagi ia bergegas pergi menuju hotel untuk menjemput Kyuhyun sehingga tidak sempat untuk sarapan. Dan bahkan ia mengacuhkan Kyuhyun yang langsung ia tinggalkan setelah keluar dari dalam mobil. Dan itu lagi-lagi membuat si gamer cemberut.
"Selamat pagi Sichi-hyung! Tumben sekali kau mema..sak.. Jae-hyung? Omo!" Changmin terkejut ketika melihat Jaejoong sedang memasak makanan dengan lincah di dapur Dongwook. Tadinya Changmin pikir seniornya itu yang sedang memasak, tapi ternyata disana yang terlihat adalah Jaejoong.
"Ah, Minnie kau sudah datang? Mana Kyuhyun?" tanya Jaejoong mengacuhkan keterkejutan Changmin.
"Aku disini hyung," jawab Kyuhyun langsung duduk di meja makan dan menyalakan game nya.
"Kalian sudah datang?" lanjut Dongwook yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Seperti yang hyung lihat. Apa kami terlambat?" tanya Kyuhyun. Dongwook menggeleng kemudian ikut duduk di kursi meja makan dengan posisi di samping Kyuhyun. Dapur Dongwook memang di desain minimalis, dengan jarak meja makan dan dapur yang hanya berjarak kurang dari sepuluh langkah.
"Kalian tidak terlambat, tapi murid kita justru yang datang terlalu pagi?" kata Dongwook santai setelah meminum segelas air putih.
Changmin yang sedang serius memperhatikan Jaejoong memasak pun menoleh ke arah Dongwook dan Kyuhyun berada. "Maksud hyung?"
"Orang yang sedang memasak di depanmu itu datang pukul empat pagi tadi,"
"Mwo?" Changmin dan Kyuhyun kompak bereaksi kaget.
"Sudah jangan di bahas lagi, yang penting dengan datangnya aku lebih dulu kan aku jadi bisa memasak untuk kalian bukan?" Jaejoong yang telah selesai dengan masakannya pun ikut bergabung ke meja makan di bantu Changmin yang membawakan masakannya dengan tidak sabar.
"Selamat makan!"
"CHANGMIN!"
.
.
"Pertama-tama yang hyung harus lakukan adalah berlari menyusuri blok ini setelah itu naik tangga disana, hyung mengerti?" jelas Changmin sambil menunjuk tempat yang disebutkannya. Dongwook dan Kyuhyun hanya berdiri dan diam mendengarkan perintah Changmin.
Jaejoong membulatkan matanya, "Omo?! Kenapa aku harus melakukan itu?" tanya nya. Masih agak shock melihat rute yang Changmin sebutkan.
Kyuhyun melipat kedua tangannya bersandar pada bahu Changmin. "Untuk meminimalisir cidera hyung," kata Kyuhyun.
"Pemanasan agar otot tubuhmu tidak kaget saat kita memulai latihan nanti," lanjut Dongwook.
Jaejoong menutup telinganya sambil memejamkan kedua matanya, tidak menyangka kalau untuk berlatih dance harus melakukan pemanasan seberat ini. "Aigoo.. ini menyusahkan sekali." keluhnya.
"Lakukan saja kami akan mengikutimu dari belakang." perintah Changmin tegas. Mirip seperti seorang pelatih Sepak bola professional. Dan dengan terpaksa Jaejoong pun melakukannya, melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Yaitu, berlari menyusuri blok perumahan Dongwook.
Pertama ia berlari dengan pelan, bahkan bisa dibilang ia seperti orang yang sedang berjalan cepat bukan orang yang sedang melakukan lari pelan. Ia bukan malas melakukannya, hanya saja ia ingin semua pemanasan ini cepat selesai. Tapi bukankah itu malah membuatnya semakin lama menyelesaikannya?
Biarkanlah Jaejoong dengan caranya sendiri.
Setelah berjalan cukup lama—menurutnya, Jaejoong merasakan kalau ia sejak tadi hanya berjalan sendirian.
Dimana Changmin dan yang lainnya berada? Bukankah mereka bilang akan mengikuti dari belakang? Jaejooong merasa seperti di bohongi. Saat ia akan menoleh ke belakang melihat ketiga temannya itu—
"Lakukan dengan benar atau kau belajar bersama Yunho-hyung!" suara tenor Changmin menyadarkan Jaejoong membuat Jaejoong mengurungkan niatnya. Ia pun kini berlari dengan benar meski tidak berlari secepat orang yang sedang mengikuti lomba lari.
"Kau berlebihan, Chwang. Kasihan kan Jae-hyung." protes Kyuhyun sambil mencubit pipi tirus Changmin.
"Aku hanya ingin mengerjainya sedikit, lagi pula Kim Ahjumma bilang kalau Jae-hyung itu jarang sekali berolahraga. Kerjanya sepanjang hari hanya tidur dan menyanyi saja. Sekali-kali biarkanlah dia berolahraga." Changmin terkekeh. "Tubuhnya memang kurus tapi yang aku tahu Jae-hyung tidak lemah. Aku sempat berpikir kalau sampai Jae-hyung kemarin ikut berlatih bersama Yunho-hyung, aku rasa tubuhnya tidak akan kuat dan bisa terhempas begitu saja oleh satu gerakan Yunho-hyung. Kalian tahu kan bagaimana tenaga Yunho-hyung?" lanjut Changmin.
"Hyungmu itu beruang dan bertenaga besar," sindir Kyuhyun. Changmin kali ini tertawa.
"Lalu, bagaimana caramu meminta ijin tadi pagi pada hyung beruangmu itu, Min?" tanya Dongwook. Matanya sejak tadi tidak beralih dari Jaejoong yang terus berlari kecil dengan kemungkinan sambil mengumpat.
"Oh, itu? aku bilang kalau seharian ini aku akan bermain bersama Babykyu~!" jawab Changmin sambil memeluk Kyuhyun gemas. Kyuhyun yang merasa risih di peluk Changmin di depan Dongwook. Dongwook pun hanya bisa menggelengkan kepalanya memaklumi sifat kekanakan anak jangkung itu meskipun di dalam hatinya ada sedikit rasa sakit melihat orang yang ia sukai memeluk pemilik hatinya.
Orang yang Dongwook sukai?
Kyuhyun? Bukan. Orang itu adalah Changmin.
Namja jangkung bermata bambi yang memiliki sifat kekanakan di balik tubuhnya yang jangkung. Junior yang ia kenal saat berkunjung ke sekolah dasar tempatnya pernah bersekolah yang juga tempat Changmin dan Kyuhyun bersekolah saat di Jepang.
Saat itu Changmin dan Kyuhyun belum menjadi sepasang kekasih dan Dongwook jatuh cinta pada Changmin yang ternyata adalah adik dari Jung Yunho, adik kelasnya saat sekolah menengah pertama. Saat itu Changmin terlihat polos dan kekanakan. Selisih umur mereka memang seperti anak tangga, dengan Dongwook sebagai yang paling tua. Di susul oleh Yunho yang memiliki selisih dua tahun darinya. Dan Changmin yang juga selisih dua tahun dari umur Yunho, sehingga total perbedaan umur mereka adalah empat tahun. Sedangkan Kyuhyun sendiri semuran dengan Changmin.
Mereka sering berlatih dance bersama dan pergi bermain bersama hingga tak lama kemudian Kyuhyun bergabung bersama mereka sampai Dongwook memutuskan untuk pulang ke Korea saat kelulusannya untuk melanjutkan kuliah di Korea.
Saat akan mengungkapkan perasaannya, Changmin mengungkapkan lebih dulu kalau dia dan Kyuhyun sudah berpacaran sejak mereka duduk di kelas empat sekolah dasar. Dan itu membuat Dongwook mengurungkan niatnya dan hanya bisa memendam perasaannya sampai saat ini.
"Dongwook hyung? Tidak ingin ikut dengan kami?" tanya Kyuhyun menyadarkan Dongwook dari lamunannya.
"Ah, ya aku ikut. Apa Jaejoong sudah selesai?" tanya Dongwook. Matanya mencari-cari keberadaan Changmin yang diketahui tidak berada disamping Kyuhyun.
"Changmin sudah duluan menyusul Jae-hyung di anak tangga sana," kata Kyuhyun sambil menunjuk ke deretan anak tangga yang merupakan jalan pintas tercepat menuju jalan raya untuk keluar dari komplek perumahan. Disana ada Changmin yang sedang memaksa Jaejoong untuk bangun dari duduknya.
Dongwook terkekeh. "Ayo," ucapnya sambil tersenyum.
"Aigoo.. kau benar-benar menyiksaku Minnie! aku tidak mau memasak untukmu lagi!" marah Jaejoong. Ia duduk sambil melipat kedua tangannya angkuh.
"Omo! Kumohon jangan katakan itu hyung! Aku tidak bermaksud menyiksamu. Tolong jangan berhenti memasak untukku!" pinta Changmin sambil memelas. Ia menarik-narik lengan Jaejoong agar Jaejoong mau memaafkannya dan menarik kata-katanya.
"Tapi kakiku benar-benar terasa sakit. Aigoo.. aku rasa setelah ini aku harus pergi spa." keluh Jaejoong lagi.
"Sudah selesai pemanasannya?" tanya Dongwook yang sudah tiba bersama Kyuhyun. Changmin menatap dua orang itu dengan tatapan memelas meminta bantuan.
"Rasakan sendiri Chwang!"
.
.
.
Changmin menyalakan mp3 player milik Dongwook setelah beberapa cukup lama memilih lagu yang akan di putarnya hingga akhirnya Changmin pun memilih satu lagu. Lagu dari boyband terkenal DongBangShinki atau lebih dikenal dengan TVXQ saat ini yang berjudul Keep Your Head Down.
Saat ini mereka sedang berada di studio dance pribadi milik Dongwook. Jaejoong yang baru pertama kali masuk ke dalam ruangan penuh dengan cermin itu menatap takjub sekeliling ruangan. Sempat merasa risih saat melihat pantulan dirinya di cermin dari segala sudut dan sempat sesekali mengagumi dirinya sendiri. Tingkah itu hanya di tertawakan oleh Dongwook dan Kyuhyun.
"Lihat dan perhatikan gerakanku, hyung."
Sebelum intro di mulai Jaejoong, Dongwook dan Kyuhyun menyingkir dari Changmin beberapa meter dan duduk memperhatikan Changmin yang mulai bergerak saat musik lagu tersebut di mulai.
Di menit pertama Jaejoong takjub dengan gerakan Changmin, sedangkan Dongwook hanya memandang datar Changmin dan Kyuhyun malah bermain game PSPnya. Changmin sendiri bergerak dengan focus tanpa rasa gugup.
Ketika menit kedua terlewati Jaejoong merubah ekspresinya menjadi horror. Rasa takjubnya hilang seketika. Dongwook mulai serius memperhatikan setiap gerakan Changmin yang terlihat lincah dan luwes di matanya dengan peluh yang mulai menetes dari pelipisnya membuat Changmin semakin imutdan membuat hati Dongwook bergetar. Dan Kyuhyun masih asyik bermain game.
Dan ketika lagu berdurasi sekitar empat menit lebih itu berakhir Jaejoong menutup kedua telinganya sambil memejamkan kedua matanya. Sesekali menggelengkan kepalanya bingung. Sambil bergumam 'ani, ani, ani'.
Lagu pun selesai dengan keadaan Changmin yang sedikit terengah karena ia menari dengan segenap tenaganya. Dongwook sudah bisa mengontrol getaran di hatinya. Dan Kyuhyun masih tetap bermain game tanpa terusik sedikit pun.
"Bagaimana Jae-hyung? Setelah melihatnya apa bisa langsung hyung praktekan?" tanya Changmin tanpa dosa.
Jaejoong memundurkan tubuhnya perlahan seperti seorang gadis yang hendak kabur dari preman yang menganggu perjalanannya. "Andwae.. andwae.. itu penyiksaan!" pekiknya berlebihan.
"Jaejoong benar, kau berlebihan Min." tambah Dongwook.
"Kau memang tidak berbakat menjadi pelatih," dan itu adalah komentar yang diberikan Kyuhyun.
Changmin membuka mulutnya tidak percaya dengan respon mereka atas penampilannya barusan. Changmin tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya.
"Tapi Yunho-hyung bilang dia akan membawakan lagu itu saat kolaborasi nanti—"
"APA KAU BILANG?!" Jaejoong memelototi Changmin. "Apa si beruang itu sudah gila?! Dia mau membunuhku dengan gerakan dan lagu itu? dasar beruang gendut jelek bermuka kecil tidak tahu diri alien musang jelek! Jelek! Jelek! Je—hmmftt" Jaejoong terus mengumpat meski Dongwook sudah menutupi mulutnya.
"Walaupun jelek tapi kau masih menyukainya hyung." ucapan Kyuhyun itu membuat Jaejoong menghentikan umpatannya dan diam dengan wajah memerah.
"Aku tidak menyukainya." elaknya setelah melepaskan tangan Dongwook dari bibirnya.
"Kita akan latihan apa terus berdebat?" tanya Dongwook. Berhadapan dengan anak remaja yang menjelang dewasa memang merepotkan. Keluhnya dalam hati.
"Tentu saja berlatih! Sudah setengah jalan aku tidak akan menyerah dan membuktikan pada si beruang jelek itu kalau aku juga bisa!" semangat membara Jaejoong membuat Changmin terharu meskipun ia harus mendengar kakak kandungnya terus di ejek sang hyung kesayangannya.
"Minku, sepertinya lebih baik kau mengajari Jaejoong gerakan ringan saja agar tubuhnya tidak kaku. Baru setelah itu kita ke gerakan yang lebih sulit." atas saran Dongwook akhirnya Changmin pun pasrah.
"Aku setuju." Tambah Kyuhyun.
Dan akhirnya mereka pun kembali memulai latihan. Kali ini Jaejoong di ajari mereka bertiga sekaligus. Di mulai dengan gerakan mudah seperti berbalik badan, berputar atau pun melangkah dan menggerakan kedua tangannya dengan seni.
.
.
.
TAP
TAP
TAP
BRAK!
Junsu dan Yoochun tersentak kaget saat pintu ruang presiden sekolah tempat Yoochun selalu berada di buka dengan kasar. Sudah lama sekali rasanya pintu itu tidak terbuka dengan cara kasar dan khas seperti itu. Walaupun sebenarnya baru seminggu ruangan itu tidak di kunjungi oleh Jaejoong dengan caranya membuka pintu seperti itu.
"Ada apa Jae? Sepertinya kau bersemangat sekali hari ini? Apa Kim Jaejoong kesayangan kita ini sudah baikan?" kata Yoochun dengan santai sambil membantu Junsu membetulkan posisinya yang tadinya duduk di pangkuan Yoochun dengan posisi berhadapan kini menjadi memangku Junsu di pahanya dengan posisi menyamping dengan kepala Junsu yang bersandar di dada bidangnya.
Asal kalian tahu saja tadinya sepasang kekasih itu sedang berciuman dengan panasnya sambil saling meraba sampai Jaejoong datang dan merusak suasana mereka untuk yang kesekian kalinya.
Jaejoong tidak menjawab pertanyaan Yoochun dan malah mengacak-acak meja kerja Yoochun yang penuh dengan tumpukan kertas. Rasanya meja kerja itu sudah mirip seperti meja seorang direktur di perusahaan besar saja.
"H-hei apa yang kau cari? Jangan merusak pekerjaanku!" panik Yoochun saat tumpukan kertas-kertas yang sudah di tata sedemikian rapi kini berantakan. Tadinya Yoochun ingin bangkit mencegah Jaejoong semakin menggila itu tapi pelukan erat Junsu mencegahnya. Junsu mengelengkan kepalanya, sambil bergumam, "Biarkan saja dia."
Dan Yoochun pun hanya bisa pasrah melihat Jaejoong memeriksa satu persatu lembaran kertas dan isi map-map pekerjaannya dengan teliti. Hingga satu buah berjilid yang sepertinya sebuah proposal bersampul kuning berada di tangannya. Jaejoong berjalan menuju sofa tempatnya biasa bersantai. Duduk disana dan langsung membaca isi proposal itu.
DAFTAR KEGIATAN DAN PARTISIPASI KLUB EKSTRAKULIKULER DALAM RANGKA MEMPERINGATI ULANG TAHUN SEKOLAH
Jaejoong membuka lembar pertama lembaran kerjas berjilid itu, tanpa membaca daftar isinya ia langsung membuka lembar demi lembar kertas itu hingga tiba pada bagian,
Klub Dance
Ketua : Jung Yunho
Rencana partisipasi :
Kolaborasi dengan klub music (ketua klub dance bernyanyi sambil menari bersama ketua klub musik; saran lagu dari klub dance "Keep Your Head Down" from TVXQ)
Menampilkan serangkaian hiburan dance variasi oleh seluruh anggota klub
Menjadi penari latar di penampilan grup band klub musik
….
Jaejoong menutup kertas berjilid tersebut. Benar apa yang di ucapkan Changmin, Yunho menyarankan lagu tersebut untuk dibawakan mereka berdua saat tampil nanti.
Apa maksud Yunho menyarankan lagu tersebut? Dan lagi Jaejoong sama sekali tidak tahu menahu soal lagu yang di sarankannya itu. dan belum di setujuinya.
Bukankah gerakan dance di lagu itu juga terbilang sulit untuk di lakukan oleh Jaejoong yang hanya bisa menyanyi dan sama sekali tidak bisa menari?
Apa yang Yunho sebenarnya rencanakan di belakang Jaejoong bersama Junsu dan Yoochun selain menyarankan penampilan kolaborasi itu? dan kenapa anggota klubnya tidak ada yang memberitahunya sebagai ketua?
Jaejoong terus berpikir dan berpikir. Klub musiknya memang belum memberikan formulir berisi partisipasi yang sama seperti klub lain telah berikan karena klubnya belum memiliki kesepakatan tentang lagu apa yang akan di bawakan sebagai penampilan mereka.
Ini seperti sebuah persekongkolan untuk menjatuhkannya.
.
.
.
Bersambung..
.
.
Pojokan Rumah Author :
Hallo? Masih ada yang nunggu update-an FF ini?
Chap ini seperti biasa aku persembahkan special buat Dewi Suryani yang selalu setia nanyain tentang 'kapan update ffnya?'
Sudah lama sekali ya? :"" sebagai permintaan maaf aku bikin chap ini lebih panjang dari chap sebelumnya. Dan untuk Yunjae Moment, sayang sekali chap ini tidak ada :"" maafkan daku sekali lagi saja.. lebih banyak Se7en, Changmin, Kyuhyun momen ya~ cinta segitiga antara mereka mulai terungkap sedikit. Kenapa aku bikin bagian cerita mereka dalam cerita ini? karena aku ga mau cerita ini hanya berfokus pada Yunjae dan peran di sekitarnya diabaikan.
Kalau ada yang teliti, chap ini merupakan flashback dari chap sebelumnya, penjelasan gimana pertemuan Jaejoong dengan Changmin yang ternyata adik dari Yunho. Aku sengaja ga bikin keterangan flashback supaya kalian tebak sendiri /aduh jahatnya aku/. Maaf kalo isi chap ini bertele-tele dan melenceng jauh dari sebelumnya. Aku sengaja bikin ini sebagai penyegar/?/ agar FF ini ga terasa berat ceritanya dan sesuai dengan tema awal 'School life'
Disini sifat Jaejoong emang agak absurd, maafkan aku ga maksud buat menistakan. Yang jelas disini Jaejoong itu keras kepala sekali.
Yang jelas, review jika kalian berkenan~ kalian baca aja aku udah seneng kok~ apalagi kalian yang setia nunggu.
Salam,
Nyangiku.
