Akhirnya, atashi update juga setelah sekian lamanya karena banyak rintangan! -bilangajamales-

Pada akhirnya, atashi kagak bales review readers karena bingung mau jawab apa.

Gomen, maklum, atashi itu orangnya pemalu. m(_ _)m /plak

Selamat baca. :)


Warning: biasa, shounen-ai~ masih bingung apakah fic ini akan menjadi rate M atau tidak melihat kemampuan atashi yang pas"an. /plak Awas, chapter ini banyak OOC-nya!

Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn! mau sampai 100 tahun pun juga ga bakalan punya atashi, itu ntuh punya Amano Akira-sensei.


Kyoya mengambil tasnya dari atas meja belajar di dalam kamarnya dan menuruni tangga dengan pelan.

Dibukanya kulkas di dapur dan di ambilnya sebuah kotak susu dan membukanya.

Sembari menenggak susu tersebut, Kyoya memakaikan sepatu ke kakinya dengan tangan kanannya.

Selesai memakai sepatu, pintu rumahnya ia buka dengan cepat dan hangatnya sinar matahari pagi mulai menyinari wajahnya.

Kyoya pun membuka pagar pintu rumahnya dengan kasar dan menemukan sesuatu di samping rumahnya.

Sesuatu itu ternyata seseorang, sosok berambut pirang yang sedang duduk tertidur di bawah papan nama "Hibari".

Kyoya yang melihat sosok itu langsung sweatdropped dan menatapnya tanpa ekspresi.

Dengan iseng, ia menendang-nendang pelan tangan sosok itu.

Yang ditendang langsung bergumam kecil dalam tidurnya, "Romario, bilang ke otou-san kalau aku... nyam, nyam..."

'Siapa Romario?' batin Kyoya.

Tak peduli dengan gumam-an Dino, Kyoya jongkok tepat di sebelah Dino dan mencubit pipi kanan Dino dengan keras.

"A-ADUH! Sakit!" teriak Dino tiba-tiba terbangun.

Kyoya tetap tidak melepaskan cubitannya hingga Dino menengok ke Kyoya, sang pelaku yang membuatnya teriak itu.

"Kyoya! Ohayou!" seru Dino tiba-tiba sembari memeluk Kyoya sehingga Kyoya kehilangan keseimbangannya dan terjatuh dengan posisi ia di bawah dan Dino di atasnya sembari memeluk pinggangnya.

"Le-Lepaskan aku, Haneuma!" kata Hibari yang tangan kanannya berusaha melepaskan pelukan Dino dan tangan kirinya tetap mencubit pipi Dino.

"Tidak akan sampai kau mengucapkan selamat pagi ke a- ADUH! Iya, iya! Aku lepaskan!" kata Dino yang kata-katanya dipotong oleh cubitan Kyoya di pipi Dino yang semakin kencang.

Kyoya pun melepaskan cubitannya dan langsung mengeluarkan tonfanya.

"Kamikorosu!" katanya sembari memasang kuda-kuda.

"Kyo-Kyoya! Tunggu dulu! Biarkan aku menghela nafas sedikit!" kata Dino sembari mengusap-usap pipinya yang merah.

Kyoya yang tadinya mau menghajar Dino pun langsung menurunkan tonfanya setelah sesaat ia mengamati banyak luka berwarna biru di wajah Dino yang merupakan 'hadiah'-nya kemarin. Mungkin Kyoya kasihan dengan keadaan Dino karenanya kemarin.

"Ohayou," kata Kyoya sembari jalan melewati Dino.

"Ouh! Ohayou!" jawab Dino semangat sembari mengikuti Kyoya dari belakang.

"Jadi, jadi, kapan kita akan pergi berkencan?" tanya Dino semangat.

"Kencan? Memangnya kita sudah jadian?" tanya Kyoya.

"Eh? Kita 'kan sudah jadian! Kau lupa yah? Kemarin kan kau bilang akan membukakan hatimu kepadaku!" protes Dino.

"Aku bilang begitu bukan berarti kita sudah jadian, herbivore," jawab Kyoya dingin.

"Aku pikir kita sudah jadian," kata Dino sedih.

"Kita tidak akan pernah jadian," tambah Kyoya.

"Apa maksudmu kita tidak akan pernah jadian? Bukannya kau bilang kau akan membukakan hatimu kepadaku?" protes Dino lagi.

Kyoya pun mencuekinya dan terus berjalan menuju sekolah.

"Kyoya! Kyoya! Jawab aku!" pinta Dino seperti anak kecil sembari menarik-narik lengan seragam Kyoya.

"Midori tanabiku, Namimori noo~"

Dino dan Kyoya yang mendengar suara tersebut langsung mencari sumbernya dan ternyata yang mengumandangkan lagu tersebut adalah seekor burung kecil yang datang-datang langsung hinggap di atas kepala Kyoya.

"Curang! Burung kecil itu boleh dekat-dekat denganmu! Kenapa aku tidak?" protes Dino lagi seperti anak kecil.

"Herbivore, kalau kau berteriak lagi di depanku, kamikorosu!" ancam Kyoya yang langsung mengambil tonfanya.

"A-ah, maaf," kata Dino tertunduk malu karena tingkahnya seperti anak kecil.

"Ini punyaku," kata Kyoya.

"Eh, apa?" tanya Dino sedikit telmi.

"Burung ini peliharaanku. Namanya Hibird," ulang Kyoya sembari membiarkan Hibird hinggap di bahunya.

"Hibird? Namanya mirip dengan nama keluargamu. Sepertinya kalian akrab sekali sampai-sampai kau membiarkan Hibird hinggap di atas kepala dan bahumu," respon Dino sembari mengamati wajah imut kecilnya Hibird.

"Tentu saja. Sejak aku berumur 10 tahun, ia sudah nyasar ke dalam rumahku. Dari situlah aku memeliharanya," terang Kyoya singkat.

"Oh, pantas saja kalian akrab," kata Dino sembari mengikuti Kyoya yang melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.

Tampaknya Dino dan Kyoya terlalu cepat sampai di sekolah.

Tidak banyak orang yang melewati depan pintu gerbang Namimori dan tidak banyak juga siswa maupun guru yang masuk ke dalam sekolah tersebut.

Setelah Dino dan Kyoya mengucapkan salam perpisahan ke Hibird, mereka berdua memasuki sekolah Namimori.

"Sampai kapan kau mau mengikutiku?" tanya Kyoya yang membuka loker sepatunya.

"Sampai kapanpun," jawab Dino dengan senyum innocent-nya.

"Memangnya kau tidak ada yang harus dipersiapkan sebelum mengajar?" tanya Kyoya yang sweatdropped.

"Eh?" kata Dino sembari menggaruk kepalanya, berusaha mengingat sesuatu.

"Oh iya! Aku lupa! Aku ada rapat pagi sebelum mengajar!" teriak Dino sembari memegang kepalanya dengan kedua tangannya.

Untung saja tidak ada murid di situ. Kalau saja ada murid, bisa-bisa 'image' Dino sebagai guru akan hancur.

"Kalau begitu, aku pergi dulu yah, Kyoya!" kata Dino.

"Pergi saja sana, ga usah bilang-bi-"

Belum sempat Kyoya menghabiskan kata-katanya, Dino langsung memegang kepala Kyoya dengan kedua tangannya agar bibir mereka berdua bertemu.

Dino pun mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kyoya, sedangkan Kyoya yang masih belum memproses keadaan tersebut di dalam otaknya dengan polosnya membiarkan lidah Dino masuk.

Tak lama, Kyoya sadar dengan apa yang diperbuat Dino dan mulai mendorong Dino.

Seharusnya Kyoya punya tenaga untuk mendorong Dino, tetapi entah kenapa tiba-tiba tangannya terasa lemah untuk mendorong Dino dan kakinya terasa lemas untuk menendang Dino.

Permainan lincah dari lidah Dino yang terus bergulat dengan lidah Kyoya membuat Kyoya kehabisan nafas begitu cepat dan tidak dapat mengimbangi irama Dino.

Dino yang melihat Kyoya menutup matanya rapat-rapat dan semburat merah muncul di kedua pipi Kyoya membuat Dino makin bersemangat untuk mencoba menjamah Kyoya, walau hanya sedikit saja.

"Hm... Nh...,"

Kyoya mulai memukul-mukul dada bidang Dino. Wajah Kyoya semakin memerah, tampaknya ia benar-benar kekurangan oksigen.

Dino pun melepaskan ciumannya dan membiarkan Kyoya menghirup udara kembali.

"Nh, ah... D-Dino...," kata Kyoya sembari menghela nafas dalam-dalam dan memegang lengan Dino dengan kedua tangannya.

"Kau ingin lanjut, Kyoya?" bisik Dino ditelinga kiri Kyoya.

"Ka-Kamikorosu...," jawab Kyoya yang pernafasannya mulai membaik.

"Itu bukan jawaban yang kumau, Kyoya. Bagaimana kalau kita lanjutkan saja?" tanya Dino yang tanpa peringatan dari Kyoya langsung membuka kancing teratas seragam Kyoya.

Otomatis, Kyoya langsung mencengkram tangan Dino agar Dino tidak melanjutkan hal tersebut lebih jauh.

"Nanti ada orang, bodoh," kata Kyoya malu-malu.

"Tidak akan ada orang. Baru saja jam segini," bujuk Dino.

Kyoya tampak berpikir sebentar.

"Pokoknya tidak," kata Kyoya yang langsung menghindar dari Dino.

"Lagian, bukannya kau ada rapat, baka sensei?" tanya Kyoya.

"Tidak apa-apa. Rapat tidak penting kalau aku bisa mencicipi Kyoya," jawab Dino yang berhasil membuat Kyoya blush kembali.

"Berisik! Lagipula, kita belum pacaran. Jangan pernah sentuh aku lagi," kata Kyoya dingin yang berusaha mati-matian menyembunyikan wajahnya yang merah.

"Jahatnya! Bukannya kita sudah pacaran?" tanya Dino seperti anak kecil lagi.

"Tadi aku sudah bilang bukan, kita belum pacaran," jawab Kyoya.

"Kalau belum, berarti nanti dong?" tanya Dino dengan senyum jahilnya.

"Dino-sensei, apakah kau sebegitu inginnya mati?" tanya Kyoya sembari memasang kuda-kuda dengan tonfanya.

"Ahaha, maaf, aku belum mati kok. Aku masih ingin bersama Kyoya," jawab Dino dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.

Beberapa urat kemarahan mulai muncul di kepala Kyoya.

"Pokoknya jangan ganggu aku atau kamikorosu!" sekian kalinya Kyoya mengancam Dino dengan kata 'kamikorosu'-nya.

"Haha, baik-baik. Aku rapat dulu yah, Kyoya. Bye. Ti amo," kata Dino sembari mengusap pelan kepala Kyoya dan kabur secepatnya sebelum dihajar Kyoya dengan tonfanya lagi.

'Apa itu ti amo?' batin Kyoya.

Kyoya lebih memilih untuk tidak memikirkan kata-kata Dino tadi dan pergi ke kelasnya.

Saat memasuki kelas, yang tampak hanyalah siswa berjumlah sekitar 9-8, salah satunya adalah Tsuna.

"Hiii!" Tsuna terlonjak kaget ketika melihat Kyoya.

"Ada apa, herbivore? Tidak suka melihatku di kelas ini?" tanya Kyoya dingin ke Tsuna.

"Bu-bukan begitu, Hibari-san. A-Aku hanya kaget kalau Hibari-san datang pagi sekali," elak Tsuna.

"Hoo, aku kira kau ingin menjadi lawan bertarungku," jawab Kyoya sembari melewati Tsuna begitu aja, sedangkan Tsuna menghela nafas lega.

'Tadi itu...,'

"Ohayou gozaimasu, jyuudaime!" teriak Gokudera kencang sembari membuka pintu kelas dengan kasar.

"O-ohayou, Gokudera-kun," balas Tsuna.

"Jyu-jyuudaime! Kenapa wajahmu pucat?" tanya Gokudera kaget dan khawatir.

"Tidak apa-apa kok. Aku hanya sedikit pusing," jawab Tsuna bohong.

"Bagaimana kalau jyuudaime ke ruang UKS saja?" tawar Gokudera.

"Tidak usah,"

"Kyokuugeen! Ohayou gozaimasu, minna!" teriak Ryohei yang tak kalah kencangnya dengan Gokudera.

"Hoi, shibaku atama, jangan berisik pagi-pagi! Jyuudaime sedang pusing!" omel Gokudera ke Ryohei.

"Apa kau bilang, tako-head? Berani-beraninya kau mengataiku shibaku atama!" balas Ryohei.

"Ryo-Ryohei-san, Gokudera-kun, jangan ribut pagi-pagi," kata Tsuna yang berusaha menenangkan mereka berdua.

"Ah, maafkan aku, jyuudaime!" teriak Gokudera lantang terhadap Tsuna sambil membenturkan kepalanya ke lantai berkali-kali.

"Gokudera-kun! Nanti kepalamu berdarah!" Tsuna panik dan buru-buru mengangkat tangan Gokudera untuk berdiri.

"Pagi-pagi sudah ramai yah seperti biasanya. Haha," kata Yamamoto yang tiba-tiba muncul dengan tawa khasnya yang ramah.

"Jangan cerewet kau, yakyuu baka! Jyuudaime sedang sakit!" tegur Gokudera kasar.

"Sawada, kau sakit apa?" tanya Ryohei.

"Aku tidak sakit apa-apa kok, hanya pusing," jawab Tsuna dengan senyumnya bak malaikat yang berhasil memanah hati para seme disekitarnya.

"Jyuudaime benar-benar tak apa-apa? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?" tawar Gokudera berlebihan yang langsung disambut sweatdropped oleh Tsuna, Ryohei, dan Yamamoto.

"Bagaimana kalau ke UKS saja?" tawar Yamamoto ke Tsuna.

"Tidak usah kok. Aku baik-baik saja,"

'Cuman...'

~ooooooooo~

Tak terasa, jam pelajaran kelima sudah berakhir dan akan diganti dengan jam pelajaran keenam yang akan diisi oleh seni musik dengan gurunya, Byakuran-sensei.

Selagi menunggu Byakuran-sensei yang memang suka 'ngaret', Kyoya memandang keluar jendela untuk melihat pepohonan dan berbagai gedung yang terlihat dari jendela gedung sekolah Namimori itu. Kebetulan pula tempat duduk Kyoya merupakan letak strategis untuk melihat pemandangan keluar ketika sedang bosan atau sekedar ingin melihat langit.

"Midori tanabiku, Namimori noo~"

Kyoya mengenali suara tersebut dan berusaha mencari sumber suara tersebut.

Ternyata sang pemilik sumber suara tersebut, Hibird, kini hinggap di sebuah pohon tepat di depan kiri Kyoya.

Walaupun jendela kelas itu terbuka, Kyoya tidak memanggil Hibird karena ia yakin guru-guru di sekolah itu tidak akan suka dengan Hibird yang mengitari kelas.

"Sekali lagi dong, coba kasih lihat aku!"

"Baiklah! Aku akan kasih lihat kehebatanku dalam memainkan ketapel ini!"

Salah satu seorang siswa di depan Kyoya mengambil batu di dalam sakunya dan memasangkan batu itu di karet ketapelnya.

Kejadian itu terjadi dengan cepat, siswa itu langsung begitu saja menembakkan batu kecil dengan kecepatan kencang tepat mengenai Hibird hingga Hibird terjatuh dari pohon itu.

Kyoya yang melihat hal tersebut langsung mengambil tonfanya dan tanpa peringatan, ia langsung menghantam siswa itu dengan tonfanya yang berwarna perak.

Para murid lain yang tadinya ribut langsung menghentikan Kyoya agar Kyoya tidak melanjutkan serangannya.

"Yare-yare, ada apa ini?" tanya Viper kepada temannya.

"Ushishishi, tidak tau, tapi sepertinya seru," jawab Belphegor yang menonton teman sekelasnya menghentikan Kyoya.

"Lepaskan aku!" geram Kyoya kepada orang yang memegangnya agar tidak menghantam siswa itu lagi, sedangkan siswa itu dibantu berdiri oleh beberapa orang.

Teringat akan keadaan Hibird, Kyoya langsung menarik tangannya dari genggaman orang yang memegangnya dan langsung berlari keluar kelas.

Tak ada yang berani mengejarnya, karena semuanya takut akan berakhir sama dengan siswa yang dihadiahi sebuah benjolan oleh Kyoya.

Kyoya lari secepat mungkin dan menuruni tangga sekilat mungkin.

Drap, drap, drap, drap!

"Hoi, jangan lari-lari di lorong!" tegur Dino sambil menjulurkan kepalanya keluar dari ruang BK untuk melihat siapa siswa yang berani melanggar peraturan sekolah.

"Kyoya?"

"Kyoya! Mau ke mana kau?" teriak Dino yang kini Kyoya sudah tampak jauh sekali.

Kyoya tidak menengok ke belakang untuk menjawab Dino. Ia terus menerus berlari dan Dino mengikutinya dari belakang karena penasaran.

Sesampainya di halaman sekolah, dengan hati-hati dan teliti, Kyoya mencari Hibird karena Hibird begitu kecil.

"Hosh, hosh, Kyoya, hosh, kenapa kau lari-lari?" tanya Dino yang kehabisan nafas.

Tak ada waktu untuk menjawab, Kyoya terus mencari Hibird.

"Kau sedang mencari sesuatu?" tanya Dino.

Dino tetap dicueki oleh Kyoya.

"Hibird!" seru Dino tiba-tiba ketika melihat sosok binatang tak berdaya itu berada di tanah dingin berselimut darah.

Kyoya pun langsung menengok arah yang dilihat Dino dan menghampirinya.

Kyoya mengangkat Hibird perlahan dan melihatnya dengan tatapan miris.

'Hibird...'

"Sensei! Sensei tau tidak di mana tempat dokter hewan terdekat?" tanya Kyoya ke Dino dengan panik.

"A-aku tau! Biar ku antarkan kau ke sana," jawab Dino yang sedikit kaget dengan kepanikan Kyoya.

Tak jauh dari sekolah, sebuah klinik hewan dengan papan bertuliskan "24 jam" didatangi oleh Kyoya dan Dino.

"Dokter! Cepat tolong binatang kecil ini!" teriak Dino kepada sang pemilik klinik tersebut, Dokter Shamal.

"Ada apa ini? Jangan gaduh di klinik ku," tegur Dokter Shamal.

"Pokoknya, cepat tolong Hibird!" perintah Kyoya.

"Anak muda jaman sekarang memang tak pernah sabar. Mana binatang yang sakit?" tanya Dokter Shamal sedikit kasar karena kesal kliniknya dibuat menjadi gaduh.

"Ini," Kyoya menyodorkan Hibird dengan pelan ke Dokter Shamal.

"Hmm, bakalan susah sepertinya. Tolong letakkan hewan peliharaanmu ini dengan pelan di atas meja itu," perintah Dokter Shamal sembari menunjukkan meja di dalam sebuah ruangan.

Tanpa disuruh dua kali, Kyoya langsung meletakkan Hibird dengan perlahan di meja tersebut.

"Kau, orang berwajah bule, aku butuh bantuanmu untuk menyelamatkan hewan itu. Dan kau anak muda, tetap di sini," kata Dokter Shamal.

Sebenarnya Kyoya ingin protes mengapa ia tidak boleh ikut membantu menyelamatkan Hibird, tapi ia takut ia malah akan memperlambat prosesnya dan memilih untuk menutup mulut.

Dino dan Dokter Shamal masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya pelan-pelan.

Kyoya yang tertinggal sendirian di luar tampak sedikit frustasi.

Hibird yang terus menemaninya. Bahkan ketika semua orang meninggalkannya, termasuk orangtuanya dan mantannya, Hibird lah yang terus menemaninya setiap hari.

Ia ingat, hari-hari di mana ia menangis, Hibird selalu memasuki kamar Kyoya lewat jendela dan memanggil "Hibari, Hibari" kemudian menyanyikan Namimori Anthem.

Kyoya benar-benar tidak ingin kehilangan Hibird.

Hibird lah hewan kesayangannya.

10 menit, 20 menit, 30 menit, 1 jam berlalu. Barulah Dino dan Dokter Shamal keluar dari ruangan itu.

"Hibird bagaimana?" tanya Kyoya.

Pilu tergambar di wajah Dino dan Dokter Shamal. Yang ada hanyalah keheningan.

Dengan pelan, Dokter Shamal menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepalanya.

Kyoya mengerti apa yang dimaksud Dokter Shamal dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Hibird...," gumam Kyoya pelan.

'Maaf, aku tidak bisa melindungimu...,'

Beberapa tetesan air mulai keluar dari mata Kyoya.

Air mata yang mengalir deras bak air terjun itu membasahi pipi Kyoya dan turun membasahi bajunya.

Dino yang melihat hal tersebut langsung memeluk Kyoya dengan erat.

Kyoya tidak mendorong pelukan Dino, ia membalas pelukan Dino.

Kini Kyoya sedang membutuhkan orang untuk bersandar.

"Pa-padahal Hibird bukan hanya hewan bagiku. Dia sahabatku. Tapi, karena kelengahanku, dia...," kata Kyoya sambil terisak.

Pedih sekali rasanya.

"Kyoya, maaf, aku tidak bisa membantu apa-apa," sesal Dino.

Dino memegang wajah Kyoya dengan kedua tangannya dan menjilat butiran air mata yang keluar dari mata Kyoya.

"Midori tanabiku, Namimori noo~"

"Hah?"

"Shit!"

"Ehem,"

"Hibari, Hibari," panggil Hibird yang hinggap di atas kepala Kyoya.

Burung itu tampak sehat-sehat saja walaupun beberapa balutan perban terdapat di tubuhnya.

Buru-buru, Kyoya melepaskan tangannya dari Dino dan menghapus air matanya.

"Apa maksudnya ini?" tanya Kyoya sambil mengeluarkan hawa membunuh yang dahsyat.

"Dokter, maksudmu apa?" ulang Kyoya sembari mendekati Dokter Shamal dengan tonfa dikedua tangannya.

"Ini, i-ini suruhan seseorang," jawab Dokter Shamal terbata-bata sembari melirik ke Dino.

Melihat Dokter Shamal yang melirik Dino, Kyoya langsung menengok ke Dino sembari memberika 'death glare'-nya yang terbaik.

"Dino Cavallone, hidupmu akan berakhir sekarang juga,"

"Kyo-Kyoya, aku hanya iseng sedikit kok! Jangan dimasukkan ke hati!" kata Dino panik.

"Kamikorosu," dan beberapa hantaman langsung ditujukan ke Dino.

"Kyo-Kyoya, ampuun!"

"Kamikorosu!"

Dokter Shamal hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat dua kekasih ini tidak bersikap seperti kekasih seharusnya.

Usai puas menghajar Dino, Kyoya langsung pergi keluar dari klinik dengan Hibird di kepalanya tanpa berkata apapun.

"Sakiiit,"

"Bukannya sudah ku bilang tadi, jangan bohongi dia," kata Dokter Shamal yang kembali mengingatkan Dino.

"Aduh... Dokter, tolong sembuhkan aku!" pinta Dino sembari memegang beberapa warna biru yang terpampang jelas di wajahnya.

"Maaf, aku hanya menangani hewan dan wanita," jawab Dokter Shamal sambil menutup pintu kliniknya.

"Dokter, buka! Aku akan membayar berapapun!" teriak Dino.

"Aku bilang, aku tidak menangani apapun selain hewan dan wanita!" balas Dokter Shamal dari dalam kliniknya.

"Dookteeeeeer~!"

~ooooooooo~

'Yang tadi itu... Dino-sensei dan Hibari-san ciuman yah...?'


Sesuai dengan polling kemarin, karena semuanya pada memilih Kyoya untuk menangis, makanya atashi bikin menangis! XD -dikamikorosu-

Dokter Shamal: "Sejak kapan aku menjadi dokter hewan? Bukannya dari awal manga aku sudah bilang kalau aku hanya memeriksa perempuan?"

Author gaje: "Ya amplooop, atashi bingung, napa yah kalau bintang tamu selalu aja protes. ==a"

Dokter Shamal: "Itu gara-gara kau author gaje bikin fic ini tambah gaje dan OOC,"

Author gaje: -pundung- "Seengganya kasih atashi penghargaan sedikit gitu, penghargaan 'Orang yang paling lama update fic' gitu. XD" /plak

Dokter Shamal: "Ya, ya, ya, terserah. Pokoknya aku hanya memeriksa perempuan. Tapi kalau memeriksa uke dan bishounen juga ga apa-apa kok," -evil grin-

Author gaje: "No, no, NO! Uke dan bishounen 'kan di sini ada Hibari, Tsuna, dan Gokudera! Tidak akan kuserahkan ke om-om ero!" /plak

Dokter Shamal: "Berisik, author gaje. Kalau aku udah mau memeriksa uke dan bishounen, berarti aku sudah ada kemajuan bukan?"

Author gaje: "Kemajuan yah...? ==a Yo dah deh, penutupnya silahkan, Dokter Shamal,"

Dokter Shamal: "Terima kasih karena mau membaca fic gaje ini. Menerima saran, kritik, pendapat, dan flame. Review, onegaishimasu!"

Author gaje: "Maaf juga yah kalau ada misstypo dan kalau ada yang kurang berkenan~ See you again desu!" -Haru mode-