Title : Piece of Lucifer

Writer and Author : Ahmad MahMudi

Disclaimer : Boku wa (?) (sok jepang, padahal gak tau bener apa salah "-_-) 100% bukan pemilik Naruto dan HS DxD

CrossOver : Naruto, High School DxD, Dsb.

Genre : Friendship, Comedy (maaf kalo garing), Drama, Romance, Action, Ecchi

Pairing : Naruto U. x Rias G. (maybe)

Warning : Danger! Penulis Newcomer!

Author Note :

Thanks untuk para rider yang udah nyempatin baca. Oke di chapter ini penulis mencoba fokus ke genre drama romance picisan wkwkwk. yah, kalo hasilnya kurang memuaskan, gomen. Ingat, Usaha itu penting, bukan malah yang penting usaha. Karena kalo yang penting usaha, apapun yang penulis lakuin gak bakal ada berkah ama bekasnya, tehe :'v.

Untuk chapter kali ini penulis membubuhkan adegan jeruk segar asem :D. Penting, kalo yang membutuhkan drama nya, jadi mohon dibaca ya lemon nya. Untuk yang gak tahan baca lemon, ganbate ne, semoga imannya kuat..., hihihi... XD

-Bab 4 mustahil-

Sekitar jam 8 pagi, para bidak Naruto dan Naruko berkumpul di lapangan tengah rumah Naruto dengan catatan Itachi tengah tepar digendong oleh Hidan. entah apa yang hendak mereka lakukan.

"ayo kita berangakat!" seru Suigetsu dengan semangat membara.

"baik, lakukan Kurenai-san." Perintah Naruko kepada queennya.

"baik!" balas sang Queen sambil menapakkan kedua tangannya di tanah.

"Sring..." keluar sebuah lingkaran sihir kuning besar dibawah kaki mereka semua. Dalam sekejap, mereka menghilang meninggalkan hamparan rumput hijau yang melambai-lambai di lapangan itu.

.

.

.

Namikaze Mansion

"Sakura-chan, Hinata-chan, tolong antarkan mereka ke kamar mereka." Ujar Naruko kepada dua wanita cantik seumurannya yang rupanya adalah bidak-bidaknya.

Mereka berdua mengangguk. "baik, Naruko-sama." Balas mereka bersama.

"Ayo." Ajak sakura kepada para bidak Naruto.

"wih, cakep bener tuh, duo cewek... kau pilih yang mana, kaz?" tanya Suigetsu, berbisik di Kazuma.

"hn...? aku pilih yang pink."

Suigetsu menatap kazuma dengan ekspresi selidik. "tumben kau gak pilih yang spesifikasinya kelas atas. Biasanya kau memilih yang ukuran oppainya diatas standar." Bisik Suigetsu curiga.

Sekarang giliran Kazuma yang menatap Suigetsu dengan wajah sedih. "Suigetsu-kun..."

Suigetsu menaikkan sebelah alisnya. "Hah?"

"seandainya kau tahu bagaimana ngerinya adik Itachi-san... kau tidak akan menanyakan hal tadi." Ujar Kazuma mendramatisir kata-katanya seakan ia telah mengalami hal yang mengenaskan. Menundukkan kepalanya dengan wajah takut.

Dahi Suigetsu mengerut. "apa maksudmu Kaz?" ia sekarang malah tambah bingung.

Wajah Kazuma tiba-tiba menjadi horor. "cewe yang kau maksud tadi itu istrinya adik Itachi-san. Karena suatu hal yang ku lakukan yang bersangkutan dengan cewe itu, aku gosong gara-gara adik Itachi-san."

"wkwkwkwkwk... kasihan~" ucap Suigetsu dengan nada mengejek.

"sialan, terserah kau dah, air comberan!" ujar Kazuma menatap kedepan, mempercepat jalannya mengabaikan Suigetsu yang terus tertawa.

Oke, kita abaikan mereka, dan kembali ke karakter utama kita. Kini, dia bersama Ino dan Itachi yang sudah digendongnya mengikuti Naruko dan Sasuke yang bersama dengan dua orang bersurai dan beriris mata merah maroon.

"Naru-kun, mereka bedua siapa?" tanya Ino yang ternyata baru pertama kali melihat mereka.

"kenalkan, namaku Uzumaki Karin. Dan ini Kakak sekaligus Queenku, namanya Uzumaki Nagato. Kami sepupu mereka berdua." Ujar gadis berkacamata yang disinggung Ino itu dengan riang mengacungkan dua jarinya membentuk huruf v.

Ino tersenyum kikuk, karena ketahuan menanyakan tentang siapa mereka secara diam-diam. "A-ah sumimasen, namaku Yamanaka Ino, Queen Naru-kun. Salam kenal, Uzumaki-san." Ujarnya membungkukkan badannya dengan cepat.

Nagato menganggukkan kepalanya. "ha, salam kenal juga." Ujar sepupu Naruto yang setengah wajahnya tertutup poni itu dengan wajah santai.

"wah, kau cantik sekali Ino-chan." Ujar Karin dengan senyum riangnya menatap wajah Ino dengan ekspresi terpana.

Ino terseyum membalas senyuman itu. "arigatou, Karin-san juga cantik kok."

"benarkah? Benarkah aku cantik? Apakah aku lebih cantik dari Naruko-chan?" tanya Karin semangat.

"hei! Kenapa aku disangkutin?" tanya Naruko dengan alis berkedut.

"ya, kamu lebih cantik dari Naruko-chan... Karin-san" jawab Ino dengan pandangan jahil kearah Naruko.

"yuhuu! Sekarang terbukti, aku lebih cantik dari Naruko-chan!" teriak Karin senang.

Wajah Naruko memerah padam tanda ia sedang menahan amarah. "mooou...! Ino-nee jahat!" teriaknya.

"hahahaha!" semua tertawa dengan sifat unik Naruko kecuali Naruto yang hanya tersenyum. Sebenarnya ia juga sangat senang melihat ekspresi Naruko yang bermacam-macam itu.

"Naruto-chan? Kau kenapa? Kok diam dari tadi?" tanya Karin tiba-tiba penasaran. Naruto langsung menjadi pusat perhatian semuanya.

"Tidak ada," balas Naruto singkat.

"uksuksuksuksuk!" tiba-tiba Ino mengeluarkan tawa aneh.

Dahi Naruto mengerut. 'tawa macem apa tuh?' ujar Naruto membatin curiga. "kenapa kau ketawa, mak lampir?" tanya Naruto ketus.

"Naruto-chan huh? Uksuksuksuk!" balas Ino dengan seringai tebal.

Twich

Muncul perempatan di dahi Naruto. "jangan buat masalah lagi, pembawa sial!" Ujar Naruto ketus dengan ekspresi kesalnya.

"are? Kamu masih kesal dengan yang tadi pagi? Ne ne, Naru-kyun?" tanya Ino dengan nada mengejek. "harusnya kau senang karena itu adalah pertama kalinya bagiku." Lanjutnya, Duo Uzumaki bingung, Naruko menundukkan kepalanya dan Naruto menjadi geram.

Flashback

WARNING : LEMON (yang gak tahan skip aja ampe flashback Naruto abis)

Naruto POV

Harum... bau harum bunga lavender langsung menyeruak kedalam hidungku begitu aku bangun dari tidurku. Entah bagaimana gulingku memiliki aroma seperti ini. Aroma yang begitu menenangkan, aroma yang membuatku enggan untuk sekedar membuka mataku.

Kudekap dengan erat guling yang kupeluk. Entah karena apa, gulingku terasa nyaman untuk dipeluk. Kulitku serasa seperti berkontak dengan kulit yang tipis dan sangat halus, aneh, tapi nyaman. Aku cengkram gulingku dengan tangan kananku. Disana, aku merasa ada gundukan besar dengan tonjolan kecil diujungnya digulingku. Kuremat beberapa kali pada bagian itu.

"egkh..." hek? Apa tuh? tiba-tiba terdengar suara erangan tertahan cewe dari depan wajahku.

Kueratkan selangkangan gulingku dengan tangan kiriku. Aneh, kemaluanku serasa seperti dihimpit dua benda empuk. Dan jari tengah tangan kiriku seperti masuk ke lubang sempit. Sangat enak. Ku gesekkan beberapa kali jari tengah tangan kiriku ke lubang itu sambil tangan kananku meremas gulingku.

"akh akh akh..." aik? sekarang terdengar suara desahan berkali-kali seirama dengan jari tengahku yang bergesekan dengan lubang itu. Terdengar sangat erotis. Ashu, Kemaluanku menegang.

"crat!"

"kyaaah..." kali ini terdengar suara erangan panjang dan disaat bersamaan tangan kiriku basah seperti disembur cairan dari lubang itu. "hah hah haah..." terdengar suara terengah-engah.

Kuhentikan kegiatan isengku dan kembali mengistirahatkan tubuhku tidur.

.

-eeeeh! Tunggu dulu, ada yang aneh! Sejak kapan gulingku memiliki wangi bunga lavender? Sejak kapan gulingku memiliki gundukan yang enak untuk diremas? Sejak kapan gulingku memiliki sesuatu yang nyaman ketika menghimpit kemaluan, sejak kapan gulingku bertekstur seperti kulit, sejak kapan gulingku dapat mendesah, dan sejak kapan gulingku memiliki selangkangan dengan lubang yang bisa menyembur cairan? Aneh, ini sangat aneh.

Kubuka mataku dengan lebar.

Hal pertama yang kulihat adalah kepala bersurai pirang pucat panjang dihadapanku. Oke, sekarang aku berasumsi sesuatu yang kupeluk yang aku anggap guling berselangkang tadi adalah cewe beneran. Aku penasaran siapa cewe pirang itu. Kenapa dia tidur denganku dengan keadaan telanjang bulat.

Kupegang bokong sintalnya dan kuputar tubuhnya guna mengetahui siapa dia.

"ikh!" erangnya ketika aku mencengkram bokongnya dan memutar tubuhnya.

"I-ino?" gumamku ketika melihat wajah cewe itu.

Kenapa dia disini? Wajahnya menunduk memejamkan matanya dengan alis sedikit mengerut seakan menikmati hal yang baru saja ia rasakan. Apa tuh? Gila, gede banget oppainya. Aku rasa wajahku memanas melihatnya telanjang bulat. Kenapa dia disini.

Huk! Dia membuka matanya dengan perlahan. Mata sayunya menatapku dengan senyum yang ehem, manis (-_- lu gak ikhlas bener ucapinnya nar).

"Naru-kun... haakh..." ucapnya mencicit dengan suara yang sialnya malah terdengar sangat erotis di telingaku. Bau jeruk segar langsung terhirup oleh hidungku ketika membuka mulutnya agak lama.

"I-ino..." huaaaakh! Kenapa aku mengulanginya. Aku terlihat seakan aku terpana terhadapnya walaupun kenyataannya memang begitu. Shit, situasi macam apa ini. "k-kenapa k-au disini." Jiahh, kenapa malah gagap dan datar! Ore no baka!.

Ia mengubah tatapan matanya menjadi polos. Aku terdiam bingung untuk merespon seperti apa kepadanya. "aku disini karena kau menepeti janjimu..." ujarnya seraya membelai pipiku dan tersenyum manis. Aku terpana ketika sesosok malaikat didepanku ini terus menyunggingkan senyum mematikannya. Hangat, hatiku merasa hangat, apa ini?

Direksi matanya mulai dan terus mengarah kemulutku. Tapi, kemudian ia menatap mataku dan mendekatkan wajahnya. Apa yang akan dilakukannya? Otakku mulai memikirkan hal-hal yang menjanjikan kenikmatan surgawi terhadapku (oi oi, mau apa lu, jangan apa-apain Ino-nyan ku, dia hanya milik penulis -_-).

Wajahnya semakin mendekat ke wajahku...

...Jarak wajah kami terus dipangkasnya...

...Semakin dekat...

"duk!"

Giginya bertabrakan dengan gigiku. Ia kaget dan sontak langsung menjauhkan wajahnya. Pipinya semakin bersemu. Menundukkan kepalanya malu. Aku terkejut dan bingung? Apakah ini adalah pengalaman pertamanya dalam berciuman. Kenapa ini? Kenapa aku merasa senang? Kenapa? Aku cukup terkesan dengannya yang berani langsung menyerangku. Apa yang harus kulakukan? Menyerangnya balik?

Ia mengangkat kembali kepalanya dan dengan perlahan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku. Ketika jarak wajah kami hanya sekitar 4 senti meter ia memejamkankan matanya kembali. Perlahan, bibirnya menempel dengan bibirku. Lembut, jauh lebih lembut dari bibir-bibir yang pernah kukulum sebelumnya, begitu lembut dan tipis. Manis, seperti wanginya, semanis buah jeruk matang yang masih segar. Dia hanya sekedar menempelkan saja bibir lembutnya itu.

Kembali ia melepaskan bibirnya dari bibirku. Ia menatapku polos dengan pandangan berharap. Mulutnya bergerak seperti sedang mengatur napas. Aku cukup tergoda dengan bibir ranum itu. Dia menggodaku kah? Menantangku kah? Haruskah kubalas ciuman tadi?

Kuubah posisinya yang menyamping menghadap kearahku menjadi terlentang dan aku memosisikan tubuhku diatasnya. Kuarahkan kepalaku ke lehernya kemudian kujilat leher halus itu menyembabkannya mengerang tertahan kembali. Setelah itu aku kembali memperlebar jarak kepalaku dan mendekatkannya ke kepalanya kembali. Kemudian aku menempelkan dahiku diatas dahinya. Menatap mata sayunya yang melek merem seirama dengan gerakan bibir ranumnya yang terengah-engah.

"Naru-...kun.. hah, hah.. hah..." sebutnya disela-sela erangannya.

Terus, terus saja kuperhatikan mata biru lautnya itu dengan dalam. Oh god, she is true an angel. What a beautiful she is. Fuck!

Setelah napasnya mulai teratur. Langsung kusambar bibirnya yang tipis itu dengan bibirku. Sontak ia langsung melebarkan matanya kaget. Kuemut bibirnya dengan pelan. 'tipis sekali...' itulah yang kupikirkan ketika aku mengemutnya. Her lip is tasteful. Benar-benar lezat. shit, otakku mulai hilang akal.

Tiba-tiba tangan kirinya memegang tangan kananku yang menahan tubuhku. Lalu ia menempelkannya ke payudara kirinya. Kemudian ia menuntun tangan kiriku menggerakkannya meremas dadanya yang sungguh berisi itu. Aku menahan napas merasakan betapa besar dan empuknya gundukan daging itu. Mengerti maksudnya, aku mulai meremas oppainya sendiri. Tangan kiriku yang masih bertengger di bokong kanannya pun otomatis ikut meremasnya.

Dia yang menikmati sentuhan-sentuhanku mendesah dalam ciumanku. Kumasukkan lidahku kemulutnya mengobrak-abrik lidahnya. Air liurku dan air liurnya bercampur dan meluber keluar melalui sela-sela mulut kami. Mint bercampur dengan jeruk menyebabkan sensasi luar biasa benar-benar kurasakan dimulutku (mau juga dong :3). Author jangan ikut, mulutnya bau -_-.

Terus saja kuhisab bibirnya dengan semangat. Manis...

"Crat!"

"kyaagh!" dalam ciumanku ia menjerit. Kembali, ia memuncratkan cairan dari lubang selangkangannya. Gila, hanya karena dirangsang saja, dia keluar.

Kulepaskan ciuman kami untuk mengatur napas. Ia memalingkan wajahnya ke samping mengatur nafasnya yang benar-benar seperti telah lari sprint 400 meter.

Lalu aku turun dari tubuhnya dan kasurku. Kemudian aku melepaskan celana jeansku beserta celana dalamku. Aku menanggalkan mereka diatas kursiku. Kini terlihatlah kemaluanku yang berdiameter 4 cm dan panjang 18 cm berdiri dengan gagah menantang surga (-_-"). Kupijit-pijit dengan perlahan penisku sembari menunggu Ino menormalkan napasnya.

Kulebarkan pahanya dan kuposisikan tubuhku didepan selangkangannya duduk menggesek-gesekkan penisku di bibir vaginanya. Sontak ia langsung kembali melihat kearahku dan kaget saat melihat kearah penisku.

"b-besarnya..." gumamnya dengan mata agak melotot.

Kutatap matanya dengan maksud untuk meminta persetujutan darinya.

"T-tapi... apakah muat" ujarnya ragu memalingkan wajahnya kesamping.

"Bolehkah?" gumamku menatapnya datar sambil terus menggesekkan penisku di bibir vaginanya dan membelai perut ramping nan halusnya itu.

"Yakh!" desahnya. Kembali ia menatapku dan menganggukkan kepalanya pelan dengan mata kanan yang tertutup.

Aku mulai memasukkannya ke vaginanya. Tapi, aku kesusahan memasukkan penisku di vaginanya yang sungguh sempit itu.

Mengerti keadaanku, dia membuka selangkangannya, melebarkan pahanya. Baik, sekarang lebih mudah untuk memasukkannya. Perlahan penisku membobol masuk kevaginanya yang rupanya masih perawan. Kudiamkan penisku hingga Ino dapat menyesuaikan dirinya. Dari sela-sela vaginanya dan penisku mulai mengalir darah dari dalam vaginanya.

"akh, Ittai..." erangnya merintih kesakitan. Mulutnya meringis, matanya terpejam dengan air mata yang perlahan keluar, alisnya mengernyit, tangannya mencengkram seprai kasur disisinya, tubuhnya agak melengkung keatas, dan wajahnya sangat kentara sedang menahan sakit. Aku menahan napas dan meringis iba melihatnya yang seperti itu. Aku sangat tahu itu sangat sakit. Bayangkan kulitmu hingga dagingmu teriris dan dipaksa dimasuki jari. Shit! Pastilah sangat sakit.

"I-Ino..." gumamku menyebut namanya dengan nada khawatir.

"...iiikh..." dia terus merintih menahan sakitnya.

Aku terus saja diam seraya menatap wajahnya yang tengah merintih kesakitan.

Perlahan wajahnya mulai melunak dan cengkramannya pada seprai kasur mengendur. Ia mulai membuka matanya menatapku dengan mata sayunya. Tersenyum lemah kearahku kemudian berujar. "gerakkanlah Naru-kun..." ucapnya lemah.

Aku memejamkan mataku dan dengan perlahan kugerakkan maju mundur selangkangku seperti yang dia ucapkan. "ahh..." desahku menikmatinya. Shit! It's very soft and tight. Penisku seperti dipijat-pijat oleh sesuatu yang lembut.

Kubuka mataku sambil terus menggerakan kemaluanku. Kelihatannya, dia juga menikmatinya. Walaupun tubuhnya bergetar dan tangannya mencengkram seprai kasurku dengan kencang, wajahnya kelihatannya sangatlah menikmatinya, ujung bibirnya agak naik dan agak terbuka mendesah menikmatinya.

Aku semakin bersemangat melihatnya yang seperti itu. Apalagi melihat oppai jumbonya yang memantul dengan indah seiringan dengan genjotanku :3. Kupegang kedua gundukan nafsu itu lalu kuremas dengan pelan seraya mempercepat sodokanku. Dia menatapku dengan mata sayunya yang malah menambah gairahku. Kemudian seteah itu aku mengarahkan wajahku ke oppainya dan menghisap putingnya yang berwarna merah jambu itu dengan semangat.

"akh akh akh!" desahannya semakin terdengar seiring naikknya kecepatanku memasukkeluarkan penisku di vaginanya.

"agh.." akupun mengerang menikmatinya.

Kuhentikan sejenak kegiatanku ini. Kemudian kuarahkan kepalaku menuju leher sisi kanannya, melumat dan mengecap leher manis nan harum itu sambil terus meremas oppainya dengan keras.

"haaakh!" jeritnya dengan suara tertahan. Mungkinkah aku terlalu kencang menghisap lehernya? Atau aku malah terlalu keras meremas dadanya? Mengabaikannya, aku malah semakin gencar melancarkan seranganku.

Dari lehernya aku merasakan cairan asing di mulutku, rasa besi merasuk ke mulutku. Tiba-tiba aku merasakan rambutku dijambaknya dengan keras. "kyaak!" pekiknya dengan suara yang sungguh pilu.

Sontak kujauhkan kepalaku dari lehernya. Darah, ada bercak darah dileher bekas kecapanku tadi. Wajahnya benar-benar terlihat kacau dengan air mata yang melumpuk di kelopak matanya. Matanya terpejam dengan mulut meringis kesakitan. Kusentuh bibirku dengan jari, lalu ku lihat disana terdapat darah.

Aku menghisapnya terlalu kuat.

Dia terlihat sangat kesakitan.

Aku harus menyembuhkannya. Kuarahkan kembali wajahku ke lehernya yang berdarah tadi kemudian ku jilat lukanya dengan lembut. Perlahan luka itu menghilang, menyisakan bekas lumatanku tadi.

Tiba-tiba dia menarik kepalaku kewajahnya dan langsung menempelkan bibirku ke bibirnya kemudian menghisap bibirku dengan kuat. Aku tidak mengerti, kenapa bibirnya begitu lembut? Sangat berbeda dengan beberapa mulut makhluk lain yang pernah kukecap sebelumnya. Apakah ini yang membedakan malaikat dengan makhluk yang lain? Benar, Ino adalah manusia setengah malaikat yang dilahirkan oleh seorang dewi dengan suami yang berbangsa iblis. Kenapa ini bisa terjadi? Aku tidak tahu, aku kadang memikirkannya, tapi tidak pernah menemukan jawabannya. Mungkinkah ini kuasa tuhan? Ya, harusnya aku tidak ragu, tuhan itu maha kuasa. Tapi, kenapa? Apakah tidak ada penjelasan yang logis?

"sruuut!" dia menghisap seluruh isi mulutku. Menghisap darahnya dan salivaku membuatku agak terkejut.

Setelah seluruh isi mulutku habis, ia melepaskan ciuman panasnya. Kemudian-

"gluk." Ia menelannya hingga habis lalu tersenyum lembut kearahku.

"Naru-kun..." gumamnya seraya menggoyangkan pinggulnya, memintaku untuk kembali menyodoknya.

Aku mulai kembali memaju mundurkan kemaluanku di vaginanya, kali ini dengan tempo agak cepat.

"akh akh akh!" desahnya menikmatanya. Entah kenapa, aku melihat tubuhnya mulai berubah. Rambutnya mulai berubah menjadi merah. Matanya berubah menjadi lebih berwarna dan menggelap. Kulitnyapun begitu, mulai menggelap, tapi bukan dalam artian menjadi lebih hitam. Aku agak bingung menjelas kannya. Tapi, aku merasa kulitnya seperti kehilangan cahayanya. Tapi, aku lebih menyukai yang ini ketimbang yang tadi.

Apakah aku sedang berhalusinasi.

"Rias..."

Flash back end

.

.

.

Di suatu kamar dengan cat berwarna biru cerah dengan langit-langit berwarna biru tua serta bagian dalamnya yang mayoritas berwarna jingga, terutama kain-kain seperti kasur dan gorden, Naruto tengah memejamkan matanya seraya berbaring diatas kasurnya dengan pakaian berupa sempak saja :3. Dari raut wajahnya yang dari awal memang kusut, kelihatannya ia tengah memikirkan sesuatu.

'kejam, ini kejam, aku kejam. Apa yang difikirkannya ketika itu? Aku tidak mengerti, aku harap dia tidak tersakiti. Kenapa aku harus memikirkan 'nya' ketika tengah bercinta dengan dia. Kejam, haruskah aku meminta maaf? Haruskah aku bertanggung jawab? Apakah aku telah menyamakannya dengan wanita-wanita jalang itu? Shit! Tapi, ketika aku bangun dia tetap seperti biasanya. Bertingkah seakan-akan kejadian semalam bukanlah apa-apa.' Wajahnya semakin kusut dan dia menggertakkan giginya. 'apakah selangkangannya tidak sakit? Apakah lehernya tidak sakit? Apakah hatinya tidak sakit? Apa dia terbuat dari baja? bitch!'

"krinngggg...!"

Tiba-tiba jam beker di meja samping kasurnya berdering mengacaukan pikirannya. Naruto lekas membuka matanya kemudian mematikan jam itu. Jam menunjukkan pukul 10.45 pm yang artinya ia harus bergegas untuk bertemu keluarganya.

"shit!" gumamnya mengumpat sambil dengan malas mengubah posisinya menjadi berdiri.

Berdiam sejenak menatap lurus dengan pandangan datar, entah apa yang tengah difikirkannya. Kelihatannya kepalanya masih puyeng.

"tok tok tok!"

"dare?" gumamnya datar.

"onii-chan-sama! Bangun!" seru cewe dengan suara cempreng dari balik pintu kamarnya.

"a.. dia. Mendokusei..." Dengan mendengar suaranya saja Naruto sudah tahu siapa yang ada dibalik pintu kamarnya itu.

"Onii-chan-sama, buka pintunya!" kembali, dia berseru dari balik pintu.

Tak tahan, sambil menggaruk kepalanya yang terasa gatal Naruto dengan perasaan ogah-ogahan melangkahkan kakinya yang loyo menuju pintu kamarnya. "iya, iya, Kuso-Imouto!"

"cklek,"

"apa?" tanya Naruto ketus.

"onii-chan! Cepatlah, kau ditunggu Tou-sama dan Kaa-chan." Ujar Naruko ngomel-ngomel kepada kakaknya dengan mata terpejam dan imut :3. "Pertandi-" tepat setelah matanya terbuka ia terdiam. Melihat kakaknya dari kepala ke kaki dan sebaliknya berulangkali hingga ia berhenti di selangkangan kakaknya tepatnya sempak kakaknya :v. Wajahnya telah semerah kepiting rebus. Mundur satu langkah "hentai, hentai, hentai..." gumamnya terus menerus dengan mata yang seolah menolak kenyataan.

Naruto mengikuti arah pandang adiknya. Yang ia lihat adalah dirinya yang hanya menggunakan pakaian berupa sempak saja.

"a..." gumamnya merespon dengan tidak jelasnya.

"dug!" Naruko langsung menendang kaki Naruto.

"yak!" ucap Naruto terkejut sambil menekan kakinya yang benjol dan... sakit,... mungkin :v.

Setelah Naruko menendang kakaknya ia menjerit "'a' dengkulmu! Onii-chan no hentai! Aku membencimu Onii-chan! Pakai pakaianmu! Kemana pakaianm-"

"Sreet!" Naruto menarik tangan Naruko menuju rengkuhannya.

Grep

Rona di pipi Naruko semakin terlihat manakala ia berada di pelukan kakaknya. Tubuh Naruto yang begitu liat membuat Naruko ehem, nyaman dan iapun agak mengejang. Apalagi ia merasakan benda asing tengah diapit oleh kedua bokong imutnya X).

"(Lepaskan Aku...)" ujar Naruko yang mulutnya masih terbungkam oleh tangan kiri kakaknya.

"pssst... tenanglah, Kuso-Imouto, atau kau akan ku perkosa disini!" ujar Naruto tanpa melirik Naruko berbisik di telinga kanan lalu menggigitnya pelan membuat Naruko memejamkan matanya dan menyebabkan rona di pipinya semakin menebal. Dia benar-benar malu, imutnya... :v

"(onii-chan...)" mata Naruko mulai berair merasakan kepalanya tengah ditelengkan agak kekiri dan ia merasa ada benda kenyal belendir bergerak di lehernya. Ia cukup mengerti keadaan yang tengah ia alami. Kakaknya tengah menjilati lehernya.

Naruto menghentikan jilatannya. "Rias..."

Mata Naruko terbuka seketika. "(R-r-rias?)" ujar Naruko masih dengan mulut terbungkam. 'sebegitu cintanya kah kau terhadapnya, Anii-chan?'

"crash!" Naruko menggigit tangan kakaknya.

"Sret!" tangan Naruto terhempas. Memanfaatkannya, Naruko yang mulutnya mengeluarkan taring yang mengalir darah dan mata berair menangis dalam diam langsung berlari membuka pintu kamar keluar dari kamar kakaknya.

"blam!" Naruko menutup pintu dengan membantingnya.

Mata Naruto terbelalak. Ia tidak sengaja melakukannya.

Ia angkat tangannya yang mulai beregenerasi kemudian diendusnya tangan itu dengan menutup mata. "gomen, Naruko..."

Kembali membuka mata, ia menghentikan kegiatan mengendus layaknya anjing itu :v kemudian berjalan kearah kaca dikamarnya. Memandang tubuhnya yang dipantulkan kacanya dengan datar dalam waktu yang agak lama.

"tar!" ia meninju kaca itu dengan keras kemudian memandang pecahan kaca yang berlumuran darah itu dengan datar.

"kuso."

.

.

.

Naruto keluar dari kamarnya dengan wajah datar, kemudian berjalan menyusuri lorong mansion Namikaze dengan celingak-celinguk melihat beberapa perbedaan mansion yang dulu dengan yang sekarang. Mansion Namikaze memang banyak berubah, dan bertambah besar. Tempat yang nyaman, namun Naruto akan lebih nyaman manakala ia tinggal dengan gurunya di prancis.

Terus berjalan, ia berpapasan dengan seorang laki-laki dengan perawakan yang hampir sama seperti dirinya, iris mata berwarna jingga begitupun dengan rambutnya yang jabrik. Wajahnya datar penuh dengan pierching disana-sini, di hidung, di mulut, hingga ditelinga. Satu kata dalam kepala Naruto, 'sangar.'. sebisa mungkin ia tidak akan mencari masalah dengan orang ini. Tapi...

Orang itu mendekat kearahnya.

"gawat," gumam Naruto seraya mempercepat laju berjalannya.

"Naruto-chan." Terdengar suara panggilan dengan suara seorang cewe dari orang tersebut.

Ternyata itu adalah suara dari Karin. Ternyata, laki-laki berpierching tadi itu adalah salah satu bidak Karin. Namanya adalah Yahiko Beoulve, dan nama panggilannya adalah pein. Mengetahui nama asli dari orang tersebut, Naruto mengeluarkan seringai tipis.

"Beoulve kah? Menarik," gumamnya pelan.

"hm? Apa yang kau katakan tadi, Naruto-chan?" tanya Karin penasaran.

"tidak ada,... sepertinya kau mendapat bidak menarik ya, Karin?" ujar Naruto.

"yahahaha, aku harap kau tidak iri padaku, Naruto-kun." Balas Karin mengedipkan sebelah matanya.

"are? Iri? Aku harap kau lah yang tidak akan iri terhadapku Karin-ojou, semua bidakku sama menariknya dengannya." balas masih Naruto mempertahankan seringainya menggoda sepupunya itu.

"hehehehe, itu yang aku harapkan, Naruto-kun."

Mendengar ucapan dari Naruto, Pein menyipitkan matanya. Tapi, setelah itu ia memasang wajah tak peduli dan melanjutkan perjalanan mereka.

Tak lama kemudian, merekapun sampai di aula mansion. Disana, telah ada banyak iblis yang tengah berpesta. Bidak-bidan Naruto, Naruko maupun Karinpun sudah stand by disana. Kelihatannya mereka bertiga adalah yang paling terakhir sampai di tempat itu.

"oke, kami akan ke para bidakku ya, aku tunggu, kejutan darimu, Naruto-chan," ujar Karin dengan nada genit.

"tolong bisakah kau berhenti memanggil namaku dengan akhiran seperti itu, kau tahu, itu benar-benar menjijikkan, Ojou," ujar Naruto dengan aura agak suram.

"ufufufufufufu tidak bisa, itu panggilan sayangku padamu, Naruto-chan." Ujar Karin mengedipkan sebelah matanya.

Aura Naruto menjadi lebih suram. "kuso... kuso-karin, semoga tidak ada cowo yang mau denganmu..." ujar Naruto menyumpahi sepupunya itu.

"kalo tidak ada cowo yang mau denganku, aku akan menjadikanmu sebagai suamiku, Naruto-chan." Ujar Karin dengan pipi bersemu.

Naruto menanggapinya dengan wajah datar dan diam dengan perempatan bertengger dikepalanya. 'mana mau aku nikah ama lu, mak lampir.' batin Naruto.

Merasa tidak ada tanggapan Karin membatin kepada dirinya sendiri dengan agak kecewa. 'ditolakkah? Kuso, mana mau dia denganmu Karin?' lalu ia berucap sambil mulai berjalan. "oke, kalau begitu sampai bertemu di pertandingan ne, Naruto-chan."

"tunggu,"

Karin kembali menengok ke Naruto. "apa?"

"ganbate,"

Pipi Karin kembali bersemu. "urusai, Baka-Naruto-chan." Cicitnya seraya kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti.

Naruto tersenyum simpul melihatnya. "kau benar-benar mirip dengannya, Karin. Tapi, aku mengerti betul kalian memanglah berbeda." Gumam Naruto. "Kau, Naruko, Ino mengerti bagaimana perasaanku. Sedangkan dirinya...,

...Ah sudahlah..." ujarnya menghentikan gumamannya kemudian berjalan menuju teman-temannya yang tengah asik mengobrol. "lagi pula..."

"oooi! Naru-kun! Cepatlah! Rating game akan dimulai!" teriak Ino mencak-mencak marah-marah.

"iya, iya! Sebentar, bawel!" balas Naruto juga berseru. Kemudian mengulas senyum tipis seraya melanjutkan perjalanannya. "nikmati aja dulu deh."

.

"baiklah, mohon perhatiannya sebentar." Ujar Lord Minato dari tengah-tengah ruangan sesaat setelah Naruto sampai di tempat teman-temannya berkumpul.

"aku umumkan, bahwa akan ada sedikit perubahan pada pertandingan rating game kali ini dimana kali ini tiga king dan bidak-bidaknya akan bermain dalam satu papan catur." Ujar Lord Minato.

Semua terdiam tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Lord Minato.

"tunggu, bukannya oyaji-sama sebelumnya menginformasikan bahwa sekarang adalah pertandingan rating game antara aku dengan Naruko sedangkan pertandinganku dengan Karin akan diadakan setelahnya, setelah aku berhasil menang dari Naruko. Lantas, kenapa kami bertiga akan bertanding dalam satu tempat oyaji-sama?" tanya Naruto menyanggah ayahnya.

"jadi begini, Naruto-kun, semuanya, pertandingan ini akan diadakan dengan sistem seperti itu karena satu, mempererat persaudaraan. Dua, membuktikan siapakah kemampuan yang terhebat diantara anakku, Naruko, anak Hashirama-nii-sama, Karin, dan anak angkat Tobirama-nii, kau Naruto-kun. Tiga, membuktikan siapa diantara kalian bertiga yang paling layak menjadi pemimpin selanjutnya dari klan Lucifer cabang Senju yang sekarang aku pimpin." Ujar Lord Minato.

Naruto menggertakkan giginya ketika ayahnya menyebut dirinya sebagai anak angkat Tobirama meskipun pada kenyataannya dia adalah anak kandung dari Minato. "bitch, fuck you Namikaze." Gumam Naruto pelan. Tangannya mengepal dengan sangat erat, mungkin jika dia tidak dapat menahan emosinya, wajah tampan ayahnya bakal terkena bogem mentah darinya.

"tap." Tangan Naruto yang terkepal itu di pegang oleh seseorang.

Naruto menengokkan kepalanya kebelakang. Matanya terbelalak ketika mengetahui siapakah orang itu. "M-Madara-jiji!"

"tenanglah Naruto-chan. Dan... jangan panggil aku jiji, aku tidak setua itu tau." Ujar Madara itu merajuk dengan nada pelan. "yo, lama tak jumpa sahabatku, Minato-kun, dobe!" ujar Madara mengarah kepada Minato dan Hashirama yang ada disamping Minato.

"yo, memang sudah lama sekali ne kita tidak bertemu, Teme. Kemana saja kau selama ini? bagaimana kabarmu?" tanya Hashirama. Dia terlihat sangat akrab sekali dengan Madara.

"hahaha, aku selama ini ada di dunia atas dan sering mampir di rumah Naruto-chan. lalu, soal kabar? Selama ada Naruto-chan dan Ita-chan yang dapat kujahili dan ada Ino-nyan yang mengurusku, kabarku benar-benar sangat-sangat baik. Kau tahu, aku benar-benar menikmati kehidupanku di bumi sana wkwkwk..." ujar Madara seraya mulai mendekati mereka berdua. "hati-hati Naruto, jangan biarkan mereka mengetahui kemampuanmu yang sesungguhnya, percayakan saja rating game ini kepada Ino-nyan dan Ita-kun. Aku yakin mereka dapat mengatasi semuanya." Gumam Madara pelan ketika berpapasan dengan Naruto, tapi ia yakin Naruto dapat mendengar apa yang ia ucapkan.

Naruto menganggukkan kepalanya dengan pelan sembari kembali ke kelompoknya.

"wah, kau dekat dengan bidak-bidak Naruto-kun ne, Madara-kun." Ujar Minato bernada ramah.

"hehehehe, tentu saja, mereka adalah malaikat-malaikatku..." balas Madara berbunga-bunga.

"yahahahaha, siapa yang menyangka, seorang Madara, seorang Vampir mengerikan yang hampir menggeser king Vlad sebagai raja Vampir kalau saja kau tidak dihentikan Itachi-san, menjadi sangat menikmati kehidupannya di dunia atas. Wkwkwkwk. Kau menjadi lembek ne, Teme." Ejek Hashirama.

"wkwkwk, kau yakin dapat mengalahkanku, Dobe?" tanya Madara dengan mata berkedip sebelah.

"hem hem, itu tidak mungkin, Madara-kun. Kemampuan Nii-sama pasti sudah berkarat, selama ini, dia tidak pernah berlatih, kerjaannya Cuma main judi terus." Ujar Minato geleng-geleng kepala.

"kyuu... kau jahat sekali Minato-chan..." ucap Hashirama pundung dipojokan.

"hahaha, sudah ku duga. Kalian sama sekali tidak berubah ne, Minato-kun, Dobe," Balas Madara.

"yahaha, kau juga sama sekali tidak berubah, Madara-kun. Oiya, tunggu sebentar ne, aku minta waktu sebentar, kita lanjutkan pembicaraan menyenangkan kita nanti, ne Madara-kun, Nii-sama." Ujar Minato dibalas dengan anggukan serentak oleh Madara dan Hashirama.

"baiklah kings, ini adalah info bidak-bidak lawan kalian." Ujar Minato menunjuk ke tengah aula.

"Wush!"

Muncul layar hologram berbentuk kubus dengan keempat sisi sampingnya menampilkan hal yang sama, yaitu info beserta foto dan konsumsi bidak dari pemain yang akan memainkan rating game malam ini.

Bidak Karin

Karin Uzumaki (king)

Nagato Uzumaki (queen)

Konan (2 mutation bishop)

Kimimaroo Kaguya (mutation knight)

Tenten (knight)

Sakura Haruno (rook)

Yahiko Beoulve (mutation rook)

Menma Uzumaki (8 mutation pawn)

Bidak Naruko

Naruko Namikaze (king)

Kurenai yuhi (queen)

Shikamaru Nara (2 bishop)

Sasuke Uchiha (mutation knight)

Hinata Hyuuga (knight)

Gaara (2 mutation rook)

Kakashi Hatake (5 mutation pawn)

Kiba Inuzuka (3 pawn)

Bidak Naruto

Naruto Senju (king)

Ino Yamanaka (queen)

Itachi Uchiha (mutation bishop)

Kazuma Satou (bishop)

Mordred (2 mutation knight)

Hidan (mutation rook)

Lalatina Dustiness Ford (mutation rook)

Suigetsu Hozuki (8 pawn)

"baiklah, bagi para player akan kami kirim ke tempat yang sebagai papan catur kalian. Peraturannya mudah, kalian akan disummon di 3 tempat yang berjauhan, bangunlah base disana. Tindakan beraliansi diperbolehkan. Pawn dapat melakukan promosi di base musuh. Kondisi menang adalah ketika kedua king musuh gugur. Permainan akan dimulai 30 menit setelah kalian disummon disana. 30 menit tersebut gunakanlah untuk membuat base dan strategi. King akan di beri masing masing satu smartphone khusus untuk mengetahui siapa saja yang gugur dan mengatur strategi. Peraturan lainnya sama saja dengan peraturan rating game biasa." Ujar Minato menjelaskan. "baiklah sekarang saatnya, Kushina!"

"baik, Minato-kun!" balas wanita cantik berambut merah itu seraya membungkukkan badannya. Kemudian ia berjongkok dan menyentuhkan kedua telapak tangannya diatas lantai. "Transfer!"

Sedetik setelah Kushina mengucapkan nama tekhniknya, muncul lingkaran sihir berwarna kuning khas Namikaze di bawah para pemain kemudian diikuti oleh para pemain yang mulai menghilang.

.

.

.

Rating Game...

Naruto membuka matanya, ia merasakan tubuhnya yang yang kedinginan. Hal pertama yang ia lihat adalah hamparan padang pasir dimalam hari. Rupanya, arena rating game kali ini adalah di gurun. Tidak, setelah ia lihat dengan seksama, ternyata hanya wilayahnya saja yang dipenuhi pasir gurun.

Melihat kekanan, wilayah Naruko adalah wilayah bebatuan yang banyak cekungan menjorok kebawah seperti bekas meteor. Tentu saja wilayah itu sangatlah menguntungkan bagi mereka, mengingat kemampuan Naruko adalah mengendalikan angin, bebatuan dan tanah, dan kristal. Tapi bisa dibilang, menurut Naruto posisi mereka tidaklah strategis. Posisi mereka hanya akan memudahkan musuh untuk menyerang terutama untuk seorang pemanah seperti Kazuma.

Melihat kekiri, wilayah Karin, adalah wilayah yang penuh dengan pepohonan, dengan kata lain wilayah itu adalah hutan. Benar-menguntungkan untuk mereka, Karin tidak perlu menciptakan Hutan secara manual dengan elemen kayunya. Dan lagi, hutan adalah tempat yang cocok untuk membuat jebakan ataupun tempat bersembunyi. Tapi, hutan juga sangat rapuh, Itachi dapat dalam sekejap mengubah hutan itu menjadi lautan lahar.

Mengesampingkan itu, ia kembali melihat layar Smartphone Rating Game nya.

Mata Naruto terfokus terhadap 6 nama, yaitu Menma, Konan, Yahiko, Kurenai, Sasuke, dan Gaara.

Tentu ia tidak benar-benar terkejut melihat semua pawn yang dikonsumsi Menma merupakan bidak naik pangkat. Tapi, ia terkejut mengetahui Menma menjadi bidak Karin. Dan ia tahu betul bagaimana ngerinya Menma sebagai salah satu Seven Deadly Sins yang menyandang 'dosa Serakah'. Ia yakin begitu rating game dimulai, Menma akan menerjang pasukan musuh, mencari musuh yang menarik untuk dibantai dengan tujuan memuaskan keserakahannya. Satu hal lagi, Menma adalah kembaran Naruto selain Naruko. Dari dulu, Menma sangat berambisi mengalahkan Naruko yang notabene lebih kuat dari Naruto maupun Menma sendiri. Jadi, ia yakin, Naruko lah orang pertama yang akan di terjang langsung oleh Menma. Solusi terbaik mengalahkannya adalah dengan menggunakan Ino yang juga merupakan salah satu Seven Deadly Sins sebagai pendosa terkuat yang menyandang ibu dosa 'dosa sombong'. Tapi, ia yakin ada solusi lain yang lebih baik daripada itu, dan itu adalah...

"Suigetsu." Sebutnya memanggil si bocah air.

Suigetsu yang sedang mengobservasi pasir yang dingin itu langsung memperhatikan kingnya. "ada apa, Naruto-sama?" tanya si empu.

"Urus Menma." Ujar Naruto.

"hah?" Suigetsu ternganga mendengarnya. "kau gila, Naruto-sama? Kau ingin aku mengatasi Monster yang bahkan dapat mengalahkan sanin dalam due itu? Kuharap ini hanya candaanmu saja." Ujar Suigetsu geleng-geleng kepala mendengar intruksi Naruto.

"aku tidak menyuruhmu mengatasinya, aku hanya memintamu mengurusnya. Untuk urusan menang atau kalah, itu tergantung padamu." Balas Naruto.

"sudahlah, Sui-kun, kau ikuti saja perintah, Naruto-sama. aku yakin kau akan menang." Ujar Darkness mengelus punggung Suigetsu.

"haaah... yosh, akan aku lakukan tugasku, Naruto-sama." Ujar Suigetsu bersemangat.

"bagus! Baiklah, Aniki, kau serbu base Naruko, genjutsumu akan sangat berguna disana. Mordred, bersenang-senanglah dipusat pertempuran, buka jalan untuk Suigetsu. Lalatina, lindungi base sekuat tenagamu. Hidan-nii, kau... bantai queen Karin!"

"What! Kau ingin Hidan-sama langsung terbunuh di rating game ini, Naruto-sama?" tanya Kazuma menyela keras keputusan Naruto.

"jangan meremehkan Hidan-nii, Kazuma. Tanpa kekuatan penuh dia dapat membunuh Nagato. Itulah yang aku harapkan darinya, kumohon, jangan gunakan kemampuan vampir mu Hidan-nii. Apapun yang terjadi, targetmu adalah Nagato,"

Hidan menyeringai tajam. "hehehe, tantangan yang menarik."

"dan Kazuma, peranmu adalah yang paling penting disini. Kau akan membantu kami dengan busurmu sekaligus Navigator permainan. Kau akan kutempatkan ditempat yang tinggi. Bantulah kami semampumu dan jangan gunakan anak panah gila itu oke?" ujar Naruto yang pada kalimat terakhir, tubuhnya merinding disko.

"baik, Naruto-sama." Jawab Kazuma mengacungkan jempolnya.

"baiklah, strategi utama selesai. Kita akan bersiap-siap-"

"tunggu, aku bagaimana?" tanya Ino menyela ucapan Naruto.

"aku memiliki rencana sendiri denganmu, sementara kau di base saja menemaniku tidur."

Semua facepalm mendengarnya, 'Cuma akal-akalan doang...' Itulah yang mereka fikirkan. Tapi mereka tidak berani mengutarakannya, karena kelihatannya Ino juga tidak keberatan.

"baik, karena tidak ada yang keberatan, kita akhiri strategi pertama ini. Masih ada 23 menit sebelum dimulai rating game. Lakukan apapun yang kalian inginkan, terserah. Yang penting bangunkan aku 3 menit sebelum pertandingan rating game dimulai, oke?" ujar Naruto seraya merebahkan kepalanya di paha Ino yang tengah bersimpuh diatas pasir.

Ino perlahan menelus kepala Naruto dengan lembut layaknya seorang ibu kepada anaknya.

Kazuma menatap bossnya itu dengan pandangan iri. 'enak banget tidur diatas Ino-nee sambil kepalanya di elus.'

Naruto mengeluarkan seringaiya. "Kazuma-kun." Sebut Naruto.

"i-iya," balas Kazuma tergagap.

'seperti dugaanku, kau memperhatikan posisiku ne, Kazuma. Aku kerjain ah! Wkwkwk...' "look at me, okay?" ujar Naruto mengacungkan jari tengahnya pada Kazuma membuatnya agak tersinggung. Naruto mulai mengendus selangkangan Ino sembari mengelus paha Ino. Kebetulan sekali Sekarang ini Ino menggunakan rok pendek berenda yang mudah sekali dibuka. Melirik Kazuma yang berkeringat dingin, Naruto menyeringai kembali.

"eeergh..." terdengar suara erangan tertahan pelan dari mulut Ino.

Kazuma meneguk ludah mendengarnya.

Seringai Naruto semakin menebal. Ia ingin respon Kazuma yang lebih heboh. Kembali ia mulai mengendus selangkangan Ino. Kemudian ia menjilat paha mulus milik malaikat pirang itu

Ino merasa geli dengan hal itu. Ia merasa ada sesuatu berlendir ngesot dipahanya. Mengetahui itu adalah lidah Naruto, ia kaget. "kyaah hentai!"

"duak!"

Terciptalah benjolan tingkat 10 dikepala sang EroKing :D.

"hah... hah... hah..." Ino terengah-engah kemudian menghela nafas menormalkan detak jantungnya.

Mendadak wajah Kazuma menjadi pucat pasi melihat kepala kingnya yang berakhir mengenaskan. 'bisa gawat kalau aku terkena pukulan nee-san.' Pikirnya.

"ZZZzzzz.."

Wajah Kazuma berubah menjadi facepalm melihat kingnya yang tertidur nyenyak dipangkuan Onee-san.

Akhirnya ia memutuskan gabung bareng teman-temannya yang tengah main api unggun yang dibuat Itachi dari lahar panas (?).

.

"Crystal Castle!"

Seketika, dari dalam tanah, mulai muncul kristal-kristal berwarna kuning terang mengelilingi Naruko membentuk benteng kristal yang menjulang 10 meter diatas permukaan batu dengan luas benteng sekitar 100m x 100m. "baiklah, kita susun strategi. Shika-kun!"

Pria bergaya rambut nanas yang sedang duduk itu mengangguk dengan wajah bosannya. "iya, iya, Ojou-sama... merepotkan..." ujarnya menggaruk kepalanya malas kemudian mengubah posisinya menjadi berdiri. "baiklah, jadi, mari kita susun formasi kita. Kakashi-sensei... kau dan Hinata... serang base Naruto-sama dan buka jalan untuk Gaara. Mungkin kalian akan menemui masalah dengan rook atau penyerang Naruto-sama. tapi batu disekitar kita dan padang pasir mereka sangatlah menguntungkan bagi Gaara."

"..."

Tidak mendapat respon penolakan, Shikamaru melanjutkan. "baik, tidak ada yang menolak-"

"aku menolak!..." ucap Sasuke dengan renyahnya.

...akulah yang akan menyerang Itachi!" tegas Sasuke.

"jangan bodoh! Kau tidak akan menyerang base Onii-chan, Sasu-kun!" ucap Naruko tegas dan datar.

"itu benar, kau tidak akan menyerang mereka. Elemen Uchiha-sama adalah api, api yang sangat mengerikan. Dia akan lebih efektif untuk menyerang base Karin-sama." jelas Shikamaru. "kau akan lebih senang jika lawanmu adalah si dosa serakah, Menma-sam-"

"tidak, aku juga tidak setuju. Dia tidak akan segan mencincang habis Sasuke-kun jika dia menghalangi jalannya." Ujar Naruko dengan sangat serius. Alisnya menukik tajam dan udara tiba-tiba menyesak oleh KI yang ia keluarkan. 'kalian tidak tahu bagaimana dia mempermalukan legenda sanin itu bergantian serta membunuh dua diantara mereka, tidak tahu bagaimana ngerinya nafsu yang ia miliki untuk mengalahkanku.' Meskipun dari dulu Menma tidak pernah sekalipun mengalahkan Naruko, Naruko tidak pernah sekalipun meremehkannya, itu karena satu hal, ia tahu Menma sangatlah kuat.

Mereka terdiam, tak pernah sekalipun mereka melihat king mereka seserius itu. Tapi...

"itu benar-benar bagus. Aku akan mendapat lawan yang sepadan." Ujar Sasuke menyeringai tebal menyulut emosi sang king.

"Sasuke Uchiha!" ucap Naruko dengan menekan Nama Sasuke. "kau benar-benar membuatku marah. Tahukah kau aku tidak pernah sekalipun menolak tantangannya ataupun malah mengalah padanya. Tahukah kau aku sangat menyayangi Nii-sama meskipun ia menyandang dosa serakah?" kali ini Naruko tidak main-main, iris matanya sudah memerah dengan garis hitam vertikal ditengahnya dan 3 ekor rubah mulai keluar dari bokongnya.

Sasuke terdiam. Dia tidak merespon apa-apa, diam santai seraya menggandeng tangan Hinata selalu.

"oke, sebaiknya kau berada di pusat rating game, ditengah. Aku yakin mereka tidak akan mengirim seseorang yang mudah untuk dilawan." Ucap Shikamaru seraya matanya memerhatikan kingnya yang masih dalam keadaan emosi.

"aku menolak!"

"jangan egois, Uchiha!" sentak Shikamaru. Ya, dia benar-benar marah, bisa-bisanya menolak mentah-mentah perintah dari king. Memang benar, si uchiha ini adalah bidak Naruko yang paling bandel. "aku tantang kau! Jika kau berhasil mengalahkan kiriman mereka ditengah, aku janji akan menjadi budakmu selama 100 tahun." Ucap Shikamaru membuat mereka semua langsung terlonjak kaget.

"Shika-kun." Ujar Naruko menurunkan killing intens (KI)nya. Ia benar-benar tidak menyangka Shikamaru akan melakukan hal ini. Sekarang ia mulai merasa bersalah terhadap bishopnya itu.

Sasuke menyeringai. "lalu jika aku kalah?"

"serahkan Hinata kepadaku!"

"!" kali ini Sasukelah yang benar-benar dilahap emosi. Bahkan ia sudah hendak menghunuskan pedangnya ke perut Shikamaru. Jika saja tangannya tidak ditahan oleh Hinata.

"sasuke-kun, jangan menjadi begini... kita ini semua adalah teman... hiks!" ujar Hinata dengan suara serak dan mata sembab.

"!" Sasuke panik. Ia benar-benar tidak tega melihat wanita tercintanya menangis. "Hinata... jangan menangis ya... aku tidak akan mengorbankanmu kok." Ujar Sasuke menunjukkan senyum hangatnya.

Sebagai respon dari tindakan Sasuke, Naruko dan Kurenai membulatkan mulutnya dan berbunyi "wooow..."

Tentu saja Sasuke facepalm melihatnya. "kalian kenapa?" baru kali ini ia mendapat respon setidak jelas itu

"kau benar-benar manis ketika tersenyum hangat ne, sasu-chan..." ujar Naruko dengan mulut menyeringai seperti kucing.

"itu benar, Sasuke-san benar-benar membuatku deg-degan." Ujar Kurenai menyentuh dada kirinya tempat jantungnya berada dengan menutup mata.

Sasuke menghela napas. Ia tahu ia memanglah benar-benar tampan. Tapi ia tidak mengerti kenapa mereka baru mengerti kalau dirinya itu manis sejak lahir (beh narsis bener nih orang sebenernya -_-"). "oke, baiklah, aku akan menerima tantanganmu asal, jika aku kalah, kau tidak akan mengambil Hinata, Shikamaru."

"Lalu, apa yang akan kau tawarkan sebagai gantinya?"

"aku tidak akan memberikamu apa-apa..." ujar Sasuke membuat semua langsung face palm.

"baiklah, jika kau sudah menyetujuinya." Ini lagi, entah kenapa Shikamaru kali ini terlihat begitu bodoh dimata mereka.

Dengan keringat sebiji jagung menggantung dikepalanya, Kiba berujar. "kenapa kau menyetujuinya, Shika?"

"karena perdebatan itu sangatlah 'merepotkan'"

"Gubrak!"

Yah, itu sangatlah Shikamaru. Meskipun ia cerdas, ia akan selalu menghindari sesuatu yang benar-benar merepotkan baginya.

"baiklah, untuk menyingkat waktu, langsung saja, yang akan menangani Menma-sama adalah Naruko-sama. aku akan menjaga base. Kita rubah strategi, Kiba dan Hinata akan menyerang ke Karin-sama. sedangkan kakashi-sensei dan Kurenai-senseilah yang akan membuka jalan Gaara."

.

Suasana para bidak karin benar-benar berbeda dengan suasana tempat Naruko maupun Naruto. disini benar-benar segar, banyak tumbuhan hijau disekitar mereka, bahkan base yang dibuat karin pun berupa tumbuhan.

"yah, Menma-kun di sini akan berperan sebagai tombak utama," ujar Nagato sebagai seorang strategist yang strateginya katanya dapat menyaingi seorang nara. "aku yakin Nara-san akan mengarahkan bidak Naruko-chan untuk memfokuskan penyerangan menyerang base Naruto-sama mengingat padang pasir disana sangatlah menguntungkan bagi rook mereka."

"lalu bagaimana dengan pertahanan mereka." Tanya Tendo datar.

"jika mengetahui apa yang diinginkan Menma-kun, aku yakin mereka akan langsung menempatkan Naruko-sama sebagai pertahanan kokoh." Ujar Karin. "Aku yakin Naruko akan melawan langsung Menma, pastilah Naruko sadar betul jika diantara bidaknya tidak ada yang mampu menggugurkan Menma. Jika memang begitu, Naruko pasti tidak ingin bidaknya mati sia-sia sehingga pastilah Naruko akan menghadapi langsung Menma."

"Jangan lupakan musuh kita yang satu lagi." Ucap Tendo datar lagi.

"aku tidak yakin dengan hal ini, Itachi-san adalah tipe api yang sangat efektif untuk menyerang kita. Tapi firasatku mengatakan, dia tidak akan menyerang kita. tapi kita tak perlu mengkhawatirkan hal itu karena disanalah kelemahannya berada." Ujar Nagato seraya memunculkan hologram dari smartphone yang diberikan Minato. Kemudian hologram itu mulai menampilkan seorang wanita cantik bersurai hitam bergelombang yang indah dan mata merah. Benar, itu adalah queen Naruko, Kurenai.

"lalu, bagaimana dengan anggota-anggota Naruto-san yang lain? Kita sama sekali tidak tahu informasi tentang mereka."

Nagato mengangguk. "baik, kita mulai dari Queen, Ino-chan. Bisa aku katakan, dia adalah salah satu anggota Naruto-sama yang benar-benar harus kita waspadai. Dia sangat piawai menggunakan tombak dan pedang, kecepatannya pun menakjubkan. Lengah sedikit, jantungmu akan terbelah. Tapi, aku yakin ia akan tetap di base menemani king tersayangnya. Knight, Mordred. Sama seperti nama besarnya, aku yakin ia sangat ahli menggunakan pedang gaya barat. Ia adalah lawan yang sangat berat mengingat ia mengonsumsi 2 bidak mutasi ksatria, jadi sangat mungkin ia akan menjadi penyerang. Rook, Hidan, aku, Konan, dan Yahiko cukup mengenalnya karena kami pernah bersahabat dengan dia dan Itachi. Dia musuh yang sangat mengerikan, abadi." Ujarnya menjelaskan dengan ingatannya tentang mereka.

"lalu, bagaimana kita akan menangani mereka." Tanya Sakura.

"mempertimbangkan kemampuan bidak Naruto-kun, aku dan Konan akan terjun langsung menghadapi mereka. Yahiko, untuk jaga-jaga, kau-"

"nyes-"

Tiba-tiba mereka merasakan KI dari arah base Naruko. Mereka menyadari, ini adalah KI dari sang king, Naruko. Dua kali, dua kali gelombang KI Naruko menyebar.

Mereka saling pandang, mencari tahu maksud dari KI tersebut.

Menma menyeringai tajam. "dia menerima tantanganku seperti biasanya."

.

Oke, kembali ke base pemain utama kita. dilihat dari keadaan, sepertinya mereka tentram-tentram saja tanpa mengganggu tetangga-tetangga mereka :v. Lihatlah badut yang tengah lari terbirit-birit dikejar gelombang arus lahar di tengah parit luas yang memutari benteng tanah buatan Ino.

"Wuaaa! Itachi no Baka! Kau ingin membunuhku!" teriak Kazuma berlari sekuat tenaganya.

"wuahahahaahaha!" tawa Hidan menggelegar menertawai situasi konyol yang dialami Kazuma.

Sedangkan Itachi hanya tersenyum simpul melihat kerja bagusnya :v.

Mordred yang ada disamping Itachi menyeringai. "seorang prajurit memang harus mengalami hal semacam ini untuk menjadi kuat." Ujarnya layaknya seorang jendral perang.

Wush! Tiba-tiba- ia berlari lewat samping parit menuju Kazuma kemudian lompat masuk kedalam parit.

"prajurit," ucap Mordred memanggil Kazuma.

Menengok, Kazuma kaget melihat Mordred yang berlari bersamanya. "ngapain kau ikutan turun! Kenapa kau tak menaikkanku dari atas saja baka!" teriak Kazuma dalam keadaan yang menurutnya malah makin runyam.

"kau tidak menyuruhku." Ucap Mordred dengan wajah innocent. "lagipula seorang ksatria tidak akan membiarkan hanya prajuritnya saja yang merasakan adrenalin ketika berperang. Aku, sebagai Knight, disini akan menemanimu hingga akhir hayatmu."

Kazuma sweatrop mendengarnya. 'dia ingin aku segera mati.'

Nyes

"Wuaaaa!" teriak Kazuma dengan bokong gosong terbakar.

Naruto, Ino, Suigetsu, dan Darkness yang tengah asyik mengobrol facepalm melihat kekonyolan badut-badut itu.

"mereka bodoh." Ucap Darkness.

"mereka bodoh." Lanjut Suigetsu.

"mereka benar-benar bodoh." Tegas Naruto.

"aku lapar." Ucap Ino yang benar benar gak nyambung dengan mereka. Merogoh kantong roknya, ia mengambil coklat batangan, mengupas bungkusnya kemudian memakannya dengan anggun.

Semua penonton yang ada diluar pertandingan rating game facepalm melihat betapa konyolnya bidak-bidak Naruto. yah, setidaknya dapat menjadi tontonan yang menyenangkan.

.

"NTONNNNnnn!"

Terdengar suara terompet perang.

"suara apa itu?" tanya Naruto.

Suigetsu, Ino, dan Darkness mengedikkan bahunya tanda mereka tidak tahu.

Tiba-tiba Mordred berlari menuju tengah area rating game, kazuma berlari menuju menara yang dibuat oleh Ino dari tanah yang setinggi 100 m diatas permukaan gurun pasir, Hidan yang mulai berlari kearah base Karin, dan Itachi yang stand by di jembatan.

"jadi, rating game sudah dimulai?" tanya Ino.

"tunggu apa lagi, ayo keposisi kalian." Ujar Naruto seraya menaiki bentengnya.

Segera, Suigetsu langsung berlari mengikuti arah lari Mordred.

"Tsunami!" ujar Naruto mengangkat tangannya kedepan 100 derajad dari bawah.

"Jush!" air bah muncul dari depannya meluas dengan cepat membanjiri seluruh area rating game membuat semua player yang ada di area menjadi agak panik bahkan anggotanya sendiri yang ada di luar bentengnya juga terkena imbasnya. Andaisaja Kazuma ada disana, mungkin ia akan menjadi korban pertam-

Notice : "Kakashi Hatake, Pawn Naruko telah gugur oleh serangan tiba-tiba Naruto karena tidak bisa berenang."

Suara Notice dari Kushina membuat tidak hanya seluruh pemain rating game tapi juga seluruh penonton menjadi facepalm. Mereka tidak menyangka, seorang elite macam Kakashi Hatake, ternyata tidak bisa berenang. Sungguh fakta yang benar-benar mengejutkan.

Naruto sendiri juga agak terkejut dengan hal ini, ia sangat dekat dengan Kakashi dari kecil sebagai murid Kakashi bersama dengan dua saudaranya tapi baru kali ini ia tahu ternyata sosok guru yang berharga itu tidak bisa berenang. "ternyata Kazuma hanya akan menjadi korban kedua ketika ada banjir." Ujarnya setelah mengetahui fakta itu.

Mengabaikan hal absurd itu, Mordred terus berlari ketengah dengan kecepatannya sebagai ksatria elit tanpa menghiraukan air bah yang masih belum surut. Tahukah mengapa ia bersemangat? Ia sangat mengharapkan musuh yang benar-benar dapat ia hajar habis-habisan. Ia berlari dengan mulut yang terus menyunggingkan seringai. "prajurit, ksatria, ataupun raja? Akan ku hajar semua yang ada disana. Tunggu aku..."

Begitupun dengan Hidan, ia menggunakan sabitnya untuk berselancar di atas air bah. Entah bagaimana sabit itu bisa berjalan diatas air, mungkin itu adalah suatu hal yang tidak biasa atau malah bisa dibilang hal yang luar biasa. Entahlah... yang jelas, Hidan sangat menikmati permainannya.

Perlahan, air menyurut. Hidan kembali lari menggunakan kakinya di hutan area Karin. Masih dengan Hidan yang terus menyeringai tebal. Perlahan terlihat seluet rambut merah yang berlari kencang kearahnya dan seluet rambut biru dengan sayap kertas tengah terbang kearahnya.

"Nagato dan Konan kah? Langsung bertemu target? Ini benar-benar kebetulan yang memberiku keuntungan. Mana Yahiko? Kenapa dia tidak bersama mereka?" gumam Hidan masih berlari sambil menyeret pedang sabitnya.

Sret!

Tiba-tiba ia menghentikan larinya. Kakinya mulai membentuk sesuatu ditanah. Kelihatannya yang ia bentuk adalah sebuah gambar lingkaran dengan diameter 1 meter. Kemudian ia menggambar segitiga sama sisi di dalamnya dengan ketiga ujung menempel di lingkaran. Ia menyeringai tajam ketika merasa target sudah mendekat.

"serasa kembali mengulang masalalu, aku sebagai target kalian." Ucap Hidan dengan tubuh yang berlawanan dengan arah datangnya musuhnya. "tapi sekarang berbeda, akulah yang akan menjadi pemburu. Dan kalianlah yang akan menjadi target buruanku."

"Hidan? Jadi benar, lawan pertama kami adalah kau, Hidan." Ucap Nagato membalas ucapan Hidan.

"Hidan-kun, bagaimana kabarmu?" tanya Konan.

"kabarku benar-benar baik, Konan-chan. Kau tahu, teman-teman baruku benar-benar baik dan kuat. Aku yakin kami akan menang dalam pertandingan ini." Jawab Hidan seraya membalik badannya kemudian mulai memasang kuda-kuda. "mari kita lihat, apakah kalian masih sealot dulu atau sudah karatan,"

Hidan langsung melesat kearah Nagato sambil mengayunkan sabitnya horizontal kiri berniat membabat tubuh Nagato.

Dari dalam lengan jubah Nagato keluar besi hitam. Kemudian ia menggunakan besi itu dengan tangan kirinya untuk menangkis sabit besar itu.

Terhenti, babatan Hidan dapat dihentikan oleh Nagato. Tapi, tangannya bergetar kencang. Ia menyadari betapa kuatnya babatan Hidan dengan sabit itu. Jika ia terus menggunakan tangannya untuk menghentikan serangan itu, tangannya akan mati rasa.

Belum berhenti, kembali Hidan dengan gerakan yang sama membabat leher Nagato.

Kali ini Nagato tidak mengambil resiko untuk menagkisnya, ia memilih untuk membelokkan serangan hidan.

"crash" tapi, paha kanannya malah menjadi imbas serangan Hidan. Luka vertikal tercipta disana.

'sial, sebaiknya aku menggunakan dua besi.' Batin Nagato. Dari lengan jubah kanannya keluar besi hitam yang serupa dengan besi di tangan kirinya. Kali ini ia membuat kuda-kuda sempurna.

Notice : "Kiba Inuzuka, pawn dari Naruko telah gugur karena mimisan sampai kehabisan darah setelah melihat Hinata basah kuyub memperlihatkan bagian tubuhnya."

Kembai, semua dibuat facepalm dengan Notice yang baru saja keluar.

"hey, semua bidak adik Naruto-sama mati sia-sia. Semoga jashin-sama menerima kematian mereka." Ujar Hidan dengan keringat sebiji jagung dikepalanya.

"yah... mari kita jadikan mereka sebagai contoh yang buruk." Balas Nagato.

Kembali, Hidan menyerang Nagato menggunakan sabitnya dengan ganas. Meskipun gerakan tubuhnya terlihat lambat, tapi berbanding terbalik dengan tebasannya yang begitu cepat dan susah untuk dihindari. Jika begini terus, dapat dipastikan Nagato akan menjadi santapan sedap untuknya.

Meski selama itu Nagato dapat mengimbangi kecepatan tebasan Hidan dengan kedua tangannya, tetap saja, tenaga yang ia miliki terbatas. Berkali-kali ia menyerangnya dengan kelima elemen yang ia kuasai. Tapi hasilnya tetap saja, Hidan dapat memblokir serangannya dengan pedang sabitnya.

Akhirnya Nagato terus melakukan pertarungan jarak dekat, mencari kelemahan Hidan.

"crash!"

Paha kanan Hidan tertusuk kertas yang meluncur dari belakangnya. Pelakunya tentu saja Konan. Kelihatannya Hidan melupakan eksistensi wanita yang satu ini. Melompat mundur untuk mengambil jarak dari Nagato. Perlahan luka dipahanya mulai memulih. "wuahahahaha! Jashin-sama! aku lengah!" teriaknya.

Benar sekali, kelemahan Hidan adalah fokus bertahannya, dia adalah tipe duelist. 1v1. Tanpa partner, ia akan agak kesusahan apabila musuh lebih dari satu. Tapi, dia adalah seorang 'Mad Hidan', seorang brengseker, maksudku berserker :v, yang akan melawan musuhnya tanpa adanya rasa takut sama sekali meskipun musuh berkali lipat lebih kuat darinya.

Sekarang ini, ia tengah berdiri diatas gambar yang ia gambar tadi.

"jashin-sama! lihatlah aku." Teriaknya.

Ia mulai mengarahkan ujung sabitnya kemulutnya kemudian ia menjilat bercak merah yang ada di ujung sabit itu kemudian menyeringai sadis.

Nagato dan Konan bingung apa yang akan dilakukan olehnya. Tapi, mereka merasakan firasat buruk tentang ini.

Segera Nagato langsung melesat kearah atas Hidan dan menyerangnya dengan membabibuta. Tapi, bukannya menyerang, ia malah ditebas habis-habisan oleh Hidan. Seandainya ia tidak memiliki kecepatan yang bagus, ia tidak akan dapat menangkis serangan hidan dan sudah dapat dipastikan ia seketika akan mati.

"Crash"

Leher Hidan terpotong karena serangan tiba-tiba dari Konan dan kepalanya terlempar. Segera, setelah merasa sudah dapat mengalahkannya, Nagato langsung mengambil jarak dengan tubuh tanpa kepala Hidan. Mereka mengira pertarungan sudah berakhir. Namun, anehnya, tubuh Hidan tetap berdiri tegak meskipun tanpa kepala. Dan tidak ada tanda-tanda Notice akan keluar.

"?" Nagato dan Konan bingung.

"Huahahahahaahahahaha! Jashin-sama! lihatlah! Aku akan menjadikannya persembahan untukmu!" ucap Hidan dengan tubuhnya yang tanpa kepala menunjuk kearah Nagato. Gambar dibawahnya mulai bercahaya merah kehitam-hitaman. mereka mulai berfikir kalau itu merupakan sebuah segel sihir.

Nagato dan Konan merasakan firasat buruk tentang hal ini. "?" tapi mereka bingung akan melakukan apa.

...RITUAL MODE!"

Tubuh Hidan mulai menghitam dengan aksen putih. Wajahnya menyeringai penuh kekejaman. Dari dalam lengan baju tubuh tanpa kepala Hidan muncul besi hitam serupa dengan besi yang dibawa Nagato.

"jleb!" Hidan menusuk perutnya sendiri dengan besi hitam itu diatas segel sihir yang dibuatnya.

"cough!" dari mulut Nagato, ia memuntahkan darah segar dan diperutnya tercipta lubang tusukan memancurkan darah ia tidak tahu darimana datangnya luka itu. "a-apa...? ada apa ini?" ujar Nagato dengan mata bergetar. Perutnya benar-benar sakit. Ia bingung. Karena bingung, akhirnya dengan menggunakan sisa tenaganya ia segera melesat kearah Hidan.

"Nagato!" jerit Konan terhadap kekasihnya itu sekeras mungkin. Ia menyesal tidak dapat banyak membantu kekasinya itu karena beradu serangan jarak jauh dengan pemanah yang ada di menara tempat Naruto berada.

.

Mordred dengan diikuti Suigetsu sampingnya terus berlari menuju tengah area rating game.

Tap! Tap!

Mereka akhirnya berhasil menapak di atas tanah ditengah area itu.

Disana ternyata sudah ada yang menunggu. Dua pria berbaju putih berwajah datar bersurai putih dan bersurai hitam serta seorang gadis bersurai coklat bercepol. Kimimaroo Kaguya, Sasuke Uchiha, dan Tenten.

"hmm? Jadi mereka lawanku? Cih, ternyata lawanku hanya prajurit-prajurit rendahan?" ujar Mordred mendecih meremehkan ketiga musuhnya.

Dari sudut pandang Suigetsu ia melihat mereka bertiga sebagai musuh yang berat. Mendengar apa yang diucapkan Mordred, ia cukup terkejut. "prajurit rendah? Kuharap kau hanya bercanda. Kau lihat, itu yang rambutnya putih adalah keturunan terakhir klan Kaguya yang konon memiliki kemampuan setingkat dewa dengan tulang yang bahkan bisa memotong besi dengan mudah. Kimimaroo... seorang kaguya dengan kemampuan tulangnya tadi ditambah kemampuan berpedang yang menakjubkan. Dia benar-benar mimpi buruk untukku." "lalu yang bercepol itu. Aku sering melihatnya di pertandingan rating game, dia hampir sama mengerikannya Kimimaroo maupun Sasuke dengan kemampuannya yang ahli dalam menggunakan segala jenis senjata. kemudian Sasuke, aku cukup mengenalnya, ia adalah adik Itachi-san. Kemampuannya dalam menggunakan katana bisa dikatakan seimbang dengan Kimimaroo, ditambah kemampuan secret gearnya. Dia sangat mengerikan." Ujar Suigetsu. Dia benar-benar serius dengan hal ini.

"hm? Begitukah? Apakah kita dalam keadaan yang menguntungkan?" tanya Mordred menaikkan sebelah alisnya dengan seringai tajam.

"kita? tugasku disini adalah terus maju dan kau harus melindungiku untuk melewati garis tengah ini. Jadi, kaulah gadis tidak beruntung itu-"

"itu lebih bagus," sahut Mordred. "aku tidak harus berbagi denganmu dalam bersenang-senang. Dan apa tadi? Tidak beruntung? Aku? Yang benar saja? Seorang prajurit? Dapat menjadikanku orang yang tidak beruntung? Merekalah yang tidak beruntung. Seharusnya Naruko-dono dan Karin-dono mengirim seseorang yang setidaknya seimbang denganku." Ucapnya berdiri tegak menghadap kedepan dengan tangan yang seperti disandarkan diatas gagang pedang yang ditancapkan layaknya seorang Knight.

Notice : "Hidan, Rook dari Naruto gugur karena dijabut jiwanya oleh Nagato."

Notice : "Nagato Uzumaki, Queen Karin gugur karena kutukan dari Hidan."

Semua orang yang ada disana kecuali Mordred melebarkan matanya. Mereka kaget mengetahui Nagato, yang rumornya setengah dewa karena kemampuannya yang luar biasa dapat dikalahkan oleh seorang rook dari bidak Naruto.

'jadi inilah maksudnya Naruto-sama untuk tidak meremehkan Hidan-san.' Batin Suigetsu.

Mordred menyeringai, 'jadi, Hidan yang pertama ya... cepat juga dia mengalahkan bocah itu.'

"srriiingg..."

Muncul cahaya di depan mordred tepat dibawah telapak tangannya. Dari sana, cahaya itu mulai memudar yang kemudian berubah menjadi sebila pedang bergaya barat berwarna metal dengan aksen merah (cari di gugel, google kalo gak tau :v, Claurus Sword Fate Apocrypha). Benar, inilah pedang Claurus, pedang yang bermandikan darah sang raja para Knight, Arthur Pendragon. Pedang yang benar-benar menunjukkan bahwa sang pengguna, Mordred, bukanlah seorang Knight biasa. Menunjukkan keagungan penggunanya.

"..." ketiga musuh mereka berdua terdiam, karena tidak tahu pedang apa yang dimiliki Mordred. Yang mereka rasakan adalah sebersit rasa takut ketika melihatnya. Merasakan keagungan pemilik pedang tersebut. Tapi, kenyataannya mereka memang tidak pernah tahu pedang apakah itu.

"ak..." wajah Suigetsu memucat ketika melihat langsung pedang itu. Ia memang pernah mendengar cerita tentang bilah yang bermandikan darah Arthur itu oleh kakaknya, dan ia diberi tahu Ino bahwa Mordred lah yang memiliki pedang tersebut. baru kali ini ia melihat langsung pedang itu. Ia pun juga tidak pernah melihat Mordred mengeluarkan pedang itu dihadapannya. Sebelumnya, ia hanya menganggap ucapan kakaknya dan Ino adalah bualan belaka. Namun sekarang... ia tahu, bagaimana perasaan takut kakaknya ketika menceritakan pedang ini.

Mordred menghela napas melihat musuhnya yang sepertinya berkeringat dingin. "haah... sepertinya aku berlebihan." Ujarnya dengan wajah kesal. "Sepertinya pedang ini terlalu elit dan terlalu berlebihan jika hanya untuk sekedar membunuh mereka." Ujar Mordred menggeleng-gelengkan kepala.

Suigetsu facepalm ketika mendengar kalimat 'sekedar membunuh mereka' dari Mordred. 'jadi dia hanya menganggap hal itu sebagai hal yang remeh?'

Tidak ada tanda-tanda akan menyerang dari Kimimaroo, Sasuke, maupun Tenten. Tapi mereka tetap dalam posisi siaga.

Hal ini tentu saja membuat Mordred kesal. "huuh, daripada diam saja seperti ini, aku serang duluan aja deh."

"nyus!"

Dalam sekejap Mordred sudah ada didepan Tenten dengan pedang mengayun siap memenggal kepalanya.

"trang." Tapi, serangan itu dapat ditangkis dari bawah oleh Sasuke.

"a-apa..." Sasuke terkejut melihat tangkisannya hanya menimbulkan sedikit pergeseran terhadap pedang Mordred. 'ada apa ini? Pedangnya sama sekali tidak terpental...' Sasuke pun juga terkejut ketika melihat kecepatan musuhnya itu.

Memanfaatkan melesetnya serangan Mordred, Kimimaroo yang ada di kanan melakukan tebasan vertikal kebawah kearah Mordred. Tapi, dapat ditangkis Mordred dengan sedikit mengubah arah pedangnya diagonal kekiri bawah.

"trakk"

Pedang tulang milik Kimimaroo pecah berkeping-keping dengan Kimimaroo yang sedikit terdorong kebelakang.

Memanfaatkan posisi Mordred yang tengah menebas tulang Kimimaroo, Sasuke berniat membabat kepala Mordred dengan serangan horizontal dari belakang Mordred.

Mordred menyeringai. "bingo." Gumamnya seraya menundukkan tubuhnya.

's-sial... aku tidak memperhitungkannya...' batin Sasuke pani.

"crash!"

Kepala Tenten yang dari tadi berada didepan Mordred terlepas dari tubuhnya oleh tebasan Sasuke. Wajah Tenten terlihat seperti orang trauma. Bahkan dia tidak berteriak sedikitpun ketika kepalanya terpotong oleh Sasuke.

"hm? Kejamnya... Ingatlah prajurit, aku adalah knight, knight sungguhan. Telah berlatih dengan berbagai senjata, seorang Knight! Serangan tanpa tenaga, tanpa arah, dan tanpa dikendalikan seperti itu tidak akan dapat melukaiku, prajurit-san." Ujar Mordred dengan seringai tipis melihat tongkol kepala Tenten yang telah terputus dari tubuhnya.

Notice : "Tenten, Knight dari Karin gugur terkena tebasan dari Sasuke."

"trang!"

Sasuke dalam keadaan tidak siap harus menangkis serangan dari Kimimaroo. Tetapi karena terlalu kuatnya serangan Kimimaroo, ia terpental hingga menabrak batu dibelakangnya dan membuat batu itu hancur berkeping-keping.

"blar!"

"..." Kimimaroo diam saja menatap datar Sasuke dengan tangannya yang menggenggam erat pedang tulang belakngnya itu. Dari tindakannya, kelihatannya ia marah.

"cih!" Sasuke mendecih mengeluarkan darah dari mulutnya. Mencoba berdiri dari tumpukan reruntuhan batu dengan katananya sebagai tumpuan. "fuck!" umpatnya dengan mulut dipenuhi darah.

"trank!" belum selesai berdiri, ia harus menahan serangan Kimimaroo kembali.

"tang, trang-tang-tang-tang!"

Kali ini serangan Kimimaroo terkesan membabi buta, Sasuke dalam kondisi yang memprihatinkan sehingga ia kuwalahan menghadapi monster yang satu ini. Setiap menangkis serangan Kimimaroo, Sasuke selalu terdorong kebelakang. Tangannya pun semakin melemas.

"crat!" tangan kirinya terpotong setelah gagal menangkis serangan diagonal dari Kimimaroo.

"aaa!" jeritnya.

"jleb!" "cough."

Tepat dengan tertusuknya jantungnya, Sasuke memuntahkan darah dari mulutnya. Mulutnya mulai meringis merasakan perih di dadanya. Satu kesalahan saja telah dapat merenggut nyawanya. "shit" umpatnya setelah matanya mulai berkunang-kunang.

"cough!" ia kembali memuntahkan darah. Ia sudah kalah, padahal ia belum mengeluarkan kemampuannya yang sebenarnya. Benar-benar ironi, berniat mengalahkan kakaknya, malah terbunuh oleh teman seperguruannya. Pandangannya mulai mengabur... semua sekejap menjadi hitam...

.

Notice : "Sasuke Uchiha, Knight Naruko gugur ditusuk oleh Kimimaroo dengan menggunakan pedang tulangnya."

Notice : "Hinata Hyuuga, Knight Naruko gugur karena terkena pukulan mematikan dari Sakura terpental 1km menabrak kekkai rating game."

Notice : "Itachi Uchiha, Bishop Naruto gugur setelah berciuman panas dengan Kurenai karena ditusuk menggunakan kunai beracun."

"gubrak!"

Suigetsu yang masih berlari menuju base Karin langsung tersungkur menabark pohon setelah mendengar Notice dari lady Kushina terutama yang terakhir tadi. "mati setelah berciuman? Kau konyol sekali Itachi-nii... sudah kuduga kau tidak dapat menanganinya..." gumamnya.

"hadeh... masa iya kau mati dengan begitu konyolnya, Itachi-nii..." gumamnya seraya kembali dari acara tersungkurnya.

Tak berapa lama kemudian ia sampai pada area yang begitu berbeda dengan yang tadi. Tempat ini pohonnya terlihat over besar dan meliuk-liuk tidak karuan. Sekarang ia tengah berdiri disamping sungai. Lalu ia mencelupkan tangannya ke sungai seraya memejamkan matanya.

Jauuuh didepan dari penglihatan sungai disampingnya, ia melihat siluet perempuan berrambut merah maroon dan pria berrambut jingga tengah duduk dikursi kayu disamping sungai yang menghubungkan base Karin dengan Danau di base Naruko. Ia yakin, sekarang ia telah sampai di base nona Karin. Dan ia yakin yang disana itu adalah Karin dan rooknya.

Segera ia langsung berlari dengan menyusuri sungai hingga sampai ditempat kedua orang tadi. "Karin... kita akan bertatap muka kembali setelah lama tidak bertemu. Sasuke, Aku, kau, dan Juugo..." Gumamnya seraya terus menyusuri sungai itu. Kedengarannya dia telah mengenal dekat Karin sama seperti ia mengenal Sasuke.

Setelah beberapa menit ia berlari, akhirnya ia menemukan dua orang itu sedang... uhuk, melakukan, uhuk, ciuman, uhuk, panas. Ia menghentikan larinya seraya bersembunyi dibalik pohon besar disampingnya.

"mereka tidak menyadariku? Bukannya aku ada di wilayahnya? Yaelah, mereka lagi ciuman? Bukannya ini perang ya...?" gumamnya facepalm melihat betapa intimnya perbuatan kedua musuhnya itu.

Karin begitu bergairah, matanya yang berwarna pink cerah itu merem melek merasakan setiap lumatan dari Yahiko, kacamatanya pun telah terlepas dari tadi. Wajahnya dipenuhi dengan keringat. Dari lulutnya yang menempel dengan mulut Yahiko mengeluarkan suara kecapan dan lendir ludah mereka. Posisi Karin sekarang sedang dibawah Yahiko dengan tubuh yang bersandar diatas kursi kayu panjang, posisi yang seperti sedang bercinta.

"asem, mereka menyebalkan." Ucap Suigetsu meneguk ludahnya. "sepertinya aku akan mengganggu mereka, inilah saatnya melancarkan strategi." Suigetsu menyeringai kejam.

"[Promotion! Knight!]" teriak Suigetsu. Dari tubuhnya keluar 8 bidak pawn kemudian berubah menjadi 8 bidak knight dan kembali masuk ketubuhnya.

Notice : "Suigetsu, pawn Naruto berpromosi menjadi knight."

Mendengar suara itu, Yahiko dan Karin segera melepaskan ciuman mereka dan segera menyiagakan posisinya dan mencari penyusup yang mengeluarkan suara itu.

"ktemu!"

"banshou tenin!" ujar Yahiko mengarahkan tangannya kearah Suigetsu seakan menangkapnya kemudian merematnya.

"crash!" tubuh Suigetsu berubah menjadi air turun melalui celah jari raksasa transparan itu.

"crat!" tangan kanan suigetsu yang membawa bladenya terpotong oleh kunai yang dilempar oleh Karin dan terlempar masuk kedalam sungai.

Kembali, cairan itu kembali menjadi suigetsu sedia kala tanpa pedang.

"Yahiko-nii! Gunakan jurus itu lagi! Jangan diremat!" teriak Karin seraya berlari menuju Suigetsu.

"Banshou tenin!"

Kali ini tubuh suigetsu terkekang. Dia sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuhnya pun tidak mengalami serangan. "gawat, ini bukan serangan." Gumam Suigetsu. Benar, tubuh Suigetsu akan menjadi air ketika menerima serangan tangan kosong atau menggunakan energi dalam. Lalu kenapa tangannya putus? Jawabannya, tubuhnya sama sekali tidak kebal dengan senjata, entah tajam, berat, ataupun berapi.

"berakhilah sudah..." ucap karin.

"jleb!"

Jantung Suigetsu tertusuk oleh kunai yang ditusukkan oleh Karin. "aku tahu, tubuhmu dapat diserang apabila serangan itu menggunakan senjata. Selain menggunakan senjata, tubuhmu akan benar benar kebal. Sepeti yang dilakukan oleh Yahiko-nii tadi.

Suigetsu tersenyum, meringis kesakitan didada kirinya, tempat jantungnya berada. "i-ini belum berakhir." Ucap Suigetsu sebelum menutup matanya, mati.

Merasa musuhnya sudah tak bernyawa lagi, Yahiko menaruh musuhnya itu diatas rumput. Kemudian ia dan Karin kembali menuju pinggir sungai.

"dia belum mati." Ucap Yahiko.

"apa maksudmu, Yahiko-Nii?"

"tidak ada notice."

"tapi aku yakin, tadi dia sudah mati. Kau melihatnya sendiri kan aku telah menusuk jantungnya? Atau, bayangan kah?"

"itu tidak mungkin. Jika memang dia adalah bayangan, kenapa dia dapat melakukan promosi?"

"adakah yang kita lewatkan?" tanya Karin bingung.

.

Mendengar Suigetsu yang telah berhasil berpromosi menjadi menjadi Knight, Naruto tersenyum simpul. "Ino, strategi kita berhasil. Tapi sayang, baka-aniki malah mati konyol." Ujar Naruto geleng-geleng kepala.

"iya sih, Itachi-nii memang konyol." Balas Ino facepalm.

"baiklah, sepertinya tamu kita akan datang. Bersiaplah untuk bagianmu." Ucap Naruto.

"oke!"

Ino menghilang digantikan bulu-bulu sayap merpati yang berterbangan.

"hm... selamat datang di istanaku...! rook adikku, Gaara-kun! Dan queen adikku, Kurenai-san! Huahahahaha!" ujar Naruto tertawa meniru gaya seorang villain psycho.

"ternyata mereka benar-benar kakak beradik ne, Gaara-kun?" ucap Kurenai facepalm melihat tingkah konyol king yang satu ini.

Gaara yang juga mendadak dalam keadaan ngedrop mengangguk sekali mengiyakan apa yang diucapkan Kurenai. "bukan hanya rupa, tingkah mereka pun mirip."

"huahahahahaha." Tiba-tiba Naruto menghentikan tawanya.

Gaara dan Kurenai kembali dalam posisi siaga.

Naruto menatap datar mereka berdua. 'yah, itung-itung bertingkah keren dikit wkwkwk...' "bingo!"

"kyaaaah!" tiba-tiba Kurenai menjerit dengan meremas rambutnya sendiri. Tersungkur, terlihat begitu menderita.

"Kurenai-san!" sebut Gaara khawatir. Berlari kearahnya kemudian memegang pundaknya berharap perempuan itu kembali sadar.

"tidak!" jerit Kurenai menutup matanya dengan tubuh yang sudah lemas.

Notice : "Kurenai Yuhi, Queen Naruko gugur karena terjebak genjutsu Itachi yang masih berada di base itu.

"yahahahahaha! Kalian masuk perangkap huahahaha!" kembali, Naruto mengeluarkan tawa jahatnya yang sayangnya malah begitu konyol. "percumah saja, dia sudah kalah. Sejak awal kalian memanglah sudah kalah." Ujar Naruto menyeringai tajam.

"Sand Tsunami!" ujar Gaara mengacungkan tangannya kearah Naruto dengan tangan yang seperti mengrauk kearah Naruto.

"Tuing!" zonk, tak terjadi apa-apa.

Naruto menahan tawa melihat Gaara yang bingung karena dia tidak dapat mengendalikan pasir sedikitpun di dalam kastil itu. "pffft... sia-sia saja baka, wkwkwkwk."

"Kenapa? Ada apa dengan pasir disini!" jerit Gaara frustasi. Yak, didalam kastil itu pasir kering melimpah ruah sampe tumpeh-tumpeh :v. Tapi tidak ada sedikitpun pasir yang tergerak oleh perintahnya. Padahal kemampuan Gaara yang mengerikan berada pada pasir.

"wkwkwkwk..." tentu saja hal ini membuat Naruto semakin puas menertawainya. "sudah kubilang sejak awal kalian berdua masuk kesini, kalian sudah kalah."

Mata Gaara sekarang terlihat menatap Naruto kosong,. "Kenapa?"

'anjir, dia putus asa...' batin Naruto facepalm. "oi oi, semangatlah, akan kuberi tahu. Hadeh, merepotkan saja kau. Jadi begini, Kurenai-san, mati karena terkena jebakan genjutsu aniki, genjutsu yang akan sangat efektif untuk mengalahkan sesama pengguna genjutsu. Genjutsu yang akan aktif ketika musuh menggunakan tekhnik ilusi. Bahkan, Madara, tidak luput dari tekhnik ini. Areanya adalah seputar kastil ini. Jadi, ketika Kurenai-san yang adalah seorang spesialis genjutsu masuk ke kastil ini, sudah dipastikan dia akan kalah." Ujar Naruto menjelaskan sambil bersantai ria.

"tapi kenapa? Dia sudah gugur."

"apakah jebakan Genjutsu seorang illusioner rank 1 seperti Itachi dapat berhenti setelah pemicunya ditarik?"

Gaara terdiam. "shit!" "lalu bagaimana denganku?"

"dalam kasusmu, mudah saja. Seluruh pasir, tidak, seluruh benda padat di dalam kastil ini berada pada kuasa pembuat kastil, queenku, Ino. Jadi, sia-sia saja kau mencoba untuk mengendalikan sesuatu yang bukan kuasamu. Aku sudah memperhitungkan kau akan menjadi penyerang Naruko, kau juga tidak dapat menggunakan pasir diluar kastil karena pasir itu basah. Air menambah massa pasir, jadi jika kau mengendalikan mereka, gerakan pasir itu akan sangat-sangatlah lambat."

"." Gaara sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi, 'mati sebelum menyerang? Boleh juga...' batinnya ber ngenes ria. -_-"

"jleb!"

"cough!" Gaara memuntahkan darah setelah menerima anak panah yang meluncur dari menara dan mengenai punggungnya, tepatnya jantungnya. Ia meringis kesakitan. Ia sudah benar-benar tidak dapat melakukan apa-apa.

"nice shoot, Kazuma!" ucap Naruto mengacungkan jempolnya kearah Kazuma yang berada diatas menara.

Kazuma membalas Naruto dengan senyuman puas. Kemudian kembali berduel tembakan jarak jauh dengan Konan.

"sial..." ujar Gaara merintih kesakitan.

"satu lagi, Gaara-kun, kuberi tahu kesalahan kalian yang lain...

...membiarkan king tidak dijaga." Ucap Naruto menyeringai.

Notice : "N-Naruko Uzumaki gugur setelah tenggelam didalam danau dan mutilasi oleh Suigetsu. Naruko dan semua bidaknya tersingkir dari rating game ini."

Notice : "M-Menma Uzumaki, p-pawn Karin gugur bersamaan dengan Naruko dengan kondisi yang sama dengannya tenggelam dan dimutilasi oleh Suigetsu didalam danau."

Notice dari lady Kushina yang seolah tidak percaya itu tentu membuat seluruh pemain selain bidak Naruto dan seluruh penonton membelalakkan mata. 'Mustahil, bukannya dia sudah tewas... dia mengalahkan Naruko yang bertenaga monster dan Menma yang benar-benar monster secara bersamaan, ini mustahil.' Mungkin itu yang mereka fikirkan.

"dari awal memang kamilah yang menang." Itulah kata-kata terakhir yang Gaara dengar dari Naruto.

.

.

.

Bersambung...

Author's note {gelombang kedua :v} :

Sori! Ini chapter terlambat update! T_T

Oke untuk chapter ini penulis menulis 10,5k words 3kali lebih banyak dari sebelumnya :v. Wkwkwkwk... itung-itung nebus kesalahan. Jadi penulis harap pembaca puas dengan chapter kali ini. Khusus buat rating game. Tapi belum selesai. Oke, makasih sudah mau membaca.

Sumimasen...