Confession
Author: alienpan
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, Typo(s) dan warning warning lainnya yang biasa disebut/?
A/N: Maaf saya telat banget updatenya m(_ _)m tadinya sih mau konsen sebentar buat UTS selama dua minggu tapi kok saya lupa alur ceritanya *dijitak* chapter ini lumayan panjang, ya gak panjang banget sih. Tapi kalo mau makan dulu atau ngerjain pr dulu silakan banget kok. Saya banyak ngomong ya langsung aja deh enjoy OωO)/
.
.
.
Satu hal yang dipelajari penghuni kelas itu. Jangan pernah sekalipun membuat Hinata marah.
.
.
.
Chapter 3
Neji
.
.
.
Pertama kalinya Hyuuga Neji pergi ke dojo klan Hyuuga. Dia berusia empat tahun. Dan mata pucatnya tidak berhenti barang sejenak untuk berkedip demi melihat anak-anak yang jauh lebih besar darinya dengan lihai memainkan pedang kayu itu. saat itu dia sudah tahu, bahwa ruangan bertatami dan suara pedang kayu yang beradu ini akan menjadi bagian dari hidupnya.
"Neji-kun, kelihatannya kau sangat menyukai tempat ini." Suara lembut milik seorang wanita memaksa Neji untuk mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh dan mendapati sepasang mata yang sama pucat dengan miliknya memandangnya dengan lembut.
"Un, keren." Jawabnya tanpa bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
Wanita itu tersenyum. "Bagus sekali, berbeda dengan Hinata yang justru kelihatan takut." Ia menarik-narik sesuatu dari belakang gaunnya. Neji melongok, ingin tahu. Dan kepala berambut indigo menyembul keluar, mata pucat khas Hyuuga bertatapan langsung dengan matanya. Mata yang sama dengan miliknya.
"Hinata, dia Neji, ayo beri salam." Wanita itu memberi perintah dengan lembut ke arah gadis kecil itu. Gadis itu kembali menyembunyikan tubuhnya. Tidak berani untuk menemui Neji. "Ah, gomen ne Neji-kun. Dia memang pemalu. Ayo Hinata, tidak apa-apa." Wanita itu kembali memberikan motivasi agar gadis itu keluar dan memberi salam.
Akhirnya tubuh kecilnya sedikit bergerak menjauhi ibunya. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik poni tebalnya. Tidak berani menatap wajah Neji.
"H-hyuuga Hinata desu." Katanya dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar apalagi dengan kata yang terpenggal-penggal karena gadis itu menyuarakannya dengan terbata-bata. "Do-doumo..." Ia mengakhiri perkenalannya dengan ojigi singkat, yang dibalas Neji sesuai dengan ajaran ayahnya sejak ia bisa berdiri.
Wanita itu kembali tertawa. "Manis sekali, ne Neji-kun kenapa kau tidak mengajak Hinata berkeliling? Tidak mungkin dia melihat apa-apa jika berkeliling denganku karena yang dia lakukan hanya bersembunyi." Pintanya.
"Baiklah. Hinata, ikou yo." Neji menggandeng tangan Hinata. Lebih tepatnya setengah menyeret karena gadis kecil itu kelihatan tidak berniat untuk pergi. Ia menoleh ke arah ibunya, minta pertolongan.
Percuma saja, ibunya sudah melambaikan tangannya pertanda bahwa mereka sudah harus pergi secepatnya.
"Ah, Neji-kun."
Neji menoleh.
"Apa kau mau berjanji untuk menjaga Hinata?" Tanya wanita itu. "Berjanjilah untuk melindunginya apapun yang terjadi. Ii?"
"Un, baiklah bibi. Aku akan menjaga Hinata."
Sebuah janji yang sulit. Apalagi untuk bocah berumur empat tahun seperti Hyuuga Neji. Tapi ia mengatakannya dengan mantap. Sambil menggenggam tangan Hinata. Sebuah janji telah terucap.
Wanita itu tersenyum. Ia merapikan surai indigonya—mirip dengan milik Hinata—yang sedikit berantakan.
"Terima kasih, Neji-kun."
Satu lagi yang diketahui bocah tiga tahun itu, gadis kecil di hadapannya ini juga akan menjadi bagian penting dalam hidupnya.
.
.
.
Neji terbangun dari tidurnya karena merasakan kehangatan sinar mentari yang menerpa matanya. Pemuda berusia enam belas tahun itu memegangi kepalanya setelah berhasil mendudukan dirinya dari posisi rebah.
Alisnya berkerut, teringat sepenggal kenangan yang muncul di mimpinya tadi malam. Ia menatap tangan kanannya, 12 tahun yang lalu tangan itu untuk pertama kalinya menggenggam tangan mungil si sulung dari keluarga utama Hyuuga.
'Rasanya baru kemarin.' Mata pucat Neji tertumbuk pada pigura foto di samping tempat tidurnya. Foto yang diambilnya beberapa hari yang lalu ketika untuk pertama kalinya Hinata menginjak tahun pertamanya di SMU.
Ia mengelus bingkai itu perlahan. Raut wajahnya melembut melihat gambar dirinya dan gadis bersurai indigo yang sudah bersamanya selama lebih dari setengah umurnya saat ini.
"Waktu berjalan begitu cepat." Dia bergumam. Dan tanpa sadar sebuah lubang hitam kecil muncul di relung dadanya. Sesaat perasaan kosong dan takut merayapi sekujur tubuhnya. Untungnya perasaan itu bisa cepat-cepat ditepis oleh pemuda bersurai coklat itu. ia menghela nafas kemudian pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.
"Dari Kiba?" Neji menegur Hinata yang kelihatan sibuk dengan ponselnya sejak mereka meninggalkan gerbang kediaman Hyuuga untuk pergi ke sekolah. Sejujurnya ia merasa terganggu. Apalagi dengan gantungan ponsel milik Hinata.
Dua gantungan berbandul kancing. Dan salah satunya adalah miliknya.
Neji menahan rasa jengkelnya. Ingin sekali ia mencopot kancing dari Kiba dan melemparnya jauh-jauh sehingga hanya miliknyalah yang menghiasi ponsel gadis itu.
Tapi dia tidak mungkin melakukannya.
"Da-dari teman sekelasku." Hinata menjawab dengan gugup. Dan semburat merah kembali muncul di pipinya.
Semburat apa itu?
Neji mematahkan pensil yang dipegangnya.
"Teman ya.." Pemuda itu mencoba untuk mengontrol suaranya supaya tidak terdengar begitu kesal. "Bagus sekali kau punya teman Hinata." Katanya sambil menepuk kepala gadis itu.
"Iya, aku senang sekali." Hinata tersenyum sumringah. "SMU itu menyenangkan ya nii-san?" Katanya.
"Ya.." Jawab Neji kaku.
Hinata tidak terlalu memperhatikan nada keberatan dari suara sepupunya itu karena dia selalu mengucapkan kata dan intonasi yang sama sehingga gadis itu tidak terlalu tahu perbedaannya. Ia sudah terlalu terbiasa dengan para anggota klan Hyuuga yang kaku dan datar itu.
"Ini soal rapat festival nanti siang." Hinata mulai bercerita. "Aku tidak tahu harus bicara apa dan aku takut kalau gagapku muncul. Untung Sasuke-kun mau membantuku." Katanya riang.
Pensil kedua yang patah.
"Sasuke?" Tanya Neji dengan dahi mengernyit. –kun?
"Uchiha?" Tanyanya sekali lagi. Memastikan agar Sasuke yang dimaksud Hinata adalah orang yang berbeda dengan Sasuke yang sedang dipikirkannya saat ini.
"Iya, Uchiha Sasuke." Jawab Hinata ringan.
Jawaban ringan yang justru membebani Neji seperti batu berat. "Hinata.." Neji berdeham ringan. "Yakin kau berteman dengan..." Dia menghela nafas sebentar. "Uchiha itu?" Sebutnya dengan penuh benci.
"Eh?" Hinata menoleh untuk menatap kakak sepupunya. "Memangnya kenapa?" Tanyanya polos.
"Dia berbahaya." Neji mendesis. "Hinata pokoknya jangan dekat-dekat dengannya!" Perintahnya.
"Wa-wakatta." Gadis itu berkata pelan. Lalu menyimpan ponselnya di dalam saku roknya dan tidak mengatakan apa-apa lagi sepanjang perjalanan menuju sekolah.
.
.
.
Hinata menopang dagunya di atas meja yang telah ditempatinya selama beberapa hari ini. Pikirannya penuh oleh berbagai pertanyaan, terutama kenapa Neji terlihat benci sekali dengan Sasuke.
Bola mata gadis itu sedikit bergerak ke kiri, mencari sosok pemuda berambut raven yang tertutup oleh gerombolan gadis-gadis. Hinata memutar mata. Bahkan ada anak dari kelas sebelah. Apa mereka kurang kerjaan ya?
"Kyaa Uchiha-kun kakkoii yo~" Salah satu anak perempuan itu memekik dengan cukup keras. Membuat beberapa siswa di kelas itu menghela nafas sebal karena konsentrasinya terganggu. Termasuk Hinata.
"Mitte mitte, aku menemukan foto ini di internet. Benar kan ini foto Uchiha-kun?" Tanyanya sambil menunjukkan ponselnya. Diikuti oleh pekikan-pekikan dari siswi lain. "Uchiha-kun tampan sekali dengan keikogi dan bogu ini. Ah tidak Uchiha-kun selalu tampan dengan pakaian apa saja." Pujinya.
?
Hinata menegang. Ia segera berdiri dengan reflek memukul mejanya dengan cukup keras sehingga beberapa kepala tertoleh. Dan lebih banyak helaan nafas sebal terdengar.
"Kaichou?" Salah satu siswi kelasnya bertanya heran melihat Hinata yang biasanya tenang membuat keributan begini. Namun gadis berambut indigo itu sudah tidak sempat menanggapi keheranan teman sekelasnya. Ia justru menoleh kepada Sasuke.
"Aku ingat." Katanya. Sasuke menoleh dengan malas. "Sasuke-kun yang mengalahkan Neji-nii 3 tahun lalu di turnamen." Katanya.
Seulas senyuman muncul di wajah tampan itu. Membuat para gadis di sekitarnya terlihat menahan nafas sekaligus bingung. Sasuke hampir tidak pernah tersenyum, kan? "Kau ingat juga." Katanya sumringah. "Titip salam pada sepupumu ya."
Hinata tidak membalasnya. Gadis itu kembali duduk di tempatnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Pikirannya kembali penuh. "Pantas saja Neji-nii benci sekali pada Sasuke." Gumam gadis itu. perasaan bersalah muncul di hatinya. Tega sekali dia dengan terang-terangan bilang bahwa dia dan musuh besar kakak sepupunya itu kini berteman. Malah pakai kirim-kiriman e-mail segala.
'Tuk'
Lamunannya buyar saat sesuatu menyentil dahinya dengan cukup keras. Mata pucatnya mengerjap dan mendapati sepasang mata kelam yang menatapnya dengan tajam. Uchiha Sasuke kini berada di kursi depannya.
"Kau tidak bermaksud untuk memusuhiku karena dendam kakakmu kan?" Tanya Sasuke sebelum Hinata sempat membuka mulutnya.
"Ti-tidak.." Cicit Hinata takut-takut.
"Bagus." Sasuke tersenyum puas. "Hei Hinata, apa kau bisa naik sepeda?" Tanyanya.
Hinata mendongak. "Te-tentu saja bisa." Katanya cepat. Tidak mau dianggap payah karena sesuatu yang seharusnya bisa dilakukannya. "Ke-kenapa?" Tanyanya.
"Kalau begitu mulai besok aku akan menjemputmu." Kata Sasuke. "Rumahku dekat kok." Lanjutnya sebelum Hinata mengeluarkan kata protes.
"Jam tujuh ya." Katanya. Lalu kembali duduk di bangkunya. Meninggalkan Hinata yang masih termangu di tempatnya. Apa maksudnya tadi?
Berangkat.. bersama? Gagasan itu mau tidak mau membuat pipi Hinata memerah. Tapi kemudian ia teringat oleh kakaknya atau ayahnya yang pasti akan marah besar kalau dia berangkat bersama seorang laki-laki.
Yang bukan Hyuuga.
Apalagi Uchiha.
Glek. Hinata menelan ludahnya dengan susah payah. Gadis itu melirik Sasuke yang sudah mengusir gadis-gadis di mejanya pergi, kini laki-laki itu sibuk membaca buku entah apa. Sudah terlambat untuk membatalkannya. Kalaupun belum, percuma saja kan? Sasuke mana bisa menerima penolakan.
Hinata membenamkan kepalanya di atas mejanya.
Kenapa teman pertamanya harus orang yang seenaknya seperti ini?
Bel pulang sudah berbunyi. Hinata menyelesaikan catatannya dengan garis bawah berwarna hijau, lalu merapikan barang-barangnya supaya bisa segera pulang. Ekor matanya melirik ke arah pintu kelas, dan dia bisa melihat rambut coklat milik kakak sepupunya yang menunggunya di luar.
Sambil bersenandung kecil gadis itu memasukkan buku-buku dan tempat pensilnya ke dalam tas hitamnya. Lalu berjalan keluar untuk menghampiri Neji. "Neji-nii...!" Suara lembutnya menyuarakan nama kakak sepupunya.
"Maaf lama menunggu." Kata Hinata sambil tersenyum kecil.
"Un." Neji hanya berdeham singkat, lalu berjalan mendahului Hinata. Membuat langkah gadis itu melebar seiring dengan kecepatan langkah kaki yang hanya berjarak satu tahun darinya itu.
Sepanjang lorong, Hinata bisa mendengar suara siswa-siswi yang berbisik-bisik ketika mereka lewat. Seperti "Neji senpai tampan sekali." "Neji senpai cool sekali." Atau "Hei di ujian tahun lalu Neji berada di peringkat pertama kan? Hebatnya.."
Gadis itu menundukkan kepala berambut indigonya. Merasa rendah diri karena berjalan di samping idola sekolah begini. Diam-diam ia memperhatikan Neji yang berjalan tegak dengan pandangan lurus. Gadis itu mau tak mau mengakui juga apa yang dikatakan siswi-siswi itu mengenai kakaknya.
Dengan mata pucat yang menyorot tajam, wajah tampan dan rambut coklat yang dibiarkan panjang (hal yang paling disukai Hinata dari sekolah ini adalah kebebasan para siswanya untuk menata rambut. Asalkan masih rapi dan enak untuk dilihat—ingat kan kehormatan Hyuuga terletak pada rambut?) Kakaknya memang keren.
"Hinata?" Neji menegur Hinata. "Ada apa?" Tanyanya.
Gadis itu mengerjap, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah. "Ti-tidak apa-apa nii-san." Katanya pelan.
Untungnya sebelum bertanya lebih jauh lagi perhatian Neji teralihkan oleh suara pekikan-pekikan tak jauh di depannya. Ia mengerutkan alisnya. Kelihatan tidak setuju dengan keributan-keributan kecil itu. alisnya lebih mengerut lagi ketika dilihatnya biang dari keributan itu kini berjalan menuju mereka.
Uchiha Sasuke.
Tanpa sadar Neji menyambar tangan Hinata erat.
"Hinata..!" Sasuke menyapa Hinata sambil tersenyum kecil. "Besok jangan sampai terlambat ya." Katanya memperingatkan. Mata hitamnya melirik ke arah Neji sekilas. Tersenyum meremehkan.
"Jya." Sasuke menepuk kepala Hinata. Sengaja melakukannya untuk membuat saudara sepupunya itu merasa kesal.
Benar saja, selepas kepergian Sasuke. Neji segera menatap Hinata tajam. Menuntut penjelasan.
"Be-besok, Neji-nii be-berangkat duluan saja." Hinata memainkan jari telunjuknya dengan gugup.
Pemuda itu mengepalkan tangannya demi mendengar jawaban takut-takut Hinata.
"Tidak boleh." Larangnya dengan tegas. "Apa yang harus kubilang pada Paman Hiashi? Nanti aku juga yang repot." Katanya.
"Ta-tapi, a-aku sudah berjanji." Kata Hinata dengan suara memohon.
"Pokoknya tidak. Titik."
"Nii-nii-san.."
"Hyuuga Hinata." Neji menyebut nama lengkapnya. Dan itu berarti pemuda itu sudah berada di level kemarahan paling tinggi. percuma saja memohon-mohon karena ia akan tetap pada pendiriannya, meskipun Hinata meruntuhkan bumi sekalipun.
Gadis itu menghela nafas. "Ba-baiklah." Katanya lesu.
Besok, Sasuke pasti akan marah besar padanya. Entah apa yang akan dilakukannya.
Hinata merinding. Tidak mau membayangkannya.
.
.
.
Keesokkan harinya, Sasuke menunggu di depan kediaman Hyuuga yang terlihat klasik dan misterius. Beberapa kali onyx gelapnya melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kokohnya. Ia melongok beberapa kali untuk memastikan keberadaan gadis sulung Hyuuga.
"Sa-sasuke-kun, ohayou..." Sasuke menoleh ketika didapatinya suara lembut memanggilnya dari samping. Pemuda itu hampir saja tersenyum kalau saja ia tidak melihat laki-laki berambut coklat yang mengikuti Hinata dan menatapnya tajam.
"Hinata..." Sasuke menyebut nama gadis itu. "Ayo berangkat." Ajaknya.
"Dia tidak akan berangkat dengan siapapun." Neji mendesis. Tiba-tiba saja sudah berada di depan tubuh mungil Hinata. "Tidak juga dengan laki-laki Uchiha berambut seperti bokong ayam." Sindirnya tajam.
"Nii-san!" Hinata berseru memperingatkan. Namun seruannya tidak terlalu penting dibanding geraman Sasuke yang merasa tersinggung karena hinaan pada model rambutnya.
"Lihat siapa yang bicara." Ejek Sasuke. "Pantas tidak ada yang berani mendekati Hinata. Penjaganya seperti hantu sumur sih."
...Apa? Empat siku-siku merah muncul di pelipis Neji. Tidak terima kebanggaan paling besar atas dirinya dihina. Apalagi dengan hantu tidak elit seperti sadako. Dia laki-laki loh. LAKI-LAKI.
"Sa-sasuke-kun..!" Hinata kembali berseru. Berusaha menghentikan perselisihan antara dua laki-laki yang sama-sama biasa minim ekspresi ini. "Su-sudahlah kalau begini terus bisa-bisa kita terlam—"
"Dasar bokong ayam tak tahu diri!"
"Hantu!"
"Lihat dirimu sendiri, dasar monster."
"Sister complex..!"
Neji membulatkan matanya sejenak. "K-kau—" geramnya tak terima. "bra-con." Cetusnya tanpa berfikir dulu.
Akibatnya. Kini Sasuke yang ternganga. Malah bibirnya membuka, terbata-bata mengeja kata terakhir dari Hyuuga Neji. "B-bra...?!"
Seulas senyum kemenangan terukir di wajah tampan Hyuuga Neji. Dengan penuh kebanggaan ia meraih tangan sepupunya. "Kami duluan." Katanya angkuh.
GREP.
Belum sempat mereka berdua melewati pemuda yang masih shock itu. Hinata merasa tangan kanannya disambar oleh tangan lain sehingga gerakannya terpaksa berhenti. Ia menoleh, dan melihat Sasuke yang menggenggam tangannya erat, dan Neji yang juga enggan melepaskan tangan kirinya.
"Hinata sudah berjanji akan pergi bersamaku." Kata Sasuke.
"Aku tidak mengizinkan." Balas Neji angkuh. Ia mengeratkan pegangannya pada tangan kiri Hinata hingga gadis itu merasa tangannya berdenyut-denyut.
"Aku tidak peduli dia tetap berangkat bersamaku." Sasuke menarik Hinata agar sedikit mendekatinya.
"Kau tidak akan berangkat dengan siapapun." Seru pemuda berambut coklat itu tajam.
"Hinata cepat naik di belakang!"
"Hinata ayo jalan!"
Di titik ini, gadis bermata pucat itu merasa tangannya akan segera putus (dan ini menyakitkan sekali), telinganya berdengung mendengar suara ribut kedua orang yang biasanya tenang ini. Dan batinnya bergejolak ingin cepat-cepat meninggalkan mereka berdua. Demi Tuhan, kepalanya tidak akan sembuh begitu saja.
"Berhenti...!" Tidak sabar. Gadis itu berteriak dengan sedikit kesal. Menghentak tangannya dari pegangan kedua laki-laki di sampingnya. "Kalian pikir aku boneka?" Protesnya. "Aku tidak mau mengikuti keinginan kalian. Aku juga punya pemikiran sendiri kan? Menyebalkan..! Aku benci Neji-nii, juga Sasuke." Serunya. Lalu langkah kakinya bergerak menjauhi Neji dan Sasuke. "Aku pergi sendiri. Ittekimasu." Pamitnya dengan ketus. Suara hak dari pantofelnya terus bergema, mengetuk-ngetuk hati Sasuke dan Neji. Merutukki perbuatan mereka pada Hinata benar juga, tidak seharusnya mereka merebutkan Hinata seperti ini. Seolah Hinata adalah benda mati boneka atau semacamnya.
Betapa bodohnya laki-laki itu
.
.
.
Hinata menopang dagu dari tempat duduknya. Wajahnya ditekuk menggambarkan betapa buruknya suasana hati gadis bersurai indigo itu. beberapa temannya yang tadinya ingin menghampiri gadis itu untuk membicarakan sesuatu akhirnya mengurungkan niatnya karena takut.
Tak berapa lama Sasuke muncul dari pintu kelas. Bibirnya bersiap untuk melengkungkan senyuman kepada Hinata. Namun batal karena gadis itu keburu menggembungkan pipinya dan melihat ke arah lain.
Sasuke menelan ludah. Gadis ini benar-benar marah.
Dengan canggung langkah kakinya melebar menuju tempat duduknya yang biasa—yang entah kenapa terasa lebih panas dari biasanya. Pemuda itu bergerak-gerak dengan gelisah. Hinata sudah mengembalikan pandangannya lurus ke depan. Dan pipinya sudah tidak digembungkan. Tapi aura gelap yang dikeluarkannya masih sangat terasa.
Untunglah bel berbunyi. Sasuke tidak menyangka dia bisa selega ini ketika mendengar bel masuk. Ia mengeluarkan buku-buku yang diperlukannya. Meski sudut matanya memperhatikan Hinata yang ikut mengeluarkan bukunya dengan gerakkan lambat.
"Selamat pagi..!" Pandangan mata pemuda itu teralihkan ketika Kakashi sensei memasuki ruang kelas mereka dengan malas-malasan. Aneh sekali. Pikirnya. Tidak biasanya guru wali kelasnya itu datang tepat waktu—kalau tidak bisa dibilang terlalu cepat.
"Berdiri." Hinata memberi aba-aba singkat.
Sasuke—dan teman sekelasnya yang lain berdiri dengan sigap. Dalam hati keheranan mendengar suara yang dilontarkan dengan perasaan sedingin es itu. Biasanya wakil perempuan itu selalu mengucapkannya dengan nada lembut dan sedikit gugup.
"Memberi salam." Suara halus bernada dingin itu kembali terdengar.
"Selamat pagi sensei." Murid-murid itu berkata dengan kaku.
"Ada apa? Kalian berbeda sekali dengan biasanya." Kakashi tertawa riang. Mencoba mencairkan suasana. Dan berhasil, beberapa siswa tertawa. Dan bahkan Sasuke mengulas senyum kecil di wajahnya. Lelucon ringan dari Kakashi selalu berhasil. Dan bahkan Hinata—ia menengok untuk melihat ekspresi gadis itu—akan tertawa kecil...
Tidak.
Tanpa ekspresi gadis itu membuka buku sejarah jepangnya. Seolah tak mendengar kata-kata ringan Kakashi ataupun mengabaikan pandangan bertanya darinya mata pucatnya dengan serius menekuni perjalanan hidup Oda Nobunaga yang sedang dibahas di kelasnya sejak seminggu ini.
"Ehm—" Kakashi berdeham canggung. "Ya, untuk memulai pelajaran aku memerlukan beberapa buku di perpustakaan. Bisa tolong ambilkan untukku Nara dan—" Guru muda itu melirik Hinata yang masih tidak bereaksi. Ia menghela nafas akhirnya, menyerah. "—Uchiha, kau bantu Nara." Katanya.
"Baik sensei." Kedua anak laki-laki yang ditunjuk hanya menyetujui pasrah. Percuma saja membantah toh mereka akan tetap ditugaskan juga. Buang-buang energi saja. Kedua orang itu beriringan, berjalan keluar kelas.
Hinata masih terpekur memandangi buku sejarahnya.
"Sebaiknya selesaikan masalahmu dengan Hyuuga." Baru berapa langkah berjalan, Shikamaru sudah memulai pembicaraan. "Bukannya aku mau ikut campur. Tapi dia benar-benar membuat kelas tidak enak." Katanya malas.
"Kau mengatakan itu Cuma karena malas disuruh-suruh oleh sensei karena biasanya Hinatalah yang mengerjakan tugas itu kan?" Sindir Sasuke tajam. Meski dalam hati ia menyetujui perkataan murid pemalas itu.
"Terserahlah." Shikamaru mengangkat bahu tidak peduli. "Jangan marahi aku kalau aku terus membolos karena tidur di kelas terasa tidak nyaman lagi." Tegasnya.
Sasuke Cuma bergumam tidak peduli.
Bodoh. Kalau masalah berbaikan dia sudah berfikir akan melakukannya dari tadi.
Tapi Sasuke tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Kedua anak lelaki kelas satu itu memasukki ruang perpustakaan. Setelah berbicara dan meminta izin kepada penjaga perpustakaan mereka membawa setumpuk buku untuk digunakan di kelas.
"Menurutmu bagaimana?" Sambil membawa selusin buku Sasuke bertanya.
"Apanya?"
"Caranya berbaikan."
"Tidak tahu." Shikamaru yang masih berkonsentrasi pada tumpukan bukunya menjawab setengah hati. "Aku tidak mengerti anak perempuan. Mereka merepotkan." Katanya.
Tidak ada yang bertanya pendapatmu tentang anak perempuan. Pikir Sasuke gusar.
"Tapi yang jelas," Shikamaru mengangkat bola matanya ke atas dengan muak. "Mereka semua suka makanan manis." Katanya setengah jijik.
Sasuke tertawa dalam hati. "Dan mereka masih memimpikan tubuh model victoria secret." Sindirnya.
Shikamaru berhenti berjalan. Dia menoleh. Membuat Sasuke ikut berhenti karena ingin tahu apa yang membuat Shikamaru menoleh padanya. Apa dia tersinggung?
Pemuda berpotongan rambut nanas itu memandangnya setengah terharu setengah puas. "Bro.." Katanya. "Dimana kau bersembunyi selama ini?"
.
.
.
Terlepas dari percakapan anehnya dengan Shikamaru di lorong, dan tangannya yang memerah dan kebas karena membawa selusin buku yang tidak bisa dibilang tipis. Karena si rambut nanas itulah tiba-tiba Sasuke mendapat ide.
Tentu saja.
Makanan manis.
Dia melirik Hinata yang masih berkonsentrasi. Pikirannya kembali berputar. Dengan cara apa dia harus mengatakannya pada gadis itu. akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengambil selembar kertas loose-leaf dan menuliskan sesuatu dengan hati-hati.
Ia mengoperkannya pada Hinata tanpa sedikitpun merasa kesulitan. Dalam hati Sasuke bersyukur Hinata duduk di meja sebelahnya dan bukan di meja ujung sana.
'Hinata..'
Gadis itu menatap loose-leaf yang bertuliskan namanya dalam hiragana dengan tatapan kosong. Tidak tahu harus melakukan apa. Sebenarnya sepanjang pagi ini dia sudah banyak berfikir, dengan kepala panas dan kepala dingin. Dan gadis itu akhirnya memutuskan bahwa dia sudah memaafkan perbuatan Sasuke dan Neji tadi pagi—dan bahkan merasa menyesal karena sudah naik darah dan menyusahkan mereka berdua. Tapi—
Tapi apa?
Ah masa bodoh. Hinata mengambil penanya. Menuliskan balasan. Dia tidak mau keegoisan sesaatnya membuatnya harus kehilangan dua orang yang disayanginya.
...Disayanginya? Hinata berhenti menulis.
Dua orang?
Pipinya bersemu merah.
Siapa...
'Apa?'
Sasuke tersenyum senang. Memang bukan jawaban terbaik tapi setidaknya Hinata sudah mau repot membalasnya dan bukannya meremasnya menjadi bola lalu membuangnya. Ia kembali menuliskan jawaban.
'Kalau mau jadi Hinata yang biasa akan kuberi Chinnamon roll.'
Hinata mengerutkan keningnya membaca jawaban dari Uchiha bungsu di sebelahnya. Ini di luar dugaannya, dia pikir Sasuke akan menuliskan kata-kata manis permohonan maaf dan bukannya—perintah menjengkelkan begini. Serius. Satu-satunya hal manis yang ditulisnya hanya chinnamon roll.
'Kenapa aku harus?'
'Karena chinnamon roll ini dari toko kue yang baru buka di depan sekolah.'
'Yang dengan cinta di setiap gigitannya?'
'Ya, penuh cinta.'
'Aku mau yang coklat.'
'Ya, apa saja.'
Sasuke hampir berhenti bernafas ketika dilihatnya Hinata meremas loose-leaf itu dan meletakkannya dengan sembarangan di laci mejanya. Apa itu berarti dia tidak mau menerimanya? Pemuda itu terkulai lemas. Bukankah semua anak perempuan suka makanan manis? Atau Hinata pengecualian?
"Sasuke-kun harus memberiku seloyang penuh. Dan tambahan buah strawberry di atasnya." Hinata berbisik.
Pelan. Sangat pelan... Suara lembutnya yang biasa didengarnya di hari-hari sebelumnya.
Terus berulang seperti gema di telinga Sasuke.
"Baiklah." Sasuke berkata dengan lega. Selesai sudah masalahnya. Rasanya seperti batu besar telah diangkat dari dadanya. Suasana kelas bahkan terasa kembali ceria. Lebih cerah dibandingkan hari-hari yang pernah dijalaninya selama beberapa hari ini. Dan agaknya seisi kelaspun menyadari itu. mereka diam-diam mengambil nafas lega.
Satu hal yang dipelajari penghuni kelas itu. Jangan pernah sekalipun membuat Hinata marah.
.
.
.
"Hinata kau mau pergi sekarang?" Tanya Sasuke. Hinata menggeleng. "Sasuke-kun duluan saja. Aku akan pulang dengan Neji-niii." Katanya.
Sasuke tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya. Tapi ia segera menepis perasaan itu dan mengangguk memaklumi. "Baiklah. Jangan mendiamkannya seperti yang kau lakukan pada kami tadi pagi." Katanya.
"Sa-sasuke-kun." Hinata melontarkan kalimat protes. Pipinya bersemu merah, sadar bahwa yang telah dilakukannya kekanakkan sekali. Bahkan dia telah menyebabkan satu kelas terkena imbasnya.
"Jangan banyak berfikir. Cepat pergi." Perintah Sasuke. Membuat Hinata dengan reflek mengangguk. "Ka-kalau begitu aku duluan." Kata Hinata. Sasuke membalasnya dengan anggukan singkat.
Langkah kaki kecil Hinata membawanya menuju lorong kelas sebelas. Ia berjalan dengan ragu. Ini pertama kalinya ia melewati lorong ini sendirian. Selama ini dia begitu takut, anak kelas sebelas seakan-akan begitu tinggi, begitu berkuasa. Hinata sampai mau menangis karena merasa mereka memandang punggungnya dengan tajam.
Ia mempercepat langkahnya. Menuju ke kelas kakak sepupunya.
Celakanya di pintu kelas itu beberapa anak laki-laki sedang berkerumun di depan pintu. Mulanya gadis itu hanya berjalan melewatinya. Tapi kemudian kembali berbalik. Ia menarik nafas panjang.
Hinata kau pasti bisa! Katanya pada diri sendiri. Dengan ragu ia mendekati gerombolan itu.
"A-anu..." Gumamnya pelan. Meski tidak cukup pelan untuk tidak menarik perhatian sekumpulan anak-anak lelaki yang lebih tua satu tahun darinya ini. "E-etto... A-apa Neji-nii ada di dalam?" Tanyanya dengan tersendat-sendat. Ia gugup sekali. Dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain berdoa bahwa seniornya ini mendengar apa yang dia katakan sehingga Hinata tidak perlu mengulang pertanyaannya dua kali.
"Oi! Neji, adikmu nih." Salah satu dari orang itu berteriak ke dalam kelas.
Dan Hinata menghela nafas lega ketika dilihatnya kakak sepupunya keluar dari kelasnya dan memandangnya dengan tatapan heran. "Hinata?" Katanya tidak percaya.
"Nii-nii-san.." Hinata berkata pelan. Memegangi lengan Neji dan setengah menyembunyikan tubuhnya. Dia tahu teman-teman sekelas kakak kelasnya itu tidak jahat, tapi tetap saja gadis itu merasa takut dengan mereka.
"Ah~ manis sekali." Salah seorang dari mereka—yang memanggilkan Neji untuknya— berkata dengan nada sedikit iri. "Kalau saja aku punya adik perempuan." Katanya setengah termenung. "Eh atau kau jadi pacarku saja Hinata bagaimana?" Tanyanya sambil cengengesan.
Bletakk
Satu jitakan mendarat di kepala pemuda Neji. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Hyuuga Neji. Ia menatap laki-laki itu dengan kesal. "Kau ini benar-benar menyeramkan. Dan lagi jangan bergerombol di depan pintu. Kalian membuat takut orang lewat tahu." Katanya dengan nada memerintah.
"Iya.. Iya.." Mereka bergumam dengan jengkel. Kerumunan itu akhirnya bubar, meninggalkan Hinata dan Neji. "Hinata." Neji menyebut nama gadis itu. "Ayo." Katanya. Hinata mengangguk, mengikuti langkah kaki Neji.
Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan diam. Tidak aneh, mereka memang tidak banyak bicara. Tapi biasanya keheningan ini diliputi oleh suasana yang hangat, entah kenapa Hinata merasa dingin yang menusuk setiap kakinya bergerak satu langkah.
"Neji-nii.." Hinata memanggil kakak sepupunya pelan.
"Hn?"
"A-aku akan punya seratus teman. Da-dan akan ada banyak orang di sisiku." Katanya gugup. Telinga gadis itu mendengar suara helaan nafas di sebelahnya.
"Aku tahu." Neji berkata berat.
"Ta-tapi, yang nomor satu tetap nii-san." Kata Hinata lagi.
Kalau yang ini Neji tidak tahu.
"Meski akan ada banyak orang di sekelilingku. Dan bukan lagi Hyuuga Neji yang satu-satunya melindungiku. Tetap saja, di hatiku Neji-nii punya tempat yang bahkan tidak akan bisa dimasukki oleh seratus Sasuke-kun." Jelasnya. Ia berhenti sejenak.
"Karena Neji-nii adalah kakakku yang paling berharga." Tutupnya. Ia memandang Neji dengan matanya yang sepucat pualam. Mata yang sama dengan miliknya. Dengan Ayahnya, adiknya, pamannya. Atau sekumpulan Hyuuga lain di belakang.
Tapi saat itu Neji merasakan binar aneh di mata itu. Sorot yang bahkan membuatnya terasa hangat. Ia tidak pernah melihat binar aneh itu selama dua belas tahun. Terakhir kali ia melihatnya, itu membuatnya membuat janji yang bahkan terlalu berat untuk dipikul anak berusia empat tahun.
Tapi ia tidak pernah menyesali janji itu. Tangan kekarnya meraih kepala Hinata. Menepuknya lembut. "Aku tahu. Pastikan kau menjaga tempat itu Hinata." Katanya.
Hinata tersenyum senang. Mengangguk mengiyakan.
.
.
.
To be continued
Aduh ini kurang OOC apa lagi sih *gigit bantal* maafkan saya ;ω; dan oh iya makasih Penelopi-san yang udah kasih koreksi iya itu Sasuke-nya keceplosan satu kali haha maaf ya reader sekalian m(_ _)m makasih yang udah baca dan review. Jangan bosen sama fic ini ya!
P.S: nyadar gak mereka baikannya sama sekali gak ada kata maaf, sebagai gantinya di sini saya minta maaf dua kali hehe gak disengaja loh gak disengaja /apa sih/ /gak penting/
Regards: Alienpan OωO)❤
OMAKE
"Sasuke-kun?" Hinata mengerjapkan matanya, tidak percaya bahwa dilihatnya pemuda berambut raven itu kini berada di depan rumahnya. Duduk di atas sepedanya dengan penuh percaya diri.
"Apa yang kau lakukan disini?" Hinata bertanya gugup. Ia menoleh beberapa kali, takut-takut kalau Neji datang dan kejadian kemarin terulang lagi.
"Bukankah kau sudah janji akan berangkat bersamaku?" Tanya Sasuke menuntut.
Dia masih mengingatnya? Setelah kejadian kemarin?
"Sudahlah cepat ambil sepedamu." Perintahnya sambil menguap. Dia bangun lebih pagi dari biasanya, terlebih lagi Sasuke harus begadang karena belum menyelesaikan pekerjaan rumah untuk hari ini.
"Ta-tapi—"
"Kurasa naik sepeda baik untukmu Hinata."
Hinata membelalakan matanya. "Nii-san?"
Sasuke berdecak. "Kenapa kau kemari sih. Dan untuk apa sepeda itu?" Tanyanya ketus.
"Hei, aku ini senpai-mu sopan sedikit. Setidaknya kalau kau masih mau mendekati adikku. Dan aku memang mengizinkanmu berangkat bersamanya, tapi aku kan tidak bisa menjamin kau membawanya ke suatu tempat berbahaya untuk berbuat macam-macam." Kata Neji tajam.
"Terserahlah." Kata Sasuke sambil memutar matanya.
"Bi-biar kuambil sepedaku." Hinata cepat-cepat memotong pembicaraan. Tidak mau pertengkaran ini semakin menjadi. Gadis itu cepat-cepat berlari dan kembali sambil menuntun sepedanya. Tasnya ia masukkan ke dalam keranjang depan.
"I-ikou yo."
"Kau jalan terlalu lama tuh. Bisa-bisa kita terlambat." Sindir Sasuke pada Neji.
"Aku memang sengaja jalan di belakang agar tidak terjadi apa-apa." Bantah Neji jengkel.
"Bilang saja tenagamu sudah menurun." Balas Sasuke.
"Kau ini.." Neji berseru geram. "Kalau mau aku bisa berjalan seratus kali lebih cepat daripadamu." Katanya.
"Baiklah, ayo buktikan." Sasuke menantang.
"Yakin kau menantangku?" Tanya Neji meremehkan.
"Bukan aku yang kalah saat turnamen."
"Bocah ini..." Neji menghela nafas geram. Lalu mengayuh sepedanya sekuat tenaga hingga melewati Sasuke. "Aku sudah sekepala di depanmu." Serunya.
Sasuke membelalak. Dengan gerakan secepat kilat ia menyusul Neji.
Mereka lupa satu hal.
Hinata mengerjapkan matanya. Sadar sepenuhnya bahwa dia telah ditinggal oleh kedua laki-laki itu.
"Ka-kalian... bodoh..." Hinata menggerutu. Akhirnya mengayuh sepedanya sendiri melewati jalanan beraspal untuk pergi ke sekolahnya.
