Warning ! Yaoi Area

Chanbaek

Chanyeol - Baekhyun

I Don't Care oleh : pcy-bee

Mpreg

Rate : M

Sorry for Typo

Selamat Membaca !

.

.

.

.

"Ayo menikah."

Sepenggal kalimat yang membuat Baekhyun terdampar di tengah-tengah ruang tamu mansion mewah kediaman Park.

Chanyeol tak bohong tentang mengajaknya menikah. Setelah ajakan menikah dadakan semalam, paginya Chanyeol memboyong Baekhyun ke mansion keluarga Park untuk di kenalkan dengan keluarga besarnya.

Disana sudah duduk kedua orang tua Chanyeol yang datang meski mereka tinggal di mansion berbeda, sang istri dan juga putranya. Sementara itu, Baekhyun duduk dengan tenang di sisi Chanyeol. Wajahnya tak menampakkan ekspresi apapun, hanya diam seolah menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ditolak atau diterima, toh itu bukan masalah besar bagi pemuda Byun, tak terlalu berharap banyak meskipun jauh di lubuk hati dia juga ingin calon anaknya memiliki ayah saat lahir nanti.

"Chanyeol-ah, dia siapa?" sang istri yang merasa penasaran pada sosok baru di dekat sang suami adalah yang pertama kali memecah suasana tegang di tempat itu.

"Dia Byun Baekhyun..." Chanyeol menjeda sekedar melirik Baekhyun sebentar lalu beralih kembali menatap keluarga besarnya. "...dan aku akan menikah dengannya. Aku berharap kalian bisa mengerti dan menerima Baekhyun menjadi anggota baru keluarga ini."

Tak bisa di hindarkan lagi bagaimana tak terimanya keluarga besar itu, ini terlalu tiba-tiba bagi mereka. Taeyeon memandang benci pada Baekhyun yang hanya diam saja tanpa ekspresi. Bukankah rumah tangganya dengan Chanyeol selama ini baik-baik saja? lalu kenapa tiba-tiba sang suami mengatakan ingin menikahi lelaki itu?

"PARK CHANYEOL! APA KAU GILA!?" sang ayah menyerukan protes. Sementara sang ibu hanya memandang penuh arti pada anaknya.

"Tidak ayah, aku serius akan menikahi Baekhyun, karena dia tengah mengandung anakku."

Sekali lagi pernyataan Chanyeol membuat seisi ruangan di buat tercengang. Bahkan Sehun yang sedari tadi diam saja kini malah menatap meneliti pada calon ibu tirinya. Benar saja, perut itu buncit meskipun belum terlalu besar pertanda bahwa ada kehidupan yang sedang tumbuh di dalam sana. Apa itu berarti dia akan memiliki seorang adik tiri?

"Park Chanyeol. katakan jika kau sedang bercanda! bagaimana bisa dia hamil anakmu?! aku yakin dia hanya pura-pura agar bisa menjadi bagian dari keluarga Park." Taeyeon menunjuk pada Baekhyun yang hanya melirik malas padanya.

"Dia benar hamil anakku, Tae. Dan aku harus mempertanggung jawabkan apa yang telah menjadi kewajibanku. Maaf karena telah membuatmu kecewa." Chanyeol menatap menyesal pada sang istri yang kini telah berkaca-kaca.

Dalam hati dia melantunkan beribu kata maaf untuk wanita cantik yang telah memberinya satu anak itu. Tak ada niat sedikitpun untuk menyakiti apalagi menduakan sang istri, tapi keadaan mengatakan lain dan memaksa untuk membagi hati suka ataupun tidak.

"Chanyeol-ah, berikan saja dia uang untuk mengugurkan janin itu dan beberapa aset sebagai ganti rugi. Kau tak perlu menikahinya, nak." sang ayah memberikan solusi yang tak ia sadari membuat si mungil yang tengah mengandung itu meremat kuat tangannya sendiri merasa terhina dan di rendahkan.

Chanyeol melihat hal itu dan entah dorongan darimana kini tangan besarnya sudah mengenggam lembut tangan mengepal milik Baekhyun. Baekhyun yang terkejut akan sentuhan Chanyeol, sontak membawa maniknya menatap pada mata hitam si lelaki Park yang juga sedang menatap padanya.

Chanyeol tersenyum sekilas kepada si pemuda Byun lalu kembali berucap tanpa memutuskan pandangan mereka. "Aku akan tetap menikahi Baekhyun, entah kalian suka ataupun tidak."

Kalimat itu bersifat mutlak untuk seluruh penghuni ruangan. Tak ada lagi protesan, tak ada lagi penolakan dan yang ada saat ini hanyalah sepenggal kepasrahan berharap semua akan baik-baik saja.

.

.

Belah bibir dua orang berbeda tinggi badan itu akhirnya dapat bertemu juga untuk yang pertama kalinya, dengan di saksikan oleh para tamu undangan yang hadir. Setelah pemberkatan dan kata 'saya bersedia' berkumandangan, Chanyeol dan Baekhyun kini akhirnya menyandang status baru sebagai sepasang suami-istri.

Hanya pesta pernikahan sederhana dan juga hanya para keluarga dan kerabat dekat saja yang hadir mengingat ini bukanlah pesta pernikahan yang semua orang harapkan terjadi.

Tak banyak yang bisa dilakukan disana, Taeyeon bahkan tak mau menginjakkan kakinya barang sejengkalpun. Wanita itu pergi entah kemana tak ada yang tahu. Mungkin melarikan diri, lagi pula mana ada wanita waras yang mau melihat sang suami mengucapkan sumpah setia dengan orang lain.

Sementara itu sang putra, Park Sehun hanya mampu menatap kosong pada ayah serta si ibu tiri yang tengah berjabatan dengan para tamu undangan.

"Kau anak tiri baru Baekhyun?"

Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar menyapa bocah SMP itu. Sehun menoleh tentu saja dan yang dia dapati adalah sosok lelaki cantik dengan sepasang mata tajam mirip rusa.

"Bukan urusanmu." cuek Sehun.

"Eyyy...kenapa galak sekali, sih. Omong-omong namaku Xi Luhan, sahabat baik Byun Baekhyun...ibu tirimu."

"Aku tidak peduli."

"Ternyata kau tampan juga, ya. Tapi jangan terlalu lama memasang wajah cemberut, tuan muda Park~! Baekhyun bukanlah seburuk yang kau kira, dia tidak seperti ibu tiri yang ada di dalam dongeng. Yah, paling-paling dia hanya akan membuatmu kesal setiap hari"

"Sudah ku bilang aku tak peduli! pergi saja sana!" Sehun membentak sekaligus mengusir.

Bukannya takut Luhan malah menepuk bahu tegang si remaja tampan. "Sudahlah terima saja kenyataan. Kau hanya tinggal membiasakan diri dan jangan sekali-kali kau membenci Baekhyunku, bencilah ayah brengsekmu itu, nak. Karena dia satu-satunya yang pantas di salahkan atas apa yang terjadi saat ini."

Setelah mengatakan rangkaian kalimat, Luhan berjalan menjauhi si lima belas tahun yang tengah menatapnya marah.

Langkah Luhan terhenti tepat dihadapan sahabat satunya, Do Kyungsoo.

"Siapa?" Tanya Kyungsoo penasaran.

"Anak tiri Baekhyun." jawab Luhan jujur.

Kyungsoo mengernyitkan alis bingung, untuk apa Luhan mendatangi anak tiri Baekhyun? "Apa yang hyung bicarakan dengan anak itu?"

Luhan mengedikkan bahu acuh. "Hanya sedikit menasehati, omong-omong dengan siapa kau datang?"

Kyungsoo mengedikkan kepala ke arah sosok yang kini tengah berbincang bersama Sehun, dan Luhan pun mengikuti arah pandang Kyungsoo. "Kekasihku, namanya Kim Jongin dan aku baru tahu bahwa dia adalah tangan kanan Park Chanyeol."

"Kau tak curiga? mungkin saja dia mendekatimu untuk mengorek informasi tentang Baekhyun." tanya Luhan.

"Awalnya memang seperti itu, tapi dia sudah menjelaskannya padaku tentang hubungan tuan Park dan Baekhyun. Jongin mengatakan jika Chanyeol tak memiliki niat buruk pada Baekhyun kita, dan nyatanya memang seperti itu. Lihatlah sekarang, Park Chanyeol bahkan mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan menikahi Baekhyun."

"Itu bukan berarti kau bisa berkencan dengan cecungukknya Park Chanyeol, baby Soo~"

"Kenapa? lagi pula Jongin pemuda yang baik, hyung hanya iri saja padaku karena sampai saat ini hyung belum juga memiliki pacar. Iya, kan?" Kyungsoo menatap mengejek pada Luhan.

"Aish, terserah padamu saja!"

"Hyung, sepertinya anak Park Chanyeol boleh juga." Sekali lagi Kyungsoo mengoda Luhan.

'Yaakk! dia itu masih SMP, kau pikir aku pedofil?"

Kyungsoo memicing curiga dengan jawaban Luhan. "Darimana hyung tahu dia masih SMP? hyung mencari tahu tentangnya? jadi hyung benar-benar tertarik padanya?"

"Itu karena dia sering datang berkunjung ke club milikku. Jangan berpikir yang macam-macam, oke! aku tidak mungkin berkencan dengan anak SMP."

"Coba saja dulu, siapa tahu cocok! terkadang berondong bisa jauh lebih panas dari pada yang berpengalaman."

"Yakk! kenapa mesum sekali, sih!" Luhan menyalak dan Kyungsoo pun tergelak. Mengoda Luhan benar-benar menyenagkan, bukan?

.

.

Malam harinya setelah pesta pernikahan usai, sepasang pengantin baru itu sudah berada di dalam kamar pribadi milik Baekhyun. Tentu saja Chanyeol telah mempersiapkan kamar tersendiri untuk sang istri kedua. Tak mungkin ia menggabungkan dua istrinya dalam satu ruangan yang sama. Setidaknya itu bisa membuat keadaan lebih nyaman untuk satu sama lain.

Baekhyun yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan piyama motif kotak-kotak. Itupun sangat amat kebesaran untuknya karena memang piyama itu adalah milik Chanyeol.

Semua yang terjadi secara mendadak membuat Baekhyun tak sempat untuk mengemasi pakaian dan barang-barang yang ada di apartemen miliknya. Lagi pula dia juga tidak berniat untuk tinggal di mension keluarga Park.

"Kau tidak mandi?" yang lebih muda bertanya pada seseorang yang tengah duduk nyaman di atas ranjang dengan bersandar pada kepala ranjang.

"Aku sudah mandi di kamarku tadi. Kemarilah..." Chanyeol mengeser tubuhnya dan menepuk ruang kosong di atas ranjang, mengisyaratkan si mungil untuk mendekat.

Baekhyun berjalan selangkah demi selangkah dengan sangat amat canggung. Tentu saja canggung, meski mereka sudah menikah bahkan sudah pernah melakukan hubungan badan tapi mereka tetaplah masih asing satu sama lain.

Tak butuh waktu lama karena sekarang Baekhyun telah duduk nyaman di samping sang suami. Kaku dengan sedikit jarak di antara mereka, tapi Chanyeol tak membiarkan itu terjadi lebih lama. Yang lebih tua mengeser tubuhnya untuk mendekati sang istri, tangannya terulur untuk menyentuh perut buncit Baekhyun.

"Bolehkah aku menyapa baby?" kata Chanyeol sambil melirik pada Baekhyun, menunggu jawaban.

"Lakukan sesukamu."

Mendengar jawaban sang istri sontak membuat Chanyeol tersenyum senang, sedikit menundukkan badan guna menyamai tempat di mana darah dagingnya sedang bertumbuh.

"Hei baby...ini daddymu. Maaf karena baru bisa menyapa dan maaf juga karena sempat tidak tahu tentang keberadaanmu." Tangan Chanyeol mengelus-elus perut itu penuh sayang.

"Jangan nakal di dalam sana, jaga baik-baik papamu dan jangan biarkan papa sakit, oke." Chanyeol tak lagi mengelus, namun memberikan kecupan sayang pada calon buah hatinya.

Hati Baekhyun menghangat, pemuda duapuluh lima tahun itu bisa merasakan seberapa tulusnya Chanyeol menyanyangi calon bayi mereka. Terlepas asing ataupun tidak, tak ada yang bisa memisahkan bagaimana darah mereka terhubung satu sama lain.

"Sudah berapa bulan baby ada disini?" Chanyeol kembali menegakkan badan untuk bersandar pada kepala ranjang dengan tangan yang masih setia mengusap lembut perut Baekhyun.

"Jalan empat bulan." singkat si istri.

"Apa dia sudah mulai menendang?" tanya Chanyeol lagi, sebagai seorang ayah tentu saja dia penasaran dengan perkembangan sang anak.

"Mungkin sebentar lagi." lagi, Baekhyun hanya menjawab apa adanya.

Chanyeol membawa tangannya yang tadi mengelus perut Baekhyun kini beralih mengusap lembut pipi sang istri dan membawa mata mereka untuk bertemu. "Apa terlalu berat untukmu?"

Baekhyun menggeleng kecil. "Tidak. Aku senang memiliki dia dalam perutku."

"Terima kasih untuk tetap baik-baik saja." sang suami tersenyum hangat dan tak tahunya hal itu membuat desiran aneh pada hati Baekhyun.

Mata mereka masih terpaut satu sama lain, persis seperti pertama kali keduannya bersua malam itu di club malam tempat Baekhyun dulu bekerja. Wajah Chanyeol semakin mendekat kearah wajah cantik sang istri, semakin dekat hingga...

"A-apa kita akan melakukannya?"

...bibir mereka kembali bertemu untuk yang kedua kalinya.

Pertanyaan terakhir Baekhyun tak harus di jawab dengan kata, cukup sebuah siratan melalui tindakan karena bibir Chanyeol telah sibuk bekerja mencumbu bibir sang istri.

.

.

Baekhyun tak pernah membayangkan jika bercinta dengan Chanyeol yang tidak dalam pengaruh alkohol akan menjadi senikmat ini. Tangannya bahkan hanya mampu meremat kuat sprei saking tak tahan menahan kenikmatan dari setiap tumbukan yang Chanyeol berikan.

Chanyeol yang melihat hal itu berinisiatif menghentikan genjotnnya dan membawa tangan Baekhyun untuk mengalung di lehernya. "Tak perlu malu, Baek. Kau boleh menyentuhku dimana pun kau mau, aku suamimu dan itu berarti aku adalah milikmu. Mendesahlah sekuat yang kau bisa, jangan menahan apa yang tengah suamimu ini coba berikan"

Sang suami kembali mengerakkan pinggulnya maju mundur, cepat namun juga hati-hati mengingat istrinya kini tengah hamil muda.

"Ahhhh~ ahh...ahh..." suara desahan Baekhyun mulai terdengar mengalun memenuhi kamar mereka, tak mau repot-repot menahan diri lagi. Toh, dia melakukan itu dengan suaminya sendiri.

"Erghh~ desahkan namaku, sayang~!" perintah Chanyeol di sela-sela eramannya. Lubang Baekhyun sungguh membuat penisnya termanjakan, begitu sempit dan ketat menjepit didalam sana.

"Chanyeolhhh...ahhh...yeahhh...ahhh...Chan~~!"

"Ya...seperti itu sayang~! kau melakukannya dengan baik." Chanyeol memuji Baekhyun yang setia menuruti perintah sang suami, maka dari itu ia menghadiahi istrinya dengan hujaman-hujaman telak yang terarah pada prostat Baekhyun.

Tangan si mungil mengenggam erat rambut sang suami kala ia merasakan tanda-tanda akan meledak. Genjotan Chanyeol membuatnya tak bisa lagi bertahan lama untuk tidak keluar.

Croot Crott

Sperma milik Baekhyun menyebur membasahi perut keduanya, tubuh mungil itu melengkung keatas dengan dada naik turun. Bagi Baekhyun orgasme kali ini sangat nikmat, berbeda jauh jika di bandingkan dengan yang ia dapat pertama kali bersama Chanyeol waktu dulu.

Chanyeol menghentikan sejenak gerakan penisnya yang masih bersarang di dalam lubang sang istri sekedar memberi waktu bagi Baekhyun untuk menikmati pencapaiannya. Ciuman kupu-kupu dia berikan pada wajah si mungil karena tak bisa menahan diri melihat betapa mengemaskannya Baekhyun saat ini.

"Apa kau menyukainya?" tanya Chanyeol dan diangguki malu-malu oleh yang lebih muda.

Chanyeol terkekeh kecil, dalam hati dia tak menyesali keputusannya mempersunting si mungil Byun. Sejak pertama kali bertemu pun Chanyeol sudah jatuh hati dan sekarang mereka telah saling memiliki, jadi yang selanjutnya dia harus lakukan adalah mempertahankan Baekhyun agar selalu disisinya.

"Apa aku sudah boleh kembali bergerak?" tanya Chanyeol lagi.

Baekhyun tersenyum manis, sangat manis hingga Chanyeol yakin gula akan minder saking kalah manisnya. "Bergeraklah~!"

Tak perlu di perintah dua kali nyatanya lelaki tigapuluh enam tahun itu kini kembali mengerakkan kejantanannya keluar masuk dalam lubang sang istri guna mengejar puncaknya sendiri.

Baekhyun yang merasakan prostatnya kembali di tumbuk, mau tak mau membuat libidonya kembali naik. Desahan dan eraman saling bersahutan mengiringi penyatuan tubuh pengantin baru tersebut. Keringat sudah tak lagi mereka pedulikan, yang mereka tahu saat ini adalah saling berlomba mengejar dan memuaskan pasangan masing-masing.

Baekhyun mengetatkan lubang anusnya seiring dengan hujaman penis besar yang bersarang disana. Sedikit butuh waktu lama mengingat bagaimana hebatnya stamina si marga Park, namun kenikmatan itu akhirnya mencapai pada titik puncak juga.

"Ahhhhh/Erghhhh."

Crot crott crott

Kedua insan berbeda usia itu seolah terbang sampai langit ke tujuh kala mendapatkan orgasme yang hampir mereka capai bersamaan. Bahkan Chanyeol hampr saja menindih tubuh hamil sang istri jika saja Baekhyun tak menahan dadanya.

Chanyeol tersenyum puas dan mengecupi bibir Baekhyun penuh kelembutan. "Terima kasih, Baek~ ...kau sudah melakukannya dengan baik."

Tak tahu saja jika diluar kamar mereka tengah berdiri seorang wanita cantik yang mengepalkan tangan erat menahan amarah.

.

.

.

.

TBC

Buat yang merasa gak nyaman sama nama Taeyeon maafkan aku :)

Sumpah itu spontan ada di otak aku dan jadinya kepakai buat jadi salah satu cast cerita ini...

Demi apa, aku itu buta sama yang namanya girl band. Paling yang aku tahu cuma Yoona, Red velvet dan Blackpink...itupun cuma tahu nama doang, maklum udah tua :(

Si Taey*on aja aku tahunya pas ada skandal sama si Baek pas jaman bahelak...dan beruntunglah dia karena tiba-tiba mampir di otak ku hingga menjadi salah satu cast cerita ini...

Trus kenapa gak cari nama lain?

Kenapa aku gak cari nama lain, karena aku males mikir...mikir cerita ini mau dibawa kemana aja, aku udah pusing :(

Sekali lagi, Si Tae itu hanya spontan aja...

Karena udah terlanjur ya nikmati apa yang ada dulu, oke :)

Dah gitu aja...

Plis, review...fav and follow cerita ini ya.

Thank's all

See you next chap...

Akhir kata,

Bye :)