LOST IN BETWEEN (WONKYU VERSION)

Chapter 2: SEOUL DAY 1

The remaked fanfic by The Ace Of Spades

Genre: Romance

Rating: T

Cast/Pair: WONKYU slight YUNJAE

Warning: YAOI, BL, OOC, TYPO, M-PREG

Summary:

Ayah Kyuhyun dan Ibu Siwon akan segera menikah. Mau tidak mau mereka akan menjadi saudara tiri tidak sedarah. Namun, kedua Ayah-Ibu barunya itu berencana mengirimkan mereka kembali ke Korea dan tinggal satu atap, bahkan satu ranjang. 'Newlywed Parents' itu bahkan menyuruh mereka melakukan tindakan yang mustahil… MENIKAH!

DON'T LIKE DON'T READ

BabyWonKyu proudly presents

Siwon dan Kyuhyun kini terduduk di bangku belakang taksi setelah mendarat di Gimpo International Airport pagi itu. Siwon masih terkantuk-kantuk sementara namja manis di sebelahnya sibuk memainkan ponsel yang baru dibelikan Siwon begitu mendarat si Seoul tadi.

"Kamsahamnida, Ajussi," kata Siwon sambil membungkuk kepada supir taksi ketika namja paruh baya itu menurunkan sekian banyak koper dan tas di depan gedung 'MJo' Apartement.

Sekian menit kemudian mereka sudah berdiri di depan meja resepsionis dan Siwon memanggil bell boy untuk membawa barang-barang mereka. Kyuhyun langsung menghambur ke pelukan seorang namja mungil yang duduk di belakang meja resepsionis.

"Hyuuuung…" Kyuhyun memeluk namja mungil itu erat-erat.

"Kyuhyunnie," namja cantik itu balas memeluk Kyuhyun, "Chukkae,"

Kyuhyun cemberut, "Wookie Hyung, kau tahu?"

"Bagaimana aku bisa tidak tahu kalo announcement nya ada di official website apartement ini, Kyuhyunnie?"

"Eh?!" mata Kyuhyun membulat, "Announcement… di mana?" Namja mungil yang dipanggil Wookie itu mengangkat bahunya.

Kyuhyun menghela napas, "Hhh, Appa, jinjja. Membuatku menikah tidak cukup rupanya!"

"Sudah, sudah, naik ke apartemenmu sekarang. Capek kan pasti, perjalanan dari Inggris itu jauh."

"Arasso," sahut Kyuhyun, masih cemberut. Matanya lalu menjelajah mencari sosok tinggi tegap yang sejak tadi hilang dari pandangannya. Tidak ada. Haish, pasti ia sudah pergi duluan. Dasar, Choi Siwon tak tahu malu, gerutu Kyuhyun dalam hati.

Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku dan menekan nomor ponsel yang sudah melekat mutlak di kepalanya.

"Yobo–"

"Kau ini norak sekali, aku tahu ponselmu baru tapi tak perlu menelepon juga. Kita masih berada di gedung yang sama," gerutu Siwon bahkan sebelum Kyuhyun selesai bicara.

"Geez, this guy!Yah! Ini salahmu pergi duluan! Jigeum odiga?"

"Di dalam apartemen,"

"Aku tahu, bodoh," kata Kyuhyun geram, "maksudnya apartemen kita di mana?!"

"Lantai 13," jawab Siwon singkat lalu langsung memutus sambungan telepon.

Kyuhyun menggerutu sebal, "Gah, jinjja," Ia lalu membetulkan posisi tas wolnya di bahu dan langsung beranjak ke elevator. Ketika akan menekan tombol elevator ia tersadar akan sesuatu. Cih, picik. Namun bodoh. Choi Siwon, kau pikir aku sebodoh itu sampai bisa terjebak di tipuan bodohmu hah?batin Kyuhyun dalam hati, lalu menekan tombol '12B' di deretan tombol-tombol elevator. Begitu sampai di lantai yang di tujunya, ia bisa melihat banner "Welcome Newly Wed" di atas sebuah pintu. Dalam hati Kyuhyun mengutuk ayahnya untuk hal itu. Kekanakkan sekali.

Tapi ia tersenyum begitu sadar ia tidak terjerumus ke jebakan bodoh Choi Siwon. Namja manis itu langsung berlari kecil ke arah pintu apartemennya dan menekan bel. Ketika pintu di buka, ia melipat tangannya di dada dan memberikan sebuah mehrong buat namja tampan berwajah datar di ambang pintu.

"Bagaimana kau bisa ada di sini?" katanya tanpa perubahan ekspresi yang signifikan.

"Hah, kau pikir aku sebodoh itu sampai lupa kalau ayahku pemilik apartemen ini dan aku jelas-jelas tahu kalau arsitek gedung ini orang Eropa yang tidak akan menciptakan gedung dengan lantai 13?" cerocos Kyuhyun sambil mendorong tubuh Siwon yang menghalangi jalan masuknya.

Siwon mendecak keras sementara Kyuhyun terpana melihat apartemen barunya. Kakinya langsung berjalan ke kamar. Ia langsung menjatuhkan diri ke ranjang king size begitu masuk ruangan luas itu dan berguling-guling di sana. Kyuhyun lalu melirik ke pintu kamar, Siwon berdiri di sana, bersedekap dan bersandar di ambang pintu sambil menyilangkan kakinya.

"Ck, kau ini seperti bocah lima tahun saja," Kyuhyun cuma menjulurkan lidahnya dan berguling sekali lagi, lalu bertopang dagu dalam posisi tengkurap, "One question," katanya sambil menatap Siwon yang masih bersandar di pintu, "only one bed?"

"You can explore the whole apartement and wouldn't find any," jawab Siwon sambil mengernyitkan hidung.

Kyuhyun menenggelamkan wajahnya di kasur lalu berguling dan duduk bersila di atas kasur, "You know what? My dad's crazy,"

"My mom's crazier," lanjut Siwon tanpa merubah posisi berdirinya, menunjuk sebuah kotak di atas meja kecil di sebelah ranjang itu. Kyuhyun merangkak ke dekat meja itu dan kembali bersila dengan kotak itu kini di pangkuannya. Kyuhyun menautkan ke dua alisnya ketika melihat memo di atas kotak itu, "Have Fun".

Maksudnya?

Namja manis itu membuka tutup kotak itu perlahan dan seketika hidungnya mengernyit,

"He's a real crazy, Siwonnie," katanya sambil mengangkat sebuah baju–bukan, gaun tidur transparan–dengan kedua jarinya seperti sedang mengangkat sesuatu yang menjijikan.

Kyuhyun lantas berlari ke pojok ruangan dan menginjak pedal tempat sampah yang ditemukannya di sana dan melempar benda yang sejak tadi dipegangnya itu ke sana. Ia kembali duduk di atas ranjang sambil melipat kedua tangannya di depan dada, kini Siwon ikut duduk di sebelahnya.

"We're going to college tomorrow," ucap Siwon, mengalihkan topik yang memang Kyuhyun pun ogah membahasnya lebih jauh.

"University of Seoul?"

Siwon menggeleng, "Ani, Inha University,"

"Eh? Kenapa?"

"Hanya di sana kita bias satu kampus,"

Dahi Kyuhyun mengernyit menodong penjelasan lebih detail dari Siwon. Yang dituju cuma menghela napas panjang dan menatap namja manis di sebelahnya, "Cuma di Inha yang jurusan General Music dan Dramatical Music satu lingkungan,"

"Apa ayahku bilang aku harus benar-benar 'menempel' denganmu, begitu?" Tanya Kyuhyun sambil mengernyitkan sebelah matanya. Siwon mengangguk.

"Shireo," timpal Kyuhyun enteng.

"Kalau begitu biar aku yang menempel padamu," balas Siwon tanpa merubah nada suaranya.

"Yah. Kau ini kesambet setan apa?"

Siwon mengangkat sebelah alisnya, "Bukannya aku memang setan? Kau yang bilang kan?" Ia lalu mendorong punggungnya sampai bagian belakang tubuhnya itu menyentuh ranjang yang empuk.

Kyuhyun menatap namja tampan yang sekarang berbaring di ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah itu dengan pandangan membunuh sambil bersedekap. Menghela napas, ia beranjak dan kemudian menendang kaki Siwon keras-keras sampai namja itu meringis pelan.

"Tak kusangka namja sepertimu punya tenaga kuli," ucap Siwon sambil menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang.

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya, "Kau bilang aku punya tenaga kuat ? Ah, tak kusangka kau bisa jujur."

Alih-alih mendapat sepatah jawaban, Kyuhyun malah menerima terjangan bantal tepat di depan wajahnya. Setelah itu ia tidak mendengar apapun selain konser tepuk tangan solo diiringi dengan sahutan 'GOAAAL' yang berkepanjangan.

"Go wash your self, lalu tidur," kata Siwon setelahnya, masih dengan intonasi sama.

Masih dengan tatapan mematikan, Kyuhyun menekuk Tuhan, ingatkan aku bagaimana bisa bertahan menghadapi namja mengesalkan macam Siwon, batin Kyuhyun dalam hati. Tapi sebelum ia memutuskan untuk meledak memarahi Siwon, sebuah ide singgah di otaknya.

Ia tersenyum penuh arti, "Kau duluan,"

"Oke," jawab Siwon tanpa ragu lalu beranjak dan masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.

Kyuhyun menyeringai, lalu berjingkat-jingkat ke depan pintu kamar mandi. Ia bersandar di sana sambil mendekatkan telinganya ke pintu. Begitu ia mendengar suara shower menyala, Kyuhyun langsung berteriak, "Hai Choi Siwon! Aku pergi ke mini market di depan! Sendirian!"

Namja manis itu langsung berjingkat-jingkat keluar kamar dan dalam perjalanan keluar ia bisa mendengar Siwon berteriak samar-samar dari kamar mandi, "Yah! Cho Kyuhyun! Jangan berani-berani!"

"Shut up, mister. Stay there or try to catch me naked!" seru Kyuhyun sambil tertawa puas.

Kyuhyun menghirup udara Seoul sore itu. Sejuk. Sudah lama ia tidak menghirup oksigen Seoul dan rasanya enak ketika udara itu bersentuhan dengan rongga hidungnya. Oh, dan ditambah tidak ada bocah tengil yang sok pahlawan menjadi bodyguard atau semacamnya, pikir Kyuhyun sambil membayangkan wajah Siwon yang plain itu.

Suara bel klasik sontak terdengar ketika Kyuhyun membuka pintu mini market perlahan, "Annyeong haseyo," sapa Kyuhyun sambil membungkuk kepada Bibi yang berdiri di belakang mesin kasir. Matanya langsung berbinar ketika menangkap benda bulat warna-warni bergagang putih, terbungkus plastik transparan rapi dengan pita merah melingkar tepat di bawah bulatannya. Lolipop.

Kyuhyun meraih sebuah yang berwarna pink, tapi langsung meletakkannya lagi ke tempat semula ketika menemukan yang berwarna ungu. Grape sepertinya akan terasa lebih enak sore ini. Ia lalu berjalan ke kasir sambil merogoh saku belakangnya.

"Kamsahamnida Ajumoni, annyeong haseyo," kata Kyuhyun sambil membungkuk lagi. Ia bergidik begitu menarik pintu mini market dan angin langsung menyentuh lengannya yang tidak tertutup sweater lengan pendeknya. Ia mulai menghisap ujung kembang gula berbentuk bulat itu setelah menyingkirkan pembungkusnya.

Sambil menghisap dan sesekali menjilati lolipop di tangannya, Kyuhyun melemparkan pandangannya ke berbagai penjuru. Ternyata serindu ini ia pada Seoul–kota kelahirannya. Cukup rindu sampai ia sanggup berdiri melihat pemandangan taman di depan gedung apartemen milik ayahnya tanpa melakukan apapun selain mengemut lolipop.

Kyuhyun memutuskan untuk duduk-duduk di taman sebentar sambil menghabiskan lolipopnya. Lagipula ia yakin sebentar lagi si bodoh ignorant itu akan datang mencarinya sambil marah-marah seperti ajussi galak.

Saat lolipop yang sedang lumat di mulutnya hampir bersisa setengahnya, Kyuhyun mendengar langkah kaki pelan. Ia menghela napas, pasti Siwon, begitu pikirnya.

Baru saja ia akan menoleh ketika sepasang telapak tangan merengkuh bahunya, namun penglihatannya hilang seketika karena ada suatu benda yang melingkari matanya sampai ke belakang kepala. Satu yang ada di pikirannya: Bingung.

Paris

Pria itu terduduk di sisi tempat tidur, tangan kanannya menahan ponsel yang sedang diletakkannya di telinga. Wajahnya sedikit khawatir, tapi menyiratkan sedikit kelegaan yang masih dibayangi keragu-raguan.

"Jadi, Cho sajangnim? Bagaimana?"

Ia menghela napas sebentar mendengar suara berat di seberang sana, lalu mulai menjawab, "Jeosonghamnida, tidak bisa. Putraku sudah menikah,"

"Ottokhae? Bukankah kita sudah merencanakan ini sejak lama?"

"Putraku yang ingin menikah dengan pilihannya. Aku tidak bisa memaksa kehendak putra kesayanganku. Maaf, sekali lagi. Hal ini tidak akan mengganggu hubungan bisnis kita,"

"Ah, algesseumnida. Sayang sekali, Cho sajangnim. Tetapi, ya sudahlah. Semoga putrimu bahagia. Annyeong haseyo, Cho sajangnim,"

Klik.

Yunho itu meletakkan ponselnya begitu saja di atas tempat tidur begitu si penelepon memutus sambungan teleponnya. Ia mengusap wajahnya sebentar, lalu menoleh ketika menyadari seseorang duduk di sisinya.

"Yunnie," panggilnya.

"Ne? How's it? Everything's settled, right?" tanya Jaejoong di sebelahnya, meletakkan telapak tangannya di atas bahu suaminya.

"I told him already, but–"

"But?"

"Sebenarnya bukan dia yang kutakutkan,"

Namja cantik di sebelahnya mengerutkan kening, "Maksudmu?"

"Namja itu," jawab suaminya pelan, "Putranya. Dialah yang aku takutkan,"

Air muka Jaejoong berubah, tapi ia berusaha tersenyum, "Bukankah disana suadah ada putraku? Siwon akan menjaga Kyuhyun, Yunnie. Percayalah,"

Kyuhyun merasa bingung. Ia tidak melihat apapun selain warna hitam di sekitarnya. Tapi itu pun ia yakin kalau ia merasa gelap karena ada yang menutupi matanya.

Rasanya pusing, bingung. Kontrolnya 100% hilang tapi kesadarannya masih bersisa. Ia yakin ia masih merasakan bekapan di mulut dan hidungnya sampai pening menguasai kesadarannya tadi. Lalu ketika tubuhnya diseret pelan. Ia juga mendengar dengan jelas bantingan pintu mobil dan merasakan tubuhnya di lempar ke jok. Lalu ia mendengar suara mesin yang menderung dan goncangan-goncangan di sekitarnya akibat kecepatan mobil yang tidak biasa dirasakannya.

Dan kini iapun masih bisa merasakan tubuhnya terduduk bersandar di atas sesuatu yang empuk. Tapi ia masih hilang kontrol, tidak bisa menghendaki dirinya melakukan apapun.

Kyuhyun mencoba menggerakkan jari-jari tangannya. Berhasil. Ia berhasil menggerakkan jari-jarinya –yang artinya pengaruh obat atau apapun itu namanya sudah hilang. Kini Kyuhyun sadar kalau pergelangan tangannya diikat. Hanya pergelangan tangannya. Sial. Kini tangannya seperti organ vital bagi Kyuhyun karena ia butuh tangannya untuk melepaskan blindfold yang sejak ia hilang control tadi menutupi matanya. Akhirnya ia memutuskan untuk berdiri. Goyah awalnya, tapi Kyuhyun berhasil berdiri dengan tegak dan mencoba berjalan.

"Sial, di mana aku sekarang?" rutuk Kyuhyun pada dirinya sendiri. Ia mencoba menggunakan instingnya untuk berjalan. Tak lama kemudian ia sudah tersungkur ke lantai karena tersandung sesuatu. At least sekarang dia tahu kalau ia berada di dalam ruangan.

Ia lalu tersentak kaget ketika ada dua buah tangan mencengkram bahunya dan membuatnya berdiri. Orang itu lalu memeluk bahu Kyuhyun dan mendudukkannya di suatu tempat, di sebuah kursi tanpa sandaran bertekstur lembut. Kyuhyun mencoba berontak tapi tenaga orang itu lebih kuat.

"Selamat malam, Cho Kyuhyun-ssi,"

"Kau siapa?" tanya Kyuhyun, pita suaranya bergetar hebat.

Lalu seluruh ototnya menegang, tepat ketika sepasang tangan melingkari perutnya. Orang itu –yang jika Kyuhyun dengar suaranya seorang namja, memeluknya erat.

Kyuhyun bernapas pelan-pelan, tidak ingin pergerakan dada ataupun perutnya dirasakan namja itu.

"Tidak perlu tahu," jawabnya sambil bernapas di leher Kyuhyun.

Seketika bulu kuduk Kyuhyun meremang. Ia merasakan matanya mulai basah, tapi air-air itu menumpuk di pelupuk matanya karena kain hitam itu masih melingkar kuat di kepalanya, menutupi kedua matanya. Ia coba beringsut tapi usahanya gagal, namja itu sudah merengkuhnya kuat. Kyuhyun hampir meledak dalam tangis, tapi kini terisak pun sulit. Bahunya menopang beban saat namja itu meletakkan kepalanya di bahu Kyuhyun. Dia masih bernapas dengan masing-masing tarikan yang lama.

"Kau mau apa?" tanya Kyuhyun sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya sendiri, mencoba melepaskan pelukan namja itu dari tubuhnya. Suaranya bercampur tak keruan dengan isak tangis. Ketakutan mengurungnya.

Namja itu tak bersuara, cuma suara napasnya yang keras dan perlahan yang bisa Kyuhyun dengar. Kedua tangannya memeluk Kyuhyun makin erat, membuat suara isakan yang keluar dari mulut namja manis itu makin gencar.

"Le…le..pas…"

"Tidak akan," jawab namja itu, mulai meletakkan wajahnya di leher Kyuhyun, makin membuat Kyuhyun menangis, "Aku menginginkanmu, aku tidak pernah bisa mendapatkanmu. Sekarang kau di sini dan aku tidak akan melepaskanmu," lanjutnya, menjarah leher Kyuhyun dengan bibirnya.

Kyuhyun menendang-nendang dengan keras, lalu lantas menjerit ketika sesuatu yang tajam menembus kulit lehernya. Ia lalu merasakan sesuatu yang basah dan kental keluar dari tempat kulitnya terluka. Kyuhyun menjerit sekuatnya ketika namja itu menghisap cairan itu –darah, dari leher Kyuhyun. Namja itu menjilati darah yang tersisa sementara Kyuhyun berontak sambil menangis.

"Diam sampai urusanku selesai, Manis," bisik namja itu di telinga Kyuhyun, lalu ia menyilet lagi bagian leher namja manis di pelukannya itu. Kyuhyun tak berhenti mengeluarkan suara, bentuk pengapresiasian rasa sakit dan takut sekaligus.

Sementara namja itu masih mengendus leher Kyuhyun sambil sesekali menciumnya, lalu disilet dan dihisapnya darah yang keluar.

Kyuhyun mengkerut, rasa takutnya memuncak dan air matanya sudah merembes keluar penutup mata saking lamanya ia menangis tanpa dapat membiarkan air matanya mengalir. Ia menjerit, tapi suaranya hampir hilang. Dalam hati ia meneriakkan satu nama: Choi Siwon.

Tolong, desah Kyuhyun dalam hati. Kepada seseorang yang sejak tadi dipanggilnya dalam hati.

Hampir satu jam kemudian, namja itu berhenti menciumi leher dan pipi Kyuhyun, namja manis itu sempat mendengar suara benturan logam tipis dengan lantai marmer yang berarti namja itu sudah tidak memiliki silet di tangannya. Ia kini terkulai di bahu Kyuhyun, masih memeluknya sementara si namja manis membuat tubuhnya sekaku batu.

"Aku menginginkanmu, Cho Kyuhyun. Aku mencintaimu. Jangan pergi," bisik namja itu. Kyuhyun menautkan kedua alisnya, keningnya masih berkerut bekas rasa takut yang tadi sempat memuncak. Ia bergetar, sebenarnya siapa orang ini? Kenapa tidak mengizinkan Kyuhyun melihat wajahnya? Kyuhyun berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan itu di benaknya alih-alih menanggapi ucapan si namja misterius itu.

"Kau siapa?" pertanyaan itu keluar untuk yang kedua kalinya, dan Kyuhyun yakin jawaban yang sama akan keluar untuk yang kedua kalinya juga.

"Bukankah sudah kubilang kalau kau tidak perlu tahu?"

Nah, kan.

Kyuhyun menghela napas, masih disertai isakan-isakan sisa rasa takut yang masih menyelimutinya. Ia tidak akan minta apa-apa kecuali pulang. Ia ingin pulang.

"Kalau begitu aku tidak akan memaksa, aku hanya ingin pulang,"

Namja itu diam, tidak menanggapi Kyuhyun sama sekali. Ia melepaskan pelukannya pada Kyuhyun dan duduk di sebelah namja manis itu. Namja itu lalu meletakkan tangannya di atas tangan Kyuhyun tapi dengan sigap namja manis itu menepisnya. Kyuhyun bisa mendengar helaan napas berat namja di sebelahnya.

"Maaf," katanya, "Aku terlalu menginginkanmu."

Hal terakhir yang Kyuhyun rasakan adalah bekapan tangan namja itu yang berbau aneh. Lalu rasa pening yang dirasakannya beberapa jam yang lalu datang lagi. Kini ia tidak hanya merasa gelap dan hilang kontrol saja, tapi juga senyap.

Namja tinggi atletis itu mengacak rambutnya frustasi. Wajahnya tak karuan dan matanya membengkak. Sudah berjam-jam ia duduk di lobby apartemen dengan wajahnya yang cemas bukan main. Ia sudah mencari ke mana-mana tapi hasilnya nihil, namja itu–namjanya. Yah, yang sekarang sudah menjadi namja–nya.

"Choi Siwon-ssi," panggil seorang namja mungil berseragam merah di belakang meja resepsionis, "sebaiknya tenang dulu."

Siwon menatap namja mungil itu sebentar, lalu melempar pandangannya ke arah lain, "Tenang? Kalau aku mampu, Ryeowook-ssi,"

Namja mungil itu juga berwajah cemas. Berkali-kali tangannya bergerak ingin mengangkat telepon di meja resepsionis tapi selalu berhasil dicegah tatapan galak Siwon,

"Jebal, jangan beritahu sajangnim APAPUN. Arasso?" begitu katanya setiap melihat tangan Ryeowook merangkak ke dekat benda putih itu.

"Kyuhyunnie!," pekik Wookie begitu melepaskan tangannya dari gagang telepon yang tak jadi diangkatnya. Ia berlari keluar meja resepsionis lalu merangkul pinggang seorang namja manis yang datang dituntun pria berseragam hitam, "Kamsahamnida, Kim-ssi," kata Wookie sambil membungkuk kepada pria berseragam hitam yang ternyata security guard gedung apartemen itu.

Ryeowook meraih wajah Kyuhyun lalu air mukanya berubah cemas, "Kyuhyun-ssi, gwaenchana? Matamu merah dan bengkak sekali!" serunya cemas.

Kyuhyun cuma menggeleng pelan, kepalanya lalu menoleh ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Wajahnya masih kosong, menatap Siwon yang makin dekat. Kyuhyun berjalan mendekat ke Siwon, tangan namja itu sudah terbentang menyambutnya. Lutut Kyuhyun lemas dan tubuhnya oleng, beruntung Siwon dengan sigap menangkapnya. Kyuhyun langsung memeluk Siwon dan kembali terisak.

Siwon cuma diam dan mengusap-usap punggung Kyuhyun.

"Kau dari mana?" tanya Siwon singkat, yang cuma dibalas isakan tangis yang keluar dari bibir Kyuhyun. Siwon akhirnya mengajak Kyuhyun naik ke apartemen mereka.

Begitu sampai, Siwon langsung mendudukkan Kyuhyun di tempat tidur lalu duduk di sebelahnya. "Kyunnie," panggilnya pelan pada namja manis yang masih sibuk mengusap air mata yang jatuh di pipinya. "kau bisa menceritakan semuanya padaku,"

Kyuhyun menggeleng, ia belum mengeluarkan suaranya sejak tadi. Kepalanya masih pening dan perasaannya masih tak keruan.

"Kyunnie, aku mohon. Kau bisa beritahu aku apa saja sekarang. I'm your husband now, your father gave me this responsibilty. Jangan buat aku merasa tidak berguna, kumohon," ucap Siwon. Cukup membuat Kyuhyun menatap wajah Siwon –yang barusan mendeklarasikan dirinya sebagai suaminya.

"Kau tidak bisa lihat apa yang terjadi padaku sekarang?" akhirnya Kyuhyun buka suara sambil berusaha menutupi getaran pita suaranya yang serak.

Siwon mengerutkan keningnya, menatap Kyuhyun dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menggeleng. Kyuhyun melirik sedikit lalu menyadari kalau ada sebuah scarf melingkari lehernya. Ia lalu membuka scarf itu perlahan, sambil sesekali melirik ke arah Siwon –mengantisipasi reaksi apa yang akan diberikannya.

"Yah, Cho Kyuhyun! Kau tidak mengidap masochism, kan?" pekik Siwon sambil menarik tubuh Kyuhyun mendekat untuk melihat luka-luka di leher namja manis itu lebih jelas, semburat ngeri tergambar jelas di wajahnya.

"Bodoh!" timpal Kyuhyun sambil menempeleng kepala Siwon. "Tentu saja tidak!" Siwon tampak tak tahan melihatnya, lalu ia mengambil seperangkat kotak obat dan mulai membersihkan luka namja manisnya.

"Kau masih bersikeras tidak mau bercerita padaku, nih?" tanyanya sambil mengoleskan alkohol ke luka Kyuhyun, nada suaranya berubah menjadi sedikit lebih ramah.

Namja manis itu meringis, "Not now, please Siwonnie,"

Mereka lalu diam, hanya suara tutup botol obat yang terdengar habis dibuka-tutup dan sesekali ringisan Kyuhyun karena lukanya yang perih kena alkohol.

"Arasso, kalau memang kau tidak mau cerita sekarang. Tapi kau harus menceritakan semuanya padaku nanti. This is a serious matter, I bet. Right?" kata Siwon sambil membereskan obat-obat kembali ke kotaknya.

Kyuhyun cuma mengangguk pelan. Siwon mengacak rambut Kyuhyun lalu beranjak untuk menaruh kotak obat kembali ke tempatnya. "Wash your self, lalu tidur. No excusion. Kau ingat apa yang terjadi ketika tidak menanggapi perintahku yang ini, kan?"

Yang diceramahi lagi-lagi cuma mengangguk, lalu menghilang di balik pintu kamar mandi. Sementara Siwon langsung masuk ke balik selimut di atas ranjang, kelewat lelah berjam-jam mencari dan mengkhawatirkan Kyuhyun.

Dua puluh menit kemudian Kyuhyun keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan piyama hijau toskanya, rambut ikal kecoklatannya yang masih acak-acakan terlihat sedikit basah. Ia menggembungkan pipi, menatap Siwon yang sedang berbaring di atas ranjang dengan mata tertutup. Satu pertanyaan menggelayuti pikirannya sekarang: Haruskah ia tidur di sana juga –dengan Siwon yang sudah setengah terlelap?

Kyuhyun berjalan ke arah tempat tidur ragu, lalu mengangkat sedikit selimut yang terhampar di sana dan masuk ke dalamnya. Dengan kakinya ia menendang bokong Siwon menjauh, "That side," perintahnya.

Siwon hanya menurut dan menggeser tubuhnya di tepi ranjang, merapatkan selimutnya. Kyuhyun melakukan hal yang sama, ke tepian yang lain. Lalu berusaha memejamkan matanya. Dengan pikirannya yang berkecamuk tak keruan memang sulit, tapi rasa lelah karena ketakuan tadi mengalahkan semuanya. Ia terlelap begitu memejamkan matanya.

Siwon mengerjap-ngerjapkan matanya, bergidik. Dingin. Ia meraba-raba sekitarnya untuk mencari selimut, tapi nihil. Memutuskan untuk bangkit, Siwon menyadari sesosok namja manis yang terakhir ia sadar ada di sampingnya kini tidak ada.

Ia merangkak ke sisi ranjang yang lain dan menemukan Kyuhyun meringkuk di lantai, tepat di bawah tempat tidur mereka. Selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pasti tidurnya terlalu pecicilan sampai jatuh begitu, pikir Siwon. Ini bukan kali pertama Siwon melihat Kyuhyun terjatuh dari tempat tidur karena gaya tidurnya yang pecicilan. Dulu juga sering. Bedanya, dulu ia tidak ada di tempat tidur yang sama dengan Kyuhyun.

Siwon turun dari tempat tidur dan menyingkap rambut Kyuhyun yang menutupi wajahnya, lalu tertawa kecil melihat wajah namja manis itu yang sedang terlelap. Tanpa sadar ia mencubit pipi Kyuhyun yang sedikit mengegembung.

"Hah, kau pikir wajahmu lucu jika sedang tidur?" decak Siwon. Dalam hati ia menjawab sendiri: Memang lucu, lucu sekali.

Namja tampan itu lalu memutuskan untuk menggendong Kyuhyun dan merebahkan tubuh namja manis itu di tengah ranjang, menyelimutinya dampai ke dagu. Agak ngeri juga melihat luka-luka di lehernya.

Setelah memastikan Kyuhyun tidak terbangun, Siwon mengambil sebuah bantal, lalu membuka lemari besar di depan ranjang mereka, menarik selembar selimut. Kemudian ia mematikan lampu dan keluar kamar, merebahkan dirinya di atas sofa.

.

.

TBC

.

.

Next Chapter: COLLEGE COUPLE

Mian telat update, Readers. Sebagai gantinya, chapter ini saya panjangkan^^

Mian juga, Wonkyu mommentnya masih sedikit. Tapi pasti bertambah di next chapter. Jadi tenang saja ^^

Sekali lagi, semua Pairing di FF ini BOYS LOVE bukan GS. Hope you like it, Readers ^^.

FEEL FREE TO REVIEW

Wonkyu is Love,

BabyWonKyu