Kyuhyun POV
Aku tak tahu dimana aku sekarang, semuanya begitu gelap. Apa aku tersesat? apa aku akan meninggal? Tidak! Itu tidak akan terjadi! Aku masih harus bertemu sungmin, dan membahagiakannya. Tidak lama kemudian aku melihat sebuah cahaya kecil menerobos kegelapan ini. Aku mendekatinya, memastikan kalau ia memang orangnya, guixian. Sepertinya ia menepati janjiku walaupun sedikit terlambat, karena dapat kupastikan ini sudah melewati pagi hari mengingat saat aku merasakan hangatnya sinar matahari yang sempat menerpaku sebelum kembali tertidur karena obat penenang itu tadi.
"kau, mengapa kau disini" tanyaku padanya yang kulihat sedang membaca sebuah gulungan, entah itu apa. Kemuadian ia menoleh padaku, betapa indahnya mata itu, gelap, sangat gelap dan seakan menyeretku untuk mengaguminya.
"apa kau tertarik padaku, hah?" ejeknya
"a-apa katamu?" 'tertarik katanya, mata sungmin masih lebih indah dan lebih menghanyutkan' batinku.
"seharusnya kau sadar, kau sama denganku, semuanya… ya.. hampir semuanya…." Terangnya dan kulihat ia memegang dadanya, merusaha menemukan jantungnya.
"itu tak penting, dimana sungmin sekarang" tanyaku padanya, aku tak butuh basa basi karena tujuanku adalah sungmin saat ini, aku sudah sangat merindukannya.
"tenanglah, sungmin akan segera sadar" ucapnya padaku membuatku sedikit terhibur "tapi, aku membutuhkanmu" ia terdiam sebentar mengamatiku
"aku? Lakukan apapun asal sungmin bisa kembali seperti semula" ucapku pasti, membuat dia tersenyum meremehkan
"apa kau yakin? Salah satu akibatnya adalah kau tidak akan bisa bertemu sungmin lagi, atau bisa dikatakan kau akan meninggal kyuhyun-ah"
"apa maksudmu?" ia terdiam
Kalau aku meninggal, bagaimana aku bisa bertemu dan memeluknya. "apa tidak ada cara lain?" ucapku putus asa. "aku rela melakukan apapun, namun jika aku tetap harus berpisah, apa gunanya?"
"kalau begitu biarkan sungmin bersamaku" lirihnya
"tidak! Kau tak boleh mengambil sungminku!"
Lalu kegelapan kembali menyeretku dan membuatku terbangun dari tidurku
Keringat membasahi seluruh tubuhku, dan kulihat kedua orang tuaku berusaha menenangkanku
"apa yang terjadi padamu kyuu~" Tanya ummaku
"umma.. dimana sungmin?" kemudian ia tersenyum "dia masih tertidur, setelah kau sehat kau boleh menjenguknya lagi"
"syukurlah" lirihku,
"mengapa kau berteriak seperti itu, apa kau mimpi buruk?" Tanya ummaku lagi dan kujawab dengan anggukan saja, aku tidak ingin menceritakan kejadian yang barusan aku alami. Apa demi sungmin aku rela meninggalkan kedua orang tuaku. Tentu pilihan yang sangat sulit bagiku, karena disisi lain aku ingin sungmin kembali seperti semula, tetap tersenyum dan menjalani hidupnya.
'kau bodoh! Sangat bodoh! Jika kau mengorbankan dirimu lalu bagaimana bisa aku tersenyum kyunie' suara sungmin tiba-tiba terdengar ditelingaku dengan jelas
"mi..miniee…" jelas sekali itu suara sungmin, dia masih bisa melihat dan mendengarkanku
"umma.. aku mendengarnya.. aku mendengar suara sungmin umma" kulihat ummaku meneteskan air matanya dan appaku berusaha menenangkannya
"sudahlah kyuhyun, sungmin masih dalam keadaan koma, jangan mengharap lebih" ucap appaku yang mulai bersuara
"aku tau kau disini sayang" kusentuh dadaku pelan, merasakan denyutan aneh. Detakan jantung yang kurasakan seperti menunjukkan kalau aku harus bertahan hidup.
Kyuhyun POV end
Sungmin POV
"Ryeowook-ah!" teriakku padanya saat aku merasa sangat bosan
"aigoo pangeran, bisakah kau tidak berteriak dan bersikap dewasa sedikit! Aku tau kau sudah bisa mengendalikan dirimu agar tidak menjadi anak kecil!" ucapnya padaku
"miane" ucapku dan membuat tersenyum senang saat ia datang membawa es krim "kau tahu aku bosan" lalu mengambil es krim yang ada padanya, kulihat ia hanya tersenyum tak berniat menanggapi pertanyaanku yang satu itu.
"aku tak tahu kau sangat suka makanan dingin ini, dunia atas sini jarang sekali yang bisa membuatnya" ujarnya mengalihkan pembicaraan
"siapa suruh kau membuatnya? Akukan bilang kalau kau harus mencarinya" sungutku sedikit kesal
"itu terlalu merepotkan, setidaknya aku bisa membuatnya untuk diriku sendiri" katanya sambil tersenyum membuat ia semakin cantik, ah.. dia namja.. namja cantik sepertiku.
Setelah kami menghabiskan es krim kami masing-masing, keheningan terjadi.
"pangeran" akhirnya ryeowook yang bersuara "aku tau kau ingin turun kebawah" ucapnya padaku
Aku mengangguk dengan semangat "tentu! Kaja kita pergi! Kau tau caranya bukan! Kau bisa menghilang seperti guixian hyung?!" tanyaku dengan menggebu-gebu
"sudah kubilang jangan seperti anak kecil pangeran, aku tak suka itu. Kau sangat menggemaskan jika seperti itu, seakan aku mau mencibut pipimu itu"
"kau tau ryeowook-ah, mungkin lama-lama ini sudah menjadi sifat alamiku" kulihat tatapan ryeowook tak percaya apa yang barusan aku ucapkan
"dunia manusia mengubahmu" gelengnya padaku
"lalu.. apakah kita bisa pergi sekarang?" tanyaku masih mencoba untuk membujuknya
"bisa, namun aku terlalu takut untuk mencoba dan membawamu ke dunia manusia pangeran. Aku takut pangeran guixian akan marah"
"itu tak akan terjadi, kau tenang saja. Kita hanya bermain sebentar, guixian hyung sedang ada urusan di istana. Jadi, bisa kupastikan kalau itu akan sangat lama"
Ryeowook mengangguk mengerti, akhir-akhir ini pangeran guixian sangat sibuk dengan pekerjaan istananya dan hanya mempunyai waktu saat matahari tenggelam.
"baiklah, kemana kita akan pergi?" tanyanya dan kulihat ia mulai membuat lubang transportasi,
"tidak bisakah kita langsung menghilang seperti yang dilakukan pangeran guixian? Aku takut dengan kegelapan yang ada di lubang transportasi itu ryeowook-ah" ucapku pelan, karena semenjak aku beberapa kali pingsan aku sangat takut akan kegelapan.
"ini hanya sebentar saja, kau tau aku bukan malaikat yang bisa kau bandingkan dengan pangeran guixian jadi jika pangeran sungmin masih ingin ke bumi ikuti caraku yang satu ini"
"sejak kapan kau sangat menyebalkan!" erangku dan melangkah dengan menghentak-hentakkan kakiku sebal lalu masuk kedalam lubang gelap itu
"masih saja kekanakan, lihat wajah imutnya saat marah, menggemaskan"
"yak! Aku bisa mendengarmu dan jangan tertawa"
"kkkk!" kudengar tawa ryewook dan bisa kurasakan tangan ryeowook dalam kegelaan ini menuntunku untuk mencari cahaya terang
"akhirnya" aku tersenyum puas saat sampai dibumi, cukup melelahkan karena kegelapan itu seakan menyerap energiku, mungkin karena aku ketakutan.
"kau senang pangeran?" tanyanya padaku
"tentu saja" senyumku mengembang
"aku mau makan gula kapas!"
"aish! Kau tak bisa melakukan itu pangeran"
Membuatku tersadar, kalau saat ini aku hanyalah roh. "Lalu apa yang bisa kita lakukan selain berjalan-jalan?"
"mungkin mengunjungi kyuniemu" ucapnya membuatku sedih
"aku tak ingin bertemu dengannya" raut wajah ryeowook berubah drastis, ada penyesalan disana, aku bisa merasakannya
"wae? Bukankah kemaren kau bilang merindukannya?"
"aku takut ryeowook-ah, aku takut tak mau kembali ke atas lagi?"
"kalau begitu, biarkan aku menyeretmu nanti" ucapnya membuatku tersenyum.
"terimakasih ryeowook-ah, aku tak tau harus berkata apa lagi padamu"
"cukup dengan kau bahagia pangeran sungmin" membuatku sedikiti merasa bersalah padanya karena ucapanku waktu lalu saat ia berusaha membuatku kembali menjadi milik pangeran guixian. Mungkin ryeowook sudah mengerti sepenuhnya tentang perasaanku ini.
"tentu ryeowook-ah" kuseret tangannya tak memperdulikan teriakannya untuk pelan-pelan. Senyumku terus mengembang saat menuju dimana kyunie berada
Saat ini kulihat dengan jelas, wajah tertidur itu. Kurasa ia terlalu lelah mengingat ia jarang sekali merawat dirinya, terlihat dari penampilannya saat ini.
"apa kau tak pernah menyisir rambutmu 3 bulan ini hah?" ucapku saat berusaha meyisir rambutnya, namun aku tak bisa menyentuhnya tanganku menembus tubuhya, mataku memanas melihat keadaannya saat ini, tetapi sesekali aku bisa merasakannya mungkin aku butuh latihan.
"aku tau kau merindukanku, dan asal kau tau, aku juga sangat merindukanku. Kumohon maafkan aku" Ryeowook berusaha menenangkanku namun air mataku tidak sengaja mengalir. Aku terdiam saat merasakan sebuah kilatan bayangan masalalu, membuatku semakin terdiam dan merasakannya. Merasakan bagian tanganku seperti ada yang sedikit berbeda, dan jika dilihat maka ada perubahan sedikit. Tanganku mengeluarkan cahaya putih, tidak menyilaukan, hanya berpendar lemah dan saat itu juga kurasakan sesuatu bergerak dileherku.
"apakah segel kekuatanku sudah terbuka?" lirihku "ryeowook-ah" kutatap ia dan kurasakan kekhawatirannya melihat keadaanku seperti ini. Dan kucoba untuk melihat isi hatinya dengan memegang tangannya. Dan aku terkejut, kekuatanku kembali dan tentu saja aku mengetahuinya melalui kilatan masa lalu yang barusan kutangkap seakan memberitahuku bagaimana cara menggunakannya saat ini, 'sentuhan'. Dan kucoba untuk menenangkannya, sedikit bereksperimen dtengah keadaan seperti ini memang tidak tepat namun kurasa akan sedikit berguna.
kualirkan energy positif pada ryeowook, memberitahunya bahwa aku baik-baiknya dan menenangkannya agar ia tersenyum. Setelah itu kurasakan perubahannya, ia tersenyum dan memelukku
"kenapa bisa begini" tanyanya tak percaya "aku merasakan perang batin, dimana aku sangat khawatir namun aku seakan dipaksa secara halus untuk tenang dan tersenyum" lanjutnya melihat kearahku, mungkin ryeowook sudah menyadarinya
"kekuatanmu" tatapnya menunggu jawabanku
"benar. Kekuatanku kembali ryeowook-ah" ia memelukku dengan erat "tapi kurasa ini akan berfungsi dengan sentuhan saja"
"mengapa bisa begitu"
"entahlah" terlalu rumit untuk menjelaskannya
Beberapa saat kemudian terlihat raut gusar kyuhyun dan
"tidak! Kau tak boleh mengambil sungminku!"
"aku disini kyunie~, tak akan ada yang bisa membuatku lari darimu"
Kusentuh tangannya perlahan dan berusaha meredahkan perasaannya yang bisa dikatakan kacau, kulihat terdapat rasa takut yang tinggi seperti sesuatu sedang mengancamnya. Mendengar teriakan kyuhyun kedua orang tuanya menghampirinya, namun tak kulepaskan genggaman tanganku yang bisa dikatakan tak sepenuhnya dapat dirasakan karena aku hanya roh.
Lalu aku bisa mendengar batin kyuhyun yang sedang memikirkanku dan juga keputusan yang sangat bodoh
'Apa demi sungmin aku rela meninggalkan kedua orang tuaku. Tentu pilihan yang sangat sulit bagiku, karena disisi lain aku ingin sungmin kembali seperti semula, tetap tersenyum dan menjalani hidupnya.'
Aku berteriak disaat tubuhku mulai kehabisan energy, mungkin karena belum terbiasa menerima kekuatan ini kembali
"kau bodoh! Sangat bodoh! Jika kau mengorbankan dirimu lalu bagaimana bisa aku tersenyum kyunie!"
Kulepaskan tanganku dan diluar dugaan ia mendengarku, aku ketakutan, tiba-tiba saja aku menggigil ditambah tubuh yang mulai melemas ini memaksu ryeowook untuk menjadi tumpuhanku.
"saatnya kita kembali pangeran"
Aku hanya mengangguk patuh, dan semuanya mulai menggelap.
TBC
Terimakasih yang udah review! Update singkat ya, maaf karena 2 minggu ini lagi UAS jadi kalo gak update cepet ya mungkin updatenya pendek-pendek ._.v pilih aja hehe
