Genre: Drama/Hurt/Comfort
Pairing: Taoris/Kristao/Fantao (main), Huntao, dll
Cast: Huang Zitao
Wu Yifan
Oh Sehun
Others
Rate: T
Summary: Hidup bersama selama 2 tahun tidak cukup untuk Yifan membuat sosok Zitao balas menatap dirinya. Padahal dia hanya ingin Zitao membalas cintanya walau dengan ucapan paling sederhana sekalipun. "Inilah alasanku tidak menyukaimu. Tak bisakah kau mencari pekerjaan lain?"
Warning: OOC, Nista, Boyslove a.k.a Yaoi, alur membingungkan, typo(s) bertebaran, chara tersakiti dll
Silent Love
.
.
Silahkan tinggalkan page ini jika anda tidak berkenan
Dengan para cast dan warning-nya
.
Menerima Segala kritikan dan saran yang bersifat membangun
Tanpa menghancurkan semangat dan imajinasi author
.
Enjoy the story
.
.
.
Zitao mengerjapkan kelopak matanya perlahan saat dirasakannya sebuah beban kecil berada di atas dahinya. Dia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya tapi kemudian mengernyitkan dahi merasakan ngilu dan kaku di sekujur tubuhnya. Dengan susah payah akhirnya Matanya terbuka perlahan dan menyadari saat ini dia berada di atas ranjangnya sendiri. Dia sangat hafal tentu saja. Bagaimana mungkin dia melupakan dekorasi kamar pribadinya?
Dengan masih terbaring lemas di ranjang, tangannya mulai bergerak untuk mengambil sesuatu di dahinya yang dari awal tanpa disadari telah mengganggu pergerakan kepalanya.
Handuk basah?
Matanya menatap bingung. Sejak kapan ada handuk basah di dahinya? Seingat Zitao terakhir kali dia berada di ruang makan apartementnya dan setelah itu...
Cklek
Dia menoleh ke arah pintu kamarnya mendapati Yifan berdiri kaku dengan sebuah nampan di tangannya. Langkahnya perlahan mendekat ke arah Zitao yang masih terbaring lemas. Dengan perlahan Yifan meletakkan nampan tersebut di meja kecil sebelah ranjang.
"Kenapa kau berada di kamarku?" tanya Zitao serak. Dia mendudukkan dirinya di kepala ranjang dengan bantuan Yifan. Matanya masih mengamati gerak-gerik Yifan yang saat ini sedang menempekan punggung tangannya di dahinya.
Zitao mengernyit aneh, apa yang Yifan lakukan sebenarnya? Kenapa dia memperlakukan Zitao seperti orang sakit?
'Tunggu. Apa aku demam? Tubuhku terasa hangat.' batinnya bingung sendiri. Dia menurut saja saat Yifan mulai menyuapi sesendok bubur hangat ke arahnya.
Zitao baru menyadari jika dirinya benar-benar sakit ketika merasakan kepalanya sedikit pusing dan tangannya gemetar. Ditambah rasa bubur yang menjadi hambar di lidahnya. Atau sejak awal memang Yifan sengaja membuatnya hambar?
Zitao tidak tahu.
Sungguh dia ingin muntah sekarang. Tapi Keinginan tersebut dia tahan mati-matian ketika tanpa sengaja matanya menangkap dua plester kecil melekat di salah satu jari tunangannya.
Yifan berkorban untuk membuatkannya bubur. Tidak mungkin Zitao tega memuntahkannya hanya karena rasa bubur yang membuat perutnya mual. Dia tidak sejahat itu.
Benarkah?
"Aku sudah kenyang. Sudahlah... Aku ingin minum obat saja." tolaknya. Zitao merutuki ucapannya sendiri yang tanpa sadar terdengar ketus tersebut. Dan semakin merasa bersalah melihat kilatan luka di kedua bola mata Yifan. Tidakkah dia seperti orang yang tidak tahu terima kasih? Tapi ini tindakan yang lebih baik daripada dia nanti muntah dan terlihat tidak menghargai usaha tunangannya.
Zitao mengangguk tanpa sadar lalu setelahnya melebarkan mata terkejut. Sejak kapan dia begitu peduli dengan perasaan Yifan? Tidak mungkin jika dia mulai memikirkan keadaan Yifan kan?
Ini mulai terdengar konyol.
Lamunannya buyar setelah matanya kembali mengikuti gerakan Yifan yang dengan telaten membereskan semua peralatan makan dan obat yang diminumnya tadi.
Zitao ingin mengatakan sesuatu, tapi takut jika nanti yang keluar dari mulutnya hanyalah kata-kata yang menyakitkan. Sungguh bukannya dia melunak dan mulai menerima kenyataan soal hubungan mereka, hanya saja dia sekarang ingin berusaha bersikap sedikit tahu diri dengan mengurangi keburukannya karena Yifan telah bersedia merawat dan menjaganya. Lagipula Zitao juga masih merasa bersalah dengan perselisihan di antara mereka berdua yang terjadi terakhir kali kemarin.
"Terima kasih." lirinya sambil menggigiti bibir bawahnya pelan.
Yifan yang hendak membuka pintu kamar Zitao langsung membeku. Dia mengeratkan pegangannya pada nampan yang dibawanya kemudian berbalik.
Deg
Zitao merasakan debaran halus di dadanya. Dia lagi-lagi merasakan perasaan asing itu datang merambat tanpa bisa dicegah. Perasaan hangat yang terasa menyenangkan sekaligus menyesakkan disaat bersamaan. Tapi Zitao entah kenapa menyukai perasaan tersebut.
Bagaimana mungkin dia menolak debaran menyenangkan itu saat matanya menangkap Yifan tengah tersenyum lembut nan tulus ke arahnya?
Perasaan hangat itu sungguh Zitao ingin merasakannya lagi.
Lebih dan lebih. Dia ingin lebih dalam untuk menikmatinya. Mencicipinya.
Perasaan itu pula yang dengan bebas membimbingnya hingga tanpa sadar membuat ujung bibirnya ikut melengkung naik.
Untuk yang pertama kalinya kebersamaan mereka berdua selama dua tahun ...
Zitao balas tersenyum manis.
Satu senyuman tulus tanpa halangan.
Dan itu akan menjadi salah satu favorite Yifan sampai kapanpun.
.
.
.
Cklek
"Ahh Chanyeol... Kenapa baru datang?" Chanyeol tersenyum kaku di ambang pintu salah satu ruang rawat inap di rumah sakit. Dia terkejut sekaligus terharu saat sang empu penghuni ruangan ternyata menunggu kehadirannya sejak kunjungan terakhir 2 minggu yang lalu. Dia juga merasa bersalah tentu saja.
"Maaf bibi, aku baru datang menjenguk." dia menutup pintu dan masuk. Kedua tangannya penuh dengan bunga dan keranjang buah.
"Pasti sibuk di kampus ya? Tidak apa-apa, melihatmu saja bibi sudah sangat senang." wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik itu tersenyum keibuan ke arah Chanyeol.
Untuk sesaat Chanyeol tertegun kemudian balas tersenyum lebar. Dia meletakkan keranjang buah di meja lalu menghampiri vas bunga di sudut jendela. Dengan cekatan dia mengganti bunga yang sudah agak layu itu dengan bunga baru yang dibawanya tadi.
"Tidak perlu repot membawakan sesuatu jika berkunjung, nak. Bibi sudah menganggapmu seperti putra bibi sendiri." ucap nyonya Wu tulus. Chanyeol yang mendengarnya tanpa sadar tersenyum kecil.
"Aku tidak keberatan kok, bibi tenang saja. Oh ya... Ngmong-ngomong bunga ini dari siapa? Aku belum pernah melihatnya di sini sebelumnya." tanya Chanyeol penasaran. Benar, selama ini dia sering datang menjenguk tapi jujur saja dia belum pernah melihat jenis bunga yang baru digantikannya barusan.
"Kau menyadarinya ya, Chanyeol? Bunga itu dari seorang pemuda yang datang menjenguk bibi beberapa hari yang lalu." jawabnya diiringi senyum tipis.
"Pemuda? Siapa?"
"Katanya dia kekasihmu. Kenapa kau tidak pernah mengajaknya kemari? Menurut bibi, Dia pemuda yang baik dan manis."
Chanyeol membeku. Baekhyun datang? Sejak kapan dia tahu kalau Chanyeol sering berkunjung ke sini?
"Ahh nee." jawab Chanyeol singkat. Bingung ingin merespon seperti apa.
"Dia pasti sangat mencintaimu ya? Dia terus saja bercerita tentang dirimu, Chanyeol-ah. Kau begitu beruntung menjadi kekasihnya." Nyonya Wu tersenyum geli melihat Chanyeol salah tingkah.
"Tapi tidak seharusnya dia datang ke sini tanpa sepengetahuanku." bisik Chanyeol keberatan. Seharusnya Baekhyun mengerti batas privasinya kan? Dia tidak suka jika ada seseorang ikut campur dalam kehidupan pribadinya. Apalagi orang itu tidak pernah meminta ijin sekalipun. Chanyeol merasa dia tidak dihargai sama sekali.
Cklek
"Selamat siang~" suara yang terdengar riang itu mengintrupsi mereka berdua.
"Baekhyun..." desis Chanyeol dengan tatapan tidak suka. Kenapa kekasihnya itu datang lagi? Dia tidak sedang merencanakan sesuatu kan? Chanyeol curiga sungguh.
"Chan-chanyeol..." balasnya terkejut. Dia tidak menduga Chanyeol berada di sini sekarang. Setahu Baekhyun jam segini biasanya dia berada di Galery tempatnya kerja sampingan.
Baekhyun ketakutan. Dia takut Chanyeol marah karena tanpa ijin melanggar privasinya. Bagaimana kalau Chanyeol kecewa lalu meninggalkannya akibat perbuatan nekatnya ini? Dia tidak mau.
"Pergi." desis Chanyeol. Nyonya Wu dan Baekhyun melebarkan mata terkejut. Apalagi dengan Baekhyun yang saat ini berekspresi terluka karena penolakan Chanyeol. Matanya tanpa sadar berembun dengan tangan menggenggam erat bunga yang sejak tadi dibawanya.
Baekhyun sakit hati.
"Apa kau tuli Byun Baekhyun?" lanjutnya emosi.
"Aku membencimu, Park Chanyeol!" teriak Baekhyun. Dia menjatuhkan bunga di ambang pintu dan setelahnya berlari menjauh. Tanpa repot-repot menyadari dia tengah berada di rumah sakit saat ini.
"Apa yang kau lakukan Chanyeol-ah. Cepat kejar kekasihmu." ujar Nyonya Wu yang terlihat khawatir. Dia tidak tahu kenapa Chanyeol bisa lepas kendali kepada kekasihnya sendiri.
"Tidak perlu, bibi." jawabnya hampir terdengar datar.
"Chanyeol... "
Pemuda tinggi tersebut mengusap wajahnya pelan kemudian menghela nafas lelah. Tidak sanggup menolak permohonan wanita yang sudah dianggapnya ibu kandung.
.
.
.
"Sehun-hyung... " lirihnya pelan. Dengan wajah menahan tangis dia berlari sepanjang parkiran rumah sakit ke arah sebuah mobil hitam mewah.
Seorang Pria tampan minim ekspresi keluar dari dalam mobil tersebut dan langsung di terjang oleh Baekhyun.
"BAEKHYUN!" teriak Chanyeol dari kejauhan. Dia berlari mendekat dan berdiri diam terengah-engah di depan mereka berdua.
Matanya memicing tajam melihat sosok yang sedang dipeluk kekasihnya. Untuk apa orang ini ada di sini? Jangan bilang pemikiran sebelumnya yang sempat terlintas tadi benar adanya. Dia tahu dengan pasti mengingat mereka berdua ini adalah saudara sepupu. Walau dia baru mengetahui fakta tersebut belum lama ini. Dan tentu saja dia tahu dengan jelas bahwa Pria di depannya ini bukanlah orang yang bisa dianggap baik.
"Ohh... Jangan bilang kau tahu aku sering datang ke rumah sakit karena informasi dari orang ini?" tanya Chanyeol sinis. Bermaksud untuk menegaskan kecurigaannya.
Sehun hanya mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti. Kenapa sepertinya dia seolah berperan sebagai orang jahat disini?
"Apa maksudmu?" tanya Sehun balik. Wajahnya tetap datar.
"Jangan bertingkah sok lugu dihadapanku Tuan Oh. Kau pasti memberitahu Baekhyun-kan? Apa yang kau rencanakan?"
Otak Sehun bekerja cepat dan menghubungkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat ini. Sebuah seringai terukir saat dia mengerti apa yang dimaksud oleh pemuda di depannya tersebut.
"Melihat kau yang saat ini berdiri angkuh di depanku. Well coba kutebak... Apa Baekhyun bermaksud menjenguk nyonya Wu di rumah sakit ini?" Sehun tersenyum miring.
Chanyeol tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya.
"Aku benar ya? Tapi ah... sayang sekali aku tidak tahu mengenai hal ini." lanjutnya dengan nada lugu. Membuat Chanyeol menahan sekuat tenaga untuk tidak melempar tinju ke arahnya.
"Kau pikir aku percaya? Aku tahu selicik apa dirimu tuan Oh yang terhormat." ujarnya sarkastik di akhir kalimat.
Baekhyun melepaskan pelukan dari kakaknya kemudian menghadap sang kekasih dengan ekspresi tidak percaya. Apa yang mereka berdua ini bicarakan sebenarnya?
"Chanyeol... " cicitnya pelan.
"Bisakah kau diam?!" sentak Chanyeol. Sehun menggeram pelan, tidak suka adiknya dibentak seperti itu.
"Terlalu sering bergaul dengan orang cacat membuatmu banyak kehilangan moral, hm?"
"Lebih baik dari orang brengsek sepertimu."
Buagh!
"Jaga mulutmu Park Chanyeol." balas Sehun dingin. Secepat kilat dia mengarahkan tinjunya ke wajah Chanyeol.
Dia terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk.
"Dan kau memilih berlindung di balik punggung kakakmu ini, Baekhyun-ah? Menyedihkan sekali."
Buagh!
"Sehun-hyung sudah cukup! Jangan memukul Chanyeol lagi! " teriak Baekhyun gemetar lalu menarik Sehun menjauh dari Chanyeol.
"Orang yatim piatu seperti kekasihmu ini pantas mendapatkan pelajaran, Baekhyun. Tidak tahu diri."
Chanyeol menunduk dan mengepalkan tangannya erat. Perasaan nyeri langsung menghantam dadanya. Perih.
Buagh! buagh!
"SEHUN-HYUNG!"
Secara tiba-tiba dua pukulan beruntun menghamtam wajah Sehun tanpa ampun. Membuat pria Oh itu jatuh tersungkur tidak jauh dari Chanyeol.
"Dasar Wu brengsek!" desisnya tajam.
Yifan yang baru saja datang bersikap acuh dan membantu Chanyeol untuk berdiri. Matanya menatap khawatir ke arah luka yang didapat sang adik.
"Sama-sama lemah dan pengecut." lanjutnya dingin. Dia berdiri dibantu oleh Baekhyun. Sudut bibirnya robek dengan sedikit darah. Tapi hal itu tidak membuatnya meringis ataupun mengernyitkan dahi karena sakit. Justru dia berusaha tetap berdiri kokoh dengan tatapan dingin mengarah ke arah Yifan. Tatapan yang begitu tajam dan menusuk.
"Suatu saat nanti kupastikan kau akan bersujud di kakiku."
Sehun dan Baekhyun lalu bergerak meninggalkan mereka berdua dalan keheningan. Setelah sebelumnya Baekhyun menatap Chanyeol dengan ekspresi terluka dan rasa bersalah.
.
.
.
Terbatas untuk waktu yang bergerak
Tapi aku hanya mengharapkanmu kesempatan
Dengan tubuh sedikit gemetar Zitao menyeret langkah kakinya keluar dari kamar pribadinya. Tenggorokannya sedikit sakit dan dia berniat untuk ke dapur mengambil segelas air putih. Panas di tubuhnya sudah sedikit menurun walau pusing masih saja bersarang di kepalanya. Berkat Yifan yang seharian ini menjaga dan merawatnya.
Dia sempat menoleh ke jendela dapur dan mendapati waktu sudah beranjak sore dengan semburat orange menghiasi cakrawala. Apartement mereka berdua memang berada di tempat yang stategis bahkan cukup untuk menyajikan hamparan bangunan-bangunan megah di pusat kota. Saat malam-pun jika pemandangan langit begitu tenang dan indah maka akan terlihat mengagumkan bila dinikmati dari atas balkon apartement mereka.
"Dia tidak pulang lagi?" tanyanya pada sendiri. Zitao menggenggam erat gelas minum yang ada di tangannya lalu beranjak meninggalkan dapur. Langkahnya mulai menyusuri setiap sudut tempat tinggalnya tapi tidak menemukan tanda-tanda kehidupan lain selain dirinya.
Kedua kaki jenjang miliknya tanpa disadari berhenti di sebuah pintu yang tidak jauh dari pintu kamar miliknya.
Kamar Yifan
Zitao menggigit pelan bibir bawahnya sendiri karena gugup. Sebenarnya dia tidak sadar telah berdiri di depan ruangan pribadi Yifan. Kakinya tanpa perintah otaknya mendekat ke arah sini, sungguh.
Suara hati menuntunmu
Zitao memegang kenop pintu kemudian membukanya perlahan. Bias cahaya matahari sore masuk di sela-sela gorden jendela yang tertutup. Setelah lama berdiri di ambang pintu yang terbuka, matanya akhirnya bergerak menjelajah ke seluruh penjuru ruangan.
Siluet warna meruntuhkan ego
Dia sadar sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di apartement ini sekalipun Zitao tidak pernah niat untuk mengusik ruang pribadi Yifan. Berfikiran untuk sekedar penasaran-pun tidak pernah terlintas di otaknya. Tapi sekarang berbeda.
Entah mendapat dorongan dari mana Zitao begitu ingin 'mengintip' sedikit saja teritorial tunangannya tersebut.
Dan dia sungguh tidak merasa menyesal.
Sepanjang matanya bergulir meneliti ke seluruh sudut ruangan dia tidak henti-hentinya berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya.
"Ini indah sekali." bisiknya pelan. Langkah kakinya perlahan masuk dan menyusuri berbagai lukisan yang terpajang.
Zitao belum pernah benar-benar memperhatikan secara detail lukisan yang dibuat Yifan. Baru kali ini dia melakukannya.
Dan Zitao menyesal karena baru menyadari hal ini setelah sekian lama. Karena dulu yang dia lakukan hanya melirik sekilas ataupun mengabaikannya.
Sejak kapan lukisan Yifan menjadi begitu mengagumkan di matanya?
"Dia sangat berbakat." lirihnya lagi. Tangannya bergerak untuk mengusap pelan sebuah lukisan yang bersender di dinding terletak di atas meja. Sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya ketika matanya kembali memandangi lukisan-lukisan yang lain.
Ting tong
Zitao melebarkan matanya kaget dan buru-buru meninggalkan kamar Yifan. Dia takut tertangkap basah oleh sang empunya kamar tentu saja.
Apa yang akan dia katakan jika ketahuan nanti?
Cklek
"Hai, baby..." matanya membola terkejut mendapati Sehun berdiri angkuh di depannya.
Zitao merasakan sensasi dingin mulai menjalari punggungnya ketika melihat kekasihnya sendiri tersenyum miring ke arahnya.
.
.
.
Pilihan kesempatan hanya berlaku untukmu
Bertahanlah sedikit lagi
.
.
.
.
T.B.C
For you my little sunshine. You are the best thing ever in my life. I love you just the way you are. keep smiling and cheerful no matter what happens later. I love you not because you are exo. I love you not because you are famous artist. I LOVE YOU because you are Huang Zitao. Just Huang Zitao. Aishiteru yoo my Koi~ :) Saranghae~ :* Wo ai ni~ :*
Note : Oke! Saya lebay sangat dengan kalimat di atas. Yah... Biarkan saya bersikap ababil sekali ini karena little panda yang lagi berulang tahun~ oke! Ini memang telat. Saya tahu... :(
Otanjoubi omedetou nee ... Happy birthday~ get well soon ok... Hailangs love you always!
Sudah segitu aja melankolisnya... Ntar kalian terharu lagi :') hahaha back to fic... Bagaimana dengan chap ini? Sudah kuusahakan panjang lho ya :3 demi kalian #eeaaa
Kritik dan saran diperlukan author
See u next time guyz~
Review?
