oO-タマサ-Oo

••

Disclaimer: Around Us Ent., and more. But story and plot are mine.

Rated: M

Genre: Drama, Hurt

Main Pairing: JunSeob

Slight Pairing: JunSeung, DooKwang, and others.

Warning: YAOI, Boyslove, AU, OOC, typo.

Don't like don't read!

••

oO-タマサ-Oo

••

Chapter 03

This chapter has adult contain!

Yang puasa atau di bawah umur, tidak disarankan untuk melanjutkan membaca chapter ini!

••

Yoseob memakai kemejanya dengan gerakan perlahan. Ia mengacuhkan dua kancing teratas, mengekspose dada bidangnya yang pucat. Jika luput, maka orang tak akan menyadari bekas kemerah-merahan di beberapa titik di dadanya. Yoseob membalikkan badannya, menatap tepat pada cermin yang menampilkan bayangannya dan tempat tidur yang berantakan. Sorot matanya datar, ekspresi wajahnya sangat pasif, tak menyiratkan makna apapun. Dari cermin yang sama, ia melihat seseorang yang sudah terlelap tanpa mengenakan busana apapun di atas ranjang.

Yoseob menghela nafas panjang, kemudian meraih hoodie abu-abu dan ponselnya yang tergeletak di atas meja rias. Ia menatap sosok yang tertidur di atas ranjang itu sekali lagi, dan akhirnya beranjak pergi dari ruangan itu. Tanpa berpamitan.

••

oO-タマサ-Oo

••

"Astaga! Bau apa ini?!"

Yoseob mengacuhkan pertanyaan Gikwang dan memilih tetap masuk ke dalam apartemen Gikwang. Ia menyeret langkahnya, dan berhenti di dapur, tepatnya di depan lemari pendingin. Pria mungil itu membuka pintu bawah, mengambil satu botol air mineral dan segera meneguknya hingga habis tak tersisa.

"Kau mabuk?" tanya Gikwang lagi. Ia mengambil hoodie Yoseob dan meletakkannya di sandaran kursi makan.

"Aku minum. Tapi tidak sampai mabuk."

"Dengan siapa?"

Yoseob menutup pintu lemari pendingin dan menyandarkan punggungnya di sana, "dengan siapa menurutmu?"

"Siapa...?" Gikwang terlihat berpikir, dan menatap Yoseob ragu-ragu, "jangan bilang... Yong..."

"Ya," Yoseob mengangguk, "tentu saja."

"Lalu mengapa penampilanmu seberantakan ini?" Gikwang mendekati Yoseob dan meneliti penampilannya. Ia menghentikan pandangannya tepat di depan dada Yoseob yang terlihat memar di beberapa titik, "apa ini kissmark? Bau ini juga... Tunggu! Yoseobie, apa kau baru saja tidur dengannya?" Yoseob mendorong pipi Gikwang menjauh dengan perlahan, menolak memberi jawaban. Sebagai gantinya, ia menaruh botol kosongnya ke atas meja, dan berbalik menuju kamar mandi yang ada di sebelah dapur.

"Siapkan baju untukku," perintah Yoseob tanpa menoleh ke belakang. Gikwang membuka mulutnya karena tak menyangka dengan perlakuan semena-mena Yoseob. Namun baru saja ia akan menyusul masuk ke dalam kamar mandi, Yoseob sudah menutup pintu kamar mandi dengan cepat.

"Nanti saja!"

••

oO-タマサ-Oo

••

Seharusnya malam ini hanya dihabiskan dengan minum-minum, setidaknya begitulah rencana Yoseob di awal. Yoseob ingin bertanya banyak hal pada Junhyung, dan menurutnya Junhyung hanya akan memberi jawaban jujur jika ia sedang mabuk. Sayangnya, kesempatan itu tak datang semudah yang Yoseob perkirakan. Entah apa yang terjadi, tapi malam ini Junhyung sedikit lebih pendiam dibanding pertemuan pertama mereka sebelumnya. Sehingga alih-alih bertanya mengenai kehidupan Junhyung, Yoseob justru lebih banyak mengajaknya membicarakan topik-topik tak penting. Yoseob bahkan juga menceritakan sedikit kehidupan pribadinya sebelum pindah ke Seoul, tentu saja dengan mengubah di beberapa bagian cerita. Sedikit beresiko, tapi itu penting menurutnya. Ia harus bisa meyakinkan Junhyung, kalau ia sendiri mulai mau mendekatkan diri pada Junhyung.

Sejak awal kedatangan Junhyung, sebenarnya Yoseob sudah menyadari apa arti pandangan Junhyung padanya. Pandangan yang jauh lebih menjijikkan jika dijabarkan. Caranya memperhatikan bagian bawah tubuh Yoseob –karena posisi duduk mereka yang bersebelahan– dan memijat pinggang Yoseob, Yoseob bisa memastikan yang ada di pikiran Junhyung saat itu adalah keinginannya untuk cepat-cepat meniduri Yoseob. Mungkin ada sebersit sorot kagum di matanya, tapi itu tak meluluhkan hati Yoseob sama sekali.

"Lalu rayuan macam apa yang ia keluarkan hingga bisa mengajakmu check in ke hotel? Sungguh... seorang Yang Yoseob?"

Yoseob menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia merapatkan tubuhnya hingga lengannya bersentuhan dengan lengan Gikwang yang hanya memakai singlet putih polos. Butuh beberapa menit untuk Yoseob bisa melanjutkan ceritanya lagi.

Yoseob mengiyakan langsung, tak berbelit-belit sama sekali, saat Junhyung menghentikan acara minum-minum mereka dan mengajaknya menginap di hotel yang tak jauh dari cafe itu. Ia memasang wajah polos saat Junhyung memberi alasan tak berani menyetir mobil sendiri dalam keadaan mabuk, meski awalnya ia memaksa ingin mengantar Yoseob pulang ke apartemennya. Alasan bodoh. Karena nyatanya, ia sama sekali tak kesulitan saat menyetir mobil dari bar menuju hotel, bahkan untuk check in dan menggiring Yoseob masuk ke dalam kamar yang ia pesan.

Tidak ada obrolan apapun. Junhyung langsung duduk di tempat tidur, sementara Yoseob yang sangat sadar kalau Junhyung sedang menunggu respon darinya, bukannya langsung menanggapi Junhyung, ia justru berjalan menuju jendela kamar sambil melepas hoodie-nya. Ia tak mempedulikan kemeja tipisnya yang tersingkap, menampilkan pinggang rampingnya yang mulus dan kering karena posisinya yang memunggungi Junhyung.

"Kau tidak masalah kalau menginap di tempat ini bersamaku kan?" dari bayangan di kaca, Yoseob melihat Junhyung berjalan mendekatinya dan berdiri di sampingnya. Bahu kirinya menempel di punggung Yoseob, terasa hangat. Yoseob menoleh ke samping, dan hidungnya nyaris bersentuhan dengan ujung hidung Junhyung karena jarak mereka berdua yang terlalu dekat.

"Tidak," jawab Yoseob singkat. Matanya menatap balik kedua mata Junhyung, mengacuhkan rona merah yang perlahan muncul di wajah tampan Junhyung. Yoseob menarik nafas tertahan, berpikir apakah dia harus mengambil inisiatif terlebih dulu, tapi jelas itu akan mempengaruhi image yang ia bangun sejak awal. Lagipula ia tidak tahu apakah Junhyung mulai jatuh cinta padanya atau belum.

Saat Junhyung mulai mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir basah Yoseob, respon tercepatnya adalah menegangkan tubuh. Ia bukannya tidak pernah berciuman sama sekali, tapi ini adalah pertama kalinya ia berciuman dengan sesama lelaki. Rasanya sangat berbeda. Tidak selembut bibir wanita, cenderung sedikit kasar dan kering. Yoseob merapatkan bibirnya, menolak memberi akses lebih pada Junhyung. Yang membuatnya terkejut adalah saat ia merasakan tangan dingin Junhyung bergerak perlahan menelusuri tulang punggungnya dari balik kemejanya. Yoseob mengerang, tak kuat menahan geli yang menyerang sekujur tubuhnya. Tanpa disadarinya, mulutnya yang kini terbuka tak disia-siakan begitu saja oleh Junhyung untuk meraup lebih dalam bibir bengkak Yoseob. Pria yang lebih pendek itu bergetar, merasakan bagaimana lidah basah Junhyung berputar di dalam mulutnya, mengabsen giginya, dan mengajak bermain lidahnya.

Yoseob mengangkat kedua tangannya, memegang pinggul Junhyung. Tak pernah sekalipun ia berciuman seliar ini. Tidak meski dengan kekasihnya sekalipun. Wanita cenderung pasif, itu yang membuat Yoseob selalu aktif saat berciuman dengan kekasihnya. Biasanya. Kali ini berbeda. Junhyung benar-benar tahu cara memanjakan lidah pasangannya. Apakah ini alasan Hyunseung bertekuk lutut padanya dulu? Karena Junhyung ahli dalam berciuman? Hanya karena itu?

Ah!

Mendadak Yoseob mendorong tubuh Junhyung ke belakang dengan keras. Yoseob memperhatikan Junhyung dengan gugup. Apa yang baru saja terjadi? Secepat inikah ia dan Junhyung berciuman? Seberani itu Junhyung menciumnya langsung? Apakah Junhyung pikir Yoseob semudah itu? Dan apakah barusan ia menikmati ciuman menjijikkan ini?

"Maafkan aku Yong Junhyung-ssi," Yoseob memasang wajah gugup, memperlihatkan kalau ia merasa tak nyaman dengan ciuman barusan, "aku tidak bisa melakukan ini."

"Mengapa?"

"Aku yakin kau sudah memiliki kekasih di luar sana."

"Aku tidak punya," elak Junhyung cepat. Yoseob nyaris tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa dia menyangkal secepat ini? Lalu bagaimana dengan kekasih wanitanya yang kemarin ia jemput di universitas –Yoseob tak sengaja melihatnya, bukan sengaja memata-matainya– ? Wanita yang sama, yang membuatnya mengkhianati Hyunseung-hyung? "Memang ada seorang wanita yang terobsesi padaku saat ini, tapi dia bukan kekasihku."

"Tapi...," Yoseob menggantung kalimatnya, sengaja mengulur waktu. Junhyung yang sepertinya sudah kesulitan menahan nafsunya –dilihat dari caranya menatap pangkal leher Yoseob, mendekati Yoseob dan mencengkeram bahunya.

"Apa kau memiliki kekasih?"

"Ya...," bisik Yoseob. Junhyung langsung tertegun, menatap Yoseob dengan tatapan kosong. Seolah kesulitan menerima fakta barusan. "Kekasihku akan mengamuk kalau tahu aku menginap di sini bersama pria lain," imbuh Yoseob, membuat wajah Junhyung makin memucat.

"Kau bohong," Yoseob meringis menahan sakit saat Junhyung meremas bahunya dengan kuat, "aku yakin kau menyukaiku. Aku tahu itu."

"Yah! Sakit!"

"Katakan sejujurnya, Yoseob-ah. Perasaan kita sama... Katakan kalau kau juga menyukaiku!" bisik Junhyung tanpa melepas tangannya dari bahu Yoseob. Yoseob menggeliat, berusaha menjauh dari Junhyung dengan melangkah mundur. Namun bukannya merasa simpati dan melepaskan tangannya, Junhyung justru ikut berjalan maju mendorong Yoseob.

"Aku–," Yoseob berhenti melangkah saat punggungnya bersentuhan langsung dengan jendela kaca, "aku tidak bisa mengakhiri hubunganku dengannya."

"Kau tidak perlu mengakhirinya. Kita bisa menjalani hubungan ini diam-diam."

"Diam-diam? Tidak!" Yoseob masih memainkan peran yang sama, mempermainkan perasaan Yong Junhyung selangkah demi selangkah, "dia akan tetap menyadari ini". Di sela perkataannya, Yoseob memikirkan siapa pria yang akan ia mintai tolong untuk berpura-pura menjadi kekasihnya.

"Mengapa? Tidak masalah kan kalau dia tahu, kau hanya perlu memutuskannya agar kita bisa bersama...," mendengar perkataan Junhyung sedikit banyak membuat Yoseob geram. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran pria yang ada di hadapannya ini. Semudah itukah ia menyuruh orang lain mencampakkan kekasihnya? Memangnya Junhyung bisa menjamin kalau dirinya jauh lebih baik daripada kekasih Yoseob? Diam-diam Yoseob menggenggam tangannya sendiri, pria di hadapannya ini benar-benar brengsek. Lalu bagaimana bisa Hyunseung mencintai pria berkarakter buruk begini?

"Yoseob-ah...," Junhyung mengangkat kedua tangannya dan memegang kedua sisi wajah Yoseob, "percayalah padaku. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada kita berdua. Aku akan menjagamu,". Perlahan ia menempelkan keningnya pada kening Yoseob, dan menatap dalam kedua mata jernih Yoseob. Yoseob tak bergeming, tak menunjukkan reaksi lagi karena masih menunggu kalimat apa lagi yang akan keluar dari mulut Junhyung.

"Aku tahu kau masih ragu denganku. Tapi sungguh, aku benar-benar jatuh cinta padamu sejak pertama bertemu. Abaikan saja orang lain. Pedulikan saja perasaanku dan perasaanmu. Kita berhak bahagia dengan jalan kita sendiri," dan dengan berakhirnya kalimat barusan, Junhyung kembali meraup kedua bibir Yoseob dan melumatnya. Kedua matanya terpejam, menghisap dan menikmati belah bibir kenyal kekasih barunya. Berbanding terbalik dengan kedua mata Yoseob yang menatap dingin padanya sepanjang kegiatan 'panas' mereka saat itu.

••

oO-タマサ-Oo

••

"Kau gila."

Yoseob tersenyum kecil mendengar komentar Gikwang. Ia beringsut ke bawah, kali ini ingin berbaring karena tubuhnya sudah lelah. Saat dilihat Gikwang tak mengikutinya, Yoseob menarik paksa selimut yang terus digenggam Gikwang, menampilkan tubuh kekar Gikwang yang hanya dibalut kaus singlet.

"Aku memang gila dari dulu."

"Yah! Apa kau benar-benar tidur dengannya? Dia mantan kekasih Hyunseung-hyung!" Gikwang akhirnya menyusul berbaring di sebelah Yoseob.

"Aku melakukan ini untuk Hyunseung-hyung."

"Demi Tuhan, Yoseob-ah, kau membiarkan pria itu menyentuhmu! Kau bahkan tak mengijinkan pria sebaik diriku untuk sekedar mencium pipimu! Aku! Sahabatmu!" Yoseob tertawa geli mendengar reaksi berlebihan Gikwang. Ia tak pernah merasa kecewa memiliki Gikwang sebagai sahabat terdekatnya. Gikwang adalah satu-satunya orang yang bisa menghiburnya di saat ia merasa hancur seperti ini.

Ya, bohong jika Yoseob tak merasa hancur setelah apa yang baru saja ia alami bersama Junhyung. Perlukah ia melakukan hal bodoh sampai sejauh ini? Pertanyaan itu terus bergaung di otaknya. Seharusnya ia tak perlu bertindak sejauh ini. Seharusnya ia menuruti perkataan ibunya. Karena, dilihat dari manapun, hanya Junhyung yang diuntungkan dari kejadian di hotel tadi.

"Yoseob-ah...," panggil Gikwang lirih. Yoseob menoleh cepat ke arahnya, "apa tadi... Yong Junhyung... memasukimu?" Yoseob tersenyum kecil melihat wajah Gikwang yang memerah. Mungkin Gikwang sama sekali tak menyadari betapa menggemaskannya ia saat ini.

"Tidak," Yoseob meraih salah satu tangan Gikwang dan menggenggam telapak tangannya erat, "aku tidak akan mengijinkannya. Kami hanya... yaahh begitulah...," Yoseob enggan menjelaskan bagian itu karena tiap kali ia mengingatnya, mendadak ia merasa mual dan jijik pada dirinya sendiri. Ia bahkan tak bisa mengusir bayangan Junhyung yang berlutut di bawahnya.

"Baiklah," Gikwang mengulurkan sebelah tangannya yang kosong dan merangkul Yoseob untuk lebih dekat lagi dengannya, "istirahatlah. Maaf sudah mencercamu dengan begitu banyak pertanyaan". Yoseob mengangguk, beringsut menyamankan dirinya dalam pelukan sahabatnya.

"Tapi ingat ini baik-baik Seobbie, aku akan menghentikanmu, meskipun secara paksa, jika rencana ini mulai membuatmu tenggelam."

••

oO-タマサ-Oo

••

"Demi Tuhan, Han Yoseob! Bisakah kau mematikan ponselmu? Rasanya aku muak mendengar nada getar itu dari tadi!"

Yoseob segera mengambil ponselnya di atas meja dan mematikannya tanpa melihat siapa orang yang menghubunginya ataupun menerima panggilan itu. Setelahnya, ia bangkit berdiri dan membungkuk memohon maaf kepada rekan-rekan kerjanya karena telah mengganggu pekerjaan mereka. Ia sengaja membungkuk beberapa kali saat menghadap Editor Park. Pria berkacamata itu hanya mengangguk sambil menatap sinis Yoseob, membuat Yoseob semakin kecil hati.

"Sudah, duduklah!" Shin Goeun, asisten Editor Park menepuk lengan Yoseob pelan. Yoseob tak menjawab, hanya mengangguk dan duduk kembali ke kursinya, "Editor Park sedang sensitif". Yoseob memperhatikan Editor Park yang menatap layar laptopnya dengan wajah ditekuk.

"Sensitif?" beo Yoseob. Pria itu selalu sensitif, kalau menurut penilaian Yoseob. Apalagi terhadap Yoseob sendiri. Entah bagaimana caranya ia selalu bisa menemukan alasan untuk berkata sinis pada Yoseob. Padahal Yoseob sudah sangat berhati-hati dalam melakukan pekerjaannya.

"Tadi pagi ibunya membuat keributan di depan kantor. Kau belum dengar?" Goeun berbisik lagi, yang sebenarnya suaranya cukup keras untuk disebut berbisik. Yoseob menggeleng, sambil kembali menghadap laptopnya. Goeun layaknya wanita pada umumnya, sangat suka bergosip. Jika Yoseob menanggapinya terlalu serius, Editor Park bisa memarahinya lagi. Jadi lebih baik ia tetap fokus pada pekerjaannya.

"Aku belum dengar apa-apa. Aku hampir terlambat datang tadi," jawab Yoseob sambil mulai melanjutkan mengedit gambar.

"Ibunya menghentikan hampir semua pegawai wanita, bertanya yang mana yang merupakan kekasih anaknya–"

"Tunggu!" potong Yoseob langsung, "apa?"

"Editor Park tidak ingin menikah, semua pegawai di sini tahu itu, tapi ibunya memaksanya segera menikah. Wanita itu bahkan berpikir anaknya berpacaran dengan salah satu pegawai wanita di sini dan entah karena suatu alasan wanita itu tidak ingin menikah dengan anaknya." Yoseob sampai menganga karena tak percaya dengan yang baru saja ia dengar. Drama apa yang baru saja ia dengar? Editor Park yang seperti itu? Yoseob mengintip diam-diam Editor Park dari tempatnya duduk. Pria berkacamata itu masih cemberut seperti sebelumnya, dengan tangan kiri menyangga dagu sementara tangan kanannya memainkan mouse. Sedikit aneh melihatnya seperti itu. Dia bersikap galau layaknya remaja putus cinta, tapi dengan fisik pria berumur hampir 40 tahun.

"Sungguh?"

"Dia sendiri yang memanggil petugas keamanan untuk membawanya pergi. Memang tidak sopan, tapi jika aku berada di posisinya aku pasti akan melakukan hal yang sama."

"Ada atau tidak kejadian begitu, Editor Park akan selalu bersikap sinis padaku," ucap Yoseob lirih. Ia tidak bodoh untuk menyadari kalau Editor Park tidak menyukai dirinya sejak awal. Saat hari pertama kerja, banyak pegawai senior yang memuji ketampanan dan sikap sopannya. Ia juga cukup terampil di hari pertama ia bekerja. Mungkin itu alasan dia bersikap sinis pada Yoseob.

"Haha... bersabarlah, Yoseob-ssi. Lama-lama dia pasti akan menerimamu. Hanya tetap bersikap baiklah padanya," hibur Goeun sambil menepuk pundaknya pelan, yang dibalas dengan senyum sekilas oleh Yoseob, "ngomong-ngomong, siapa yang sedari tadi menghubungimu? Mengapa kau tak mau menerimanya?". Pertanyaan Goeun langsung menghentikan kegiatan Yoseob. Selama beberapa detik ia terdiam memperhatikan layar laptopnya. Ekspresinya datar, meski Yoseob akui sebenarnya ia sedikit kebingungan mengarang jawabannya. Ia tidak ingin memberikan jawaban yang semakin mengundang pertanyaan-pertanyaan lain.

"Bukan siapa-siapa. Nomor asing," Yoseob mengangkat bahunya, "mungkin temanku iseng".

Karena ia tak mungkin memberitahu Goeun kalau yang menghubunginya dari tadi adalah Yong Junhyung, pria brengsek yang mencumbunya tadi malam.

••

To be continued...

••

oO-タマサ-Oo

••

2427 words, done!

Halo! Apa kabar?

Butuh waktu buat saya ngumpulin mood buat nulis ini lagi. Wamilnya Yoseob, kasus Junhyung, dan hengkangnya dia dari Highlight bikin saya kehilangan mood untuk nulis apapun. Dan jujur aja, hengkangnya Junhyung yang paling nggak bisa saya terima. Dan karena bias saya tu JunSeob, ngeliat mereka pisah kek sekarang jelas bikin hati saya hancur. Saya udah jadi fans mereka sejak 2012, dan ngikutin mereka sampe sejauh ini. Rasanya kek ada yang bolong di hati saya

Kalau ditanya soal kasus yg nglibatin Junhyung itu, well, gini ya. Saya nggak peduli orang mau ngomong apa tentang Junhyung, saya yakin Junhyung nggak seburuk yang orang-orang omongin. Kalau iya seburuk itu, jelas dia bakal nyebarin video yg dikasih Joonyoung itu ke semua teman-temannya. Lalu kenapa Junhyung nggak ngelaporin Joonyoung ke polisi sejak awal? Kalau saya di posisi Junhyung, dengan karir sebesar itu, saya juga akan melakukan hal yg sama. Saya jelas bakalan cari aman dan nggak mau terlibat lebih jauh, dgn hapus video itu. Kalaupun saya laporin polisi, orang-orang pasti akan ngegunjingin saya juga, dan netizen yang maha benar akan nyumpahin saya karena nggak menghargai para wanita. Dulu ataupun sekarang, tetep aja Junhyung bakal dicemooh. Sadar nggak sih, kalau netizen udah memberi penilaian yg nggak adil buat Junhyung?

Tapi terlepas itu semua, pendapat orang beda-beda. Begitu juga dengan budaya di sini dan di sana.

Soal Junhyung yg keluar, saya kecewa banget dan nge-blank. Gimana nasib Highlight setelah ini? Yang paling penting, gimana nasib persahabatan mereka setelah ini? Well, Junhyung hengkang mungkin demi member Highlight juga, biar mereka nggak kena imbas bullying dan nggak kehilangan fans. Tapi kaann...

Argh, pusing ah kalau ngomongin itu.

Ngomong-ngomong, saya harus minta maaf karena saya terpaksa harus ganti rating untuk story ini. Apalagi di tengah bulan puasa kek gini. Hhaa...

Shoutout untuk Ineedtohateyou untuk review yang ditinggalin di chapter sebelumnya...

Mind to review again?

See you next chapter!

Ciao!