Standard disclaimer applied ... beep beep beep ... Naruto by ... Kishimoto Kakashi ... I mean Masashi ...

I warn you ... about OOCness ...


Tanda Tangan Artis

Tok tok tok!

Seorang mahasiswi dengan rambut merah jambu sebahu mengetok pintu ruang dosen pada sore hari itu. Dia adalah Haruno Sakura, mahasiswi idaman para dosen – bahkan sering dikenalkan pada anak laki-laki dosen-dosen di jurusannya, tentu saja untuk dijadikan menantu – juga incaran mahasiswa di sekitarnya untuk diajak kencan. Baru semester dua, tetapi sudah menduduki posisi sebagai anak emas yang diramalkan akan menjadi lulusan terbaik beberapa tahun lagi.

"Silakan masuk."

Suara dari balik pintu tersebut menjawab. Nama pemilik suara itu adalah Hatake Kakashi. Baru berumur tiga puluh tahun, tetapi sudah menjadi dosen teladan sekaligus ketua jurusan. Tidak pernah berpikir panjang untuk menolak semua tawaran kerja dengan gaji menggiurkan. Baginya, mengajar mahasiswa-yang-kelak-akan-melampauinya terdengar lebih keren daripada menjadi ilmuwan nomor satu di dunia. Ditambah dengan ketampanan dan kegagahannya, tidak ada wanita yang selamat dari pesonanya.

Sayangnya, si dosen yang satu ini lebih terkenal karena disiplin, kepelitan nilai dan kegalakannya. Hal itu sebenarnya cuma sandiwara Kakashi semata, mengingat di tahun pertamanya mengajar ia malah sering diteror oleh mahasiswinya yang mendambakan dirinya sebagai calon suami mereka. Maka, ditahun keduanya mengajar, Kakashi seperti kerasukan arwah Uchiha Madara, kakek Obito dan Sasuke yang menjadi dosen tetua legendaris, momok para mahasiswanya dan telah meninggal sekitar beberapa bulan sebelum Kakashi mulai mengajar.

Karena itulah Sakura – mahasiswi jempolan andalan panitia Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah Antar Program Studi tahun ini – ditugaskan untuk meminta tanda tangan proposal kegiatan tersebut pada Kakashi, ketua jurusan yang pastinya pelit tanda tangan. Selain karena status Sakura sebagai mahasiswi teladan, sang ketua panitia ternyata telah mengetahui tentang hubungan gelapnya dengan Kakashi sebagai kakak-adik/sahabat-yang-terlewat-dekat yang sengaja mereka rahasiakan. Dengan dalih tersebutlah Sakura menjadi tumbal demi keberlangsungan acara mereka. Kalau ada jalan yang mudah, mengapa mencari jalan yang sulit?

"Kakashi-sensei." Sakura memasuki ruang dosen yang hanya dihuni Kakashi seorang.

"Yo, Sakura." Sang dosen memberikan salam dua jari yang sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu. "Ada apa?"

"Aku mau minta tolong."

"Mau minta kuliah tambahan, eh?" Kata Kakashi dengan nada jahil, lengkap dengan salah satu alis yang ia naikkan dan senyum limited-edition-nya yang bisa membuat para mahasiswi – dan rekan dosen wanita yang tidak semuanya bisa dibilang masih muda – jatuh hati.

Rasanya Sakura ingin menampar wajah mesum Kakashi saat itu juga. Sayang sekali, di sini hubungan mereka adalah mahasiswi-dosen, bukan kakak-adik/sahabat-yang-terlewat-dekat seperti biasanya. Sakura menghela napas sambil menyerahkan beberapa lembar proposal pada Kakashi.

"Tolong tanda tangan di sini, Sensei." Telunjuk kanannya menunjuk pojok halaman yang telah dibukakannya untuk mempermudah Kakashi.

"Hmmm ... masih banyak yang salah. Aku tidak mau." Kakashi mennyodorkan kembali proposal tersebut setelah membolak-baliknya dengan tak acuh.

"Sensei." Sakura kembali menyodorkan proposal itu ke tangan Kakashi, "Kau belum membacanya."

"Aku sudah membacanya sekilas."

"Membaca apanya?"

"Kalau kubilang sudah, ya sudah." Sekali lagi Kakashi mengembalikan proposal itu pada Sakura yang wajahnya mulai terlihat kesal. "Perbaiki dulu proposalmu itu, Sakura."

"Tidak ada yang salah pada proposal ini." Sakura mengerucutkan bibirnya.

"Hhhh ... aku tidak mau menandatanganinya."

"Tuh, 'kan!" Sakura menunjuk ke arah Kakashi dengan pandangan menuduh. "Bukannya tidak bisa, tapi tidak mau."

Kakashi menghela napas dengan kesal, atau mungkin lelah, Sakura tidak tahu yang mana. "Kalau kubilang tidak, ya tidak."

"Kau mengulanginya lagi."

"Apa- ah, sudahlah. Aku tetap tidak akan menandatangani proposal itu sebelum kau belum memperbaikinya."

"Jangan-jangan, kau masih mengingat kejadian tujuh tahun yang lalu?" Sakura membelalakkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, seolah-olah sangat kaget atas kelakuan Kakashi.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Kakashi-nii, kau tidak boleh membalas dendam." Kini kedua tangan Sakura diletakkannya di pinggangnya, berpose seperti seorang istri yang sudah diap meledak dihadapan sang suami. "Bukankah kau sendiri yang menceramahi Sasuke tentang larangan balas dendam? Bahkan aku masih mengingat dengan jelas ceramah yang kau berikan saat Sasuke ingin membalas dendam pada kakaknya. Kau malah lupa? Aku kecewa padamu, Kakashi-nii!"

"Sakura, aku sungguh tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Berhentilah bicara melantur seperti itu."

Dengan ujung telunjuknya, Sakura menuding hidung mancung Kakashi. "Aku semakin yakin kalau ini adalah balas dendam atas kejadian tujuh tahun lalu."


Kejadian Tujuh Tahun yang Lalu dimulai

"Kakashi-nii!"

"..."

"Kakashi-nii!"

"..."

"Kaka-!"

"Tidak usah berteriak!"

"Kakashi-nii sendiri berteriak, kenapa aku tidak boleh?!"

"Makanya jangan menyumpal telingamu dan memainkan musik kencang-kencang!"

"Eh ... hehehe."

Anak kecil berambut merah jambu itu akhirnya melepas headset yang dipakainya. Terdengar sayup-sayup suara musik yang didengarnya dari tempat Kakashi tiduran di depan televisi, menandakan betapa kencangnya musik yang Sakura dengar.

"Hehe apanya."

"Ne, ne, Kakashi-nii, menurutmu tanda tanganku yang paling bagus yang mana?"

Sakura menunjukkan halaman buku gambarnya yang penuh dengan beberapa coretan pada Kakashi. Sebagai wali kelas enam, Tsunade-sensei menyuruh murid-muridnya untuk segera membuat tanda tangan, karena sebentar lagi mereka akan lulus SD dan harus menandatangani beberapa berkas penting. Kakashi pun mendekati Sakura dan mengambil buku tersebut. Dilihatnya sekilas coretan-coretan yang Sakura buat, Kakashi segera mengembalikan buku tersebut.

"Tidak ada yang bagus." Kata Kakashi sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"Eh?" Sakura memandangi coretan yang disebutnya sebagai calon tanda tangannya itu dengan mata terbelalak. "Ta- tapi aku sudah membuatnya sebagus mungkin."

"Tapi tidak ada yang bagus, Sakura."

"Bohong!" Sakura memicingkan matanya, sama sekali tidak percaya dengan kata-kata Kakashi. Sakura memalingkan wajahnya dari Kakashi, untuk efek dramatis, pikirnya. "Bilang saja Kakashi-nii iri dengan tanda tanganku yang lebih bagus coretan ayammu itu."

"Apa kau bilang, Bocah?" Kakashi mulai kesal karena diejek anak SD. "Sini, akan kutunjukkan tanda tanganku yang pastinya lebih bagus dari tanda tangan amatirmu itu."

Kakashi mengulurkan tangannya untuk meraih buku Sakura, tangan yang satunya sudah memegang bolpoin merah milik Sakura.

"Tidak mau!"

"Cepat berikan bukumu."

"Aku tidak mau tanda tangan jelekmu, Bakashi-nii!" Sakura berlari menjauhi Kakashi sambil menyembunyikan bukunya dengan kedua tangannya.

"Apa kau bilang?"

"Je-lek."

"Lihat saja, kalau aku sudah terkenal dan jadi artis, tidak akan kuberikan tanda tanganku pada bocah menyebalkan sepertimu."

"Memangnya siapa yang minta?" Sakura menjulurkan lidahnya dan membuat Kakashi menjadi semakin kesal.

"Awas kau, ya!"

Kejadian Tujuh Tahun yang Lalu berakhir


"Jangan mengada-ada." Kakashi menyingkirkan telunjuk Sakura yang hampir menyentuh ujung hidungnya. "Lagi pula, aku tidak akan susah-susah mengingat hal tidak penting seperti itu. Aku tetap tidak mau menandatanganinya."

"Bakashi-nii menyebalkan!"

"Jaga bicaramu, Sakura. Aku bisa saja tidak akan pernah menandatangani proposalmu itu." Kakashi lalu tersenyum meremehkan.

"Terserahlah, aku mau pulang saja." Sakura membalikkan badannya dan melangkah menuju pintu sambil tersenyum penuh kemenangan. "Mungkin aku akan melaporkan tindakan tidak masuk akalmu ini pada dekan fakultas. Tentu beliau akan mendengarkan ocehan mahasiswi nomor satunya ini."

Sekakmat!

"Hah, kau pikir kau akan selamat setelah melakukan itu?" Kakashi melipat kedua tangannya di dada, tidak lupa dengan seringaian super menyebalkan yang dikhususkan untuk Sakura. "Apa kau lupa, siapa orang yang akan membagi dosen pembimbingmu saat kau mengerjakan skripsi nanti?"

Sakura terdiam di ambang pintu. Kedua matanya terbelalak dengan sempurna. Dengan susah payah Sakura menelan ludahnya dan berbalik sedikit untuk menghadap ke arah Kakashi sekali lagi.

"Itu adalah aku."

Kakashi tetap menyeringai tanpa sepatah kata pun setelah itu. Di benak Sakura, dia seperti mendengar tawa penuh kegilaan Kakashi yang terus menggema. Itu benar, Kakashi adalah ketua jurusannya. Dengan posisi yang seperti itu, tentu mudah saja bagi Kakashi untuk menunjuk dirinya sendiri menjadi dosen pembimbing Sakura. Tentu akan sangat mudah untuk mempersulit Sakura ketika mengerjakan skripsinya.

Belum genap dua semester, Sakura telah medapati dirinya berada dalam mimpi buruk mahasiswa tingkat akhir yang menurut penelitian sangat horor.


Keesokan harinya, Sakura menghampiri Kakashi yang sedang berjalan dari lapangan parkir dengan tas punggung yang terlihat berat dan beberapa map yang sepertinya penting.

"Pagi, Kakashi-nii." Sakura menyapa dengan sangat ramah. "Sini aku bantu bawa mapnya."

"Kenapa kau tiba-tiba jadi baik?" Kakashi berkata dengan wajah datarnya. "Lagipula, kau tidak boleh memanggilku seperti itu di sini."

"Tidak ada apa-apa. Sini,sini." Sakura merebut map tersebut dari tangan Kakashi.

"Tidak usah berlagak baik seperti itu. Kau pasti ada maunya, 'kan?"

"Sensei sudah tahu, ya?"

"Dasar. Kalau mau membantu kenapa tidak membawakan tasku sekalian?" Sakura yang tadinya tersenyum manis berubah menjadi berwajah suram saat Kakashi tiba-tiba menyodorkan tas punggungnya yang ternyata memang berat padanya.

"Bakashi-nii sungguh tidak gentleman!"

"Jangan berisik." Ucap Kakashi yang sudah mendahuluinya berjalan tanpa memalingkan wajah. "Cepatlah, aku ada kelas lima menit lagi."

Kalau saja Sakura melihat wajah usil Kakashi yang berusaha menahan senyum saat itu.


Siang harinya tepat saat jam makan siang, Kakashi sedang mengoreksi salah satu draft skripsi mahasiswinya yang sedang ia bimbing saat Sakura menampakkan dirinya dari pintu ruang kelas yang digunakannya untuk mengajar.

"Kakashi-sensei." Nada indah tersebut meluncur dari bibir Sakura, lengkap dengan senyum termanisnya. "Aku membawakanmu makan siang. Aku membuatnya sendiri, lho."

Dalam hati, Kakashi mendadak senang. Namun nyatanya, "Kau masih belum menyerah, ya? Aku tidak yakin makanan buatanmu itu tanpa racun."

"Ayolah, Sensei ... mana mungkin aku melakukan hal keji seperti itu padamu?"

"Letakkan saja di meja. Aku sedang sibuk." Kakashi kembali mengarahkan pandangannya pada lembaran kertas berharga mahasiswinya. Mahasiswi tersebut sekarang sedang duduk tepat di hadapan Kakashi dengan perasaan waswas dan bingung. Yang dipegang dosennya itu adalah draft skripsinya yang sudah ia tulis dengan keringat, air mata, dan darah yang bercucuran. Di samping kanan dan kirinya ada Lee dan Neji yang juga sedang mengantre untuk bimbingan pada Kakashi.

"Tapi kau harus segera memakannya, Sensei, jangan sampai kau tidak makan siang, ya." Sakura sudah hampir sampai di depan pintu saat dirinya tiba-tiba membalikkan badannya dan berkata dengan sangat, sangat manis. "Apa Sensei mau aku suapi?"

Ketiga mahasiswa-mahasiswi yang duduk di depannya sontak bagai tersambar petir. Memang telah beredar kabar miring tentang sebuah hubungan 'terlarang' yang sempat menggegerkan satu kampus saat ada beberapa mahasiswa melihat Sakura membonceng dan mendekap erat Kakashi yang mengendarai motornya pada akhir tahun lalu. Mendengar kalimat Sakura barusan membuat ketiganya langsung membayangkan yang 'iya-iya'.

"Tidak sopan. Aku jadi semakin tidak mau menandatangani proposal usulanmu itu" Teguran Kakashi membuat fantasi liar ketiga mahasiswa-mahasiswinya terhenti seketika. "Cepat pergi."

Sakura yang tidak merasa kedahsyatan teguran Kakashi barusan langsung cemberut dan meninggalkan ruang kelas itu. "Jangan lupa dimakan."

Tatapan tajam dari Kakashi adalah balasannya.

Meski begitu, dalam hati, Kakashi menangis bahagia. Bagaimana tidak? Pagi tadi Sakura tercintanya menjemput dengan senyum manisnya di dekat lapangan parkir dan barusan mengantarkan makan siang yang dibuatnya dengan penuh cinta. Sungguh senangnya hati Kakashi. Bahkan, Sakura menawari untuk menyuapinya. Mungkin dia akan mati bahagia begitu Sakura menyuapinya.

Tidak hanya Kakashi yang merasa senang. Ketiga mahasiswa-mahasiswinya juga ikut merasa senang. Melihat sang dosen killer mejadi seperti remaja dimabuk cinta membuat mereka sangat yakin akan kesuksesan sesi bimbingan skripsi kali ini. Pasti tidak ada yang perlu direvisi lagi. Beberapa menit setelah Sakura pergi pun, efeknya masih terlihat jelas. Kakashi masih saja tersenyum saat pandangannya sudah kembali fokus pada lembaran kertas yang dari tadi dipegangnya, sambil sesekali menengok sekilas pada kotak makan siang yang terletak di mejanya.

Setelah beberapa menit sang dosen tidak membalik ke halaman berikutnya, Tenten – yang telah membuat draft itu dengan susah payah – memutuskan untuk bertanya apakah ada yang salah dengan draft-nya. Seketika itu pula ia menyesali perbuatannya.

Entah mana yang lebih horor, tatapan tajam yang dirumorkan menyaingi tatapan dingin mendiang dosen killer legendaris Uchiha Madara, atau coretan menyilang satu halaman penuh dengan bolpoin warna merah milik Hatake Kakashi.

"Perbaiki bab ini dari awal. Saya tunggu besok siang."

Tenten tidak mampu untuk berkata apapun. Bahkan Lee dan Neji seperti mendengar bunyi retakan yang mereka duga adalah hati Tenten. Jangankan membela Tenten dan menentang keputusan mutlak Kakashi, rasanya mereka tidak akan menyerahkan draft mereka hari ini.


Atas dukungan dan kritiknya, login atau pun tidak, hontou ni arigatou gozaimashita!

Mata kondo, minna!