Chapter 4 OUT FROM THE STORY LIKE THE HELL

Love ?(사랑 ?)

Jimin, Minah dan Yoonji kembali masuk lebih dalam setelah berhasil melewati portal pembatas dunia luar dan dunia kaum werewolves. Cemas, Jimin sebenarnya sangat cemas dengan Yoongi tapi apa boleh buat dia tidal bisa melakulan apa-apa saat ini. Ia hanya mengikuti Minah yang menuntunya menuju istana pangeran Minjoon itu dengan Yoonji yang menggandeng erat tangan kanannya tak ingin lepas dari sang ayah.

Suasana mencekam mulai terasa saat mereka semakin menapak kedalam wilayah istana, sihir di mana-mana terpasang apik dan tak kasat mata. Sihir-sihir itu seperti menyengat tubuh Jimin dan Yoonji, Jimin jadi memikirkan bagaimana dengan Yoongi sedangkan dia saja merasa kesakitan sedikit demi sedikit karena pancaran sihir itu.

Jimin menoleh kearah kanannya yang terdapat Yoonji tersebut, ia sedikit berjengit karena cengkraman anaknya itu terlalu kuat pada lengannya.

"Yoonji wae ?" Tanya Jimin lembut sambil mengusap lembut pipi kanan Yoonji dengan tangan kirinya yang bebas dari cengkraman Yoonji.

"Appa, aku tidak bisa merasakan kehadiran eomma. Benar-benar tidak ada appa, eomma sudah tidak seperti kita lagi" Yoonji menitikan air matanya yang sedari tadi di tahannya. Dengan itu Jimin menghentikan langkahnya,

"Minah tunggu sebentar" setelah memanggil Minah agar berhenti sebenar Jiminmengalihkan pandangannya ke arah anak perempuannya ini.

"Hei sayang, apa kau yakin dengan opinimu itu ? Jangan memikirkan hal seperti itu sayang, kau harus yakin kalau eomma-mu masih ada, mash berada di dekatmu yakinkan itu didalam pikiran dan hatimu maka kau akan bisa merasakan kehadiran eomma, ne ?" Yoonji menganggukkan kepalanya kemudian menghambur kepelukan sanga ayah tercintanya, Jimin mendekap erat Yoonji dengan sayang mengelus kepalanya agar merasa sedikit lebih tenang.

'Hyung, aku berharap kau tetap bertahan untuk keluarga kecil kita ini. Aku menyayangimu hyung lebih dari apapun, tetaplah menjadi Yoongi yang aku cintai dan ibu bagi Yoonji kita.' Jimin berucap dalam hatinya.

"MINJOON!!! KELUAR KAU DARI SARANG SIALANMU!!"

Yoonji berjengit kaget dan dengan segera melepas pelukannya pada ayahnya, "appa, itu suara eomma ?!" Jerit Yoonji.

"Oppa ayo, kita tidak punya banyak waktu lagi sebelum Minjoon benar-benar melenyapkan sisi vampir milik Yoongi oppa." Minah segera berlari cepat menuju sumber suara dengan Jimin dan Yoonji yang mengikutinya dari belakang.

Yoongi terengah setelah berhasil menghancurkan seisi ruang aula istana yang penuh sihir itu, tubuhnya bahkan bereaksi dengan sihir-sihir tersebut. Tubuhnya seperti menyerap sihir-sihir itu setiap pergerakan yang ia lakukan, sakit tapi kemudian rasanya seperti ringan. Ia bingung dengan reaksi tubuhnya terhadap sihir-sihir ini, sisi manusianya sudah hampir terkikis habis. Warna bola matanya bahkan berubah-ubah terus sampai menimbulkan rasa nyeri di bagian syaraf optik itu, ia pikir jika sisi manusianya terkikis habis dan sangat yakin pasti hanya tersisa sisi lain yang menurutnya sangan menjijikan ini yaitu werewolves.

Ia sudah sangat sadar sepenuhnya dan sangat merasa bersalah pada keluarga kecilnya dan orang-orang di istana yang ia tinggalkan. Ia juga merasa sangat bersalah pada Jimin karena dirinya lah yang tidak pernah ia beritahukan masalah ini, masalah tentang sisi dirinya yang lain. Bahkan saat ia melahirkan Yoonji ia masih bisa berbohong pada Jimin kalau kelenyapannya itu karena sihir dari penyihir werewolves yang nyasar.

Nyatanya ?! Ia tergigit dengan paksa oleh Minjoon pangeran werewolves terkutuk itu. Yoongi akui kalau kala itu dia sangat bodoh, sangat-sangat bodoh. Bisa-bisanya ia masuk jebakan pangeran menjijikan itu ? Oke ia akui kalau Minjoon adalah kekasihnya saat itu, tapi mengapa ia bisa sangat bodoh dengan mengikuti kemauan pangeran werewolves itu untuk datang ke perbatasan ? Dan nyatanya ia diserang blak-blakan oleh Minjoon.

Seharusnya Minjoon tahu jika Yoongi tidak akan bisa menjadi bagian bangsa werewolves karena ia adalah vampir, vampir yang memiliki kekuatan tertinggi, jika ia adalah vampir biasa kemungkinannya adalah mati atau tetap hidup dengan dua sisi yang harus ia topang sendiri dalam tubuhnya dan cepat atau lambat juga dirinya akan mati juga jika tidak bisa menaham racun vampir dan werewolves yanh tidak stabil dalam tubuhnya.

Tapi satu hal yang ia harus ingat dan waspadai jika kekuatan miliknya masih tersegel rapat seperti ini dan ia terkena gigitan wujud werewolvees milik Minjoon habis sudah riwayat sisi vampir miliknya. "Benar Juga aku harus meminta Jimin mebuka segelnya terlebih dahulu baru bisa melawan namja brengsek itu" gumam Yoongi.

Yoongi akhirnya berbalik dan kembali melesat keluar istana. Mata sipitnya makin menyipit tak kala ia memicingkan matanya saat melihat 3 siluet orang yang sepertinya sangat ia kenal.

"Eomma!!" Pekik salah satunya, Yoongi berhenti di tempatnya tak kala mendengar jeritan nyaring milik salah satu orang yang ia pandangi tadi, mereka bertiga semakin mendekat kearah Yoongi berdiri hingga,

"Yoonji ?" Yoongi memanggil nama anaknya dengan ragu.

"Gi ini kami bae" ujar Jimin.

"Ji ?" Yoongi tidak percaya mereka akan menyusul masuk kemari, terlalu berbahaya bagi tubuh murni vampir mereka.

Yoongi kembali melesat kearah mereka bertiga "Ji, kau harus segera melepaskan segelnya sebelum Minjoon meng- Akhh!!" Yoongi terlempar ke samping kiri saat sesuatu menerjang tubuhnya dan sesuatu menancap telak di leher putihnya. Yoongi menjerit kencang, tubuhnya mengejang hebat, darah dalam tubuhnya mengalir dengan cepat dan ia merasa tubuhnya terbakar, panas sangat panas.

"YOONGI!!!"Jerit Jimin Murka, dengan kecepatan penuh dirinya melesat kearah tubuh Yoongi dan menendang makhluk biadap yang dengan beraninya melukai Yoongi.

Yoongi hanya melihatnya dengan tubuh kakunya, tubuhnya mati rasa dan pandangannya kosong menatap Jimin yang sedang berusaha menghajar werewolves kurang ajar yang sayangnya adalah Minjoon. Yoongi menitikan air matanya, ia pikir kisah dirinya akan hanya sampai disini dan untuk kedua kalinya ia harus meninggalkan Yoonji dan Jimin ?

Yoonji menghampiri sang ibu yang terbaring kaku menatap Jimin sang ayah yang sedang bertarung sengit dengan Minjoon dibantu dengan Minah adik Jimin. Sesampainya Yoonji di depan sang eomma, segera ia rengkuh tubuh kaku eomma-nya itu.

"Eomma ? Eomma bisa mendengarkan suara Yoonji kan eomma ? Tolong jawab Yoonji eomma" suara Yoonji terdengar sangat cemas tak kala melihat warna bola mata eomma nya sedikit demi sedikit berpendar berwana hitam, warna asli bangsa werewolves(meski banyak yang memiliki warna coklat pirang terang).

"APPA!! Cepat sedikit, selamatkan eomma, appa." Kembali jeritan Yoonji membuat Jimin semakin gencar menghajar Minjoon meski tubuhnya juga ikut terlua tapi tenang lukanya dengan cepat menutup. Dengan kekuatan terakhirnya ia membekukkan tubuh werewolves Minjoon sampai tubuh itu beku sepenuhnya. "Minah lanjutkan sisanya aku harus menolong Yoongi" ujar Jimin kemudian melesat ke tempat Yoonji dan Yoongi berada.

Jimin segera mengambil alih posisi Yoonji sebelumnya dan sesegera mungkin meletakkan telapak tangan Yoonji dan dirinya di atas dada Yoongi kemudan membaca mantra pembuka segel. Jimin sangat berharap jika ia tidak terlambat melakukan pembuka segel ini, sebelah tangannya juga berusaha menekan tempat bekas gigitan itu berada agar racunnya keluar.

'Sayang kau harus bertahan, jangan berhenti melawan racun sialan itu, kumohon.' Jimin mencoba telepati dengan Yoongi, matanya menatap dalam kemata Yoongi yang perlahan hampir menghitam keseluruhannya, konsentrasinya hampir terbagi karena Yoongi tidak merespon sama sekali, tatapannya bigitu hampa dan kosong. Jimin mulai khawatir jika Yoongi tidak akan tertolong.

Tangan Yoonji yang bebas terulur kearah atas tangan ayahnya yang berada di atas dada ibu tercintanya, menyalurkan semua kekuatan sang ibu yang masih ada sedikit dalam tubuhnya. Energi terakhir yang tersalur ketubuh Yoongi mengakhiri pembuka segel tersebut, mereka melepaskan tangan mereka yang berada di atas dada Yoongi.

"Gi, aku mohon padamu kembalilah padaku" lirih Jimin, ia menggenggam erat tangan putih Yoongi.

Mata Yoongi makin menyayu seiring tubuhnya yang berpendar mengeluarkan cahaya kuning ke-emasan, hingga mata itu tertutup rapat dengan cahaya yang memudar hingga akhirnya padam dengan sendirinya.

Jimin terdiam cukup lama melihat tubuh kaku Yoongi di pangkuannya hingga akhirnya ia sadar saat Yoonji mengguncang keras tubuhnya.

"Appa gwenchanha ?" Tanya Yoonji pelan.

"Yoonji-ah, eomma dasi andoragal-goya " lirih Jimin pelan.

"Mworago ? Appa jangan berbicara yang tidak-tidak, eomma masih disini bersama kita, eomma pasti kembali pada appa, appa bilang jangan berfikir yang buruk saat aku tidak bisa merasakan kehadiran eom-

"YOONJI, APPA SUDAH BILANG EOMMA TIDAK AKAN KEMBALI LAGI PADA KITA, situasinya berbeda sayang" awalnya nada Jimin memang tingga serta membentak tapi melihat raut wajah anaknya yang sendu membuatnya memelankan nada suara bicaranya, ia sedih tentu saja.

Untuk kedua kalinya jimin kehilangan sosok orang yang sangat ia cintai dan sosok ibu bagi anaknya dan itu adalah hal yang menyakitkan, amat sangat menyakitkan. Cukup dirinya saja yang harusnya merasakan sakitnya kehilangan ini jangan anaknya, ia masih terlalu kecil untuk mengerti apa arti kehilangan yang sebenarnya.

"Maafkan appa ne ? Appa hanya terbawa suasana tadi, sebaik-

Ucapan Jimin terpotong tak kala mendengar suara nafas seseorang yang menderu seperti habis kehilangan oksigen untuk bernafas, sangan memburu dan tersengal-sengal.

Jimin terkejut bukan main, Yoongi malaikan cantiknya, ibu dari Yoonji buah hati mereka kembali bernafas. Ini suatu keajaiban dan Jimin harap bukan Yoongi dalam keadaan sisi werewolvesnya yang sadar tapi sisi vampirnya, jati diri miliknya yang sebenarnya. "Appa, eomma...??" Pertanyaan Yoonji menggantung dan Jimin tahu apa yang akan buah hatinya ini tanyakan.

"Ne Yoonji, ini adalah keajaiban dari Yang Maha Kuasa, eomma kembali dan appa harap eomma tetap menjadi sosok yang dulu pernah appa cintai." Gumam Jimin.

"Yaa! Kau fikir aku akan berubah seperti apa huh ? Park bantet Jimin yang sayangnya adalah suamiku ini." Ujar Yoongi dengan nafas yamg masih terengah, perlahan ia membuka kedua kelopak matanya. Mata indah itu kembali, binar cantik perpaduan warna merah dan biru laut itu kembali. Gummy smile-nya yang manis itu ia perlihatkan kembali pada kedua orang yang paling ia sayangi.

"Yoongi-ah/eomma." Ujar Jimin dan Yoonji bersamaan, mereka berpelukan erat melepas rindu yang sudah dipendam teramat dalam. Yoongi hanya terkekeh pelan melihat kedua orang yang ia cintai ini, rasanya bahagia sekaligus lega keadaan sudah kembali seperti semula.

"Hei!! Oppa kalian masih bisa bersenang-senang nanti, tolong bantu aku dulu disini, tanganku sudah mau patah!" Teriak Minah kesal, pasalnya es yang membekukan tubuh Minjoon sudah setengan mencair di bagian atasnya, bahkan tangan Minjoon mencengkram kuat lengan kanan milik Minah hingga Minah meringis menahan sakit yang luar biasa, Minah rasa lengannya sudah retak karena barusan ia mendengar sangat jelas retakkan tulang dari lengannya dan itu sangat sakit. Jangan tanya bagaimana es itu bisa mencair, kalian lupa kalau Minjoon adalah si pangeran manusia srigala ? Tubuh mereka sangat hangat dan bisa dikatakan panas juga.

Yoongi akhirnya bangun dari duduknya dibantu oleh Yoonji dan Jimin, "biar aku saja yang menyelesaikannya." Ujar Yoongi.

"Tunggu, aku akan membantumu, aku tidak mau kehilanganmu lagi bae."

Yoongi menoleh kesampingnya yang terdapat Jimin, melangkah mendekat hingga ia berhasil mengecup sebentar bibir tebal Jimin kemudian memberikan senyuman plus anggukan kepala bahwa ia setuju atas usul Jimin.

"Mari tuntaskan permasalahan ini bersama dan kita akan hidup tenang setelahnya, ya itupun kalau kita tidak di buru." Ujar Yoongi.

"Haha.. tidak akan terjadi jika aku selalu disampingmu, ayo tuntaskan ?" Jimin tersenyum lembut pada Yoongi. Yoongi pun membalas senyuman Jimin kemudian menganggukkan kepalanya, keduanya akhirnya melesat cepat kearah Minah yang lengannya sedang dicengkram kuat itu.

Yoonji hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya akhirnya bisa menyatu kembali. 'Tuhan jangan biarkan kebahagiaan appa dan eomma berakhir, aku sangat memohon padamu jangan pisahkan kami lagi dari eomma dan berikan sedikit keringanan masalah yang melanda.' Gumam Yoonji dalam diamnya.

"Dan appa, terima kasih banyak telah mengenalkan eomma pada arti cinta yang sebenarnya. Aku harap kita akan terus bersama sampai ratusan tahun yang akan datang." Lanjut Yoonji sambil tersenyum melohat perjuangan sang appa dan eomma-nya yang sedang bertarung.

Jika kalian ingin tahu, kekuatan Yoonji adalah pembaca masa depan dan dia juga bisa melihat kembali masa lalu, baik itu masa lalu dirinya sendiri atau masa lalu orang lain termasuk kedua orang tuanya.

_

Keutt~ ~

Sampai disini dulu ya chapter 4 nya lanjut lagi di chapter selanjutnya *yeey*

Terima lasih juga untuk yang masih setia sama cerita ini, nadya harap kalian jangan sampai bosan ya dengan cerita ini, dan maaf baru bisa update chapter baru untuk cerita ini. Maaf jika maish ada typo(s).

Percaya nggak percaya chapter ini tuh baru nadya ketik hari ini dan dalam hitungan kurang lebih 2 jam chapter 4 ini selesai :'D dan cerita ini beda banget dengan ketikan awalnya duh sedih ya..

Maaf sekali lagi atas keterlambatan updatenya, semoga suka dan nggak mengecewakan, 1 atau 2 chapter lagi tamat lho *yeeey*

Nadya kim present

9:41 PM, minggu 23 april 2017

Sintang, Klaimantam Barat, Indonesia