Chapter 4

I Love You

Kyaa! Gomen ne, chapter3-nya banyak typo. Hehe…para reader jadi nggak nyaman deh bacanya. Sorry…

Makasih banyak buat para readers dan reviewers yang masih mau membaca fic saya ini.

Arrigatou Gozaimasu u(_ _)u

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OOC, garing, canon, typo dan SasuHina centric.

Sebelumnya:

'Kenapa tidak mau jujur padaku, Sasuke-kun? Aku tahu kau masih terluka. Tapi kenapa kau tak mau memberitahuku? Dan kenapa aku merasa sakit setelahnya?' Hinata mengambil cangkir teh dan mulai menyesap isinya. 'Aku mempercayaimu tapi kenapa kau tidak?'

oOOo

"Hinata-sama?"

Hinata yang merasa dipanggil menoleh dan mendapati Neji berjalan ke arahnya. "Neji-nii?"

"Hn." Neji mengambil tempat di sebelah Hinata.

"Ada apa?"

"Kau yang ada apa, Hinata?" tanya Neji balik.

"Aku?"

"Hn. Dari tadi aku melihatmu terus melamun di sini." ujar Neji, "Kau terlihat seolah bukan Hinata."

"Aku hanya merenung, Neji-nii." sahut Hinata pelan.

Neji diam. Menanti kata-kata yang akan dilontarkan Hinata selanjutnya. Selama ini dia hanya tahu kalau Hinata itu sering memikirkan Naruto. Hanya Naruto. Bahkan hampir tidak pernah dia mengeluhkan dirinya sendiri. Hanya ada Naruto. Sebenarnya Neji geram. Betapa Naruto tidak peka pada Hinata. Betapa Hinata masih berharap saja padanya. Hinata berhak bahagia. Dia sudah cukup lama menderita. Tanggung jawabnya sebagai Heiress, ayahnya yang sudah tak mempedulikannya, dia yang selalu menganggap dirinya lemah. Hinata yang selalu ada buat semua orang. Hinata yang baik. Hinata yang rela melakukan segalanya agar orang lain bahagia. Hinata yang bodoh karena lebih memikirkan orang lain dari pada dirinya. 'Kami-sama, sampai kapan Hinata akan terus menderita?'

"Naruto, kah?"

Hinata menggeleng, "Bukan."

Mengejutkan! Untuk pertama kalinya Hinata memikirkan sesuatu selain Naruto. Senang? Tentu saja Neji senang karena itu artinya bukan hanya Naruto lagi yang ada dipikirannya. Pertanyaannya sekarang, apa yang membuat Hinata jadi murung begini?

"Lalu?"

"Sasuke." jawab Hinata yang terdengar lebih mirip dengan bisikan.

Neji kaget setengah mati mendengar nama itu. Padahal baru tadi siang dia keluar dari rumah sakit, bisa-bisa ia kembali ke tempat itu lagi mendengar jawaban Hinata barusan. "U-Uchiha Sasuke?"Neji memastikan.

"Ya."

Bagus! Tim 7 memang sumber masalah. Pertama, Naruto yang disukai Hinata. Terus, Sakura yang ditaksir Naruto yang bikin Hinata patah hati. Sekarang, Sasuke? Apa yang telah diperbuatnya hingga Hinata mau menghabiskan waktu malamnya duduk di beranda samping hanya untuk merenung?

Neji mengepalkan tangannya. 'Awas saja kalau Uchiha itu macam-macam!'

"Neji-nii?"

"Hn."

"Kenapa rasanya sakit?" Hinata mengadahkan kepalanya. Menatap hamparan bintang yang tak terhitung jumlahnya di atas sana.

"Sakit? Apa yang dilakukan Sasuke padamu?" tanya Neji geram. Wajahnya biasa, tapi nada suaranya menyiratkan ada amarah di sana. Dia tak rela jika Hinata disakiti oleh orang lain. Ia adalah pelindung Hinata, orang yang dianggap kakak oleh Heiress itu dan Neji pun merasa bahwa Hinata adalah adiknya. Ia merasa gagal jika melihat Hinata terluka. Itu membuatnya tak senang.

"Kenapa sakit rasanya saat ia tak menerima uluran tanganku? Kenapa sakit saat ia tak mempercayaiku?"

Neji semakin terperanjat. Kejadian apa yang saja yang terlewatkan olehnya selama di rumah sakit? Kenapa dia seolah berada di dunia lain? Di pikiran Hinata bukan lagi Naruto yang mendominasi. Di pikiran Hinata saat ini hanya ada Sasuke! Neji seolah menderita gegar otak. Mungkin kedekatan Sakura dan Naruto membuat sepupunya sakit hati dan depresi, tapi kenapa harus pada Sasuke dia membuka hati? Mengerikan.

oOOo

Berhari-hari semenjak peristiwa Hinata marah, Sasuke tak bisa tidur nyenyak. Sudah hampir seminggu dan mereka nggak pernah bertemu lagi. Sasuke yang merasa bersalah berpikir kalau nggak ada alasannya dia kabur dari rumah sakit lagi. Untuk apa?

Sasuke mengganti pakaiannya. Hari ini dia sudah boleh pulang. Naruto juga mengajaknya untuk makan di Yakiniku-Q. Sebenarnya malas ikut dengan si dobe payah itu, tapi untuk menenangkan diri sejenak, sepertinya itu bukanlah ide yang buruk.

Tak berapa lama, terdengar suara ketukan pintu. Seperti yang sudah diduga, Naruto.

"Oi, Teme! Ayo!"

"Hn." Sasuke mengikuti Naruto ke arah restaurant tempat mereka akan makan. Yakiniku-Q. Sasuke berhenti sejenak di depan pintu masuk, 'Tak berubah.'

Saat masuk, Sasuke sama sekali tak menyangka ada anggota rookie lain di sana. Lee, Neji, Tenten, Ino, Sai, Shikamaru, Chouji, kiba dan Sakura. Sasuke melirik Naruto, sementara yang diperhatikan cuma bisa nyengir.

"Kami berniat untuk menyambut kepulanganmu, Teme."

"Sasuke-kun, ayo duduk." ajak Ino bersemangat.

"Sasuke-kun, ayo!" ajak Sakura. Dia mengajak Sasuke tapi malah menggaet tangan Naruto. Keduanya blushing ria sambil duduk.

Sakura dan Naruto. Mengejutkan!

"Hn." Sahut Sasuke sebelum akhirnya duduk di sebelah Naruto.

"Sasuke! Akhirnya kau kembali juga! Itu baru namanya semangat masa muda!" teriak Lee berapi-api.

Sasuke mengamat-amati Lee. Tetap tidak berubah. Semuanya sama. Alis tebal, rambut yang…err berkilau, senyum gigi 1000 karat. Satu kata untuk mendeskripsikan ini semua: mengerikan!

"Selamat datang kembali, Sasuke!" kali ini giliran Kiba yang angkat bicara.

Sasuke melihat teman-temannya satu-persatu. Shikamaru tersenyum, Tenten juga, Neji? Neji juga tersenyum? Neji yang stoic seperti dirinya itu?

Tapi, tunggu!

Naruto, Sakura, Lee, Neji, Tenten, Ino, Sai, Shikamaru, Choji dan Kiba. Ikut dirinya berarti ada 11 orang. Dimana dua lagi? Di mana Shino dan Hinata? Di mana Hinata?

Great! Rencana ikut ke Yakiniku-Q buat nenangin diri dan lepas sementara dari 'mikirin Hinata' gagal total. Ia malah jadi khawatir. Kenapa Hinata nggak ada? Dia kan selalu datang kalau ada acara beginian? Apa segitu marahnya dia pada Sasuke?

"Neji, Hinata dan Shino dimana?" tanya Naruto.

Sasuke menajamkan pendengarannya.

"Entahlah. Tapi tadi dia dan Shino bilang ada urusan sebentar."

'Sama Shino? Berdua aja? Apa nggak apa-apa?' Sasuke dan pikirannya yang berlebihan.

"Maaf, kami telat."

Suara ini…suara yang dirindukan Sasuke. Suara lembut milik sang Heiress Hyuuga. Sasuke berbalik.

Hinata membungkuk sementara Shino yang di sampingnya hanya berdiri tegap dan diam.

"Tidak apa-apa, Hinata-chan." sahut Kiba yang segera bergeser untuk memberikan tempat bagi Hinata dan Shino duduk.

Hinata duduk. Memandang ke samping, ada Sakura dan Naruto, lalu menunduk. Uh, rasanya sangat nggak nyaman. Sebenarnya dia nggak mau ikut acara ini –takutnya malah nangis nanti –tapi, Kiba maksa.

Tangan Hinata menggenggam erat bahan katun celananya. Matanya sudah sembab. Dia menggigit bibir menahan tangis yang sudah hampir pecah. 'Kami-sama, jangan sampai…'

Sasuke melirik Hinata. Dia tahu apa yang sedang terjadi pada gadis itu. Pasti karena dua orang itu. Apa yang bisa dilakukan Sasuke untuk menolong?

Hinata benar-benar tidak tahan lagi. Ia menekan suaranya agar tak bergetar dan segera berdiri, "Ma-maaf. A-aku mau ke toilet." Setelah mendapat anggukan dari Neji, Hinata buru-buru pergi.

'Hinata…' Sasuke hanya bisa melihat Hinata yang menjauh dan perlahan menghilang.

"Hei! Hei! Jarang-jarang nih, kita ngumpul. Aku senang sekali!" Ino berdecak senang.

"Benar. Semua anggota Rookie sudah lengkap." Timpal Sakura.

"Supaya makin seru, bagaimana kalau kita buat permainan." cetus Lee.

"Apa?" Naruto nimbrung.

Ino menjentikkan jarinya. Semua anggota rookie memandang penasaran. Ino cengar-cengir. Shikamaru dan Chouji yang sudah lama menjadi rekan setimnya cuma bisa menelan ludah.

Firasat buruk!

"Gimana kalau Kakashi-sensei?" Ino mulai mengutarakan idenya.

"Maksudmu apa Ino-pig?"

"Forehead! Makanya dengar dulu!" Ino mendengus kesal. Di saat yang bersamaan Hinata sudah duduk kembali.

"Kita kan, belum pernah ada yang lihat wajah Kakashi-sensei."

"Ah, kalau itu sudah beberapa tahun yang lalu pernah kami coba." ujar Naruto. "Itu pekerjaan yang sia-sia."

"Tapi sekarang kita sudah jauh lebih hebat, kan? Lagi pula kita tiga belas. Masa kalah?" Sakura kali ini membela Ino. Ia tertawa kecil, "Lagi pula aku masih penasaran." mata Sakura menerawang, "Seperti apa sih, wajahnya? Apa bibir tebal?"

Anggota yang lain mulai membayangkan. Kakashi berbibir tebal? Seberapa tebal? 15 sentimeter?

"Atau gigi tonggos?"

Beberapa rookie –Lee, Ino dan Kiba -mulai cekikikan.

"Atau, bibir seorang wanita?"

Semua anggota rookie membayangkan, dan hasilnya…menjijikan. Sekarang yang masih belum tertawa hanya Sasuke, Shino, Neji dan Hinata. Hinata sendiri sudah menutup mulutnya dengan tangan. Mencoba bertahan untuk tak terpengaruh.

"Hahaha…atau jangan-jangan gigi Kakashi-sensei tinggal dua?" celetuk Ino di tengah-tengah tawanya.

Semuanya tertawa tambah parah. Imajinasi mereka benar-benar menanjak naik. Grafiknya luar biasa! Saat dibuka topengnya, wajah Kakashi memang tampan, tapi saat tersenyum…ukh!

"Ha-haha…kau mengerikan Ino." ujar Tenten.

"Hihihi…hihi…"

Sasuke tahu suara siapa ini. Ia menatap Hinata. Gadis itu tertawa dan entah kenapa Sasuke merasa lega mendengar tawanya. Hinata yang murung tadi sempat membuatnya khawatir juga, jadi saat melihat hal seperti ini, rasanya sungguh melegakan. Tanpa sadar, Sasuke tersenyum.

Alis Neji mengernyit. Hanya dia yang memperhatikan Sasuke dan Hinata saat ini. Ada hubungan apa sebenarnya mereka berdua? Sasuke tersenyum diam-diam pada Hinata walau gadis itu tak memperhatikannya. Tapi Neji lebih memilih untuk diam. Dia akan menyelidikinya nanti.

Singkat cerita, telah ditetapkan hari ini mereka akan mengintai Kakashi. Kelompoknya terdiri dari tiga orang dan salah satu kelompok beranggotakan 4 orang karena jumlahnya yang nggak pas.

13. Angka sial. Termasuk bagi Sasuke.

Kenapa?

Karena Sai masuk ke kelompoknya. Hinata juga setim dengannya kali ini. Sebenarnya sih, dia senang ada Hinata, tapi kenapa harus ada Sai juga? Nggak bisakah orang lain saja? Dia pasti akan menganggu Sasuke karena pemuda itu tahu rahasianya.

Sementara itu, Naruto setim dengan Neji, Kiba dan Ino. Sakura dengan Lee, dan Chouji, lalu Tenten dengan Shino dan Shikamaru.

Semua tim telah bergerak dan hanya menyisakan Sasuke, Sai, dan Hinata. Sai yang melihat Hinata dan Sasuke yang diam seolah tak saling mengenal jadi jengkel. 'Keras kepala!'

"Sampai kapan kalian mau di situ?" ujar Sai sambil meninggalkan mereka berdua di belakang.

"Ba-baik!" Hinata hendak menyusul Sai namun sebuah tangan menariknya.

Sasuke.

"Hinata…"

Hinata menoleh tapi tak berani melihat Sasuke.

"Apa kau masih marah?" tanya Sasuke dingin seperti biasanya.

Hinata menggeleng, "Aku kira Sasuke-kun yang masih marah padaku."

Sasuke menaikkan satu alisnya, "Kenapa aku harus marah?" tanyanya lagi.

Hinata berusaha menghentikan tubuhnya yang bergetar. Dia gugup. Sasuke lagi-lagi menggenggam tangannya. "Habis, a-aku meninggalkan Sasuke-kun sendirian. Pa-padahal, k-kau masih sakit."

"…"

"Padahal, sebenarnya aku pulang untuk mengambil obat, tapi saat kembali, Sasuke-kun sudah tak ada."

Sasuke yang mendengar dapat mengenali ada nada kesedihan di setiap ucapan Hinata. Dia senang Hinata khawatir padanya. Ini memberinya sedikit harapan. Tapi hal itu juga membuat Sasuke tambah jengkel pada Sai. Karena jika saja Sai tidak mengantarkannya ke rumah sakit, Hinata pasti akan menolongnya. Sai memang selalu datang di saat yang nggak tepat.

"Hoi! Ayo kita pergi!"

"Ba-baik!"

"Tch!" Sasuke mendeathglare Sai. Yang dilirik malah cuek aja dan mendekati Hinata, menggenggam tangan gadis itu. Sasuke menggeram. Sai tersenyum hambar.

"Ng…Sai, bisa tolong lepas?"

"Nggak!" jawab Sai dengan tampang polosnya yang bagi Sasuke memuakkan.

"Ng…Sai-kun…tolong…" pinta Hinata. Wajahnya memelas.

"Kenapa?"

"Hanya saja…i-ini kurang nyaman."

"Oh… jadi, hanya Sasuke ya, yang membuatmu nyaman saat dia mengenggam tanganmu?" tanya Sai datar. Padahal dalam hatinya dia udah puas bikin dua orang ini blushing akut.

"A-apa maksudmu?"

"Tuh…" Sai menunjuk tangan Hinata yang satu lagi. Sepasang ninja itu pun melihat ke direksi yang ditunjuk. Seketika wajah keduanya memerah.

Hinata baru tersadar. Jadi tadi posisinya, 'Sai-Hinata-Sasuke' yang bergandengan tangan?

Sasuke melepaskan genggamannya dari Hinata. "Gomen ne, Hinata."

Hinata mengangguk singkat. Bagaimana ia bisa lupa? Pantas saja hangat. Hangat? Nggak boleh! Kenapa bisa terasa hangat?

TBC…

Masih penasaran, nggak? Kalau masih, harap direview ya?

Makasih banyak buat yang udah review and baca chap 3 nya. Haze senang sekali. Ternyata masih banyak yang mau baca.

Maaf buat yang udah mereview chapter 3 tapi balesannya nggak ditampilin, ya? Soalnya pas nulis ini lagi offline, jadi nggak tahu siapa-siapa aja yang mereview. Gomen…

Saya adalah pendatang baru di Fandom ini, jadi untuk perbaikan dan saran, saya mohon REVIEW! Arigatou Gozaimasu!