Title: 2nd Generation
Main Cast: Jung(Oh) Sehun, Shim(Huang) Zitao
Suporting Cast: Jung (Lu) Luhan, Park Chanyeol, Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Victoria Song
Warning: GS for uke, typo, bahasa tidak baku
Disclaimer: semua cast bukan milik saya tapi cerita milik saya.
.
.
.
.
.
PART 3
Zitao memasuki kediaman keluarga Jung dengan santai, seolah rumah itu adalah rumahnya sendiri. Bahkan gadis itu sudah begitu akrap dengan seluruh penghuni rumah ini tak terkecuali para pelayan. Seperti saat ini dengan riangnya dia merangkul pundak kepala pelayan di rumah itu.
"Lee Ahjumma!"pangil Zitao semangat.
"Nona anda datang?"sentak Lee Ahjumma,"Tapi sepertinya nona Luhan sedang pergi,"jelas sang pelayan.
Zitao menggelengkan kepalanya ringan, menyebabkan surai pirangnya bergoyang cantik,"Tidak, aku kemari bukan mencari Luhan unni, tapi aku mencari Sehun,"
"Sehun ada di kamarnya,"potong seseorang dari belakang, dan Zitao cepat berbalik.
"Jae umma-nim, kapan kau pulang dari Tokyo?"dengan antusias Zitao menghampiri ibu dari si kembar Jung.
Jaejoong tersenyum menyambut pelukan Zitao, sampai sekarangpun wanita paruh baya itu masih merasa lucu saat gadis bermata panda itu memanggilnya umma-nim. Padahal dia belum menikah dengan Sehun
"Kemarin malam,"Jawab Jaejoong,"Oh iya Zi, aku membawakan sesuatu untukmu. Sebelum kau pulang jangan lupa menagihnya padaku ok?"pinta Jaejoong sambil mendorong Zitao menuju kamar Sehun.
"Ok umma-nim,"jawab Zitao patuh, dan dia melangkah cepat menuju kamar Sehun. Tak dipungkiri hati Zitao sekarang berdebar-debar. Tapi anehnya Zitao senang dengan debaran itu, karena itu berarti dia begitu mencintai Sehun.
"Hallo, apa aku mengganggu?"tanya Zitao sambil melongokkan kepalanya dari balik pintu, dilihatnya Sehun yang sedang berkutat di meja belajarnya memutar kursi.
"Menurutmu?"Sehun justru balik bertanya.
Tanpa rasa berdosa Zitao justru masuk ke dalam kamar Sehun dan menjatuhkan bokongnya di ranjang Sehun,"Huh dingin sekali, aku sama sekali tidak mengharapkan respon seperti itu dari calon suamiku di masa depan,"
"Percaya diri sekali aku akan menikahimu,"walaupun Sehun terdengar tidak senang, namun sejujurnya hatinya berkata lain. Dia begitu senang Zitao mengunjunginya.
"Aku juga tidak mengharapkan kau akan menikahiku, justru sebaliknya aku lah yang akan menikahimu. Jika kau tidak mau aku akan memaksa, siap-siap saja jika suatu hari nanti aku akan memperkosamu. Setelah itu kau tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam keluarga Shim,"cerocos Zitao tak mau kalah.
Sehun tergelak seketika mendengar itu. Zitao memang seperti ini, selalu memberi warna pada hidupnya yang menjemukan. Memangnya ada yang lebih menjemukan daripada menjadi seseorang yang sudah ditetapkan meneruskan keluarga Jung? Rel neraka sudah menanti Sehun di depan mata, dia tidak punya pilihan selain meneruskan bisnis keluarga. Tanpa sekalipun kedua orang tuanya menanyakan apa yang diingikan Sehun.
"Jangan tertawa aku serius!"Rajuk Zitao,"Lihat saja nanti ya, walaupun kau menangis meminta pulang aku tidak akan mengembalikanmu pada keluarga Jung!"ancam Zitao berapi-api.
Selalu berhasil, Zitao selalu berhasil menarik Sehun keluar dari cangkangnya yang aman. Sehun yang dikenal keluarganya adalah Sehun yang sempurnya. Cerdas, penurut, mandiri dan berjiwa pemimpin. Tidak heran jika kini ia menjabat ketua OSIS di sekolahnya. Tapi di depan Zitao, Sehun bisa menunjukkan sisi pemberontaknya, yang kadang terlihat kejam dan semaunya sendiri.
Sehun menghampiri Zitao yang sedang duduk di ranjangnya. Gadis itu terlihat manis hari ini, dan Sehun menyukainya. Pemuda itu tidak ragu duduk tepat di samping Zitao, di tatapnya gadis itu dengan lekat.
"Ini tidak adil~"Zitao merajuk lagi,"Kenapa hari ini kau terlihat sangat tampan? Bagaimana jika aku semakin jatuh cinta padamu hah? Memangnya kau mau bertanggung jawab kalau aku melakukan hal yang tidak-tidak padamu ?"
Sehun tersenyum penuh arti,"Melakukan hal yang tidak-tidak seperti apa maksudmu?"Sehun menopang dagunya dengan sebelah tangan yang ditumpukan pada lutut masih setia memandang wajah Zitao yang akan berganti ekspresi secepat ia mengedipkan mata.
Zitao menggeram kesal,"Jangan mulai Jung Sehun, kau tahu aku bukan tipe gadis manis yang pasif,"
"Kau juga tahu aku tidak suka gadis manis yang pasif,"balas Sehun ringan dan Zitao memerah. Pemuda di depannya ini benar-benar tak bisa dimengerti. Karena kesal merasa dipermainkan Zitao membuang muka melepas kontak mata dengan Sehun.
"Kenapa diam, katanya ingin melakukan hal yang tidak-tidak padaku?"pancing Sehun sengaja.
Zitao mendongakkan wajahnya angkuh,"Huh, tidak jadi. Aku berubah pikiran,"Zitao terlihat kesal
"Wah sayang sekali,"Sehun melepas topangan dagunya,"You turned me on, sweetheart. Setidaknya bertanggung jawablah,"
Zitao menoleh cepat,"Jangan berbicara bahasa cabul padaku, aku tidak su-"
CHU~
Sehun dengan liciknya mendaratkan bibirnya pada bibir kucing milik Zitao. Kedua tangannya menangkup rahang Zitao mendekat. Melumatnya sesaat dan menyesapnya kuat sebelum ia melepas ciuman itu. Sehun tersenyum puas dengan wajah memerah Zitao di depannya.
"Berpacaranlah denganku Sehun,"mohon Zitao,"Aku menyukaimu,"
Suka?
Entah betapa bencinya Sehun dengan kata-kata itu. Satu kata yang sering Zitao gunakan untuk menggambarkan betapa ia menginginkan semua permen atau barang-barang favoritnya. Membuat Sehun merasa dirinya tidak terlalu berharga bagi Zitao.
"Tidak bisa Zitao, rasa suka saja tidak cukup,"Tolak Sehun entah untuk yang keberapa kalinya.
"Kenapa, apa kau membenciku?"tanya Zitao lagi tak mengerti.
"Menurtmu, apa aku membencimu?"Sehun justru balik bertanya,"Dengar Zitao, suatu hari nanti kau pasti tahu apa yang aku maksud,"Sehun mencoba memberi pengertian pada gadis yang lebih muda satu tahun darinya itu.
"Kau terdengar seperti penjahat wanita!"keluh Zitao,"Kau selalu memberiku harapan palsu!"
Sehun mendesah, jika sudah mulai merajuk seperti ini biasanya akan susah untuk menjinakkan Zitao. Maka Sehun menarik Zitao agar berbaring di tempat tidur, memeluknya dan mencoba meredam emosi gadis itu.
"Kau tidak bersikap manja seperti ini di depan orang lain kan?"selidik Sehun cemas. Karena Zitao yang seperti ini begitu menggemaskan. Kalau Sehun sendiri saja yang punya pertahanan diri yang kuat kadang bisa terhanyut apalagi orang biasa.
Sehun merasakan gelengan Zitao di dadanya,"Tidak, bukannya kau melarangku bersikap lemah di depan orang lain?,"suara gadis itu teredam baju depan milik Sehun saat Zitao mengeratkan pelukannya.
Sehun merasa lega, setidaknya dengan begitu ia yakin. Zitao yang manis hanya miliknya, secuilpun Sehun tidak mau membaginya dengan siapapun. Andai saja di dunia ini tidak ada permen dan barang-barang bermerk maka kebahagiaan Sehun akan lengkap. Memonopoli semua perhatian Zitao adalah ambisi tersendiri bagi Sehun.
"Hei Zi, sebenarnya maksudmu datang kemari apa?"tanya Sehun,"Tidak mungkin kau sengaja datang kemari untuk memperkosaku kan?"gurau Sehun yang terdengar tidak lucu di telinga Zitao.
Dengan cepat Zitao menjauhkan wajahnya dari dada Sehun,"Tentu saja tidak!"sangkal Zitao cepat,"Aku kemari untuk mengundangmu,"sambung Zitao dengan mata berbinar.
Namun Sehun justru mengangkat sebelah alisnya,"Mengundang untuk apa?"
Dengan semangat Zitao bangkit untuk duduk, tak menyadari raut kecewa di wajah Sehun saat gadis itu terlepas dari pelukannya."Untuk datang ke fashion Show!"Zitao terdengar sangat antusias,"Kau tahu Sehun, minggu depan akhirnya aku menjadi model utama, aku akan keluar paling akhir. Aku akan menjadi pusat perhatian. Sehun apa kau tahu perasaanku? Aku senang sekali, sudah lama aku memimpikan hal ini,"
Sehun diam, dia tahu akan terdengar kejam jika ia tidak ikut bahagia dengan kabar ini. Namun di lain sisi Sehun benar-benar benci jika Zitao sudah tenggelam dengan dunianya sendiri. Karena hal itu membuat Sehun merasa Zitao begitu jauh dan tak tersentuh.
"Kau akan datang kan?"pinta Zitao penuh harap.
"Aku tidak janji,"jawab Sehun seadanya.
"Kenapa?"Binar bahagia di wajah Zitao lenyap dan digantikan oleh raut kecewa.
"Aku ada janji dengan apa minggu depan,"
"Datang terlambatpun tak apa!"potong Zitao cepat,"Karena aku akan keluar paling akhir,"imbuh Zitao.
Sehun masih memikirkan keputusannya.
"Kumohon~"Sehun berani bersumpah demi apapun jika wajah Zitao saat ini sangat menggemaskan.
"Zi, kau tidak pernah memohon pada orang lain dengan cara seperti ini kan?"Tanya Sehun was-was.
Zitao menggeleng,"aku hanya pernah memohon padamu. Aku terbiasa memerintah pada orang lain,"
Sehun tersenyum puas mendengar ucapan Zitao,"Bagus, mungkin akan aku usahakan,"
"Eh?"ulang Zitao tak mengerti.
"Aku akan mengusahakan datang ke fashion Show mu,"jelas Sehun pada akhirnya.
Dan mata berbinar itu kembali,"Yeyyy, terima kasih Sehun,"Zitao bersorak dengan gembira.
.
.
.
Luhan membelalakan matanya saat ia mendapati ayahnya, Jung Yunho saat ia baru keluar dari restoran cepat saji bersama Minseok. Keterkejutannya semakin bertambah saat ia melihat sahabat ayahnya Park Yoochun dan putra tunggalnya yang saat ini paling tidak ingin Luhan temui, Park Chanyeol mendekat.
"Luhan, kenapa malam-malam begini kau masih berkeliaran?"tanya Yunho cemas sekaligus marah,"Astaga, bahkan kau belum mengganti seragammu,"
Luhan terlihat pucat pasi, sekilas ia melihat Chanyeol berusaha menahan tawanya di belakang. Luhan kesal sekali melihatnya,"Aku tidak berkeliaran, selama ini aku sering menyusahkan Minseok Sunbae. Hari ini aku hanya ingin mentraktirnya sebagai ucapan terimakasih,"jelas Luhan mencoba membela diri.,"Lagipula kenapa Appa berada di sini?"
"Appa sedang mengadakan jauman dengan client di sebuah cafe di gedung ini. Dan tanpa sengaja appa melihatmu,"terang Yunho,"Jadi dia sunbaemu di sekolah?"perhatian Yunho beralih pada Minseok
"Selamat malam, saya Kim Minseok. Senior Luhan di sekolah,"Minseok memperkenalkan diri sambil membungkukkan badannya.
Yunho terlihat mengangguk dalam,"Aku Jung Yunho ayah Luhan. Aku mewakili dia untuk meminta maaf jika selama ini dia selalu merepotkanmu anak muda,"
Minseok menggeleng pelan,"Tidak tuan Jung, Luhan adalah gadis yang baik. Dia sama sekali tidak pernah merepotkan saya,"
Luhan merasa terharu mendengar Minseok membelanya di depan sang ayah. Tanpa sadar ia tersenyum manis pada namja berpipi bakpao itu.
"Tapi menantu, kau tidak berniat selingkuh dari Chanyeol kan?"tiba-tiba saja Yoochun bertanya yang tidak-tidak.
Luhan mati kutu, dia bingung harus menjawab apa,"A-abo-nim, mana mungkin aku berbuat seperti itu. Minseok Sunbae hanya temanku, kalau tidak percaya tanyakan saja pada Chanyeol oppa,"
Minseok tersentak saat mendengar Luhan memanggil ayah Park Chanyeol dengan sebutan 'Abo-nim'. Sebenarnya hubungan seperti apa yang dimilik Luhan dengan penerus keluarga Park itu.
"Benar Chanyeol, kalian tidak sedang bertengkar kan?"tanya sang Ayah.
Chanyeol diam sesaat, dia melirik Luhan yang pucat pasi. Gadis itu tidak berani menatap wajahnya,"Itu benar appa, kami baik-baik saja. Luhan hanya benar-benar berterima kasih pada Minseok."
"Syukurlah kalau begitu, Chanyeol kau bisa mengantar Luhan pulang kan. Aku tidak tega melihatnya pulang sendiri,"pinta Yunho.
'Tentu saja Chanyeol bisa. Pria macam apa yang tidak mau mengantarkan tunangannya sendiri,"imbuh Yoochun.
Chanyeol, Luhan dan Minseok sama-sama membeku saat Yoochun mengatakan kata 'Tunangan' pada kalimatnya.
Akhirnya Minseok mengerti, hubungan macam apa yang sedang dijalani Luhan dengan pangeran sekolah itu,"Kalau begitu, saya sebaiknya undur diri dulu. Selamat malam,"pamit Minseok.
"S-sunbae.."Tahan Luhan dengan suara lirih yang sepertinya Minseok tidak mendengarnya. Pemuda bermata sipit itu terus berjalan menjauh.
"Pakailah mobil appa, biar nanti Yunho yang mengantarku,"perintah Yoochun sambil memberikan kunci mobilnya.
"Baik appa,"jawab Chanyeol sambil menerima kunci mobil itu,"Ayo Lu, kita pulang,"ajak Chanyeol sambil mengulurkan tangannya.
Karena ada ayahnya dan Yoochun ahjussi, maka dengan terpaksa Luhan meraih tangan Chanyeol.
"Hati-hati di jalan,"pesan kedua lelaki paruh baya itu sambil melihat kepergian Chanyeol dan Luhan.
Luhan segera mengibaskan tangannya saat kedua orang tua mereka sudah menghilang. Chanyeol hanya bisa menghela nafas pasrah lalu mengikuti langkah lebar Luhan menuju parkiran.
Gadis itu tiba lebih dulu disamping mobil, berdiri dengan kesal sambil melipat kedua tangan di dada. Bahkan saat Chanyeol sudah datang pun ia tidak bergeming. Yang dia mau Chanyeol segera membuka pintu agar ia bisa cepat pulang.
Chanyeol berjalan mendekat ke arah Luhan, menhimpit tubuh kurus itu ke badan mobil. Saat melihat Luhan tidak bereaksi dan justru membuang muka dengan sabar Chanyeol menarik dagu tunangannya itu dengan lembut dan menghadapkannya padanya.
"Dengar sayangku, aku memang memutuskan untuk memberimu kebebasan sebelum kita menikah nanti. Aku tidak ingin kau merasa tertekan dan kehilangan masa mudamu, sekarang aku sungguh menyesal karena sepertinya kau tidak nyaman lagi dengan hubungan kita,"terang Chanyeol dengan wajah yang begitu dekat.
Namun Luhan sama sekali tidak memerah dengan keadaan ini. Dia justru merasa muak dengan Chanyeol.
"Tapi bukan berarti aku akan mengizinkanmu bermain dengan orang lain seperti sekarang. Kau tahu sifatku kan?"tanya Chanyeol lembut.
Namun Luhan tetap menatap Chanyeol mendelik yang justru terkesan imut di mata pemuda itu. Karena gemas Chanyeol mengecup sekilas bibir tipis Luhan.
"Ya!"Luhan protes karena Chanyeol seenaknya sendiri menciumnya.
"Sudahlah Lu, hari ini aku sedang tidak berminat bertengkar denganmu. Lebih baik kita pulang saja,"kata Chanyeol final.
.
.
.
"Hei, Zitao. Tumben sekali kau terlihat bersemangat,"kata sebuah suara saat Zitao sedang berjalan di koridor. Tentu saja Zitao tahu siapa pemilik suara itu. Kalau bukan Wu Yifan Kris siapa lagi.
"Menjauh dariku dari radius lima meter,"sentak Zitao tegas yang membuat Kris terkejut.
"Hei, memang apa salahku?"protes Kris tidak terima.
"Aku tidak ingin menjadi santapan para penggemarmu tuan Wu, kenapa begitu saja tidak mengerti,"keluh Zitao.
"Tenang saja, mereka tidak akan sampai hati melukaimu. Sejujurnya mereka itu hanya gadis-gadis manis yang belum tahu banyak tentang dunia,"kilah Kris dengan bahasa yang menurut Zitao menyebalkan.
"Aku tidak berduli semanis apa para penggemarmu. Yang aku cemaskan hanya keselamatanku sendiri. Bagaimanapun caranya aku harus tetap hidup sampai Sehun menikahiku,"terang Zitao mantap.
Kris mengernyit,"Sehun, maksudmu ketua Jung?"tanya Kris, ini bukan kali pertama pemuda asal China itu menangkap opsesi di mata Zitao terhadap sang ketua OSIS.
Zitao mengangguk mantap,"Benar, memangnya disekolah ini ada orang lain yang bernama Sehun selain ketua OSIS?"Zitao justru balik bertanya.
"Hei kurasa kau sedikit berlebiha-"Kris belum sempat menyelesaikan kata-katanya saat ia melihat orang yang bersangkutan datang dari arah belakang. Tanpa mengucapkan salam langsung merangkul leher Zitao dari belakang dan menyeret gadis itu pergi.
"Waktu detensimu sudah di mulai nona Shim, kau harus ikut denganku,"kira-kira itu yang bisa Kris tangkap saat sang ketua OSIS menyeret Zitao dengan tidak manusiawi
"Uhuk, ketua Jung lepaskan aku, aku sulit bernafas!"keluh Zitao kesal namun Sehun tidak menggubrisnya dan lebih memilih menarik Zitao lebih cepat.
Walaupun dengan bersusah payah akhirnya Sehun dan Zitao sampai juga di ruang OSIS. Tapi bukannya melaksanakan detensi seperti menyalin laporan ataupun menjilit lembaran-lembaran Zitao justru disuguhi sekotak makan siang yang terlihat sangat menggiurkan.
"Umma yang membuatnya, kemarin malam Changmin ahjussi menelephon rumah mengatakan kalau beliau dan Vic Ahjumma pulang ke Qingdao dan kau ditinggal sendiri. Umma jadi cemas karena khawatir tidak ada yang memberimu makan,"
"Appa menelephon umma-nim?"ulang Zitao sambil mencomot telur gulung di kotak itu,"Ahhhhh mashita masakan umma-nim memang yang terbaik,"puji Zitao dengan wajah berbinar.
Mau tak mau Sehun ikut tersenyum melihat wajah bahagia Zitao. Sampai kapanpun Sehun tidak akan bosan memandang pahatan Tuhan yang sempurna itu.
Merasa dipandangi Zitao jadi kikuk sendiri,"Kau mau?"tawar Zitao.
Sehun tersenyum penuh arti,"Boleh, asal kau menyuapkannya dari mulut ke mulut,"
Mendengar itu Zitao menggembungkan pipinya kesal,"Aishhh menyebalkan, aku akan menghabiskannya sendiri,"setelah itu Zitao menyumpit makanan dengan semangat.
"Pelan-pelan, nanti kau tersedak,"Sehun dengan sabar memperingatkan Zitao,"Oh iya, yang di koridor tadi bukannya aktor yang digosipkan denganmu kemarin?"
Zitao hanya mengangguk, karena mulutnya kini penuh dengan makanan.
"Aku tidak menyukainya,"terang Sehun to the point.
Zitao mengerutkan alis,"Kenapa, Kris orang yang baik. Aku cukup menyukainya,"
Ada simpang empat muncul di pelipis Sehun. Suka katanya? Itu berarti Sehun mendapatkan saingan baru setelah permen dan barang-barang bermerk.
"Oh begitu.."balas Sehun datar
"Kenapa kau tidak menyukainya?"korek Zitao ingin tahu.
"Dagunya terlalu runcing,"jawab Sehun sekenanya.
"Ya!, alasan macam apa itu,?"keluh Zitao
Sehun menghentikkan bahu tak perduli. Malas berdebat dengan Zitao mengenai orang yang tidak ia suka.
"Aku selesai, terima kasih makanannya~"girang Zitao sambil mengemasi alat makan itu.
"Kau tidak ingin mengucapkan terima kasih padaku karena telah membawakannya?"tanya Sehun.
Zitao menggeleng,"Aku baru saja makan, mulutku pasti bau."
"Memangnya aku minta ciuman?"
Zitao terkesiap,"Memangnya bukan?"
"Kalau aku minta tubuhmu bagaimana?"tanya Sehun dengan mata berbahaya.
Zitao was-was, sekaligus waspada,"Dengar Jung Sehun, author cerita ini tidak berniat menaikan ratednya jadi dewasa. Jati aku mohon jangan berfikir yang macam-macam,"kilah Zitao sambil mengajungkan ujung sumpit pada Sehun, berusaha melindungi diri sepertinya.
"Apa kau tahu Zitao, alsan sebenarnya kenapa aku begitu membenci aktor berdagu runcing itu karena author sialan itu seenak jidaknya memasangkanmu dengannya di rated dewasa hingga dengan bebasnya Kris bisa melakukan yang iya-iya padamu. Sedangkan aku harus puas berada di rated yang aman denganmu tanpa bisa melakukan apapun. Apa kau pikir itu adil untukku?!"Sehun terdengar sangat kesal
"Stop Sehun, stop!"pinta Zitao sangat,"Kita tidak boleh keluar dari jalur, aku tidak ingin cerita ini berubah jadi komedi,"
"Memangnya aku ingin?!"sengit Sehun tak mau kalah.
"Baiklah, kalau kau begitu ingin meniduriku kenapa kau tidak pacaran denganku saja?"tawar Zitao.
"Tidak!"tolak Sehun cepat, tidak jika dia masih berada di level yang sama dengan aktor berdagu runcing itu. Level 'suka' yang menurut Sehun begitu sialan.
Zitao mendesah lelah, tidak mengerti apa sebenarnya yang diinginkan Sehun,"Sudahlah, aku sedang tidak mood bertengkar denganmu. Aku tidak mau hal ini sampai merusak rasa sukaku padamu Sehun,"lirih Zitao.
Ingin rasanya Sehun menghantamkan kepalanya ke tembok. Kenapa Zitao sulit sekali untuk mengerti. Sehun sama sekali tidak butuh rasa 'suka'. Dia ingin Zitao mencintainya, sama seperti dirinya yang begitu tergila-gila pada gadis itu.
TBC
#senyum
Taohun itu memang my guilty pleasure..
Mereka unyu banget, walaupun ga ada lucu-lucunya, aku cekikikan sepanjang menulis chap ini. Stres jadi hilang kalau membayangkan mereka berinteraksi.
I miss TaoHun, so much...
