Suho menyunggingkan senyum malaikatnya ketika ia memasuki aula besar. Lelaki ramah tersebut mengambil tempat duduk sesamping Lay Zhang yang sedang mengobrol santai dengan Xiu Kim tentang kegunaan tanaman obat yang dijelaskan oleh Profesor Sprout di kelas Herbologi.
"hei, apa yang sedang kalian bicarakan," Suho menyapa kedua rekannya sembari mengambil puding karamel favoritnya. Lay menoleh dan memandang Suho lebih lama. Satu asrama dengan Suho selama lima tahun membuatnya mengerti ada seusatu yang aneh dengan sahabatnya itu.
Suho melonggarkan dasi kuning dengan aparel musang itu kemudian menggulung kemeja putihnya hingga sebatas siku. "Aku akan menjelaskan pada kalian namun tidak disini. Aku hanya ingin menikmati puding kesayanganku ini tanpa interupsi," ujarnya santai.
Xiu mengerutkan dahi dan bertukar pandang tidak mengerti. "Aku harap ini ada hubungannya dengan pertandingan. Kita sudah membicarakan ini dengan jelas," pancing Xiu.
Suho hanya tersenyum separuh dan melanjutkan menikmati hidangan penutup yang disajikan oleh peri rumah Hogwarts itu dengan santai. "Aku pikir orang sepertimu tidak akan pernah bisa mengeluarkan ekspresi muka seperti itu," lanjut Xiu sembari mengunyah tart labu miliknya.
"Orang seperti dia? Orang seperti kita maksudmu mungkin. Yah biarkan saja mereka berpikir siapa yang akan menang. Aku tidak terlalu peduli. Biasanya pahlawan yang sesungguhnya akan menang di detik terakhir," sambung Lay.
"Kau terlalu naif Lay," ujar Suho menepuk-nepuk pundak Lay. Lelaki itu cemberut sembari memainkan tongkat sihirnya malas. "Tapi kau adalah aset terbaik kami," lanjut Suho yang langsung membuat Lay memamerkan lesung pipinya.
"Aku berharap kau membawa kabar baik, karena aku tidak mau melihat kerja keras kita berantakan hanya dikarenakan muka malaikatmu itu," ucap Xiu dingin. Suho menatap Xiu tajam. "Kau meragukanku Xiu?," Suho membelai tongkatnya dengan sayang.
Xiu menelan ludah. "Aku tak habis pikir bagaimana kau bisa ditempatkan di Hufflepuff dengan perangai seperti itu. Seharusnya kau berada di Slytherin," cemooh Xiu.
Lay mendengus. "Aku pikir seharusnya kita bertiga memang sudah salah masuk asrama, bukannya begitu?," ujar Lay polos. Dan ketiganya pun tergelak.
"Sebaiknya kita kembali," Suho mendorong piring pudingnya menjauh. Diikuti Lay dan Xiu, ketiganya meninggalkan aula besar tanpa mengetahui ada beberapa pasang mata memperhatikan.
Tak jauh dari meja Hufflepuff, seorang lelaki berkacamata menutup bukunya Arithmancy nya dengan cukup keras. "Aku juga merasa bahwa mereka itu sebenarnya jauh lebih mengerikan," guman Chen.
D.O yang sedang serius membaca Daily Prophet mengangkat wajahnya santai. "Kita sudah memperkirakan itu Chen, dan itu termasuk dalam agenda rapat tim untuk malam ini," D.O melipat korannya dan beranjak pergi. "Pakai dasimu Chen kita harus ke suatu tempat,"
Chen mengambil dasi biru-hitam nya dan memasangnya cepat. Dilihatnya emblem yang terjahit sempurna di ujung dasinya dan dia tersenyum bangga.
