Wah, it's difficult, really. Beberapa baris pertama ditulis sama Teh Beras. Sisanya... sampai bawah. SAYA! Mein gott...
Enjoy the story! Please Review, don't be silent reader...
"Ding, dong, ding, dong."
"Ah sial, aku terlambat, aku terlambat!"
"Eren?" Connie menyapa dengan heran.
Kaki Eren yang semula ngebut mendadak ngerem, dia menoleh pada rekannya yang gundul. "Connie! Kenapa kamu masih disini? Kita sudah terlambat!" Eren berlari kembali. Disapa Ms. Mina dengan lirikan tajam, tanpa memberi hormat Eren berlari menyusuri lorong.
Pintu kelas 1-2 mendadak terbuka kasar, Eren terperanjat, Keith Shadis membentak lebih keras dari derapan kaki muridnya. "Eren Jaeger, dilarang berlari di lorong!"
"Maaf, sir! Saya sudah terlambar, sir!" Eren berlari lagi. Keith Shadis dibiarkan melongo, Connie berhenti untuk memberi hormat lalu mengejar Eren dengan satu kaki diangkat.
"Lihatlah, Grisha Jaeger... putramu sudah menjadi anak berandal sekarang," bisik Keith Shadis penuh ironi.
Eren melakukan belokan tajam dan membanting pintu kelas terbuka dengan suara keras, di kelas sebelah Ms. Nanaba memutar mata dengan sebal. Eren mematung. Kelas kosong. Maksudnya, tidak ada seorangpun, tapi bangku dan papan tulis masih di tempatnya. Tas-tas masih disampirkan di sandaran kursi, kipas kelas berputar pelan.
Eren memastikan dia tidak salah masuk kelas. Eren bahkan membungkuk mengintip bawah meja, barangkali semua orang bersembunyi di sana. Jaga-jaga kalau teman-temannya dimakan Titan, Eren menjerit minta tolong.
Ms. Nanaba membanting kamus bahasa Inggris dan keluar kelas, murid-muridnya ketakutan melihat guru mereka yang biasanya manis berubah garang. Connie datang bersamaan dengan Ms. Nanaba, si botak itu berwajah inosen seperti biasa dan hanya bertanya, "Ada apa?"
"Datang ke sekolah terlambat, berlari di lorong, dan sekarang menjerit seperti perawan mau diperkosa! Apa maumu, Eren Jaeger?!" bentak Ms. Nanaba.
Eren menuding kelasnya yang kosong. "Tidak ada siapapun disini, Ms. Nanaba! Bagaimana kalau Titan baru saja menyerang, mereka semua dimakan! Ya Tuhan! Armin, Sasha! Ya ampun!"
"TITAN?! Berapa umurmu, Jaeger? Kau masih percaya pada Titan?!" Ms. Nanaba menjambak rambut Eren dengan sebal.
"Mana mungkin Titan muat di dalam kelas kita?" untuk pertama kalinya, permirsa... Connie mengatakan hal yang masuk di nalar manusia.
Eren mengerang kesakitan. Setelah rambutnya rontok 5 helai, Ms. Nanaba melepas cengkraman maut. "Kau benar, Connie. Lalu dimana semua orang?"
"Eren~... Connie~..."
Suara itu. Ms. Nanaba sudah berwajah sumringah bagaikan musafir menemukan oasis, dia yakin pemilik suara satu ini akan memecahkan permasalahan, sebentar lagi dia bisa kembali mengajar dengan damai. Eren dan Connie menoleh dengan gerakan slow motion, tersenyum cerah pada sosok Armin yang berlari tanpa suara. Ternyata diketahui sepatunya sudah diganti dengan sandal karet, permirsa.
"Sudah kuduga... hah, hah... kalian pasti terlambat, jadi aku minta ijin untuk menjemput kalian." Armin ngos-ngosan. CO2 yang keluar dari mulutnya disambut baik oleh tumbuhan lidah mertua di pojok kelas.
"Dimana semua orang, Armin? Kenapa kelasnya kosong?" tanya Eren to the point.
Armin menegakkan tubuh, mengusap keringat pasca lelah berlari. "Kalian pasti lupa kalau hari ini kita punya jadwal pemeriksaan kesehatan."
"Oh." Komentar Eren. Kemudian kepalanya dipukul oleh Ms. Nanaba. "Sakit, Ms. Nanaba! Kenapa Anda suka menyakiti kepala saya?"
"Pelajaran untuk murid bodoh dan pelupa!" Ms. Nanaba kembali ke kelas sebelah.
"Jadi, sekarang kita ke UKS?" tanya Connie.
Armin mengangguk.
.
.
.
Menghela napas penuh syukur, Eren mendapati semua teman kelasnya masih hidup. Mereka berbaris rapi di dalam ruang UKS yang luas, beberapa melambai pada Eren, beberapa menatap dengan ekspresi 'si bodoh itu terlambat dengan si bodoh-botak yang lain'.
Eren mendapati Levi bersandar di pojokan, memberi tatapan sepanas malam pertama. Eren mengingat kejadian kemarin dan bulu kuduknya merinding. Dia merapat pada Armin, berdiri di belakang Christa.
"Mana orang gila itu?" pertanyaan itu meluncur tanpa rem dari bibir merah Eren.
Semua orang menatap Eren. Jean berdecih. Ymir terkekeh. Yang lain tidak berkomentar. Christa yang pada dasarnya sudah memiliki kepribadian dewi, selalu berbuat kebaikan, menyentuh pundak Eren. "Beruntung beliau sedang terlambat, Eren. Kita tidak tahu apa yang beliau rencanakan pada kelinci kali ini..."
Puluhan mata beralih pada Armin. Si kepala jamur bergetar kecil dan memeluk tubuhnya sendiri. "Hentikan, jangan menatapku..." berbagai ingatan kelam berkelebat dalam otaknya, rintihan, keringat, suara seseorang. Armin tidak tahan dan bergelung di lantai mirip trenggiling.
"Armin!" Eren panik, diraihnya pundak sahabatnya. "Christa, jangan buat Armin mengingat kala dia menjadi kelinci kurban!"
"A-aku... tidak apa-apa... aku... baik-baik saja..." kakek Armin memberikan nama padanya yang berarti pejuang, prajurit yang pantang menyerah, Armin kan kuat. Perlahan dia berdiri dan memasang pose tegap khas tentara Shiganshina.
Sikap Armin dihadiahi tepukan tangan dari kolega kelasnya. Semua menyemangati Armin, kecuali Levi, dia tidak tahu apa-apa.
Kemudian lampu UKS mati, semua orang diam, merasa seluruh indera mereka sensitif mendadak. Penasaran dengan cara orang gila ini muncul.
Suara gedubrak. Sasha menjerit kecil dan jatuh, tanpa sengaja menduduki rebusan kentang di saku roknya sampai penyet. "Kentang-kun~" rintihnya.
Kratak... kratak... kratak...
Lampu menyala dan sebuah kursi hitam berputar cepat di depan barisan, seseorang berkulit kecoklatan duduk memeluk sandaran. "Yuhu~... murid-murid SMA Shiganshina yang kucinta! Huek~" dia jatuh dari kursi dengan mulut terbuka hampir muntah.
Levi speechless. Dia tidak akan menyalahkan ketidaksopanan Eren memanggil orang ini dengan sebutan 'orang gila'.
Eren dkk memandang gumpalan daging hidup yang sedang menahan muntah dengan tatapan yandere. Kalau bisa mereka akan menoleh ke arah lain dan pura-pura tidak kenal. Sayang sekali tidak ada alasan untuk tidak mengenal orang gila ini.
Suara rintihan. Atau erangan. Khas nenek sihir dari orang itu. Dia berdiri tegap dan merapikan anak rambut yang lepas dari ikatannya, kacamatanya dibiarkan miring sebelah, dia langsung menghentakkan kaki. Semua murid berpose hormat.
Lagi-lagi Levi speechless. Kenapa semua orang tidak tertawa, malah sekarang suasananya mirip dengan kantor Dot Pixis. Dia belum terbiasa dengan kehidupan SMA yang penuh keanehan.
"Secepatnya begitu semester dimulai, secara rutin diadakan pemeriksaan kesehatan fisik bagi murid SMA Shiganshina. Aku, Hanji Zoe, akan menjadi dokter yang bertanggung jawab dengan pemeriksaan kelas 3-4. Aku melakukan pidato pembuka karena kulihat ada murid baru diantara kalian, apa ada pertanyaan?" Suara yang keluar membuat Levi semakin meragukan kualitas penglihatannya, ilusi optik kah? Levi ragu dengan ciri kelamin sekunder orang ini. Bagian atas tidak menonjol, bagian bawahpun rata.
Murid-murid kelas 3-4 menghentakkan kaki dan menjawab serempak. "Tidak ada, Missir. Hanji!"
Levi memejamkan mata. Baru kali ini dia bertemu manusia hemaphrodit asli.
Hanji terkekeh saat dia melihat Armin bergidik di tempatnya berdiri. "Seperti biasa akan ada 2 fase pemeriksaan. Yang pertama adalah pemeriksaan normal, dan yang kedua adalah pemeriksaan kelinci. Siapa yang ingin menjadi kelinci sukarela?" Hanji mendadak menempelkan dahinya pada dahi Armin, menatap mantan korbannya dengan seringai lebar. Armin pingsan.
"Armin!" jerit Eren.
"Satu, dua, tiga!" Christa memimpin intruksi untuk membopong Armin dan menidurkan kerabat-sama-sama-pirang ke atas ranjang UKS.
"Kita pilih kelincinya nanti saja," putus Hanji. Dia mengambil buku absen dan mulai menyusuri daftar nama. "Mulai dari absen bawah atau atas?"
Jeritan protes terdengar dari mereka yang memiliki absen 'kepala' dan absen 'ekor'. Eren tenang saja, nama belakangnya Jaeger. Huruf J.
"Dari atas ah..." kata Hanji sambil tertawa. "Huruf A, ya... hm... Ac.. Ackerman, Levi. Si murid baru, ayo maju sini!" Hanji melambaikan tangan pada Levi yang masih mojok.
Barisan menepi memberi jalan pada Levi. Hanji mencondongkan tubuh ke depan. Lalu tertawa keras. "Ternyata kau lebih cebol kalau dilihat dari depan!" tubuh Hanji melengkung ke belakang karena tawanya.
Sudut mata Levi berkedut. Dia ingin mencekik leher Hanji, tapi takut kelihatan sedang melawak kalau dia harus berjinjit untuk melakukan itu. Kedua tangannya mengepal di dalam saku celana.
"Missir. Hanji, Anda keterlaluan. Bisakah Anda bersikap layaknya dokter UKS? Anda juga tenaga pendidik disini, Anda harus memberi contoh yang baik bagi murid yang lain."
"Kyaaa~" Hanji menjerit alay dan merangkul Eren dalam pelukannya. "Ternyata bocah yang masih suka nonton anime Serangan Raksasa bisa bicara bijak seperti ini... kya~ Grisha Jaeger, putramu sudah dewasa! Tapi dia masih belum mimpi basah!" Hanji tertawa lagi.
Eren merona dari wajah sampai leher. Diam-diam dia bersyukur teman-temannya tidak berkomentar. Murid SMA Shiganshina sudah makan asam-garam pemberian Hanji Zoe selama masa bangku sekolah.
Setelah tertawa 2 menit penuh, Hanji menyusut air matanya dan menyuruh Levi berdiri di atas timbangan berat badan. Seharusnya seorang dokter menjaga rahasia pasiennya, tapi Hanji akan membaca keras-keras info yang dia dapat.
"Tinggi 160 cm, berat badan 70 kg. Bukankah kau terlalu berat untuk bocah cebol berwajah tua?" Hanji tertawa lagi.
Reiner Braun maju selangkah untuk menepuk pundak Levi, memberi tatapan penuh simpati 'bersabarlah dengan orang ini'. Levi mengangguk.
"Buka bajumu," kata Hanji sambil mencatat.
"Ha?" tanya Levi.
"Buka seragammu, aku harus melihat tubuh bagian atasmu, tanpa busana," Hanji menjelaskan.
Levi menoleh pada Reiner, Reiner mengangguk. Jean juga mengangguk. Tanpa suara Christa mengatakan. "Lakukan saja."
Setelah semua garmen berjatuhan di lantai, semua murid perempuan bahkan Hanji menjerit senang. Tubuh boleh cebol, tapi dengan otot di sekujur tubuh dan pack yang bertebaran di perut, kaum hawa akan senang.
Otot lengan Levi berdenyut saat dia menahan diri untuk tidak membungkam semua jeritan dengan cekikan maut di leher. Eren menyembunyikan rona pipinya dengan menoleh ke arah Armin yang masih pingsan.
Tubuh itu yang kemarin memojokkanku di dinding.
Pemikiran itu membuat Eren malu sendiri.
Ymir menutup mata Christa dengan tangannya, mengomel tentang menjaga kesucian mata anak gadis.
"Huh, aku masih lebih keren dari dia," gumam Jean. Tapi wajahnya merona, dia iri setengah mati dengan bentuk tubuh Levi.
Reiner menganggukkan kepala setuju. Dia berjanji pada diri sendiri akan melakukan fitness setiap hari sampai badannya bisa berotot seperti Levi.
"Kau seksi sekali, Levi!" puji Hanji dengan iler hampir menetes dari sudut mulut. Dia mencatat lagi, kemudian menyuruh Levi memakai seragamnya lagi. Begini-begini Hanji tidak mau dituduh menyiarkan konten porno pada murid-muridnya.
"Berapa jam sehari kau tidur, Levi? Kau punya kantong mata panda," tanya Hanji dengan suara normal. Ilernya sudah dilap bersih.
"3-5 jam," jawab Levi singkat. Seketika Eren menajamkan penglihatan dan mengamati nuansa gelap di kelopak bawah mata Levi. Eren bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Levi punya insomnia.
Kening Hanji berkerut. "Itu tidak baik, Levi. Kau harus minum susu dan mendapat jatah tidur yang cukup, supaya kau bisa tumbuh lebih tinggi!" Hanji tertawa.
"Kacamata brengsek!" maki Levi. Akhirnya. Keluar juga umpatan.
Tawa Hanji membahana. "Aku suka ini, baru pertama kali ada murid berani mengataiku terang-terangan. Benar-benar."
"Si pirang itu tidak mengatakan apa-apa?" gumam Levi dengan suara lebih terkontrol.
"Mengatakan apa? Aku tidak mengerti!" Hanji tertawa sampai membungkuk memegangi perut.
"Benar-benar, si pirang itu tidak mengatakan apa-apa sebelum kau masuk kemari, kacamata busuk?" ulang Levi. Tentang siapa aku dan bagaimana bisa kau berani menghinaku di depan bocah-bocah SMA.
Tawa Hanji berhenti, dia berdiri tegap dan bersandar di tepi mejanya yang penuh dokumen berantakkan. "Apa pengaruhnya?" senyum membentuk kurva di wajahnya yang manis-maskulin. "Kau berada di daerah kekuasaanku," Hanji merentangkan kedua tangan. "Kata-kataku mutlak disini dan aku bisa membuatmu berlutut mencium kakiku kalau aku mau."
Mungkin murid lain hanya menyadari suara Hanji yang mendadak serius, tapi Eren merasakan hal yang berbeda. Eren tahu, Hanji mungkin mengenal Levi lebih baik dari seluruh murid kelas 3-4.
"Jadi aku berhak mengerjai muridku, sekalipun kau marah, aku tidak peduli, Levi-kun!" Hanji tertawa lagi. "Pemeriksaan selesai, Levi. Silakan kembali."
Nama berikutnya yang dipanggil adalah Sasha Braus. Hanji menyuruh Sasha untuk melepas sepatunya sebelum menginjak papan timbangan. Setelah mengamati panel yang menunjukkan angka mengherankan, Hanji menatap Sasha.
"Keluarkan semuanya," kata Hanji.
"Keluarkan apa, Missir?" Sasha bertanya balik.
"Di kantong kemeja, kantong jas, kantong rok, dan kantong tersembunyi lainnya," Hanji mengangsurkan nampan ke depan Sasha.
Kemudian nampan itu hampir penuh dengan berbagai produk olahan kentang. Mulai dari kentang kukus sampai kentang bakar. Hanji menatap panel timbangan dan tersenyum. "Nah, angkanya baru benar sekarang. Tapi kau terlalu gemuk, Sasha. Kau lebih berat dari catatan Bertholdt semester lalu."
Sasha melongo. Teman sekelasnya tertawa keras. Connie cemberut. "Dengarkan aku, Sasha! Mulai sekarang aku melarangmu makan kentang!"
"Connie~!" Sasha merengek.
Pemeriksaan untuk murid perempuan tidak melingkupi acara buka baju, diganti dengan pengukuran lingkar tubuh menggunakan meteran secara manual. Secara keseluruhan tidak ada murid yang kesehatannya bermasalah.
Levi berjinjit demi mendapat visual terbaik saat tiba Eren melepas baju. Eren menggeliat seperti cacing saat Hanji menatapnya dari berbagai sudut. Levi bergumam. "Tidak buruk."
"Kyaaa~ bocah Titanku sudah punya sixpack ya," Hanji menoel permukaan kulit perut Eren. Eren merinding.
Hanji menobatkan Eren dalam posisi kedua tubuh paling proporsional setelah Jean. Eren lebih kurus dari Jean, tapi otot dalam perkembangan mengimbangi kekurangannya. Hanji menyarankan Eren untuk bangga dengan bentuk tubuhnya, dan melarang Eren berjalan bungkuk kalau sedang malu.
Begitu Hanji menutup buku, semua orang mendesah lega. Sambil merapikan baju, murid laki-laki hendak keluar UKS saat dokter abnormal itu berteriak. "Waktunya memilih kelinci!"
"Kalau begitu, murid perempuan boleh keluar, Missir?" tanya Ymir. Dia tidak sabar ingin mencuci mata Christa dengan air kembang 104 rupa. Supaya suci kembali.
"Silakan," Hanji mengangguk. "Oh, siapapun tolong panggilkan Erwin kemari. Katakan saja aku mencarinya."
UKS tinggal berisi kaum adam dan kaum multi-gender. Hanji mengambil tabung reaksi yang masih disumbat tutup gabus, di dalamnya cairan keemasan berkecipak kecil mengancam murid laki-laki.
"Aku memberi kesempatan bagi siapapun yang mau melakukannya..." Hanji menyeringai.
Semua orang menggeleng.
"Kalau begitu, kalian harus kompak menunjuk seseorang sebagai kambing hitam," seringai Hanji melebar.
Semua telunjuk menuding Armin yang tergeletak tak sadarkan diri. Hanji menggeleng tidak seuju. "Kalian tidak kasihan pada Armin?!" bentak Hanji. "Eren Jaeger, kau sahabatnya, kan? Jadilah laki-laki dewasa dan minum ini demi Armin!"
Mata Eren melebar. Murid yang lain menghela napas lega. Eren menggeleng. Hanji menjentikkan jari, lengan dan tubuh Eren dipegangi belasan ngakunya-teman-sekelas. Tawa keji keluar dari mulut Hanji saat dia memaksa Eren minum. Levi berdecih. Kagum dengan 'kesetiakawanan' murid kelas 3-4. Tapi sebenarnya Levi juga tidak akan mau jadi kelinci kurban Hanji.
Eren terengah-engah. Mulai panik seiring cairan memasuki sistem pencernaan. "Ramuan apa lagi ini, Missir? Apa racun?"
Hanji cemberut. "Aku tidak akan membunuh muridku. Sekarang tutup matamu dulu ya..." dia memasangkan kain hitam penutup mata Eren. "Seharusnya kalian tahu bahwa selain fakta aku seorang ilmuan dan dokter, aku seorang fujo sejati."
Sontak Eren terkesiap dan berontak. Pegangan di tubuhnya semakin kencang. Bertholdt bertanya dengan suara tercekik. "Missir, Anda tidak memberi ramuan yang sama dengan Armin dulu kan?"
Ilmuan gila menggeleng. Bertholdt menghela napas lega. "Tapi ini merupakan versi yang lebih ampuh dari versi Armin dulu!" kalimat imbuhan dari Hanji membuat semua tangan menjauh dari Eren.
Sekarang para murid laki-laki itu merapat di dinding, di belakang Hanji seolah takut Eren akan meledak menjadi Titan.
Jantung Eren sudah bertalu-talu di tempatnya. Sudah terlanjur diminum. Hanji-dokter-mal-praktik-sialan harus membayar ganti rugi nanti.
1 menit
5 menit
Kaki Jean mulai gemetar. Setengah berharap Eren akan melihatnya.
10 menit
Reiner menghadap dinding dan berdoa supaya Eren tidak melihat ke arahnya terlebih dahulu.
15 menit
Hanji bertepuk tangan. "Siapapun tolong buka penutup matanya!"
"Tidak!" jawab semua murid serentak.
Tapi Levi berjalan mendekat. Dia berdiri di depan Eren dan menyadari kulit Eren berwarna sedikit kemerahan, napasnya secara mengejutkan terengah-engah.
Saat penutup mata dilepas, Eren memejamkan mata erat-erat. Levi menaikkan alis. "Ada apa? Buka matamu."
Eren menggeleng. "Tidak! Aku tahu apa yang akan terjadi kalau aku membuka mata. Aku sudah pernah melihat apa yang terjadi pada Armin."
"Kalau kau tidak membuka mata, kau tidak akan tahu apa yang kulakukan padamu," Levi memberi peringatan.
Hanji mulai menggigiti kuku jempolnya, dia menyuruh murid-murid di belakangnya untuk menghadap dinding saja daripada shock nantinya dengan perubahan tingkah Eren.
"Levi-san, apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Eren.
"Membuatmu membuka mata," Levi memastikan hanya Hanji yang masih membuka mata-dan dia tidak peduli, dia berjinjit dan menempelkan bibirnya pada bibir Eren.
Eren benar-benar membuka matanya. Terkejut lebih pada shock saat menyadari dia dan Levi sekarang tanpa jarak sedikitpun. Levi menarik diri, dan saat itulah mata mereka bertemu. Sengatan listrik statis non-verbal merambat ke seluruh saraf Eren.
"Sudah bereaksi," bisik Hanji penuh kepuasan batin.
