Who Are You?
Summary:
Baekhyun menggunakan identitas temannya untuk bertemu Chanyeol. Baekhyun pikir itu hanya akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir seperti rencana awal. Tapi siapa sangka takdir kembali mempertemukan mereka dan memaksa Baekhyun terus berperan menjadi orang lain.
Gender Switch!
Rated:
T
Genre:
Friendship, Romance
Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Seo Joo Hyun aka Seohyun
Hye Rin sedang pergi ke sekolah saat Nyonya Park mondar-mandir di ruang tengah dengan mesin penghisap debu. Di sudut jendela, dia melihat putranya duduk merenung menatap langit sambil menikmati hembusan angin yang datang dari taman rumah mereka, sedangkan di tangannya memutar-mutar kubik tak beraturan. Itu adalah kebiasaan Chanyeol sejak kecil jika dia sedang memikirkan sesuatu dan kebiasaan itu terbawa hingga dia dewasa.
"Hei, melamun terus!" Nyonya Park menepuk pundak Chanyeol, sengaja untuk membangunkan Chanyeol dari lamunannya.
"Aigoo… apa yang kau pikirkan pagi-pagi begini?" Ibu Chanyeol menggerutu sambil menggosok lantai dengan vacuum cleaner. Chanyeol bahkan tidak sadar sejak kapan ibunya sibuk membersihkan rumah. Sepertinya dia tadi terlalu larut dalam lamunannya.
Chanyeol tersenyum lembut pada ibunya lalu turun dari jendela. "Berikan padaku Bu, biar aku yang melakukannya," ujar Chanyeol menawarkan bantuan. Nyonya Park menggeleng sebagai jawaban. "Lebih baik kau pergi keluar dan melakukan sesuatu. Ibu pikir banyak hal yang ingin kau lakukan setibanya di Korea. Tapi yang kau lakukan hanya melamun terus."
"Aku tidak tahu harus melakukan apa," jawab Chanyeol jujur.
Nyonya Park memandang sinis putranya. "Pergilah mencari kampus atau cari pekerjaan saja. Kau akhir-akhir ini lebih banyak menganggur. Ibu pusing melihatmu dirumah," omel ibunya.
Chanyeol tertawa kecil. "Aku sedang melakukannya Bu, tapi memang belum ada kampus yang cocok untukku."
"Kenapa tidak minta bantuan Seohyun saja? Dia bisa membantumu mencari kampus di Seoul kan? Ibu yakin dia mau melakukannya," saran ibunya.
Ekspresi Chanyeol berubah murung. Yang membuatnya duduk di jendela adalah Seohyun. Memikirkan mengapa temannya itu berbohong padanya soal pergi ke luar negeri.
"Aku bisa mengurusnya sendiri, Bu," jawab Chanyeol.
Ponsel Chanyeol berdering dari dalam saku celananya. Ibunya yang mengerti Chanyeol akan menerima panggilan, memberi kode pada Chanyeol bahwa beliau akan pergi ke belakang karena tidak ingin menggangu pembicaraannya.
Chanyeol melihat nomor tidak dikenal yang terpajang di layar ponselnya. Awalnya dia ragu untuk menerima panggilan itu, namun saat berpikir itu mungkin hal yang penting, membuatnya menjawab panggilan tersebut.
"Halo," sapa Chanyeol saat pertama kali menerima panggilan itu.
"Halo, apa benar ini nomor ponsel Park Chanyeol?" tanya seseorang diujung panggilan dengan bahasa formal.
"Ya, ini saya sendiri. Dengan siapa saya berbicara?" balas Chanyeol tak kalah formal. Karena dia sendiri tidak tahu dengan siapa dia berbicara.
"Ah syukurlah," suara wanita itu terdengar lega. "Kau ingat aku?" bahasanya berubah menjadi informal. Chanyeol hanya mengernyit bingung, yang tentu saja tidak bisa dilihat lawan bicaranya.
"Aku yang menabrak mobilmu beberapa hari yang lalu di parkiran mall," ujarnya berusaha mengingatkan.
"Oh… aku mengingatnya," jawab Chanyeol. "Ada alasan apa menghubungiku?" tanya Chanyeol.
Hening beberapa saat sebelum akhirnya lawan bicaranya menjawab. "Hmm… kau tidak menghubungiku sejak kejadian itu. Apa semuanya baik-baik saja?"
"Ya, tenang saja. Aku sudah mengurusnya. Jasa asuransi mau menanggungnya. Kau tidak perlu khawatir," jelas Chanyeol.
"Begitu ya," tanggapannya terdengar kecewa namun Chanyeol tidak menyadarinya.
"Apa ada hal lainnya?" tanya Chanyeol.
"Tidak ada sih…"
Chanyeol mengangguk kecil. "Kalau begitu aku akhiri."
"Tunggu sebentar!" cegah wanita itu saat Chanyeol hendak mematikan ponselnya. Ia pun kembali menempelkan benda persegi itu di telinganya.
"Ada hal lain?" tanya Chanyeol.
"Hmm, Kau sedang sibuk ya?" tanya lawan bicaranya ragu-ragu.
"Tidak juga," jawab Chanyeol jujur. Dia memang tidak punya kegiatan apapun untuk dilakukan.
"Kalau begitu apa kau punya waktu malam ini? Aku ingin mentraktirmu makan malam."
"Makan malam?" Chanyeol mengulang perkataan lawan bicaranya. Seakan-akan ada yang salah dengan undangan itu.
"Hanya sekedar sebagai tanda minta maaf. Itu pun jika kau tidak keberatan."
Chanyeol berpikir beberapa saat. Ia teringat perkataan ibunya yang menyuruhnya keluar dan mencari udara segar. Mungkin saja bertemu seseorang yang menabrak mobilnya tidak terlalu buruk.
"Baiklah, dimana?"
"Sungguh?" suara wanita itu terdengar tidak percaya. "Maksudku… senang sekali kau menyetujuinya. Kalau begitu akan kukirimkan alamatnya lewat sms. Kita bertemu pukul tujuh. Bagaimana?"
"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti" jawab Chanyeol sebelum akhirnya mengakhiri pembicaraan mereka.
.
.
.
Who Are You?
.
.
.
Baekhyun sedang mengisi buku tulisnya dengan deretan rumus menggunakan bahasa yang menurutnya akan lebih mudah dimengerti untuk Hye Rin. Dia memang sungguh-sungguh saat mengajar murid-muridnya. Baekhyun selalu menikmati waktunya sebagai guru yang membagikan ilmu. Baekhyun sangat suka melihat binar di mata murid-muridnya saat dia menjawab pertanyaan mereka. Seakan dia sudah memberikan pencerahan yang mereka cari, antusiasme di mata muridnya membuat perasaan bangga membuncah di hatinya.
Baekhyun membuka kacamata bacanya lalu memijat pelan pelipisnya. Dia melihat jam dinding di perpustakaan menunjukkan pukul tiga. Seohyun tadi berbicara melalui kakaotalk akan menyusulnya saat Baekhyun mengajaknya bertemu namun sahabatnya itu belum juga datang.
Mungkin masih ada kelas, pikir Baekhyun.
Baekhyun menghela nafas. Dia harus menceritakan soal pertemuan tak terduganya dengan Chanyeol. Seohyun harus tahu kalau rencananya dikacaukan oleh takdir. Baekhyun tidak ingin bertemu Chanyeol secara diam-diam tanpa diketahui Seohyun. Bagaimanapun juga, dia terseret ke dalam cerita ini karena rencana Seohyun.
Baru saja Baekhyun memikirkan sahabatnya itu, Seohyun sudah muncul dari pintu masuk perpustakaan. Beberapa saat wanita itu memalingkan wajah ke beberapa meja untuk mencari Baekhyun. Dan saat dia menemukan Baekhyun, dia begitu bersemangat melambaikan kedua tangannya. Baekhyun hanya tersenyum simpul melihat tingkah Seohyun yang menurutnya sedikit berbeda.
Seohyun segera menyusul Baekhyun dan duduk di kursi kosong sebelah Baekhyun. Tanpa aba-aba, dia langsung bercerita dengan semangat.
"Baekhyun, kau tidak akan percaya ini!" seru Seohyun dengan suara sepelan mungkin, namun tetap saja terdengar keras karena dia begitu bersemangat. Baekhyun harus memperingatkannya kalau mereka sedang di perpustakaan sebelum Seohyun menjerit.
"Ada apa?" tanya Baekhyun.
"Aku tidak pernah merasa seberuntung ini saat menabrak mobil orang lain," gumam Seohyun dengan senyum lebar.
Baekhyun mengernyit tidak mengerti. "Kau senang karena korbannya tidak minta ganti rugi?" tebak Baekhyun.
Seohyun menggeleng lalu tersenyum misterius. "Dia tampan," jawab Seohyun.
"Heh?" celetuk Baekhyun dengan raut wajah bingung.
"Pemilik mobil itu sangat tampan. Kau harus melihatnya secara langsung. Dia seperti tokoh anime dalam wujud nyata. Dia tinggi, mempesona, keren, semuanya. Kepribadiannya juga baik. Benar-benar sempurna," puji Seohyun berlebihan.
Baekhyun memutar bola matanya. Seohyun sudah sering berbicara soal lelaki tampan dan mengagumi mereka, tapi semuanya berakhir tidak berjalan lancar karena gadis itu cepat merasa bosan atau karena Seohyun menemukan lelaki yang menurutnya jauh lebih tampan dari lelaki sebelumnya.
"Lalu?" tanya Baekhyun tidak tertarik.
"Aku akan makan malam dengannya hari ini!" jerit Seohyun kegirangan sampai Baekhyun harus membekap mulut sahabatnya dengan sebelah tangannya supaya suara hebohnya tidak terdengar hingga ke seluruh ruang perpustakaan. Orang-orang menatap mereka dengan tatapan sinis. Baekhyun menunduk dalam-dalam karena malu.
"Kecilkan suaramu," bisik Baekhyun di telinga Seohyun.
Seohyun memandang sinis pada orang-orang. "Mengapa kutu buku disini sensitif sekali?" gerutunya kesal. Baekhyun menyikut Seohyun agar menutup mulutnya.
"Jadi kau akan pergi malam ini?" tanya Baekhyun.
Seohyun mengangguk dengan senyum sumringah. "Aku senang sekali Baekachu," ujarnya sambil bergelayut manja di lengan Baekhyun. Membuat sahabatnya itu terkikik geli dengan tingkah Seohyun.
"Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Baekhyun dengan nada serius.
Seohyun melepaskan lengan Baekhyun lalu mendengarkan Baekhyun.
"Katakan saja. Membaca pesanmu tadi, kupikir ada sesuatu yang penting," ujar Seohyun.
Baekhyun menatap Seohyun. "Aku bertemu Chanyeol lagi kemarin," ujarnya.
Seohyun menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut.
"Dia kakak kandung dari muridku," sambung Baekhyun.
Seohyun membelalakkan matanya. "Kau serius?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
"Tapi Chanyeol memang punya adik perempuan kan?" gumam Seohyun setelah mengingat-ingat masa lalu mereka.
"Tunggu sebentar… Apa itu artinya kau akan terus bertemu Chanyeol?" tanya Seohyun panik.
Baekhyun mengangguk lemas.
"Kebetulan macam apa ini?"
"Dunia ini sempit bukan? Dari sekian banyak murid SMP, bagaimana bisa aku mengajar adiknya?"
"Kalau begitu berhenti saja," saran Seohyun.
Baekhyun menatap Seohyun lalu menggeleng. "Tidak mau," jawabnya.
"Kenapa?"
"Aku mengajar adiknya. Tidak ada hubungannya dengan Chanyeol. Apa aku akan berhenti hanya karena memiliki urusan pribadi dengan Chanyeol?"
"Tentu saja!" sergah Seohyun. "Apa kau bisa mengajar dan terus berpura-pura menjadi diriku? Apa kau akan baik-baik saja?"
"Aku akan bicara yang sejujurnya pada Chanyeol," jawab Baekhyun.
"Apa kau gila?"
Baekhyun mengernyit. Menunggu maksud perkataan Seohyun.
"Kau berbohong padanya mengatakan kau akan pergi ke Amerika, tapi kenyataannya kau muncul di rumahnya sebagai guru adiknya. Alasan kau berbohong soal itu saja dia tidak mengerti. Dan kau akan mengatakan kalau kau adalah Baekhyun. Lalu apa yang terjadi? Apa kau pikir Chanyeol akan menyambutmu sebagai teman lama?"
Baekhyun menggeleng tak yakin.
"Itu dia! Chanyeol pasti akan marah kalau tahu kita berdua sudah bersekongkol berbohong padanya. Jika kau ada di posisinya, apa kau tidak marah mengetahui sahabat dan cinta pertamamu berbohong padamu?"
Baekhyun kembali menggeleng.
"Karena itulah jangan bicara apapun padanya. Jika kau bersikeras tetap mengajar adiknya, setidaknya jaga jarak dengan Chanyeol."
Baekhyun menghela nafas berat. "Tapi sampai kapan aku akan terus berbohong? Cepat atau lambat dia pasti akan tahu," ujar Baekhyun khawatir.
"Tenang saja, selama kau tidak bertingkah mencurigakan, semua akan baik-baik saja."
"Aku tidak yakin," jawab Baekhyun.
"Dan jika dia bertanya soal kenapa kau masih berada di Korea, katakan saja kau ada urusan mendesak yang mendadak atau masalah visa atau apa saja yang membuatmu batal pergi. Yang jelas alasan masuk akal yang bisa dia terima."
"Apa salahnya bicara jujur?" tanya Baekhyun.
"Dia pasti akan mencariku setelah tahu kau adalah Baekhyun, bukannya Seohyun. Setelah itu menuntut penjelasanku. Ah… membayangkannya saja membuatku malas. Jika aku bertemu lagi dengan Chanyeol, semua semakin berbelit-belit. Dia akan menempel terus denganku seperti dulu. Itu sangat mengganggu. Kita bukan anak-anak lagi kan," gerutu Seohyun.
"Baekhyun, kumohon kali ini saja bantu aku. Selama kau bersama Chanyeol, kau adalah Seohyun. Kau mengerti?" Seohyun menatap Baekhyun dengan tatapan memohon. Mau tidak mau, membuat Baekhyun lagi-lagi mengiyakan keinginan sahabatnya.
"Terimakasih Baekhyun-ah. Aku yakin kau bisa melakukannya," kata Seohyun memberi semangat.
Seohyun melihat jam tangan rolex di pergelangan kirinya. "Aku ada janji ke salon dan butik untuk persiapan makan malam nanti. Tidak apa-apa aku tinggal kan?" tanya Seohyun dengan nada bersalah.
"Kenapa buru-buru sekali? Kau masih punya banyak waktu," protes Baekhyun.
"Aku harus mempersiapkan diri dengan baik. Dia adalah lelaki berbeda dari laki-laki sebelumnya yang pernah aku temui," ujar Seohyun dengan raut wajah ceria.
Baekhyun tersenyum tipis. "Kalau begitu pergilah. Aku harap pertemuan kalian berjalan lancar."
Seohyun meminta Baekhyun mendoakannya sebelum dia pergi meninggalkan ruang perpustakaan.
Baekhyun termangu. Jadi untuk siapa kebohongan ini? Apakah untuk dirinya sendiri atau untuk kebaikan Chanyeol atau untuk kenyamanan Seohyun?
.
.
.
Who Are You?
.
.
.
Chanyeol sedang menyetir saat adik perempuannya berusaha merusak konsentrasinya dengan mengganti-ganti musik di mobilnya dengan sembarangan. Seperti biasa, Chanyeol memang menyempatkan diri untuk menjemput Hye Rin sepulang sekolah. Tadinya dia ingin membiarkan adik perempuannya itu naik bus saja karena mobilnya masih berada di bengkel, lagipula dia punya janji makan malam. Namun dia memutuskan untuk datang sedikit terlambat ke acara makan malamnya dan mengantar Hye Rin ke rumah terlebih dahulu dengan mobil sedan yang dipinjamkan ayahnya.
"Hye Rin, berhentilah main-main dan dengarkan satu lagu saja," tegur Chanyeol sehalus mungkin. Namun tetap saja membuat adik perempuannya itu memasang ekspresi cemberut.
"Aku mengerti," jawab Hye Rin. Lalu membiarkan lagu berjudul The One milik Winter Love mengalun di dalam mobil. Gadis manis itu ikut menyanyikan liriknya.
Na-neun geu-dael al-go itt-seub-ni-da
Mal-ha-ji anh-a-do neu-ggib-ni-da
Geu-reon na-wa dalm-eun-gos-I manh-eun a-peun sa-ram-i-jyo
Sa-rang-dda-win bae-weo-bo-ji mot-hae jal al-ji mot-hal-geol na-neun al-jyo
Ha-ji-man geu-dae-ran sa-ram nae un-myeong-in-geol neu-ggi-jyo
(Aku mengenalmu, tanpa kau bicarapun aku bisa merasakannya
Kau adalah orang yang tersakiti, yang memiliki banyak kesamaan denganku
Aku tahu bahwa aku tak pernah belajar dan tak paham betul tentang cinta
Namun aku merasakan bahwa kau adalah orang yang menjadi takdirku)
"Oppa, lagu ini sedih sekali kan?" tanya Hye Rin setelah berhenti menyanyi.
Chanyeol melihat adiknya sekilas lalu tersenyum. "Kau menyukainya?" bukannya menjawab, Chanyeol malah melempar pertanyaan lain.
Hye Rin mengangguk kecil sebagai jawaban. "Kalau oppa suka lagu apa?" tanya gadis itu.
"Gom Semariga," jawab Chanyeol cepat.
Hye Rin tertawa geli. "Itu kan lagu anak kecil," ejek Hye Rin.
"Dulu seseorang suka sekali menyenandungkan lagu itu sampai oppa merasa bosan. Tapi sekarang oppa justru merindukan lagu itu lagi," ujar Chanyeol.
"Mau kunyanyikan? Suaraku bagus sekali," ujar Hye Rin dengan nada bangga.
Chanyeol tertawa mencibir. "Lebih baik kau diam saja Hye Rin-ah," jawabnya di tengah-tengah tawanya.
Hye Rin mengalah dengan bibir mengerucut lalu bersandar pada tempat duduknya sambil bermain ponsel.
Hening beberapa saat sampai akhirnya Chanyeol kembali membuka pembicaraan. "Bagaimana lesmu kemarin?" tanyanya ragu-ragu.
"Lumayan," jawab Hye Rin cuek, lalu kembali fokus pada game-nya.
"Kau menyukai gurumu?" Chanyeol berusaha memancing Hye Rin untuk membahas soal Baekhyun yang dia pikir Seohyun.
"Seohyun eonnie orang yang pintar. Dia begitu sabar mengajariku yang buta soal persamaan garis X dan Y. Pelajaran yang menyebalkan," gerutu Hye Rin.
Chanyeol tersenyum mendengar jawaban Hye Rin. Dia membayangkan bagaimana cerewetnya Hye Rin dan bagaimana sabarnya Seohyun meladeni adik perempuannya. Walaupun dia tidak yakin Seohyun bisa sesabar itu. Seohyun kecil yang dikenalnya jauh berbeda dengan yang diceritakan Hye Rin.
"Apa gurumu mengatakan sesuatu?" tanya Chanyeol ambigu.
"Sesuatu apa?" tanya Hye Rin tidak mengerti. Dia masih fokus dengan permainan di hpnya.
"Apa saja. Mungkin menanyakan soal oppa?" tanya Chanyeol tak yakin.
Hye Rin tersenyum miring lalu untuk pertama kalinya mengabaikan permainannya dan menatap kakaknya. "Sebenarnya oppa sengaja memancingku untuk bicara hal ini kan?" tebak Hye Rin yang seratus persen benar namun dibantah oleh Chanyeol.
"Mungkin saja dia bertanya soal aku kan?" tanya Chanyeol bersikeras.
"Seohyun eonnie tidak membahas soal oppa sama sekali. Menyebut nama oppa saja tidak," jawab Hye Rin. Chanyeol tampak kecewa mendengar jawaban Hye Rin.
"Oppa menyukai guruku ya?" tebak Hye Rin.
Chanyeol menggeleng. "Tidak sejauh itu. Dia hanya seorang teman," jawab Chanyeol.
Hye Rin memandang wajah kakaknya dan yakin Chanyeol memang jujur. Hye Rin sangat tahu kapan kakaknya bicara jujur dan tidak padanya.
"Lagipula oppa belum bisa melupakan cinta pertama oppa kan?"
Hye Rin sudah mematikan hpnya dan memberikan perhatian penuh pada Chanyeol. "Byun Baekhyun."
Seketika Chanyeol menginjak rem dalam-dalam saat melihat lampu berubah merah. Dia menoleh pada adiknya yang duduk santai disebelahnya, seakan-akan tadi tidak mengatakan apapun.
Hye Rin pura-pura memejamkan matanya. Dia dapat merasakan Chanyeol sedang menatapnya tajam, menuntut penjelasan.
"Mengapa kau bisa mengatakan itu?"
Hye Rin pura-pura tuli dan semakin memejamkan matanya.
"Park Hye Rin," suara berat Chanyeol terdengar begitu dalam dan dingin.
Hye Rin mendesah panjang lalu membuka matanya. "Ibu yang menceritakannya padaku," jawab gadis itu akhirnya jujur.
Chanyeol menganga tidak percaya. Dia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa.
.
.
.
Flashback…
Chanyeol sering duduk sendirian di dalam kelas saat istirahat karena tidak ada seorang pun yang mau bermain dengannya. Temannya menganggap anak gendut sepertinya hanya menyusahkan. Tidak bisa berlari tapi hanya jago makan roti. Namun hanya Baekhyun yang tidak malu duduk makan siang bersamanya. Chanyeol masih ingat dulu dia tidak dekat dengan Baekhyun, namun anak perempuan itu selalu saja berusaha mendekatinya.
Seorang murid laki-laki berlari di lorong dan menabrak Chanyeol yang kebetulan ada disana. Tubuh gempalnya dengan mudah jatuh karena kurang keseimbangan. Chanyeol kecil merangkak di lantai untuk mencari kacamatanya yang terjatuh.
"Apa kau tidak punya mata? Harusnya kau bisa melihatku berlari kearah sini. Dasar bodoh," omel murid laki-laki itu kesal.
Chanyeol menengadah untuk menatap lawan bicaranya, namun dia tidak bisa melihat dengan jelas dan hanya mengerjapkan mata sambil mengangguk kecil. "Maafkan aku ya," ujar Chanyeol saat itu.
"Hei!" suara anak perempuan terdengar mendekat. Chanyeol terus mengerjap, berusaha melihat sekitarnya, namun semua tampak kabur. Dia terus meraba-raba lantai berusaha menemukan kacamatanya.
"Minta maaf!" perintah Baekhyun pada anak laki-laki yang memarahi Chanyeol.
"Kenapa harus aku?" tantang anak laki-laki itu tidak terima.
"Aku melihat semuanya. Kau yang menabrak Chanyeol tadi. Jadi cepat minta maaf!" Baekhyun meninggikan suaranya.
"Tidak mau!" anak laki-laki itu tidak mendengarkan Baekhyun dan berlari meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun di lorong.
Baekhyun berjongkok lalu mengambil kacamata Chanyeol yang berada tidak jauh dari lutut Chanyeol. Dia memberikannya pada pemiliknya.
"Ini kacamatamu," ujar Baekhyun saat menyerahkannya.
Chanyeol segera memakai kacamata itu dan hal pertama yang dia lihat adalah wajah Byun Baekhyun yang tersenyum begitu tulus. Chanyeol merasa jantungnya saat itu berdegup sangat cepat. Dia merasa jantungnya bisa meledak saat itu juga.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Baekhyun khawatir.
Chanyeol yang sadar dari lamunannya segera mengangguk. Baekhyun membantu Chanyeol berdiri.
"Lain kali kalau ada yang mengganggumu, kau harus melawan, kalau kau bersikap seperti ini terus, mereka akan semakin suka menindasmu," ucap Baekhyun.
Chanyeol menunduk. "Ya," jawabnya singkat.
Chanyeol terkejut saat Baekhyun menggenggam tangannya. Dia menatap gadis kecil itu dengan ekspresi bingung, namun Baekhyun justru tersenyum lebar. Chanyeol merasa pipinya memanas karena sentuhan itu.
"Ayo ke kelas bersama," ujar Baekhyun sebelum menarik Chanyeol ikut bersamanya.
Chanyeol mengikuti langkah Baekhyun. Dia terus melihat tangannya yang digenggam oleh Baekhyun, dan tanpa sadar dia tersenyum lebar.
Chanyeol dan Baekhyun jadi semakin sering main bersama. Dan entah bagaimana, Seohyun teman sekelas mereka juga ikut bermain bersama mereka.
Suatu hari saat pelajaran olahraga, anak perempuan bermain oper bola tangan dan anak laki-laki bermain sepak bola. Tapi Chanyeol memilih duduk di sudut lapangan dan menonton saja karena dia sadar dia tidak jago bermain bola. Berlari saja dia tidak kuat.
Seohyun berjalan mendekatinya lalu duduk di sebelah Chanyeol. Gadis itu meminum sebotol air mineral lalu hendak kembali bermain. Namun saat dia sadar Chanyeol tidak menyapanya dan hanya memandang sekumpulan anak perempuan berolahraga, membuat Seohyun kembali duduk. Dia mengikuti arah pandang Chanyeol dan segera tahu sejak tadi anak laki-laki itu hanya memandang Baekhyun.
"Hei…" sapa Seohyun.
Chanyeol yang terkejut melihat Seohyun sudah berada di sebelahnya, memberikan senyum terbaiknya. Chanyeol mengagumi Seohyun. Menurutnya, dilihat dari segi manapun, Seohyun adalah teman sekelas yang menarik. Dia cantik, pintar, dan ramah pada siapa saja. Alasan lainnya, karena Seohyun adalah sahabat Baekhyun, membuat Chanyeol berpikir harus bersikap baik padanya.
"Kau tidak olahraga?" tanya Seohyun.
Chanyeol menggeleng lemah. "Aku tidak bisa main bola," jawabnya.
"Daritadi aku hanya melihatmu menatap Baekhyun," ujar gadis kecil itu.
Chanyeol menjawab tergagap. "A—aku melihat kalian semua kok," bantahnya.
Seohyun tersenyum misterius sambil menyenggol pundak Chanyeol. "Jujur saja, kau menyukai Baekhyun ya?" goda Seohyun.
"T—tidak kok," bantah Chanyeol lagi.
"Aku akan beritahu Baekhyun ah," ujar Seohyun. Dia lalu berlari ke kerumunan anak perempuan. Chanyeol berdiri, namun urung mengejar Seohyun. Jika dia berlari, dia akan jadi pusat perhatian karena tubuh gempalnya. Semua orang pasti akan menatapnya.
Chanyeol mengepalkan tangannya dengan gugup. Dia memandang Seohyun dan Baekhyun yang saling berbisik, lalu Chanyeol bisa melihat Baekhyun menatapnya tanpa bicara apa-apa sedangkan Seohyun melambaikan tangan begitu semangat ke arahnya.
Sejak saat itu entah hanya perasaannya saja atau hanya kebetulan, Baekhyun seperti menjaga jarak dari Chanyeol. Baekhyun lebih sering menghabiskan istirahatnya dengan Seohyun dan bicara pada Chanyeol tentang hal-hal penting saja. Chanyeol merasa gelisah. Rasanya ada yang berbeda tanpa Baekhyun. Jadi dia memutuskan untuk mengembalikan situasinya.
Chanyeol sengaja mengajak Seohyun pergi ke kedai di depan SD mereka sepulang sekolah. Seohyun pun menyetujuinya dan tanpa diduga Chanyeol menyatakan perasaannya. Itu dilakukannya bukan karena dia menyukai Seohyun lebih dari teman. Tapi dengan begitu, Baekhyun bisa tahu bahwa dia tidak menyukai Baekhyun dan gadis itu tidak perlu merasa sungkan main dengannya lagi.
Baekhyun melihat Chanyeol dan Seohyun berjalan berdua keluar kelas. Baekhyun pun memutuskan mengikuti kedua sahabatnya tanpa sepengetahuan mereka. Saat sampai di kedai, Baekhyun membeli sebungkus kue beras sambil menunggu Seohyun dan Chanyeol di luar kedai.
Tak berapa lama Seohyun keluar lebih dulu dengan terburu-buru. Belum sempat Baekhyun menyapa Seohyun, gadis itu sudah menghilang. Baekhyun pun segera masuk menyusul Chanyeol, dan menemukan temannya itu terduduk lemas di sebuah kursi. Baekhyun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dia mendekati Chanyeol.
"Kkomaengi!" Baekhyun menepuk punggung Chanyeol dengan semangat.
Chanyeol yang terlonjak kaget, memandang Baekhyun. Berusaha menampilkan ekspresi wajah tidak tertarik, walaupun sebenarnya dia gugup luar biasa.
"Apa yang kau lakukan disini sendirian?" tanya Baekhyun heran.
"Lalu kau?" tanya Chanyeol.
Baekhyun mengangkat sekantong penuh kue beras sebagai jawaban.
Chanyeol kecil menghembuskan nafas berat. Baekhyun tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan temannya. Ia kemudian duduk di bangku kosong yang sebelumnya ditempati Seohyun. Ia menunggu jawaban Chanyeol dengan tenang.
"Baekhyun-ah…" panggil Chanyeol dengan suara parau.
"Kenapa?" tanya Baekhyun dengan sabar.
"Apa aku ini jelek?" tanya Chanyeol.
"Apa ada yang mengejekmu lagi? Siapa? Aku akan menemui mereka dan melaporkannya pada ibu guru."
Chanyeol menggeleng pelan. "Bukan begitu" jawab Chanyeol.
"Lalu apa?" tanya Baekhyun heran.
"Aku…" Chanyeol menggantung kalimatnya, "Aku jatuh cinta pada seseorang."
Chanyeol menatap Baekhyun gugup.
Baekhyun menutup mulutnya tak percaya lalu tertawa. "Benarkah?"
"Aku sudah menyangka ini semua, kau pasti tertawa kan?" Chanyeol kecil mendesah lalu menundukkan kepalanya.
"Baiklah. Maafkan aku karena tertawa. Lalu apa masalahnya?" Baekhyun menaikkan sebelah alis lalu mengangkat gelas milk shake Chanyeol dan menyedot cairan manis itu. "Kau ditolak?" tanya Baekhyun hati-hati.
"Bisakah kau membantuku?"
"Apa? Membantu? Kau yakin minta bantuanku?" tanya gadis kecil itu tak percaya.
Chanyeol menghembuskan nafas kasar. "Aku minta bantuanmu. Ada yang aneh?"
"Aku kan tidak ada hubungannya dengan ini," ujar Baekhyun.
Chanyeol tahu inilah saatnya. Jika dia mengatakan kalau orang yang disukainya adalah Seohyun, Baekhyun pasti akan bermain lagi dengannya kan? Baekhyun tidak perlu merasa terganggu lagi dengan perkataan Seohyun yang mengatakan Chanyeol menyukai Baekhyun lebih dari teman.
"Kau bisa membantuku. Kau dekat dengannya. Jadi kau bisa membujuknya untuk menerimaku. Ayolah Baekhyun-ah," Chanyeol menarik tangan Baekhyun yang masih memegang gelas milk shake dan menggenggamnya.
Mata Baekhyun membulat. Dengan gelagapan, ia melepas kontak skin shipnya dengan Chanyeol.
"Baiklah, katakan padaku siapa anak perempuan itu?"
"Kau janji akan membantuku kan? Janji?" Chanyeol mengangkat jari kelingkingnya. Tanpa ragu Baekhyun langsung menyambutnya dan menautkan jari kelingking mereka.
"Namanya Seohyun. Seo Joo Hyun," jawab Chanyeol sambil memaksakan senyumnya.
"Uri Seohyunnie? Teman dekatku?" ulang Baekhyun, mencoba untuk memastikan ia tidak salah dengar.
"Ya…," Chanyeol mengangguk-angguk.
Baekhyun bersandar pada tempat duduknya dan memasang ekspresi mengejek. "Eii… Seohyun mana mau pacaran denganmu, kau kan—" Baekhyun segera menutup mulut saat menyadari perkataannya bisa saja menyakiti Chanyeol.
"Maaf, maksudku—"
"Aku tahu! Karena aku gendut kan?" tanya Chanyeol. Chanyeol tidak tersinggung mendengarnya, karena dia tahu itu memang kenyataannya.
Baekhyun yang merasa bersalah segera menggeleng. "Bukan begitu, tapi—"
"Kau tidak perlu menghiburku. Aku sudah tahu semuanya. Seohyun bahkan mengatakan itu padaku."
"Seohyun mengatakan apa?" tanya Baekhyun hati-hati.
"Seperti katamu," jawab Chanyeol.
Baekhyun menundukkan kepalanya. "Maaf," ujarnya sungguh-sungguh.
Chanyeol membenarkan letak kacamatanya lalu menatap Baekhyun. Gadis manis itu merasa tak nyaman melihat tatapan Chanyeol. "Ada apa?" tanya Baekhyun.
Chanyeol merasa jantungnya berdegup cepat sekali. Tapi setidaknya, sekali saja, dia ingin memastikan apakah Baekhyun juga menyukainya atau tidak. "Apa kau tidak punya seseorang yang kau sukai?" tanya Chanyeol gugup. Anak itu menatap Baekhyun dalam diam.
Baekhyun terdiam. Ia menatap teman laki-lakinya itu dengan pandangan kosong.
Chanyeol yang tidak mendapat reaksi apapun, menatapnya heran. "Baekhyun-ah… Baekhyun-ah...," panggil Chanyeol berulang-ulang karena Baekhyun tidak mendengarkannya.
Baekhyun menatap Chanyeol lalu tersenyum tipis. Chanyeol memandang temannya itu khawatir. "Kenapa kau melamun?"
Baekhyun gelagapan. Dia segera memutar otak mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan. Baekhyun pun melihat jam tangan bergambar princess belle di pergelangan tangannya lalu bangkit berdiri. "Chanyeol, kita harus pulang. Nanti ibu mencari kita" ujar Baekhyun panik.
Chanyeol menurut patuh. Ia mengambil tasnya lalu mengikuti Baekhyun yang terus menarik tangannya sampai keluar toko.
Chanyeol masuk ke apartemennya setelah mengantar Baekhyun sampai ke depan pintu rumahnya. Dia menyeret tasnya di lantai dengan tidak bersemangat lalu melempar tubuhnya sendiri berbaring diatas sofa.
Hye Rin yang sedang bermain di dekat situ, berdiri dengan memegang pinggiran sofa. Dia tersenyum pada kakaknya sambil menusuk-nusuk pipi Chanyeol dengan jarinya, seakan itu adalah juga menggigit-gigit pipi Chanyeol dengan gigi susunya. Seakan bongkahan empuk itu adalah roti yang bisa dia telan.
Chanyeol menjauhkan kepalanya kemudian mengelap air liur di pipinya dengan sebelah punggung tangannya lalu menyuruh Hye Rin kembali bermain di karpet. Tapi bocah itu tidak mau mendengarkannya dan berusaha menggapai-gapai Chanyeol dengan tangan kecilnya. Punggung Chanyeol terus mundur hingga tubuhnya menghimpit sandaran sofa, berusaha sebisa mungkin menjauh dari tangan mungil Hye Rin.
"Oppa… oppa…" bocah kecil itu terus mengulang kata oppa dengan nada riang. Sepertinya kalimat itu adalah favoritnya.
"Hye Rin-ah, jangan ganggu kakakmu," seru ibunya sebelum menarik Hye Rin dalam gendongannya.
Nyonya Park menatap putranya yang berbaring dengan heran. Tidak biasanya, pikir ibunya.
"Chanyeol, kau kenapa?"
"Ibu, aku tidak mau makan!" ujarnya dengan nada merajuk.
"Kau sakit?"
"Tidak," jawab Chanyeol ketus.
"Lalu?"
Chanyeol segera duduk lalu menatap ibunya dengan mata berair. "Baekhyun tidak mau main denganku karena aku gendut."
Nyonya Park duduk disebelah Chanyeol lalu membiarkan Hye Rin dalam pangkuannya.
"Apa Baekhyun yang mengatakannya?"
Chanyeol menggeleng.
"Lalu kenapa kau bisa bicara begitu?" tanya ibunya dengan lembut.
"Baekhyun menjauhiku setelah tahu aku menyukainya, Bu. Itu pasti karena aku gemuk," keluh Chanyeol.
Ibunya berusaha menahan tawa melihat tingkah polos putranya. "Kau bilang pada Baekhyun kalau kau menyukainya?"
"Bukan aku, tapi teman sekelasku memberitahu pada Baekhyun."
"Apa Baekhyun bilang dia tidak menyukaimu?"
Chanyeol menggeleng.
"Lalu kenapa kau bisa menarik kesimpulan seperti itu?"
"Aku tahu, Bu. Baekhyun biasa saja saat aku mengatakan suka pada salah satu gadis di kelasku. Dia bahkan mengejekku," ujarnya.
Nyonya Park tidak bisa menahan tawanya lagi dan membiarkan itu keluar begitu saja. Hye Rin yang tidak mengerti apa-apa juga tertawa mendengar nada bahagia ibunya. Gadis kecil itu bertepuk tangan seakan-akan merayakan hari patah hati Chanyeol.
"Aigo… kau sudah dewasa rupanya. Nanti sore ibu akan mengundang Baekhyun kerumah untuk memarahinya karena sudah menolak putra ibu," goda Nyonya Park.
Chanyeol merengek sambil menarik-narik ujung dress ibunya.
"Ibu! Jangan lakukan itu! Jangan! Ibu tidak boleh bilang pada Baekhyun. Ini rahasia…" ucapnya dengan nada memohon namun terdengar panik.
Nyonya Park tersenyum lalu mengelus rambut Chanyeol dengan sayang. "Baiklah Yeollie. Ini hanya akan jadi rahasia ibu saja. Tapi kau harus makan. Kau mengerti?"
Chanyeol mengakui kekalahannya lalu mengangguk.
Flashback end…
.
.
.
-Who Are You?-
.
.
.
Chanyeol mengganti posisi berbaringnya ke kanan, lalu kembali ke kiri, kemudian berpindah menjadi tidur tegak sambil menatap langit-langit kamar. Tapi detik berikutnya dia berguling lagi dengan gelisah. Aktivitasnya itu menimbulkan suara derit kasur yang cukup mengganggu.
"Oppa!"
Chanyeol mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat Hye Rin yang duduk di meja belajar, tepat di seberang tempat tidur. Ekspresi gadis itu tampak kesal setelah menegur Chanyeol.
"Kau tidak bisa diam? Aku sedang belajar," gerutunya.
"Kenapa galak sekali?"
Hye Rin menatap Chanyeol tajam. "Oppa kan punya kamar sendiri. Kenapa berbaring di kamarku?" tanya Hye Rin dengan nada tidak ramah. Hye Rin benci ketenangannya diganggu oleh siapapun termasuk kakak laki-laki kesayangannya.
Chanyeol melompat turun dari tempat tidur Hye Rin lalu berjalan menuju meja belajarnya. Dia membungkuk lalu memeluk adik kesayangannya itu dari belakang dengan erat. Hye Rin yang merasa risih terus menggeliat tak nyaman dan meminta Chanyeol melepaskan pelukannya, tapi kakak laki-lakinya itu justru semakin jail dan memeluknya semakin erat.
"Oppa, lepaskan aku!"
Chanyeol baru melepaskan pelukannya setelah mendengar rengekan keras Hye Rin.
"Oppa kenapa sih? Tumben sekali bersikap seperti ini," ujar gadis itu heran.
"Apa harus ada alasan memeluk adikku sendiri?"
Hye Rin masih memberengut kesal sedangkan Chanyeol tersenyum lebar, seakan senang melihat penderitaan Hye Rin.
Dia mengacak rambut Hye Rin dengan sengaja sebelum keluar kamar. "Maaf ya," ujar Chanyeol sambil lalu.
Hye Rin menghela nafas keras-keras. Untung saja stok kesabarannya masih banyak. Gadis itu memutar kursi belajarnya lalu menghentikan langkah Chanyeol yang hampir mencapai pintu.
"Temui saja!"
Chanyeol membalik tubuhnya untuk menatap Hye Rin. Alisnya terangkat sebelah karena bingung maksud perkataan adiknya.
Melihat respon kakaknya yang lambat, membuat Hye Rin memutar matanya malas. "Maksudku temui Seohyun eonnie," lanjut Hye Rin.
"Oppa ke kamarku untuk menanyakan pendapatku kan?" tebak gadis itu.
Ekspresi bingung Chanyeol berubah menjadi ekspresi biasa. Tidak diragukan lagi kalau Park Hye Rin adalah adik kandungnya. Gadis itu selalu tahu isi pikiran Chanyeol. Hye Rin sudah hafal benar sikap kakaknya. Chanyeol selalu masuk ke kamarnya tanpa bicara dan hanya mengganggunya jika dia memiliki masalah atau hal yang sedang dia pikirkan. Dia ingin bercerita, namun tidak ingin merepotkan orang lain dengan ceritanya. Jadi dia memutuskan berkunjung ke kamar Hye Rin dan berpikir disana. Setidaknya dia tidak sendirian. Tapi Hye Rin selalu tahu apa isi kepalanya, dan selalu bisa memberi solusi tanpa Chanyeol bertanya.
Chanyeol memang sedang memikirkan sikapnya pada Baekhyun saat terakhir kali bertemu. Dia merasa bersalah setelah pergi begitu saja dari ruang tamu. Apakah sikapnya berlebihan?
Tapi Chanyeol memang pantas untuk marah kan? Baekhyun yang dia pikir Seohyun, sudah berbohong padanya. Wanita itu bilang akan pergi ke Amerika, tapi dia justru berada di rumahnya untuk mengajar adiknya.
Namun tak dipungkiri Chanyeol juga senang mengetahui Baekhyun masih berada di Korea. Jadi haruskah dia mendengarkan alasan Baekhyun sebelum mengambil keputusan sendiri untuk marah?
"Sikap oppa saat itu memang tidak sopan," kata Hye Rin. Gadis itu melipat tangannya di dada dan tampak berpikir. "Aku tidak tahu oppa memiliki masalah apa dengan Seohyun eonnie sehingga tidak menyapanya sama sekali padahal kalian berteman. Tapi aku yakin sekali Seohyun eonnie pasti kecewa dengan sikap oppa."
Chanyeol diam, mendengarkan kesimpulan Hye Rin.
"Jika Seohyun eonnie memiliki kesalahan pada oppa, dia harus minta maaf. Tapi oppa juga sudah bersalah padanya. Minta maaflah atas sikap oppa kemarin," nasihat remaja SMP itu dengan sikapnya yang sok dewasa. Chanyeol merasa heran jika adiknya ini masih SMP. Pola pikirnya terkadang sama seperti orang dewasa. Disaat Chanyeol butuh arahan, justru pendapat Hye Rin yang paling menolongnya. Walau Hye Rin bersikap seperti anak remaja pada umumnya yang masih kekanak-kanakan, tapi Hye Rin juga bisa diandalkan. Chanyeol menahan senyumnya saat berbicara sendiri dalam kepalanya.
Chanyeol memandang Hye Rin dan melempar senyum simpulnya.
Hye Rin menaikkan sebelah alisnya. Seakan-akan menunggu tanggapan Chanyeol. "Jadi…?" tanya gadis itu, menggantung kalimatnya.
"Apa?" tanya Chanyeol, tidak mengerti kode yang Hye Rin berikan.
Hye Rin menggeram. "Minta maaf oppa! Minta maaf!" jawab gadis itu dengan nada tinggi.
"Oh," Chanyeol mengangguk kecil. "Akan kupertimbangkan," sahutnya dengan tenang sebelum akhirnya menutup pintu kamar Hye Rin dan menghilang dari pandangannya.
.
.
.
-Who Are You?-
.
.
.
Chanyeol mengikat tali sepatunya lalu berlari keluar melewati pintu. Dia memutuskan pergi ke undangan acara makan malam menggunakan transportasi umum. Lagipula lokasinya dekat kampus yang dia ketahui. Dia tidak mungkin tersesat.
Selama diperjalanan, Chanyeol menegaskan pada dirinya sendiri bahwa dia menemui wanita itu hanya untuk formalitas. Dia hanya perlu menjelaskan bahwa dia tidak butuh ganti rugi dan menyelesaikan semuanya dalam satu kali pertemuan. Jadi wanita itu tidak perlu menghubunginya lagi dengan alasan apapun.
Seohyun tiba di tempat pertemuan tiga puluh menit lebih awal. Berkali-kali dia merapikan make up-nya yang sebenarnya baik-baik saja. Hanya ingin memastikan bahwa dia sudah tampak sempurna dan bisa menarik perhatian lelaki yang bernama Park Chanyeol.
Seohyun meminum sedikit air mineral yang tersedia di mejanya. Wanita itu menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Hirup—hembuskan—hirup—hembuskan. Begitu terus secara berulang-ulang. Hal itu dia lakukan untuk mengurangi rasa gugupnya. Entah kenapa dia merasa Chanyeol yang akan dia temui adalah pria yang spesial. Dia langsung jatuh hati saat pertama kali melihatnya. Bukan hanya tampan, namun sikap gentlemen pria itu berhasil meluluhkan Seo Joo Hyun.
Chanyeol baru saja masuk ke dalam restoran western. Chanyeol tampak casual dengan kemeja putih polos dilapisi blazer hitam panjang hingga selutut, dipadukan dengan celana jeans panjang dan sepatu adidas yang sering dikenakannya. Seohyun langsung menegakkan tubuhnya dan menyiapkan senyuman terbaiknya. Dia melihat seorang pelayan menuntun Chanyeol menuju meja yang sudah dia pesan. Saat Chanyeol melihatnya, Seohyun melebarkan senyumnya, dan pria itu membalas dengan senyum sopan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Chanyeol setelah duduk. Suaranya terdengar canggung dan tak nyaman. Pria itu berusaha menyibukkan diri dengan melihat dekorasi restoran.
"Aku juga baru tiba," jawab Seohyun berbohong.
"Mau pesan sesuatu? Akan kupanggilkan pelayannya," sambung Seohyun.
Chanyeol hanya menyetujui lewat tatapan matanya.
Seohyun memanggil pelayan yang tak jauh dari mejanya lalu membaca menu yang diberikan untuknya dan Chanyeol. "Hmm… aku pesan sirloin dan mocktail," ujar Seohyun pada pelayan.
"Kau ingin pesan apa?" tanya Seohyun pada Chanyeol.
Pria itu menutup buku menunya lalu menjawab "Apa saja," dengan suara datar.
"Bagaimana dengan steak?" saran Seohyun. Chanyeol mengangguk lebih cepat dari yang dia duga.
"Kalau begitu satu sirloin, steak, dan dua mocktail," ujar Seohyun mengatakan pesanannya. Pelayan itu segera mencatatnya, mengulang pesanannya sekali lagi sebelum akhirnya mengangkat buku menu dan kembali ke dapur.
"Kau sering kesini?" tanya Chanyeol. Pria itu berusaha mencairkan suasana.
Seohyun tersenyum simpul. "Beberapa kali. Kadang aku datang dengan teman-temanku karena kampusku dekat dari sini" jawabnya dengan suara selembut mungkin.
"Oh iya, kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Seohyun," ujar Seohyun sambil mengulurkan tangannya.
Chanyeol terpaku beberapa saat. Apakah nama Seohyun suatu kebetulan? Jika dia belum bertemu Baekhyun sebelumnya, bisa saja dia mengira wanita di depannya adalah teman masa kecilnya.
Chanyeol menyambut uluran tangan Seohyun. "Namaku Chanyeol," jawabnya.
Seohyun mengangguk kecil lalu tertawa sumbang. "Seperti suatu kebetulan," gumamnya. Namun Chanyeol masih bisa mendengarkannya.
Chanyeol mengernyit. Dia juga berpikir ini seperti suatu kebetulan. Bertemu orang yang memiliki nama sama seperti teman masa kecilnya adalah suatu kebetulan. Chanyeol tidak mengerti kebetulan yang dimaksud wanita di depannya, namun dia menyetujui perkataannya.
"Aku mengundangmu makan malam untuk membicarakan soal kecelakaan itu. Aku belum meminta maaf secara benar waktu itu. Sungguh… maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Itu murni kecelakaan," ucapnya dengan nada serius.
Lelaki di depannya tersenyum sopan. "Kecelakaan sudah pasti dilakukan karena tidak disengaja. Aku mengerti."
"Kau terus menolak bantuanku untuk memperbaiki mobilmu. Aku jadi merasa tidak enak dan terus memikirkannya. Walaupun kau punya asuransi, tetap saja ini adalah kesalahanku. Aku harap bisa menebusnya dengan cara apapun."
Chanyeol menghela nafas. "Lalu apa permohonan asuransinya aku batalkan saja?"
"Ne?" suara Seohyun terdengar bingung.
Chanyeol tertawa. "Aku bercanda," guraunya. "Sudahlah, aku datang kesini bukan untuk meminta ganti rugi. Aku menghargai undanganmu dan aku ingin mengatakan tidak perlu khawatir soal mobilku. Aku sudah mengurus semuanya," ujar Chanyeol.
Seohyun tersenyum lalu mengangguk dengan kikuk.
"Apa kau bekerja?" tanya Seohyun setelah keheningan cukup lama. Dia mencoba untuk mencari topik pembicaraan.
"Tidak."
"Kau kuliah?"
"Tidak."
Seohyun sempat memandang rendah Chanyeol beberapa detik. Namun pikiran itu berubah setelah mendengar jawaban Chanyeol selanjutnya.
"Aku sudah lulus kuliah tahun lalu dan sempat bekerja. Tahun ini aku berencana melanjutkan pasca sarjanaku. Namun aku belum menemukan kampus yang tepat."
Seohyun lega mendengar jawaban Chanyeol. Ternyata dia bukan seorang pengangguran yang tidak punya pendidikan tinggi dan hanya bermodalkan wajah tampannya. Seohyun nyaris saja meninggalkan pria di depannya jika saja Chanyeol tidak menceritakan latar belakangnya.
"Kau jurusan apa?"
"Teknik industri," jawab Chanyeol.
"Jurusan yang keren," puji Seohyun.
Chanyeol tersenyum tipis. "Aku tidak sepenuhnya setuju," ujarnya.
Pelayan datang dengan pesanan mereka. Sekarang meja mereka sudah penuh makanan. Seohyun dan Chanyeol memutuskan makan sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.
.
.
.
Baekhyun merenggangkan tubuhnya. Punggung dan lehernya terasa nyeri karena kelelahan. Baekhyun melihat jam menunjukkan pukul 8 lewat lima belas. Dia sudah sekitar lima jam berada di perpustakaan. Baekhyun memang sering lupa waktu jika sudah asik belajar. Seakan-akan dia masuk ke dalam dunianya sendiri dan melupakan segalanya.
Baekhyun menghela nafas berat. Tubuhnya terasa letih dan matanya mulai mengantuk. Gadis itu memutuskan untuk pulang. Dia merapikan buku-bukunya dan melemparnya masuk ke dalam tasnya.
"Baekhyun, kau pulang sekarang?" tanya Sehun. Baekhyun meyadari kehadiran Sehun dua jam yang lalu saat pria itu menyapanya saat pertama kali tiba. Sehun yang kutu buku sama sepertinya. Hanya saja Sehun jauh dari bayangan pria culun dengan kacamata tebal. Penampilannya justru tampak seperti mahasiswa normal lainnya. Sehun bahkan punya selera fashion yang bagus.
Baekhyun mengangguk. Wajah lelahnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
"Mau kuberikan tumpangan?" tanya pria itu menawarkan kebaikannya.
"Tidak perlu, Sehun. Aku akan naik bus," tolak Baekhyun sehalus mungkin. Baekhyun tidak ingin merepotkan Sehun. Selain itu dia kurang nyaman bergantung pada Sehun. Pria itu adalah teman SMA-nya. Dulu Sehun sempat menyatakan perasaannya pada Baekhyun saat mereka satu organisasi kesiswaan. Namun itu sudah lama sekali. Saat itu Baekhyun menolak dengan alasan ingin fokus ujian SAT. Alasan klise yang bodoh, tapi untungnya Sehun menerima alasan bodoh itu.
"Tapi ini sudah malam," bantah Sehun. Pria itu bangkit berdiri lalu membereskan mejanya. "Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu," ucapnya.
Baekhyun segera menghentikan Sehun. "Kumohon… aku baik-baik saja," jawab Baekhyun dengan suara pelan.
"Aku pergi ya," Baekhyun pamit sambil melempar senyumnya. Sehun hanya memandang punggung Baekhyun yang menjauh hingga menghilang dari perpustakaan.
.
.
.
Seohyun sudah bertekad untuk mendapatkan Chanyeol bagaimanapun caranya. Tapi tekad saja tidak cukup. Dia juga harus berusaha.
Seohyun dan Chanyeol berdiri di depan restoran.
"Terimakasih atas makan malamnya," kata Chanyeol.
Seohyun mengangguk kecil. "Sama-sama," jawabnya.
"Maafkan aku tidak bisa mengantarmu pulang. Kau tahu kan mobilku masih di reparasi," ujar Chanyeol merasa tidak enak.
Seohyun tersenyum. "Tidak apa-apa, aku bawa mobil sendiri. Aku akan baik-baik saja. Apa kau sungguh tidak butuh tumpanganku?" tanya Seohyun sekali lagi. Sejak tadi di dalam restoran dia sudah mengatakan pada Chanyeol kalau dia tidak keberatan untuk memberi tumpangan gratis. Tapi pria itu menolak mentah-mentah.
"Aku naik bus saja," jawab Chanyeol sekali lagi.
"Baiklah."
"Kalau begitu aku pergi ya."
"Chanyeol!" cegah Seohyun.
"Hm?"
"Kau bilang sedang mencari kampus kan?"
Chanyeol mengangguk namun dia tidak mengeluarkan kata apapun.
"Aku bisa membantumu mencari kampus yang cocok untukmu. Itu pun jika kau tidak keberatan," Seohyun menawarkan bantuan.
"Tidak perlu repot-repot. Itu tidak terlalu mendesak."
"Setidaknya biarkan aku melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanku," Seohyun menatap Chanyeol dengan tatapan memohon.
Chanyeol tampak berpikir. Bukankah tidak sopan menolak niat baik orang lain? Lagipula dia juga memang butuh seseorang yang lebih tahu banyak soal kampus di Korea untuk membantunya.
"Apa aku tidak merepotkanmu?"
Ekspresi Seohyun berubah gembira. "Tentu saja tidak."
Chanyeol memandang Seohyun lalu menghela nafas. "Kalau begitu baiklah."
"Aku akan rekomendasikan kampus yang bagus untukmu."
"Terimakasih," jawab Chanyeol.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi," kata Seohyun saat berpamitan pulang pada Chanyeol.
Seohyun selangkah lebih maju. Setidaknya dia bisa bertemu Chanyeol lagi. Dia akan pikirkan cara lain untuk bisa lebih dekat dengan pria itu.
Chanyeol berdiri di halte bus sambil memainkan ponselnya. Pemberhentian bus sebelum ini adalah Sogang University. Jaraknya sekitar lima ratus meter dari sini. Chanyeol harus menunggu paling tidak sekitar kurang dari sepuluh menit.
Halte saat itu sudah tidak begitu ramai. Hanya ada empat orang pegawai kantor, seorang nenek dan cucunya, serta Chanyeol. Mereka saling menyibukkan diri sendiri selama menunggu.
Saat bus itu tiba, Chanyeol membiarkan si nenek dan cucunya naik lebih dulu, lalu dia mengikuti di belakangnya. Chanyeol meletakkan kartu di alat sensor sebelum mencari tempat duduk.
Chanyeol menatap sekeliling sejenak, lalu pandangannya terhenti pada bangku belakang di dekat kaca. Haruskah Chanyeol anggap ini hanya kebetulan atau percaya pada takdir?
Baekhyun tertidur dengan kepala bersandar di jendela yang tertutup. Dengan langkah lambat, dia mendekati barisan kursi di belakang lalu duduk dengan tenang.
Dia menoleh kearah wanita di sebelahnya, untuk memastikan dia tidak terbangun karena kehadirannya. Baekhyun memeluk tas selempangnya di dada. Chanyeol bisa mendengar suara dengkuran halus Baekhyun. Tanpa sadar, dia tersenyum. Bagaimana bisa seseorang tertidur lelap di dalam bus, pikir Chanyeol heran.
Dia menatap wajah damai Baekhyun, dan rasa amarahnya beberapa hari lalu seakan sudah lenyap entah kemana.
Sopir bus melajukan kendaraannya saat semua penumpang sudah duduk di tempatnya. Goyangan kecil pada bus menyebabkan kepala Baekhyun membentur kaca berkali-kali. Chanyeol dengan gerakan selembut mungkin, berusaha memindahkan kepala Baekhyun menjadi bersandar tegap. Itu hanya bertahan beberapa detik, karena Baekhyun kembali hampir membentur jendela kalau saja Chanyeol tidak dengan sigap menahannya dan membiarkan kepala Baekhyun tanpa sengaja terjatuh di pundaknya.
Chanyeol menahan nafasnya. Dia berpikir Baekhyun bahkan bisa terbangun hanya dengan suara nafasnya, jadi dia merusaha bernafas sepelan mungkin.
Baekhyun tertidur lelap selama perjalanan, seakan dia sedang tidur di kamarnya sendiri. Seandainya seseorang merampoknya, dia mungkin tidak akan menyadarinya. Baekhyun tertidur dan bermimpi tentang masa kecilnya. Chanyeol menggandeng tangannya kemanapun dia pergi, membelikan Baekhyun permen kesukaannya, dan memanggil Baekhyun setiap hari Minggu untuk nonton kartun Pokemon dirumahnya. Baekhyun menyukai tokoh Pikachu berwarna kuning yang mempunyai kekuatan listrik, hingga Chanyeol mengejeknya dengan sebutan Baekachu. Baekhyun sudah jarang mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan itu. Hanya beberapa kali dari Seohyun, tapi tidak sesering saat mendengarnya ketika dia masih anak-anak.
Bagaimana cara melupakan Chanyeol jika dia terus datang dalam mimpinya? Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri. Tidak mudah. Selama delapan tahun dia berkutat dengan masalah ini dan sama sekali belum menemukan solusinya. Dia tidak pernah melupakan Chanyeol. Selama delapan tahun dia selalu membalas suratnya, berharap di satu surat Chanyeol mungkin akan menyapanya dengan nama Baekhyun, bukan Seohyun.
Setelah delapan tahun menjadi orang lain, sekarang pun dia masih harus melakukannya. Menjadi Seohyun demi kebahagiaan Chanyeol dan Seohyun. Dengan bodohnya, dia mengorbankan dirinya sendiri. Toh, Baekhyun merasa dia bukanlah tokoh utamanya. Dia hanya membantu agar cerita ini tetap berjalan.
Baekhyun terbangun saat mimpi indahnya berubah menjadi mimpi buruk. Dia mengerjapkan matanya perlahan sampai akhirnya membelalakkannya lebar. Dia sadar sedang bersandar di bahu seseorang. Baekhyun segera menatap orang disampingnya dan betapa terkejutnya dia melihat Chanyeol tampak begitu nyata di depannya. Apa Baekhyun masih bermimpi?
Chanyeol terpaku di tempatnya. Dia tidak mengerti kenapa Baekhyun menangis. Namun dia juga tidak berani bertanya. Baekhyun pasti terkejut melihatnya berada disini, sama seperti dirinya yang terkejut saat pertama kali naik ke dalam bus ini.
Baekhyun menatap Chanyeol. Untuk beberapa saat mereka hanya saling bertatapan tanpa seorang pun dari mereka yang berbicara.
Baekhyun menerka-nerka apakah dia masih bermimpi? Dia pasti bermimpi. Jika ini dunia nyata, Chanyeol tidak mungkin mau menemuinya setelah kebohongan yang dilakukannya.
"Maafkan aku," kata Baekhyun. Baekhyun tidak peduli Chanyeol di depannya adalah nyata atau hanya ilusi. Dia hanya ingin mengatakan maaf atas dosa-dosanya pada Chanyeol. Dia merasa bersalah karena berbohong pada Chanyeol dan berbohong pada dirinya sendiri.
Chanyeol menatap Baekhyun intens. Dia tidak mengerti dengan situasi mereka sekarang. Baekhyun tiba-tiba mengatakan maaf. Kalimat yang sama seperti yang ingin dia katakan. Chanyeol tahu Baekhyun bersalah karena berbohong padanya soal pergi ke Amerika. Tapi Chanyeol juga bersalah karena memperlakukannya kasar tanpa mau mendengar alasan Baekhyun.
"Seohyun, aku—"
"Bahkan dalam mimpiku kau masih memanggilku Seohyun," ucap Baekhyun lirih, memotong perkataan Chanyeol.
Baekhyun tiba-tiba merasa dadanya sesak dan air mata yang tidak dia inginkan turun begitu saja. Dia tidak mengira akan sesulit ini menjadi orang lain. Dia sudah melakukannya selama bertahun-tahun dan seharusnya dia sudah terbiasa dengan Chanyeol yang memanggilnya Seohyun, sama seperti ratusan surat yang pernah diterimanya. Tapi entah kenapa mendengarnya langsung dari mulut Chanyeol sendiri membuatnya kecewa. Apa mungkin Byun Baekhyun sudah tidak ada di memori Chanyeol lagi? Apa dia sudah menghapus nama itu selama-lamanya?
"Apa kau tidak bisa melihatku sekali saja?" tanyanya dengan suara terisak pelan.
Chanyeol melihat kejengkelan dan harapan pada wajah Baekhyun.
Baekhyun berusaha menahan air matanya, namun terasa begitu sulit karena rasa sesak di dadanya. Dia menatap bayangan Chanyeol. Ini mimpinya kan? Dia bisa melakukan apa saja dalam mimpinya sendiri kan? Apakah memohon akan membuat Chanyeol mengabulkan permintaannya?
"Chanyeol…"
Pria itu terdiam. Tidak mengerti kesalahan apa yang sudah dia lakukan sampai Baekhyun yang dia pikir Seohyun menangis.
Baekhyun mengepalkan tangannya erat-erat hingga menancapkan kuku tajamnya pada telapak tangannya sendiri.
"Apa kau tidak bisa memanggil namaku sekali saja?"
.
.
.
Who Are You?
.
.
.
Thank you for reading, favorite, and follow!
Mau ralat buat typo di chapter kemarin. Makasih buat yang udah ingetin. Saya salah saat membuat flashback ke lima tahun yang lalu, padahal hitungan sebenarnya delapan tahun.
Terimakasih sudah dikoreksi.
Oke, di chapter ini sudah ada banyak pencerahan ya.
Perkiraan saya, mungkin cerita ini hanya akan saya buat kurang dari 10 chapter aja. Masih mungkin ya. Bisa berubah kapan saja kalau ide saya juga berubah, hoho.
Saya minta maaf untuk yang nunggu Love By Accident. Saya umumkan kalau FF itu DISCONTINUED karena beberapa alasan pribadi.
Terimakasih sekali lagi buat kalian semua.
Saranghae!
Don't forget to review
