Disclaimer : Karena saya tak punya seratus juta rupiah untuk bayar denda dan juga tak mau menyia-nyiakan waktu 5 tahun untuk dipenjara, saya mengakui dengan berat hati bahwa GS/GSD dan semua lirik lagu (dan lagunya) yang saya sertakan disini bukan milik saya. Hiks…


"Athrun?" Heine melongok dari celah pintu kamar yang terbuka. "Ada tamu. Lho? Kau mau kemana pagi-pagi begini?" Ia melangkah masuk, mendapati Athrun yang sedang bersiap untuk pergi.

"Mau ke kampus sebentar. Ada urusan yang harus diselesaikan," jawabnya sementara tangannya sibuk memasang jalinan tali sepatu ketsnya.

Heine tersenyum lebar. "Lho, bukannya kau tidak ada jadwal kuliah hari ini? Perpustakaan kan juga tutup tiap Sabtu…" ucapnya dengan penekanan lebih pada kata perpustakaan.

"…. Ada hal penting yang harus kulakukan," kata Athrun datar.

Senyum Heine mengembang makin lebar. Ia duduk disebelah Athrun lalu menepuk pundaknya. "Wah,wah… Jadi sudah sampai ke keputusan akhir nih? Selamat, selamat! Kalau begitu selamat berjuang ya A-chan! Kau pasti nervous, tenang saja! Aku akan selalu mendukungmu sekalipun kau ditolak lagi," ujarnya dengan keriangan yang ganjil.

"Heine, yang kubutuhkan sekarang adalah motivasi dan kata-kata pemberi semangat. Bukannya prediksi yang membuatku pesimis.. dan tolong jangan panggil aku dengan panggilan tak jelas seperti itu." Athrun menyernyit, entah kenapa setiap nickname yang Heine berikan padanya selalu membuatnya mual.

Heine mengurungkan niatnya untuk membalas perkataan Athrun ketika seseorang mengetuk pintu dan masuk ke kamar kost mereka. "Permisi.."

Athrun mendongkakan wajahnya,"Kira?"

"Tuh kan, tamunya malah datang sendiri kesini gara-gara tidak kau acuhkan. Ya sudah, silakan berbincang berdua. Aku kan baik, jadi kuberikan kalian berdua privasi untuk mengadakan rapat pleno… Oh ya, selamat berjuang juga setelah ini~." Heine berdiri lalu berjalan menuju pintu.

"Berhentilah membicarakan sesuatu yang tak bisa dinalar Heine, atau aku menjadikanmu kadaver dan memberikanmu ke Kira untuk praktek." Heine tertawa mengejek menanggapi sinisme Athrun sembari melenggang pergi keluar kamar.

"Ada apa?" tanya Athrun setelah merasa yakin telah menyingkirkan telinga Heine dari jangkauan pendengaran.

"Boleh aku pinjam CD Software anti virusmu yang kemarin itu?" jawab Kira to-the-point. "Kamu mau pergi ya? "

Athrun mengangguk. "Iya, mau ke kampus. Ambil saja di-" Kata-katanya terhenti ketika Heine tiba-tiba muncul lagi dari balik pintu dan bernyanyi mengejeknya.

"Shoot me. Shoot me, Jadikanku kekasihmu say you love me-love me~" Setelahnya, ia menghilang sama cepatnya seperti saat ia muncul.

"Kak Heine kenapa?"

"Jangan hiraukan dia. Belakangan ini dia memang agak labil karena skripsinya terus-terusan ditolak oleh dosen pembimbingnya."

"Hoy, aku dengar lho Zala!" teriak Heine dari kejauhan yang sepenuhnya tak dihiraukan Athrun. Ia kembali meneruskan ucapannya yang terpotong oleh kemunculan Heine,"Ambil saja di laci meja, di bawah kamus bahasa Jerman. Memangnya kenapa komputermu?"

"Ssigh menjadikannya ladang virus," desah Kira pelan. "Itulah ruginya kalau punya teman sekamar anak jurusan komputer. Laptopmu tak akan selamat dari eksperimennya…" Athrun mengangguk menyetujui.

"Nasibmu tak jauh beda denganku…" Athrun menerawang sejenak, mengingat-ingat dan mengkalkulasikan kerugian yang telah disebabkan Heine padanya. " Rasanya aku ingin tukar teman sekamar saja.. Kamu misalnya…"

"Benar." Keduanya menghela napas bersamaan.

"Bagaimana kabar pacarmu?" tanya Athrun mencoba memulai topik pembicaraan.

"Kamu sendiri? Bagaimana kabar Cagalli?" Kira membalikkan pertanyaannya. Perhatiannya setengah teralih mencari CD software diantara tumpukan buku-buku Athrun.

"Dia baik… sepertinya," jawab Athrun pelan.

"Kok 'sepertinya'?" Kira mendongkakan kepalanya, menatap Athrun heran.

"Aku sudah hampir seminggu tidak menemuinya."

Kira mengangkat sebelah alisnya,"Kenapa? Kalian bertengkar?"

"Tidak. Kami baik-baik saja kok. Kami hanya sibuk dengan urusan masing-masing jadi tidak bisa bertemu sementara," ungkapnya setengah jujur, sebenarnya ia tidak menemui Cagalli seminggu belakangan karena mempertimbangkan saran Heine untuk memantapkan perasaannya.

"Oh…" komentar Kira singkat. Ia tersenyum. Entah telinganya yang salah atau Athrun yang memang sedang bersikap tidak seperti biasanya, tetapi nada suara Athrun barusan terdengar sedikit putus asa layaknya orang yang sedang kasmaran.

"Tumben tidak jalan sama Lacus…"

"Oh, besok kami akan ke rumah orang tuanya," ujar Kira. Tanpa sadar semburat merah sudah merangkak dan menjalar sampai ke telinganya.

"Serius? Kalian sudah sejauh itu?" Athrun menatapnya tak percaya.

Kira menggaruk belakang kepalanya, merasa malu dan kikuk. "Ng.. Tidak juga. Aku sih mau 'seserius itu'. Tapi Lacus memintaku untuk melanjutkan studi dulu. Jadi, yah… begitulah," ucapnya lirih yang makin lama makin pelan, menyebabkan kata-kata terakhirnya nyaris tak terdengar.

"Hebat. Selamat ya…!" ujar Athrun riang, yang membuat dirinya sendiri heran. Ia sudah memantapkan hati untuk mengikhlaskan Lacus, tapi ia tak mengira ia sudah serela ini.

"Thanks." Kira bangkit berdiri dan duduk menjajari Athrun setelah berhasil menemukan benda yang ingin dipinjamnya. "Kamu sendiri gimana dengan Cagalli?"

"Baik," jawab Athrun datar namun tak dapat menyembunyikan senyumnya.

"Bukan itu maksudku.." Kira tersenyum jahil menyadari ketersiratan Athrun dari senyumnya.

"Jadi?" Athrun menaikkan sebelah alisnya, senyumannya berkembang menjadi cengiran.

"Entah kenapa kalian terlihat datar," komentar Kira.

"Hah?"

"Maaf. Itu cuma opiniku setelah lihat wall kalian di face-," Kira menghentikan perkataannya, merasa tidak enak pada Athrun yang memberinya tatapan 'Ya Tuhan… sampai kau pun juga ikut-ikutan memata-matai kami?'. "Bukan aku tapi Lacus yang-"

"Memangnya… terlihat datar ya?" sela Athrun.

"Ng… Tidak juga. Maksudku, kalian tidak terlihat seperti orang yang sedang pacaran. Tidak ada kata-kata gombal atau apapun itu… Hanya mengobrol biasa dengan topik obrolan tidak biasa dan sesekali saling mengejek. Kalian malah cendrung terlihat kasual daripada romantis."

Athrun tersenyum mengejek. "Kamu kan juga tidak seperti itu dengan Lacus." Wajah Kira merona lagi. "Lagipula wajar saja kalau kami terlihat 'datar'. Kami kan memang belum pacaran."

"Lho… Bukannya…" Kira membiarkan kata-katanya menggantung tak terselesaikan.

"Bukan. Belum."

"Belum? Berarti ada niatan untuk…" Sebuah cengiran mengembang di wajah Kira. "Wah, sepertinya aku melewatkan banyak hal nih." Athrun tertawa kecil, menggeleng lalu bangkit berdiri-mencoba mengaburkan semburat merah yang muncul di pipinya dari pandangan Kira.

"Jadi 'kapan'?" goda Kira.

"Secepatnya. Kami tak ingin tertinggal jauh darimu dan Lacus." Sebuah senyuman lembut tersungging di bibir Athrun saat ia membayangkan sejuta kemungkinan positif yang mungkin terjadi hari itu.

Sayangnya, ia lupa memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat saja terjadi padanya.


Cagalli memutar-mutar bungkusan kado ditangannya. Jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang membuatnya grogi, mungkin karena sudah hampir seminggu Athrun tidak menemuinya.

Ia hampir saja berteriak kegirangan saat matanya menangkap sesosok pemuda berambut biru di kejauhan yang melambai ke arahnya. Namun akal sehatnya dapat kembali berkuasa sehingga ia hanya berteriak memanggil.

"Athrun!"

Dengan refleks Cagalli merentangkan tangan menyambutnya namun sepersekian detik berikutnya ia merapatkan kembali kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Ia memaki dalam hati. Kerasukan apa dia sampai-sampai dengan penuh percaya dirinya berpikiran untuk memeluk Athrun? Ia bukan tipe perempuan seperti 'itu' kan? Hubungannya dengan Athrun juga tidak seperti 'itu' kan? Athrun memang baik padanya, amat sangat baik malah. Tapi mereka tidak seperti 'itu'! Athrun itu temannya. Demi Tuhan, apa yang salah dengannya sehingga bisa berpikir seperti 'itu'? Oke, sudah cukup dengan 'seperti itu'. Otaknya bisa meledak karena malu.

"Hei," sapa Athrun. "Maaf aku terlambat."

Cagalli mati-matian bersikap 'biasa' dan tidak tergagap saat Athrun mengacak-acak rambutnya-ritual yang entah sejak kapan selalu ia lakukan saat bertemu dengan Cagalli. "Tidak apa, aku memang datang lebih awal kok. Ng… Ini!" Ia menyodorkan kado yang sedari tadi ia mainkan kepada Athrun.

"Eh? Apa ini?" tanya Athrun sedikit kaget dengan pemberian yang tiba-tiba. Matanya mengamati kado yang terbungkus 'agak' rapi di tangannya.

"Kado ulang tahun," jawab Cagalli yang buru-buru menunduk. Khawatir wajahnya yang memerah karena malu-yang dapat ia indikasikan dari pipinya yang terasa panas, terlihat oleh Athrun.

Athrun tersenyum lembut. "Terimakasih. Boleh aku buka?" Cagalli mengangguk cepat, masih berusaha meredakan rona merah di wajahnya.

Athrun membuka bungkus kado dengan perlahan. Sebelah alisnya terangkat ketika mendapati ada bungkus lain dibalik bungkus kado pertama. "Banyak sekali bungkusnya," katanya saat membuka lapisan bungkus kado ke lima.

"Milly yang menyarankan. Katanya lebih seru kalau yang ulang tahun bersusah payah dulu waktu buka kado," kata Cagalli polos. Athrun tersenyum geli. Cara pikir yang amat sangat mirip dengan teman sekamarnya yang senang ikut campur itu. Bedanya, cara pikir dan sikap Cagalli selalu membuat hatinya merasa hangat. Tidak seperti Heine yang tampaknya bertekad untuk selalu membuatnya merasa terganggu.

"Buka kotaknya!" seru Cagalli dengan nada ceria ketika Athrun, yang dengan amat sabar, berhasil membuka lapisan kertas kado ke sembilan belas. Athrun menurutinya. Senyumannya berubah menjadi cengiran geli saat ia mengetahui isi kotak tersebut.

"Sarung tangan dan… Burung kertas?" Benar-benar khas Cagalli, pikir Athrun.

Cagalli mengangguk. "Karena kau pengendara motor, jadi… kupikir akan lebih aman buatmu kalau pakai itu…" Athrun menggumam menyetujui walau sebenarnya dia sudah memiliki dua pasang sarung tangan di kostnya yang kebetulan tidak pernah ia pakai saat berkendara dengan Cagalli.

"Lalu burung kertas?" tanya Athrun lagi, penasaran dengan maksud Cagalli. Pandangannya terpaku pada sembilan belas ekor burung kertas dengan beragam warna yang terongok mengelilingi sepasang sarung tangan di dalam kotak.

"Ah… um.. I-itu.." gagap Cagalli. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya sebelum melanjutkan,"Sebagai bentuk permohonan untukmu agar kau cepat menemukan cinta yang baru." Cagalli menyadari seberapa lancang perkataannya lalu dengan segera wajahnya berubah menjadi merah padam. "A-maaf," tambahnya cepat. Athrun tersenyum melihat perubahan mimik wajah Cagalli, dari canggung menjadi malu, tanpa sedikitpun sadar kalau wajahnya hampir sama merahnya dengan Cagalli.

"O-oh…te-terimakasih." Ia menempelkan punggung tangannya ke mulutnya lalu berdeham kecil, dalam hati mengutuk diri sendiri karena bicara terpatah-patah.

"Sama-sama," kata Cagalli pelan dengan wajah yang masih merah.

Athrun tersenyum lagi. Bersama Cagalli memang membuatnya out of character, ia bahkan baru sadar kalau ia bisa tersenyum 'sesering' ini. 'Cinta yang baru ya? Aku sudah menemukannya kok. Tepat berada dihadapanku,' ujarnya dalam hati.

Jantungnya serasa turun dan berpindah ke perutnya saat ia kembali sadar apa tujuan dan maksud kedatangannya kemari. Ia akan bilang pada Cagalli. Hari ini. Jam, menit, dan detik itu juga. Tapi…

Keringat dingin meluncur dari pelipisnya. Ia menarik napas dalam-dalam, meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak merasa kikuk, canggung, grogi, apapun itu dan semua perasaan yang dapat mengurungkannya untuk bilang pada Cagalli bahwa dia- 'Ayolah Athrun!' rutuknya dalam benaknya. Bukankah ia pernah melakukan ini sebelumnya? Pernyataan cinta pertamanya pada Lacus tidak membuatnya 'sesesak' ini. Ia jauh lebih tenang dan terkendali sebelumnya. Tapi sorot mata coklat keemasan Cagalli yang menatapnya saat ini seakan membuatnya kehilangan semua daftar kata-kata yang sudah ia susun berhari-hari lalu. Ralat, bahkan ia seakan lupa bagaimana caranya berbicara.

"Athrun?" panggil Cagalli, merasa agak khawatir dengan perubahan ekspresi Athrun yang super cepat. Dari blank, tegang, pucat, lalu panik. Tidak biasanya Athrun seperti itu..

"Ah, ya?" Athrun memaksakan diri untuk kembali tersenyum, lagi.

"Kau kenapa?" Sunyi sejenak. "Tidak suka dengan kadonya ya…?" sambung Cagalli lirih.

"Ah, bukan begitu… Aku suka kok. Hanya saja ada yang ingin ku…" Kata-kata Athrun tak berhasil terselesaikan. Ia kebingungan memilih kata-kata selanjutnya untuk diucapkan. Sudah benar-benar manatapkah dia untuk bilang sekarang? Saat ini juga?

Apa ia harus memastikan dulu bagaimana perasaan Cagalli padanya? Seperti 'Cagalli, bagaimana pendapatmu tentangku?' atau 'Bagaimana perasaanmu padaku? Apakah aku teman yang baik?' Tidak mungkin seperti itu! Cagalli bisa membunuhnya kalau ucapannya yang memang terkadang ambigu disalah artikan. Lagipula Cagalli adalah gadis baik-baik dan tak mungkin dengan tak tahu malunya membeberkan isi hatinya sembarangan terlebih lagi pada lawan jenis.

Oh Tuhan, ingin rasanya ia lari dan menabrakkan kepalanya ke sesuatu yang keras agar dapat kembali berpikir normal…

"Athrun," panggil Cagalli.

"Hn, ya?" jawab Athrun sigap walaupun pikirannya masih tak terfokus.

"Mau pindah tempat tidak? Rasanya agak… tidak nyaman." Athrun memandang sekelilingnya, memahami maksud Cagalli. Di kanan, kiri, depan, dan belakang mereka-dengan sedikit jarak lebih yang memisahkan, banyak pasangan mahasiswa sedang asyik dengan dunianya masing-masing. Athrun mendesah pelan. Awalnya ia pikir dengan mengajak Cagalli bertemu di taman belakang kampus yang notabenenya menjadi tempat ideal untuk pacaran akan membangun mood yang tepat untuknya menyatakan perasaan pada Cagalli.

"Um.. ya." Mau tak mau ia merasa malu sendiri melihat pemandangan di sekelilingnya. Ia berjalan mengikuti Cagalli ke arah kantin.

Athrun masih sibuk dengan pikiran rumitnya tentang 'Bagaimana cara menyatakan perasaan yang baik dan benar' sehingga tidak begitu menaruh perhatian pada apa yang Cagalli ucapkan. Ia baru kembali sadar ketika tiba-tiba Cagalli berbalik arah dan berjalan cepat menuju gedung fakultas terdekat.

"Cagalli?" panggil Athrun menghentikan langkah Cagalli.

"Maaf Athrun, aku ada urusan mendadak. Ada yang harus aku lakukan," jawabnya tergesa-gesa. Athrun memandangnya dengan bingung.

"Mau kemana? Aku antar ya?"

"Tidak… Aku-aku harus merealisasikan permohonanku. Dah! Nanti aku telepon dan ceritakan kalau sudah selesai," kata Cagalli, berlari menjauh. Kebingungan dengan ketergesaan Cagalli, Athrun berlari mengikutinya.

'Merealisasikan permohonan? Apa maksudnya?'

Ia mengawasi Cagalli yang melesat dengan gesit melewati gerombolan mahasiswi di koridor. Langkahnya terhenti ketika Cagalli berteriak memanggil seseorang. Seorang cowok. Hatinya mencelos, terlebih lagi saat ia melihat Cagalli mengejar dan menarik lengan pemuda itu.

Tiba-tiba ia teringat kembali akan ucapan Miriallia.

'Memangnya apa yang Cagalli inginkan?'

'Biasa lah… Seperti yang kebanyakan orang lain inginkan. Keberanian untuk berkata jujur untuk mengungkap kebenaran yang selama ini terpendam.'

Mungkinkah…


Cagalli sedang berceloteh panjang lebar tentang keanarkisan teman-teman satu fakultasnya dalam aksi demo tiga hari lalu kepada Athrun, yang tampaknya sedang melamunkan sesuatu, ketika matanya menangkap sebuah objek yang familier.

'Orang itu! Kalau ada orang itu, berarti...'

Tanpa pikir panjang ia berbalik meninggalkan Athrun. Langkahnya terhenti ketika Athrun memanggilnya.

"Cagalli?"

Ia menoleh lalu menjawab dengan terburu-buru sebelum perhatiannya tertuju pada sosok pemuda pirang yang berjalan semakin menjauh di koridor gedung fakultas di depan kantin.

Athrun memanggilnya lagi, tapi Cagalli tidak begitu menangkap ucapannya sehingga ia hanya menjawab sekenanya sebelum berlari menuju si pemuda pirang.

Cagalli berlari secepat yang ia bisa, berdoa agar tidak kehilangan jejak pemuda itu. Si pemuda berada lima meter di depannya ketika ia berteriak, "Tunggu! Rey!"

Rey menoleh, menyadari ada yang memanggilnya. Cagalli berlari menghambur ke arahnya lalu menarik lengannya, mencegahnya pergi.

"Kita perlu bicara," ucap Cagalli mantap, tak menyadari bahwa di kejauhan Athrun menatapnya dengan nanar.


Author's Note :

Terimakasih banyak kepada : UNY-SUNZ-san, kak ShinkuNoArisu, Relya zala-san, reihibichan-san (thanks atas double reviewnya :) ), erinztavier1412-san, kak Hiru-chan, Pearl Jeevas-san, Aihsire Atha-san, dan Ritsu-ken-san yang telah menghadiahi saya THR (review) :D Dan Special Thanx to : Aihsire Atha-san, hanivsh-san, dan kak Latifun Kanurilkomari yang telah menjempoli (? istilah apa pula itu ?) fic nista ini :D Terimakasih banyak juga untuk para reader yang telah berkenan menshodaqohkan waktunya untuk membaca fic ini :D Mohon maaf atas typo dan ketidak jelasan alur T_T...

Komentar, kritik, saran amat diananti :3

Review anda adalah ucapan ulangtahun terbaik bagi Heine! (memang apa hubungannya?) Bercanda.. Review adalah hadiah terindah bagi saya!

P.S : Apakah saya sudah menepati janji saya di chapt.3 kemarin? Mengenai identitas 'dia'... masih blur (bahkan di chapt ini) tapi yang pasti... 'dia' adalah orang yang mungkin tidak diduga sebelumnya. Bukan pula Rey :D Terakhir... Selamat Ulangtahun yang ke 25 Heine! Tetaplah berjuang merecoki hidup Athrun XD