Bleeding Love

"Jangan seperti ini! Nanti kau akan semakin menyayangiku!"

"Kau minta maaf untuk sakitku yang di mana? Hatiku? Atau tubuhku?"

Author : uL!eZha

Disclaimer : Kentarou Miura & Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Rate : M

Pairing : Gakupo Kamui & Hyuuga Hinata

Warning : AU; Typo(s); OOC; Hinata's PoV; dll.

Chapter 4

"Kamui-san," kubisikkan namanya, tepat di telinganya, saat dia sibuk memberikan kecupan-kecupan panas di leherku. "Lepaskan!" pekikku sambil berusaha mendorong pundaknya agar dia tidak menindihku.

Entah tak mendengar atau memang sengaja tak mau mendengar, Kamui-san tak hanya mengabaikanku, tapi juga menekan pundakku, seakan ingin mengunci tubuhku pada ranjangku sendiri.

"L-lepaskan aku, K-Kamui-san!" pintaku lebih tegas, walau dengan suara tersendat-sendat.

"Baiklah!" sahut Kamui-san singkat.

Pada saat yang sama kedua tangan Kamui-san melepaskanku. Aku bangkit dan bergeser sedikit, duduk di atas ranjangku sambil menarik selimut untuk membentengi tubuhku. Melihat sikap defensifku, Kamui-san menatapku tajam sambil menggumam pelan. Tanpa mempedulikanku, dia berbaring di atas ranjang, tepat di sampingku. Posisiku saat ini bagai terpenjara karena di samping kananku terhalang tembok, sementara di sebelah kiriku terbaring tubuh jangkung pria berrambut gondrong itu.

Sejenak kemudian Kamui-san sudah terpejam. Hembusan nafasnya yang berat berangsur-angsur mulai teratur. Melihatnya tak bergeming, perlahan aku berbaring. Ranjangku yang hanya berukuran single bed, membuatku harus bergerak dengan hati-hati agar tak mengusiknya. Risih, aku berguling ke arah dinding, memunggunginya. Kutarik selimutku hingga ke dada, lalu meremas kain tebal nan hangat itu dengan erat. Ini bukan pertama kalinya kami tidur bersama, dan aku sangat paham kebiasaannya dalam situasi seperti ini.

'Syukurlah dia benar-benar tertidur,' batinku dalam hati, sedikit merasa tenang. Kupejamkan kedua mataku karena sekarang rasa kantukku yang sempat terbang kembali menyerang.

Waktu berlalu entah sudah berapa lama. Di antara sadar dan tidurku, kurasakan tubuhku dipeluk dari belakang. Sentuhan itu begitu lembutnya hingga aku merengkuh tangan kekar itu agar memelukku lebih erat. Apalagi samar terdengar tetesan hujan dari luar jendela kamar. Tubuhku gemetar. Ambigu karena udara yang kian dingin, ataukah karena sentuhannya yang kian terasa gusar.

Kubuka kedua mataku hingga aku benar-benar terjaga, tepat ketika Kamui-san menyusupkan telapak tangannya hingga menyentuh dada. Dengan hati-hati dia meremas, lalu memilin puncaknya, membuatku refleks mencengkeram pergelangan tangannya.

"Kamui-san, jangan," bisikku sambil berusaha menjauhkan tangannya dari tubuhku. "Aku sudah mengantuk," tambahku memberi alasan apa adanya.

"Kau teruskan saja tidurmu," ujarnya pelan, tepat di belakang telingaku.

"Jika kau seperti ini, bagaimana aku bisa tidur?" tanyaku retoris.

"Pejamkan saja matamu," jawabnya ringan, lalu menggigit pundak kiriku pelan.

"Hentikan!" kali ini aku berontak, berbaring telantang dan memaksanya bergeser agar aku punya ruang untuk menolak.

Kamui-san memang bergeser menjauh dariku. Dia bahkan bangkit dari tidurnya. Namun ternyata yang terjadi setelah itu tidak seperti dugaanku. Dengan sigap dia menyibak selimutku, lalu berguling dan menindih tubuhku. Sontak aku menahan tubuhnya, mencoba untuk menjaga jarak.

"Rileks saja," bisiknya di telingaku, dengan tangan kembali menjajah dadaku. "Nikmati sentuhanku," tambahnya, bersamaan dengan jemarinya yang kini menari dengan lincah di atas puncak tersensitif itu.

"Ough...!" lenguhan hasrat melesat secepat kilat dari bibirku.

"Enak, kan?" tanya Kamui-san menyindirku.

"Tidak!" jawabku menyanggah.

"Hmph..., bagaimana dengan ini?" lagi-lagi dia melontarkan pertanyaan yang tak perlu, tapi kali ini, dia memberikan rangsang dengan menggunakan lidahnya untuk menggantikan jemari panjangnya itu.

"Aagh!" refleks kujambak surai ungu itu sambil mendesah. Detik itu juga, tubuhku terasa melemah.

Satu per satu setiap helai pakaianku terlucuti. Inci demi inci bagian tubuhku dijelajahi. Merespon semua itu, seluruh ototku menegang menahan semua rangsang. Hembusan nafasku kian tak beraturan. Pun jantungku berdetak semakin kencang.

"Hentikan! Aku belum siap melakukannya!" jeritku tanpa sadar, dengan kedua mata mulai berair.

Kamui-san tampak terkejut mendengar ucapanku barusan. Dia berhenti menjajah tubuhku dan menopang tubuh jangkungnya dengan kedua tangan. Mata bening berwarna ungu itu menatapku tajam. Jelaga hasrat yang tersirat di sana masih begitu pekat.

"Kapan kau siap?" tanya Kamui-san kemudian.

"A-aku..., aku tidak tahu," jawabku pelan, bingung sendiri.

"Sekarang saja, ya?" tanya Kamui-san lagi. "Akan kubuat kau siap," lanjutnya sambil menyentuhkan jari tengahnya ke bawah, tepat pada bagian tubuhku yang telah basah.

Aku menggigit bibirku kuat-kuat untuk mencegah desahan yang nyaris melesat. Kedua mataku pun ikut terpejam dengan erat. Kuku jemariku yang mencengkeram bahunya pun tanpa sengaja membuatnya tersayat. Namun entah mengapa, pada wajahnya justru terpahat rasa nikmat.

"Rileks saja, biarkan mengalir," bisik Kamui-san lirih, lalu mengecup bibirku lembut.

"Hentikan! Aku tidak mau!" kali ini aku mengucapkannya dengan nada tegas.

Dengan hati-hati, Kamui-san menjauhkan tangannya dari area pribadiku. Dia menyangga tubuhnya dengan kedua tangan sambil menatapku tajam. Wajahnya yang tanpa ekspresi, membuatku tak bisa menebak emosinya saat ini. Akhirnya Kamui-san menyingkir dari atas tubuhku perlahan. Dia beranjak dari ranjang, lalu berjalan menuju pintu kamar.

"K-kau..., mau ke mana?" tanyaku penasaran.

"Kamar mandi," jawabnya pelan.

Dalam hatiku, aku merasa sangat lega. Kuhela nafas perlahan, seolah melepas beban. Kamui-san telah menghilang dari pandanganku. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk mengenakan kembali pakaianku. Setelah rapi, aku melangkah keluar, tapi hanya berdiri mematung di depan pintu kamar.

Selang lima menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Kamui-san keluar dari sana dengan ujung celana sedikit basah. Menghindari kontak mata dengannya, aku segera menunduk. Dari sudut mataku, masih dapat kulihat Kamui-san berjalan menuju ke arahku. Saat di depanku, dia tidak berhenti, tapi terus melewatiku dan melangkah menuju pintu keluar apartemenku.

"Aku pergi," pamitnya pelan, singkat dan spontan.

Ada perasaan tak rela di hatiku, tapi aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama dua kali. 'Kumohon kuatlah, hatiku,' pintaku pada diriku sendiri. Kugigit bibir bawahku agar mulutku terkunci dan membiarkannya pergi sesuka hati.

"Masih hujan," gumamku tanpa sengaja, begitu lirih.

"Tidak apa-apa," sahut Kamui-san cepat.

'Sial! Ternyata dia mendengarku,' umpatku pada diriku sendiri karena telah mengatakannya.

Rasanya ingin sekali kugigit lidahku karena dia tidak bisa diajak kompak. Aku masih berdiri mematung, hanya mampu menggumam pelan untuk meresponnya. Kamui-san membuka pintu, lalu keluar dari apartemenku tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Melihat hal itu, tanganku terkepal menahan kesal. Atau sesal? Entahlah. Begitu pintu tertutup, aku segera menguncinya dari dalam, lalu kembali ke kamar.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang, lalu kudekap boneka beruang putihku dengan erat. Entah apa yang sebenarnya kurasakan, tapi air mataku bergulir perlahan. Jantungku berdebar begitu cepat, seolah nyaris melompat keluar jika bonekaku kulepaskan. Namun akhirnya aku tertidur karena menangis hingga kelelahan.

Pagi harinya, aku terbangun dengan kepala pening. Tidur yang kurang dan tidak berkualitas, malah membuat tubuh menjadi lemas. Kuambil ponselku dan melihat jam di layar. Ternyata sudah jam 9. Kemudian aku mengecek jadwal kerjaku. Syukurlah aku masuk shift siang.

Dengan malas aku beranjak dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi. Kubuka kran shower tanpa menyalakan pemanas. Berharap air dingin bisa menyejukkan pikiran dan perasaanku. Setelah selesai mandi, aku segera keluar dan mengenakan pakaian kerjaku.

Aku mengecek kembali ponsel pintarku. Tidak ada notifikasi apapun di sana. Hanya waktu menunjukkan hampir jam 10. Masih ada satu jam lebih sebelum aku masuk kerja. Namun kuputuskan untuk berangkat sekarang daripada hanya menunggu di apartemen sendirian saja.

Begitu sampai, kulihat suasana di dalam coffee shop hari ini cukup ramai. Untung aku datang lebih awal karena Sakura tampak sedikit kewalahan.

"Kau hanya ditemani Ino, Sakura? Karin ke mana?" tanyaku heran.

"Iya, Karin mendadak ijin," jawab Sakura spontan. "Tolong kau layani meja nomor 5, Hinata," pinta Sakura sambil memberiku sebuah nampan dengan selembar catatan pesanan di atasnya.

"Baiklah," sahutku singkat.

Dengan sigap aku segera melakukan pekerjaanku tanpa sempat memakai apron terlebih dulu. Kulihat Sakura dan Ino, rekan kerjaku, dengan tangkas melayani tamu cafe yang lain. Sepertinya sebentar lagi akan lebih ramai karena mendekati waktu lunchbreak.

Bekerja dengan situasi ramai seperti ini, membuat waktu seolah berlalu lebih cepat dari biasanya. Ketika mendapatkan jeda, kuperiksa ponselku. Ternyata sudah sore dan sebentar lagi ganti shift. Kulihat Sakura mulai menyusun laporan harian, sementara Ino sedang merapikan ikatan rambutnya dan menjepit poninya.

"Pekerjaanku sudah selesai! Aku pulang duluan, ya?" pamit Ino sambil melangkah pergi.

"Hati-hati di jalan," pesanku sambil melambaikan tangan kepadanya.

"Ah! Ino curang! Dia selalu saja pulang duluan, padahal kita harus membuat laporan keuangan!" gerutu Sakura sambil menghentak-hentakkan jemari lentiknya di atar keyboard laptop.

"Jam kerja kita kan sudah selesai, jadi wajar jika dia segera pulang," ujarku apa adanya.

"Kau membelanya, Hinata!" tukas Sakura dengan nada kesal.

"Aku tidak membela siapa-siapa, Sakura," sanggahku pelan. "Sudahlah! Akan kutemani sampai kau selesai, tapi cepat sedikit, ya?" sambungku sambil tersenyum.

"Baiklah! Tinggal sedikit lagi, kok!" ucap Sakura ringan.

Sambil menunggu Sakura, aku mengambil tas selempangku. Kemudian memeriksa ponsel pintarku. Ada sebuah pesan singkat masuk dari nomor baru. Penasaran, segera kubaca isi pesan itu.

'Maaf, Hinata. Besok aku tidak bisa datang. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Sasuke.'

Rupanya dari Sasuke. Dan dia ganti nomor ponsel lagi, atau dia memang punya dua? Entahlah! Namun aku segera menyimpan nomor baru Sasuke ke dalam phonebook, kemudian mengetik pesan balasan.

'Tidak apa-apa. Kabari aku saat kau luang.' Tak ada pesan balasan dari Sasuke walau pesanku telah terkirim. Sepertinya dia benar-benar sibuk saat ini.

Aku segera menghampiri Sakura, berharap dia sudah selesai menyusun laporannya. Pun ingin menagih janjinya kemarin. Aku benar-benar butuh teman untuk berbagi saat ini, karena aku sudah tidak sanggup lagi, sedangkan Tenten masih belum kembali.

"Sakura, nanti malam kau jadi menginap di apartemenku, kan?" tanyaku penuh harap.

"Hn? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi, Hinata?" ujar Sakura balik bertanya. Tiba-tiba dia menghentikan aktivitasnya, lalu memandangiku curiga.

"Tidak, aku hanya kesepian karena Tenten masih belum pulang," jawabku memberi alasan sekenanya.

"Oh, baiklah!" sahut Sakura singkat.

"Hn, terima kasih," ucapku senang, pun lega.

"Ya sudah! Ayo kita pulang!" ajaknya sambil menandatangani laporannya.

Setelah memakai jaketku, aku segera keluar. Tak lama kemudian, Sakura menyusulku setelah dia menyerahkan laporannya kepada manager coffee shop. Kemudian kami berdua berjalan kaki bersama menuju ke gedung Green Mansion.

Begitu sampai di apartemen, aku dan Sakura memasak makan malam bersama. Tak butuh waktu lama untuk menyiapkan makan malam, apalagi dengan bantuan tangan Sakura yang begitu cekatan. Sementara aku membantunya menata meja makan. Setelah masakannya matang, kami menikmatinya dengan lahap.

"Hinata," panggil Sakura di sela-sela kesibukannya mengunyah makanan.

"Ya?" sahutku dengan nada tanya, sambil tetap menikmati makan malamku.

"Apakah telah terjadi sesuatu?" tanya Sakura, masih penasaran.

"Kenapa bertanya begitu?" aku balik bertanya, berusaha memblokir arah pembicaraannya.

"Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi aku bisa melihatnya dari sikapmu," ujar Sakura ringan. "Ada apa sebenarnya?" tambahnya bertanya lagi.

Memang percuma menyembunyikan sesuatu dari Sakura. Dia seperti memiliki kemampuan membaca pikiran saja. Apalagi dengan keahliannya bertanya yang kadang terasa mengintimidasi. Resah, kuletakkan sendok di tangan kananku, lalu menghela nafas pelan.

"Kamui-san. Dia datang kemari," ucapku pada akhirnya.

"Apa? Untuk apa dia kemari? Dari mana dia tahu kau tinggal di sini?" tanya Sakura bertubi-tubi.

"A-aku...," jawabku gugup.

"He?!" seru Sakura terkejut.

"Aku mengirim pesan kepadanya, lalu dia mengajakku bertemu. Saat aku bilang tidak bisa, dia minta alamatku dan datang kemari," jelasku apa adanya.

Sakura terdiam sambil memandangi wajahku. Sepertinya dia sedang mengamati perubahan ekspresiku. Walau tatapan matanya yang datar tidak terlalu menunjukkan hal itu, tapi aku tahu dia begitu.

"Hinata, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Sakura terdengar ragu.

"Iya," jawabku spontan.

"Pria itu, sebenarnya, bagaimana kau bisa kenal dia?" tanya Sakura lagi, ingin tahu.

Flashback On, Author's PoV

Tahun lalu, Hinata bersama Tenten melihat sebuah eksibisi karya seni di Taman Budaya pusat kota. Saat itu, mereka berdua baru saja kehilangan Neji, dan berniat mencari hiburan untuk mengalihkan kesedihan.

Pada event itu, ada beberapa jenis karya seni yang dipamerkan. Dalam galeri, ada beberapa lukisan, patung, dan sculpture yang dipajang. Di gedung teater ada pemutaran film-film indie. Sementara di panggung terbuka, ada pertunjukan musik etnik.

Karena malas berdesak-desak, Hinata dan Tenten memutuskan untuk menonton pertunjukan musik etnik di panggung terbuka, walau sebenarnya mereka tidak terlalu suka. Namun tak butuh waktu lama, perhatian Hinata tersita oleh sosok seorang pria yang sedang memainkan perkusi. Tubuhnya yang jangkung, wajahnya yang tampan, rambutnya yang panjang melebihi pinggang. Entah mengapa penglihatannya terpaku padanya.

"Tenten, kau lihat pria berrambut ungu itu?" tanya Hinata berbisik pada telinga Tenten.

"Hn," Tenten menggumam sambil mengangguk.

"Jika rambutnya hitam kecoklatan, mungkin mirip Kak Neji," ujar Hinata pelan.

"He?! Tidak mirip," celetuk Tenten dengan wajah polos.

Hinata tersenyum kecut mendengar pendapat Tenten. Memang tidak mirip, tapi entah kenapa gesture pria itu mengingatkannya pada sosok kakak sepupunya.

Saat Hinata sedang tenggelam dalam pesona sang musisi tampan, tiba-tiba seorang wanita cantik mengulurkan selembar poster kepadanya. Tanpa mengalihkan pandangan, Hinata menerima kertas tebal itu sambil berterima kasih. Belum sempat membacanya, Tenten melurut poster itu dengan lembut.

"Permisi, Nona! Yang sedang tampil itu, kelompok musik yang mana, ya?" tanya Tenten pada gadis pemberi poster tadi.

"Oh, mereka grup Savagethno Percussion, dari Konoha Institute of Art," jawab gadis itu lugas dan jelas.

"Hn, terima kasih," ucap Tenten spontan.

Sedetik kemudian, Hinata membalas Tenten dengan mengambil kembali poster itu, ingin tahu. Kedua mata pucatnya langsung membaca tulisan Savagethno Percussion, lalu pandangannya bergerak ke bawah. Ada sembilan nama di sana. Dan memang ada sembilan orang di atas panggung sekarang.

"Kau pasti penasaran dengan nama pria itu. Iya kan, Hinata?" tanya Tenten menggoda Hinata.

Hinata menggumam pelan sambil tersipu. Samar, tapi pipinya tampak merona. Tenten tertawa kecil melihat perubahan ekspresi pada wajah ayu gadis di sampingnya.

"Sudah sore, Hinata! Ayo pulang!" ajak Tenten sambil berdiri.

Hinata pun ikut berdiri, walau dengan gerakan perlahan. Seolah dia belum rela pergi dan melewatkan performance pria tampan itu.

Beberapa minggu setelah hari itu, Hinata melihat pria tampan berrambut panjang itu sedang memainkan perkusi di taman dekat kampus Konoha Institute of Art. Penasaran, Hinata mendekati salah seorang mahasiswi yang sedang melihat aksi pria itu.

"Maaf, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Hinata pelan.

"Ya?" sahut gadis itu dengan nada tanya.

"Hn, siapakah nama pria yang sedang bermain perkusi itu?"

"Oh, dia Gakupo Kamui," jawab gadis itu singkat.

"Hn, terima kasih," ucap Hinata sambil tersenyum.

Merasa cukup puas karena sudah mengetahui nama pria tampan itu, Hinata langsung pergi dari sana. Saat melewati sebuah papan pengumuman, pandangannya tersita pada sebuah poster besar berwarna merah. Hinata berhenti, lalu membaca tulisan pada art paper merah itu. Sebuah pertunjukan drama teater dengan penata musik oleh Gakupo kamui?

Melihat tulisan itu, jantung Hinata mendadak berdebar-debar. Dan saat pandangannya beralih ke bagian sudut kanan bawah, ada nama Gakupo Kamui disertai nomor kontaknya. Tanpa pikir panjang, Hinata segera menyalin deretan angka itu ke dalam ponsel pintarnya sendiri.

Sudah lebih dari sebulan sejak Hinata memiliki nomor ponsel Gakupo Kamui. Namun belum sekalipun gadis itu berani untuk menghubunginya. Hingga akhirnya, rasa penasaran dan ketertarikannya pada pria itu tak dapat terbendung lagi. Hinata mengirimkan sebuah pesan singkat kepadanya.

'Hai. Boleh kenalan?' – delivered

'Tentu. Ini siapa, ya?' – received

Tak berselang lebih dari lima menit Hinata menerima balasan. Berarti dia pria yang ramah, pikir Hinata saat itu. Tak ingin kehilangan moment itu, Hinata segera mengetik pesan balasan.

'Namaku Hyuuga Hinata. Salam kenal.' – delivered

'Hai, Hyuuga. Namaku kau sudah tahu, kan?' – received

'Gakupo Kamui, kan? Anggota grup musik Savagethno percussion.' – delivered

'Iya. Kalau boleh tahu, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Dan kau dapat nomor ponselku dari siapa?' – received

Jantung Hinata mendadak berdebar lebih cepat saat membaca pesan itu. Bagaimana menjelaskannya, ya? Agak lama Hinata mengetik pesan balasannya kali ini. Selain karena dia berusaha menjelaskan panjang lebar, pun karena kedua ibu jarinya gemetar.

'Kita belum pernah bertemu. Tapi aku pernah melihatmu tampil di Taman Budaya dan kampus KIA. Dan nomor ponselmu, aku mendapatkannya dari contact person pada event drama Tarian Ilalang bulan lalu.' – delivered

'Oh, begitu rupanya. Bagaimana jika kita berkenalan secera langsung? Kira-kira kapan kau luang?' – received

Bagai genderang perang yang bertalu, jantung Hinata berdebar semakin cepat. Tanpa dia sadari, kedua pipinya merona seketika. Senyum manis terukir lebar di wajah ayunya. Dengan gugup, dia mengetik pesan balasan.

'Lusa aku akan melihat pameran lukisan di galeri seni kampus KIA. Kau juga perform di sana, kan?' – delivered

'Iya. Baiklah, kalau begitu lusa, ya?' – received.

'Iya.' – delivered

'OK.' – received

Hinata tertawa kecil membaca pesan terakhir Gakupo Kamui. Rasa antusiasnya membumbung tinggi, padahal hanya dua huruf kapital saja di sana.

Sayangnya, pada hari H Hinata tidak bisa bertemu dengan pria tampan itu karena dia terlambat datang. Ternyata Gakupo hanya mengisi musik sebagai pembukaan event itu, dan langsung pulang begitu selesai. Sementara Hinata datang sesudahnya karena dia ingin sampai di galeri saat suasana tidak terlalu ramai.

'Maaf, aku sudah pulang dari galeri. Saat ini aku sudah kembali ke asrama kampus. Kalau kau mau, kau bisa datang kemari.' – received

Sebuah pesan singkat dari Gakupo membuat harapan Hinata yang sempat sirna muncul kembali. Namun dia ragu untuk mengiyakannya karena dia tidak familiar dengan lingkungan kampus KIA, walaupun dia cukup sering melihat berbagai event di sana.

'Aku tidak tahu tempatnya. Lagipula, tidak pantas rasanya datang ke asrama khusus pria.' – delivered

'Asramaku berada tepat di belakang gedung galeri. Jaraknya hanya sekitar 100 m saja. Tidak apa-apa. Teman-temanku sering membawa teman wanita mereka kemari, kok!' – received

Sebenarnya Hinata sudah tahu tentang hal itu. Kesibukan para mahasiswa KIA dengan berbagai event membuat mereka sering berkumpul dan berlatih bersama, bahkan hingga larut malam. Hanya saja, Hinata bukan mahasiswi di sana, dan dia merasa agak sungkan jika memasuki wilayah itu. Walau sebenarnya ragu, Hinata akhirnya mengirim sebuah pesan kepada Gakupo.

'Aku akan ke sana sekarang. Bisakah kau menungguku di depan gedung asrama?' – delivered

'Tentu. Akan kutunggu kau di bawah.' – received

Hinata melangkah keluar dari galeri seni. Baru kali ini dia tidak bisa menikmati keindahan puluhan lukisan realistic yang terpajang pada dinding ruang pamer itu. Pikiran dan perasaannya saat ini terfokus pada pria berrambut ungu yang telah mencuri perhatiannya sejak hari itu.

Saat hampir sampai di depan gedung asrama Gakupo, dia berhenti sejenak. Menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari sosok jangkung pria yang harusnya sedang menunggunya di sini.

"Hei, Nona! Kau yang bernama Hyuuga Hinata, kan? Kemarilah!" seru seorang pria dari balik pintu gedung bertingkat tiga itu.

"Kamui-san?" sapa Hinata dengan nada tanya, bingung dan ragu.

"Kau sudah sampai rupanya! Ayo masuk! Kamarku ada di lantai 2," ajak Gakupo ringan, sambil tersenyum tipis.

Dengan langkah pelan, Hinata menghampiri Gakupo, lalu mengikuti pria itu menuju tangga dan naik ke lantai dua. Begitu sampai di depan kamarnya, Gakupo segera membuka pintu dan mempersilakan Hinata masuk. Canggung, Hinata melangkah dengan perlahan, lalu mengamati suasana interior kamar pria itu.

"Maaf, kamarku berantakan. Aku dan teman-temanku sedang mempersiapkan komposisi baru untuk event di luar kota," ucap Gakupo, seolah mengerti rasa tak nyaman yang tersirat di wajah Hinata. "Kau boleh duduk di ranjangku, silakan!" ujar Gakupo sambil menyingkirkan kertas-kertas yang berserakan di atas ranjangnya, lalu melipat selimut tebalnya.

"Te-terima kasih," ucap Hinata gugup, lalu duduk di sisi ranjang.

"Sebentar, ya? Aku ambilkan minum dulu," pamit Gakupo sambil berjalan keluar kamar.

"Tidak usah repot-repot!" cegah Hinata, tapi terlambat.

Sendirian di tempat yang sama sekali asing, apalagi di kamar seorang pria yang baru pertama kali dia temui, membuat Hinata merasa bingung sendiri. Dia melihat ke sekelilingnya. Ada sebuah biola di atas meja kecil di dekat lemari, dan sebuah rak buku di sampingnya. Sebuah keranjang berisi pakaian kotor di sudut belakang pintu, dan sebuah ukiran kayu berbentuk wajah manusia tergantung pada dinding. Sementara di samping ranjang, ada tiga buah perkusi dengan ukuran yang berbeda-beda.

"Maaf, membuatmu menunggu. Silakan!" ujar Gakupo sambil mengulurkan sebotol air mineral yang masih tersegel rapi kepada Hinata.

"Terima kasih," ucap Hinata sambil menerima botol itu, lalu tersenyum.

"Kau tidak tersesat, kan?" tanya Gakupo ringan.

"Tidak," jawab Hinata singkat.

Gakupo tersenyum tipis mendengar jawaban Hinata, lalu dia menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Melihat hal itu, perasaan Hinata menjadi resah. 'Mengapa harus mengunci pintunya?' tanya Hinata dalam hati. Dia ingin bertanya langsung, tapi lidahnya mendadak kelu karena Gakupo saat ini sudah duduk di sebelahnya.

"Kau bukan mahasiswi KIA, ya? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," tanya Gakupo penasaran.

"Aku kuliah di Konoha University," jawab Hinata spontan.

"Oya? Ambil program studi apa?" tanya Gakupo lagi.

"Arsitektur," jawab Hinata singkat.

"Hn," gumam Gakupo pelan.

Sejenak mereka berdua membisu. Gakupo menoleh ke arah Hinata, memperhatikan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan seksama. Hinata merasa tidak nyaman dengan hal itu. Walaupun dia menunduk dan penglihatannya tertutupi rambut indigonya yang panjang, tapi dari sudut matanya, dia bisa melihat pria di sampingnya bergerak mendekat.

"Kau tahu tentang aku sejak kapan?" tanya Gakupo penasaran.

"Hn, se-sekitar sebulan yang lalu, saat kau perform di teater terbuka Taman Budaya kota," jawab Hinata, sambil mencondongkan tubuhnya agar sedikit menjauh.

"Hn, event tahunan itu," ujar Gakupo pelan, kembali mendekati Hinata hingga gadis itu tersudut di ujung ranjang.

Tanpa diduga, Gakupo meraih dagu Hinata dan mendongakkan wajah ayu gadis itu. Jemari panjangnya menepikan rambut di samping pipi kirinya ke belakang telinga, lalu mengecup bibir mungil Hinata dengan cepat. Pada detik yang sama, Hinata mencium aroma tembakau yang begitu pekat.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Hinata tersentak kaget karena tak sempat menghindar.

Dengan sigap Hinata mendorong dada kekar Gakupo, berusaha membuat jarak. Botol air mineral di tangannya terjatuh ke lantai masih dalam keadaan tersegel utuh. Gakupo tersenyum melihat sikap defensif Hinata. Seringai tipis tampak terukir di sudur bibir sensual pria itu. Menepiskan tangan Hinata, Gakupo kembali bergeser mendekati Hinata hingga punggungnya membentur dinding. Sekali lagi, Gakupo mencium bibir Hinata, tapi kali ini lebih lembut dan lebih lama.

Hinata mencoba pasrah dan menikmati ciuman hangat itu. Namun ternyata, kian lama ciuman itu kian dalam. Hinata kini meronta, mencoba melepaskan diri. Dia menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri, agar terbebas dari kuncian bibir Gakupo karena saat ini dia mulai sesak nafas.

Berusaha membatasi gerak Hinata, Gakupo menekan pundak kanan gadis itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mulai meremas-remas dada kirinya dengan kasar. Cukup lama Gakupo menjajah bibir Hinata, hingga tiba-tiba lidahnya mencecap rasa asin yang teramat sangat. Air mata Hinata.

"Lepaskan! Aku mau pulang!" pinta Hinata dengan nada perintah, begitu Gakupo menghentikan ciumannya.

"Hn," gumam Gakupo pelan, lalu bergerak menjauh perlahan.

Hinata menatap kedua mata bening berwarna ungu itu dengan tajam. Rasa kecewa terpahat di wajah ayunya. Gakupo akhirnya beranjak dari ranjang, lalu berjalan menuju pintu. Selesai memutar anak kunci, pria itu membuka daun pintu itu lebar-lebar.

"Silakan!" ujar Gakupo ringan.

Tanpa membuang waktu lagi, Hinata segera angkat kaki dari tempat itu. Dengan sekuat tenaga, gadis itu berusaha menahan tangisnya agar tidak tumpah di sana.

Flashback Off, back to Hinata's PoV

"Sejak hari itu, setiap kali bertemu dengannya, kejadiannya yang sama selalu terulang," ceritaku dengan air mata tergenang. "Dan setiap kali teringat tentang dia, hanya peristiwa itu yang terkenang," tambahku pelan.

Saat ini aku dan Sakura sudah selesai makan malam, dan kami mengobrol berdua di dalam kamar. Sakura duduk di atas ranjang, sementara aku berbaring sambil memeluk boneka beruang putihku erat-erat. Dalam pandangan yang kabur, dapat kulihat rasa ingin tahu yang besar tersirat dalam tatapan kedua mata Sakura.

"Apakah kau jatuh cinta kepadanya, Hinata?" tanya Sakura tanpa tedeng aling-aling.

Aku tercengang mendengar pertanyaan Sakura. Tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan itu. Kalimat tanya sederhana itu terdengar seperti sebuah tuduhan bagiku. Ingin menyangkalnya, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Jujur saja, aku memang jatuh cinta kepadanya sejak pandangan pertama.

Saat hatiku resah, ponsel pintarku berdering pelan. Dengan malas aku bangkit dari posisiku, lalu kuambil benda berisik itu dari tas selempangku. Kulihat ada panggilan masuk dari nomor pria itu. 'Panjang umur kau rupanya,' batinku dalam hati.

"H-halo...," sapaku sedetik setelah kusentuh tombol answer, dengan perasaan gugup.

"Apakah kau sibuk? Boleh aku ke apartemenmu?" tanya Kamui-san tanpa basa-basi.

"M-maaf, ada temanku menginap malam ini," jawabku apa adanya.

"Laki-laki yang kemarin itu?" dia bertanya lagi, dengan intonasi mengintimidasi.

"Bukan, teman kerjaku di coffee shop," jelasku menegaskan.

"Oh, ya sudah! Selamat bersenang-senang, ya!" ucapnya ringan, lalu sambungan telpon terputus dari begitu saja.

Aku menggenggam erat ponselku. Perlahan kuhela nafas menahan cemas. Kenapa Kamui-san bertanya tentang Sasuke? Lagipula, seandainya memang Sasuke yang menginap, apa haknya bertanya dengan nada bicara seperti itu? Kesal, tanpa sadar aku mendengus keras.

"Dari lelaki itu?" tanya Sakura tiba-tiba.

"Iya," jawabku singkat.

"Hn, sepertinya kau kesal," komentar Sakura sambil melirikku. "Kenapa?" lanjutnya bertanya.

Iya, aku mendadak merasa kesal. Entah mengapa aku merasa ada yang mengganjal hatiku saat ini. Suasana hatiku tiba-tiba memburuk. 'Apakah dia cemburu, atau dia merendahkanku?' tanyaku pada diriku sendiri. Sekali lagi, kuhela nafas dalam-dalam, lalu kuhembuskan pelan-pelan.

"Tidak apa-apa, Sakura," jawabku sekenanya. "Ayo tidur! Aku sudah mengantuk," ajakku sambil berbaring kembali dan menarik selimutku.

_TBC_

AN:/

Finally updated the 4th chapter!

Terima kasih sudah membaca, mereview, dan mem-follow/fave fanfic ini.

Maafkan saya karena sudah membuat kalian menunggu cukup lama.

Sebagai gantinya, saya menulis chapter ini lebih panjang daripada sebelumnya.

Sekali lagi maaf dan terima kasih.

Salam,

uL!eZha