Ohayou minna-san! Fiya kembali membawakan chapter baru dari "Love Potion Disaster!" Mianhae(?), Fiya update-nya lama karena kendala laptop rusak, pulsa modem habis, dan lain sebagainya.
Dan... Untuk chapter sebelumnya, kok sedikit ya yang review ^^" padahal, Fiya sudah buat sebagus-bagusnya dan nyari ide selama seminggu TTATT Gak papa deh, Fiya ikhlas, cerita tak beralur ini memang pantas di-seperti-itu-kan.
Maaf jika chapter ini sangat amat melenceng dari alur cerita sebelumnya.
Okay! Selamat menikmati minna! ^o^)/
Love Potion Disaster (C) Furikaze Aizawa
Disclamer: NARUTO bukan milik saya, tetapi milik Masashi Kishimoto-sensei. Saya hanya meminjam chara-nya.
Rate: T
Warning: OOC, AU, typo(s), tak bergenre(?), dll
PERINGATAN BESAR: NO FLAME! AKU BAWA WATER(?)
"Jadi begitu, Sasuke-san," Hinata mengakhiri penjelasannya. Ia pun menatap Sasuke dengan tatapan yakin. Sasuke hanya –dengan cueknya- berkata "Mana mungkin."
'Dia masih tidak percaya?!' batin Hinata, kaget. "Ku-kumohon, Sasuke-san! Percayalah kalau itu benar-benar terjadi! Kumohon..." ujar Hinata setengah berteriak. Ia menunduk di depan Sasuke.
Sasuke hanya melihatnya dengan tatapan bosan. Ia pun menunduk dan berpikir sebentar. "Hn. Baiklah. Aku mempercayaimu. Mana mungkin seorang Hyuuga akan berbohong," ujarnya cuek.
Meskipun ucapannya terdengar cuek dan tidak peduli, Hinata tidak peduli. Ia senang karena akhirnya Sasuke percaya.
"Dan aku akan membantumu," ujar Sasuke dengan tiba-tiba yang membuat Hinata semakin tidak percaya.
"Be-benarkah?!"
"Demi Sakura-chan kembali kepadaku, aku akan melakukan apapun untuk membantu," tambahnya. Mata Hinata membulat, jantungnya berdetak lebih kencang.
"Te-terima kasih!" serunya sambil menunduk.
Sasuke hanya tersenyum kecil dan berjalan kembali ke kelas. "Kau tidak kembali ke kelas, eh? Sudah jam segini."
"Um... Ano... Iya," ujar Hinata. Hinata berlari kecil menuju kelasnya yang berada di lantai atas. Hatinya menari-nari dengan riang. 'Yokata nee, Sasuke-san percaya. Ia bahkan ingin membantu,' batinnya sembari menampakan senyum manisnya yang sudah lumayan jarang dilihat.
Sesampainya di kelas, Hinata segera duduk di bangkunya. Ia terus tersenyum, kemudian ia mengambil ponselnya.
To : Rock Lee-san
Lee-san, aku berhasil mempercayakan Sasuke-san dan dia mau membantu
'SEND!' batinnya. Ia menutup ponselnya. Dan ia pun bernyanyi-nyanyi dengan riang. Temannya yang heran dengan tingkah tak wajarnya pun mendekatinya.
"Hinata-san gak kenapa-napa kan?" tanya gadis berambut merah jambu. Hinata tersadar dari lamuannya dan menatap gadis itu.
"E-eh? Sa-Saara-san? Aku tidak apa-apa kok," jawab Hinata gugup seperti biasa.
Gadis bernama Saara itu menaikan sebelah alisnya. "Eehh? Tapi kenapa kau dari tadi senyum-senyum?"
"O-oh itu! Ti-tidak apa-apa kok Saara-san, hanya saja..."
"Hanya saja apa? Kau jatuh cinta ya? Eciyee..." potong Saara. Hinata kaget mendengar ucapannya itu. 'Jatuh. Cinta?'
"Ti-tidak Saara-san! I-itu tidak mungkin!" bantah Hinata sambil menahan blushingnya. Saara hanya tertawa melihat tingkah Hinata.
"Ayolah, Hinata-san! Kita ini sudah remaja, jadi wajar kan kalau kita jatuh cinta? Lagipula, aku jarang sekali melihatmu tersenyum seperti tadi. Karena apalagi kau tersenyum seperti itu kalau bukan karena 'cinta'?" Perkataan Saara itu membuat Hinata kaget dengan sangat. Ia hanya membantu customernya bukan? Kenapa ia bisa sebahagia ini saat ia telah membantunya menyelesaikan salah satu masalah?
'Oh ya itu!' "Ka-karena, aku berhasil menyelesaikan salah satu masalah yang berhubungan dengan ma-masalah keluargaku," bantah Hinata. Ya! Memang itu tujuan Hinata sejak awal, tapi...
"Hanya itukah? Mungkin, ada suatu perasaan tersembunyi deh!" bantah Saara. "Masa' cuma itu? Kalau itu gak sampe senyum-senyum segitunya kalee!"
"Ta-tapi..."
"Ehehehe. Gomen, Hinata-san. Aku hanya suka menggodamu karena kau benar-benar imut ketika kehabisan kata-kata. Ehe, gomen nee!" ujarnya sembari memeletkan lidahnya dan membentuk tanda "V" pada tangannya.
"Sa-Saara-san!"
"Gomen!"
Kringgg...!
Bel masuk pun berbunyi. Saara segera menempati bangkunya yang berada di barisan nomor 3. Hinata hanya menghela napas dan mengambil buku pelajaran Kimia-nya.
Beberapa menit kemudian, Kurenai-sensei datang dan mulailah pelajaran di kelas Hinata.
Kringgg...!
'Sudah pulang ya?' gumam Hinata.
Tak terasa bel pulang telah berdentang. Hinata pun beranjak dari bangkunya dan berjalan ke tempat loker.
Ctak. Ctik. Ceklek.
"Hm... Oke, buku ini akan kupakai malam ini jadi kubawa pulang. Sedangkan yang ini ditaruh sini saja," gumamnya. Beginilah kebiasaan Hinata sepulang sekolah. Memilah-milah buku yang akan dimasukan ke loker/dibawa pulang. Rajinnya -_-"
"Hm... A-aku rasa sudah cukup." Hinata pun berjalan melewati kodidor-koridor sekolah sembari membawa buku-buku tebal.
Tiba-tiba...
Slip.
"Kyaaaa!"
Bruakh! Brakh Brakh!
"A-aduh ada apa?" Mata lavender Hinata melihat sebuah kabel besar yang dipasang di lantai. "Oh, ternyata a-ada kabel," gumamnya.
Ia pun segera berdiri, namun ia melihat buku-bukunya berserakan di lantai koridor sekolah. Ia pun segera memungutnya.
Perlahan ia memungutnya. Tiba-tiba, nampak sesosok pria tinggi berambut raven mendatanginya.
"Butuh bantuan, Hinata?" tanyanya dengan suara dinginnya. Hinata menoleh ke sumber suara.
"Ah! Sa-Sasuke-san?!" Spontan, Hinata kaget melihat penampakan(?) orang keren tersebut. "A-apa yang Sasuke-san lakukan di sini?"
"Hn. Aku hanya kebetulan lewat saja," ujarnya. Sasuke jongkok di sebelah Hinata. "Aku bantu ya!"
Sasuke pun membantu memunguti buku-buku Hinata dan memberikannya kepada Hinata.
"A-Arigató Sasuke-san," gadis berambut indigo itu pun berdiri sembari membawa buku-bukunya. Namun... "Aduh!"
Brakk!
Sekali lagi, Hinata terjatuh.
"Daijoubu desuka, Hinata-san?" tanya Sasuke. Pria raven itu segera membantu Hinata untuk berdiri.
"I-ittai..."
Sasuke melihat lutut Hinata yang berdarah. "Ahh... Kau terluka. Ayo ikut aku ke UKS. Akan kuobati!"
"Ti-tidak usah, Sasuke-san!"
"Gak papa kok Hinata-san. Daripada nanti di jalan, kamu jalan pincang terus jatuh lagi gimana?" ujar Sasuke. Hinata menatap mata Sasuke, ia pun menunduk dan mengangguk.
"Ya sudah, ayo."
Di UKS...
"I-ittai!"
"Tahan, sebentar lagi," ujar Sasuke. Ia mulai membalutkan beberapa pembalut (Fiya: Jo' ngeres he! -_-) ke lutut Hinata yang terluka.
1 menit kemudian, luka Hinata telah selesai diobati oleh dokter Sasuke(?) Kedua insan itu pun berjalan ke gerbang sekolah.
"N-nee, Sasuke-san," panggil Hinata. Sasuke menoleh diiringi oleh ucapan "hn" khasnya. "A-arigató karena telah menyembuhkan lukaku. Dan... Gomen! Aku telah merepotkanmu!"
"Ah, itu. Tidak apa-apa kok, Hinata-san," ujar Sasuke.
"Bu-bukan itu!" teriak Hinata dengan wajah yang terlihat sangat cemas. Sasuke kaget, ia pun menghentikan langkahnya dan mencermati ucapan Hinata. "A-ano.. Maaf soal Sakura-san itu! Go-gomen, hontouni gomenesai! Ka-karena aku... Sa-Sakura-san..."
"Tak apa," potong Sasuke. "Itu hanyalah sebuah 'kecelakaan' bukan? Kecelakaan bisa saja terjadi tanpa kita menyadarinya terlebih dahulu."
Hinata hanya menunduk. "Mm."
Hening kembali menyelimuti kedua insan yang sudah sampai di halaman sekolah itu. Pemuda raven itu mengangkat kepalanya dan memandangi langit sore. "Langitnya cantik ya," ujarnya kagum.
Hinata ikut mengangkat kepalanya. Langit oranye. Sangat cantik. "Utsukushi..."
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan terlintas di benak Hinata. "A-ano, Sasuke-san?" panggilnya ragu.
Sasuke menoleh dan seperti biasa, diiringi oleh "hn?" khasnya.
"A-ano... Mengapa kau mau membantu kami?" tanyanya gugup. Sasuke sedikit kaget mendengar pertanyaannya, kemudian ia menghentikan langkahnya.
"Karena, yaa... Mau bagaimana lagi. Hanya inilah satu-satunya cara untuk menyadarkan Sakura kembali. Beside," Sasuke menatap wajah Hinata yang penuh dengan pertanyaan dan rasa ingin tau. "Hn. Aku ingin membantu menyadarkan Neji kau tau. Dia adalah teman baikku dulu saat SMP."
Deg!
"Ne-Neji-nii?! Ka-kau?!" Hinata nampak tak percaya, namun mata lavendernya menatap dalam mata hitam Sasuke. Jujur. Tak nampak kebohongan sedikitpun.
"Hn. Kalau kau sendiri?" tanya Sasuke sembari menengok ke Hinata yang masih kaget.
"A-aku?" tanya Hinata sembari menunjuk ke dirinya sendiri.
"Hn. Ya, kau. Katamu kau adalah dukun cinta bukan? Yaa... Aku hanya heran, ini baru pertama kalinya kulihat seorang dukun yang mau membantu customer sampai segitunya," jelas Sasuke. Hinata hanya terdiam, mencari alasan yang tepat.
"A-ah ya! Aku ingin membuat Neji-nii agar ia mau kembali ke keluarganya dan mau bertunangan dengan Shion-san!" ujar Hinata mantap.
"Apa hanya itu? Kalau itu saja sih, gak sampai segitunya kali," ujar Sasuke.
Deg! Hinata jadi teringat akan perkataan Saara tadi. 'Ba-basaaka... J-jangan bilang aku... Jatuh... Cinta...?'
"Apa mungkin ada perasaan tersembunyi?"
Deg!
"I-itu sih tidak mungkin, Sa-Sasuke-san..." bantah Hinata sembari menyembunyikan blushingnya.
"Souka." Sasuke pun mulai berjalan lagi, diikuti oleh Hinata di belakangnya.
"Cu-cukup sampai di sini, Sasuke-san. A-arigató," ujar Hinata sembari menundukan badannya.
"Hn. Doita," ujar Sasuke. Kemudian, dia berbalik badan dan berjalan pulang ke rumah. Hinata hanya terdiam melihat kepergiannya. Ia pun segera masuk ke dalam.
Ceklik.
Ngeek...
"Tadaima," ujarnya pelan. Ia segera melepaskan sepatunya dan berjalan ke ruang keluarga.
"Ah! Hinata-san! Okaeri!" Terdengar teriakan familiar dari dalam ruang keluarga. Dengan cepat, Hinata membuka pintu ruang keluarganya.
Ngeek...
"LEE-SAN?!"
"Okaeri!" Terlihat Lee sedang duduk manis di sebelah meja. Ia tersenyum melihat Hinata.
"LEE-SAN?! A-APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!" tanya (baca: teriak) Hinata sembari melempar tasnya yang tepat mendarat di wajah Lee.
"AAAA!"
"A-APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?! KE-KELUAR!"
SKIP TIME: Beberapa menit kemudian...
"Aduh.. Sabar, Hinata-san. Aku hanya ingin berkonsultasi dan menanyakan tentang ramuan itu," ujar Lee sembari mengelus wajahnya yang terkena tas Hinata.
"O-oh, iya, silahkan," ujar Hinata. Ia pun duduk di sebelah Lee.
"Aku hanya bingung. Apakah sihir ramuan tersebut dapat dihilangkan? Masalahnya... Aku takut... Banyak sekali yang dapat terjadi kalau sihir ramuan tersebut tidak dapat dihilangkan," curhat Lee. Hinata hanya terdiam.
"Mu-mungkin bisa. Ki-kita hanya bisa berusaha dan berdo'a. Semoga saja bisa..." ujar Hinata. Ia menatap Lee dengan tatapan ragu. Lee mengangguk.
"Okelah kalau begitu! Terima kasih karena telah menghilangkan gugup dan raguku!" ujar Lee dengan wajah semangat seperti biasa. Hinata hanya bengong melihatnya.
"Oke, aku pulang dulu ya! Jaa~" seru Lee. Ia berlari ke pintu depan dan keluar dari rumah Hinata. Hinata hanya terdiam melihat kepergiannya.
'A-apa ini?! Ah, sebaiknya aku tidur, aku rasa aku kecapekan,' batin Hinata. Ia segera mandi dan berganti baju. Kemudian pergi tidur di atas kasurnya yang KING-size.
Hinata's POV
Kukuruyuk...
Suara ayam itu membangunkanku dari tidur lelapku. Kubuka mataku dan kulihat jam di dinding kamarku.
"Jam 6 ya?" gumamku. Aku meregangkan tubuhku, tiba-tiba aku baru menyadari kalau...
"KYAA! HARI INI OLAHRAGA! AKU TELAAAATTT...!" Aku berteriak histeris. Aku langsung mandi secepat kilat, memakai seragam olahraga dan tak lupa menguncir satu rambutku karena hari ini ada olahraga. Mana mungkin aku menggerai rambut panjangku di saat pelajaran olahraga, nanti jadinya sumpek.
"AKU BERANGKAT!" teriakku. Aku tidak memakai sepatu dengan benar, hanya menginjaknya dan berlari ke sekolah.
Sesampainya di sekolah...
"Hinata-san!" panggil sebuah suara yang sangat kukenal. Aku menengok dan mendapati sesosok gadis bersurai biru sedang menyapaku dari kejauhan. Aku pun berlari ke arahnya.
"Ohayó, Konan-san," sapaku.
"Ohayó, Hinata-san! Kok tumben telat?" tanyanya sembari memancarkan senyum manisnya.
"Aku tadi kelupaan kalau hari ini ada pelajaran olahraga, Konan-san," jawabku jujur. Konan hanya ber'oh'ria.
"Ehehe. Aku juga, untung gerbangnya belum ditutup!" ujarnya dengan riang.
"Oh ya, kalau kau? Kenapa kau telat, Konan-san?" tanyaku heran. Konan kan termasuk anak yang rajin.
"Huh, itu semua karena adik-adikku. Mereka susah sekali dibangunkan! Apalagi Tobi itu, huh," ujar Konan dengan nada kesal. Memang, bagaimana ya? Konan merupakan satu-satunya anak perempuan di antara ke-4 bersaudara. Jadi wajarlah~
"Ahahaha, iya."
Kringgg...!
Bel masuk telah berbunyi, itu menandakan kalau pelajaran pertama alias olahraga telah dimulai.
"Eh, sudah masuk nih! Yuk ke gym!" Konan menarik tanganku dan kami berlari beringinkan ke gym sekolah yang berada di belakang sekolah.
Sesampainya di sana, aku melihat sudah banyak teman-teman sekelasku yang sudah berlari mengelilingi gym. Aku hanya bengong dan terdiam.
"Hinata-san, ayo lakukan pemanasan!" suruh guru olahragaku.
"Ha-hai, Iruka-sensei." Aku segera berlari mengelilingi gym tersebut namun sayangnya aku tak sekuat dan selincah juga secepat teman-temanku.
BRUAKH! Akhirnya, aku pun terjatuh saat sedang berlari.
"Hinata-san, daijoubu?" tanya Konan, mendekatiku. Aku hanya terdiam dan berusaha untuk jongkok. Tapi, tak kuat.
"Aku memang lemah..."
"Jangan menyerah, Hinata-san! Terus berjuang, mana semangat masa mudamu?" Suara teriakkan dari seseorang yang kukenal itu terdengar oleh telingaku. Sebentar, itu kan suara...
"L-Lee-san?" aku mendongakkan kepala dan mendapati bayangan atau ilusi Lee menyemangatiku dari pinggir lapangan.
"Semangat Hinata-san! Kau pasti bisa!" serunya sembari melambaikan tangannya. Aku langsung bangkit dan berlari sekuat tenaga. Dann...
"Hyaa!" Untuk pertama kalinya, aku berhasil melakukan pemanasan lari keliling gym 10 kali. Bahkan aku menyalip teman-teman yang telah mendahuluiku.
"Wow... Hinata-san, keren sekali! Ini pertama kalinya kau berhasil!" seru Konan sembari memegang tanganku seraya mengucapkan selamat.
"E-eh? A-arigato gozaimasu, Konan-san," ujarku. Kemudian, aku menengok ke tempat Lee tadi tapi... Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. "E-eh? Ini aneh."
"Apanya, Hinata-san?" Konan, yang tidak sengaja mendengar ucapanku, bertanya kepadaku.
"Ti-tidak apa kok."
Aku, Konan, dan teman-teman sekelasku lainnya mulai berolahraga, mengabaikan bayangan Lee tadi.
Tapi...
Kenapa aku bingung?
Sepulang sekolah...
Step Step
"Huft..." Entah mengapa, siang ini aku malas sekali pulang sekolah. Saking panasnya siang ini. Biasanya aku pulang sore, tapi dikarenakan ada rapat guru, akhirnya dipulangkan pukul 12.00 PM. Dan kau tau? Panas...
Aku mendongakkan kepalaku dan yang pertama kali kulihat adalah sesosok lelaki memakai seragam sekolah SMA negeri Konoha sedang berjalan ke arah yang sama sepertiku, yaitu ke rumahku.
Rambutnya itu... Lho? Itu kan?
"Lee-san!" panggilku. Lee menoleh.
"Ah! Hinata-san! Kebetulan sekali!" serunya. Ia berlari ke arahku yang tak jauh dari posisinya semula. [A/N: Oke anak-anak, ini yang dinamakan dengan 'perpindahan'. Sebelumnya Lee berada di depan pohon A, namun ia berpindah posisi ke pohon B tempat Hinata sedang berdiri sekarang. Nah, inilah yang dinamakan per-pin-da-han /plak]
"Lee-san mau kemana? Kok ke arah Jl. Hashirama Senju 1?" tanyaku kepada Lee.
"Oh, aku ingin ke rumahku. Karena, aku ingin bertanya tentang ramuan itu lagi dan aku juga numpang mengerjakan tugas," jawabnya santai. Aku hanya ber'oh'ria.
"Hinata-san," panggilnya. Aku menoleh dan menatapnya. "Ayo kita jalan-jalan dulu ke taman, mumpung kamu pulang cepat," ajaknya. Aku hanya mengangguk dan kami pun berjalan ke taman bunga yang berada tak jauh dari rumahku yakni berada di Jl. Tobirama Senju 3.
Sesampainya di taman bunga...
"Hwaa..." Aku terkagum-kagum melihat keindahan dan kecantikan dari sekumpulan bunga ini. Sampai-sampai, aku kehabisan kata-kata.
"Indah bukan?" tanya Lee. Aku mengangguk mantap. "Nah, kalau begitu, ayo ikut aku, Hinata-san!" Lee menarik tanganku. Aku nurut saja.
Kami berjalan mengelilingi taman bunga ini. Sangat indah, dan penuh warna.
"Ah! Ada tempat merangkai bunga ternyata!" seru Lee. Kami berlari ke sebuah tempat khusus untuk merangkai bunga.
Aku duduk di atas rerumputan hijau, sementara Lee memetik beberapa tangkai bunga yang penuh warna.
"Nah, Hinata-san! Ayo kita merangkai bunga!" ajak Lee yang baru datang sembari membawa beberapa tangkai bunga yang cukup besar di tangannya.
"Mm." Kami pun merangkainya dan beberapa lama kemudian, akhirnya selesai sudah!
"Utshukushi..." gumamku. Bunga lily yang kami rangkai itu sangatlah cantik. Bunga itu kami rangkai menjadi flower crown.
"Flower crown yang cantik... Sepertinya aku pernah melihat flower crown seperti ini sebelumnya," ujar Lee. Aku menganguk sembari tersenyum. Sebentar, flower crown itu kan mirip punyanya...
"Putri Bunga, Hanami," ujar kami berdua bersamaan. "L-Lee-san suka nonton anime?" tanyaku. Lee mengangguk mantap. "Tentu!" ujarnya.
"Oh ya Hinata-san, ini," Lee memakaikan flower crown itu ke kepalaku. Aku tersipu dibuatnya. "Sebagai rasa terima kasih, karena telah membantuku menyelesaikan masalah ―meskipun kadang malah menyusahkan sih―"
"Te-terima kasih." Entah mengapa aku merasa gugup, bahkan blushing berat. Entah apa ini rasanya? Seperti ada perasaan yang mengganjal di dalam hatiku.
"Eh, sudah pukul 2 siang, ayo kita pulang!" ajak Lee. Ia bangkit dari duduknya, begitu pula aku. Kami pun berjalan beriringan ke rumahku yang tak jauh dari sini.
Entah mengapa, selama perjalanan, aku hanya terdiam. Memikirkan tentang perasaan yang mengganjal di dalam hatiku ini.
'U-uh... sebenarnya apa sih perasaan ini? A-aku rasa aku pernah merasakannya sebelumnya dan itu adalah saat a-aku, aku bersama Naruto-kun... Ja-jangan-jangan! Ti-tidak mungkin!' batinku terus menerus sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Hinata-san, kita sudah sampai," ujar Lee.
Tak terasa kami sudah sampai di rumahku yang lumayan besar itu. Padahal hanya dihuni oleh diriku seorang. Aku dan Lee pun masuk ke dalam.
"Oke, aku ingin mengatakan sesuatu kalau aku ingin membantumu mengerjakan ramuan itu," ujar Lee.
"Hm? Ka-kau tidak perlu kok, Lee-san. Aku sudah dalam proses mengerja―"
"Tidak! Aku tetap akan membantuku! Pada awalnya, akulah orang yang membuat semua ini terjadi! Karena keinginanku untuk mendapatkan Tenten-san!" bantah Lee. Aku terdiam.
"Ta-tapi... Bahaya."
"Tak peduli! Pokoknya aku bisa membantumu meskipun hanya menyiapkan botol saja," bantahnya lagi. Aku merenung sejenak.
"Tidak bisa. Teknik ini adalah teknik rahasia klan Hyuuga. Hanya klan Hyuuga yang dapat membuat ramuan semacam ini," ujarku dengan ―tumbennya― tegas. Wajah Lee tampak kecewa. "Tapi, kalau aku sudah mentok benar-benar tidak bisa, aku akan menyuruhmu untuk membantu." lanjutku.
Sekarang, wajah Lee sekarang tampak senang. "A-arigato!" serunya menangis-nangis.
"U-um... Doita," sahutku.
Lee bangkit dari duduknya kemudian menenteng ransel coklatnya. "Kalau begitu, aku pulang dulu. Jaa!" Ia pun berjalan ke pintu depan dengan diriku yang mengikutinya dari belakang.
"Oh ya, sebelumnya." Ia menoleh ke belakang dan menatapku dengan senyuman. "Kau nampak cantik dengan gaya rambut seperti itu, Hinata-san."
'Nani?!' Seketika, wajahku memerah dan jantungku berdenyut lebih kencang dari biasanya. Untung saja, Lee telah pulang.
Tapi, mengapa wajahku memerah dan denyut jantungku cepat?
Apakah ini yang dinamakan cinta?
Malamnya, aku membuka pintu ruang membuat ramuanku. Aku mengikat satu rambutku seperti tadi pagi. Kemudian, aku mulai membuat ramuan. Beberapa ramuan kucampurkan, kuaduk, dsb.
Aku akan terus berjuang! Untuk Lee dan lainnya!
'Lee-san, Sakura-san, Neji-nii, Sasuke-san, Tenten-san, Shion-san, aku akan berjuang untuk segera menuntaskan masalah ini!'
Apakah Hinata berhasil membuat ramuan penghilang sihir dari ramuan cinta? Sebenarnya apa perasaan yang dirasakan oleh Hinata kepada Lee itu? Apakah itu 'cinta'? Bagaimana kisah cinta rumit ini selanjutnya? Tunggu chapter 5 dari Love Potion Disaster!
-TBC-
Gimana? Aneh ya? Dan ada satu pertanyaan yang pasti kalian tanyakan: Mengapa mendadak ceritanya berubah seperti ini? Jawabnya, simple, karena aku dapat 'inspirasi' untuk melanjutkan fanficku ketika aku sedang mendengarkan lagu Watarirouka Hashiritai 7 – Gyu. Yaa... mau bagaimana lagi. Kalau sudah dapat inspirasi, terpaksa aku keluarkan daripada disimpan diam. Padahal aslinya mau hiatus tapi malah dapat inspirasi.
Well, sekian! Sekali lagi, maaf ya karena chapter ini lebih dari melenceng dari chapter sebelumnya. Dan, hei! Kenapa banyak adegan SasuHina? Jawabannya adalah gak tau '-' karena inspirasi mungkin '-'
