Desclaimer : Masashi kishimoto

Genre : Romance and Humor

Warning : OOC, AU, and many more

.

.

.

Hinata benar-benar bingung. Dengan kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Kejadian ini berawal dari Sasuke. Dia memang pembawa sial, Hinata jadi ingat kejadian kemarin lusa, dimana Gaara berubah menjadi liar. Hinata yang saat itu dilanda ketakutan akan perubahan sikap Gaara hanya bisa diam. Saat itu Gaara hanya meminta maaf dan pergi begitu saja. Dia hanya bisa melihat punggung Gaara. Dan sekarang ini di hadapannya sudah ada pemuda yang membuat hidupnya sial seperti ini. Berdiri dengan angkuh tanpa mobil mewah menemani di belakangnya.

''Mobilmu mana?''

''Kita kencan'' dan sekarang kesialan apa yang akan menimpanya kali ini.

''Eh?''

''Kita kencan. Tanpa atau dengan persetujuanmu'' dan sekarang dia memaksa dengan tidak gentle. Sasuke menarik tangannya. Hinata mau tidak mau harus mengikutinya. Orang ini sebenarnya mau kemana sih? Dari tadi cuma muterin perempatan! Kok cakep-cakep otaknya jelek sih.

Hinata menabrak Sasuke yang berada di depannya yang tiba-tiba berhenti. Hinata berusaha melihat wajah Sasuke yang ada di depannya yang sedari tadi melihat sekeliling perempatan jalan raya ini. Sasuke lalu berbalik menghadap kearahnya. Dengan wajah sedikit tertekuk dan rada polos.

''Stasiun dimana?'' owalaaahh! Dari tadi nyari stasiun? Kenapa ga ngomong dari tadi coba? Jaim banget jadi orang! Tapi lucu juga sih Sasuke yang kaya gini kaya anak anjing yang tersesat gitu. Aduh imut. Tuh kan! Hinata mikirin yang aneh-aneh lagi! Aduh pasti ini orang pake susuk.

''Hmmmph-'' Hinata membekap mulutnya agar tawanya tidak pecah.

''Hahahahaha'' Tapi kayanya gagal deh.

''Jangan tertawa!'' bukannya diam tapi malah nambah gede ketawanya. Perempatan kecil muncul di dahi Sasuke, seperti perempatan yang dia pijak sekarang.

''Makanya bilang dari tadi!'' sekarang keadaan berubah, Hinata menarik tangan Sasuke. Sasuke yang ditarik sih seneng-seneng aja!.

.

.

.

Sepertinya keadaan berubah lagi. Kali ini Sasuke yang ketimpa kesialan. Bagaimana tidak? Diapit oleh cewek-cewek berdosa banyak! Bahkan bukan hanya diapit, cewek-cewek itu juga meraba-raba tubuh Sasuke apalagi dadanya yang bidang itu. Pelecehan seksual itu namanya.

Sasuke kesal dengan Hinata. Kenapa? diakan pacarnya kenapa sih gak ngebela cowoknya? Kenapa dia gak cemburu liat cowoknya di pegang cewek lain? Emang sih mereka pacaran secara sepihak, tapi perhatian dikit kek. Hinata sih yang melihat itu cuma bisa tertawa geli.

Setelah lima belas menit berada di kereta neraka, akhirnya dia terbebas juga. Sasuke membenarkan seragamnya yang berantakan. Sekarang mereka berdiri di depan gerbang dimana wahana berkumpul di situ. Memang tempat umum untuk berkencan. Tapi pasti rasanya berbeda tiap orang, ada kenangan tersendiri. Sasuke melirik Hinata yang sepertinya bahagia banget, seperti anak kecil yang diberi boneka. Sudut bibir Sasuke tertarik sehingga membuat senyuman kecil yang mempesona. Sayang, Hinata gak liat padahal orang lain aja sampai histeris.

''Ayo cepat masuk!'' Hinata langsung menarik tangan Sasuke dengan tidak sabar.

.

.

.

Berbagai wahana sudah mereka coba, dan banyak sekali isi perut yang Sasuke keluarkan hari ini. Dan sekarang apalagi? Bianglala? Aduh cobaan apalagi sekarang yang menimpanya?

''Ayo naik''

''Tidak!''

''Aku tidak mau!''

''Ayooo!'' dengan berat hati Sasuke mengikuti kemauan Hinata. Bianglala sudah mulai bergerak. Menjauhi permukaan tanah. Tangan Sasuke mulai dingin dia memegang erat pegangan yang ada di dalam bianglala. Saat sudah hampir puncak tubuh Sasuke gemetar hebat. Hinata yang melihat orang yang di depannya ini dengan heran. Mukanya pucat. Apa dia sakit?

''Sasuke kau pucat''

''B-benarkah?'' saat bianglala tepat di puncak. Sasuke menjatuhkan dirinya kebawah dan memeluk lututnya erat, tubuhnya gemetar. Hinata yang melihat hal itu ikut menjatuhkan dirinya. Dia sangat panik akan perubahan Sasuke.

''Sasuke kau kenapa?'' Hinata menguncangkan tubuh Sasuke.

''Ada apa denganmu?'' Hinata terkejut saat tiba-tiba Sasuke memeluknya. Ada apa sebenarnya dengannya?

''Aku takut'' Sasuke memeluknya dengan sangat erat, suaranya merintih. Hinata semakin tak tega, tanpa ragu Hinata membalas pelukannya.

''Kau kenapa?''

''Aku takut ketinggian. Aku takut bianglala'' apa? Gak salah denger tuh. Tapi kayanya Sasuke ga main-main deh. Tubuhnya gemetar. Tangannya dingin. Pasti ada apa-apa.

''Aku punya masa lalu buruk dengan bianglala'' aduh Hinata jadi ngerasa bersalah udah maksa naik bianglala.

''Ceritakan saja padaku'' Sasuke sudah merasa lebih tenang.

''Saat kecil bianglala yang kunaiki macet dan kebakar. Aku bisa melihat kakakku yang meninggal di depanku. Dia banyak menghisap asap. A-aku takut'' Sasuke yang kaya gini ngebuat Hinata bersalah.

''Maaf sudah memaksamu. Aku tidak tau''

''Hn'' Hinata melonggarkan pelukannya dan mengelus pipi Sasuke lalu mengecupnya. Sasuke yang lagi galau di kejutkan oleh tingkah Hinata kali ini. Rona samar dipipinya sedikit terlihat.

''Kata ibuku, jika ingin menenangkan orang maka kecup pipinya maka orang itu akan tenang'' mendengar penjelasan polos dari Hinata, Sasuke hanya bisa menyeringai. Aduh kenapa sih Sasuke hari ini berubah-ubah?

''Aku punya cara lain untuk menenangkanku. Ini paling ampuh'' Hinata memiringkan kepalanya. Kawaaii.

''Apa itu?'' aksi Sasuke pun di mulai. Dia menarik wajah Hinata dan menciumnya. Bukan hanya sekedar kecupan. Tapi ciuman dalam yang kaya akan pure love . Hinata terkejut tapi, bukannya mendorong Sasuke tangannya malah beralih memeluk Sasuke dan membalasnya. Hinata yakin. Sangat yakin. Sasuke pakai susuk karena membuatnya terjerat dalam pesonanya.

Hari ini Sasuke sangat aneh. Pertama tiba-tiba ngajak kencan, kedua Sasuke nyasar dengan tampang polos imutnya, ketiga Sasuke yang kejepit para cewek, keempat Sasuke yang ketakutan, dan terakhir sifat aslinya keluar. Sifat setan dan liciknya, mencari kesempatan dalam kesempitan. Walau ciumannya membuat Hinata ketagihan. Sudah lima kali hari ini Sasuke ganti kepribadian. Tapi, yang penting sekarang biarkan mereka menikmati moment ini di lembayung senja sore yang indah ini.

.

.

.

Mereka terus menggenggam tangan satu sama lain. Jantung Hinata berdebar sangat kuat. Dia gak berani melirik Sasuke. Dia hanya bisa nunduk.

Gelap malam yang hening semakin memperburuk situasi. Udah ngantuk, sepi, ditambah aroma Sasuke yang terus menari di hidungnya. Kalo Sasuke meluk Hinata udah dipastiin Hinata langsung tidur. Apalagi bersandar di dada bidangnya. Rasa lelah dan kantuk semakin mengacaukan pikiran Hinata. Jantungnya yang berdebar pun hilang.

''Sasuke aku ngantuk'' Sasuke menoleh ke arahnya. Lalu dia berjongkok.

''Cepet naik!''

''Apa tidak apa-apa?'' sebenernya mah Hinata mau banget tuh. Tapi, jaim dikit boleh dong! Sasuke aja jaim masa Hinata gak boleh.

''Baiklah'' Hinata pun menurutinya. Saat tepat berada di gendongannya aroma Sasuke semakin hebat menusuk hidungnya dan rasa nyaman yang menyelimutinya membuat rasa kantuknya tak tertahankan. Hinata semakin mempererat pelukannya dan membenamkan wajahnya di pundak lebar Sasuke.

''Hinata rumahmu dimana?'' Sasuke menunggu sesaat. Tak ada jawaban. Dia pun berinisiatif untuk menoleh ke belakang, wajahnya hampir berbenturan dengan kepala Hinata, jika Sasuke tidak menahannya. Tepat dugaannya Hinata tertidur karena gendongannya semakin berat. Sasuke tersenyum lalu mencium kepala Hinata.

''Oyasumi hime ''

.

.

.

Hinata merasa matanya seperti di lem. Sangat susah untuk dibuka. Kasurnya kali ini nyaman sekali. Empuk, lembut, dan wangi. Apa dia mimpi? Masa ah! Dengan berat hati Hinata membuka matanya. Dimana kamar bobroknya? Apa udah di renovasi jadi istana begini? Masa sih? Duit dari mana coba? Hinata berusaha mengingat kejadian sabtu kemarin.

''Sasuke''

Hinata ingat kemarin dia tertidur di punggung Sasuke. Mungkin ini rumahnya. Hinata menuruni tempat tidur putri itu dan bermaksud mencari Sasuke. Tapi, Hinata merasa ada yang aneh. Kenapa dingin sekali dan bajunya terasa ringan. Hinata melihat pantulan dirinya di cermin.

Apa?

Lingerie ?

Jangan-jangan...

''Kyaaaaaaaaaaa!''

.

.

.

Tbc

full of sasuhina. Tadinya males buat ngelanjutin. Tapi tiba-tiba ide muncul begitu saja jadi saya lanjutin deh.

Review please!