Hoggy Warty Hogwarts
written by sebeuntiin

warning! boys love. drama. one sided love. arranged marriage.


iv. the broken me wanted you to hug me


Jatuh cinta kepada seorang teman sedari kecil sungguh klise. Apalagi bila memang sudah dijodohkan oleh orang tua sedari masa muda. Tinggal pilih—mau akhir yang senang, atau sedih. Bila senang, keduanya bisa saling jatuh cinta, menikah, lalu hidup bahagia selamanya. Klise, seperti dongeng yang selalu dibacakan kepada anak-anak. Ada juga yang sedih—cinta bertepuk sebelah tangan, salah satunya boleh pergi mencintai yang lain.

Jeon Wonwoo, seorang pure-blood punya teman yang pure-blood juga—sebenarnya kerabat—yang selalu dekat bahkan semasa mereka masih di kandungan ibu. Menangis bareng, main bareng, bahkan dihukum barengan karena sosok itu sungguh mengagumkan, Wonwoo sebagai adik kecilnya selalu mengikuti apa yang dia lakukan. Belajar mengikat sepatu, belajar membaca, Wonwoo selalu mendapatkannya dari ajaran Seungcheol. Hal satu-satunya yang mereka tidak lakukan bersama adalah berangkat ke Hogwarts. Seungcheol lebih tua satu tahun darinya, jadi ketika Seungcheol berangkat ke Hogwarts dengan tongkat dan buku-buku barunya, Wonwoo hanya bisa menonton sambil melambaikan tangan sedih. Ibunya menghibur bahwa Wonwoo hanya butuh menunggu satu tahun, dua belas bulan hingga ia juga cukup umur untuk masuk Hogwarts.

Di ulang tahun ke dua belas tahunnya, Seungcheol pulang dan menemani Wonwoo untuk membeli kuali, tongkat sihir, dan peralatan sihir lainnya. Seungcheol hanya diam tersenyum melihat Wonwoo yang berlari kesana kemari, tidak sabar memakai jubah Hogwarts-nya.

Topi seleksi sungguh menegangkan. Wonwoo berkali-kali merapal, tolong Slytherin, tolong Slytherin, sebab Slytherin adalah asrama tempat Seungcheol berada. Topi seleksi tak setuju, dan Ravenclaw adalah nama asrama Wonwoo selama beberapa tahun ke depan. Wonwoo kecewa, tetapi Seungcheol tersenyum, menepuk pundaknya dan menghibur bahwa mereka masih bisa bertemu setiap hari. Memang benar, apalagi setiap liburan tengah semester mereka juga bertemu. Rumah berdekatan, tak perlu berjalan jauh untuk sampai ke rumah masing-masing dan menginap selama beberapa minggu. Namun seiring dengan waktu, Seungcheol punya teman baru. Wonwoo juga punya teman baru. Mereka masih liburan bersama, tetapi sesuatu yang berbeda membuat Wonwoo tak sebetah itu untuk menginap di rumah Seungcheol.

Secara natural, mereka menjauh. Selangkah demi selangkah. Dua langkah sekaligus.


Tahun kelima. Mingyu mengencangkan dasinya, melirik kepada Ally, kucing anggora betina dengan bulu putih salju dan mata biru safir. "Bagaimana? Siap untuk memulai tahun baru?" tanyanya kepada sang kucing. Kucing itu mengeong, langkahnya ringan mengikuti Mingyu turun ke ruang makan. Orang tuanya sudah duduk di sana, tersenyum melihat Mingyu dengan seragam lengkap dan koper.

"Anakku," Ibu Mingyu mendesah bangga. "Betapa menyenangkan terdengarnya dunia sihir itu. Aku setiap hari selalu memikirkan, betapa menyenangkannya. Astaga. Ibu sangat bangga padamu, nak."

"Ah, ibu," sanggah Mingyu, cengengesan. "Tidak semuanya menyenangkan. Pelajarannya jauh lebih sulit dari pelajaran di dunia ini." Pikirannya melayang semata ke pelajaran herbologi dan perlindungan terhadap sihir hitam.

Orang tua Mingyu dua-duanya muggle. Sejak umur lima Mingyu sudah diberkati dengan kemampuan untuk membuat benda melayang, jadi tak heran untuknya menerima surat undangan Hogwarts begitu umurnya beranjak dua belas. Orang tuanya sempat tidak mempercayai surat itu, namun sekarang mereka sudah cukup percaya sehingga sungguh bangga dengan Mingyu.

"Ibu akan mengantarmu," tawar Ibunya. Mingyu mengangguk, mengangkat Ally untuk dimasukkan ke dalam kandang. Sebelum keluar dari rumah, keduanya berpamitan kepada ayah. Mingyu tersenyum ketika merasakan bahunya ditepuk.


Stasiun ramai seperti biasanya. Mingyu dan ibunya berhenti di depan peron sembilan. "Ibu, sampai sini saja. Aku pergi dulu," pamitnya, tersenyum ketika sang ibu mengangguk dan memeluknya. "Sampai jumpa nanti, bu."

"Baik-baik di sana, nak," pesan ibunya. Mingyu baru mau mengangguk ketika ada seseorang dari belakang yang lewat, menubruk ibunya dengan kandang burung hantu yang dibawanya. Mingyu melangkah cepat untuk mencegah ibunya terjatuh, mengangkat kepala sedetik kemudian untuk memaki siapapun itu yang menubruk ibunya.

Orang itu menoleh panik. "Oh—astaga—astaga, maaf. Saya benar-benar minta maaf, tadi saya terdorong. Saya tidak sengaja. Apakah anda baik-baik saja, nyonya?"

"Oh, saya tidak apa-apa. Tetapi melainkan anda tampan sekali—astaga, saya jadi teringat dengan suami saya." Ibu Mingyu tertawa, dan orang itu tersenyum canggung. Muka Mingyu memerah, sebab ibunya ini barusan saja memuji seseorang tidak dikenal dengan kata tampan. "Ibu—" rengeknya.

Ibu Mingyu menoleh kepadanya dan tertawa khas 'hohoho' kepada Mingyu, seolah-olah barusan tidak pernah tersenggol dan nyaris terjatuh. "Apakah anda sekolah Hogwarts juga? Anakku, Mingyu juga sekolah di sana, sebaiknya kalian berangkat bersama. Cepatlah, sudah mau telat!" Ibunya bahkan mengabaikan rengekan Mingyu.

Muka Mingyu memerah dan si Tampan tersenyum sambil mengangguk. Ketika mereka memasuki stasiun Hogwarts Express, Mingyu terburu-buru mengucapkan kalimat maaf sebelum si Tampan pergi. "Maaf, ibu saya agak norak. Saya harap kau tidak keberatan."

"Tidak apa-apa. Sanjungan bagiku disebut tampan oleh ibumu," jawab si Tampan halus, suaranya pelan dan rendah. Kemudian seseorang berlari melewati peron 9¾ ke stasiun Hogwarts Express. Orang itu menyapa si Tampan.

"Maaf, tadi aku harus ke toilet." ujar orang itu kepada si Tampan. Si Tampan menggeleng sebagai tanda tidak masalah dan mengangguk kepada Mingyu, pamitan. Mingyu balas mengangguk. Dia menggeret kopernya ke arah yang berlawanan, bertemu dengan Minghao di perjalanannya.

Pertemuan yang memalukan.


Seungcheol mengintip ke balik bahu Wonwoo. Matanya mengikuti sosok si rambut pirang yang berjalan berlawanan arah dengan mereka "Eh, siapa itu?" tanyanya penasaran. "Kau kenal dengannya, Wonwoo?"

Wonwoo menggeleng dan mendorong bahu Seungcheol supaya anak itu menghadap ke depan. "Bukan siapa-siapa, hanya kebetulan bertemu," jawabnya datar. "Dan pandangan ke depan, Seungcheol—kalau kau menabrak tiang atau apapun itu, yang tertawa pertama kali adalah aku."

Seungcheol memutar bola mata malas sambil menggumamkan kata 'jahat' atau sesuatu yang berkaitan dengannya. Mereka terus berjalan hingga sampai di gerbong yang dituju. Peluit masinis bertiup dengan berisik, dan Seungcheol menatap Wonwoo, seolah minta izin. Seungcheol harus ke kompartemen asramanya. Wonwoo tersenyum rapat dan mengangguk. Dia juga harus ke kompartemen Ravenclaw. Setelah ucapan salam pendek, mereka berjalan masing-masing, berlawanan arah. Wonwoo tidak segan menunjukkan wajah masamnya. Setelah kereta berangkat, artinya dia akan kehilangan Seungcheol selama beberapa bulan ke depan.

Di kompartemen yang sunyi itu hanya ada Hansol. Wonwoo langsung duduk setelah meletakkan kandang burung hantunya dan koper di rak atas. Wonwoo duduk di dekat jendela. Sebagian besar dari perjalanan dihabiskan dengan hanya merenung dilingkupi sunyi gerbong itu.

Hansol menguap, dan meletakkan kepalanya di pangkuan Wonwoo. Wonwoo agak terkejut, tetapi langsung terbiasa karena Hansol sudah melakukannya berkali-kali. "Berhenti memikirkan sesuatu yang rumit," ujar Hansol memejamkan mata. "Suasananya jadi suram. Aku tak ingin ikutan galau."

Wonwoo tertawa garing. "Aku akan mencobanya."


Sekeras-keras apapun berusaha, ada yang memutuskan untuk pergi. Sesuka-suka apapun, secinta-cintanya kepada Seungcheol, Wonwoo tidak buta. Tidak sebegitu bodoh untuk menutup mata atas Seungcheol yang jatuh cinta kepada orang lain. Tidak bisa mengabaikan seorang anak yang terus datang di pertandingan Quidditch Gryffindor dengan syal hijau dengan bordir nama Seungcheol di sana, berbanding terbalik dengan jubah merahnya.

Wonwoo meyakinkan diri. Mencoba menghibur diri. Bahwa mereka sudah berjodoh. Dijodohkan oleh orang tua. Seungcheol tidak mungkin jatuh cinta kepada orang lain. Tetapi semua usahanya bagai disedot ke lubang pembuangan seiring dengan satu bulan, dua bulan, tiga bulan, sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang prefek Slytherin, Seungcheol namanya, punya pacar dari asrama Gryffindor. Jika mau ditambahkan, keduanya berpacaran sejak tahun kelima. Wonwoo berhasil tidak menangis, tetapi matanya sakit sekali dan menjadi memerah selama dua hari selanjutnya.

Liburan natal tahun itu pun tiba dalam sekejap mata. Wonwoo dan Seungcheol pulang ke rumah mereka yang konon berdekatan, pada malam natal pun merayakan makan malam bersama-sama di rumah Seungcheol.

"Ah iya, Wonwoo," ayahnya Seungcheol berkata kemudian. "Bagaimana dengan hubungan kalian? Astaga, awalnya kami hanya menjodohkan kalian sebagai candaan, ternyata malah menjadi serius."

Tawanya terdengar sangat hangat saat itu, jadi bagaimana bisa Wonwoo berkata tidak? Sebaliknya Wonwoo tersenyum tipis dan membiarkan Seungcheol berbicara. "Ya, ayah... kami baik-baik saja."

"Yang perlu untuk dikhawatirkan itu kau, Seungcheol," giliran ibu Seungcheol yang mengomel. "Dari dulu, kau ini suka sekali bersikap terlalu baik kepada orang lain. Jangan sampai kau punya pacar, sebab Wonwoo sudah sempurna untukmu. Atau jangan-jangan kau sudah punya?"

Wonwoo menatap Seungcheol diam-diam, menuntut jawaban. Seungcheol terdiam sebentar, kemudian tersenyum lebar. "Tentu saja aku belum punya, bu."

Wonwoo berusaha menghabiskan makanannya dengan susah payah. Malam itu, Wonwoo dibiarkan menginap di kamar Seungcheol. Sambil tiduran di matras yang disediakan untuknya, Wonwoo menggapai langit-langit kamar Seungcheol dengan tongkatnya. Dari tongkat itu keluar bintang imajiner meletup pelan. "Hei Seungcheol," panggilnya, memberi jeda sebentar ketika Seungcheol menyanggupi dengan gumaman. "Apa benar kau belum punya pacar?"

"Kenapa memangnya?" tanya Seungcheol balik.

Jeda sebentar diambil Wonwoo untuk mencari alasan. "Aku dengar," ujarnya, berusaha mati-matian agar nada suaranya tidak terdengar menyedihkan. "Kau dekat dengan anak Gryffindor."

"Oh, itu," jawab Seungcheol pendek. Butuh kurang lebih tiga menit supaya sang prefek bisa menjawab. "Teman dekat."

Bohong, jerit Wonwoo, namun tak punya keberanian untuk mengatakannya keras-keras. Sebaliknya Wonwoo menggumam sebagai tanggapan, lalu kalimat izin tidur, dan berpura-pura tidur di balik selimutnya. Bayang-bayang di kepalanya adalah saat Seungcheol mencium 'teman' Gryffindornya di lorong terpencil, ketika mereka berpikir tidak ada yang melihat.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya ibu Wonwoo, menatap khawatir anaknya. Wonwoo duduk dengan senyum rapat, menggeleng. Seungcheol yang turun dari lantai dua berhenti melangkah mendengarnya. "Kenapa mau pulang ke Hogwarts lebih awal?"

"Ada pesta di Hogsmeade, teman-temanku juga ikut," kata Wonwoo pelan. Bohong itu bukan kebiasannya, tetapi dia tidak ingin dekat-dekat dengan Seungcheol. Tidak ingin membicarakan perjodohan lagi. "Boleh ya, bu?" nadanya memohon.

Dengan itu ibu Wonwoo mendesah, kemudian mengangguk meski kelihatan tidak rela. "Jangan pergi sendirian, nanti ibu minta adikmu mengantar dengan mobil terbang."

Wonwoo berangkat hari itu juga setelah Jeongguk, adiknya pulang. Sebelum berangkat, Seungcheol mengantarnya ke depan rumah. Seungcheol menggenggam tangannya lembut dan tersenyum setelah meletakkan koper Wonwoo. "Nanti aku akan menyusul, Wonwoo. Hati-hati di perjalanan."

Tangan yang digenggam Seungcheol ditariknya pelan. Wonwoo memiliki keinginan genting untuk menangis, tetapi dia tahu akan menarik perhatian bila dia menangis seperti petir di tengah siang bolong, dan ibunya tentu tidak akan membiarkan dia pergi. Jadi Wonwoo menelan air matanya, tersenyum dan mengangguk, cepat-cepat masuk ke dalam mobil.

Jeongguk—adiknya—menyusul masuk ke mobil. Wonwoo tak repot menyapanya, menyenderkan muka di jendela dengan muka kosong. Jeongguk mengambil lirikan cepat kepada sang kakak dan menyalakan mesin dan segera berangkat. "Setidaknya kau bisa berterima kasih karena aku sudah mau mengantar, kau tahu."

"Terima kasih bunny-jiggly-cuddly sweetie Jeonggukie poo."

Jeongguk mendengus.


"Tapi, Jeon," kata Wonwoo.

"Wah, akhirnya kau mau membuka mulut setelah empat puluh lima menit." potong Jeongguk duluan, sarkatis tumpah ruah. Wonwoo tidak jadi melanjutkan omongannya dan melanjutkan menatap ke luar jendela, ngambek. "Lagian, masa kau diam saja, suasana mobil ini persis kuburan," rengek Jeongguk. "Apa?"

"Tidak jadi," ujar Wonwoo ketus. Ketika mereka sampai di Hogwarts, Jeongguk berbaik hati membawakan koper Wonwoo ke dalam dan mengantar sang kakak sampai masuk. Jeongguk menawarkan untuk mengantar ke asrama, tapi Wonwoo menolak.

"Ya sudah," ujar Jeongguk. "Aku pulang dulu. Nanti aku menyusul bersama Seungcheol-hyeong." pamitnya. Wonwoo mengangguk dan melambai, menatap punggung Jeongguk yang keluar dari pintu Hogwarts.

Wonwoo singgah ke asrama Ravenclaw. Ada beberapa anak yang tinggal, tampak menyapa Wonwoo dengan kedatangannya. Jisoo dan Hansol tidak ada, mereka masih berlibur bersama dengan keluarga masing-masing. Dia langsung tiduran dan menutup diri dengan selimut setelah memerintahkan barang-barangnya untuk beberes.

Pikirannya kalut. Wonwoo ingin muntah dengan segala bayang-bayang Seungcheol yang melintas di pikirannya. Karena selimut menutup dan sudah ada mantra peredam, Wonwoo tak segan untuk menangis. Kenapa? Kenapa Seungcheol berbohong? Kenapa Seungcheol tidak bisa mengatakan yang sebenarnya? Kenapa Seungcheol jatuh cinta kepada orang lain? Yang paling penting, kenapa mereka dijodohkan? Wonwoo berpikir dan menangis sampai kepalanya penging. Dia bangkit dan meraih mantelnya, keluar dari asrama Ravenclaw.

Udara segar barangkali bisa mengurangi pening.


"Ming~haoo..." mulut Mingyu membuka menyerap udara dengan serakah, menguap sambil tiduran di sofa di ruang rekreasi. Minghao abai, meraih mantelnya dan berjalan keluar. "Mau ke mana?" tanya Mingyu.

"Jun mau ke Hogsmeade," jawab Minghao. "Duluan."

"Hei. Tunggu. Tunggu!" teriakan Mingyu diabaikan sepenuhnya. Bahkan beberapa orang yang tinggal di ruang rekreasi menoleh kepada anak itu dan memberi tatapan prihatin. Mingyu mendesah sebal, mau tak mau harus keluar juga. Tak ada yang menarik di dalam asrama.


Mingyu menghabiskan sepanjang hari mengeksplorasi sudut-sudut Hogwarts, meski dia sudah tahu secara rinci. Liburan natal tahun ini tak dihabiskannya di dunia muggle dengan orang tuanya. Kedua orang tua Mingyu ada acara di luar kota, sehingga rumah itu ditinggalkan kosong. Mingyu mau tidak mau harus tinggal di Hogwarts, dari pada menghabiskan waktu di rumah sendirian. Kalau dia ingin ke Hogwarts harus menunggu kereta di akhir liburan, yang tentu tidak asyik sama sekali.

Tetapi sebenarnya kalau dipikirkan ulang, mungkin lebih baik tidur di rumah bergelung dengan Allen—seekor Retriever dengan bulu keemasan—, Ally, dan Cornkettle—burung hantu adiknya—. Tidak baik kalau Ally jauh-jauh dari rumah terlalu lama, sebab dia bisa jadi merindukan Allen. Jangan tanya kenapa seekor anjing bisa akur dengan kucing, sebab Ally dan Allen lahir di waktu yang berdekatan, seperti jiwa yang dibelah dua—belahan jiwa, maksudnya.

Omong-omong soal belahan jiwa, Mingyu jadi kesal mengingat Minghao. Awalnya Mingyu merasa lega karena setidaknya dia ada teman—Minghao—yang tidak pulang, tetapi ternyata itu semata alasan modus. Setiap hari kerjanya Minghao menemani pacarnya kemana-mana, Mingyu ditinggal di asrama tidak ada kerjaan dan tidak ada teman. Ally jangan ditanya, kucing itu tidur.

Sambil menggerutu, Mingyu berjalan masuk ke dalam toilet di suatu koridor. Toilet itu sepi, Mingyu bisa jadi berpikir bahwa dia satu-satunya yang ada di toilet itu bila tidak terdengar suara rintihan pelan. Suara binatang? Bukan, lebih mirip suara tangisan. Mingyu yakin itu bukan Moaning Myrtles, karena seharusnya makhluk itu ada di toilet lantai yang berbeda.


Pusing sekali. Wonwoo tidak peduli seberapa hancur mukanya terlihat, lebih peduli dengan isi kepalanya yang mau pecah. Sakit, penging, panas, dingin, bercampur menjadi satu. Bila tahu jatuh cinta rasanya sesakit ini, mungkin Wonwoo tidak akan jatuh cinta dari awal.

Tidak tahu selama apa dia duduk di atas toilet dengan kaki terlipat, Wonwoo menangis, menangis, dan menangis. Udara segar ternyata tidak membantu. Sialan Seungcheol, maki Wonwoo dengki. Sialan perjodohan itu. Daripada benci karena cintanya bertepuk sebelah tangan, dia lebih benci karena Seungcheol bersikap baik kepadanya. Kenapa? Wonwoo salah apa? Kurang apa dengan anak itu? Ah ya, anak itu lebih cantik. Punya senyum yang lebih cerah dari pada punya Wonwoo. Matanya dia pejamkan erat, sakit, sakit, sakit sekali.

Suara ketukan pelan di pintu terdengar. Awalnya tidak ada suara, jadi Wonwoo menganggap hanya ada orang iseng. Setelah beberapa saat, ketukan itu terdengar lagi. "Ada orang di dalam?" tanya sebuah suara.

Dengan lemah Wonwoo bangkit dan membuka pintu. Seseorang berdiri di hadapan Wonwoo. Wajahnya familiar dengan rambut pirang. Tapi... kenapa tiba-tiba mukanya menjadi kabur? Orang itu juga mengerutkan alis melihat Wonwoo. Tiba-tiba Wonwoo jadi ingin tidur. Sangat mengantuk... begitu mendengar suara orang itu, Wonwoo ingat. Ah, dia orang yang ada di stasiun itu... Yang ibunya memuji Wonwoo tampan...


"Kurang makanan. Kepanasan. Stres. Hasilnya? Demam. Sekarang tolong jelaskan kepada saya kenapa anak ini bisa pingsan di toilet?" Mingyu hanya bisa cengengesan tanpa jawaban di hadapan Madam Pomfrey. Dia sendiri juga tidak tahu, yang ada Wonwoo hanya bengong lalu pingsan di hadapannya.

Madam Pomfrey jelas tidak puas dengan senyuman Mingyu. "Tunggui dia bangun, lalu beri makanan. Minta dari dapur. Mantra pengering badan selama beberapa jam sekali." Dengan keputusan final, Madam Pomfrey melenggang pergi.

"Mau ke mana, madam?" tanya Mingyu. Seharian ini sepertinya orang-orang suka sekali meninggalkan dia.

"Tentu saja berlibur. Saya juga punya hak untuk istirahat selama kalian berlibur, tahu?" jawab Madam Pomfrey, pergi mengerutu tentang emansipasi guru-blah-blah. Mingyu mendengus sebal. Perhatiannya kini teralihkan dengan Wonwoo yang berbaring bersimbah keringat, tidurnya tampak tidak nyaman. Entah dia memimpikan apa.

Mingyu merapal mantra pengering. Keringat yang tadinya membasuh tubuh Wonwoo, perlahan mengering. Mingyu baru tahu bahwa dia betah menghabiskan beberapa jam hanya untuk menatapi muka Wonwoo. Garis wajahnya tegang sekali. Alisnya membentuk sebuah kerutan dalam, bibirnya tertutup rapat.

Berdasarkan rasa penasaran, Mingyu merapal mantra pembaca pikiran. Bukannya kurang ajar, hanya ingin tahu. Sedikit saja. Setelah sepuluh detik dia akan langsung memutus mantra.

Dalam sekejap, seluruh bayang-bayang diputar seperti sebuah film yang panjang. Bedanya, terlihat seperti trailer sebuah film. Potongan-potongan kisah yang sulit dikaitkan satu sama lain. Mingyu mendengar ada nama seseorang disebut. Perjodohan. Kedua orang yang berciuman panas. Tangan yang digenggam. Air mata mengalir turun.

"...Hei," ucapan Wonwoo membuat Mingyu memutus mantranya otomatis. Wonwoo bangun. Masih terlihat lemas dan pucat. Mingyu memberinya minum.

"Kau pingsan," ujar Mingyu. "Saya diperintahkan menemani sampai kau sadar. Karena sekarang kau sudah bangun, saya turun sebentar, mau mengambil makanan. Tunggu, ya."


Wonwoo mengerang, kepalanya pusing luar biasa. Dia beringsut duduk sambil memijat pelipis, menyenderkan punggung di kepala ranjang. Mingyu datang tak lama kemudian. Mangkuk makanan, gelas dan sendok garpu melayang-layang di depannya. Setelah semua makanan itu terletak di hadapan Wonwoo, dia menatap Mingyu sebentar.

"Barusan," kata Wonwoo, suaranya masih serak. "Kau membaca pikiranku, kan?"

Mingyu terlihat kaget dan gelagapan. Anak itu tidak bisa melihat Wonwoo di matanya, tangan meremat celana seragam panik. Sepertinya sedang mempersiapkan diri untuk dipukuli karena kurang respek terhadap kakak kelasnya. Wonwoo tertawa serak. "Tidak perlu panik, aku tak masalah."

"Sepertinya itu masalah yang personal," ujar Mingyu gugup. "Maafkan saya."

"Tidak apa-apa," kata Wonwoo tersenyum tipis. "Itu akan membuatku sedikit lebih lega, sebab hari-hari belakangan ini kepalaku ingin sekali meledak karena kepenuhan isi yang tidak bisa dikeluarkan,"

"Kalau begitu silahkan cerita kepada saya," ujar Mingyu, terlalu cepat dan bersemangat sebagai respons. "Maksud saya, kalau kau berkenan bercerita."

"Aku pasti akan menceritakannya, cepat atau lambat," ujar Wonwoo, tersenyum rapat. "Tapi aku benar-benar tidak bisa berbicara panjang, tolong baca ingatanku saja,"

Mingyu awalnya ragu. Wonwoo meyakinkannya dengan anggukan pelan. Dengan gumaman rapal mantra, Wonwoo mendesah dan menutup mata. Rasanya tak begitu buruk. Dia bahkan tak sadar bahwa Mingyu sudah selesai dan memutuskan mantranya. Dari mata anak itu mengalir air mata segar.

"Hei? Kenapa menangis?" tanya Wonwoo kaget. Mingyu meraba pipinya dan terlihat sama terkejutnya dengan air mata yang mengalir. Dia menunduk dan menggosok matanya untuk menghapus jejak air mata.

"Saya... hanya sedih. Saya belum pernah mendengar atau merasakan pengalaman sesakit itu. Selama ini orang tua saya selalu membebaskan kepada siapa saya jatuh cinta, jadi..." ujar Mingyu teredam tangannya sendiri.

Wonwoo tersenyum geli. Dia tergelitik untuk tertawa. "Tapi... tidak perlu sampai menangis begitu kan?"

"Seperti menonton film yang sangat menyedihkan," kata Mingyu, masih menunduk dan menutupi mukanya. "Silahkan tertawai saya sepuasnya, saya punya kepercayaan bahwa lelaki masih punya hak untuk menangis."

Wonwoo tertawa terang-terangan untuk pertama kali dalam kesekian waktu. Tawa itu ringan.

"Lalu..." ujar Mingyu, berdehem pelan. "Saya bisa bantu apabila... ada kejadian seperti ini lagi. Silahkan cari saya. Nama saya Kim Mingyu. Saya tahun kelima. Saya di asrama Hufflepuff,"

"Baiklah, Mingyu. Namaku Jeon Wonwoo. Aku tahun keenam. Asrama Ravenclaw. Dan tolong tidak perlu memakai bahasa yang kaku, silahkan memakai bahasa yang santai." Senyum Wonwoo belum hilang. Mingyu juga ikut tersenyum, mengangguk.


Setelah itu, Mingyu dan Wonwoo tetap seperti biasanya. Mingyu tetap menghabiskan waktunya dengan Minghao, dan anak itu tetap suka ceroboh merusak properti asrama. Wonwoo pun sama, dia tetap menyibukkan diri di tumpukan buku di perpustakaan, tetap menjadi murid teladan seperti biasanya. Seolah-olah tidak pernah berkenalan, tetapi tetap saling bertukar senyum ketika berpapasan di koridor menara.

Ada juga saat Wonwoo butuh seseorang yang memeluk, maka pada saat itu Wonwoo datang ke depan asrama Hufflepuff. Keduanya berjalan ke toilet yang terpencil, tempat Wonwoo pingsan. Pada saat itu Mingyu memberikan Wonwoo sebuah sandaran, sebuah pelukan sekitar empat atau lima menit lamanya. Ketika dia melihat Seungcheol melirik kepada Jeonghan, atau tidak sengaja menangkap mereka berdua sedang memiliki waktu pribadi di lorong yang Wonwoo tak sengaja melewati, Wonwoo akan mundur. Mingyu akan ada di toilet itu. Wonwoo baik-baik saja. Kadang-kadang dia menangis di dada Mingyu, tetapi dia baik-baik saja.

Suatu hari, Wonwoo menghirup aroma baju Mingyu setelah beberapa minggu tidak bertemu. Mingyu sibuk, Wonwoo memaklumi karena pada tahun kelima, biasanya mereka sibuk beberapa bulan sebelum akhir tahun pelajaran karena mempersiapkan ujian O.W.L. Mingyu membuka mulutnya duluan. "Wonwoo,"

"Ya?" balas Wonwoo, teredam oleh badan Mingyu.

"Rasanya," suara Mingyu terdengar berat dan gugup. "Rasanya, aku suka padamu."

Wonwoo diam karena tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak akan berbohong mengatakan bahwa dia tidak tahu. Kadang-kadang, Mingyu sesekali menunduk dan menghirup bau rambutnya. Dengan alasan seperti itu terdengar sangat bisa dipercaya, tetapi Mingyu menyelipkan ciuman ringan di atas kepalanya. "Aku..."

"Aku tahu," potong Mingyu, "Aku hanya ingin mengatakannya saja. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati." Hati Wonwoo mengencang, betapa jahatnya dia, tetapi Mingyu sungguh sangat baik. Maka Wonwoo membenamkan dirinya ke dalam seorang Kim Mingyu dan menggumam "Maaf," yang redup.

Wonwoo merasakan pelukan di sekitar tubuhnya mengerat.


Seungcheol mengajaknya berbicara suatu hari kemudian. Wonwoo lantas tahu melihat ekspresinya. Keduanya pergi ke sebuah kelas yang kosong. Seungcheol yang memulai berbicara duluan. "Wonwoo," suaranya gugup. "Kau setuju dengan perjodohan kita?"

"Aku ikut apa katamu, Seungcheol," jawab Wonwoo pelan. "Kalau kau jatuh cinta dengan orang lain, dan perjodohan kita tidak jadi, maka aku juga ikut apa katamu. Kalau kau ingin pergi dengan Jeonghan, maka aku tidak punya satu hakpun untuk menolak."

Seungcheol terlihat benar-benar, serius, benar-benar, sungguh, terkejut. Wonwoo ingin tertawa andai dia tidak ingat ini adalah situasi yang serius. "Sejak kapan kau...?"

"Aku tahu, di awal tahun kau bukan pergi ke kompartemen Slytherin, tetapi ke Gryffindor," ujar Wonwoo pelan. "Aku tahu semuanya. Bukankah sebagai seorang anak yang paling dekat denganmu, kau terlalu meremehkanku, Seungcheol? Aku bahkan tahu tempat lorong favorit kalian untuk berciuman." dengusnya. Lantas, Seungcheol mukanya memerah.

"Astaga—demi Merlin, dan selama ini aku berbaik hati kepadamu untuk berpura-pura tidak tahu? Wonwoo, sungguh, kenapa pada saat itu kau tidak bilang? Oh, astaga. Aku ini brengsek. Padahal aku tahu, kau suka..." suaranya Seungcheol meredup di akhir kalimatnya, tampak sangat terpukul.

Wonwoo beringsut maju dan memeluk Seungcheol. Pelukan itu akrab. "Seungcheol, jangan merasa bersalah..." gumam Wonwoo menenangkan. "Aku sudah punya seseorang yang jauh lebih tampan sebagai penggantimu."

Seharusnya kalimat itu bohong, tetapi bayang-bayang di kepala Wonwoo sambil mengatakannya adalah Mingyu.


Mingyu kembali dari kelasnya menemukan Wonwoo berdiri di depan asrama Hufflepuff. Buku-bukunya dititipkan ke Minghao, abai dengan protes anak itu, keduanya segera berjalan ke toilet. Di toilet itu, Wonwoo yang berinisiatif memeluk. Mingyu bingung. Apakah Wonwoo ditolak Seungcheol? Dia ingin bertanya tetapi satu-satunya yang dilakukannya adalah mengelus kepala Wonwoo dengan lembut.

"Seungcheol akhirnya bilang," kata Wonwoo pelan. "Kalau dia pacaran dengan Jeonghan. Dia minta maaf kepadaku. Kami menyelesaikannya dengan baik,"

Mingyu memperhatikan muka Wonwoo dan sebenarnya lelaki itu tidak menangis. Hanya seperti biasanya, meminta pelukan dan tidak lebih. Dibandingkan dengan kondisinya yang lalu, Wonwoo benar-benar sudah bertambah baik dalam mengontrol emosinya.

"Terima kasih, Mingyu," ujar Wonwoo. "Aku butuh pelukan untuk menenangkan diri dari segala masalah. Dan dari semua orang, rasanya tidak akan ada yang bisa menduakanmu. Di pelukanmu, aku merasa aman. Sekarang masalah sudah selesai, kita tidak perlu bergumul di toilet ini lagi."

Mingyu merasa pening. Memang benar, bila Wonwoo tidak ada masalah yang menganggunya, maka dia bebas dan tidak memerlukan seseorang untuk memeluknya. Hell, mereka bahkan bukan apa-apa dari awal.

"Wonwoo, liburan kenaikan kelas nanti, maukah kau nanti ikut aku? Ke dunia muggle?" Benar, rupanya dia telah menjadi gila. Egoiskah bila dia ingin menghabiskan waktu dengan Wonwoo untuk terakhir kalinya? Sebelum mereka akan berpapasan seperti tidak kenal sebelumnya? Rasanya tidak. Wonwoo mengangguk.


Ibu Mingyu kelihatan lebih heboh daripada Mingyu sendiri. Mingyu merengek sebal. "Ibu, dia itu teman! Tolong jangan buat dia tidak nyaman, sekarang kami mau naik ke atas. Allen dan Cornkettle mana?"

"Oh, silahkan ke atas! Anggap rumah sendiri, Wonwoo," jawab ibunya, mengabaikan setengah dari pertanyaan yang lain.

"Ibu, Allen dan Cornkettle di mana? Di sini ada anakmu yang paling ganteng sejagat raya, tolong jangan diabaikan." kata Mingyu setengah memohon, setengah merengek. Dari seberang ruangan, ayah Mingyu tergelak pelan.

"Allen sedang jalan sore, nak. Adikmu tadi pergi, Cornkettle dibawanya ikut serta." jawab ibunya. "Gih ke atas. Jangan berisik."

Keduanya pergi ke atas dengan Mingyu yang masih merengut sebal. Ketika membuka pintu, Ally sudah tampak bergelung di pojok tempat Allen tidur, tampak merindukan belahan jiwanya. Wonwoo memandang jauh ke luar jendela, ke arah pantai dekat rumah Mingyu berada.

"Kau mau ke sana?" tanya Mingyu.

Wonwoo menoleh. "Ke pantai? Aman?"

Mingyu tertawa. "Tentu saja aman, banyak yang berenang di sana. Tetapi mungkin sekarang sudah sepi karena sudah jam empat. Kau mau ke sana? Mau berenang?"


Dari rumah mereka sudah mengenakan celana renang berbekal handuk. Mingyu memakai sweater tipis dengan resleting supaya tidak dingin, dan untuk Wonwoo adalah sweater milik Mingyu yang agak tebal dan kebesaran.

Wonwoo hanya menatap bingung ketika mereka berhenti di depan motor milik Mingyu. Tidak sabaran, akhirnya lelaki itu turun tangan sendiri dan mengangkat Wonwoo naik ke bangku penumpang, menyelipkan helm lalu dia sendiri naik dan memakai helm miliknya.

"Pegangan," perintah Mingyu, memegang tangan Wonwoo untuk dilingkarkan ke pinggangnya. "Yang kuat."

.

Muka Wonwoo sepenuhnya hijau ketika mereka sampai di pantai. Mingyu tertawa, rupanya seorang penyihir bisa mabuk mengendarai motor. Padahal, hal itu tidak seberapa dengan menaiki sapu terbang. "Aku tidak mau naik itu lagi," gerutu Wonwoo.

"Kalau begitu kau harus pulang jalan kaki," goda Mingyu, "Karena di sini memakai sihir itu illegal."

Wonwoo memukul bahu Mingyu. Mereka berjalan sampai di ujung pantai dengan dermaga yang terbuat dari kayu. Mingyu berjalan sampai ke ujungnya dan turun ke air sesegera mungkin. Anak itu tampak sudah terbiasa dengan pantai. Mingyu menggestur Wonwoo yang duduk di ujung dermaga, masih ragu untuk turun.

"Ayo," ajak Mingyu. "Airnya tidak terlalu dalam."

Wonwoo menggeleng. Mingyu mengangkat alis dan menggoda. "Kenapa? Kau belum pernah ke pantai dan berenang?"

Wonwoo menggeleng sekali lagi. "Aku pernah mandi, pernah berendam, tetapi tidak pernah ke pantai."

Mingyu berdecak. Anak itu menyelipkan tangannya diantara badan Wonwoo dan menarik sehingga keduanya jatuh ke dalam air. Muka Mingyu tersenyum lebar di dalam air, Wonwoo terlihat terkejut dan kehabisan nafas kemudian, terbatuk-batuk di atas permukaan air. Mingyu memegang badannya supaya Wonwoo bisa mengapung.

"Kau... bodoh!" Wonwoo terbatuk-batuk sambil memukul dada Mingyu. "Jangan turunkan aku. Kalau kau berani, akan kupukul kau sampai mampus. Aku tidak bercanda!"

Mingyu tertawa lagi. "Baik, tuan muda." Tawa Mingyu memudar dan mereka sadar betapa intim posisi keduanya. Tidak ada yang menginisiatif untuk naik ke dermaga, baik Wonwoo maupun Mingyu saling bertatapan dengan dada menempel seperti sepasang kekasih. Suara detak jantung berdebar dengan keras, tidak tahu milik siapa karena bercampur aduk.

Keheningan itu terpecah dengan gonggongan Allen di pesisir pantai tak jauh dari mereka. Mingyu mendesah kecewa, menaikkan badan Wonwoo ke dermaga dan menyusul di belakangnya. Mingyu tiba-tiba berhenti ketika Wonwoo berhenti. Tampaknya Wonwoo takut dengan Allen. Mingyu wajar, di dunia penyihir anjing itu jarang.

"Sini, ikut aku," tuntun Mingyu mendahuluinya ke depan dan menggenggam tangan Wonwoo erat. Wonwoo mengikutinya dan menempel ke punggung Mingyu, takut.

Mereka berdua, ditambah Allen yang meringkuk di samping Mingyu duduk melihat langit berubah menjadi oranye terang. Rambut keduanya basah, puas dengan main air sebelumnya. Jari Wonwoo bermain-main dengan pasir, teringat betapa kontras Mingyu dengan pantai. Entah bagaimana pikiran itu membuat Wonwoo gelagapan dan memerah malu.

"Mingyu,"

"Ya?"

Tegukan air liur gugup, "Aku... juga suka padamu. Tapi aku belum siap."

Tiba-tiba Mingyu bangun dan memakai sweater-nya. Wonwoo sempat mengira anak itu marah, tetapi Mingyu memasang senyum yang paling tulus. "Terima kasih," anak itu mengulurkan tangan. "Ayo bangun, atau kita akan flu. Sebentar lagi sudah dingin."

Wonwoo ikut tersenyum. Disambutnya tangan Mingyu. "Ayo."


Note:

-Moaning Myrtile adalah hantu yang menghuni toilet perempuan di lantai satu (utamanya), tapi dia bisa pindah-pindah ke toilet lain.

Author's Note:

Ini dia... pasangan yang base camp-nya di toilet :v Terima kasih buat Mingyu yang menginspirasi dengan kejorokannya (contoh, ngelap tangan di baju anggota lain sehabis bersin). Ini juga cerita yang jumlah katanya paling banyak, karena sudut pandangnya gonta-ganti XD Sebelumnya cerita-cerita saya selalu dijabarkan dengan sudut pandang satu tokoh saja. Di cerita yang ini nggak ada adegan ciumannya, saya cuma mikir aneh gitu ya Wonwoo di bayang saya orangnya tertutup mau dicium sama Mingyu. Jangan khawatir, pasangan selanjutnya bisa saya jamin banyak adegan ciumannya. Coba tebak siapa?

Dan saya besok udah pergi ke luar kota, jadi saya mohon supaya sabar menunggu cerita selanjutnya. Saya pulang delapan hari lagi, selama delapan hari itu saya bakal sempetin nulis. Kalau ngga, tolong dimaafin saja. ㅠㅠ

Sekian itu saja, terima kasih loh buat yang mau baca dan review. Setiap respon yang anda berikan jadi semangat buat saya ngelanjutin! Terima kasih!