THE LEGEND OF KORRA
VLAKER
Chapter 4 "Water"
-Pasts Part 1-
Warna jingga kemerahan berpendar di langit Kota Eenhil saat matahari kembali ke peraduannya. Kebisingan memekakkan telinga kala kendaraan bermotor lalu lalang di jalan raya. Seorang gadis duduk termenung di depan jendela kamarnya yang terbuka-menampakkan kondisi senja kota tersebut. Gadis itu memandangi sebuah potret seorang pria dengan setelan rapi memegang sebuah tropi dan piagam bertuliskan 'Walikota Eenhil Terbaik ke XIV' yang tersenyum lebar, nampak begitu bahagia. Air matanya kembali jatuh tepat di atas foto tersebut.
"Beraninya dia mengatakan Dad pergi karena hal magis itu. Dad, itu murni kecelakaankan?! Kau pergi karena kecelakaankan?! Benarkan, Dad?!" Tak ada jawaban atas pertanyaan Brittany. Hanya deruan angin senja yang menerpa wajahnya. Jemarinya bergerak menyapu permukaan bingkai kaca tepat di sisi wajah seorang pria yang berusia sekitar tiga puluhan.
Ketukan pintu membuat Brittany menghentikan tangis, buru-buru mengusap air mata yang jatuh bebas di pipinya dan beranjak meraih gagang pintu, kemudian membukanya.
"Honey, ada apa? Kenapa kau menangis? Ada sesuatu yang terjadi di kampus? Atau tentang Max? Atau ada yang membuat masalah denganmu?" Rentetan pertanyaan langsung ditujukan kepadanya oleh sang ibu dengan nada khawatir.
"Bukan masalah besar, Mom. Hanya beberapa anak nerd yang membuatku kesal… Hm, Mom, bolehkah aku bertanya?"
"Tentu sayang." Brittany menarik lembut lengan sang ibu dan membawa ibunya duduk di kursi dekat jendela lantas ia ikut duduk berhadapan dengan ibunya.
"Soal Dad, apa sebenarnya yang terjadi?" Ny. Clarkson agak tersentak mendengar pertanyaan itu, membuatnya seketika menunduk, rasanya tak sanggup menatap putrinya.
"Mom?" Panggil Brittany.
"Brit, kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?" Ny. Clarkson masih menunduk.
"Aku berhak tahu, Mom."
"Apa ada yang menemuimu? Ada seseorang yang mengatakan sesuatu?" Kini ia menatap sang putri dengan ekspresi khawatir yang terpancar jelas, membuat Brittany tak sabar untuk membuat ibunya bercerita.
"Mom, ayo ceritakan!"
"Pasti ada yang menemuimukan? Pasti mereka sudah datang kepadamu dan mengatakan sesuatu." Ny. Clarkson bagai tak mendengar permohonan putrinya, hanya rasa takut dan khawatir yang seakan mengisi seluruh ruang di kepalanya, semua seakan bercampur aduk bagai benang kusut tak berujung bahkan bertambah rumit dengan adanya kenangan masa lalu tentang seorang pria yang sangat dicintainya. Ingatan itu jelas bagaikan potongan puzzle yang bersatu dengan sendirinya.
Tangan Ny. Clarkson terulur meraih salah satu tangan putrinya lalu menempelkan jemari lentik itu di pipinya. Brittany menautkan alis, apa sebenarnya yang dilakukan sang ibu? Brittany tak sempat bertanya karena atmosfir di sekitarnya tiba-tiba berubah. Sudut matanya menangkap pergerakan aneh yang menuju ke arahnya, cukup lama ia meneliti apa sebenarnya yang bergerak mendekatinya. Matanya membulat sempurna saat mengetahui gulungan ombak besar yang entah dari mana datangnya akan menghempasnya dirinya dalam waktu beberapa detik saja. Ia mencoba memberi tahu sang ibu tentang apa yang ia lihat. Terlambat, ibunya telah terpisah darinya menghilang ditelan ombak maha dahsyat, kini gilirannya yang tak mampu lagi menghindar. Gelombang besar bak tsunami menggulungnya, menghempasnya, membawanya entah kemana.
Masih di dalam air, Brittany merasakan tubuhnya dihantam berbagai macam benda, memberikan luka-luka berdarah ditubuhnya. Kepedihan atas luka yang dirasakannya saat itu, sesak tanpa ada oksigen yang bisa dihirupnya di dalam sana, jantungnya yang remuk oleh cengkraman sesuatu. Semuanya bagai berusaha merenggut nyawanya. Hingga amukan air itu tiba-tiba berhenti, sisa-sisa ombak menyeret tubuh lemah Brittany ke sebuah pantai. Tapi, layakkah tempat itu di sebut pantai? Sebuah tempat gelap tanpa setitikpun cahaya. Brittany masih dalam kesadarannya, ia terbatuk karena berusaha mengeluarkan air yang masuk ke paru-parunya, luka-luka akibat hantaman benda-benda dalam air telah mengering dan lama-kelamaan menghilang. Saat membuka mata, tak ada satupun yang dapat ia lihat dalam kegelapan. Ia mencoba meraba sekitarnya dan merasakan ia terbaring di atas tumpukan pasir yang begitu halus.
Meskipun masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, Brittany berusaha bangkit atau setidaknya berteriak meminta tolong. Ketakutan mulai menjalarinya karena tahu usahanya sia-sia, tak ada tanda-tanda keberadaan orang lain ditempat gelap itu selain dirinya. Perasaan sesak kembali ia rasakan meski tak lagi di dalam air, ia merasa oksigen ditempatnya berada semakin menipis, kembali ia merasa jantungnya dicengkram dengan sangat kuat, kepalanyapun terasa berat dan pening. Perasaan-perasaan apakah sebenarnya itu? Kenapa ia yakin bahwa itu adalah apa yang sebenarnya dirasakan sang ibu? Meski ia tak punya alasan untuk menguatkan keyakinannya.
Kegelapan semakin membekapnya dan perasaan itu semakin menjadi hingga pada saat ia melihat sebuah titik, titik cahaya di ujung sana. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba meraih titik cahaya itu, titik yang menjadi harapannya untuk keluar dari belenggu kegelapan dan perasaan yang semakin menyiksa. Sedikit lagi ia mencapainya kendati tubuhnya tak berdaya. Selangkah lagi dan cahaya keperakan itu semakin jelas. Brittany berhasil meraih cahaya itu dan melangkah keluar dari kegelapan. Ia menutup matanya rapat-rapat dan mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin mengisi paru-parunya dan menghilangkan sisa-sisa perasaan sesak itu.
Brittany mendengar suara tepukan tangan di sekelilingnya, ia membuka mata dan terkejut melihat ada banyak sekali orang yang menatap ke arahnya dan bersorak riuh, ditambah lagi kilatan blitz puluhankamera yang menyilaukan mata. Tapi, tiba-tiba ada orang lain yang keluar dari cahaya keperakan itu, berjalan semakin dekat ke arah Brittany dan secara mengejutkan ia menembus begitu saja tubuh gadis itu. Tak hanya satu, dua, bahkan tiga orang juga menembus tubuhnya. Brittany sontak menyingkir dari tempatnya-tak ingin ada lagi orang yang melewati tubuhnya-dan menatap tak percaya pada orang-orang tadi. ia mengangkat kedua tangan tepat di depan wajah dan makin terkejut saat ia tak dapat melihat tangannya atau bahkan tubuhnya sekalipun. Ia tak terlihat, itu sebabnya orang-orang tadi dapat menembusnya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa ia tiba-tiba bisa berada di area perbatasan waktu antara kota Republik dan Eenhil?
Ia kembali memandang sekeliling, keriuhan makin manjadi kala enam orang berseragam berdiri berjejer dan melambaikan tangan mereka. Brittany tahu siapa orang-orang ini, mereka adalah para Vlaker ke-7, ia juga melihat Walikota Eenhil ke XIII berdiri bersama isterinya. Vlaker yang masih memiliki keluarga nampak disambut dengan hangat oleh keluarga mereka. Tapi, di sudut lain, seorang wanita nampak cemas menunggu seseorang yang belum juga menampakkan diri, wanita itu maju sedikit lebih dekat ke arah cahaya dan beberapa menit kemudian matanya berbinar melihat seorang pria tampan melangkah keluar dari cahaya keperakan yang makin memudar. Senyumnya merekah tatkala ia berlari menghambur ke pelukan sang pria, pria itupun menyambut pelukan kekasihnya dengan hangat penuh rindu. Saat itu juga sang pria menepati janjinya, melamar sang kekasih tepat setelah ia menyelesaikan latihannya menjadi seorang Vlaker.
"Mom? Dad?" Brittany bergumam saat melihat pasangan itu. "Inikah jawaban mom untuk pertanyaanku tentang dad? Dad, tenyata benar seorang Vlaker." Tapi, tak ada seorangpun yang dapat mendengar suaranya yang hanya bagaikan deruan angin malam.
"Maukah kau menjadi pendampingku dan menerimaku sebagai takdirmu ?" Dengan wajah merona sang wanita mengangguk kala prianya berlutut dihadapannya dengan sebuah cincin cantik bertengger dalam kotak kecil di genggaman sang pria. Lamaran yang begitu manis itu menyita perhatian orang-orang yang berada di tempat itu. Mereka turut bahagia atas resminya pasangan tersebut.
Dentingan lonceng mengiringi perhelatan sakral pengucapan janji suci dari sepasang insan yang ditakdirkan bersama. Senyum cerah sang mempelai wanita dan mempelai pria mewarnai acara pernikahan ini. Berjalan menuju altar dengan digandeng sang ayah membuat mempelai wanita merasakan berjuta kupu-kupu menggelitiki perutnya, apalagi melihat seorang pria tampan ber-tuxedo berdiri tegap di samping pendeta, bersiap menyambut jemarinya.
"Aku bersedia." Ikrar kedua mempelai menandakan resminya ikatan mereka dengan simbolis cincin yang melingkar di jari manis kiri masing-masing dan juga ciuman manis yang membuat hadirin bertepuk tangan riuh.
Hari-hari bahagia mereka jalani bersama. Tapi, hal yang paling membahagiakan bagi pasangan lain belum tentu sama dengan apa yang mereka rasakan. Kehadiran seseorang berarti perpisahan bagi yang lain. Sang suami berharap dapat mewariskan tugasnya pada anaknya kelak. Tapi, tidak dengan isterinya, ia tak sanggup berpisah dengan suaminya kendati mereka mempunyai anak. Setiap kali sang suami mengutarakan keinginannya, saat itu pula berakhir dengan pertengkaran.
Seiring berjalannya waktu, kerinduan akan seorang anak merasuki jiwa sang isteri meski harus melawan egonya, ia tak mampu menahan rasa iri kala melihat pasangan lain mendorong kereta kecil berisi bayi lucu di dalamnya. Meskipun pada awalnya ia mencoba untuk menahan perasaan itu karena tak ingin perpisahan menjadi akhir dari cinta mereka, tapi ia tak sanggup menahan keinginannya untuk menjadi seorang wanita sempurna bagi sang suami. Ia ingin mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan buah cinta mereka kendati harus melewati proses itu sendiri, berjuang sendiri tanpa belahan jiwa di sisinya.
Ia kembali teringat ucapan sang pria ketika mereka memutuskan untuk bersama "Berani mencintai seorang Vlaker, harus berani berpisah dengannya." Dan saat itu pula, sang wanita berjanji akan menerima apapun resiko karena mencintai seorang Vlaker, maka saat itulah ia harus menepati janjinya.
"Benarkah, Sayang?" Wanita itu mengangguk dalam dekapan hangat prianya, menyalurkan kebahagiaan yang ia rasakan karena kehadiran jiwa baru dalam raganya, jiwa yang akan menjadi jantung kecil yang berdetak lalu kemudian menjadi sesosok tubuh mungil yang akan lahir dan tumbuh menjadi pewaris kekuatan sang ayah seperti apa yang memang prianya harapkan.
Kebahagiaan mereka semakin bertambah saat sang suami diangkat menjadi Walikota Eenhil dan dalam waktu beberapa bulan telah mendapat gelar sebagai walikota terbaik ke XIV. Tugas berat sebagai seorang walikota sekaligus penjaga kota Eenhil membuat sang pria harus rela terpisah dari wanitanya, sedikit sekali waktu untuk bertemu, apalagi mengobrolkan hal-hal kecil atau berbagi kebahagiaan seperti biasa.
Hingga suatu hari, ketika sang suami pulang dari tugasnya, wajahnya nampak panik dan khawatir, isterinya menatap heran. Ia menghampiri isterinya dengan tergesa-gesa, menarik napas dalam-dalam lalu mengatakan apa sebenarnya yang membuatnya bersikap begitu panik.
"Joanne, kau harus pergi ke tempat yang aman."
"Apa? A… Apa maksudmu?" Sang isteri membalas perkataannya dengan terbata. Bagaimana tidak, tiba-tiba suaminya pulang dengan wajah panik dan menyuruhnya pergi ke tempat yang aman, lagipula tempat aman seperti apa? Dimana? Dan aman dari apa?
"Bandit kegelapan mengincar semua keluarga Vlaker, aku tak ingin kau dan anak kita terluka. Kumohon, dengarkan aku. Aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu di Eenhil Selatan, kalian akan aman di sana."
Tak ada kesempatan si wanita menjawab apalagi membantah, ia menuruti perkataan suaminya untuk berlindung di Eenhil Selatan, wilayah itu cukup jauh dari Eenhil Center sehingga para bandit kegelapan tidak akan mencapai wilayah itu. Sang suami mengecup kening isterinya cukup lama seakan itu adalah kecupan terakhir, bulir-bulir air mata jatuh di pipi sang isteri dan dengan lembut ia menghapus buliran itu.
"Brittany." Sang suami menggumamkan sebuah nama. "Jika anak kita perempuan, beri nama Brittany yang berarti kebahagiaan. Hiduplah bahagia bersama anak kita, rawat ia dengan baik dan jika waktunya telah tiba, katakan padanya betapa istimewanya dia…" Tangis isterinya pecah mendengar ucapan sang suami, ia tahu itu adalah ucapan selamat tinggal dari suaminya. Ia mengangguk, meyakinkan bahwa ia akan melakukannya. Pria itu beralih ke perut isterinya yang sudah membesar, mengelusnya perlahan lalu mengecupnya sambil membisikkan kata-kata atau lebih tepatnya doa untuk pewarisnya.
"Robert, aku mencintaimu.." Joanne mengucapkannya bersamaan saat genggaman tangan mereka mulai meregang dan lama kelamaan terlepas.
"Aku juga mencintaimu, Joanne."
Joanne akhirnya melepaskan Robert untuk menjalankan tugasnya membela kota kelahiran mereka, berjibaku dalam perang melawan keganasan bandit kegelapan yang akan menyerang, merusak dan membantai tanpa kenal lelah. Dan kabar menyedihkan itu tersiar di seluruh Eenhil, Walikota ke XIV, Vlaker ke-7, Robert Clarkson telah gugur dalam pertempuran di Eenhil Center. Ia meninggal secara hormat karena berhasil membuat pemimpin bandit kegelapan tertangkap meski harus mengorbankan nyawanya bahkan sebelum putri kecilnya terlahir.
Joanne merasa air matanya tak mampu mengalir lagi sejak terakhir kali ia bertemu Robert, iapun memutuskan untuk tak lagi larut akan kesedihan dan rasa kehilangan yang kapan saja dapat menghancurkan kehidupannya. Beberapa waktu kemudian, Joanne melahirkan seorang bayi cantik yang diberi nama Brittany sesuai janjinya pada Robert. Kedua orang tua Joanne mendukung keputusan Joanne untuk kembali membangun kehidupan barunya bersama sang putri di Eenhil Center. Joanne berjuang sendiri merawat putrinya di tengah upayanya mendapatkan kehidupan yang layak, tunjangan sebagai istri walikota sekaligus Vlaker tidaklah cukup, inilah resiko yang harus ia terima jika berani mencintai seorang Vlaker.
Brittany tumbuh menjadi gadis angkuh karena ibunya berhasil menjadi salah satu orang yang berpengaruh di Eenhil Center, apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan. Setidaknya begitulah kebahagiaan yang diterjemahkan sang ibu kepadanya, sesuai janji ibunya kepada mendiang ayahnhya. Meskipun segala sesuatu telah sang ibu berikan kepada Brittany, satu informasi penting yang masih disembunyikan sang ibu hingga Brittany bertanya tentang hal itu.
Lagi, perubahan atmosfir di sekitar Brittany berubah seperti halnya ketika ia masuk ke dunia asing yang gelap sebelum ia menyaksikan masa lalu ibunya. Brittany merasakan gejolak aneh dalam tubuhnya, tangan dan seluruh tubuhnya mulai terlihat secara perlahan. Segala sesuatu di sisinya berputar dan lama-kelamaan berubah, satu persatu benda di kamarnya mulai bermunculan dan menempati tempat seharusnya, sang ibupun mulai terlihat di hadapannya. Tanpa ia sadari, sejak menyentuh pipi ibunya, manik birunya tenggelam dalam cahaya kebiruan yang mengisi seluruh ruang di kedua matanya, dan segaris ukiran abstark bagai luka goresan terbentuk di wajahnya. Tapi, ketika ia melepas tangannya dari wajah sang ibu, ukiran abstrak itu menghilang dan manik matanya kembali seperti semula.
"Mom, tadi itu…," Ibunya mengangguk sebagai respon dari perkataan Brittany, apapun pertanyaan yang dilontarkan putrinya, jawabannya adalah iya.
"Jadi, apa keputusanmu, Sayang?" Brittany menghela napas-berusaha meyakinkan dirinya atas apa yang akan ia katakan.
Begitu pelan langkah yang dibuat oleh gadis kecil dengan rambut saddle brown panjang yang berjalan di antara pepohonan tak berdaun. Deruan angin malam musim gugur yang dingin tak ia pedulikan, langkahnya terus terbentuk tanpa tujuan.
"Clara…" Panggilan seseorang dari arah belakang membuat langkahnya terhenti. Tapi, ia tak menoleh ke arah panggilan itu, apa lagi menjawabnya. Ia justru kembali melanjutkan langkahnya, kali ini lebih cepat.
"Clara…" Semakin keras panggilan itu, semakin cepat pula langkah gadis kecil ini. Ia memutuskan berlari lebih kencang kala ia mendengar derap langkah mendekatinya. Sebuah tangan kemudian dapat meraih bahunya sontak membuatnya berhenti berlari. Seseorang itu kemudian berlutut di hadapannya-mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.
"Clara, dengarkan aku!" Clara hanya melengos tak peduli dengan seorang gadis 17 tahunan di hadapannya. Berulang kali ia mencoba membuat Clara mendengarkan ucapannya, tapi Clara tetap tak peduli.
"Kau ini sebenarnya kenapa? Kumohon jangan seperti ini, Clara." Gadis itu hampir menyerah menghadapi Clara, ia menyudahi berlututnya dan berdiri menatap Clara. Mata Clara akhirnya mau beralih kepadanya. Gadis kecil bermanik lime green itu menyingkap poni tirai yang menutupi keningnya. Gadis di depannya lantas mengubah ekspresi kala melihat luka goresan melintang yang telah mengering di keningnya. Dengan cepat gadis itu kembali berlutut dan mencoba melihat luka itu lebih dekat, Clara menepis tangan sang gadis ketika gadis itu berusaha menyentuhnya.
"Kau lihat? Ini karena kau meninggalkan aku di rumah itu dan pergi keluar bersenang-senang, kau tak tahu bagaimana mereka memperlakukanku pagi ini." Nada bicara Clara meninggi sejurus kemudian nada bicaranya berubahan sedikit memohon. "Karen, ayo kita tinggal di tempat lain, aku tidak suka di rumah itu dan orang-orang di dalamnya begitu menakutkan."
"Clara, sudah kukatakan berapa kali, kau harus bersabar. Aku berusaha untuk mencari jalan keluar dari rumah itu dan aku bekerja di luar mencari uang untukmu bukan bersenang-senang. Aku berjanji kita akan segera pindah dari sana." Ucap Karen lembut.
"Tapi, kapan? Aku sudah menunggu cukup lama."
"Secepatnya, aku janji. Sebaiknya, kita pulang sekarang, Ny. Nial akan marah jika kita pulang terlalu larut." Clara mengangguk kemudian meraih tangan Karen dan berjalan bergandengan.
Setelah beberapa saat berjalan kaki, sebuah rumah sederhana nampak di depan mereka. Rumah berdinding putih kekuningan dengan pintu berwarna cokelat tua dan pekarangan yang cukup luas yang di batasi pagar kayu bercat putih. Karen membuka pagar rumah itu perlahan kemudian mengisyaratkan Clara untuk masuk lebih dulu. Setelah mereka berdua masuk, Karen kembali menutupnya perlahan. Karen merogoh sakunya dan menemukan sebuah kunci kemudian segera membuka pintu cokelat rumah itu, derit pintu terdengar agak nyaring membuat Karen menghentikan sejenak kegiatannya. Tak ada pergerakan sedikitpun dari dalam rumah, Karen mencoba membuka lebih lebar pintu itu hingga mereka berdua bisa masuk, kali ini suara derit yang di hasilkannya lebih kecil. Keadaan di dalam rumah nampak gelap dan sepi, hanya beberapa lampu kecil yang terlihat menyala redup, sepertinya para penghuninya sudah terlelap. Karen dan Clara berjalan mengendap-endap menuju kamar mereka. Tiba-tiba lampu di ruang tengah menyala, membuat mereka sontak menghentikan lagkah dan menoleh pada seorang wanita gemuk yang berdiri di samping sakelar dan menatap mereka penuh amarah. Karen menggeser posisi Clara dan maju selangkah di depannya.
"Clara, masuk ke kamar!" Clara mengangguk mendengar perintah Karen.
"DIAM DI SITU!" Bunyi perintah lain dari si wanita gemuk membuat Clara mengurungkan niatnya menuruti Karen. Ia menatap ngeri wanita itu yang berjalan mendekat.
"Clara, aku bilang masuk!" Kali ini, volume suara Karen lebih tinggi membuat Clara tak mau berpikir panjang untuk segera menuruti Karen. Ia berlari masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan sedikit sentakan. Setelah yakin Karen percaya ia takkan keluar lagi, Clara kembali membuka pintu kamarnya dan memberikan sedikit celah baginya untuk melihat apa yang akan dilakukan wanita gemuk itu pada kakaknya.
Wanita gemuk itu berjalan sedikit terseok, kaki-kaki kecilnya seakan tak mampu menahan berat tubuhnya. "Beraninya kau memberi perintah di rumahku. Hanya aku yang berhak memerintah di sini. Tunggu dulu, jam berapa ini?," Wanita itu melirik sebuah jam yang menggantung di sudut ruangan."Sudah sangat larut dan kau masih ingat pulang, eh?! Anak tak tahu diri, begini caramu membayar jasaku yang telah merawat anak yatim piatu sepertimu dan adik adopsimu? Aku memberimu makan, menyekolahkan adikmu, memberimu tempat tinggal dan inikah balasanmu?" Wanita itu sibuk berkoar-koar di depan Karen, sementara Karen hanya menunduk menatap kaki-kakinya. Dimana semua keberanian yang ia janjikan pada dirinya sendiri? Dimana tatapan mengintimidasi yang dilatihnya setiap hari? Dimana suara lantangnya untuk menepis semua perkataan wanita itu? Saat dibutuhkan kenapa semua itu bagai tenggelam dalam dirinya, ia membutuhkan semua itu untuk melawan, ia butuh semua itu untuk membuat wanita bermulut tajam di hadapannya bisa mengunci mulutnya.
Wanita itu semakin geram melihat Karen yang tak kunjung menanggapinya, tangan gemuknya meraih helaian rambut cokelat Karen dan menariknya dengan keras. Kali ini Karen tak tinggal diam, keberanian yang ia pendam akhirnya muncul juga setelah perlakuan yang ia terima. Karen membalas jambakan wanita itu dengan melakukan hal yang sama pada rambut ikal keabuan milik wanita gemuk di hadapannya. Wanita itu menggeram dan melepas tangannya dari rambut Karen, ia semakin marah atas apa yang Karen lakukan. Ia mencoba melayangkan telapak tangannya bermaksud mendaratkannya di wajah Karen, tapi Karen dengan cepat menangkap tangan berlemak itu sebelum tangan itu melukai wajahnya.
Karen terpaku. Semua benda di sekelilingnya berputar mengelilinginya, tepat ketika ia menangkap tangan gemuk wanita yang disebutnya Ny. Nial. Benda-benda yang ada di sana terbang melingkar secara perlahan sebelum kobaran api-yang entah datang dari mana-membakar benda-benda itu dan menjadikannya abu. Ny. Nialpun ikut terbakar, anehnya tak ada jeritan sedikitpun yang keluar dari mulut wanita itu. Api itu merambati tubuh Karen secara perlahan menimbulkan rasa panas yang luar biasa. Awalnya, hanya jilatan-jilatan api yang merambati tubuhnya, kemudian api itu membesar seakan menelannya hidup-hidup. Karen menjerit merasakan panas di setiap inchi tubuhnya, api itu membakar hingga ke jiwa menimbulkan amarah akan derita yang ia rasakan. Api amarah dalam jiwanya bagai tak tertahankan menandingi panas api yang membakar tubuhnya. Besarnya kobaran api amarah yang membakar jiwanya, secara perlahan mampu memadamkan api yang melelehkan tubuhnya hingga benar-benar padam. Lepuhan kulit di sekujur tubuh Karenpun terlihat jelas. Karen kembali menjerit marah dan seketika kulitnya yang melepuh kembali pulih seperti sedia kala. Karen merasa menginjak tumpukan abu yang berterbangan seiring ia menghela napas. Amarah dalam jiwanya masih ia rasakan bahkan memuncak ke ubun-ubun, hingga ia tak menyadari dimana sebenarnya ia berada. Tempat yang gelap gulita bagai dalam sebuah lorong tak berujung tanpa lampu penerang. Karen tak butuh penerangan atau semacamnya untuk melihat sekeliling, manik merahnya yang menyala sudah cukup membantunya melihat yang ingin dilihatnya. Dalam lorong itu, Karen dapat melihat kilau cahaya di kejauhan. Bagai kerbau yang melihat sebuah kain berwarna merah, napasnya memburu dan dengan kecepatan tinggi ia berlari menuju cahaya itu. Amarahnya yang makin memuncak membuatnya tak peduli seberapa jauh ia harus berlari ke sebuah cahaya yang mungkin dapat membuatnya terbebas dari amarah yang membakar dan menyiksa jiwanya. Sedikit lagi…dan…ia sampai, segera ia melompat ke dalam cahaya itu dan menapakkan kakinya di lantai sebuah ruangan. Kali ini, Karen mengenali tempatnya berpijak, meski sisa-sisa amarah itu masih dirasakannya dan tak separah sebelumnya. Ia melihat ke sekliling. Benar. Tempat itu adalah rumah masa kecilmya, rumah dimana ia dan ayahnya menjalani hari-hari tanpa seorang ibu.
TBC
Udah didiamkan lamaaa sekali…. Bisa bikinnya cuma segini dan lagi-lagi aku gak bisa munculin Korra dkk. Entah ini masih layak disebut fanfic atau tidak. -_-* Ditambah lagi dengan hadirnya Book 3, aku jadi bingung ceritanya takut gak nyambung. Seharusnya ni ff kubikin pas LOK dah selesai sampai Book 4 karena setting waktunya setelah Book 4… +_+" Tapi, tak apalah… yang penting ni ff jadi…
Ceritanya udah gentayangan di kepalaku dan bakal tambah parah kalau aku gak ngelampiasin di keyboard…
Buat yang masih mau baca… Thanks a lot, karena kalianlah yang buat aku semangat buat nulis, yaaa… kecuali, masalah gentayangan itu… btw, thanks buat Sis Rae atas sarannya…
Keep read and review my sisters & brothers…
SALAM AVATAR… SALAM VLAKER…
