Under the Crimson Moon

An One Piece fanfiction

One Piece © Eiichiro Oda and Shueisha

Tsukihime © Kinoko Nasu and TYPE-MOON


Chapter I

Thunderous Applause

"Darah? Aku tidak suka darah... mending makan daging!"


"Para pengkhianat teman itu... baginya aku ini cuma umpan yang sudah termakan ikan besar, ya? Ditinggalkan begitu saja walaupun mungkin masih hidup..."

Itulah pemikiran gelap yang ada di benak Nami, saat dia diseret seorang True Ancestor bernama Luffy menuju sarangnya.

Sampai sekarang, gelang dari Franky tidak berguna. Nami sudah menekannya berulangkali saat disergap tadi, tapi bantuan tidak kunjung datang. Atau sebenarnya mereka semua ketakutan, bahkan bagi Robin dan Franky yang biasanya tak mengenal takut... musuh kali ini terlalu menyeramkan.

Pemuda di depannya ini adalah True Ancestor, alias vampir darah murni sekaligus vampir dengan kasta tertinggi. Makhluk amat berbahaya, yang bisa menyerangnya kapan saja.

"Oh ya. Aku belum tahu namamu?"

Sang vampir tiba-tiba mengajaknya bicara. Nadanya amat ramah, seperti orang asing yang mengajakmu berkenalan di bus. Walaupun sebenarnya orang itu adalah seorang psikopat yang ingin melakukan hal-hal buruk padamu...

"A-Aku... Nami. Aku bekerja di bangunan tadi..." entah kenapa mulut Nami bergerak sendiri menjawabnya... bahkan dia juga menceritakan hal lain di luar pertanyaan!

"Hee... gedung yang tadi?" pemuda itu menoleh ke belakang, ke arah gedung kantor Straw Hearts yang sebenarnya sudah berjarak cukup jauh. Sepertinya dia masih bisa melihat gedung itu dengan jelas, karena ekspresinya mirip seseorang yang mengamati suatu benda yang berada tepat di depannya. Setelah beberapa saat, dia mengernyitkan dahinya. "Ugh. Itu gedung dengan aura yang sangat nggak enak. Apa aja yang kalian lakukan di sana?"

Nami langsung merinding mendengar pernyataan itu. Jika bahkan seorang vampir kasta tertinggi mengatakan gedung tempatnya bekerja memiliki aura yang tidak enak... sebenarnya seangker apa tempat itu?!

"E-entahlah... ko-kolegaku mengadakan suatu penelitian di sana."

"Penelitian?" pemuda itu memiringkan kepalanya, sepertinya keheranan mendengar kata tadi. Mungkin dia tidak terlalu fasih berbahasa Jepang?

"Iya. Dia membuat barang-barang yang membantu pekerjaan kami... misalnya gelang, alat komunikasi, penyadap, dan sebagainya," jawab Nami.

"Hmm," pemuda itu memegang dagunya, sepertinya masih belum mengerti benar. "Lalu, kenapa ada arwah-arwam marah di dalam sana?"

Bahu Nami terhentak dan matanya melebar karena pertanyaan tadi.

"Arwah marah?! Franky, apa saja yang kau lakukaaaan?!"

Melihat lawan bicaranya tampak ketakutan dengan badan bergetar, Luffy membalik badannya dan mengakhiri pembicaraan itu.

"Ah, sudahlah. Ayo, jalan lagi," katanya sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.

Nami mengikutinya dengan patuh. Meskipun pikirannya amat terganggu atas pembicaraan tadi dan fakta bahwa pemuda di depannya itu adalah seorang vampir, entah kenapa kakinya terus melangkah. Pikirannya seolah kosong dan ajakan sang vampir menjadi satu-satunya kuasa di sana.

Walaupun, saat itu Nami sangat sadar dan merasa tidak ada proses hipnotis yang terjadi sebelumnya (selain ketidaksengajaan aktivasi mata mistik itu).

Setelah kira-kira 20 menit berjalan, mereka pun sampai di Konoe-cho. Berada di sisi barat Kabuki-cho tempat SH berkantor, daerah itu adalah daerah tempat tinggal elit. Rumah-rumay dengan gaya arsitektur Barat yang luas, restoran dan kafe elit, serta beberapa gedung perkantoran bertebaran di sana. Yang mereka tuju saat itu adalah kompleks apartemen... yang tertinggi dan termahal di kota, Mariejoa.

Nami tidak bisa menahan dagunya terjatuh setelah melihat kompleks itu dari dekat. Itu adalah kompleks apartemen dengan tinggi berlebihan yang sering menjadi lokasi syuting berbagai serial dorama dan film! Menurut isu, hampir 40% ruangan di sana kosong karena mahalnya harga beli dan sulitnya mengurusi dokumen kepemilikannya. Kebanyakan penghuninya adalah lansia kaya yang tidak mau tinggal di panti jompo dan memilih menghabiskan sisa umurnya di tempat elit bersama para simpanan.

Jadi, jika seorang pemuda bisa tinggal di sana... mungkin cerita idealis sok romantis itu benar? Bahwa seorang vampir darah murni adalah keturunan bangsawan dengan kekayaan yang tak akan habis selama umur mereka yang abadi...

Ngomong-ngomong, karena sekarang pukul 2 dini hari, tempat itu juga membuat perasaan tidak enak. Mungkin karena tingginya yang mengagumkan, atau lokasi terlalu elit, Nami merasa gugup. Saking gugupnya, dia sepertinya lupa kalau dia sedang bersama vampir.

"Tempatku di lantai 23," kata Luffy sambil berjalan masuk ke lobi utama. Nami mengikutinya dengan terbata-bata, dan dagunya kembali terjatuh begitu melihat bagian dalam apartemen.

Lobinya sangat luas seperti sebuah hotel berbintang 5, dengan interior bernuansa modern sekaligus natural. Didominasi warna coklat kayu dan krem, dengan pilar-pilar besar berbentuk spiral seperti batang pohon. Ada sebuah taman indoor di sana, yang terhubung langsung dengan sebuah kafe kecil, menciptakan suasana makan yang asri. Saat Nami sedang terkagum-kagum, Luffy menghampiri seorang wanita di counter, resepsionis lobi itu.

"! Apa yang akan dia lakukan dengan wanita itu?!"

Nami bermaksud memperingatkan sang resepsionis agar kabur dari si vampir... tapi, yang terjadi, wanita itu dan Luffy malah tertawa bersama. Rupanya Luffy meninggalkan kunci masuk ruangannya di dalam ruangan (sebuah misteri kenapa dia bisa keluar). Setelah resepsionis itu memberikan kunci pada Luffy yang menggaruk-garuk kepala, wanita itu membungkuk sopan dan mempersilakan mereka masuk.

"Eeeh? Kenapa mereka ngobrol santai seperti itu? Apa cewek itu nggak sadar bahaya orang ini? Dan kenapa dia tidak menyerang gadis muda seperti dalam mitos?"

Pemikiran Nami terhenti saat Luffy menyeretnya untuk masuk sebuah lift.

"Hahaha. Aku lupa kalau tadi aku keluar dari jendela... makanya nggak bawa kunci," Luffy berkata begitu lift mulai bergerak.

"K-kamu... loncat ke bawah? Sejauh 23 lantai?!" Nami bertanya sambil menuding lantai di bawahnya untuk mempertegas.

"Iya, memangnya kenapa? Itu 'kan biasa."

Biasa kepalamu! Nami ingin berteriak demikian dan memukul kepala pemuda itu, melakukan tsukkomi yang biasa dia lakukan, tapi menahan diri. Loncat puluhan meter ke bawah dan tampak baik-baik saja... kekuatan fisik Luffy itu jelas amat hebat. Kalau dia memukulnya, entah apa yang akan terjadi pada tangannya...

Lift berjalan dengan kecepatan sedang, dan Nami bisa melihat panorama kota di panel kacanya. Dia menutupi mulutnya yang lagi-lagi melongo melihat keindahan pemandangan itu. Di sana terlihat seluruh bagian kota, dan dermaganya yang berkilauan oleh cahaya kapal dan peti kemas. Ditambah langit dini hari yang keunguan...

"C-cantik sekali..."

"Oh ya?" tanya Luffy sambil mengupil. Santai benar! "Aku memilih tempat ini karena bangunannya keren, tapi ternyata pemandangannya cukup bagus, hahaha."

Memilih apartemen termahal di kota hanya karena faktor kerennya bagunan... sepertinya akal sehat Luffy itu tidak beres karena terlalu lama hidup. Nami menghela napas dan membiarkan pemikiran itu hilang.

Ting!

Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di lantai 23. Pintu lift terbuka... untuk menampilkan sebuah koridor yang berkesan amat elit. Dengan wallpaper kuning muda dan karpet merah maron bermotif India di lantai. Bahkan lorong apartemennya terasa hangat, sepertinya karena pengatur suhu yang terus menyala. Hanya 1 hal yang ada dalam pikiran Nami saat itu.

"Sekarang, sudah tak ada yang bisa membuatku terkejut... kurasa."

Mereka berjalan sebentar dan berhenti di depan ruangan dengan nomor 2356, sepertinya itu ruangan Luffy. Dia mengeluarkan kunci elektronik dari sakunya, menggeseknya, dan pintu pun terbuka, diiringi suatu melodi yang mengucapkan selamat datang untuk mereka.

"Yak, ini rumahku. Silakan, silakan!" kata Luffy dengan gaya seorang artis yang rumahnya masuk dalam acara 'scrib' selebritis.

"U-um... permisi," kata Nami sambil melepas sepatunya. Lagi. Kenapa dia bertingkah amat sopan padahal dia ada di hadapan vampir?! Tapi, dia tidak melanjutkan pemikirannya itu karena tiba-tiba dia diterpa udara dingin dari dalam ruangan. Dia menggigil dan merapatkan jaketnya. Mungkinkah ini sengaja agar mirip dengan tempat asal Luffy dari Eropa Utara, seperti halnya vampir dalam legenda?

Melihat Nami yang memeluk dirinya erat-erat untuk meredam dingin, Luffy tertawa kecil, lalu berlari masuk dan melemparkan dirinya ke atas sofa berukuran raksasa di tengah ruangan. Nami mengamati bahwa bagian dalam tempat tinggal si vampir tampak 'biasa saja' jika dibandingkan dengan gedungnya yang luar biasa... ya, 'biasa saja' bagi sebuah apartemen elit. Ruang tamu yang tempat mereka berada sekarang, berukuran cukup luas dengan nuansa merah. Di belakang sofa yang diduduki Luffy, tampak home theater yang amat megah dan beberapa konsol game. Di belakangnya lagi, tampak 2 buah pintu, yang sepertinya adalah pintu kamar tidur. Ya, tampak biasa...

Entah kenapa Nami merasa kecewa.

"Hei, duduklah!" kata Luffy sambil menepuk-nepuk sisinya. Tapi gila saja duduk di samping seorang True Ancestor! Nami pun memilih sofa yang berada paling jauh dengan tempatnya duduk. Luffy hanya mengangkat sebelah alisnya.

"... oke," Nami mengelus dadanya yang dari tadi berdegup amat kencang. Saat ini dia cukup tenang karena keramahan sang vampir, tapi tetap saja, dia tidak bisa tenang jika mengingat cerita dari Robin dan Franky. "Um... kita mau apa di sini?"

"Aku cuma mengajakmu main ke sini, nggak apa-apa 'kan?" tanya Luffy sambil menenggelamkan diri di sofa empuk itu.

Melihat ekspresi polosnya, pipi Nami mengeluarkan sedikit semburat merah.

"Uh, ya... maksudku, nggak! Kamu seorang True Ancestor dan aku manusia... kalau boleh jujur, aku sangat ketakutan!"

"Takut? Kau ikut terus sampai kemari. Kalau takut, harusnya langsung kabur begitu melihatku. Tapi, kau nggak kabur 'kan?" kata Luffy.

Nami mengangkat sebelah alisnya. Itu benar sih... tapi bagaimana cara dia menjelaskan bahwa tubuhnya tak mau mendengar perintah otaknya sejak td?

"M-meskipun begitu, sebagai manusia biasa jelas aku takut!" Nami mempertegas poinnya dengan memeluk dirinya sendiri. "K-kamu mengincar darahku 'kan?"

Luffy terdiam dengan wajah serius mendengar itu, dan saat itu Nami benar-benar panik. Itu wajah seorang yang siap menyerangnya! Dia pun merogoh tas untuk mengambil Clima Tact dan bersiap bertempur untuk melarikan diri. Kebetulan dia punya sihir kecil yang bisa dipakai dalam situasi seperti itu-

"Darah? Aku nggak suka darah. Rasanya seperti besi! Aku lebih suka daging."

Nami menghentikan rapalan mantranya mendengar pengakuan itu.

Vampir... tapi tidak suka darah?

Tapi tunggu. Dia bilang lebih suka daging. Kalau begitu...

"K-kau ingin memakankuuu?!"

Luffy tertawa.

"Hahahaha! Nggak! Daging manusia nggak enak!"

"... !" Nami benar-benar takut sekarang. Luffy bisa berkata begitu karena dia pernah makan!

Nami menghunus Clima Tact dan menodongkannya ke wajah Luffy. Diapun mulai melanjutkan rapalan sihirnya... saat itulah, wajah Luffy tampak sedikit kesepian, meskipun sekejap kemudian kembali netral. Konsentrasi Nami hampir buyar melihat itu, tapi dia menggigit bibir bawahnya dan membaca bagian akhir mantra.

"... Gust!"

Udara di dalam ruangan mengalir ke ujung tongkat dan mulai membentuk semacam bulatan yang tembus pandang. Prinsip sihirnya ini adalah angin beliung yang dimampatkan pusarannya untuk menciptakan semacam bom pusaran udara. Di dalam ruangan, efeknya tidak terlalu dahsyat, tapi paling tidak kekacauan yang diciptakan pelepasannya bisa memberi Nami waktu untuk kabur. Bagaimana cara kabur, akan dia pikirkan nanti...

Tapi Luffy hanya bersiul melihat aksi sihir itu, membuat Nami semakin panik. Dia buru-buru mempercepat proses aktivasi sihir dan menembakkan bola udara itu ke wajah Luffy... tapi, dia menangkapnya! Lalu, dengan tanpa kesulitan, Luffy memecahkan sihir itu dengan tangannya. Itu teknik penyangkal sihir...!

Nami... gagal. Dia pun terjatuh ke lantai, pikirannya kosong.

"Whoa whoa, tenang dulu," Luffy mengangkat kedua tangannya ke udara, gerakan yang menandakan bahwa dia tidak ingin menyakiti Nami. "Aku nggak mau darahmu dan juga nggak akan memakanmu!"

Mendengar teriakan yang seperti perintah itu, Nami tersadar dari bengongnya. Tapi, dia samasekali tidak merasa tenang, jadi dia terus menodongkan Clima Tact ke wajah Luffy dengan tangan yang bergetar...

"Masih takut...? Kalau begitu, aku akan menjauh darimu..." Luffy menggaruk-garuk kepalanya dan berjalan menjauh. Ekspresinya tampak amat kesepian...

"...?"

Kenapa wajahnya seperti itu? Padahal, dia itu vampir kasta tertinggi, tapi kenapa sepertinya dia merasa sangat bersalah setelah membuat Nami ketakutan?

Seorang True Ancestor yang katanya amat kejam itu... tidak menyukai darah. Tapi sepertinya dia pernah makan manusia. Dia khawatir padanya. Dia ramah. Dia murah senyum. Dia manis... dan dia kesepian.

"Dia... nggak seperti vampir yang kubayangkan."

Jadi, Nami berusaha mengendalikan rasa takutnya. Dia menghela napas panjang dan menghadap Luffy dengan (sedikit) lebih berani.

"... kupikir sekarang aku sudah tenang," kata Nami. Wajah Luffy langsung cerah mendengarnya, dan ini mengingatkan Nami sekali lagi bahwa lawan bicaranya ini adalah seorang yang polos. Tanpa sadar, dia tersenyum. "Oke. Um... tuan Monkey? Apa aku boleh menanyakan sesuatu?"

"Ya, dan ngomong-ngomong, panggil saja aku Luffy!"

"Luffy. Ya," Nami merasa dia akan sering mendengar nama itu terucap dari mulutnya, suatu perasaan yang aneh tapi menyenangkan. "Uh... kenapa True Ancestor sepertimu ada di kota kecil seperti Misaki?"

Pertanyaan yang salah karena Luffy langsung mengerutkan dahi, berpikir keras.

"Aku sebenarnya nggak boleh menceritakan ini..." Luffy menggeleng-gelengkan kepala. "Ah, peduli amat! Dia nggak ada di sini kok! Ya!"

Luffy berjalan ke arah jendela apartemen, dan membuka kordennya. Mata Nami mengikutinya terus.

"Aku... di sini untuk mencari seseorang."

"... aku?!"

Nami berpikir ge-er. Seorang vampir yang mencari seseorang sampai ke kota kecil... wow, itu terdengar amat romantis. Sepertinya Nami terlalu terpengaruh film-film vampir belakangan ini.

"S-siapa?"

"Seorang Dead Apostle Ancestor yang beraksi terang-terangan. Dia sudah membunuh banyak kota dan nggak mau jaga rahasia keberadaan kaum kami," jawabnya dengan nada serius. Matanya tertuju pada pemandangan kota di depannya, seolah dia ingin mendeteksi targetnya itu.

"D-Dead Apostle Ancestor?! Membunuh k-kota? D-di Misaki ini?!"

"Ya," Luffy berbalik. Sekarang wajahnya tampak santai, Nami tidak mengerti cepatnya perubahan suasana hati lawan bicaranya itu. "Yang menyerangmu minggu lalu dan pelaku kasus baru-baru ini adalah anak buah Ancestor yang sama. Aku nggak tahu kenapa dia ada di sini, yang jelas aku ditugaskan membunuhnya."

Berbicara tentang pembunuhan dengan nada bicara yang datar... jelas sekali Luffy sudah terbiasa dengan pekerjaan-pekerjaan kotor seperti itu.

"Ng-ngomong-ngomong, berapa umurmu?"

"Sembilan belas..."

Muda bangeeeet! Nami hendak berteriak demikian...

"Abad."

Ternyata tua banget, pikir Nami dengan keringat dingin mengalir di dahinya. Lucu saja ada vampir berumur 17 tahun...

Nami lalu melayangkan pandangannya ke pemandangan yang ditunjukkan jendela dengan korden terbuka itu, dan melihat sepercik cahaya dari arah laut kota Misaki. Dia mengecek jam di HP-nya dan benar, sekarang sudah pukul 5 pagi. Sebentar lagi matahari akan terbit...

Tanpa sadar mereka sudah ngobrol sampai pagi?

"Oh, sudah mau pagi? Sial," gumam Luffy. Bersamaan dengan itu, dia menguap lebar-lebar.

"Eh? Kudengar True Ancestor sepertimu nggak terpengaruh sinar matahari?"

"Memang. Tapi aku ngantuk..." kata Luffy. Dia lalu berjalan ke arah Nami sambil menggaruk sisi badannya. "Oke, akan kuantar kau turun. Aku mau tidur..."

Nami hendak tertawa. Vampir... mengantarnya turun? Manis sekali...

-xXxXx-

Perjalanan turun dan keluar apartemen tidak seheboh malam tadi. Pemandangan yang terlihat dari panel tembus pandang lift sudah berubah menjadi pemandangan kota pagi hari. Cahaya matahari keemasan menembus panel dan memberikat sedikit kehangatan di pagi musim gugur itu. Burung-burung berkicauan... para pekerja sambilan mulai mengantarkan koran, susu, dan keperluan lainnya. Lobi juga mulai ramai oleh karyawan restoran dan kafe yang mempersiapkan sarapan bagi para penghuni apartemen. Bahkan resepsionisnya sudah berganti menjadi seorang pria, shift resepsionis wanita itu sudah berakhir malam tadi.

Nami menghampiri resepsionis itu untuk menanyakan rute bus kembali ke Kabuki-cho, dan setelah beberapa menit, kembali pada Luffy yang menunggu di sebuah sofa sambil terkantuk-kantuk. Nami tersenyum, dan membangunkannya.

Luffy menemaninya dengan terhuyung-huyung sampai pada taman di bagian depan apartemen. Nami bermaksud berpisah dengannya di situ karena tidak tega melihatnya, tapi ada sesuatu yang aneh di situ.

Suasana taman dekat lobi itu sangat sepi dan tidak mengenakkan, berbeda dengan suasana yang dilihat Nami dari dalam lift tadi. Taman itu... seolah mengusir mereka jauh-jauh. Para pekerja yang harusnya sudah berdatangan ke proyek di dekat apartemen pun belum ada. Burung-burung berhenti berkicau, dan udara di tempat itu terasa berat

Luffy-lah yang pertama menyadari ini dengan indra vampiriknya. Dia segera berdiri di depan Nami, wajah kantuknya menghilang.

"Ada semacam barrier di sini," gumamnya.

Nami hanya bisa tolah-toleh kebingungan. Apa lagi sekarang? Masa' ada vampir lain yang menyerangnya, padahal dia sekarang bersama seorang True Ancestor? Pagi-pagi juga?

Saat itulah, angin dingin berhembus... dan Nami bisa mencium asap rokok di sana. Sebagai magus dengan spesialisasi elemen udara, kemampuan penciumannya juga diperkuat. Jadi dia mengendus beberapa kali, dan kemudian mencium aroma parfum juga di sana, aroma yang sepertinya tidak asing.

Tapi di mana dia pernah mencium aroma lembut dan maskulin seperti ini?

Siluet seseorang di dalam pikirannya mengingatkan Nami. Ya, dia mengenali aroma ini... dia pernah menciumnya tidak lama ini, tepatnya di kafe Ahnenerbe yang dia datangi kemarin. Aroma ini adalah milik...

"Aaah. Lihatlah ini. Aku buru-buru datang kemari untuk menyelamatkan tuan putri yang disandera vampir... tapi apa yang kulihat. Ternyata kalian cukup akrab, hmm?"

Terdengar suara seorang pria, tanpa tanda-tanda kehadirannya. Sepertinya dia pemilik aroma itu... sekaligus pencipta barrier.

Nami mengenali pemilik suara itu, dan ini semakin meyakinkannya atas pemikiran tadi.

Set.

Tibatiba si pemilik aroma rokok dan parfum sudah ada di depan Luffy begitu saja, seolah dia muncul dari tengah udara kosong. Mengenakan jaket hitam panjang di atas jas biru gelap, celana kain senada dan sepatu kerja hitam, dia tampak seperti seorang eksekutif muda.

"Sanji... san dari Ahnenerbe," gumam Nami. Koki pirang Ahnenerbe yang merayunya kemarin... seorang magus? Itu... masuk akal. Robin 'kan pernah bilang kalau pekerjaan mereka mirip...

Sanji tersenyum ramah mendengar Nami masih mengingat namanya. Rambut pirangnya dengan sekarang berponi menutupi mata kanannya. Rokok terselip di jarinya... dan Nami merasakan mana terpancar dr benda itu. Apakah itu medium teknik sihirnya?

"Ah... ini?" Sanji seolah membaca pikiran Nami dan menjelaskan sedikit. Dia menarik rokok dari mulut dan menggoyang-goyangkannya, menciptakan jalur bercahaya dari apinya. "Aku menggunakan rune mannaz untuk menciptakan barrier yang membuat orang-orang menghindari tempat ini. Aku nggak suka bertarung di depan orang-orang, kau tahu..."

Rune. Robin juga menguasai teknik rune, jadi Nami cukup familiar dengan istilah itu. Rune adalah alfabet Germanik kuno, yang sering digunakan untuk memberi kekuatan magis pada jimat dan semacamnya. Ada beberapa jenis rune, tapi yang paling umum digunakan adalah futhark rune yang memiliki 24 alfabet. Teknik sihir rune yang umum dipakai melibatkan penulisan aksara kuno itu pada suatu medium untuk mengaktifkan efek tertentu. Masing-masing huruf runik memiliki makna yang cukup luas. Rune mannaz, yang digunakan Sanji saat itu contohnya, memiliki makna 'manusia'. Jika Sanji menggunakan mannaz sebagai dasar dari barrier, maka barrier yang dihasilkan akan menghalangi manusia untuk mendekat.

Ya, intinya teknik rune adalah teknik sihir yang simpel dan efektif, sehingga sering menjadi pilihan teknik kedua untuk dikuasai kaum magi.

"Rune? Kereeeeen! Sudah 100 tahun aku nggak bertemu pengguna rune!" si vampir tampak kagum.

Sanji tertawa kecil.

"Ya... tertawalah terus, Ancestor. Orang sesat," Sanji menggeretakkan gigi. Rokok di dalam mulut bergetar-getar karenanya, dan api di ujungnya bergerak membentuk suatu bentuk di udara... yang mirip dengan huruf kapital M.

Nami langsung mengenalinya sebagai sebuah rune.

Sanji menarik rokok dari mulutnya dan menudingkannya ke Nami. "Mannaz."

Saat itulah dr antara dia dan Luffy, Nami merasakan sesuatu muncul. Nami menyentuhkan tangannya, dan merasakan suatu benda padat di sana, seperti dinding tak terlihat. Dinding itu memisahkan mereka!

"A-apa ini?" teriak Nami sambil memukul pelan dinding itu. Tentunya, dia tidak bisa menembusnya, dinding itu sangat padat.

"Aku menggunakan rune mannaz lagi untuk menciptakan penghalang. Tapi, karena kamu sudah melihat sosokku, aku nggak bisa membuatmu pergi dari tempat ini. Jadi... aku membuat penghalang personal agar kamu nggak melewati batas tembok itu," Sanji menjelaskan dengan wajah serius. Dia memang ingin segera menyelamatkan Nami, tapi dia yakin takkan berhasil sebelum mengalahkan Ancestor di depannya itu.

"... k-kenapa kamu ada di sini, Sanji-san?" tanya Nami. Dia mulai khawatir pada orang itu... karena lawannya adalah seorang True Ancestor. Walaupun mereka baru mengenal kemarin, tapi tetap saja... ada perasaan yang mengganjal saat melihat seorang kenalan berduel melawan makhluk dalam mitos, untuk menyelamatkanmu.

"Menyelamatkanmu... sekaligus menjalankan pekerjaanku, kurasa," Sanji mengangkat bahunya. Dia tampak santai... tapi aura petarungnya memancar dengan hebat.

"Wah, kamu kenal dia, Nami?" tanya Luffy sambil menuding pria itu.

"I-iya! Memang dia sebenarnya siapa?"

"Execu-"

"Jangan menyebut nama profesi kami dengan mulut terkutukmu, orang sesat," Sanji mendesis. Dia lalu menoleh ke arah Nami. "Aku Executor nomor 23 dari Gereja Suci, Sanji adalah nama kodeku."

Executor? Apalagi itu... tapi mendengar nama Gereja Suci setelahnya, Nami berpikiran kalau Sanji adalah seorang pemburu vampir atau semacamnya. Vampir dan pemburu vampir... wow, dia terjebak dalam film apa?!

"Jadi, yah. Kahu tau kenapa aku ada di sini, Ancestor."

"Heee..." Luffy menyeringai dan memutar-mutar lengan kanannya. "Sudah lama aku tidak bertarung. Ini bisa jadi pemanasan yang bagus sebelum misi."

Nami mendengar suara 'krak' dari arah Sanji. Sepertinya ada sesuatu yang patah... kesabarannya. Jelas saja, dia diremehkan dengan tingkah santai lawannya! Dia tidak peduli bahwa lawannya ini seorang Ancestor, dia siap bertarung sekuat tenaga!

"Mannaz, gebo, sowulo!" Sanji menulis huruf-huruf runik yang dia sebutkan ke udara dengan ujung rokoknya. Tak lama, kakinya mulai bercahaya dan terbakar!

Rune Sowulo melambangkan 'matahari', dan bentuk miniaturnya, api. Gebo melambangkan 'hadiah' atau 'berkat'. Dan Mannaz, atau manusia, sebagai target dari 'hadiah api' tersebut. Arti harafiah kumpulan huruf runik itu adalah 'hadiah api untuk manusia', dan itu menghasilkan kaki yang terbakar menyala oleh api merah. Api itu sepertinya tidak melukai kaki yang dibakarnya... sungguh suatu sihir penguat yang efektif. Itukah sihir penguat diri, buff, yang biasa digunakan para magi? Target buff itu sepertinya adalah sepatu dan celana sang Executor.

"Diable Jambe." Seorang Executor memakai nama 'Diable' dalam tekniknya... benar-benar aneh. Sanji mengangkat sebelah kakinya ke depan wajah, menyinarinya dengan kobaran api. "Membawa nama St. Elmo, aku akan membakarmu dalam api penyucian!"

"Elemen api, ya? Menarik!" Luffy menyeringai.

Seruan Luffy itu seolah menjadi pistol yang menandakan permulaan duel.

Mereka melesat... dan bertabrakan tepat di depan Nami. Kepalan tangan beradu dengan kaki yang terbakar... menimbulkan semacam gelombang angin akibat tabrakan serangan yang dahsyat. Bahkan Nami yang berada di balik barrier mannaz bisa merasakannya. Dia melindungi wajahnya dari angin dan debu yang berhembus kencang, hanya bisa membuka satu matanya.

Tapi yang dia lihat adalah pertarungan level tinggi yang biasa kau temukan di film laga dengan kekuatan super.

Wujud kedua petarung tampak menghilang dan muncul di tempat yang berbeda. Pada tiap kemunculan, pose mereka juga berbeda. Ada saat Luffy menangkis dengan kaki, Sanji menangkis pukulan 2 tangan Luffy dengan betisnya, dan berbagai gerakan lain... yang menunjukkan mereka cukup seimbang.

Tapi tetap saja, mustahil memastikannya dengan gerakan secepat itu...

Nami tidak tahan lagi, dan dia merapalkan sihir penguat penglihatan pada kedua matanya, salah satu buff favorit Usopp. Sihir ini memperlambat penerimaan cahaya pada syaraf mata sehingga memungkinkannya melihat objek-objek yang bergerak cepat, konsepnya sama seperti pengaturan kecepatan lensa kamera. Sebenarnya ini sangat membebani mata si pengguna, tapi itu urusan nanti.

Dengan buff itu, Nami bisa menangkap wujud kedua petarung pada jarak sekitar 200 meter darinya, di sebuah perempatan jalan. Dia ingin menonton langsung... tapi, bagaimana dengan barrier dari Sanji? Setelah berpikir sejenak, Nami mengira kalau barrier itu hanya berupa garis lurus di depannya. Jadi, dia berjalan mundur beberapa langkah... dan berhasil! Dia tidak menabrak apapun! Setelah mengira-ngira panjang dinding di depannya, dia pun berlari memutar... sampai ke perempatan jalan tempat wujud kedua petarung terakhir terlihat. Untuk kali ini saja, dia mengabaikan keselamatan dirinya karena rasa penasaran...

Dia disambut dengan bunyi ledakan di samping dan di depannya. Sepertinya ada yang menabrak tembok pembatas taman itu dan menghancurkannya berkeping-keping. Nami menoleh ke tembok yang hancur di sampingnya dan mengenali sesosok siluet di tengah-tengah puing dan debu... itu Sanji.

"Whoa!" Sanji tampak terkejut melihat Nami di dekatnya. Dia membersihkan bajunya yang kotor dan menghampiri gadis itu. "Kamu bisa menembus rune-ku?"

Nami mengangguk dan mengamati Sanji. Jas hitam orang itu tampak kotor, tapi secara keseluruhan dia relatif baik-baik saja. Api di kakinya juga masih berkobar. Nami menghela napas lega. Bukan apa-apa, tapi sebagai manusia, secara natural dia akan lebih membela spesies yang sama 'kan?

"B-bagaimana dengan vampirnya?"

Kemudian Nami menanyakan itu. Tapi, Sanji cuma mendecakkan lidahnya.

"Tidak mempan. Kulit True Ancestor itu benar-benar keras, bisa dibandingkan dengan plat baja pada kendaraan militer... dan lagi, mereka memiliki barrier magis yang selalu menyelimuti badan mereka secara pasif."

Tiba-tiba, Sanji meloncat menjauhi Nami... di tengah loncatan, badannya terkena hujan benturan tak terlihat. Dia bisa menangkis serangan ke bagian tubuh vitalnya, tapi ada 1 serangan yang telak mengenai pundak kirinya, menimbulkan bunyi 'krak' menyakitkan yang bahkan terdengar oleh Nami. Sepertinya pundaknya mengalami dislokasi!

"Sanji-san!"

Creeeessssh...

Sanji mendarat di tanah dan menghentikan momentum akibat serangan lawan dengan kaki kanannya, membuat jejak yang terbakar. Dia lalu menengadah dan mengumpat.

"Vampir terkutuk! Kau hampir mengenai Nami-san!"

Huh? Itu serangan Luffy? Nami berpikir demikian dan menoleh ke arah tembok di sisi jauh taman di mana Luffy terpental. Benar juga, di sana tampak Luffy mengarahkan kepalan tangannya ke arah Sanji. Kepalan itu mengeluarkan asap... bukan, seluruh badannya mengeluarkan semacam asap! Warna kulitnya juga menjadi kemerahan... apa gara-gara cahaya matahari?

"Oh, iya. Maaf, Nami! Soalnya tadi dia ada di dekatmu," si vampir malah minta maaf.

Nami meneteskan keringat dingin, sementara Sanji meludahkan sesuatu. Cowok itu menghela napas... lalu mengembalikan posisi pundaknya dengan satu hentakan kuat. Nami meringis membayangkan rasa sakitnya, tapi Sanji bahkan tidak mengedipkan mata.

"Itu sihir yang meningkatkan kecepatan aliran darah dan metabolisme tubuhmu... menghasilkan ledakan energi dan momentum," kata Sanji sambil menyalakan sebatang rokok dengan api di kakinya. Dia menyelipkannya ke bibir, dan menghembuskan asapnya ke udara. "Cih. Dasar lintah, bahkan sihirmu memanfaatkan darah, huh?"

Nami melihat sesuatu seperti kilatan di mata Luffy saat itu, tapi segera menghilang. Dia berpikir kalau sebutan 'lintah' tadi penyebabnya? Apakah itu kata yang tabu buat kaum vampir?

"Sihir ini aku namakan Gear. Keren 'kan?" seolah ejekan itu tak pernah terjadi, Luffy malah meminta komentar mereka, sambil membuka tutup kepalan tangannya. "Ini 'Gear 2nd', ngomong-ngomong."

'Gear Second', gigi kedua. Karena Luffy sepertinya juga bertarung dengan kecepatan, sepertinya sihir buff itu ada sampai 6 tingkatan seperti di mobil balap F1, pikir Nami.

"Hm. Lumayan," kata Sanji, dingin. Saat itu, asap rokok yang tadi dia hembuskan ke udara berputar-putar di atas kepalanya... dan membentuk semacam lingkaran sihir. Bentuknya simpel dengan segienam dan beberapa ornamen di tiap sudutnya, dan huruf runik mengelilinginya. Sanji lalu membentuk tanda salib di dadanya, dan berkata, "Faðer uor som ast i himlüm..."

Saat sebelah alis Luffy berkedut seolah dia terganggu mendengar itu, Nami menyadari perkataan seperti mantra tadi adalah sebuah doa. Apa itu juga bahasa Germanik kuno?

Nami menelan ludah. Sanji mulai serius...

"Halgað warðe þit nama..." hanya satu bait doa, tapi perubahan yang tampak di badan Sanji sangat terlihat. Badannya mulai diselimuti api... yang berwarna kuning pucat. Berbeda dengan api di kakinya yang memberikan kesan menyeramkan dan destruktif sesuai nama sihirnya Diable Jambe, api yang menyelimuti seluruh tubuhnya ini memberikan kesan yang hangat... dan nyaman.

Perasaan ini sama dengan saat kau berjemur di bawah cahaya matahari, pada hari pertama musim semi.

"'Muspellheimr: Spectre'," gumam Sanji. Rambutnya berdiri tegak, tapi masih ada poni yang menutupi sebelah matanya. Dengan rambut pirang dan api yang menyelimutinya, dia mirip seorang Super Saiya. "Dalam mitologi Norse, Muspellheimr adalah dunia berselimutkan api abadi dari berbagai semesta. Tentu, di dalamnya juga ada api matahari."

Ah... Nami mengerti maksud penggunaan buff itu. Meskipun True Ancestor seperti Luffy tidak terpengaruh cahaya matahari, tapi tetap saja secara kodrat mereka adalah vampir... sehingga cahaya matahari akan memberikan kerusakan yang lebih.

Tapi, Luffy tetap santai. Dia menurunkan kedua lengannya, dan kuantitas asap dari tubuhnya mulai menyusut. Melihat itu, Sanji menggeram.

"Sampai kapan kau akan meremehkan aku, lintah?!"

Dia lalu melesat dengan kaki kirinya, mencapai kecepatan yang bahkan tak bisa diikuti mata Nami yang sudah diperkuat oleh sihir. Tak sampai sedetik, dia sudah ada di depan Luffy yang sebelumnya berjarak kira-kira 50 meter darinya. Tapi, tunggu! Waktu Luffy memfokuskan pandangannya pada Sanji, Executor itu merundukkan badan... dan menyapu kedua kaki Luffy, membuatnya kehilangan keseimbangan. Kaki-kaki itu juga mulai terbakar, menimbulkan bau daging gosong yang memuakkan dan mengundang ekspresi kesakitan sang vampir. Sebelum Luffy mengembalikan keseimbangan, Sanji untuk menendang dagunya dengan kaki kiri. Terdengar bunyi sesuatu yang pecah, dan Luffy terpental 3 meter ke udara, lalu mendarat telentang dengan bunyi berdebam yang menyakitkan.

Si vampir tidak bergerak. Tampak luka bakar berukuran besar di dagunya, bahkan batang tenggorokannya sampai terlihat akibat tendangan kaki berselimutkan cahaya matahari itu. Nami langsung mual melihatnya, jadi dia membalikkan wajah.

Bagi manusia biasa, serangan ke dagu bisa langsung membuat pingsan karena efek kejutnya langsung mempengaruhi otak. Belum lagi luka fatal di leher itu, yang jelas akan membuatnya tidak bisa bernafas. Orang biasa pasti sudah mati... tapi Luffy itu vampir.

Dan vampir... itu abadi.

"... sial."

Karena itulah Sanji mengumpat. Serial Muspellheimr adalah sihir buff andalannya untuk membasmi vampir. Selain itu, pada serangan tadi dia juga menambahkan sihir penembus barrier sehingga dia bisa mengenai Luffy. Tapi, luka yang dia timbulkan hanya segitu...

"Ow, ow ow..." Luffy mendesah kesakitan dengan batang tenggorokannya yang terbuka itu, menimbulkan suara serak yang membuat bulu kuduk berdiri. Tak lama kemudian, dia malah bangkit sambil mengelus lukanya itu... yang mulai menutup dengan mengeluarkan bunyi desis. Itu regenerasi kaum vampir! Luka seperti itu sih, dalam 10 detik juga akan sembuh.

"..." Sanji menyeringai kesal. Aaah. Sepertinya, dialah yang terlalu meremehkan lawan. Insting bertarungnya jadi tumpul karena Jepang adalah negara yang relatif damai sehingga dia tidak pernah benar-benar serius.

"Hm... apa sekarang giliranku?" Luffy menyeringai, menampakkan 2 pasang gigi taring tajamnya. Badannya mulai mengeluarkan asap lagi... tapi kali ini warnanya bersemu merah muda. Itu... adalah mana dalam bentuk paling murni. Sepertinya dia akan mulai menggunakan sihir vampirik!

"Cih..." gumam Sanji. Bertarung dengan True Ancestor dalam 'mode cukup serius' seperti yang ditunjukkan Luffy, dia hanya bisa bertahan 2 jam. Bukannya dia takut, tapi dia tak mau buang-buang waktu. Apalagi, tujuannya kemari sudah terpenuhi.

Jadi, Sanji mengangkat kedua tangannya, sepertinya menyerah.

"Hm?"

"Mari kita hentikan di sini. Kurasa, kita sama-sama nggak mau membuang waktu dan melakukan kehancuran sia-sia," kata Sanji. Nada bicaranya terdengar amat tenang untuk seseorang yang baru menyerah. Tapi, itu sukses membuat Luffy mematikan sihirnya.

Pertarungan berakhir.

"A-ano, Sanji-san, apa maksudmu?" tanya Nami sembari memegang pelipisnya yang terasa sakit akibat efek samping sihir penguat penglihatan tadi.

"... pelaku penyerangan di Misaki bukan dia."

...

Untuk bertukar informasi dan sebagai permintaan maaf pada Nami yang dia bahayakan dengan pertarungan tadi, Sanji mengajaknya (dan Luffy) ke sebuah kafe untuk sarapan. Tapi kemudian Sanji menyesali keputusannya... karena Luffy memesan tiap menu di cafe itu sebagai balasan atas luka di dagunya.

"Hap! Nyam! Krauss! Mmmmpph, ini enak."

Sanji mengetukkan jarinya ke atas meja, tidak sabar pembicaraan belum bisa dimulai karena Luffy masih asyik makan. Sementara Nami meminum teh lemonnya dengan gugup, dia berada di antara kedua orang yang tiba-tiba bisa saling menyerang itu.

Kemudian, karena juga tidak sabar, Nami memulai pembicaraan, dengan menanyakan hal yang paling membuatnya penasaran.

"Jadi Sanji-san. Kenapa... kamu tahu kalau Luffy ini bukan pelaku penyerangan di kota?"

Sanji mengerutkan dahinya, sepertinya dia tidak mau menjawab itu. Ha, pertanyaan bagus untuk memecah es, pikir Nami sarkastik.

Tapi toh Sanji menjawab juga, mungkin untuk meredam suara makan Luffy.

"Yah, karena aku sama sekali nggak merasakan 'hausan darah' pada serangan-serangannya tadi. Dia menyerangku murni dengan keinginan 'mengalahkan', bukan karena haus," jawab Sanji.

"Hanya itu?!"

Sanji mengangguk. Sepertinya dia penganut paham, 'saling mengenal lawan dengan bertukar pukulan'. Dasar cowok...

Saat Nami memikirkan itu, Luffy selesai makan. Perutnya menggembung secara komikal layaknya itu sebuah kantong karet, tapi dengan sebuah tarikan napas, perutnya kembali mengempis secara ajaib. Oke... itu tidak diketahui Nami dari legenda tentang vampir.

"Fuaaah. Kenyang," komentar Luffy. "Makanan manusia memang enak."

Nami lagi-lagi dibuat keheranan. Luffy, sebagai seorang vampir, tidak menyukai darah dan lebih suka makanan manusia yang umum. Tapi, dia sepertinya pernah makan manusia... Nami tidak bisa membayangkan segelap apa kehidupan 19 abad orang itu...

"Oke, sekarang setelah kau selesai makan, kita bisa mulai pembicaraan, tuan True Ancestor...?"

"Hei, panggil saja aku Luffy."

"Hhh. Baiklah, tuan... Luffy."

"Nggak usah pakai 'tuan'!"

"Hoi, kau lebih tua dariku, dan para Executor diajarkan untuk menggunakan kata-kata sapaan hormat jika ingin berbicara dengan mereka yang sudah tua! Walaupun aku tidak mau menerapkan ini padamu, vampir."

"Kalau begitu, panggil saja aku Luffy, nggak usah ribet!"

"... oke. Luffy."

Nami menatap pembicaraan itu dengan kedua alis terangkat. Melihatnya demikian, Sanji tersenyum dan berkata, "Hm? Menurutmu ini aneh, seorang Executor bisa berbicara akrab vampir yang harusnya jadi buruan?" Sanji tertawa kecil. "Kujelaskan sesuatu, nona Nami. Tugas Executor adalah 'membasmi vampir yang menyerang manusia'. Jadi, selama vampir tidak membuat masalah, mereka takkan dimusnahkan. Bagaimanapun, kami harus mengembalikan domba-domba yang tersesat dari jalan Tuhan, 'kan? Apalagi, kita berbicara tentang True Ancestor. Tugas kami sama."

"Hah?"

Nami semakin bingung. Tugas True Ancestor adalah sama dengan Executor? Memburu... vampir?! Sanji tertawa lagi melihat ekspresi kebingungan anak berambut oranye itu.

"Hahaha, oke. Akan kuceritakan sdkt mengenai True Ancestor, karena orang ini tampaknya nggak pintar menjelaskan," Sanji menyandarkan diri di bangku cafe, membuat posisinya senyaman mungkin. "True Ancestor. Keluarga D. Orang-orang yang dijanjikan. Itu adalah nama julukan dari vampir berdarah murni seperti Luffy ini. Sebagai vampir berdarah murni yang menganggap diri mereka adalah puncak kemanusiaan, mereka nggak mau hidupnya bergantung pada makhluk hidup yang lebih rendah dari mereka, manusia. Jadi, mereka melatih diri untuk menghindari minum darah."

Itu fakta yang benar-benar baru.

"Tapi, mereka tetap menganggap manusia sebagai 'properti' mereka. Jadi, mereka nggak bisa mengampuni siapa yang mengganggu atau melukai atau membunuh, atau memakan manusia... dengan kata lain, Dead Apostle Ancestor dan para vampir kasta bawah. Jadi akhir-akhir ini, ah jika 100 tahun bisa disebut 'akhir-akhir ini', Keluarga D. bekerjasama dengan Gereja Suci dan organisasi besar dunia lainnya, untuk memburu vampir yang membahayakan manusia."

Wow. Itu fakta yg belum pernah ada dalam buku dan dokumentasi manapun! Nami segera mencatatnya dengan penuh semangat dalam buku kecilnya, walaopun selama itu dia berpikir apakah boleh memberitahu informasi sangat rahasia mengenai True Ancestor pada warga sipil sepertinya...

"... di kota ini ada 1 Dead Apostle Ancestor," sambung Luffy. Ekspresi wajahnya berubah serius. Jadi, informasi yang diberikan Sanji di Ahnenerbe kemarin adalah mengenai Apostle yang ada di Misaki? Dan sebelumnya, pria pirang itu mengira bahwa Luffy adalah pelaku penyerangan di kota...

"Ya," Sanji mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. "Aku mulai darimu, True Ancestor. Jelaskan bagaimana lawan kita itu, perkiraan saja lah."

"Hm..." Luffy memegang dagunya, mengingat-ingat. Suatu hal yang bukan keunggulannya karena tak lama, kepalanya mengeluarkan asap karena overheat. "Uh... yang kuingat, aku mencium bau 'lumpur' dan 'kadal' darinya, itu saja."

Sanji hampir menepuk dahinya. Terimakasih, info itu sangat berguna... dalam penelitian hutan hujan! Lagipula, dalam database Executor yang dia miliki, sepertinya tak ada Ancestor dengan ciri-ciri seperti itu...

"Yah, sebenarnya percuma sih berharap vampir mau bertukar informasi dengan adil," gumam Sanji. Dia lalu mengeluarkan sebuah smartphone dari saku jasnya dan memasukkan password berupa mantra runik. Tak lama, dari layarnya muncul sebuah proyeksi. Canggih!

"Nggak usah terlalu kaget dengan ini, Nami-san. Ini cuma sihir mengontrol cahaya biasa saja," Sanji menyeringai melihat ekspresi kaget Nami. Sebagai ujung tombak perlawanan terhadap makhluk kegelapan dan orang-orang sesat, para Executor diharapkan bisa menggunakan gadget terbaru untuk mencari informasi. "Oke. Di sini aku punya beberapa testimoni dari korban selamat penyerangan Ancestor itu. Sepertinya, mereka dilepaskan karena 'tidak berharga', mungkin karena kualitas darah mereka jelek."

Tampak beberapa orang dengan penampilan seperti gelandangan dan PSK. Nami mengangguk setuju, mana mungkin mereka memiliki darah sehat yang sangat diinginkan vampir?

"Lalu, kebanyakan dari mereka nggak menyadari apa yang telah menyerang, kecuali suatu perasaan aneh. Mereka merasakan badannya seperti terhisap dalam sesuatu tanpa dasar... setelah itu mereka tak sadarkan diri."

"... !" muncul lagi, ekspresi serius Luffy. Sepertinya ada sesuatu dalam penjelasan Sanji yang memicunya... Nami penasaran apa.

"Sepertinya ini info baru bagimu? Beginilah vampir, lebih mempercayai insting mereka..." sindir Sanji. Berkat sindiran itu, bayangan di wajah Luffy menghilang. "Jadi, ya. Kupikir, Ancestor yang ada di kota ini memiliki sihir manipulasi ruang atau semacamnya. Cukup merepotkan."

"Kalau sudah tahu kemampuannya, 'kan mudah," sambung Luffy. Dia lalu menguap sangat lebar... dan membuat Sanji mengartikannya sebagai penanda akhir diskusi. Dia memanggil pelayan untuk meminta bon. Melihat bon nya, Sanji mengumpat, tapi dia tetap membayar.

Nami sendiri hampir pingsan waktu melihat total biaya makan si vampir. Baik darah atau makanan manusia, selera makan vampir itu berlebihan...

Sekarang mereka bertiga ada di depan kafe, di mana Sanji memberitahu lagi hasil diskusi tadi karena khawatir Luffy melupakannya. Itu tidak berhasil karena Luffy terus melamun akibat mengantuk. Akhirnya, Sanji menghela napas panjang, pasrah. Toh, tanpa rencana apapun, keberadaan seorang True Ancestor sudah jadi jaminan suksesnya misi.

"Ya, ya. Kita akhiri di sini," kata Sanji sambil menyulut rokok (lagi).

Luffy mengangguk lemas, dan menjulurkan tangan kanannya.

"Jadi, kita kerjasama?"

Sanji mendengus, lalu menepuk tangan Luffy dengan dingin.

"Humph. Tentu saja... nggak. Walaupun aku orangnya konservatif, aku juga memiliki harga diri," Sanji membetulkan jaket panjangnya dari lipatan. "Aku hanya bisa menjanjikan kalau aku nggak akan mengganggumu waktu berburu. Jadi, kau juga jangan mengangguku."

Luffy menanggapi itu dengan tawa kecil, tak merasa tersinggung sedikitpun.

"Oi, Sanji."

"Apa? Jangan panggil namaku seenaknya."

"Bisa kau antar Nami? Aku benar-benar mengantuk..."

Nami menolehi Luffy dengan mata melebar. Sekarang dia meminta orang lain mengantarnya pulang? Dan orang lain itu adalah seorang Executor, musuh alaminya?

Tapi, Sanji tidak memiliki pikiran yang sama dengan Nami. Dia menyeringai dengan mata yang seolah berubah menjadi bentuk hati, dan menjawab dengan senang hati, "Oh, dengan senang hati!"

...

Nami dan Sanji kini tengah berada di bus pagi menuju Kagura-cho. Nami memang memutuskan membolos kerja hari itu, karena hey, semalam dia sudah mengumpankan diri pada vampir. Lagipula, dia tidak tidur sama sekali. Dia butuh istirahat!

Agar tidak tertidur di dalam bus, Nami menanyakan pekerjaan Sanji, dan orang itu menjawabnya dengan senang hati. Rupanya, dia sudah hampir 2 tahun ini ditugaskan di Jepang setelah sebelumnya selama 3 tahun di Perancis, menjelaskan ilmu kulinernya. Misinya di Jepang adalah menyelidiki aktivitas vampir di tanah dengan leyline berkualitas itu. Dia sampai di Misaki awal tahun lalu dan selama itu juga bekerja di Ahnenerbe.

"Jadi, bagaimana pendapatmu mengenai kota ini?" tanya Nami kemudian.

"Luar biasa," Sanji menjawabnya dengan mata berbinar. "Cuacanya bagus, pemandangannya indah, bahan makanannya sangat segar, orang-orangnya ramah, dan tentunya, gadis-gadisnya cantik! Bahkan anak kecil seperti Hibiki-chan dan Chikagi-chan memiliki level setinggi itu..."

Nami tertawa kering. Dia pikir para pemburu vampir adalah orang-orang yang hidup selibat, tidak menikah. Tapi cowok di hadapannya ini jelas tidak bermaksud begitu.

"Tapi yah, penantianku selama 2 tahun akan berakhir dalam waktu dekat," kata Sanji kemudian, dia menatap sesuatu yang jauh. "Target sudah kupastikan dan ada TA yang akan membantuku dengan caranya sendiri."

"Hee... setelah ini, km mau pergi ke mana?"

"Entahlah. Tergantung angin dan misi yang membawaku..." jawab Sanji sambil menghembuskan asap rokoknya, yang tertiup angin ke sisi wajahnya. Dia memang duduk di bangku seberang, agar asap tidak mengenai Nami.

Nami melongo melihat momen keren itu. Dia jadi membayangkan kehidupan nomaden para Executor. Bagaimana dengan keluarga? Teman-teman? Atau... kekasih? Sungguh sebuah pekerjaan yang sepi...

Saat Nami memikirkan semua itu, Sanji berbicara lagi, kali ini tanpa membalikkan badan. "Satu-satunya hal yang kusesali selama berada di Jepang ini... adalah kenapa aku baru bertemu denganmu di akhir misi."

Boff.

Wajah Nami memerah dengan dahsyat mendengar pengakuan tiba-tiba seperti itu. Dia pun buru-buru mengipasi wajahnya dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Kebetulan ada satu hal lagi yang membuatnya penasaran.

"... ng-ngomong-ngomong, Sanji-san... nggak apa-apakah menceritakan padaku semua informasi itu?"

Sanji membalikkan badan, dan tertawa kecil melihat wajah merah Nami. Tapi dia tidak menggodanya lebih lanjut, dan menjawab secara diplomatis. "Hahaha. Apa yang kamu khawatirkan, Nami-san? Bosmu itu salah satu partner kerjasama Gereja Suci, jadi wajar kalau aku membagikan sedikit informasi. Lagipula, hal-hal yang bersifat sangat rahasia sudah aku sisihkan seperlunya."

Ooh... Nami membulatkan bibirnya.

"Lagipula," Sanji membalikkan badannya. "Aku memberitahumu ini agar kamu bisa lebih aman jika sudah mengetahui monster seperti apa yang ada di kota ini."

Sanji... mengkhawatirkannya? Ooh... itu manis sekali. Tapi tenang saja, Nami takkan mau berurusan dengan Ancestor itu kok!

...

Akhirnya, Sanji mengantarkan Nami sampai apartemen kecil tempat tinggalnya. Setelah Sanji meminta mereka bertukar nomor dengan alasan agar Nami bisa menghubunginya kalau ada masalah (trik pintar, menurut Nami), si pirang itu segera melesat ke Ahnenerbe. Hr ini dia ada shift penuh, dan dia tidak mau berurusan dengan Chikagi yang marah. Lucu juga, seorang Executor yang bisa melukai True Ancestor, takut sama gadis kecil.

Setelah mandi dan meminum segelas susu sebagai cadangan energi untuk tidurnya, Nami langsung membaringkan dirinya di atas futon tercinta. Nami sekali lagi memikirkan apa saja yang terjadi hari ini.

Seorang vampir kasta tertinggi yang ramah, murah senyum dan polos. Yang benci darah dan lebih suka makanan manusia. Yang memiliki misi untuk membasmi vampir yang membahayakan manusia

Di sisi lain, seorang pembasmi vampir yang menyamar jadi koki kafe. Seorang pria yang tahu bagaimana caranya merayu dan mempesona wanita. Ksatria penyihir rune yang bahkan bisa melukai True Ancestor.

Kedua orang tidak nyambung yang harusnya ada di sisi koin yang berbeda itu, itu entah kenapa mengajukan gencatan senjata untuk memburu Dead Apostle Ancestor yang bersarang di kota ini.

Nami mengangguk, dia sekarang benar-benar paham posisinya. Tapi...

Dia terlibat dalam film macam apaaaa?!


A/N

Sanji sebagai pengguna rune. Ide ini muncul karena dia selalu merokok... dan api rokok itu, di berbagai LN/anime, adalah media penulisan rune yang bagus. Dan, karena ini Sanji, tentunya dia memakai teknik rune yang berhubungan dengan api, sesuai canon.

Part II ini aku pakai sebagai perkenalan sedikit tentang sistem sihir di fic ini. Kalian tahu, sihir itu tidak sekedar berteriak dan mengeluarkan api di kedua tangan... sihir itu memiliki batasan dan aturan tersendiri:ngacir:


Next in Under the Crimson Moon

"Sihir elemen tanah dan golem. Oke... ini cukup merepotkan."