Love in Mixi © Hezlin Cherry
.
Inspired by That Guy was Splendid
(Guiyeoni)
.
RATE : M (For Save)
.
Sasuke Uchiha X Sakura Haruno
.
Romance, Hurt / comfort
.
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
Summary : Karena keisengannya mengomentari status seseorang dari Sekolah lain di sosmed 'Mixi', Haruno Sakura harus berurusan dengan Uchiha Sasuke si ketua Geng Taka. Hingga suatu hari ia juga tak sengaja mencium bibir sang Uchiha, membuatnya semakin jauh terjebak dalam masalah, kala ketua Geng Taka tersebut meminta pertanggung jawaban lebih padanya. Sejak saat itu pula, hidup Sakura menjadi penuh kejutan.
.
.
.
WARNING: Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?
.
.
Don't like? Don't read!
.
.
.
↖(^▽^)↗Happy Reading↖(^▽^)↗
.
.
.
"Sebenarnya... Apa isi hatinya?"
"Apakah benar jika ia ingin menikah denganku, nanti...?"
"Ah- itu tak mungkin! Aku tak boleh begitu saja percaya padanya, che! Walau dia sudah menyelamatkan nyawaku satu kali, bukan berarti semudah itu aku langsung percaya pada setiap perkataannya!"
"Huuuffff..."
Gadis berhelai bak permen kapas itu kembali menghela napas berat. Sedari tadi ia terlalu sibuk berkutat dengan pikiran-pikiran yang selalu melintasi kepala pinkynya. Bahkan tak jarang ia menggerutu sendirian seperti seorang tak waras yang berbicara sendiri pada tembok kamarnya yang hanya bisa diam membisu.
BRUK!
BUK! BUK!
Tiba-tiba Sakura melempari segala macam boneka yang ada di dekatnya ke arah tembok kamarnya yang tak bersalah itu. Entah kenapa mendadak hatinya merasa kesal dan sebal.
"Arrgghh! Sial! Pria itu benar-benar meracuni otakku! Dari tadi aku tak henti-hentinya memikirkan si sombong itu! Ukkhh~" Geram Sakura melampiaskan kekesalannya yang datang secara dadakan itu.
Bungsu Haruno itu pun berguling-guling heboh di atas ranjang besarnya hingga menimbulkan suara decitan yang cukup mengganggu telinga. ia terus melakukan hal bodoh tersebut hingga dirinya kembali mengingat kejadian barusan, di mana ada seorang gadis cantik yang tampak merangkul lengan Sasuke possessive.
"Tunggu dulu! Gadis yang dipanggil Hinata tadi itu ... bukannya dia gadis tercantik di KHS?" Ucap Sakura entah pada siapa sambil mengingat-ingat wajah gadis tadi yang tampak polos namun cantik jelita dan terlihat rapuh itu. Lalu seketika wajahnya kembali merengut sebal saat ingat bagaimana gadis itu memeluk lengan Sasuke seolah memang miliknya.
"Huh! Ada hubungan apa Sasuke dengan si Hinata itu? Sepertinya mereka bukan sekedar teman biasa? Che, sial! Apa peduliku!" Sakura berdecih kesal karenanya.
'Setelah sampai rumah, kau harus menelponku!'
Sepintas kembali terngiang kata-kata dingin ketua Geng Taka itu di benak Sakura dan membuatnya bergidik ngeri seandainya tak ia lakukan. Untuk sekarang ini ia jadi melupakan gadis bernama Hinata itu dan lebih mengingat ancaman mengerikan Sasuke untuk segera menelponnya.
'Awas kalau tak menelpon! Kau akan...'
"Huh! Iya-iya aku telpon!" Sahut Sakura tiba-tiba seraya bangkit dari ranjangnya dan merapikan helai merah mudanya yang berantakan. "Emm, tapi ponselku masih belum diperbaiki..." Menghela napas sejenak Sakura kembali melanjutkan ocehannya, "huffttt, apa boleh buat, aku harus memohon pada kakak."
Sakura berjalan keluar kamar menuju kamar sang kakak tak jauh dari tempatnya. Sesampainya di sana, ia membuka pelan pintu kamar Sasori yang tidak terkunci.
"Nii-chan, belum tidur?" Kata Sakura saat membuka pintu kamar kakaknya dan melihat Sasori yang masih setia duduk di kursi kebanggaannya di depan komputer kesayangannya. Apalagi kalau tidak sedang memainkan game online.
"Hmm, kenapa?"
"Hehe anoo, itu ... pinjam ponselnya ya? Pliisss ... sebentar saja~" Rayu adik Sasori itu dengan wajah seiumut mungkin.
"Ogah!" Tolak Sasori tanpa melihat Sakura dan terus asyik memainkan permainan di hadapannya.
"Uhh~ Nii-chan pelit! Pinjam sebentar saja kok~" Menggembungkan pipinya kesal, Sakura masih terus berusaha merayu sang kakak.
"Kau tak membuatkanku nasi goreng!"
'Astagaaaaa! Itu lagi yang dibahas! Dasar cacing nasi!' Geram Sakura dalam hati.
"Hemm, baiklah aku akan membuatkan nasi goreng nanti..." Masih dengan sabar dan gigih gadis pemilik manik hijau klorofil itu merayu kakak tengilnya ini.
"Jambu! Janji Busuk!" Seru Sasori lagi. Dan sukses mengundang seperempat siku mulai tercetak jelas di jidat Sakura.
'Oh, yaa ampuuunnn! Sabar Sakura... Sabar...' Batin Sakura tak tahan lagi, menghadapi kakaknya ini seperti menghadapi anak kecil yang sedang merajuk. Che! Tapi mau bagaimana lagi, kalau saja ponselnya bisa digunakan menelpon. Tak akan sudi ia mengemis-ngemis seperti ini. Dumelnya dalam hati.
"Huh, jadi mau bagaimana? Apa harus buat perjanjian di atas hitam dan putih?" Balas Sakura asal.
"..."
Kali ini tak ada jawaban lagi, namun tiba-tiba Sasori memutar kursi kebanggaannya dan menghadap ke arah sang adik yang sedang duduk manis dengan raut wajah menekuk sebal di ranjangnya. Sulung Haruno itu memandang sang adik sejenak seraya tersenyum dengan seringai mematikan khas Haruno.
"Yeah, kertas dan pulpen ada di laci paling atas~" Seru Sasori semangat.
'Ck, sial! Dasar kejam!'
Selesai menulis perjanjian dalam memasak nasi goreng untuk sang kakak, Sakura pun mendapatkan ponsel untuk menghubungi Sasuke.
"Jangan lama-lama telponnya!" Titah Sasori.
"Baiklah..."
"Dan telpon di sini saja!" Titahnya lagi.
"Eh apa? Aku ingin mendapatkan privasiku sendiri Nii-chan!" Sungut Sakura tak terima. Mentang-mentang ada aturan tak tertulis di rumah ini tentang larangan telpon di atas jam sepuluh malam, mengingat sekarang sudah pukul sebelas lewat. Tapi 'kan hanya sebentar saja, Batinnya.
"Kalau tak mau ... maka batal!" Balas Sasori final dan tak ingin dibantah itu hanya membuat Sakura berdecih sebal seraya mendudukkan bokongnya di ranjang kakak merah menyebalkannya itu kembali.
Sakura tak mempedulikan sang kakak yang ternyata masih memperhatikan gerak geriknya menelpon itu intens. Dengan berdebar ia menempelkan ponsel Sasori pada telinganya, menunggu jawaban. Hingga sebuah suara dari seberang sana mengangkat telponnya dan itu membuat Sakura tersentak kaget.
"Siapa!?"
"Ah, ini aku ... Sakura..." Jawabnya takut-takut sambil melirik ke arah sang kakak. Che! Kenapa pula kakak tengilnya itu masih saja memperhatikannya, bukannya kembali bermain game!
"Oh ya? Si kepala gulali?"
"Apaaa kau bilang!?" Pekik Sakura tiba-tiba, namun ia berdehem seketika saat menyadari Sasori sedang memelototinya, menyadarkannya untuk tidak berteriak-teriak di kamarnya. "Ehm, ya ini aku! Apa ... kau selalu seperti itu saat menerima telepon?"
"Hn." Hanya gumaman yang terdengar dan itu membuat acara telepon Sakura menjadi hening.
"Nih, aku sudah menelponmu 'kan?" Ujar Sakura mencoba mencari topik pembicaraan.
"Ya."
Sasuke menjawab singkat padat dan jelas. Tentunya itu membuat gadis pinky itu sebal karena seolah kurang ditanggapi olehnya. Sebelum telinga Sakura mendengar sebuah suara gadis dari seberang sana yang berujar manja pada Sasuke.
"...Sasuke-kun, bukakan botol ini ya~"
'Hah! Suara perempuan! Che, aku lupa kalau setelah tadi, dia dan Gengnya memang berkumpul di Bar langganan mereka.' Pikir Sakura dalam hati.
"Nanti, aku sedang telpon!" Seru Sasuke, dan itu membuat Sakura yang tadinya cemberut, kembali sumringah karena Sasuke lebih memilih bertelpon dengannya daripada meladeni perempuan yang entah siapa itu, atau mungkin gadis bernama Hinata tadi? Ah, Sakura tak ingin ambil pusing dengannya.
"Huumm, bagaimanapun juga ... terima kasih untuk hari ini..." Ucap Sakura lirih dan mengundang lirikan tajam dari Sasori yang memperhatikannya.
Sasori terus memperhatikan gerak-gerik adik semata wayangnya yang tumben-tumbennya menelpon malam-malam begini. Setahunya, Sakura itu tipe gadis yang kurang suka berkomunikasi via telpon hingga beli pulsa pun jarang. Ia masih terus memperhatikan Sakura yang sedang asyik mengobrol dengan seseorang di sana. Dia tertegun melihat berbagai ekspresi dari wajah ayu adiknya yang berubah-ubah itu, dari ekspresi terkejut, cemberut hingga tersenyum sumringah.
Membuatnya curiga.
"Sudah 2 menit. Waktu habis!" Celetuk Sasori mengagetkan Sakura.
"I-iya Nii-chan, tunggu ya... sebentar lagi aku tutup kok~" Ujar Sakura memelas dengan sedikit menutup ponsel tersebut dengan tangannya bermaksud agar Sasuke tak mendengar pembicaraannya dengan sang Kakak.
"Halo? Kenapa tiba-tiba diam?" Tanya Sasuke yang bingung mendadak hening saat Sakura menanggapi perkataan Sasori.
"Hehe, tidak... Tadi Kakakku-!"
JRENGG... JRENG! JRENG!
Sakura masih tetap melanjutkan pembicaraannya dengan Sasuke, namun tiba-tiba sebuah suara petikan gitar mengganggu keduanya.
CTAK!
Perempatan siku muncul di kening lebar Sakura. 'HARUNOOO SASORIIIII! AWAS KAU YAAA!' Jerit innernya meledak-ledak.
"Hei, suara berisik apa itu?" tanya Sasuke di seberang sana yang merasa terganggu.
"Ehe... Maaf ya, sepertinya harus ku tutup. Nanti kita sambung lagi." Ujar Sakura tak enak pada Sasuke.
"Ya, besok telpon aku jam 12 siang!"
"Apa? Itu 'kan masih jam pelajaran!"
JRENGG... JRENG! JRENG!
Sasori masih terus memainkan gitarnya asal. Hingga menciptakan irama yang memekakkan telinga. Ia akan terus mengganggu Sakura sampai adik pinkynya itu menutup telpon dengan orang asing tersebut.
"Nii-chan! Hentikan!" Titah Sakura di tengah-tengah pembicaraan.
"Omong kosong! Jam 12 itu sudah istirahat!" Balas Sasuke tak mau kalah.
"Hei, jam pelajaran sekolah kita 'kan berbeda!" Sahut Sakura lagi.
JRENGG...JREEEEEEENGGGGGGG! JENG..JENG..JREEENGGG!
'Sial! Nii-chan semakin menjadi-jadi!'
"Baiklah! Kalau begitu telpon aku jam satu besok!" Putus Sasuke final.
"Ya sudah kalau begi-! Tuut..tuut...tuutt...!" Perkataan Sakura tak menemui akhir karena telponnya diputus sepihak oleh Sasuke yang juga kesal karena suara berisik dari gitar sialan Sasori.
Sakura sebal, ia kesal setengah mati. Dengan cepat ia berbalik dan mendelik tajam memandang manik hazel Sasori yang berpura-pura tak terjadi apa-apa itu masih asyik memetik gitarnya kali ini dengan lebih lembut dan beraturan tak seperti tadi.
'Sialan! Dia benar-benar menyebalkan!' Batin Sakura jengkel. Lalu dengan cepat ia melemparkan ponsel yang ia pinjam itu ke arah wajah Sasori yang untung saja memiliki refleks yang bagus hingga bisa menangkap ponsel kesayangannya sebelum mengenai wajah imutnya.
"Tuh! Aku kembalikan! Sekian dan terima kasih! Puass?! Dasar pelit!" Sungut Sakura penuh penekanan seraya menghentak-hentakkan kakinya pergi meninggalkan kamar sang kakak.
"Jangan lupa nasi gorengku, sekarang!"
"Apa? Sekarang?" Sakura menoleh garang, Sasori manggut-manggut puas meng'iyakan. Dan itu membuat gadis pinky tersebut semakin mendumel kesal berjalan ke arah dapur untuk memasak.
Selagi Sakura sibuk memasak nasi goreng, tiba-tiba terdengar suara besar seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah sang ayah yang baru saja pulang.
"Tadaima~"
"Ah, okaeri Tou-san~" Jawab Sakura dari dapur sembari menggoreng nasi pesanan kakak tengilnya.
Tap...Tap...
Langkah berat Jiraiya terdengar menuju dapur untuk melihat Sakura. Dan betapa terkejutnya ia malam-malam begini anak gadisnya bukannya tidur tapi masih sibuk memasak.
"Kenapa tengah malam begini menggoreng nasi?" Tanyanya sembari menelisik keadaan dapur yang berantakan dengan noda nasi berceceran karena Sakura menggoreng dengan suasana hati kesal, maka beginilah jadinya.
"Tanyakan saja pada si rakus!" Sungut Sakura sebal.
"Si rakus?"
"Siapa lagi kalau bukan anak lelaki kesayangan Tou-san yang menyuruhku! Huhh! Dasar cacing nasi!"
Penjelasan Sakura mengundang gelak tawa sang ayah. "Hahahaa, jadi ini ulah sasori?" Balas Ayah dua anak itu meyakinkan, dan Sakura mengangguk. "Hem~ kau memang adik yang baik~" Lanjutnya seraya mengacak gemas surai merah muda anak gadisnya itu sambil lalu.
"Loh mana Kaa-san? Tidak pulang bareng?" Tanya Sakura bingung tak melihat sosok Ibu cantik dan cerewetnya itu.
"Ibumu masih asik mengobrol dengan teman lamanya -Shizune." Jawabnya tanpa membalikkan badan dan terus melenggang keluar dapur menuju kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Sakura hanya ber'oh'ria sambil kembali melanjutkan tugasnya.
.
.
.
.
.
.
SREK! SREK!
Dalam sebuah toilet wanita yang memiliki luas seperempat dari ruang kelas dan memiliki empat pintu bilik toilet tersebut terlihat dua orang gadis berhelai merah muda dan pirang yang sedang sibuk membersihkannya. Si gadis pirang sedang sibuk menyikat toilet. Sedangkan yang satunya lagi sibuk mengepel lantai.
"BRAK!"
"Huwaaa! Sial! Aku tak mau lagi dihukum membersihkan toilet jorok ini!" Gadis pirang bernama Ino itu memekik kesal seraya membanting seonggok sikat yang tadi digunakannya.
Sakura menatap miris sahabat pirangnya yang terlihat lebih berantakan darinya. Celemek dan masker yang dikenakan Ino sudah tampak kucel dengan noda di sana-sini. Ia jadi merasa bersalah karena bagaimanapun juga mereka berdua dihukum 3 kali membersihkan toilet karena ketahuan membolos jam tambahan waktu itu.
"Sabarlah pig~ dan maafkan aku ... Ini semua salahku yang mengajakmu membolos..." Cicit Sakura dengan suara semakin melemah.
"Ya! Ini semua karenamu Nona Pinky! Kalau saja kau tak menghasutku dan... ARRGHHH! Sudahlah!" Hardik dan tuding Ino sebal, lalu ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, "haaahhh~ Sudah terjadi mau bagaimana lagi..."
Sakura semakin merasa bersalah, "gomen pig~ aku akan mentraktirmu makan Yakiniku sepulang sekolah..."
Ino langsung berbinar mendengar perkataan sahabat merah jambunya yang akan mentraktirnya makan siang dengan menu favoritenya itu. "Ah! Benarkah forehead?" Tanya Ino meyakinkan dan Sakura mengangguk, "yeaahh~ ini yang aku suka darimu! Hohoo~" Pekik Ino riang sebelum kembali membersihkan toilet dengan semangat membara.
Sakura tersenyum lega karenanya.
"Yatta~ sebentar lagi jam dua siang, dan hukuman ini akan berakhir~" Seru Ino riang setelah melihat jam di tangannya.
Sakura melotot kaget mendengar perkataan sahabatnya, "jam berapa sekarang?"
"Eh, jam setengah dua. Kenapa?"
Sakura ingat, ia harus menelpon Sasuke jam satu siang. Dan sekarang sudah jam setengah dua. Ah tapi tak masalah lebih sedikit, yang penting telpon. Batinnya.
"Ehe, pig~ pinjam ponselmu sebentar ya? Aku harus menghubungi Sasuke..." Ujar Sakura malu-malu.
Ino langsung memicing tajam dengan tatapan menyelidik. "Ahaa! Akhirnya kau mengakui kalau dia kekasihmu forehead~" Perkataan Ino membuat wajah Sakura memerah panas lalu menyambar ponsel sahabat pirangnya yang baru saja ia keluarkan dari kantong seragamnya dan membuat Ino berdecih sebal.
Sakura dengan cepat segera menekan nomor dan segera menghubungi Sasuke. Ino terus saja merhatikan gerak-gerik Sakura dari belakang.
"Hallo! Siapa ini?!!" Jawab suara baritone Sasuke dari seberang sana.
"Ini aku... Sakura, emm kau sedang ap-!" Perkataan Sakura terhenti sampai di situ karena Sasuke menyela perkataannya.
"Bodoh! Aku bilang telpon jam satu, sekarang sudah setengah dua! Sedang apa saja kau tadi!?" Hardik Sasuke panjang lebar.
Sakura melotot garang mendengarnya dikatai 'bodoh', "apa kau bilang!? Masih untung kusempatkan untuk menelpon! Huh! Aku tadi sibuk membersihkan toilet, kau tahu!" Sungut Sakura dengan suara tak kalah nyaring dan membuat Ino melonjak kaget karenanya.
"Hmpph! Kenapa? kau dihukum, eh?" Sasuke mendengus mendengarnya, "oh ya, Minggu sore kita bertemu di pertigaan Chidori Street. Ajak seorang teman wanitamu!" Lanjutnya lagi.
"Sial! Jangan tertawa! Ini semua karenamu! Apa? Untuk apa ke sana?"
"Hei, kenapa menyalahkan ak-! Uchiha Sasuke! Jangan menelpon saat pelajaranku! Bletak! Aww! Tuuut...tuut...tuutt!"
Sakura segera menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar suara berisik dari sana. "Ugh~ ada apa dengannya?" gumamnya bingung.
"Sepertinya kau menelpon di saat dia sedang ada jam pelajaran forehead!" Celetuk Ino dari belakang. "Dia pasti akan marah padamu~ kau dalam masalah~" Lanjut Ino seraya bersenandung kecil sambil kembali membersihkan toilet.
"Huumm, sepertinya begitu~ kau jangan menakutiku pig!" Ujar Sakura dan membuat tawa gadis pirang Yamanaka itu pecah, "hei, kau mau 'kan menemaniku hari Minggu nanti? Sasuke mengajakku pergi dengan teman juga..."
"Aku tak bisa forehead! Aku harus menjaga toko bunga karena Ibu dan Ayahku akan pergi." Tolak Ino mentah-mentah, Sakura langsung cemberut mendengarnya. "Ah, kau bisa mengajak Karin." Lanjutnya lagi.
"Ya, kau benar~ semoga saja dia mau menemaniku..."
.
.
.
.
.
.
"Kenapa janjian bertemu di pusat Kota begini?" Dumel Karin yang merasa risih dan lelah menunggu di pertigaan pusat Kota yang sedang padat ini. Ya, walaupun padat dengan orang yang hilir mudik, tapi mereka mendapatkan tempat menunggu di kursi panjang sebelah bangunan bertingkat sebelum penyebrangan.
Sakura melirik dengan ekor matanya malas, pasalnya sudah ketiga kalinya sahabat merahnya ini menanyakan hal yang sama.
"Yeah, mau bagaimana lagi~ mereka yang menentukan." Jawabnya sabar.
"Tapi kau yakin 'kan kalau kakakmu pasti datang?" Karin berujar penuh penekanan.
"Ah, umm ... ya! Pasti Nii-chan juga akan datang, hehe~" Sakura menjawab gugup dan canggung.
Bagaimanapun juga, sebenarnya dia mengiming-imingi Karin akan bisa berkencan dengan kakak tengilnya. Karena memang sudah sangat lama ia tahu jika sahabatnya yang identik dengan kacamata itu mengagumi sang kakak.
Gadis Haruno itu tampil cantik dan manis hari ini dengan dress hijaunya yang membuatnya sangat feminim dengan aplikasi renda disekitar lingkaran leher yang melebar hingga bahu pada dress tersebut. Jadi memperlihatkan bahu putih dan mulus Sakura.
Sedangkan Karin tampil tomboy. Ia mengenakan celana panjang dengan sedikit robekan di lututnya dan menggunakan kaos putih polos yang membungkus tubuh sintalnya. Rambut keduanya dibiarkan terurai panjang, pink dan merah saling melambai-lambai tertiup angin sore. Memberikan warna tersendiri bagi warga yang hilir mudik disekitar mereka untuk menyempatkan melihat pemandangan langka ini.
Sakura hendak bangkit dari duduknya dan mengibaskan dress selututnya dari debu yang menempel di kursi. Ia akan berdiri karena terlalu lelah duduk, sampai sebuah suara terdengar menyapa mereka.
"Hei, ternyata kau membawa teman yang cantik~" Ujar seseorang yang baru saja tiba.
Sontak saja membuat Sakura maupun Karin mengalihkan atensi mereka menatap orang yang sedang berjalan santai ke arahnya bersama dengan sesosok pria tampan berambut raven mencuat yang mendekati mereka dengan tatapan datar.
Sakura melongo melihat Sasuke yang sangat tampan hari ini. Bayangkan saja dengan tubuh tinggi atletis yang dibalut baju kaos navy gelap yang bertuliskan satu kata 'Damn!' di bagian dada atas itu sangat kontras dengan kulit putih bersihnya membuatnya terlihat semakin sexy dan menggoda hari ini. Tak jarang banyak wanita sepanjang jalan yang curi-curi pandang padanya. Terlebih melihat seringai sexy Sasuke yang tertuju pada Sakura membuat para wanita di sana semakin berteriak histeris karenanya.
Sayangnya gadis musim semi itu tak melihat senyuman maut pria Uchiha itu, karena atensi Sakura segera mengarah ke seseorang di sebelah Sasuke, 'Cih, kenapa ia membawa lelaki tengil menyebalkan ini? Apa tak ada pria tampan yang lainnya!' Batinnya sewot.
"Yah, tentu saja!" Sahut Sakura mantap dan bangga menjawab sapaan Suigetsu.
Sontak hal Itu membuat Sasuke yang sebelumnya selalu berwajah datar, kini mendengus geli memperhatikan ekspresi gadis Haruno tersebut.
Sedangkan Karin, ia masih sibuk celingukan mencari pria berambut merah yang dijanjikan sahabat pinkynya itu.
"Sakura, mana kakakmu...!?" Desis Karin kesal tak menemukan sang pujaan hati. Tapi justru ketua Geng Taka dan anak buah bodohnya yang menghampiri mereka.
"Hah? Kakak?" Gumam Suigetsu bingung.
"Ehee, tidak..." Bantah Sakura seraya mengibas-ngibaskan kedua tangannya. Ia mendekati Karin dan berbisik, "aku akan jelaskan ini nanti."
"Sial! Kau menipu-! Hmmmpphhh!" Perkataan tak terimanya segera dibekap oleh Sakura yang merasa malu karena banyak orang memperhatikan mereka sekarang.
"Baiklah kalau begitu~ 2 lawan 2 sangat sepadan dalam hal minum-minum~" Pekik Suigetsu tiba-tiba membuat Sakura dan Karin melotot kaget.
"Apa!?" Sahut kedua gadis berbeda warna rambut itu tak percaya.
Minum-minum? Mereka bahkan masih SMA, well...yeah walaupun Sakura dan Karin juga pernah minum-minum, tapi dengan kadar alkohol rendah.
"Oh yeaahh~ kita akan minum di Izanagi, yuhuu~" Suigetsu semakin bersmangat.
"Kenapa? Kau tak bisa minum atau takut minum, eh?" Cibir Sasuke mengejek Sakura yang sudah memasang wajah sebal.
"A-aku tidak takut! Hanya saja aku..." Sakura bingung harus mengatakan apa lagi. Manik emeraldnya begerak-gerak gelisah mencari alasan. Di sisi lain ia tak ingin kalah dari pria tampan nan angkuh dihadapannya ini. Sasuke menaikkan alisnya menuntut lanjutan perkataan Sakura. "...aku tak ingin sampai mabuk!" Lanjutnya lagi.
"Hn, kalau kau mabuk ... Aku akan meninggalkanmu!" Balas Sasuke yang sudah berbalik arah seraya berjalan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya dan diikuti Suigetsu dengan senyum sumringah memperlihatkan gigi runcingnya.
Sakura berdecih sebal mendengar perkataan sinis Sasuke. Dengan cepat ia hendak melangkah seraya menggandeng tangan Karin agar gadis berkacamata itu tidak kabur.
Namun Karin malah diam tak bergeming.
"Aku tak mau ikut!" Ucapnya tiba-tiba, membuat Sakura di sebelahnya melotot kaget. Begitupun Sasuke dan Suigetsu yang sudah melangkah di depan seketika berbalik dan berhenti untuk menatapnya.
"Huh, aku tak mau ikut~ pfftt~" Ulang Suigetsu dengan suara dibuat-buat untuk mengejek Karin yang sudah terlihat sangat sebal karenanya. "Hahaha lihat wajahnya jadi sangat aneh dan lucu jika begitu~" Ejeknya lagi sambil tertawa lebar.
Karin semakin geram dibuatnya. "Huh! Apa kau tak sadar kalau suaramu lebih lucu heh!?" Balasnya tak mau kalah.
Seketika Suigetsu berhenti tertawa, "Hah, suaraku kenapa?"
"Suaramu seperti tikus kejepit pintu!"
Sontak saja Sasuke maupun Sakura yang memperhatikan pertengkaran keduanya itu mendengus menahan tawa. 'Mereka berdua benar-benar cocok' Batin keduanya.
"Apa? Memang bagaimana suara tikus itu?" Bukannya berhenti mengejek, Suigetsu malah semakin membuat Karin kesal setengah mati.
"Rekam saja suaramu! Benar-benar mirip tikus!"
"Apaaaaaa kau bilang, grrr..."
'Gawat, Karin tak mau kalah dalam hal adu mulut! Hal ini tak akan pernah berakhir jika dibiarkan saja.' Pikir Sakura yang sangat mengetahui watak sahabatnya itu cemas.
"Emm, ayo kita pergi dari sini..." Ajak Sakura yang refleks dan tanpa sadar telah menggandeng lengan kekar Sasuke di sampingnya.
Pria onyx itu tersentak kaget akan sentuhan dadakan yang diberikan gadis musim semi itu. Ia pun refleks melepaskan dan menepis kasar tangan mungil yang baru saja menariknya.
PLAK!
"Lepaskan dulu tanganmu! Baru bicara padaku!" Sergah Sasuke tiba-tiba. Membuat Sakura menegang kaget, sekaligus ... sedih?
DEG!
"Eh! A-apa...?"
.
.
~to be continued~
.
.
Hei minaaaa~ gomen lamaaa~ hoho maklum lagi sibuk persiapan (╯▽╰)╭
Oh iya... Gomen juga kalau kali ini belum sempet bales review kalian, tapi Hezlin udh baca semua kok review dari kalian dan itu benar2 membuatku senyum-senyum sendiri bacanya hehehe...
Yosh semoga kalian suka chap ini. Karena Hezlin buatnya disela-sela kesibukan, jadi maaf kalo ceritanya rada gaje ~T_T~
.
Sekali lagi makasih yaa untuk kalian yang udh mendukung diriku, dan juga yang udah RnR, fav dan follow ╮(╯▽╰)╭
Special thanks to:
alzenardsmr, NethyTomatocherry, KuroNeko10, dianarndraha, Kiki Kim, mikahiro-shinra, Tachibana Koyuki, nurvieee-chan, bandung girl, wind-chan, yepiapi, FiaaATiasrizqi, Kakaru S.S, hanazono yuri, Hitsugaya55, SaSaSarada-chan, , arisahagiwara chan, hani yuya, YOktf, Lhylia Kiryu, BaekhyunSaranghaeHeni, Manda Vvidenarint, Azmaria Eve, The Deathstalker, Niwa-chann, Uchiha Lady Haruno, Nikechaann, kana, ToruPerri, A.f, sami haruchi 2, septemberstep, Gio-chan, Neko, CherryPumkin, Azuma Sarafine, Diah cherry, Miyoshi Sara, Yuie, ayuniejung, Uchiha Pioo, sakura Ry, sukma, achi, Ichi-Kuran, Aihara, uchiha lovers, pink cherry, hanna-chn, guest, ayuharuno, tomato man, lala-chan, annissa chandra, Wiwid, Guest, saskey saki, SashUchiga, nurin, Zeesuke Hikaru, Yukiyamada, eva.77phone, misakiken, SasuSakuIta18, Htk-Rose, Guest, raini, hiugatsu kanazawa, saki, Clarisa SSL Ch, Clarisa875, uchiha della, Nurulita as Lita-san, Diwa -chan, lucifer, Druella Wood, sakura uchiha stivani, AAAlovers.
Mohon maaf jika ada nama yang salah penulisan maupun jika ada nama yang lupa tidak tercantum.
Mind to RnR again?
╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯
