Good Father
Main Cast : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Jeno, Park Jisung
Genre : Romance
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please. NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION!
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANK YOU ^^
.
.
Jeno sedang duduk melamun dengan tenang di pojok perpustakaan. Saat merasa bosan di kelas, atau merasa ada yang mengganjal dipikirannya, Jeno akan datang ke perpustakaan mencari ketenangan. Jeno suka duduk di pojok ruangan sambil membaca beberapa buku dan mendengarkan musik. Dengan begitu Jeno bisa sedikit rileks.
"Lee Jeno!" Seseorang berbisik keras memanggil nama Jeno, membuat sebagian pengunjung perpustakaan menoleh ke arah orang itu.
Dia Na Jaemin yang selalu terlihat riang dan ceria, sahabat Jeno dari kelas 2-3. Pemuda berambut cokelat terang itu berlari menghampiri Jeno ke pojok ruangan tempatnya duduk, dan langsung menatapnya dengan mata berbinar. Pasti ada sesuatu yang terjadi, Jaemin hanya akan heboh seperti itu bila sesuatu yang baik terjadi padanya.
"Pelankan suaramu, Na Jaemin!" Jeno berbisik sambil melepaskan earphone yang menutupi telinganya, lalu menarik tangan Jaemin hingga jatuh dalam keadaan duduk dan langsung membekap mulutnya dengan tangan. "Mau apa?"
"Aduh, sakit!" Jaemin melepaskan tangan Jeno yang membekap mulutnya, lalu mengaduh dengan suara pelan sambil mengusap bokongnya yang baru saja mencium lantai. "Kasar sekali!"
"Mau apa?" tanya Jeno sekali lagi dengan raut wajah galak.
Jaemin tidak langsung menjawab dan tiba-tiba tersenyum, tidak peduli dengan tatapan galak Jeno. Senyum Jaemin makin lebar sebelum akhirnya dia memeluk leher Jeno dan mencium pipinya tanpa permisi. "PR-ku dapat nilai seratus berkat bantuanmu! Thanks, Jenono!"
"Ew! Menjijikan!" Jeno mendorong wajah Jaemin dan mengelap pipi kirinya menggunakan kerah jas sekolahnya.
Raut wajah Jaemin yang tadi sumringah berubah masam. Memberengut sambil menatap sinis Jeno dengan sudut matanya. "Menjijikan?" desisnya tidak terima. "Ew, dasar tsundere!"
Baru saja Jeno membuka mulut hendak membalas kata-kata Jaemin yang mengejeknya tsundere, tapi dia sudah berbalik dan berjalan meninggalkan perpustakaan. Jeno menghela napas sambil menggeleng-geleng, anak itu selalu saja seenaknya. Sebelum Jaemin pergi terlalu jauh, Jeno berlari menyusulnya. Merasa harus minta maaf pada sahabatnya. Sikap Jeno barusan memang sedikit berlebihan, padahal Jaemin memang biasa seperti itu. Jaemin pasti sekarang sedang merajuk dan akan kembali tersenyum hanya jika Jeno membelikannya susu pisang dan sandwich.
Bagaimanapun Jaemin adalah teman terbaik Jeno, tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Sejak taman kanak-kanak hingga sekarang, mereka selalu bersama. Dibesarkan dilingkungan yang sama dan selalu menghadiri sekolah yang sama pula. Meski terkadang seenaknya, tapi Jaemin adalah yang terbaik dalam urusan mengerti perasaan Jeno. Kalau Jaemin sampai marah dan tidak mau bicara pada Jeno, maka habislah sudah. Pada siapa Jeno akan mencurahkan isi hatinya nanti?
"Hei, kau marah?" tanya Jeno setelah berhasil menyusul Jaemin yang berjalan beberapa langkah di depannya. Sepertinya dia berjalan menuju kantin. "Ew, seperti anak gadis saja!"
Jaemin menghentikan langkahnya, lalu melirik tajam Jeno yang juga ikut menghentikan langkahnya. "Sudah bikin jengkel, masih berani mengolok!"
"Baiklah, aku minta maaf." Jeno menatap Jaemin, lalu tersenyum hingga matanya melengkung seperti bulan sabit. "Aku tidak bermaksud kasar. Tapi … aku tidak suka saat kau mengecup pipiku tiba-tiba seperti tadi."
"Itu 'kan hanya bentuk terima kasihku karena kau membantuku menyelesaikan PR." Jaemin mendengus, lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantin.
Dan Jeno tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah pemuda manis yang sedang merajuk itu. Na Jaemin, temannya sejak kecil yang suka sekali merajuk dan membuat Jeno kalang kabut.
"Sebenarnya aku sedang kesal." Jeno berinisiatif mengajak Jaemin bicara duluan saat mereka menemukan meja kosong di pojok kantin dan duduk di sana.
"Pada ayahmu 'kan?" tebak Jaemin yang langsung diangguki oleh Jeno.
"Siapa lagi," katanya sambil mengembuskan napas lelah. "Kadang aku sangat ingin membencinya, tapi kemudian aku teringat pada apa yang telah dia lakukan sebagai ayah tunggal. Usianya mungkin masih muda, tapi dia membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Aku tahu dia menyayangiku …"
"Wow, itu adalah kalimat yang paling panjang yang Lee Jeno ucapkan hari ini." Jaemin berdecak kagum mendengar temannya yang pendiam itu mengucapkan kalimat yang panjang. Sebuah momen langka yang jarang sekali terjadi.
"Aku serius, Jaemin."
"Jadi, apa masalahmu?" Jaemin menyilangkan tangannya di dada dan menatap Jeno serius. "Kau dilema? Antara ingin membencinya, tapi juga sebenarnya mengakui bahwa dia ayah yang baik. Begitu?"
Jeno mengangguk setuju, Jaemin memang selalu mengerti perasaannya. "Aku masih saja malu mengakui dia ayahku," katanya lesu. "Maksudku …"
"Karena usianya yang masih muda?" tebak Jaemin yang lagi-lagi benar. Jeno mengangguk lagi, membenarkan.
"Aku tidak suka ketika ada orang yang menatap ayah dan aku dengan tatapan mengejek, lalu mereka akan membicarakan kami di belakang. Berbisik-bisik, bergunjing, dan berspekulasi soal masa lalu ayah. Mereka tidak tahu apa-apa!" Jeno menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan gusar. "Ayah tahu ada orang yang membicarakan kami di belakang, tapi dia diam saja! Aku benci ketika tidak bisa melakukan apa-apa untuk membela ayahku."
Meski terlihat kuat dan dingin, sebenarnya Jeno persis seperti ayahnya. Sangat sensitif. Jaemin yang mengenal Jeno sejak kecil tahu, bahwa sahabatnya itu sangatlah sensitif dan merasa gusar saat ada yang membicarakan hal buruk tentang ayahnya. Mendengar curahan hatinya soal sang ayah, membuat Jaemin makin mengerti bahwa sesungguhnya Jeno tidak benar-benar ingin membenci ayahnya. Jeno menyayangi ayahnya, hanya saja dia tidak tahu cara mengungkapkannya. Inilah kekurangannya ketika dibesarkan tanpa sentuhan kasih sayang ibu. Jeno begitu kaku dan dingin. Kemampuannya mengungkapkan isi hati juga begitu payah.
"Jadi, sebenarnya apa yang membuatmu begitu gusar sehingga setiap hari kau selalu marah-marah?" tanya Jaemin saat melihat Jeno tampak gusar.
Pertanyaan Jaemin membuat Jeno menghela napas yang panjang. Sangat panjang hingga tanpa sadar Jaemin menyedot susu pisangnya hingga habis tak bersisa. Jaemin mengambil susu milik Jeno yang masih tersisa banyak, lalu meminumnya.
"Aku sendiri tidak tahu mengapa." Jeno menggeleng frutrasi, mengabaikan susu pisangnya yang diambil Jaemin. "Aku … aku hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku berbeda. Maksudku, ayahku membuatku terlihat berbeda."
"Berbeda itu unik." Jaemin memerhatikan wajah kusut Jeno. "Justru seharusnya kau bangga jadi berbeda."
"Yang benar saja, Na Jaemin." Jeno mendengus jengah, mulai merasa sia-sia mencurahkan isi hatinya pada Jaemin.
"Serius, Lee Jeno." Jaemin menghabiskan susu pisang milik Jeno, lalu kembali menatapnya serius. "Masa lalu ayahmu adalah bagian dari sejarah hidupnya. Mungkin memang salah di matamu, tapi kau tidak bisa menghakiminya hanya karena masa lalunya seperti itu. Kau tidak pernah bertanya 'kan? Aku yakin ayahmu punya alasan mengapa masa remajanya seperti itu. Ayahmu tidak memalukan, Jeno. Lihat dirimu sekarang, kau berprestasi di sekolah dan membanggakan. Itu artinya, ayahmu berhasil membesarkanmu."
Setelah Jaemin selesai berbicara, Jeno balas menatapnya. Cukup lama, hingga Jeno tidak sadar telah membuat Jaemin merona karena ditatap seintens itu. Jeno tidak sempat memerhatikan Jaemin, ia hanya sibuk berpikir dan mencerna kata-kata Jaemin. Ada benarnya juga kata-kata Jaemin. Mengapa harus malu ketika ayahnya berhasil menjadi ayah yang baik dan bahkan menjadikannya Lee Jeno hari ini yang begitu membanggakan dan berprestasi di sekolah?
"H-hei …" Jaemin memutus kontak matanya dengan Jeno dan melihat jam tangannya. "Aku harus kembali ke kelas."
"Hah?" Jeno mengangguk saat melihat Jaemin beranjak dari tempat duduknya. "Oh, ya. Kembalilah."
"Bukankah sekarang kelas 2-1 ada pelajaran sejarah?" tanya Jaemin saat melihat Jeno bergeming di tempatnya.
"Ya, kau benar." Jeno melirik jam tangannya, lalu bangun dari kursi dan berjalan meninggalkan kantin sambil merangkul Jaemin. "Pelajaran sejarah yang membuatku mengantuk."
Dan lagi-lagi, Jaemin merona tanpa sebab saat Jeno merangkulnya.
.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.
Saat keluar dari gedung sekolah, Jeno langsung melihat mobil ayahnya di depan gerbang. Mobil berwarna putih yang begitu mencolok di antara mobil-mobil lainnya yang kebanyakan berwarna hitam. Selalu tepat waktu saat menjemputnya di sekolah. Jaemin benar, tidak ada yang memalukan dari ayahnya. Hanya karena usianya masih muda, bukan berarti dia tidak bisa menjadi ayah yang baik dan membanggakan.
"Bukankah ayah bilang hari ini sibuk dan …" Jeno menghentikan kalimatnya saat masuk ke mobil, di jok belakang, dan melihat sekretaris ayahnya di belakang kemudi. "Ahjussi?"
"Hari ini pekerjaan ayah selesai lebih cepat berkat Sekretaris Lee." Donghae yang berada di samping Hyukjae menoleh ke belakang, menatap Jeno. "Jadi, ayah bisa menjemputmu."
"Oh …"
"Aku belum cukup tua untuk dipanggil ahjussi, Tuan Muda." Hyukjae melirik Jeno dari kaca spion sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Jangan memanggilku begitu!" Jeno memberengut tidak suka mendengar panggilan Hyukjae. "Panggil namaku seperti biasanya."
Mendengar panggilan Hyukjae, mengingatkan Jeno pada saat dirinya berlibur di rumah kakeknya. Semua orang di sana memanggil Jeno begitu. Jeno tidak suka. Apa susahnya memanggil nama Jeno saja? Tidak usah pakai embel-embel yang lain.
"Kalau begitu, kau harus memanggilku hyung. Sesuai perjanjian kita." Sekali lagi Hyukjae melirik Jeno dari kaca spion, memerhatikan raut wajahnya yang berubah masam.
"Kalian membuat perjanjian tanpa sepengetahuanku?" Donghae memicingkan matanya saat menatap Hyukjae, lalu melirik Jeno meminta penjelasan. "Perjanjian apa itu? Kenapa aku tidak tahu?"
Jeno mengangkat bahu, enggan menjawab pertanyaan ayahnya dan memilih memainkan ponselnya. "Tanyakan saja pada ahjussi … maksudku, hyung."
"Jeno kalah saat kita main kartu minggu lalu," jawab Hyukjae sambil terkikik geli saat melihat raut wajah Jeno yang makin masam. "Jadi sebagai pemenang, aku memintanya untuk memanggilku hyung."
"Oh." Donghae mengangguk-angguk, lalu tertawa pelan saat menyadari raut wajah masam Jeno. Sejak kecil anak itu sangat kompetitif dan tidak suka kalah. Bisa dibayangkan betapa kesalnya Jeno saat kalah main kartu dengan Hyukjae.
"Ini bukan arah jalan pulang," gumam Jeno saat memerhatikan jalan yang dilalui mobil ayahnya. "Mau ke mana kita?"
"Oh, kau tidak keberatan 'kan jika kita mampir dulu ke sekolah keponakanku dan membawanya bersama kita?" tanya Hyukjae saat memelankan laju mobil dan berhenti di depan gerbang sebuah sekolah.
"Tentu." Jeno mengangguk kooperatif, dan Donghae tersenyum bangga melihat sikap anaknya itu.
"Anak baik," katanya sambil menengok ke belakang dan menatap Jeno yang langsung mengalihkan pandangannya dari sang ayah.
"Jisung!" Hyukjae membuka jendela, memanggil seorang anak laki-laki dan melambaikan tangannya. "Masuklah."
Saat melihat anak laki-laki berseragam SMP itu masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya di jok belakang, Jeno menemukan wajah anak itu cukup mirip dengan Hyukjae. Mungkin hanya warna rambutnya yang membuat mereka terlihat berbeda. Warna rambut Hyukjae hitam, sementara anak yang dipanggil Jisung itu memiliki warna rambut cokelat madu. Cukup mencolok untuk ukuran anak sekolahan. Ah, apalagi dia masih SMP.
"Adiknya Sekretaris Lee?" tanya Jeno setelah memerhatikan Jisung selama beberapa saat.
Jisung menggeleng tanpa melihat ke arah Jeno. "Bukan," jawabnya dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar karena suara mesin mobil yang dinyalakan.
Jeno membuka mulutnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Jisung. "Kalau begitu, anaknya?"
Merasa risih dengan wajah Jeno yang begitu dekat, Jisung melirik Jeno dengan tatapan tidak suka dan menjauhkan wajahnya hingga nyaris membentur jendela di belakangnya.
"Bukan juga!"
"Lalu?" tanya Jeno yang masih penasaran.
"Aku keponakannya," jawab Jisung, membuat rasa penasaran Jeno terpuaskan dan memundurkan kembali wajahnya.
"Kau sangat mirip dengan Sekretaris Lee." Jeno kembali memainkan ponselnya dan memasang wajah stoic-nya.
"Ya, dan kau juga mirip dengan ayahmu," balas Jisung yang juga memasang wajah stoic.
"Kau?" tanya Jeno sambil melirik Jisung. "Kurasa aku lebih tua darimu. Kau masih SMP 'kan? Aku sudah SMA!"
Jisung hanya melirik Jeno untuk membalas tatapannya, tapi tidak mengatakan apa pun. Hanya menghela napas, lalu bersandar dan memejamkan matanya. Mengabaikan pelototan Jeno yang sama sekali tidak membuatnya takut.
"Wah, Jisung benar-benar mirip dengan pamannya." Donghae tertawa pelan melihat interaksi dua remaja di jok belakang. Begitu juga dengan Hyukjae yang ikut mengikik geli.
"Mematikan Jeno dalam sekali pertemuan," tambah Hyukjae yang langsung diberi tatapan sinis oleh Jeno.
"Bergaullah dengan baik," kata Donghae yang entah pada siapa. Yang jelas pada salah satu dari dua remaja yang duduk di jok belakang. "Tahun ini Jisung lulus dari SMP dan akan masuk ke SMA Myeongseong."
"Oh, ho! Kau akan jadi adik kelasku!" Jeno tiba-tiba kembali bersemangat. "Kau mungkin tidak mau memanggilku hyung, tapi saat di sekolah nanti kau harus memanggilku sunbae!"
Jisung hanya membuang napas mendengar ocehan Jeno, terlihat tidak tertarik sama sekali untuk berinteraksi atau beramah-tamah dengannya. Kalaupun nanti Jisung benar-benar masuk ke sekolah yang sama dengan Jeno, ia tetap tidak berencana menjalin pertemanan dengannya.
"Namaku Lee Jeno, hoobae!" Jeno mengulurkan tangannya, mengajak bocah berambut terang itu berjabat tangan. "Siapa namamu?"
"Park Jisung." Jisung menjawab singkat, masih dengan mata terpejam dan mengabaikan uluran tangan Jeno.
"Ew, bocah menyebalkan."
.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.
Keesokan paginya Jeno kembali bertemu dengan Jisung. Iya, benar, si bocah menyebalkan yang amat sangat irit bicara. Jeno mengakui dirinya irit bicara, tapi sumpah! Jisung jauh lebih irit lagi. Ditambah judes pula. Jika Jeno membatasi kalimatnya dengan tiga kata, Jisung mungkin hanya satu atau dua kata saja. Menyebalkan. Belum lagi, dia tidak mau memanggil Jeno dengan sebutan hyung. Padahal, jelas-jelas dia lebih muda dari Jeno. Dua tahun lebih muda lebih tepatnya.
Ah, mengenai pertemuan pagi ini. Karena beberapa alasan, Donghae meminta Hyukjae datang ke rumah pagi-pagi. Otomatis, Hyukjae membawa Jisung turut serta. Entah apa alasan pastinya, yang jelas saat ini bocah itu duduk di meja makan bersama Jeno. Saling berhadapan canggung. Di samping kiri Jeno ada Donghae dan di samping kanan Jisung ada Hyukjae. Mereka sarapan bersama pagi ini.
"Hari ini ayahmu memintaku datang pagi-pagi karena kebetulan ada beberapa pekerjaan yang melibatkan sekolahmu." Hyukjae memberikan penjelasan pada Jeno meski tidak diminta. "Dan kebetulan lagi, Jisung hari ini mau melihat-lihat sekolahmu. Dua bulan lagi Jisung lulus dan berencana mendaftar di sana. Jadi, ayahmu memintaku datang agar kita bisa berangkat bersama sekalian."
Jeno hanya mengangguk, tidak begitu peduli dengan penjelasan Hyukjae. Lagi pula, Jeno tidak ingin tahu. Mengenai pekerjaan ayahnya yang melibatkan sekolah, Jeno sudah tahu itu. Perusahaan tempat ayahnya bekerja adalah salah satu yang mensponsori sekolah. Dalam waktu dekat mungkin akan ada kegiatan yang skalanya cukup besar. Festival tahunan sekolah mungkin?
"Saat Jisung masuk ke sekolahmu nanti, jaga dia selayaknya adikmu." Donghae melirik Jeno, lalu mengusap kepalanya. "Kau 'kan lebih tua."
"Mohon bantuannya." Hyukjae menambahkan sambil menundukkan kepalanya.
Mata Jeno melirik tajam Jisung, menanti sepatah atau dua patah kata darinya. Tapi lagi-lagi, bocah itu hanya diam. Membuat Jeno jengkel. "Meski kau bersikap seperti itu, aku akan tetap menjagamu saat di sekolah nanti," katanya mencoba mengalah. "Bagaimanapun kau keponakan sekretaris ayahku."
Jisung mengangkat kepalanya, menatap Jeno selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus menatap roti bakarnya yang sedikit gosong. Lagi-lagi dia mengabaikan Jeno. Jisung menggigit rotinya ogah-ogahan, sekitar dua gigitan sebelum akhirnya meletakkannya kembali di piring dan meneguk susunya sampai habis. Jisung juga menghela napas setelahnya. Ah, roti gosong itu pasti tidak enak.
Jeno beranjak dari kursi, lalu memberikan rotinya yang masih utuh ke piring Jisung. "Aku sudah selesai makan," katanya sambil melangkah meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya untuk mengambil tas.
.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.
Setelah mengantar anak-anak ke sekolah dan menyelesaikan urusan di sekolah Jeno, Donghae kembali ke kantor bersama Hyukjae. Ada setumpuk pekerjaan menanti di kantor karena pembangunan resort terbaru. Hyukjae ada di ruangan Donghae, membuatkan bahan presentasi untuknya. Seperti biasanya. Sementara itu Donghae duduk di kursinya, bersandar santai, dan matanya memerhatikan Hyukjae yang berada beberapa meter di depannya. Sedang duduk di sofa sambil fokus menatap layar laptop, mengerjakan pekerjaannya. Jas abu-abu yang dikenakan Hyukjae pagi ini tergeletak di sofa, menyisakan kemeja yang sudah digulung lengannya sebatas sikut, dan dasi yang terikat longgar. Entah mengapa, penampilan Hyukjae yang seperti itu membuat Donghae tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Seharusnya Hyukjae bekerja di ruangannya sendiri, tapi Donghae memintanya untuk mengerjakan di sini karena isi presentasi harus mereka diskusikan berdua. Atau, sebenarnya Donghae punya alasan yang lain. Untuk beberapa alasan, Donghae menyukainya ketika melihat Hyukjae bekerja dan memerhatikannya diam-diam.
"Seminggu ini kau selalu lembur. Memangnya tidak lelah?" tanya Donghae memecah keheningan.
Hyukjae menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu menoleh ke arah Donghae dan tersenyum. "Jika aku tidak lembur, maka pekerjaanmu tidak akan ada yang selesai. Terutama mengenai presentasi resort baru kita."
Harus Donghae akui, perkataan Hyukjae memang benar. Sebagian besar pekerjaannya selesai berkat bantuan Hyukjae. Tapi melihatnya terus-terusan lembur, Donghae jadi merasa tidak enak hati. Belum lagi, jika Hyukjae harus ikut Donghae saat ada perjalanan ke luar kota. Hyukjae pasti lelah dan waktu tidurnya pun pasti kurang.
"Bulan depan, saat keponakanmu selesai ujian, ambil cuti beberapa hari dan pergilah berlibur."
Mendengar itu, membuat Hyukjae menoleh ke arah Donghae sekali lagi dan menatap lurus matanya yang bening. "Kenapa tiba-tiba sekali?"
Bola mata Donghae bergerak menghindari tatapan Hyukjae, sambil memikirkan jawaban yang tepat. Tapi kemudian Donghae mengangkat bahunya, merasa tidak perlu memberikan alasan pada Hyukjae. Karena jika Hyukjae tahu alasannya, tamatlah riwayat Donghae. Hyukjae mungkin tidak akan mau lagi bekerja dengan Donghae dan akan membencinya seumur hidup.
Well, sebenarnya Donghae berbuat sedikit jahat pada Hyukjae. Alasan mengapa Donghae selalu menyuruh Hyukjae lembur adalah agar dia tidak punya waktu untuk pergi ke acara kencan buta. Ya, Donghae mengakui dirinya jahat karena menghalangi Hyukjae untuk bertemu dengan gadis impiannya. Entah apa alasannya, tapi Donghae tidak mau Hyukjae berkencan dengan orang lain.
"Daepyonim?" panggil Hyukjae yang masih menatap Donghae, menunggu jawabannya.
"Hmm, karena aku juga akan ambil cuti dan berlibur bersama Jeno." Akhirnya Donghae menemukan sebuah alasan, meski sedikit absurd. "Kalau aku cuti, kau tidak ada kerjaan 'kan?"
Hyukjae menautkan alisnya, merasa aneh dengan jawaban Donghae. "Saat kau tidak bekerja, justru pekerjaanku makin banyak dan tidak bisa mengambil cuti."
Benar juga. Donghae menggaruk keningnya yang tidak gatal, lalu memikirkan alasan yang lain tapi tidak menemukan satu yang bagus. "K-kau, kenapa banyak bertanya sekali? Lakukan saja perintahku!"
"Baiklah kalau begitu." Hyukjae akhirnya mengangguk meskipun masih merasa janggal dan aneh. "Terima kasih banyak, Daepyonim."
"Sudah jam makan siang." Donghae melirik jam tangannya sambil beranjak dari kursi. "Sebaiknya kita makan siang dulu."
Dan Hyukjae mengangguk lagi, menutup laptopnya, lalu memakai kembali jasnya dan mengikuti langkah Donghae yang sudah berjalan terburu-buru keluar ruangan.
.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.
Sebenarnya, Hyukjae lebih suka makan siang di kantin yang ada di kantor. Meski menu makanannya selalu sama, tapi setidaknya Hyukjae tidak perlu mengeluarkan uang lagi dan tidak perlu ke luar meninggalkan kantor. Tapi tidak begitu dengan Donghae yang lebih suka makan di luar. Setiap kali mengajak Hyukjae makan siang, Donghae pasti mengajaknya ke luar. Makan di restoran dekat kantor yang menyediakan berbagai olahan sup. Donghae suka sekali makan samgyetang atau seolleongtang.
"Aku penasaran tentang sesuatu," kata Donghae sesaat setelah makanan mereka disajikan di atas meja oleh pelayan. Dua mangkok seolleongtang.
"Tentang apa?" tanya Hyukjae tanpa mengalihkan pandangannya dari sajian di hadapannya.
"Tentang keponakanmu," jawab Donghae tanpa basa-basi. "Sebenarnya, kenapa jadi kau yang merawatnya?"
Alis Hyukjae terangkat, sempat sedikit terkejut dengan pertanyaan Donghae yang tidak terduga itu. Hyukjae tidak berpikir Donghae akan menanyakan hal itu di saat seperti ini. Tenggorokan Hyukjae tiba-tiba terasa kering, jadi ia meneguk segelas air putih yang ada di meja, lalu memasukkan nasi ke dalam supnya yang masih mengepulkan asap. Mengaduknya, sebelum akhirnya Hyukjae menyantapnya dengan lahap. Dalam diamnya Hyukjae berpikir, apakah harus ia menceritakannya pada Donghae?
Sementara itu Donghae melakukan hal yang sama sambil menunggu jawaban Hyukjae. Matanya sesekali melirik Hyukjae, mencoba menangkap ekspresinya yang tiba-tiba berubah. Donghae jadi menebak-nebak sendiri, apa pertanyaan barusan terlalu berlebihan? Tapi Donghae hanya bertanya, tidak masalah jika Hyukjae tidak mau menjawabnya.
"Aku pernah cerita bahwa Jisung itu anak kakak perempuanku yang sudah meninggal, 'kan?" tanya Hyukjae memulai percakapan kembali setelah mengunyah dan menelan. Memilih untuk menceritakannya setelah berpikir dan menimbang-nimbang.
Donghae mengangguk dan menatap Hyukjae yang masih menunduk menatap supnya. "Ya, kau bilang dia anak mendiang kakak perempuanmu yang sudah meninggal, tapi kau tidak pernah cerita soal sebab kematiannya dan mengapa kau yang membesarkan anaknya."
Setelah menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan, Hyukjae mengangkat kepalanya, menatap Donghae dengan mata doe-nya yang indah. "Kakakku meregang nyawa saat dipukuli suaminya," katanya pelan, raut wajahnya begitu pahit saat mengingat kejadian nahas itu. "Dia mengorbankan dirinya saat laki-laki keparat itu mau memukul Jisung."
"Oh, maaf. Aku turut berduka." Donghae tiba-tiba merasa tidak enak hati karena mengorek luka hati Hyukjae. "Aku tidak bermaksud …"
"Tidak apa-apa," sela Hyukjae sambil menggeleng. "Lagi pula kejadian itu sudah bertahun-tahun berlalu. Aku baik-baik saja sekarang."
Ya, Hyukjae harus baik-baik saja. Membicarakannya secara terbuka seperti ini mungkin akan sedikit mengurangi beban hatinya. Sebelumnya Hyukjae tidak pernah suka membahas masalah pribadinya, tapi saat menatap mata hazel Donghae yang begitu bening dan jernih, Hyukjae merasa percaya padanya. Merasa tidak masalah menceritakan sedikit masalah hidupnya pada Donghae.
"Laki-laki yang menjadi suami kakakku benar-benar bengis dan tidak berperasaan. Pecandu alkohol dan suka memukuli istrinya. Bahkan dia tega memukul Jisung yang saat itu baru berusia satu tahun." Hyukjae melanjutkan ceritanya dengan senyum tipis yang miris, mengingat betapa bodohnya sang kakak yang mempertahankan laki-laki sinting itu sebagai suaminya. "Sejak awal menikah, aku tahu kakakku tidak bahagia. Setiap kali pulang ke rumah, selalu ada luka lebam baru di wajah atau tubuhnya. Aku tahu kakakku dipukuli suaminya, tapi tiap kali aku bertanya dia selalu mengelak."
"Di mana laki-laki itu sekarang?" tanya Donghae yang tiba-tiba ikut merasa geram mendengar cerita Hyukjae.
"Di penjara," jawab Hyukjae dengan suara yang terdengar puas. "Setelah memukuli kakakku hingga tewas, dia di penjara dan kehilangan haknya atas Jisung."
"Ah, itu sebabnya sekarang kau jadi walinya Jisung."
Hyukjae menghela napas panjang, kelihatan lega setelah sedikit menceritakan masalahnya pada Donghae. "Sebenarnya, Jisung bisa saja dirawat oleh ayah dan ibuku. Tapi rasanya itu tidak pantas. Maksudku, orang tuaku sudah cukup tua untuk merawat dan membesarkan seorang anak."
"Kau melakukan hal yang baik." Donghae berusaha menghibur meski tidak yakin kata-katanya akan membuat Hyukjae senang.
"Ya, aku harap begitu." Hyukjae akhirnya tersenyum lebih santai. "Terima kasih."
Mendengar cerita Hyukjae, membuat Donghae benar-benar kasihan padanya. Hyukjae jadi menanggung beban yang tak seharusnya akibat perbuatan mantan kakak iparnya. Seharusnya, Hyukjae yang masih lajang itu menikmati masa mudanya. Berkencan dan bertemu dengan lawan jenis untuk menjalin hubungan, atau seharusnya Hyukjae menghamburkan uangnya untuk memuaskan diri sendiri. Bukannya terjebak dalam situasi seperti sekarang, membesarkan seorang keponakan dan kehilangan masa mudanya.
"Kau tidak perlu memandangku seperti itu!" Hyukjae tertawa pelan sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Donghae. "Aku baik-baik saja dan bahagia dengan kehidupanku sekarang."
"Haruskah aku mengenalkanmu pada salah satu teman kencan butaku?" tanya Donghae yang sebenarnya serius, tapi Hyukjae tertawa lagi dan tidak menganggapnya serius.
"Jangan bercanda."
"Aku serius," kata Donghae dengan tatapan serius.
Sejujurnya, Donghae sekarang sedang tidak enak hati mengingat perbuatan jahatnya pada Hyukjae. Tidak seharusnya Donghae membuat Hyukjae sibuk di kantor dan tidak membiarkannya pergi ke acara kencan buta. Hidup Hyukjae sudah berat, dan sekarang Donghae malah memperumitnya. Benar-benar jahat.
Hyukjae memutar bola matanya dan berdecak. "Nona Muda dari kalangan atas mana mau padaku yang hanya seorang sekretaris."
Akhirnya Donghae berhenti menatap Hyukjae dan mengangguk setuju. Benar juga, teman kencan butanya kebanyakan Nona Muda dari keluarga kaya yang gaya hidupnya mencekik dan kebanyakan dari mereka hanya akan menikahi laki-laki yang latar belakang keluarganya sepadan dengan mereka. Tidak peduli dengan cinta, yang penting saling menguntungkan dalam urusan bisnis masing-masing. Menjadi orang kaya terkadang menyebalkan juga.
"Aku benar, 'kan?" tanya Hyukjae saat melihat raut wajah Donghae. Tahu bahwa tebakannya tidak meleset sama sekali.
"Ya, kau benar." Donghae mengangguk lagi, membenarkan. "Sudahlah lanjutkan makanmu sebelum supnya dingin."
Hyukjae tertawa pelan dan melanjutkan makan. "Baiklah, Daepyonim."
"Lee Hyukjae …"
"Ya?" Hyukjae mendongak, menatap Donghae saat mendengar namanya dipanggil.
"… menurutmu aku bagaimana?"
Pertanyaan Donghae yang lagi-lagi tidak terduga itu membuat Hyukjae tersedak. Aneh rasanya mendengar seorang laki-laki bertanya seperti itu padanya. "M-maksudmu?"
Donghae yang sejak tadi menunduk menatap makanannya, mendongak. Mempertemukan pandangannya dengan mata besar Hyukjae. "Kau tidak pernah bertanya soal masa laluku. Kenapa?"
Ah, soal masa lalu. Gila, Hyukjae sempat berpikir yang macam-macam tadi. Ini pasti efek dari terlalu lama sendiri. Hyukjae menggeleng dan menarik napas, menjernihkan kembali pikirannya yang sempat melayang ke mana-mana. Padahal, bukan pertama kalinya Donghae bertanya ambigu seperti itu. Tapi mengapa tadi Hyukjae sempat terkejut dan salah paham segala? Ah, benar-benar gila.
"Menurutmu apa?" Hyukjae balik bertanya setelah berdeham dan meluruskan pikirannya. "Aku ini hanya sekretarismu. Aku tidak punya hak untuk penasaran, apalagi bertanya macam-macam soal masa lalumu.
"Oh, begitu." Donghae menyahut seadanya, lalu kembali melanjutkan makan.
。・:*:・゚ ,。・:*:・。D&E。・:*:・゚ ,。・:*:・。
Hai, maaf lama updatenya ^^
Fanfic ini di sponsori Gracia dan Saffana kkkkk ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
