Rated : T
Genre: Romance/Friendship/Humor/Little Angst
Warning :OOC
Disclaimer: forever and ever Naruto never can be mine. But this story is original from my mind. Mine! XD
[Sakura's POV]
"Kau ikut ke pesta itu, Sakura?" Teriak Ino histeris, bergegas kututup mulut Ino dengan kedua tanganku. Aku baru saja menceritakan tentang perintah Mikoto-sama kemarin pada ketiga sahabatku. Tapi mencoba menjaga rahasia dan memberi masukan, gadis berekor kuda pirang itu malah berteriak seperti barusan.
Untungnya kantin saat ini sedang sepi dan tak ada yang memedulikan mendengar teriakan Ino tadi, "Sst! Kau terlalu berisik Ino!" kataku sengit, dengan masih sedikit merasa jengkel kulepas tanganku dari mulut Ino setelah memastikan ia tidak akan berteriak-teriak lagi. Kutegak milkshake strawberiku dengan sebal sementara Ino memasang tampang bersalah padaku yang tak ku gubris.
"Maaf Sakura, habis aku tidak menyangka ibu Sasuke itu menyuruhmu untuk ikut pesta seperti itu. Aku kan juga mau ikut pesta seperti itu…" katanya lagi sambil mencibir, aku mendelik sebal pada Ino.
"Kalau boleh memilih aku juga tidak mau, dan mungkin kau bisa menggantikanku. Tapi mana mungkin." kutekuk bibirku cemberut, jujur saja aku memang masih sangat amat merasa takut untuk datang ke pesta itu, memikirkannya saja sudah membuatku merinding. Meski Sasuke sudah berkata akan melindungiku—meski ia tak punya kewajiban untuk hal tersebut—aku tetap merasa cemas kejadian seperti lima tahun lalu bakal terjadi lagi.
Namun tiba-tiba wajahku jadi terasa memanas dan yakin pasti merona begitu mengingat ucapan Sasuke padaku, bagaimana tidak jika Sasuke mengatakan kalau ia tak mengijinkan hal itu terjadi lagi padaku dan aku yakin pada saat ia mengatakan kata-kata yang sukses membuatku terpana itu wajahku sangatlah merah dan panas, gara-gara itu aku jadi sedikit salah tingkah dan malah mengabaikan godaan Sasuke. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin itu lebih baik kulakukan, daripada membuat tuan muda itu jadi besar kepala. Mau tidak mau aku jadi mendengus sendiri.
Barulah suara malu-malu Hinata membuatku kembali sadar, "Ano… a… aku juga akan hadir di pesta itu, Sakura." sejenak aku tak tahu apa yang ia katakana karena pikiranku lebih senang menyangkal apa yang kudengar itu, namun kemudian setelah sadar aku baru menepuk dahiku sendiri.
Betapa bodohnya aku sampai lupa bahwa sahabatku sendiri adalah seorang putri bangsawan Hyuuga, dan tentu saja ia diundang ke pesta yang penuh dengan anak-anak para pejabat dan ornag-orang penting itu, meski kudengar hanyalah sebuah pesta dansa semi-formal tapi tentu saja para anak yang berasal dari kalangan penting bakal hadir. Dan itu artinya jika Hinata datang, mimpi burukku bisa jadi tak akan terjadi malam sabtu depan, tentu saja! Aku dan Hinata pasti dapat mengobrol dan jika mau mengatakan hal yang berlebihan, mungkin aku dapat bersenang-senang di pesta itu karenanya.
Mataku berbinar menatap manik Hyuuga itu, aku tersenyum lebar sambil meneriakkan nama sahabatku yang sangat pemalu itu, "Hinata! Aku mencintaimu!" Terikakku seraya memeluk Hinata yang duduk di hadapanku, sambil mencondongkan tubuh aku masih memeluk Hinata kuat-kuat sementara ia terdengar tertawa kecil akibat perbuatanku. Sedangkan Tenten terdengar menggumam, "Aaah, aku iri sekali pada kalian!" aku hanya menyeriangai lebar masih belum melepaskan rangkulanku dari Hinata.
"Suit suit! Sakura-chan kelihatan lho!" siulan nakal dari pemuda berambut kuning jabrik yang baru datang dengan rombongannya itu seketika membuat wajahku sangat merah mendengar godaannya barusan,cepat-cepat kuperbaiki posisiku dengan canggung untuk kembali duduk di kursiku. Kami berempat menoleh pada pendatang-pendatang baru tersebut.
Jelas sudah sekarang mengapa kantin begitu sepi sejak tadi. Apa lagi alasannya kalau bukan kelompok Sasuke yang baru datang itu tidak ada di kantin sejak tadi, dan baru ketika mereka sudah ada di sinilah keadaan kantin baru ramai seperti biasanya. Namun walaupun alasannya seperti itu, yang bukan membuat bising bukanlah mereka, tetapi gerombolan fans mereka—terutama Sasuke—lah yang mengubah suasana tenang menjadi berubah sama sekali.
Dengan wajah memerah aku menatap mereka, "Na… Naruto!" seruku dengan campuran antara malu dan kesal, yang membuat Maluku bertambah-tambah adalah karena Sasuke ada di sana. Lengkap sudah perasaan maluku, kalau kuingat-ingat dua hari berturut-turut aku melakukan kebodohan dengan hal memalukan seperti ini di depannya. Walaupun aku selalu memakai dalaman, namun tetap saja rasanya begitu memalukan.
Ketika kupikir akan melihat ekspresi puas atau menggodanya Sasuke padaku, ternyata salah besar. Entah apa yang terjadi pada pemuda raven tersebut karena kini ia terlihat kesal dan marah, onyxnya menyiratkan kilatan marah. Ia meninggalkan kami begitu saja lalu duduk di mejanya yang biasa di sudut kantin yang kebetulan hari ini aku dan teman-temanku menggunakan meja yang tepat disebelah meja langganan Sasuke tersebut.
Tatapanku terus mengikuti Sasuke yang membanting dirinya saat duduk di kursinya, aku menatapnya takut-takut mengacuhkan Naruto yang masih mengoceh padaku. Mencoba menerka apa yang membuat mood sang pemuda Uchiha itu tampak begitu jelek.
"Hei Sakura! Kau dengar tidak sih?" gerutu Naruto yang menyadari dirinya tak lagi kuhiraukan, aku hanya menggaruk-garuk kepalaku seraya menyeruput minumanku tak berniat menanggapi si Naruto itu. "Kalau kau mengacuhkanku lagi, akan kucuri first kiss-mu itu Sakura!" Ucapan Naruto barusan sukses membuatku tersedak oleh minumanku sendiri, sementara si jabrik pirang itu menyeringai mesum padaku. Aku tidak dapat menahan wajahku yang terlanjur memerah karena malu dan marah atas ucapan Naruto itu.
"Kau…" geramku pada Naruto tak dapat menemukan kata-kata makian yang tepat untuk si mesum pirang jabrik tersebut. Namun belum lagi aku hendak mengeluarkan kata-kataku hentakan meja yang begitu keras membuatku terlonjak kaget, begitu pula yang lain. Aku segera menoleh ke arah pelaku yang menghentakkan meja tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sasuke yang membuat geger seisi kantin.
Aku memandang pemuda raven tersebut dengan tatapan hati-hati, jelas sekali ekspresi marah yang terpancar di wajah dinginnya tersebut. Tak ada yang berani bicara sama sekali, bahkan fans klub Sasuke pun yang biasanya tak bisa diam kini tampak mematung, bisa kurasakan setengah isi kantin kini tengah menahan nafas terkejut dengan kemarahan sang Uchiha. Begitu pula denganku yang sudah terbiasa melihat kemarahan Sasuke, namun kali ini beda dari biasanya, bukan marah karena keegoisannya atau ketidaksabarannya lagipula tak pernah kulihat Sasuke menampakkan ekspresi seperti ini di muka sekolah.
"Hey teme, kau kenapa sih?" Dari sekian orang yang ada di tempat ini, hanya Naruto lah yang berani bertanya pada Sasuke. Bukannya menjawab, ia malah mendelik garang pada Naruto.
"Berisik!" bentaknya pada Naruto masih dengan tatapan onyx yang garang dan tajam.
Ingin sekali rasanya aku bertanya pada Sasuke dan mencoba menenangkannya seperti yang biasa kulakukan di rumah, tapi tidak bisa karena ini sekolah semua masalah akan semakin panjang jika aku mengeluarkan suaraku berbicara pada Sasuke di sini.
Tiba-tiba tubuhku terasa membeku dan sedikit berjengit ketika menyadari tatapan tajam Sasuke yang menatapku sekilas. Rentetan pertanyaan langsung berkecamuk di kepalaku, 'mengapa Sasuke-sama menatapku seperti itu? Apa aku yang telah berbuat salah padanya hingga ia begitu marah seperti ini? Tapi… kenapa?'. Dahiku berkerut tak mengerti.
Bisikan Ino di sebelahku menyadarkanku dari kebekuan akibat tatapan Sasuke barusan, "Sasuke kenapa sih, Sakura?" aku hanya mengangkat bahu tak mengerti. Tentu saja jika aku tahu kenapa ia seperti itu, aku juga tak akan bingung seperti ini.
Kulihat Naruto mendekati Sasuke, "Teme, jangan membuat orang-orang takut begitu dong!" tepat ketika Naruto mengakhiri ucapannya, Sasuke bangkit berdiri dan kutahu ia sengaja menabrakkan bahunya pada bahu Naruto dengan cukup keras saat berjalan melewatinya. Ia berjalan dengan kedua tangan di dalam saku celananya.
Naruto yang tampak terpancing mencoba untuk membalas Sasuke, namun kedua lengannya ditahan dengan sempurna dan tepat oleh Shikamaru dan Neji. Naruto menatap keduanya bergantian dengan garang, "Apa yang kalian lakukan?"
"Mendokusai…" gumam Shikamaru malas sambil menggeleng memberi isyarat untuk menyuruh Naruto diam dan tak membalas.
Kubalikkan tubuhku melihat Sasuke yang sedang berjalan ke luar kantin dan tampak tak memedulikan apa yang baru saja akan dilakukan Naruto padanya atau apa yang ia lakukan hingga membakar amarah Naruto. Orbku mengikuti langkah Sasuke yang semakin menjauhi tempat kami berada, sesaat kukira keadaan akan kembali baik-baik saja tepat setelah aku berpikir begitu aku langsung mengubahnya dengan cepat, tampaknya aka nada 'badai' yang akan datang.
Seorang anak bertubuh gempal yang sedang bercanda bersama kedua temannya bertabrakkan dengan Sasuke yang nyaris dibuat jatuh akibat tabrakan itu. Terlambat, sebelum bisa dicegah oleh siapa pun Sasuke sudah mengeluarkan tatapan mematikannya pada anak itu, ia menarik kerah baju anak lelaki gempal yang kini tampak ketakutan.
Seorang temannya yang tampak tak terima akan perlakuan Sasuke terhadap anak gempal itu terlihat marah, "Hei lepaskan tanganmu dari Chouji!" entah kenapa aku merasa tak terlalu asing dengan suara anak yang barusan berteriak pada Sasuke. Kucoba untuk memperhatikan baik-baik pemuda yang memunggungiku itu.
Rambut jabrik coklatnya yang mencuat dan suara yang terdengar kasar itu… "Inuzuka!"pekikku kontan. Begitu sadar aku telah memekik dengan segera aku menutup mulutku dengan kedua tangan, keempat anak yang sedang menarik perhatian seisi kantin dengan perkelahian yang tampak baru akan dimulai itu kini menatapku dengan berbagai pandangan, membuatku jadi kikuk sendiri.
"Kau kenal meraka Sakura? Hei Sakura!" Tanya Ino berbisik padaku namun aku tidak menghiraukannya dan malah meninggalkannya mendekati Sasuke dan yang lainnya.
"Kau! Cewek yang kemarin!" Inuzuka itu menunjukku dengan ekspresi kaget dan heran padaku yang kutepis dari depan wajahku. Aku kini menatap Sasuke perlahan dengan takut-takut dan memposisikan diriku sehingga aku berada di hadapannya sekarang tepat di samping anak yang bernama Chouji itu.
Kami berdua saling bertatapan, Onyx Uchiha itu menyiratkan pandangan antara bingung, marah , dan kesal pada emeraldku yang mencoba bertahan untuk membalas tatapan tajamnya. Kutelan ludahku sebelum bicara berharap suaraku tidak bergetar karena gugup dan takut, "Maaf Sasuke-sama, pemisi!" aku menunduk sekali padanya tidak terlalu dalam kemudian menurunkan lengan Sasuke perlahan dari kerah anak itu yang dnegan mudah kulakukan karena tampaknya Sasuke terlihat bingung tidak mengerti dengan maksudku barusan.
Kemudian kudorong pelan tubuh gempal Chouji keluar dari kantin sambil berlari, ia berlari dengan patuh pada dorongan tanganku sambil terus menoleh tidak mengerti padaku. Sementara kedua temannya berlari mengikutiku dari belakang sambil terus berteriak memanggilku.
Aku berhenti di tengah koridor sekolah saat kurasa sudah cukup jauh jaraknya dari kantin. "Hei cewek rambut pink tunggu!" mereka berlari mendekati kami, lalu kami semua terdiam mengatur nafas yang masih memburu.
Wajahku tertekuk sebal sambil mencibir sedang orb-ku menatap tajam pada Inuzuka, "begini ya, tapi bisakah kau tidak memanggilku seperti itu?"
Pemuda pemilik Akamaru itu tampak pura-pura berpikir kemudian menyeringai padaku, "Boleh saja. Masalahnya aku tidak tahu namamu."
Benar juga, kami memang belum pernah berkenalan secara langsung dan yang nama keluarga Inuzuka itu pun hanya kuketahui dari nama keluarga yang tertera di papan nama depan rumahnya. Kuulurkan tanganku mengajaknya berjabat tangan, "Sakura. Haruno Sakura."
"Aku Kiba, dan sepertinya kau sudah tahu nama keluargaku." sahutnya sambil membalas jabatan tanganku masih menyeringai lebar. Tiba-tiba tanganku yang masih berjabatan tangan dengan Kiba langsung disambar begitu saja oleh teman Kiba yang beralis tebal dengan pakaian ketatnya yang agak menggangguku.
"Hai Sakura-chan! Kenalkan namaku Rock Lee, panggil aku Lee saja ya!" serunya sambil tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya.
"Ah… ya." jawabku pendek, bingung. Kulepas tanganku darinya dengan agak susah payah karena genggaman Lee yang erat mengunci jemariku, lalu aku menoleh ke arah bernama Chouji tadi yang masih terduduk di lantai sambil bersandar di dinding krem sekolah. "Kau Chouji, benar?"
"Ya, Chouji Akimichi itu namaku." sahutnya sambil menepuk dadanya, aku tersenyum padanya. Kemudian aku berbalik agar bisa melihat wajah ketiga pemuda itu langsung bersamaan sebelum aku berbicara kembali.
"Ano… itu…" aku berdehem kecil mengurangi kegugupanku yang mendadak muncul, "Aku minta maaf jika Sasuke-sama sudah menyakiti atau membuat kalian susah, apalagi kalian jadi tidak bisa ke kantin padahal istirahat sudah hampir selesai. Tapi aku benar-benar minta maaf atas nama Sasuke-sama tentang kejadian barusan." ucapku seraya menunduk pada mereka meminta maaf, kali ini mereka menatapku bingung dan aneh sebelum akhirnya Kiba membuka suara kembali.
"Sasuke-sama? Jangan bilang yang barusan itu Sasuke Uchiha? Dan jangan bilang kau adalah salah satu penggemarnya yang hanya tidak ingin si Uchiha itu kehilangan muka gara-gara kejadian di kantin tadi?" Tanya Kiba dengan rentetan pertanyaan yang menuntut dan terdengar berang.
Aku menggeleng cepat takut ia akan salah paham, "Bukan, sebenarnya aku adalah pelayan keluarga Uchiha. Jadi…"
"Oh jadi karena itu kau 'menolong' kami?" potong Kiba dengan menekankan kata 'menolong' yang ia ucapkan.
"Kau bisa mendengarkanku sampai selesai tidak?" Entah kenapa mendengarnya marah dan menuduhku begitu membuatku jengkel sendiri jadinya. "Karena kupikir ia sudah keterlaluandan kebetulan kebetulan aku 'mengenalimu', jadi aku menghentikannya. Sekalipun aku tidak tahu dirimu, aku juga tetap akan melakukannya karena menurutku saat itu hanya aku yang dapat menghentikannya sebagai orang yang sudah biasa berada di dekatnya." Ucapku dengan cepat dan kesal tanpa pikir panjang, sudah-sudah aku jadi peluh dibuatnya. "Seharusnya tidak usah saja aku menolongmu sekalian." gumamku kembali lebih pelan.
Bagus sekarang apa lagi? Mereka terdiam setelah mendengar ocehanku. Kuambil langkahku berbalik membelakangi mereka dan hendak melangkah pergi dari tempat yang membuatku gerah karena sebal itu, namun sebelum kemudian langkahku terhenti mendengar gumaman kecil Kiba padaku, "maaf." Aku menaikkan sebelah alisku tanpa berbalik jadi mereka tak dapat melihat wajahku yang sedikit heran ini.
Aku tidak menoleh dan hendak tidak mengacuhkannya begitu saja, "Sakura-chan! Terima kasih! Aku menyukaimu!" nyaris aku tersandung oleh kakiku sendiri saat berjalan ketika Lee meneriakkan kata-katanya barusan, aku menoleh sedikit padanya yang melambaikan tangan padaku tinggi-tinggi. Kucoba tersenyum pada Lee sebelum benar-benar menghilang dari hadapan mereka.
To Be Continued.
Akhirnya selesai juga! Maaf kalau saya kelamaan ngupdate-nya, sebenernya chapter ini udah aku tulis duluan di buku, tapi karena saya terlalu malas untuk mengetiknya jadinya kelamaan deh… T,T Hontou ni gomennasai! Buat Chapter depan bakal panjang banget nih, jadi mungkin juga bakal agak lama dan konfliknya (mungkin) juga makin kebentuk. Mungkin saya paling suka chapter depan deh, soalnya… tunggu aja kelanjutannya ya! XD
Maaf kalau misalnya masih ada kekurangan dalam cerita saya atau miss typo ya… ;)
Btw, saya juga lagi bikin Oneshot panjang tentang SasuSaku nih, tungguin aja ya dan moga kalian bakal suka. Ini gara-gara say abaca beberapa long oneshot yang semuanya keren-keren, jadi ngiler coba-coba bikin long oneshot deh.
Oh iya, berhubung saya terlalu malas untuk membalas satu- satu review kalian (maafkan hamba), saya mau ngucapin ucapan terima kasih saya buat:
Valkyria Sapphire,ss holic, UchihaKeyRaSHINee20,Hikari Shinju, vvvv, 4ntk4-ch4n,Uchiharu, 'nhiela Sasusaku,voland, Kikyo Fujikazu.
Makasih atas review kalian chapter kemarin bahkan juga untuk sebelum-sebelumnya. Makasih juga buat yang nge-favoritin Our Fate in Our Way ini. Makasih buat dukungan kalian dan makasih juga buat para silent reader. Thanks a lot and see you in the next Chapter. Minna, I need your review please! please!
Jaa nee!
