©SYEnt present:
Innocent Bride
by Shii & Cchi
Length: 3 of -
Cast: EXO's member, Others
Pairing: Main!HunHan, KaiSoo, Chanbaek, KrisTao, Others
Rating: T
Genre: Drama, Romance, Shonen-ai, Slice of Life
Disclaimer: Cuma ceritanya doang yang milik saya.
Warning: AU. FLUFF. BoyxBoy. OOC.
Sebulan telah berlalu sejak pernikahan itu. Luhan maupun Sehun mulai terbiasa dengan hubungan mereka, malah seperti kakak-adik mereka menjalani kehidupannya sekarang ini. Sesekali orang tua mereka menjenguk dan sekadar berbasa-basi untuk melihat apakah mereka baik-baik saja atau ada sesuatu(?).
"Eomma, aku tidak apa-apa. Sungguh," kata Luhan ketika Ibunya menangis saat berkunjung siang itu ke rumahnya. "Sehun menjagaku dengan baik, Eomma," lanjutnya. Namun, Ibunya malah semakin keras menangis. Menenggelamkan kepalanya kepada dada sang putra kesayangan satu-satunya. perempuan itu terisak.
"Hannie, seandainya dulu Ibu terlahir sebagai seorang laki-laki, kau tak akan seperti ini. Ya, Tuhan.. aku tidak tahu bagaimana nasibmu kelak! Bagaimana caranya kau memenuhi hasrat lelakimu jika seperti ini..," kata perempuan itu disela isak tangisnya.
Luhan hanya bisa mengerutkan dahi, kurang mengerti ke mana arah pembicaraan Ibunya itu kali ini.
"Ah! Eomma tahu!" Seruan dari Ibunya yang tiba-tiba itu tak ayal membuat Luhan sedikit kaget. Yah, umumnya seorang perempuan akan betah berlama-lama menangis hingga mukanya seperti baru disengat lebah, tapi Ibunya ini tidak. Luhan memandang perempuan yang telah memasuki umur 40-an itu dengan sedikit bingung dan penasaran.
"Bagaimana kalau kau selingkuh saja, Hannie? Atau kau ikut program cari jodoh wanita, atau kau bisa menyewa seseorang untuk memberimu keturunan, atau kalau perlu kau menikah lagi?" tawar Ibunya dengan semangat menggebu.
"Eomma!"
"Wae?"
"Aku tidak akan seperti itu. Aku sudah menikah."
"Dan kau menikah dengan seorang lelaki, Hannie. Bagaimana kau akan menuntaskan hasratmu itu?"
"Maksud Eomma?"
"Kebutuhan biologis setiap makhluk hidup, Hannie. Sex," kata Ibunya, memandangi putra semata wayangnya dengan melas dan jawaban itu cukup membuat Luhan membulatkan matanya sebentar. Rona merah samar terlihat di kedua pipinya. Bagaimana Ibunya bisa terang-terangan mengatakan hal seperti itu kepada anaknya? Yah walau memang mereka berhubungan darah, tapi Luhan adalah namja, tak apa jika Ibunya mengatakan seperti itu kepada putrinya, tapi dia namja! Ini lain cerita.
Luhan memundurkan tubuhnya sedikit. Mengambil jarak dari Ibunya yang kini seperti tengah menyunggingkan seringai di wajahnya yang cantik itu. Meski ibunda Luhan telah memasuki usia yang cukup tua, tapi wanita itu tetap cantik walaupun ada beberapa kerut terlihat samar di bawah matanya.
"Kau sudah besar. Sudah saatnya hasratmu itu perlu dituntaskan, Hannie."
"Tapi, Eomma…"
"Aku tahu, Hannie. Aku tahu. Mungkin memang aku terlalu khawatir padamu. Tapi, ini semua kulakukan karena hanya kau lah anakku satu-satunya. Aku tidak bisa diam saja melihat anakku seperti ini—"
"Tunggu, Eomma. Maksud Eomma dengan 'seperti ini' apa?"
"Oh, Hannie-ku sayang. Kau tidak perlu menutupinya dari Eomma. Eomma tahu dan paham, Nak, kalau kau sering melakukan masturbasi sendirian di kamar mandi," jawab Eommanya dan itu sontak membuat Luhan melebarkan mata untuk kedua kalinya. Dengan amat segera, ia mengelak jawaban itu.
"Eomma, aku tidak pernah melakukan itu!" kata Luhan—sedikit meninggikan nada bicaranya. Ia memandang wajah perempuan yang melahirkannya itu dengan raut wajah yang tak terbaca(?). Ibu Luhan hanya tersenyum maklum pada putranya. Ia memajukan tubuhnya, mendekati sang anak lalu mengelus surai coklat itu.
"Hannie, tenanglah. Tidak apa-apa. Eomma tahu."
"Tapi aku benar-benar tidak pernah melakukan itu, Eomma," sebisa mungkin Luhan meyakinkan Ibunya. Hey, dia memang telah bersuami dan dia telah dewasa. Meskipun ia juga telah mengetahui hal-hal seperti itu, tapi sungguh, ia tidak pernah melakukan hal yang Ibunya itu tuduhkan padanya. Bahkan pikiran itu tidak pernah terlintas di otaknya selama ini. Bagaimana bisa Ibunya menuduhnya seperti itu? Ini sungguh menyebabkan kesalahpahaman jika ada yang mendengarnya. Poor Luhan….
Luhan dan Ibunya masih berperang argumen di dalam sana, meninggalkan Sehun dan Ayah Luhan yang tengah mendiskusikan bisnis perusahaan mereka di ruang keluarga.
.
Luhan keluar kamar mandi ketika kemudian ia melihat Sehun duduk di tepian kasur tengah serius mengamati buku yang dipegang. Mendekati namja yang lebih muda empat tahun darinya itu, ia kemudian mengambil posisi duduk di samping namja tersebut. Ia ikut menilik apa yang tengah disimak pria itu.
"Apa itu?" tanya Luhan yang bingung hanya mendapati gambar-gambar grafik dengan warna-warna berbeda yang diikuti keterangan-keterangan kecil dari gambar tersebut. Sehun memalingkan wajahnya.
"Ini perkembangan perusahaan ayahmu, Hyung. Appa menyuruhku mempelajarinya karena kata ayahmu aku harus mulai memahami kondisi perusahaan untuk bisa menjadi penerusnya," jawabnya.
"Eh?! Mengapa kau? Mengapa bukan aku saja? Lalu bagaimana dengan perusahaanmu jika kau mengurusi perusahaanku?" tanya Luhan. Memandang penuh tanya pada suaminya itu.
Mereka berdua adalah putra tunggal dan satu-satunya penerus generasi mereka. Jadi, jika Sehun mengurusi perusahaan milik keluarga Luhan, bagaimana dengan nasib perusahaannya sendiri? Lalu, meskipun Luhan tidak terlalu pandai mengurusi bisnis seperti ini—bahkan ia sangatlah jauh tertinggal dari Sehun untuk urusan ini—ia bisa belajar, bukan? Mengapa harus membebankan sesuatu kepada orang lain? Yah, walaupun memang orang lain itu telah menjadi bagian dari keluarga, sih. Begitu pikir Luhan.
"Appa akan menutupnya, Hyung," kata Sehun singkat. "Eeeh?!" Luhan di sana menunjukkan wajah terkejut dan bingungnya yang lucu.
"Kenapa? Apa ada masalah pada perusahaanmu?" tanya Luhan cepat. Benar ia ingin tahu. Meski sebenarnya ia tidak tertarik dengan urusan seperti ini dan sesungguhnya ini bukan urusannya, tapi kali ini entah mengapa ia sangat ingin tahu dan sangat tertarik.
Sehun tertawa ringan melihatnya seperti itu. Ditutupnya buku tersebut lalu meletakkannya di meja samping ranjang mereka. "Tidak, Hyung. Perusahaan kami baik-baik saja. Itu hanya Appa yang telah merencanakan semua ini saat aku lahir," katanya. Luhan mengerutkan dahinya, bingung melanda pikirannya. Sehun tahu bahwa Luhan tidak menyukai hal-hal seperti ini—urusan bisnis, menurut Luhan itu hanya membuatmu pusing kepala saja memikirkan siasat-siasat licik atau entah apa untuk berlomba-lomba menarik klien dan menanamkan saham agar mendapat modal besar—maka ia memutuskan untuk menjelaskan secara singkat.
"Jadi, saat kau lahir, Eomma berharap bahwa aku adalah perempuan, sehingga saat kita menikah nanti perusahaan yang Appa bangun bisa kau teruskan dan Appa menyetujui untuk menggabungkan perusahaanku dengan perusahaanmu. Tapi, ketika aku lahir sebagai seorang namja, Appa tidak jadi menggabungkan perusahaan kita. Seiring berjalannya waktu, Appa mendengar kabar-kabar tidak baik tentang perusahaanmu dan yang terakhir tentang sabotase itu—" Sehun memotong pembicaraannya untuk menatap Luhan yang tampak serius menyimaknya dan Luhan mengangguk membenarkan.
"Appa ingin membantu, terlebih bahwa akhirnya nanti keluarga kita akan menjadi satu, maka dengan persetujuan Eomma dan seluruh keluarga, perusahaan Appa akan ditutup. Appa akan menyerahkan asset dan saham-sahamnya pada perusahaanmu setelah kita menikah," Sehun berhenti menjelaskan.
Sekali lagi memandang Luhan yang sekarang tengah menggangguk-angguk. Ada sedikit pancaran bingung di mata pemuda itu yang membuat Sehun mengangkat sudut-sudut bibirnya untuk tersenyum maklum.
"Katakan apa yang tidak kau pahami dari penjelasanku barusan," tawar Sehun. Ditanya seperti itu Luhan langsung mengeluarkan apa-apa saja pertanyaan yang ada dalam otaknya sejak tadi.
"Mengapa ayahmu mau melakukan sejauh itu?" pertanyaan pertama. "Lalu bagaimana seluruh keluargamu bisa dengan mudahnya menerima itu semua?" pertanyaan kedua. "Bukankah seharusnya perusahaanku lebih baik kau beli? Mengapa malah perusahaanmu yang kau tutup? Bukankah itu sama saja dengan membatalkan kontrak-kontrak perusahanmu dengan perusahaan-perusahaan lain? Mereka pasti akan mencabut saham-saham yang mereka tanamkan setelah mengetahui bahwa perusahaanmu akan ditutup dan diserahkan pada perusahaanku yang tengah dalam masa krisis ini, bukan?" pertanyaan ketiga yang bertubi-tubi menyebabkan Sehun kehilangan kontrolnya untuk tidak tertawa.
"Tidak seperti itu cara kerjanya, Hyung," jawab Sehun singkat. Lagi-lagi ini membuat kerutan di dahi Luhan dan ini entah mengapa membuatnya merasa begitu tertarik. Sungguh, ini adalah kali pertama Luhan merasakan rasa ketertairkan terhadap hal-hal bisnis perusahaannya. Dan semalaman itu, Sehun menjelaskan urusan perusahaan yang menurut Luhan membuatnya bingung. Namun, di malam itu, ia entah mengapa sangat antusias menyimak penuturan yang Sehun berikan padanya.
SYE
Luhan tengah duduk di sofa sambil memakan camilan. Menghadap layar 24 inchi yang bertengger indah di atas dipan di depannya. Sesekali tertawa melihat tingkah konyol tokoh film kartun yang tengah ditontonnya itu. Hingga kemudian kegiatannya terhenti sebentar saat ia mendengar pintu terbuka dan menampilkan sosok suaminya di sana.
"Aku pulang," ucap Sehun sambil berjalan ke arah tangga menuju kamar mereka.
Luhan bangkit dari sofa dan menghampiri Sehun. Tersenyum pada pemuda itu, menyambutnya. "Kau mau mandi atau makan dahulu?" tanya Luhan.
"Aku mandi dulu, Hyung," jawab Sehun yang diikuti anggukan dari Luhan, "Baiklah." Kemudian Luhan kembali ke sofanya, menonton kartun itu lagi. Sedang Sehun menuju kamar mereka dan membersihkan diri.
.
Luhan dan Sehun duduk berhadapan. Suara sendok yang beradu dengan piring menjadi pengisi keterdiaman di sana. Mereka sedang makan siang, meski hanya ramen karena Luhan tak pandai memasak.
"Sehunna, apakah kau ada jadwal lagi setelah ini?" tanya Luhan memecah keterdiaman. Sehun menghentikan acara makannya sejenak, ia menggeleng, "Tidak. Kenapa?"
"Bisakah kita pergi belanja setelah ini? Persediaan makanan di kulkas sudah menipis. Eomma juga kemarin lupa membawakannya," kata Luhan. Ya, saat ia akan membuatkan makan siang untuk suaminya itu, ia mengecek kulkas mereka dan mendapati hanya tersisa sedikit sayuran dan buah-buahan. Bahkan daging pun tidak ada. Dan ramen yang tengah mereka makan saat ini adalah ramen terakhir yang mereka miliki.
"Baiklah," jawab Sehun menutup pembicaraan.
.
Luhan tengah mencatat apa-apa saja yang perlu mereka beli untuk kebutuhan mereka sehari-hari sembari menunggu Sehun yang entah sedang melakukan apa di kamar mereka. Meski Ibunya kadang membawakan keperluan mereka, tapi saat kunjungan Ibunya kemarin itu, wanita tersebut lupa membawanya karena ia sangat ingin segera bertemu anaknya—membahas tentang kebutuhan hasrat Luhan. Kepalanya sibuk menoleh ke sana-ke mari mengamati barang-barang yang ada di dapur. Ia juga mencatat barang-barang lain yang perlu dibeli.
"Sudah, Hyung?" suara Sehun dari arah tangga membuyarkan konsenterasi Luhan dari kegiatan mencatatnya. Ia menolehkan wajahnya pada pemuda itu lalu tersenyum.
"Oh, ne," jawabnya lalu segera mengekor Sehun menuju mobil mereka.
Sesampainya di dalam mobil, Sehun segera menyalakan mobil mereka. Sedang Luhan sibuk menggunakan seatbelt-nya. "Cek sekali lagi," titah Sehun setelah Luhan selesai memakai seatbelt dan Luhan mengangguki lalu kembali memeriksa catatan yang tadi dibuatnya.
"Kurasa sudah semua," kata Luhan beberapa saat kemudian. Dengan itu Sehun melajukan mobil mereka ke arah supermarket.
Tidak perlu waktu lama untuk mereka sampai di supermarket terlengkap di kawasan kota itu. Setelah memarkirkan mobilnya di basement dan memastikan telah mengunci mobil itu dengan benar, Sehun dan Luhan segera memasuki area supermarket tersebut. Mereka langsung menuju ke sektor makanan dengan Sehun yang sebelumnya mengambil troli dorong dan Luhan langsung melesat ke area sayuran.
Luhan dengan sigap mengambil apa-apa saja yang dibutuhkan untuk mengisi kulkas mereka, sedangkan Sehun hanya mengekor di belakangnya mendorong troli belanja mereka. Sesekali membantu Luhan menimbang mana yang lebih baik dibeli atau menyuruh Luhan untuk membeli sesuatu yang dianggap perlu yang tidak ada dalam daftar yang dibuat Luhan. Setelahnya, mereka berpencar membeli kebutuhan masing-masing. Luhan sibuk pergi ke area peralatan mandi dan perabot rumah tangga sedang Sehun hanya berjalan-jalan tak tentu arah. Setelah berputar-putar mengambil apa yang diperlukan, Luhan dan Sehun menyudahi acara belanja mereka.
"Kau tidak membeli apapun?" tanya Luhan saat melihat troli yang dipegang Sehun hanya berisi makanan-makanan yang diambil tadi. Sehun menggeleng sambil tersenyum sekilas.
Sejujurnya, Sehun merasa kurang enak pada badannya. Mungkin hanya kelelahan sebab seminggu terakhir ini pekerjaannya yang menumpuk dikarenakan cuti menikah memaksa tubuhnya untuk bekerja ekstra.
Keduanya kini sibuk memindahkan barang-barang yang mereka beli dari troli ke meja kasir—meski Sehun yang lebih banyak mengeluarkan tenaganya untuk memindahkan barang-barang tersebut. Setelah selesai, mereka kembali mendorong troli tersebut menuju basement dan memindahkannya ke dalam mobil.
"Sudah semua? Tidak ada yang ketinggalan dibeli?" tanya Sehun memastikan—lagi—saat semua kantong belanjaan sudah masuk ke dalam mobil. Luhan kembali melihat catatannya yang sudah penuh dengan tanda cek lalu mengangguk mantap pada Sehun. "Sudah!"
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan mulai perjalanan kembali ke rumah. Saat melewati restoran seafood di perjalanan tersebut, tiba-tiba Sehun membelokkan mobilnya.
"Hyung, aku ingin makan seafood sebentar, ya?" pinta Sehun ketika Luhan memandangnya dengan pandangan bertanya.
"Baiklah!" jawab Luhan pendek. Kepalanya mengangguk lucu, tak lupa senyum senang menghias wajahnya. Yah, dipikir-pikir memang sudah lama juga ia tidak makan makanan seperti itu. Apakah itu terhitung sejak mereka menikah? Mungkin. Karena selama kehidupan baru yang mereka jalani, mereka hanya makan ramen, roti, atau makanan-makanan cepat saji biasa yang dipesan—mengingat Luhan tidak begitu pandai memasak dan Sehun bahkan tidak ada waktu untuk mengerjakan tugas rumah—walaupun sesekali Tao memberi mereka makanan-makanan aneh yang dibuatnya, sih.
Setelah Sehun selesai memarkirkan mobilnya, mereka keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam restoran itu. Sehun celingak-celinguk memilih tempat yang menurutnya strategis. Ia kemudian memilih untuk menuju ke sudut restoran yang dekat dengan jendela kaca besar. Pemandangan di luar itu sebuah kolam ikan besar yang dilanjutkan dengan lorong-lorong di mana ada beberapa meja dan kursi untuk makan juga—masih bagian dari restoran. Luhan mengekor Sehun dan langsung memilih makanan setibanya mereka di sana. Setelah pelayan datang dan mencatat pesanan mereka lalu kembali ke belakang, mereka hanya diam. Keduanya sibuk melihat ke luar dari kaca itu.
"Hyung/Sehun" Keduanya berbicara bersamaan setelah hening sesaat itu.
"Ehm.. Kau dulu," kata Luhan mengalah.
"Minggu depan sepertinya aku harus pergi ke luar kota," kata Sehun memulai. Ia memandang pemuda yang lebih tua darinya itu. Mengamati ekpresinya.
"Oh? Benarkah? Ke mana?" tanya Luhan datar. Entahlah, rasanya Luhan merasa ada sedikit rasa tidak suka saat Sehun mengatakan itu. Apakah itu rasa takut karena itu berarti Luhan hanya akan sendirian di rumah mereka, tidak melakukan apa-apa, bosan, dan tidak bisa berbaur sebab tidak ada Sehun yang mengajari dan menemaninya? Atau itu perasaan kecewa karena suaminya harus meninggalkannya padahal mereka baru sebulan menikah? Luhan bertanya-tanya dalam hatinya.
Sesaat pikiran bahwa ia kecewa muncul di benaknya. Jika ia kecewa, apa itu berarti ia mulai menyukai sosok pemuda yang menjadi suaminya itu? Ah, tapi tidak mungkin jika ia menyukai pemuda di depannya saat ini. Ia tidak merasa berdebar atau apa saat Sehun berada di dekatnya, memandangnya, mengajaknya bicara, atau menyentuhnya. Ia juga merasa biasa saja saat Sehun melontarkan kata-kata gombal untuknya yang sebenarnya hanya candaan. Jadi, ia tidak mungkin menyukainya, kan? Hati Luhan berperang sendiri memikirkan itu.
"Hyung?" panggil Sehun pada Luhan, dirasa bahwa pemuda di depannya itu tidak mendengarkan apa yang barusan dikatakannya.
"Eoh? Apa?" tanya Luhan bingung. Sehun hanya tersenyum, tebakannya benar.
"Aku pergi ke Jeju, lima hari paling cepat," kata Sehun mengulangi jawabannya tadi. "Ooh.." Luhan hanya meng-oh-kan jawaban Sehun. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Pelayan yang tadi mencatat pesanan mereka datang membawa makanan yang dipesan. Menatanya di atas meja, kemudian pelayan itu undur diri setelah Sehun dan Luhan mengucapkan terima kasih padanya.
"Kau mau bicara apa, Hyung?" tanya Sehun ganti. Ia ingat bahwa tadi Luhan juga akan mengutarakan sesuatu. Luhan hanya menggeleng—masih dengan tersenyum. "Tidak jadi, aku lupa," jawabnya yang diikuti cengiran. Selanjutnya mereka menikmati makanan mereka.
.
Sehun dan Luhan tengah dalam perjalanan mereka kembali ke rumah ketika kemudian hujan deras tiba-tiba mengguyur kota itu. Mereka kini telah sampai pada perempatan menuju kompleks rumah mereka, sayangnya tiba-tiba mesin mobil mati begitu saja.
"Kenapa, Hun?" tanya Luhan saat mobil tiba-tiba berhenti.
"Entah, Hyung. Mungkin akinya," jawab Sehun. Ia kembali menyalakan mobil itu, tapi tetap saja mesin mobilnya hanya menderu sebentar kemudian mati lagi.
"Sial." Sehun mengumpat lirih, tapi Luhan masih dapat mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar pemuda itu mengeluhkan suatu keadaan.
"Kurasa kita harus jalan kaki, Hun," kata Luhan mengusulkan. Mau bagaimanapun, Luhan berpikir, mobil mereka akan tetap mogok. Kalau mereka hanya tinggal di dalam mobil, sampai malam mungkin mereka tak akan bisa keluar sebab hujan sangat deras.
"Kau gila, Hyung? Kau tidak lihat hujan sangat deras?" Sehun bertanya dengan sedikit meninggikan nada suaranya. Itu menyebabkan Luhan sedikit menundukkan kepalanya. Bukan, ia bukan bermaksud memarahi Luhan atau bagaimana, ia hanya sudah terlalu lelah. Badannya benar-benar sudah tidak bisa berkompromi. Ia hanya ingin segera sampai rumah, berendam dalam air hangat lalu segera pergi tidur.
"Kau tunggu di sini, Hyung. Jangan keluar. Aku segera kembali," kata Sehun sebelum ia membuka pintu mobilnya dan segera berlari menembus hujan itu.
"Ya! Sehunna!" Luhan memanggil-manggil pemuda itu namun Sehun hanya terus berlari. "Haish..! Siapa yang gila sekarang, eoh?!" Luhan menggerutu atas tingkah Sehun tersebut. Beberapa menit berlalu namun Sehun tak kunjung kembali. Memang sih kalau dengan jalan kaki lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai di rumahnya dari perempatan kompleks sekitar sepuluh menit, tapi baru beberapa menit saja Luhan sudah tidak sabar. Sedikit khawatir.
Bukannya Luhan tidak tahu jika Sehun tengah dalam kondisi tidak baik, ia tahu. Ia hanya berpura-pura tidak tahu. Siapa yang akan merasa seseorang baik-baik saja jika saat ditanya orang itu hanya menggeleng atau mengangguk atau tersenyum lemah padahal ia bukanlah tipe seperti itu? Belum lagi perubahan drastis emosi orang tersebut. Pasti kau juga akan menyangka bahwa ada yang tidak beres pada orang itu, bukan?
Sepengetahuannya, Sehun bukanlah pemuda yang mudah sakit atau mengeluh lelah, maka dari itu ia tidak berani bertanya karena Sehun mungkin akan menjawab baik-baik saja. Terlebih Luhan juga tahu bahwa tugas Sehun akhir-akhir ini bukan hanya tentang perusahaan milik namja itu, tapi juga perusahaan milik keluarganya. Luhan tahu dibalik Sehun yang tenang dan datar itu, Sehun memiliki beribu tugas yang mengejarnya.
Luhan kemudian melepaskan seatbelt-nya dan turun dari mobil, hendak menyusul Sehun. Padahal baru beberapa detik ia berlari, tapi badannya kini sudah basah kuyub. Hujan kali ini benar-benar deras. Pikir Luhan dalam hati.
Luhan sudah hampir sampai gerbang rumahnya ketika ia melihat Sehun membawa dua buah payung dan terlihat terkejut melihatnya. Sehun maupun Luhan sama-sama berlari ke arah yang berbeda. Menjemput satu sama lain.
"Apa yang kau lakukan?! Bagaimana kalau kau sakit, Hyung?!" Sehun berseru sesaat setelah Luhan telah berada dalam payungannya. Ada sedikit nada marah dalam seruannya itu.
"Mian—"
"Sudahlah. Kau masuk dulu dan segera bersihkan badanmu. Aku akan kembali membawa semua belanjaan," kata Sehun yang kemudian memberikan satu payung kepada Luhan dan meninggalkannya begitu saja. Luhan hanya bisa berdiri terdiam di sana melihat Sehun berjalan menjauh menuju mobil mereka. Tidak ingin Sehun semakin marah, Luhan menuruti perintah Sehun tadi dengan masuk ke dalam rumah, namun ia hanya terdiam di ruang tamu menunggu Sehun datang—dengan handuk di tangannya untuk mengeringkan diri.
Tak berapa lama hingga kemudian sosok yang ditunggu muncul. Mendekat ke arah pintu, Luhan segera mengambil alih kantong-kantong belanjaan yang Sehun bawa dan meletakkannya begitu saja di dapur. Ia kembali ke ruang tamu dan memberikan handuk kering pada Sehun.
"Sebaiknya kau cepat mandi, supaya tidak pusing," kata Luhan. "Apa perlu aku buatkan susu?" tanyanya kemudian. Sehun menggeleng.
"Kau juga harus segera mandi, Hyung. Aku akan mandi di kamar mandi belakang," kata Sehun yang kemudian berlalu menuju kamar mandi dekat dapur. Luhan menghela napas memandang sosok Sehun yang sudah hilang di balik pintu dapur.
"Apa kau baik-baik saja, Sehunna?" tanya Luhan lirih.
.
Luhan keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan singlet dan celana tidurnya. Sebelah tangannya tengah bekerja untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang tersampir sebagian di bahunya. Ia melihat Sehun sedang menundukkan kepalanya di pinggiran kasur. Segera saja ia mendekati pemuda itu.
"Sehunna," panggilnya dan yang dipanggil menoleh kepadanya, tersenyum. "Gwaenchana?" tanyanya kemudian.
"Aku baik-baik saja, Hyung. Hanya sedikit merasa pusing," jawab Sehun. Meski begitu ia merasa bahwa pemuda itu sedikit pucat. Luhan kemudian berjalan ke arah alamari untuk mengambil baju ganti. Matanya sesekali melirik Sehun yang masih duduk terdiam di pinggiran kasur, memejamkan matanya dengan kepalanya yang menunduk. Pemuda itu juga hanya menggunakan kaos singlet dan celana tidur sama sepertinya.
Dengan segera Luhan keluar kamar, tidak jadi mengambil kaos ganti. Ia segera membongkar barang-barang belanjaannya tadi. Setelah mendapatkan apa yang dicari, ia kembali ke kamar dengan sebelumnya menuangkan air putih hangat dalam gelas.
Didekatinya lelaki yang lebih muda darinya itu lalu menyodorkan segelas air hangat dan setablet obat sakit kepala. Sehun yang kemudian menoleh dan menerima itu tersenyum padanya, "Gomawo." Luhan hanya mengangguk. Ia tidak biasa merawat orang sakit, sekalipun itu hanya pusing atau demam karena ia maupun keluarganya jarang sakit. Paling-paling jika ada keluarganya yang sakit, Ibunya yang akan mengurusi, Luhan hanya cukup diam.
Luhan menaiki kasur king-size mereka dan menuntun Sehun untuk mengikutinya setelah pemuda itu menelan obat yang diberikannya barusan. Sehun menurut. Ia kini berhadapan dengan Luhan yang membelakangi bantal mereka, sedikit berada di tengah-tengah kasur. Posisi mereka kini berhadapan, dengan Luhan yang sedang mengeringkan rambut Sehun. Sehun hanya diam menikmati perlakuan Luhan. Ia sudah cukup pusing. Obat yang diberikan Luhan pun sepertinya belum bekerja dalam tubuhnya.
Luhan memandang wajah pemuda dihadapannya yang tengah menutupkan mata. Jarak tubuh keduanya sangat dekat. Belum pernah mereka sedekat ini—selain saat tidur yang tidak disadari keduanya, tentunya. Luhan mengamati wajah pemuda itu. Benar-benar tampan. Luhan mengakui, Sehun memiliki wajah yang khas dengan bulu mata yang lentik dan panjang—meski tidak selentik miliknya, pikirnya. Hidungnya sangat mancung. Bibirnya tipis dan berwarna pink, Luhan baru menyadari itu. Kulitnya terlalu putih untuk ukuran laki-laki, dan bersih seolah namja di depannya ini melakukan perawatan secara rutin. Tak sengaja, ibu jari Luhan menyentuh rambut Sehun dan Luhan tersentak akan kelembutan rambut itu. Bukankah dia beruntung? Suaminya begitu sempurna, menurutnya. Ia berani bertaruh bahwa tak sedikit wanita di luar sana yang menginginkan suaminya itu dan mengetahui bahwa sang namja menikah dengannya, pasti para wanita itu terluka sangat dalam. Ada sedikit perasaan bersalah menghampirinya saat ia memikirkan hal itu. Apakah mereka akan baik-baik saja ke depannya?
Luhan masih menikmati keindahan rupa di depannya ketika kemudian kedua kelopak yang tertutup itu terbuka dan langsung bertatapan dengan matanya. Sedikit melebarkan matanya, terkejut karena ketahuan sedang mengamati Sehun, Luhan kemudian menumpukan kedua lututnya pada kasur hingga kini tubuhnya lebih tinggi dari Sehun. Ia menyibukkan diri dengan pura-pura mengeringkan rambut pemuda itu, padahal ia tahu bahwa surai hitam pemuda itu sudah cukup kering. Ia begitu karena ia tahu bahwa Sehun tengah memandanginya dari bawah sana.
Luhan meneguk ludahnya dan mengedarkan pandangannya ke samping ketika dirasa tangan Sehun kini berada di pinggangnya. Sedikit meremas pinggang kecil itu, berharap sang pemilik mau menatapnya—dan Luhan menatapnya saat Sehun menaikkan pegangannya pada pinggang itu. Luhan menurunkan tubuhnya, kembali mensejajarkan posisinya dengan posisi Sehun.
Kedua pasang manik mata itu bertemu. Sehun tersenyum manis kepadanya. Luhan bisa merasakan bahwa kini napasnya mulai terasa berat. Dan semakin terasa berat saat wajah Sehun mulai mendekat ke wajahnya. Menuruti insting yang entah salah atau tidak dan entah berasal dari mana, Luhan ikut memajukan wajahnya. Menemukan bahwa kedua hidung mereka telah bersentuhan, keduanya mulai memejamkan matanya dan memiringkan wajah mereka berlawanan arah. Hingga kemudian bibir mereka menemukan bibir lawannya dan terjadilah ciuman itu. Sehun melumat pelan bibir Luhan dengan kedua tangan yang berada di pinggang pemuda itu, sedikit meremasnya. Sebuah ciuman yang lembut namun sedikit dingin. Luhan di sana masih setia dengan handuk di tangannya, ikut meremas ketika merasakan Sehun memperdalam lumatannya. Ia melenguh pelan ketika lawannya menggigit kecil bibir bawahnya. Keduanya terlena oleh rasa yang mereka ciptakan.
Hujan di luar masih turun dengan deras dan membawa hawa dingin, namun dua orang yang berada di dalam kamar itu entah mengapa sama sekali tak merasakan dingin yang menyapa kulit mereka. Mereka terlalu larut dalam ciuman itu. Ciuman pertama mereka. Ciuman yang bahkan tidak mereka kehendaki. Ciuman yang entah dimulai dari siapa. Ciuman yang entah berarti apa. Mereka terlalu menikmati sesuatu yang baru itu. Sesuatu yang entah mereka sadari atau tidak menimbulkan sesuatu baru yang lain dalam diri kedua pemuda itu.
TBC… /wink/
