"Heh?! Permintaan saya ditolak semudah membalik telapak tangan, begitu?!" tanya Natsu setengah membentak dikuasai amarah. Surai orange Gildarts-sensei diacak guna meredam heran. Fenomena langka menyaksikan si berandalan ini berkemauan keras
"Apa kau salah minum obat tadi pagi? Sensei periksa dulu keningmu" candaannya keluar di saat-saat yang tidak tepat. Natsu menjauh tiga langkah. Menggelengkan kepala cepat bermaksud menolak perlakuan sang guru terhadap dirinya. Dikata anak kecil apa? Si pemuda juga punya sisi orang dewasa
"Ketika saya bercanda, sensei menganggap serius. Lalu, kenapa sekarang jadi kebalikannya?!" dia belum terima kekalahan. Sudah berjuang sejauh ini, masa digagalkan begitu saja? Pemuda zaman sekarang harus pantang menyerah, dong! Tekad Natsu keras kepala
"Ehem….biar saya luruskan permintaanmu. Natsu Dragneel, anak jurusan IPS tidak bisa pindah ke IPA. Mengerti?"
Seketika keheningan menyelimuti ruang guru. Kepala berambut pink itu dimiringkan ke kanan, mendekatkan paras polosnya memojokkan Gildarts-sensei. Seringai kemenangan menyungging sudut bibir pria lanjut usia tersebut. Skak mat! Kau telah sampai di ujung jurang, Natsu. Beliau bangkit berdiri meninggalkan meja kerjanya. Ada jadwal mengajar yang harus dilaksanakan, mengingat sebentar lagi murid kelas dua SMA akan menghadapi ujian kenaikan kelas.
"Ayo pergi. Mau saya tinggal berduaan dengan Bob-sensei?" ledekan yang membikin hati baja Natsu luluh lantak. Amit-amit digoda sama banci kaleng asal muasal taman lawang!
Seisi kelas heboh mendapati Natsu berjalan di belakang Gildarts-sensei. Kirain sih dihukum, gegara ketahuan pacaran di kelas IPA. Lah, dia aja kagak pernah nyicip rasanya wanita itu bagaimana. Si surai scarlet menatap iris kehitaman sang sahabat. Gatal menginginkan penjelasan langsung dari orang bersangkutan. Topengmu justru terbuka jelas, bodoh. Batin lelaki dengan cengiran khasnya, yang sukses memicu serangan jantung para wanita.
Jam setengah dua belas, di kelas XIA, istirahat terakhir
"Jelaskan padaku, sekarang!" pinta Erza memaksa. Gray pura-pura cuek bebek, padahal dia sendiri tidak kalah penasaran. Sebodoh-bodohnya Natsu, mana mungkin membikin masalah dua hari berturut-turut
"Bukan masalah besar, kok! Aku inisiatif mengunjungi Gildarts-sensei di kantor guru" jarang sekali, mendengar Natsu sengaja berurusan dengan guru. Otak api itu belum terbakar total kan? Apapun alasan dibalik tindakan melencengnya. Berharap saja semoga membawa dampak baik. Mereka tau, si pria bodoh ini pasti punya maksud tersendiri
"Untuk meminta remedial pelajaran? Seingatku, nilai akuntansimu yang terakhir kali diulangkan pas KKM" Gray ikut buka mulut usai bungkam seribu bahasa. Dia benci basa-basi berkepanjangan. Kenapa, sih, Natsu enggak langsung ke point utama? Mirip kelakukan orang dewasa yang, suka membuat anak mereka penasaran
"Bukan. Aku hendak pindah ke jurusan IPA"
Mulut Erza dan Gray tercengang bersamaan. Kenyataan yang terasa seperti mimpi! Natsu mengindahkan total menuju bangku bagian belakang, meninggalkan sejuta teka-teki dalam benak mereka berdua. Apa dia benar-benar bodoh tingkat akut?! Nyaris dua tahun menginjak bangku SMA, mana ada izin berpindah jurusan dari IPS ke IPA? Ya, bukan itu pokok terpenting, melainkan alasan dibalik keteguhan hatinya. Atmosfer di sekitar mereka bertiga, mendadak tegang.
"Tidak, aku yakin masih ada kesempatan, walau hanya satu persen saja" batin Natsu membara
Muncullah satu kemungkinan yang dapat Gray simpulkan : cinta merubahnya hingga menjadi seperti itu. Kalau bukan untuk Lisanna, maka siapa?
Pulang sekolah….
Bel berdering nyaring di seluruh penjuru sekolah. Natsu berkemas-kemas meninggalkan Lisanna yang sibuk mencatat. Mereka (Erza dan Gray), membiarkannya berangkat terlebih dahulu. Kabar gembira ini wajib diberitaukan sesegera mungkin. Mengenai perubahan si bodoh yang terlampau cepat. Sorot mata macam ikan mati yang biasa ditunjukannya kini berbeda, jauh lebih bercahaya penuh tekad. Erza senyum-senyum sendiri menyebabkan Lisanna bingung. Ah, paling karena….
"Selamat siang, Erza-san dan Gray-san" sapa lisan ramahnya berucap. Lisanna tidaklah akrab atau memiliki hubungan persahabatan, sebatas berada di garis pertemanan. Makanya, imbuhan –san selalu ditambahkan. Ini ajaran tata krama keluarga Strauss, kau tau?
"Ehem….!" deham Erza keras sebelum memulai pembicaraan, "Kau sadar kan, hari ini Natsu agak aneh?"
"Ah, ya….dia rajin mencatat juga mengerjakan tugas dari guru. Bahkan bertanya padaku jika tidak mengerti. Sesuai ucapan Erza-san, Natsu bersikap aneh" jawab Lisanna mengiyakan
"Kamu tau, kenapa Natsu bisa berubah secepat itu?" giliran Gray yang bertanya. Seakan sudah diatur untuk mengobrol berselingan dengan Erza
"Ti-tidak. Aku ingin menanyakannya, tetapi….kalau dia marah bagaimana?"
"Mungkin kami mengetahui jawabannya. Tetapi, entah apakah itu benar atau salah"
"Biarkan aku mendengar opini kalian! Memang mengarah ke jalan yang baik, namun tetap saja….sedikit mengkhawatirkan" banyak hal yang Lisanna terka secara acak. Mustahil ingin berubah tanpa kemauan kuat. Lalu, tujuan apa yang hendak dicapai Natsu? Demi masa depan? Tuntutan orang tua?
"Natsu sedang jatuh cinta. Kamu tidak sadar?" goda Gray menimbulkan semburat merah di kedua pipi Lisanna. Dia menggelengkan kepala cepat, gagal memahami apa maksud pernyataan barusan. Tawanya meledak heboh di tengah kesunyian. Jelas kan lucu, si bodoh suka sama seseorang? Telah diberi ratusan kode pun tak kunjung peka
"Candaamu lucu sekali, Gray-san. Aku tau betul sifat Natsu, dia cuek dan polosnya kebangetan. Tuduhan kalian pasti salah total"
"Hey, kamu menyukai Natsu, ya?" tangan kanan Erza terjulur bebas, memojokkan Lisanna di permukaan tembok dengan garangnya. Ludah di kerongkongannya terteguk ngeri, dia ketakutan hingga beku. Ya sudah, terserah mau percaya atau ragu, pikir sang ketua kelas melepas cegatannya, menghela nafas berat memaklumi kebodohan Lisanna
"Selama ini kamu berkata, 'Natsu tidak pernah peka'. Kenapa sekarang, jadi kamu yang tidak peka?" tanya Gray membalikkan kata-kata favorit wanita bersurai putih itu. Dentingan jam merambat di udara yang menyesakkan Lisanna. Dia kaget setengah mati setengah hidup
"Aku menyukai Natsu, lalu kenapa?" akunya menundukkan kepala sendu. Hati kecil itu tak kuat menahan rasa sakit. Satu kejujuran jauh lebih bernilai dari seribu kebohongan. Lisanna tau dia sesak sekarang. Semakin mengingat rasa sukanya yang tidak terbalas sejak dahulu. Jujur, harapannya melonjak tinggi usai mendengar keyakinan mereka
"Hargailah usaha Natsu dengan sama-sama berjuang. Percayalah, langit biru itu selalu ada dihalang badai sekalipun"
Senyum manis Lisanna mengembang lebar, di ujung bibirnya yang sedari tadi cemberut. Gray dan Erza memberi harapan baru. Sikap Natsu terhadap dirinya yang akhir-akhir ini menjadi baik, juga menambah kebenaran dari opini tersebut. Lagian tidak aneh, jika sahabat masa kecil saling menyukai dan menjurus ke perasaan lebih intim, yakni jatuh cinta.
HP layar sentuh di kantong roknya bergetar sesaat, menandakan ada SMS yang masuk ke kotak pesan. Lisanna membaca sekilas dari awal sampai akhir, dikirim oleh Natsu Dragneel, jam 13.30. Melihat nama sang pemuda mengakibatkan iris biru itu membesar seketika. Urusan sepenting apa, sehingga dia didesak menggunakan benda yang paling dibencinya seumur hidup? Kedua jari telunjuk Lisanna mengetik SMS terburu-buru, dan dua menit kemudian balasan telah diterima.
From : Natsu
Kamu tidak sibukkan? Aku ingin belajar bersama di rumahmu, boleh?
Tanpa pikir dua kali Lisanna menjawab :
Datanglah kemari. Aku menunggumu di ruang tamu, oke?
Camilan berupa sepotong kue cokelat tersedia di atas meja, ditemani secangkir teh tawar hangat kesukaan seorang lelaki bermarga Dragneel. Lisanna berlari menaiki tangga, membawa setumpuk buku cetak tebal yang nyaris membuatnya hilang keseimbangan. Matematika, akuntansi, dan sejarah merupakan tiga kelemahan terbesar Natsu dalam bidang akademik. Dia mencintai segalanya, tentang hal yang berkaitan dengan nama bermakna 'musim panas' itu. Hobby, masa lalu, kelakuan, semua tak luput dari mata hatinya.
Tok…tok…tok….
"Yo, Lisanna" tegur Natsu mengeluarkan suara baritonnya yang khas. Lisanna mengajaknya masuk ke dalam. Kini mereka duduk merapat di dekat api unggun, sebelum hujan deras mengguyur kota Magnolia tercinta
"Kita akan memulai darimana?"
"Hmm….bagaimana kalau matematika?" pilihan buruk, karena tidak seharusnya Natsu membebani diri sendiri secara berlebihan. Ya, apapun keputusan yang ditetapkan, Lisanna memutuskan untuk mematuhinya
Sepelan dan sejelas mungkin, Lisanna berusaha mengulang sesuai kemampuan otak Natsu. Gerak tangannya ikut terlibat, mencatat beberapa hal yang kurang jelas untuk ditanyakan nanti. Selembar soal diberikan guna meningkatan kepahaman dia akan materi bab delapan, diferensial trigonometri. Cukup rumit buat dimengerti. Rambut pink yang awalnya tertata rapi itu diacak-acak akibat stres. Mata Natsu terbuka dan tertutup berulang kali, kantuk menyerang kuat hingga menimbulkan rasa lelah. Matematika sangat kuat melebihi perkiraan!
"Jangan tidur, kamu belum mengerjakan satu soal pun" cegat Lisanna menepuk pipi Natsu lumayan kencang. Dia meregangkan tubuh lemas. Memegang pensil tumpul yang tidak dirautnya karena terlalu malas
Membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih, bagi Natsu menyelesaikan sepuluh butir pertanyaan yang khusus diujikan oleh Lisanna. Spidol merah nampak mencoret-coret secarik kertas putih berisi jawaban yang dipercayai benar, walau tak sampai lima puluh persen. Diperlihatkannya sembari menunjuk angka tiga puluh di sebelah kanan. Senyum penuh kepercayaan diri itu luntur seketika, digantikan garis horzintal yang menghiasi wajah tampannya.
"Meski lemah di pelajaran matematika. Kamu memiliki kelebihan di bidang olahraga, terutama renang. Nilai keterampilan dan Bahasa Jepangmu juga bagus, melampaui rata-rata bahkan" puji Lisanna berupaya membangkitkan semangat sang sahabat. Dia sadar, Natsu berusaha keras hingga mencapai batas maksimalnya. Jelas kan harus dihargai?
"Terima kasih mau mengajariku. Meski hanya berhasil menyelesaikan tiga soal, aku senang"
"Ini sekedar saran, apa kamu mau les bersamaku di rumah tante Ultear? Biayanya murah kok, dua ratus ribu untuk satu bulan. Tidak ada Gray dan Erza, sebagian besar murid dari sekolah lain" padahal Lisanna tau, jika Natsu paling ogah disuruh mengikuti kegiatan di luar sekolah, terutama menyangkut urusan sekolah
"Maaf, kemampuan mengajarku tidaklah bagus, dan masih jauh dari kata sempurna. Wajar saja, apabila kamu tidak dapat memahami setiap penjelasanku"
"Lis, aku berterima kasih, karena berbaik hati meluangkan waktu untuk mengajarkanku. Cita-citamu adalah menjadi guru, namun ditentang keras oleh paman dan tante, lalu mereka memaksamu meneruskan perusahaan keluarga Strauss. Tujuan manusia hidup, adalah untuk mewujudkan impiannya. Manfaatkanlah waktu yang diberikan Tuhan sebaik mungkin. Jangan sia-siakan satu detik pun!"
Sejak kapan si bodoh itu suka berkata bijak? Lisanna balas menggengam tangan Natsu, yang terasa beku ditusuk udara dingin. Hujan berhenti sepuluh menit kemudian, memperlihatkan hamparan langit orange berhiaskan awan. Usai berpamitan pulang, dengan cekatan dia membersihkan permukaan meja yang meninggalkan embun di atasnya. Kue cokelat itu tidak disentuh sedikit pun, pasti karena sungguh-sungguh fokus mengerjakan soal.
"Lebih baik aku bungkus dan antar ke rumah Natsu"
Tok…tok…tok….
CKLEK!
"Apa aku melupakan sesuatu?" tanya Natsu meraba-raba seragam yang dikenakannya, mungkin ketinggalan bolpoin atau pensil atau penghapus. Lisanna tertawa geli memperhatikan tingkahnya yang mengundang tawa siapa pun. Dia ingin berbuat usil, sengaja menyembunyikan sekotak kue itu di belakang punggung
"Ta-da!"
"Terlihat tidak asing, malah mirip sekali dengan buatanmu!" teriaknya terkejut. Sayang, Lisanna tidak mengharapkan balasan semacam itu dari Natsu. Sifatnya yang pelupa amat menyebalkan. Di saat teman-teman mengucapkan selamat ulang tahun, dia justru bertanya memakai tampang polos 'eh, masa sih?'. Isi otakmu apa, sih?
"Bodoh….inikan memang buatanku. Terimalah! Aku pergi dulu"
"Tu-tunggu!" Natsu berseru lantang menghentikan langkah kaki perempuan bersurai putih itu. Seperti tadi-tadi, dia menggengam erat tangan Lisanna seakan menegaskan suatu fakta 'jangan pernah tinggalkan aku!'. Jantungnya serasa dicopot dari tempat asal. Berdebar-debar tidak karuan yang mengakibatkan rasa sakit
"A-aku tidak suka melihat Lisanna marah. Terima kasih atas kuenya. Kapan-kapan buatkan lagi untukku, oke?
"Baiklah jika itu maumu"
Ah….andaikan moment ini berlangsung abadi. Lisanna sumringah, menyadari pintu hati Natsu mulai terbuka perlahan-lahan untuknya. Handphone di atas sofa tua berwarna hijau disambar cepat, dia mengetik deretan kata yang membentuk kalimat, terus begitu sampai huruf terakhir sebelum dikirim ke nomor tujuan. Jam menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit. Sekarang waktunya mandi, ya….
Drrrt…drrrtt….
From : Lucy
Selamat Lisanna-chan. Aku turut senang atas kemajuan hubungan kalian. Teruslah berusaha demi menggapai hasil terbaik, oke? Aku selalu mendoakan, dan mendukungmu dari belakang.
Meski Lisanna tidak akan pernah tau, bahwa Lucy Heartfilia sebenarnya cemburu buta. Karena dia, juga menyukai pria yang disukai sang sahabat. Cinta segitiga tersebut, pasti melukai sebelah pihak cepat atau lambat. Tergantung apa kehendak takdir, kita saksikan saja bagaimana ke depannya.
Keesokan harinya….
Kelonggaran hubungan di antara mereka berangsur-angsur terbangun kembali. Ketika jam istirahat tiba, Lisanna membantu Natsu belajar di perpustakaan, terkadang di dalam kelas jika sepi tanpa kehadiran siapa pun. Erza dan Gray mendukung lewat belakang, demi menunjang ikatan kedua sahabat masa kecil itu. Lucy yang diam-diam mengawasi sebatas penonton melalui kejauhan. Langit biru kesukaan mereka jarang dilihat bersama. Bukit di tanjakan melandai itu kini jarang ditapaki, oleh dua pasang sepatu kets putih yang kadang terlepas dari talinya.
Bukankah perubahan yang terjadi terlampau cepat? Pikir Lucy memasang ekspresi sendu. Tidak semuanya membawa dampak baik, terutama menurut wanita bersurai pirang itu. Dia menginginkan satu hal : Natsu tetap menjadi Natsu yang dulu. Versi dua, tiga, bahkan empat sekalipun, Lucy tetap menyukai yang pertama sampai kapanpun.
"Kenapa kau berubah, Natsu?"
"Ayo pergi ke tempat les!" ajak Lisanna bersemangat. Sekarang dia tidak takut menarik tangan Natsu, karena merasa canggung atau malu. Sesosok wanita bersembunyi dibalik tembok kelas. Memperhatikan mereka berdua sangat dekat, yang berlari-lari di lorong sekolah menikmati 'keindahan' di masa muda
"Larinya jangan cepat-cepat!" Natsu agak kewalahan mengikuti laju Lisanna yang secepat kilat. Kepalanya sempat menengok ke belakang sesaat. Mernyadari kehadiran seorang wanita, dengan surai pirang bermodel twintail tersebut. Bibir keringnya membentuk huruf O sempurna, hedak memanggil namanya sebelum berbelok menuruni tangga
"Lu…cy…."
Selama perjalanan menuju tempat les, Natsu terdiam tanpa mengindahkan ocehan Lisanna yang panjang lebar. Onyx itu menatap langit biru nan cerah. Menutup mata silau di kala matahari menyorotnya dengan ganas. Terasa aneh, ya, tanpa keberadaan Lucy. Jika diminta menjelaskan secara singkat, maka boleh dikatakan : seperti ada yang kurang, tepat menusuk ulu hati. Tak bisa dipungkiri, Natsu telah terikat erat baik lewat batin maupun fisik.
Dan dia membangun tembok, di celah hubungan mereka satu demi satu balok. Agar suatu hari nanti, Lisanna tidak mampu memanjat apalagi menaklukannya.
"Karena hatiku, ditunjukkan hanya untuk Lucy seorang"
"Selamat siang, tante!" ujar Lisanna menutup pintu perlahan-lahan. Natsu yang melamun tidak memperhatikan keadaan sekitar. Namanya dipanggil seribu kali pun bagai angin lalu
"Natsu! Natsu!"
"Ah ya….maaf. Perkenalkan namaku Natsu Dragneel, kelas dua SMA jurusan IPS. Mohon bantuannya, Ultear-san"
"Salam kenal juga, Natsu-san. Baiklah, kita bisa mulai sekarang"
Tiga bangku di depan papan tulis salah satunya telah terisi, walau Natsu kurang peduli karena lelaki itu adalah orang asing. Lisanna sibuk mencatat soal yang diterangkan oleh Ultear, mengenai bagaimana cara mengerjakan, dan harus memakai rumus apa guna menyelesaikannya. Sesudah itu dia pamit ke toilet sebentar, membuat kericuhan kecil yang disebabkan dua suara saling sahut-menyahut.
"Kamu kenal Lucy?" tanya si orang asing tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Natsu mengernytikan dahi heran, kenapa ia bisa tau? Mungkinkah…..tidak, pasti tidak benar! Lucy belum pernah cerita dia punya pacar
"Begitulah. Kami berteman"
"Oh" ceritanya mau cari ribut, nih? Jawaban singkat yang sukses bikin Natsu panas hati. Diamatinya kembali penampilan si orang asing. Dia nampak tampan, dengan rambut sebiru laut yang acak-acakan. Wajah datar serta nada bicara dingin, menimbulkan kesan misterius, yang membuat wanita manapun pasti tertarik pada pandangan pertama. Apa dia itu ' ' turunan dua, adik angkat Gray?!
"Hoi. Apa pekerjaanmu itu tukang plagiat seragam?" tanya Natsu terang-terangan. Terdapat logo SMA Fairy Tail di lengan seragam bagian kanannya. Dia ogah mempercayai bahwa kenyataan berkata 'mereka satu sekolah!'. Namun tidak mengenal satu sama lain
"Tenangkan dirimu, Natsu! Namanya Jellal Fernandes, dia sekelas dengan Lucy-chan"
"Anak jurusan IPA, ya!" pertanyaan bernada membentak yang membuat Jellal malas menjawab. Natsu tidak terima, keberadaannya diindahkan total oleh si tukang plagiat seragam. Sudahlah, bertengkar di sini sama saja buang-buang tenaga
Pukul empat sore….
Natsu merogoh dalam saku celananya yang terasa bergetar. Satu pesan masuk dari Lucy! Batin Natsu kegirangan. Dia meniru lagak malin, yang bergerak senyap di tengah malam. Mengambil tiga langkah besar menjauhi Lisanna, lalu duduk santai di atas rerumputan hijau. Mencari posisi paling pas sebelum membaca SMS tersebut.
From : Lucy
Besok temui aku di tempat biasa. Mengerti?
Singkat sekali…..Natsu menghela nafas kecewa. Apa Lucy marah, karena akhir-akhir ini aku menjauh darinya? Lisanna berteriak lantang, mencari seorang pemuda yang mendadak hilang entah kemana. Kalau misalnya tertangkap basah, mesti menjawab apa? Natsu bersembunyi dibalik batu besar, menunggu sampai wanita bermulut cerewet itu pulang ke rumah. Merasa keadaan lebih aman dibanding tadi, dia memutuskan untuk keluar, dan….
"Whaa!" teriak Natsu dikejutkan kehadiran Lisanna yang tiba-tiba. Pantatnya mendarat keras di atas rumput, menjadikan seragamnya kotor tertempel tanah liat basah
"Kau kalah telak, Natsu! Aku kangen delapan tahun lalu. Kita sering bermain petak umpet di sini. Tempat persembunyianmu selalu sama, ya…." kenang Lisanna mengulurkan tangan, hendak menolong Natsu yang kesulitan berdiri akibat melamun. Kenapa dia mengingatnya, padahal aku sendiri lupa?
"Yang terakhir sampai di rumah, jadi telur busuk!"
"Natsu, kau curang!"
Keringatnya bercucuran di sekujur tubuh. Natsu menampakkan grins -nya yang menularkan seulas senyum kepada Lisanna. Menyenangkan sekali….berlari mengejarmu di bawah hamparan langit gelap bertabur bintang. Aku tidak benar-benar mengenalimu. Aku bukan orang yang kamu anggap paling dekat. Lalu…bagimu pribadi aku ini apa dan siapa? Terkadang aku pensaran, apa kamu menyukai, langit dimana kita bernaung sekarang? Atau mungkin, kesukaanmu ialah langit berwarna orange? Kelabu? Biru cerah?
Hey, beritau aku, apa warna langit favoritmu?
Keesokan harinya….
"Pulanglah duluan. Aku ada urusan" ucap Natsu datar memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Lisanna yang setia menunggui seketika pupus harapannya
"Urusan apa jika aku boleh tau?"
"Sayangnya ini rahasia. Bye"
"Ingat. Besok ada les!" peringatnya melambaikan tangan, mengantar kepergian Natsu yang sudah tiba di ambang pintu
Kutu tetaplah kutu, menganggu banget! Natsu menyelusuri jalan yang biasa dia lewati. Memasuki batasan antar laut dengan pantai pasir bersih di bawahnya. Tanjakan melandai tidak lagi mendatangkan kesulitan berarti. Lucy berada di sana pertama kali, menepuk-nepuk tempat kosong di sebelah kiri. Mereka terdiam sejenak, suasananya tidak mengenakkan bahkan mencengkam! Pertanyaan serta obrolan, yang telah Natsu rencanakan sepanjang perjalanan menguap begitu saja. Tatapan Lucy mengerikan….
"Apa kamu memang Natsu Dragneel?"
"Jelas kan iya! Hanya ada satu Natsu Dragneel di SMA Fairy Tail. Namaku itu limited edition" candanya mesam-mesem sendiri. Walau tidak mempengaruhi situasi sekarang
"Maaf jika sikapku barusan kasar. Kamu memang menyukai Lisanna. Lagi pula, kenapa aku harus marah, sedangkan hubungan kita sebatas pertemanan biasa? Kamu menjauh dariku memang wajar adanya. Sekali lagi, maaf…."
"Bi-bicara apa kamu ini? Omong-omong, Jellal itu siapa?"
"Pacar baruku…."
Eh…..?
Dugaanku tepat mengenai sasaran! Pernyataan Lucy mengguncang jiwa Natsu yang nyaris tumbang. Dia menundukkan kepala meredam tangis, lelaki sejati tidak akan semudah itu dikalahkan penyakit patah hati! Senyumnya mengembang perlahan menutupi kesedihan. Kau mesti tegar demi sang belahan jiwa! Kau harus belajar mengikhlaskan, jikalau Lucy lebih bahagia bersama orang lain. Natsu menyandarkan kepala di atas rerumputan. Memandang langit biru bergejolak rasa sakit yang menusuk.
"Selamat, ya! Aku mendoakan kebahagiaanmu, Lucy"
"Terima kasih banyak, Natsu"
Penolakan halusmu boleh saja diutarakan, tetapi….apa harus di sini?
Keesokan harinya….
Meski sempat ditolak kemarin, Natsu merasa wajib memberitau Lucy satu hal penting. Dia mana tega, membiarkan hubungannya berakhir tragis, tanpa pembenaran atas kesalahpahaman yang melanda mereka. Lucy duduk manis di kursi depan meja guru. Menopang dagu menggunakan tangan menanti kedatangan seseorang. Siapa kalau bukan Lisanna? Satu-satunya teman wanita yang sangat akrab dengan Lucy saat ini. Natsu menyelonong masuk ke dalam, menempati bangku di sisi kanan.
"Belum pulang?" tanya Natsu sekedar basa-basi
"Lisanna ada rapat OSIS. Sekitar tiga puluh menit lagi aku pulang"
"Perihal pertanyaanmu kemarin….boleh aku menjawabnya?"
"Pertanyaan yang mana? Aku tidak ingat"
"Kenapa aku berubah…." tutur katanya tersendat-sendat, dia kesulitan berbicara dengan lancar. Natsu mengambil jeda cukup lama dan bertekad, semaksimal mungkin mengungkapkan seluruh unek-uneknya
"Mendengar cita-citamu ingin menjadi suster, langsung terpikiran olehku bahwa pasangannya pastilah dokter. Beberapa hari lalu, aku meminta pada Gildarts-sensei untuk pindah ke jurusan IPA. Tetapi beliau berkata, anak IPS tidak bisa pindah ke IPA, dan hanya berlaku sebaliknya. Aku tau, sebanyak apapun berusaha meningkatkan nilai, belajar, tetap saja tidak bisa mengubah kenyataan! Namun setidaknya….bukan hasil nol yang aku dapatkan! Semua demi kamu seorang, sehingga aku meminta Lisanna mengajariku matematika, akuntansi, sejarah….asalkan wanita itu adalah Lucy Heartfilia, maka sebanyak apapun waktu dan tenaga yang diperlukan, aku rela mengerahkannya!"
Iris karamel Lucy berkaca-kaca, mengetahui segala perubahan Natsu demi dirinya. Dia sadar telah bersikap egois. Menciptakan sebuah kebohongan besar yang menyakiti hati sang pemuda, tanpa sedikit pun memikirkan perasaannya. Penyesalan menghantui Lucy terus-menerus, wanita macam apa dia, sejahat itu membuat seorang pria menitihkan air mata, sedangkan Natsu berjuang mati-matian di belakang panggung.
"Sekarang tidak perlu lagi. Aku lebih suka keadaan kita yang dulu" ucap Lucy memeluk erat Natsu. Mengelus punggungnya lembut agar dia berhenti menangis. Seseorang menyaksikan dari awal hingga akhir. Gertakan gigi yang pelan itu menandakan kebencian tersirat
"Berhati-hatilah. Sahabatmu bisa saja merebut kekasihmu" sang suara melewati Lisanna yang tengah geram. Pandangan matanya ikut menunjukkan ketidaksukaan. Siapa dia?
Dusta seharum bunga mawar yang indah, Gray, Erza.
Bersambung….
A/N : Maaf ya author lama banget update cerita ini! Besok harus UTS pula, jadi untuk Kinjirareta Futari ditunda dulu. Review please?
Balasan review :
Fic of Delusion : Thx ya udah review. Untuk sekarang udah mulai masuk konflik. Baguslah jika kamu suka alurnya, author lebih suka bikin yang pelan-pelan dibanding terlalu cepat. Semoga tidak membosankan!
Guest : Siap laksanakan, boss, wkwkwkw. Mulai sekarang konflik bertebaran, mungkin juga terjadi hal-hal di luar perkiraan nanti. Thx ya udah review
nafikaze : Yo salam kenal juga. Thx ya udah review
