Disclaimer: Secret Fire belong to Johanna Lindsey. Since I'm falling in love with the story, I decided to remake it into a fiction. No profits taken.
Firelight; Particle One
The First Encounter
Chapter 3
warn(s): Contain a lot of typos, Mature Content! Historical!AU; Eastern-Europe's view; YAOI, MPreg!
"Tolong!" Baekhyun menggeliat, mencari-cari mata Chanyeol yang seperti beludru. "Tolong aku!"
"Bagaimana caranya, Baekkie?"
"Sentuh aku.. seperti tadi." Baekhyun memohon.
"Aku tidak bisa." Seringaian akhirnya muncul di bibir Chanyeol.
"Oh, tolong—" Baekhyun menelan liurnya susah payah dan Chanyeol sudah siap untuk segera menerkamnya. "Aku tidak mengerti. Kau bilang kau mau membantu! Kenapa kau tidak mau menolongku!"
Well, Baekhyun tidak mungkin senaif itu kan? "Aku akan membantumu, tapi kau juga harus membantuku. Aku juga butuh pelepasan, Mungil. Lihat aku." Chanyeol membuka jubahnya dan napas Baekhyun tercekat, melihat bukti gairah Chanyeol. Ia pun paham. Rona panas spontan membuat pipinya merah padam.
"Tidak.. kau tidak bisa," bisiknya dengan suara pecah.
"Aku harus, Baek. Itulah yang benar-benar kau butuhkan. Aku harus berada dalam dirimu. Aku ada disini untukmu. Gunakanlah aku!" Itu adalah satu-satunya perkataan Chanyeol yang mendekati permohonan yang pernah dilakukannya pada siapapun. Ia tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia menginginkan seseorang sebesar ini.
Chanyeol tidak berkata apa-apa lagi, menunggu, tanpa menyentuh, mengamati Baekhyun bergulat dalam penderitaannya. Pria itu hanya perlu meminta, dan kelegaan akan didapatkannya. Tetapi ia malah memilih untuk bertahan melawan obat itu dan menolak dirinya. Apakah itu harga diri? Mungkinkah ia sebodoh itu?
Chanyeol nyaris bertindak nekat—terkutuklah desahan-desahan Baekhyun—ketika pria itu berbalik ke arahnya, matanya memohon, bibirmya terbuka menggoda, rambutnya berantakan, dan kulitnya bergetar, pusat gairahnya sudah berdiri kemerahan sejak tadi. Ya Tuhan, dia cantik seperti ini, luar biasa sensual.
"Aku tidak tahan lagi, Alexandrov, lakukan apa yang seharusnya kau lakukan, tolong, apa saja—lakukan sekarang." Chanyeol akhirnya tersenyum takjub. Pria mungil ini mampu mengubah permohonan menjadi perintah. Tapi Chanyeol bersedia menuruti perintah apa saja yang diucapkannya.
Chanyeol melepaskan jubahnya lalu berbaring di samping Baekhyun, menariknya mendekat. Baekhyun mendesah karena sentuhan Chanyeol, tetapi desahan itu dengan cepat berubah menjadi rintihan, ia sudah menunggu terlalu lama. Kulitnya, sekujur tubuhnya terutama nipples-nya sudah terlalu sensitif lagi. Sialan! Chanyeol ingin segera merasakan tubuh indah Baekhyun dibawahnya.
"Lain kali, Baek, jangan menunggu begitu lama." Suara Chanyeol tajam karena frustasi.
Mata Baekhyun melebar. "Lain kali?"
"Ini akan berlangsung selama berjam-jam, tapi kau tidak perlu menderita. Kau mengerti? Jangan menolakku lagi."
"Tidak—aku tidak akan melakuannya—tapi tolong, Alexandrov, cepatlah!"
Chanyeol tersenyum—menyeringai lebih tepat, tidak ada orang yang pernah memanggilnya Alexandrov, setidaknya diatas ranjang. "Chanyeol," koreksinya. "Atau Yang Mulia." Chanyeol terkekeh geli sambil mengecupi leher pria dibawahnya. Baekhyun memukulnya dengan tinju yang lemah. "Baiklah, Mungil-ku. Tenanglah. Santai saja."
Chanyeol tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Pinggul Baekhyun mendesaknya dengan liar, melambungkan gairah Chanyeol sampai ke puncak yang berbahaya. Ia menunduk untuk mencicipi bibir manis Baekhyun yang terbuka, bibir itu kemerahan dan menggoda. Chanyeol bisa saja menghabiskan sisa waktunya menciumi bibir Baekhyun tetapi gerakan Baekhyun di bawah memaksanya untuk tetap mengingat masalah utama.
Chanyeol melepaskan bibir Baekhyun untuk memposisikan diri, menangkup wajah Baekhyun dengan kedua tangannya yang besar. Ia ingin melihat wajah Baekhyun saat mencapai puncaknya lagi, melihat kenikmatan tercermin di mata indah pria mungil itu. Chanyeol bersiap lalu menghujam dalam-dalam dan Baekhyun menjerit.
"Demi Tuhan! Baekhyun!" Chanyeol terkejut. "Kenapa kau tidak memberitahuku?!"
Baekhyun tidak menjawab. Ia memejamkan mata dan sebutir air mata bergulir dari sudut matanya. Pria itu sudah bukan anak-anak lagi, teteapi kenapa ia masih perawan? Itu bukanlah hal yang dinilai berharga untuk seorang pelayan. Hanya bangsawan yang menggunakannya sebagai komoditas ketika mengatur pernikahan penting. Chanyeol menyumpah perlahan.
"Berapa umurmu, Baek?" tanya Chanyeol dengan lembut sembari menghapus air mata Baekhyun.
"Dua puluh lima," gumam Baekhyun.
"Dan kau berhasil mempertahankan keperawananmu selama itu? Luar biasa. Kau pasti sangat galak hingga tidak ada pria yang berani menyentuhmu."
"Mmm." Chanyeol tertawa. Baekhyun sudah tidak mendengarkannya lagi tetapi menggerakkan tubuhnya pada kejantanan Chanyeol yang tertanam jauh di dalam tubuhnya. Ia mendesak dengan berani dan menarik Chanyeol lebih dekat lagi. Chanyeol mengerang dan menggertakkan gigi seperti hewan buas. Membiarkan Baekhyun bertindak sesukanya selama mungkin. Ia tidak pernah berpikir bahwa pria kecil galak dan sok jual mahal di bawahnya ini akan sesensual dan seseksi ini saat melakukan seks.
Tidak butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk mencapai klimaksnya, dan walaupun Chanyeol bisa memperpanjang kenikmatannya sendiri, denyut yang dirasakannya pada dinding Baekhyun menjebol pertahanan terakhirnya. Ia bergabung dengan Baekhyun dalam klimaksnya, dan mendengar pria itu berteriak ketika ia meledak lagi.
Dengan jantung yang masih berdebar liar, Chanyeol beranjak duduk di sisi tempat tidur dan menuangkan brendi untuk dirinya sendiri. Ia menawarkan segelas untuk Baekhyun tapi si mungil itu menggeleng tanpa memandangnya. Chanyeol tersenyum. Ia sudah tidak sabar untuk membawa Baekhyun menuju puncak lagi, tapi ia akan menunggu sampai Baekhyun sadar.
Ia kembali, menyangga lengannya di masing-masing sisi tubuh Baekhyun. Baekhyun masih tidak mau memandangnya sampai Chanyeol mengambil gelas brendi dengan isi setengahnya yang dingin lalu menyapukannya ke kedua puncak nipples-nya yang mencuat. Chanyeol terkekeh, senang melihat mata Baekhyun yang indah menyala-nyala karena marah.
"Kau harus membuatku terhibur, Baek. Aku suka bermain-main dengan kekasih-kekasihku."
"Aku bukan salah seorang kekasihmu." Nada benci dalam suara Baekhyun membuat Chanyeol ingin memaksa. "Tapi kau memang kekasihku—untuk malam ini." Ia menunduk dan menjilat nipple Baekhyun dengan ujung lidahnya. Baekhyun tersentak, lalu mengerang ketika Chanyeol mengulum dadanya. Secara naluriah tangan Baekhyun bergerak ke rambut Chanyeol dan menariknya menjauh. Chanyeol yang tidak suka merespons pergerakannya dengan menggigit lembut nipple Baekhyun sampai pria mungil itu menyerah dan membiarkan Chanyeol melakukan sesuka hatinya, tetapi tidak lama kemudian pengaruh obat itu bekerja lagi dan Baekhyun sudah kembali siap untuk Chanyeol.
Chanyeol kembali mengulum nipples-nya. Baekhyun sudah tidak punya kekuatan lagi untuk memprotes. Ia membutuhkan Chanyeol. Itu sudah terbukti tanpa keraguan. Kalau Chanyeol berkeras ingin "bermain-main" dengannya, itulah yang harus ditanggung oleh Baekhyun.
Baekhyun mencapai klimaks lagi sementara Chanyeol membelai pusat kenikmatan diantara pahanya. Jari-jarinya terus mempermainkannya, sementara lidahnya menjelajah setiap jengkal tubuhnya. Rangsangan itu terus menambah kenikmatan Baekhyun, memperbesar ketegangan sampai nyaris tak tertahankan. Tetapi tetap saja, tidak ada yang menandingi kepuasan saat Chanyeol berada dalam dirinya.
Begitulah yang terjadi sepanjang malam. Yang dikatakan Chanyeol terbukti benar. Baekhyun tidak akan menderita lagi selama ia mematuhi setiap perintah Chanyeol, pria itu ada disana untuk menenangkan, melegakan, dan memberinya berjam-jam penuh kenikmatan. Tetapi ia tidak peduli. Malam ini tidak nyata. Sama sekali tidak menjajak realitas. Malam ini akan lebur seperti obat itu, untuk dilupakan selamanya begitu pagi tiba.
-Firelight-
Pagi-pagi buta Vladimir masuk ke kamar tempat Baekhyun dan Chanyeol menghabiskan semalaman penuh berbagi tubuh. Ia merasa sedikit iba melihat kondisi Baekhyun yang benar-benar berantakan. Pria mungil itu pasti sudah dimanfaatkan habis-habisan oleh Chanyeol.
Sementara sang pangeran tidak ditemukan dimanapun di dalam kamar yang beraroma perbuatan semalam yang sangat menyesakkan. Vladimir memutuskan untuk mendorong lemari yang menutupi satu-satunya jendela besar di kamar itu, menyambut baik angin pagi yang berembus masuk.
"Terima kasih, Vladimir," kata Pangeran dari belakangnya. "Aku malas membayangkan harus mendorong benda konyol itu." Chanyeol yang ditemukan sudah berpakaian lengkap dan menenteng jas abu-abunya.
"My Lord!" Vladimir berputar. "Maafkan saya. Saya hanya ingin membangunkannya dan—"
"Jangan," Chanyeol menyentuh rambutnya yang sudah di rapikan. "Biarkan dia tidur. Dia membutuhkannya. Aku ingin melihat seperti apa dirinya ketika ia sudah tersadar sepenuhnya." Chanyeol terkekeh lalu duduk di kursi dekat meja dan menyilangkan kakinya.
"Saya.. tidak menyarankan, Yang Mulia." Vladimir ragu. "Dia bukan pemuda yang menyenangkan."
"Benarkah?" alis gelap Chanyeol naik. "Nah, kurasa itu aneh, mengingat betapa menyenangkan dirinya sepanjang malam. Malah, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku begitu bersenang-senang." Chanyeol menatap ke arah tempat tidur. Ia tadinya berniat untuk mandi dan tidur beberapa jam sebelum persiapan keberangkatan dimulai. Ia memang sudah mandi, tapi Chanyeol tak bisa menyingkirkan Baekhyun dari pikirannya.
Ia berkata jujur pada Vladimir. Rasanya belum pernah ia menghabiskan malam yang begitu aneh namun menyenangkan. Seharusnya ia merasa kecapekan sama seperti Baekhyun. Tetapi ia mengendalikan diri, menahan kenikmatannya sendiri, sengaja mengumpulkan tenaga untuk memuaskan pria mungil itu dengan cara lain. Gagasan harus memanggil anak buahnya untuk membantunya alih-alih ia kecapekan membuat Chanyeol jijik. Tidak. Ia tidak ingin berbagi mawar Inggris yang satu ini.
"Apa kau tahu dia masih perawan, Vladimir?"
"Tidak, My Lord. Apakah itu penting?"
"Kurasa baginya penting. Berikan dia dua ribu pound. Aku ingin dia menerimanya karena sudah memberikan aku malam yang sangat menggairahkan." Tatapan matanya tidak pernah lepas dari Baekhyun yang masih tertidur. "Omong-omong, apakah kau punya pakaian yang bisa dikenakannya kalau dia bangun nanti? Kain kumal yang dikenakannya kemarin mengerikan."
Seharusnya Vladimir tidak perlu sekaget itu. Sikap dermawan sang pangeran sudah terkenal. Tetapi pria mungil ini hanya warga Inggris biasa, ia bukan siapa-siapa. "Kebanyakan pakaian pelayan sudah diangkut ke kapal Lord Seymour, My Lord" Vladimir menjeda. "Dan Saya rasa, Pangeran Kyungsoo juga tidak akan sudi meminjamkan salah satu suit-nya."
"Ah, ya. Kita akan berlayar dengan Kai. Tentu saja kita harus bersiap-siap lebih awal." Chanyeol terlihat berpikir. "Kalau begitu carikan pakaian untuknya saat toko sudah buka." Nada suaranya menuntut. "Aku senang sekali jika ia tidak mengenakan pakaian rombeng itu. Aku akan memanggilmu kalau ia sudah siap untuk pergi." Kali ini tangannya mengibas menyuruh Vladimir pergi.
"Apapun yang Anda inginkan, Yang Mulia." Vladimir pergi dan menutup pintu dengan perlahan. Ia harus segera memberitahu Marushia tentang sikap aneh sang pangeran. Ia yakin Marushia akan merasa geli jika mendengarnya, mengingat ayah Chanyeol juga terpesona oleh satu-satunya wanita yang memberinya keturunan juga berkebangsaan Korea. Syukurlah, pria Inggris yang ini bukanlah bangsawan seperti Ibu Pangeran.
-Firelight-
Matahari sudah semakin tinggi, aktivitas para pelayan Chanyeol semakin meningkat, membersihkan istana singgahnya di Inggris. Vladimir yang dengan sabar menunggu di panggil berdiri di ujung koridor, mengira Chanyeol tertidur. Tetapi masih ada waktu sebelum mereka pergi ke pelabuhan. Vladimir bisa menunggu sebelum membangunkan Chanyeol dan mengabari pelayan Lord Seymour.
Chanyeol tidak tidur, ia sama sekali terjaga dan tidak lelah. Ia bahkan terkejut kerena kesabarannya menunggu Baekhyun. Jujur saja, bersabar bukanlah keunggulannya, ia suka melakukan sesuatu dengan cepat dan tepat waktu, tapi pagi itu berlalu sangat pelan baginya. Ia berhasil menjauhkan tangannya dari Baekhyun beberapa jam di awal, tetapi akhirnya ia menarik Baekhyun ke dalam pelukannya, membelai, membangunkan pria mungil itu. Baekhyun melawannya dengan jengkel.
"Jangan sekarang, Lucy! Pergilah!" Chanyeol tersenyum, agak penasaran siapa Lucy itu. Baekhyun berbicara dalam bahasa Perancis semalam karena Chanyeol berbicara dengannya dalam bahasa itu, dan Baekhyun berbahasa Perancis dengan sangat fasih. Tetapi bahasa Inggris jauh lebih pas untuknya.
"Ayo, Baekkie, bergabunglah denganku." Bujuknya, jemarinya membelai bahu Baekhyun yang mulus. "Aku bosan menunggumu bangun."
Mata indah itu terbuka dan menatap Chanyeol, hidung mereka nyaris bersentuhan. Baekhyun mengerjap, tetapi tidak bisa memfokuskan pandangan. Tidak ada tanda-tanda mengenali, terkejut, atau kebingungan. Sebenarnya Baekhyun kesulitan menerima pria itu dalam pandangannya. Tidak mungkin pria dihadapannya adalah nyata, ia seorang Adonis. Pangeran dari negeri dongeng. Matanya benar-benar meragukan apa yang dilihatnya, karena kenyataan tidak mungkin menciptakan pria seperti itu.
"Bukankah kau seharusnya menghilang saat lonceng tengah malam berdentang?"
Tawa Chanyeol meledak. "Kalau kau begitu cepat melupakanku, Mungil, aku akan dengan senang hati menyegarkan ingatanmu kembali." Wajah Baekhyun mulai memerah, menjalar sampai ke dadanya yang tertutup selimut. Ia terduduk tegak. Ia ingat.
"Jangan merasa malu, kau tidak melakukan kesalahan." Tangan Baekhyun terangkat ke wajah untuk menutupi mata. Bahunya membungkuk, mengayunkan tubuhnya maju mundur gelisah, memberikan pandangan menggoda dari punggungnya yang mulus dan sebagian kecil bokongnya yang digilai Chanyeol.
"Kau tidak menangis kan?" Chanyeol bertanya ringan. Baekhyun membeku, tetapi tidak menurunkan tangannya, suaranya agak teredam. "Aku tidak menangis, dan kenapa kau tidak pergi?"
"Jadi kau menungguku pergi, ya? Kalau begitu, kau meyerah saja. Aku tetap disini."
Mata Baekhyun menunjukkan emosinya lewat kilatan marah "Kalau begitu, aku yang pergi!" Baekhyun menarik selimut yang menutupi dadanya, tetapi Chanyeol berbaring diatas selimut itu dan tidak berusaha untuk bergeming. "Bangun!"
"Tidak." Sahut Chanyeol santai, melipat kedua lengannya dibelakang kepala dengan sikap santai seakan ia tidak punya janji dengan Kai hari ini.
"Waktu bermain-main sudah habis, Alexandrov." Baekhyun memperingatkannya dengan nada yang kaku.
"Baekkie, tolonglah, kukira kita sudah menyingkirkan formalitasnya," omel Chanyeol lembut.
"Apakah aku harus mengingatkanmu kita belum diperkenalkan?"
"Haruskah begitu resmi? Baiklah." Chanyeol mendesah. "Chanyeol Petrovich Alexandrov."
"Kau melupakan gelarmu," Baekhyun mencibir. "Pangeran."
"Kenapa, Baek? Itu membuatmu tidak senang?" sebelah alis gelap Chanyeol terangkat.
"Tidak sama sekali karena itu tidak penting bagiku. Sekarang aku menginginkan sedikit privasi supaya aku bisa berpakaian dan pergi dari tempat ini, kalau kau tidak keberatan."
"Tapi kenapa buru-buru? Aku bisa melihatmu berpakaian, dan aku punya banyak waktu—"
"Aku tidak! Demi Tuhan, aku sudah ditahan disini semalaman. Ayahku pasti cemas setengah mati!"
"Masalah klasik, Sayangku. Aku akan menyuruh seseorang memberitahunya bahwa kau aman, kalau kau mau memberikan alamatmu kepadaku."
"Oh tidak. Aku tidak akan memberimu alasan untuk menemuiku lagi." Chanyeol berharap Baekhyun tidak berkata seperti itu. Ia sadar kalau saja ia punya waktu, ia akan rela mengenal pria ini lebih jauh. Pria ini sangat menyenangkan, orang pertama yang pernah dijumpainya yang sepertinya benar-benar tidak terkesan dengan gelar, kekayaan, maupun pesonanya. Dan tanpa bermaksud menyombongkan diri, Chanyeol tahu ia sangat menarik dimata orang lain. Tetapi merpati kecil ini malah tidak sabar pergi dari sarangnya.
Chanyeol sungguh penasaran dengan pria mungil ini, ia mendekat kepada Baekhyun dan bertanya, "Apakah kau mau pergi ke Rusia?"
Baekhyun mendengus, "Pertanyaanmu sungguh tidak patut dijawab, Yang Mulia."
"Ayolah, Baek. Tidak ada bencana yang terjadi. Benar, kau tidak lagi perawan, tapi bukankah itu sesuatu yang patut dirayakan, bukannya disesali?"
Baekhyun berang, tapi ia harus bisa mengendalikan emosinya sekuat tenaga. "Kau dengan santainya mengabaikan kenyataan bahwa aku diculik, benar-benar diseret dari jalan, dilempar ke dalam kereta, dibekap, lalu dimasukkan ke rumah ini diam-diam, tempat aku dikurung sepanjang hari. Aku dilecehkan, diancam—"
"Itu masalah sepele, Mungil" Chanyeol mengibaskan sebelah tangannya. "Lupakan saja masalah ini, pada akhirnya kau juga bersenang-senang. Meributkannya sekarang tidak ada gunanya." Chanyeol menegaskan, tersenyum. "Nah, tidak bisakah kita melupakan masalah ini? Kemarilah, Baekkie."
Baekhyun mundur, terkejut, ketika Chanyeol mengulurkan tangan ke arahnya. "Jangan! Please!" Nada memohon dalam suaranya membuat Baekhyun kesal, tetapi ia tidak bisa menahan diri. Setelah semalam, ia takut pada reaksinya sendiri kalau pria itu menyentuhnya. Ia belum pernah bertemu dengan pria setampan Chanyeol. Ada sesuatu yang nyaris menghipnotis dari ketampanan Chanyeol. Kenyataan bahwa Chanyeol menginginkannya, bahwa pria itu sudah bercinta dengannya semalaman, sungguh mengejutkan. Butuh usaha keras untuk berkonsentrasi, untuk melindungi diri dengan amarahnya yang berdasar, dan bukan hanya memandangi Chanyeol.
Bukannya kesal karena respon Baekhyun, Chanyeol alih-alih merasa senang. Ia terlalu sering melihat orang yang tidak sanggup menolaknya sehingga tidak mungkin salah mengartikan dilemma Baekhyun sekarang. Walaupun ia masih menginginkan Baekhyun, pria mungil itu masih terlalu gelisah saat ini dan sepertinya tidak akan hilang dalam waktu dekat.
Chanyeol menjatuhkan tangan sambil mendesah. "Baiklah, Mungil. Tadinya aku berharap—ah, lupakan saja." Ia duduk disisi ranjang, tetapi kepalanya menoleh kebelakang, senyumnya yang licik itu sangat memesona. "Kau yakin?"
"Sangat yakin." Sahut Baekhyun, berharap pria itu sekarang pergi.
"Baiklah." Chanyeol berdiri di kaki ranjang. "Sekarang aku akan menyuruh pelayan membantumu. Lalu Vladimir akan mengantarmu—"
"Jangan berani-berani menyuruh penjahat itu kembali kesini," Baekhyun memotongnya dengan tajam. "Kau sama sekali tidak mendengarkanku. Aku akan menyuruh orang untuk menahan Kirov."
"Aku minta maaf karena tidak bisa meredakan harga dirimu yang terluka dengan membiarkan hal itu, tapi aku tidak akan meninggalkan anak buahku."
"Kau tidak akan punya pilihan, Pangeran. Sama seperti aku yang tidak punya pilihan semalam." Baekhyun senang sekali bisa mengatakan itu.
Senyum Chanyeol merendahkan. "Kau lupa kami akan berlayar hari ini."
"Kapalmu bisa ditahan," balas Baekhyun. Bibir Chanyeol mengatup jengkel. "Kau jangan sampai menimbulkan masalah untukku, atau kau akan menyesalinya."
"Lakukan saja apa yang kau suka," sahut Baekhyun kasar. "Tapi kau benar-benar meremehkanku kalau menganggap semua ini sudah berakhir."
Chanyeol menolak berdebat lebih panjang lagi, Sesungguhnya ia takjub bahwa dirinya bisa bertahan untuk berdebat selama itu. Memangnya apa yang bisa dilakukan pria mungil itu? Ia hanya pelayan bukan? Pihak berwenang Inggris tidak akan berani menahan Chanyeol hanya berdasarkan kata-kata seorang pelayan. Hal itu menggelikan.
Pangeran Chanyeol keluar dari kamar Baekhyun dengan langkah besar-besar. Melewati koridor istananya dengan cepat, teteapi tiba-tiba berhenti di tengah-tengah. Ia lupa ini bukan Rusia. Hukum Rusia dibuat untuk para bangsawan. Hukum Inggris mempertimbangkan kesejahteraan warga biasa. Pendapat umum tidak bisa diabaikan disini. Pria mungil itu mungkin saja bisa menimbulkan kekacauan sampai ke telinga Ratu Victoria.
Chanyeol jelas tidak menginginkan hal itu terjadi. Sehubugan dengan kunjungan Tzar[2] ke Inggris dalam waktu dekat, publik pasti bersikap anti Rusia. Tzar Alexander dicintai rakyat Inggris karena Napoleon kalah ditangannya. Tapi bukan itu intinya, kedatangan Chanyeol di Inggris karena tidak ingin perilaku Kyungsoo yang keterlaluan membuat malu Kaisar mereka. Tapi pria mungil itu justru merusak semua rencananya.
"Apakah pria itu sudah bisa pergi sekarang, Pangeran Chanyeol?"
"Apa?" Chanyeol mendongak melihat Vladimir berdiri di depannya. "Tidak, kurasa tidak. Kau benar, Vlad. Dia bukan pemuda yang menyenangkan, dan sudah menciptakan sedikit masalah dengan sikapnya yang tidak masuk akal."
"My Lord?" Vladimir keheranan Chanyeol yang berbicara begitu panjang.
"Kurasa ia harus ditahan." Chanyeol tersenyum, entah mengapa solusi itu tiba-tiba membuatnya merasa senang. "Kurasa kita harus menahannya bersama kita, selama beberapa bulan. Dia bisa dikirim kembali ke sini dengan salah satu kapalku sebelum Neva[3] membeku lagi."
Vladimir dongkol. Beberapa bulan menghadapi pemuda yang menjengkelkan itu bukan sesuatu yang ingin dilakukannya. Mereka bisa mencari orang untuk menahan pria itu disini. Chanyeol tidak perlu membawa pemuda mungil itu, tetapi Chanyeol bahkan tidak mempertimbangkan hal itu. Dia jelas belum selesai dengan pria mungil itu. Apa yang begitu menarik dari pria ini?
Vladimir menduga ia tidak perlu bertanya wanita itu akan ditahan dalam kapasitas apa, tetapi ia tidak boleh melakukan kesalahan. "Statusnya, My Lord?"
"Pelayan, tentu saja. Untuk saat ini, bawa dia ke kapal tanpa keributan. Salah satu peti pakaianku bisa dimanfaatkan. Baekhyun cukup kecil untuk dimasukkan di dalam sana. Dan kau harus menyediakan pakaian untuknya selama perjalanan ini."
Vladimir mengangguk tegas, "Ada lagi, Pangeran?"
"Ya, dia tidak boleh dilukai," sahut Chanyeol, nadanya memberi peringatan. "Tidak ada luka sekecil apapun, Vladimir, jadi berhati-hatilah dengannya. Setelah sampai di kapal, sampaikan pesan pada Kai, Aku dan Kyungsoo akan menunggunya di meja makan."
Dan bagaimana aku melakukannya, kalau aku harus menjejalkan pria itu ke dalam peti? pikir Vladimir. Sementara Chanyeol berjalan pergi, ia kembali jengkel ketika berubah pikiran lagi. Pelayan apanya? Pangeran hanya merasa kesal dengan pria mungil itu saat ini. Tapi Vladimir bisa melihat ketertarikannya yang sangat kuat.
-To Be Continue-
[2]Tzar sebutan untuk Penguasa Monarki Eropa, khususnya di Kekaisaran Rusia.
[3]Neva sungai besar di sebelah utara Rusia yang dilalui dalam pelayaran Rusia-Inggris
You've wited long enough, right? Hehe, sorry, I was busy. I cut so many part from the novel, then add my own part into it. How is it going? Getting worst isn't it? I really did try potraying the character then adapted it into this fic, but if you don't satisfied enough, please kindly tell me, I'd like to make it better. Oh ya, I'm sorry for all the readers if I have so many mistakes during this short time, Happy Ied Mubaraak to those who celebrate it. I am not gonna updated until my holiday is over, haha. Please kindly wait up for the next chapter.
P.S.
Yang mau protes, bash, kenalan(?),nagih update-an silahkan ke Line: dhillajune don't be so shy, it's not like I'm gonna bite anyone. Bye~
