Chapter 4 Tiga Badut
Warning:
OOC, bahasanya jelek, cerita kurang baik, amburadul, kalau tidak suka jangan dibaca, kalau suka tolong reviewnya.
"Percakapan"
'Bicara dalam hati/berfikir'
[Tempat/cerita sebelumnya]
.
.
.
.
Love is a Choice
Story
Malam yang dingin di jalan kecil yang terhimpit dua bangunan besar. Tiga orang pemuda sedang menjalannkan suatu rencana. Dalam percakapannya, 3 orang tersebut salah satu dari orang itu terlihat antusias membicarakannya. .
"Kalian siap"
"Tapi bos?"ucap salah satu orang.
"Jangan kawatir, kita pakai topeng biar identitas kita tidak ada yang mengenali"
Setelah itu mereka memakai topeng badut untuk menutupi wajah 3 orang tersebut.
"Tapi bos... kita masih memakai seragam sekolah?" ucap orang yang lainnya.
"Kalian cupu banget jadi preman... nggak usah takut. Kita hanya memberi pelajaran, tidak lebih dari itu" ucap bosnya menahan amarah.
"Bos...?"
"Apalagi?" orang yang dipanggil bos marah melihat tingkah kedua anak buahnya tersebut.
"Lihat... di atas gedung itu ada CCTV bos"
"Mana?" ucap orang yang dipanggil bos itu. kemudian melihat ke arah yang ditunjuk anak buahnya.
"Itu lho.. diatas dekat tiang lampu"
"Mana.. nggak ada?"
"Bos rabun ya?" tuduhnya.
"Kalian yang rabun.. itu lampu bodoh... bukan CCTV" amarah bos mereka tidak terbendung lagi. Dia pun berjalan pergi.
"Mau kemana bos?"
"Pulang.."
"Loh.. nggak jadi bos?" tanya anak buahnya.
"Capek, mau istirahat"jawab bosnya.
"Ditunda ini jadinya?"
"Gara-gara kalian moodku jadi hilang" ucap bos tersebut segera pergi dari gang tersebut.
"Tunggu bos kami ikut..."
...
[Cerita sebelumnya]
"AWAS..." teriak seseorang dari arah belakangku. Seketika aku tersadar dari pikiranku.
BRUK
Seseorang menabrak diriku dari belakang. "Aaw.."ucapku bersamaan dengannya. Aku tak tahu orang itu sedang di kejar apa. Yang pasti disini, diriku menjadi korban tabrak lari.
"Aduh.."
Kepalaku mendongak ke arah orang yang menabrakku tadi, ternyata orang itu perempuan. Sedetik kemudian dia pun berdiri dan melanjutkan larinya yang tertunda tanpa melihat diriku tersungur di paving. Tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya. Aku terdiam memandang kepergian perempuan yang menabrakku tadi.
"Dasar perempuan aneh" gumamku. Aku segera masuk kedalam kereta.
...
[Sekolah - jam istirahat]
Di kelas 2-2 diriku tergeletak lemas, lebih tepatnya dibangku belakang dekat jendela. Hari ini entah mengapa tubuhku tidak memiliki tenaga. Padahal sebelum berangkat aku sudah makan 2 bungkus ramen. 'Apa itu kurang?' pikirku.
Huft
Aku jadi teringat kejadian pagi tadi, seorang perempuan menabrakku dari belakang waktu di stasiun.
'Kalau tidak salah rambutnya panjang berwarna putih ke pirang-pirangan. Hm.. aku tak sempat melihat wajahnya karna dia terburu kabur' pikirku.
'Ah.. sudahlah mending aku tidur saja'
"Yoo... Naruto" ucap Sasuke mengagetkan diriku yang baru saja tidur..
Aku menatap ke arah suara yang ada didepan mejaku. "Ada apa Sasuke mengagetkan saja?"
"Hehe.. Bisa tidak temani ke kantin?" tanya balik Sasuke.
"Lagi males jalan Sasuke" alesanku.
"Ayolah.. Naruto.. Aku mau beli roti isi kesukaanku. Aku murit baru disini, teman yang aku miliki hanya dirimu" ucap Sasuke menjelaskan.
"Semalam aku kurang tidur jadi ini waktu yang tepat untuk tidur"
"Kalau kubelikan satu untukmu bagaiman?" ucap Sasuke.
"Terimakasih Sasuke tapi hari ini lagi males dan juga tubuhku tidak ada tenaganya untuk berjalan. Jadi intinya males dan ngantuk" jawabku begitu saja.
"Ok.. kalau begitu aku belikan dua roti isi. Bagaimana?" pancing Sasuke.
"Hm.. bagaimana ya- "
"Tiga roti isi" ucap Sasuke sambil menunnjukkan tiga jarinya kearahku.
"- baiklah kalau kamu memaksa.." aku tersenyum dengan tawaran Sasuke.
"Bilang saja kalau kau lapar minta dibelikan Naruto" sindir Sasuke.
"Iya sudah nggak jadi berangkat" ucapku sambil kembali ke posisi tidur.
"Hehe... jangan marah.. Aku cuma bercanda. Ayo berangkat keburu habis nanti rotinya" ucap Sasuke melangkah pergi.
Kemudian kami pergi menuju kantin sekolah. Dalam perjalanan menuju kantin kami melewati lorong sekolah yang banyak pasang mata melihat kami. Banyak suara bisik-bisik yang masuk ke dalam telingaku. Dalam bisikan tersebut terdapat makian yang jelas-jelas ditujukan kepadaku.
"Naruto kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke.
"Jangan kuatir Sasuke sudah kebal" ucapku sambil tersenyum kearahnya.
Aku menghiraukan bisikan tersebut, kelas demi kelas kami lewati. Termasuk kelas 2-1 yaitu kelas Hinata. Kepalaku menengok dengan sendirinya ke arah jendela kelas 2-1. Pada saat itu tidak ada satupun murid yang ada dikelas tersebut. Dan orang yang aku cari otomatis juga tidak ada dikelas.
Entah mengapa aku jadi memikirkan kejadian tempo hari di taman belakang sekolah. Setelah kejadian itu Hinata tidak lagi mengirim pesan lagi. Semisal pesan menyuruh belikan itulah, menyuruh temani itulah, yang semua pesanya mengandung paksaan. Walaupun begitu hatiku tidak bisa menolaknya.
Waktu berlalu begitu saja setelah kami sampai di kantin, Sasuke menepati ucapannya. Dia membelikan tiga sekaligus roti isi kepadaku. Kami duduk dan bercerita seperti pertama kali bertemu. Sesekali aku melirik ponselku di atas meja. Tak ada satupun pesan yang masuk.
'Tidak usah memikirkannya Naruto. Kamu ingat tidak... dia itu perempuan licik, seringkali menyiksa dirimu...' suara hatiku berbicara begitu. Akupun segera menonaktifkan ponselku dan segera mendengarkan kembali Sasuke bercerita.
...
[Kelas 2-2 – pulang sekolah]
Hari-hari dimana setelah bertemu Sasuke yang notabenya sahabat lamaku. Membuat hari-hariku tidak lagi suram, melainkan lebih berwarna. Tidak ada aktivitas diriku tidur di atas atap sekolah lagi. Seringkali waktuku aku habiskan bersama Sasuke di kantin. Padalah hanya berbicara seperti biasa. Tapi diriku tidak bosan sama sekali.
TINGTONG (diganti nada pesannya)
Terdengar suara nada pesan masuk dari ponselku. Setelah itu aku lihat pesan tersebut.
Pesan : "Hay..."
'Siapa ini?'tanyaku dalam hati, no tidak dikenal. Aku pun ragu untuk menjawabnya. Dalam pikiranku ini pasti orang yang sering menghinaku. Siapa lagi kalau bukan orang-orang itu. Aku segera memasukkan peralatan sekolahku dan melangkah pergi dari tempat dudukku.
Detik kemudian nada pesan masuk berbunyi kembali. Dengan reflek tanganku mengambil ponsel yang ada disaku celanaku. 'No ini lagi'ucapku.
Pesan : "Hay.. Namikaze-san"
Aku terkejut dengan isi pesan tersebut. Dia tahu nama margaku dan tidak biasanya ada pesan seperti ini.
"Hay.. juga. Dengan siapa ini?" pesanku dengan sopan.
"Haruno"
'Haruno? Siapa dia.. aku tidak mengenalnya..'pikirku.
"Ada apa Haruno-san?"pesanku.
"Tidak apa-apa hanya ingin kenal"
"Oh.. yeah salam kenal Haruno-san"pesanku. Aku heran dengan diriku, kenapa menanggapi orang ini. Akupun segera memasukkan ponsekku ke kantong celana. Sebelum kakiku melangkah pergi. Lagi-lagi nada pesan masuk berbunya dari saku celanaku.
"Akhir pekan ada waktu luang? Kalau ada, saya mau mengajak Namikaze-san nonton"
Aku berpikir sejenak. 'Aku libur bekerja, mungkin agendaku pergi memancing bersama Shikamaru'
"Maaf aku ada janji dengan teman"
Setelah menjawab pesan tersebut. Detik berikutnya ada pesan masuk dari Shikamaru.
Pesan Shikamaru : "Maaf Naruto acara mancingnya dibatalkan. Masalahnya aku ada ulangan susulan tidak bisa diganti minggu depan. Jadi harus akhir pekan ini kerumah guruku" akhir kalimat terdapat icon wajah senyum.
Setelah membaca pesan dari Sikamaru aku mengernyitkan dahiku. Tanda aku curiga orang yang bernama Haruno-san ini. 'Apa-apaan Shikamaru ini? Mana ada alasan seperti itu..' ucapku dalam hati.
"Ayolah Namikaze-san. Jangan menolak orang yang akan melakukan kebaikan" pesan dari Haruno.
"Mengajak nonton seseorang itu merupakan kebaikan yah... aku baru tahu. Bukannya aku berfikir negatif tapi pikiranku berkatya pasti ada maksud tertentu didalammnya.
"Hm.. gimana yah.." pesanku.
"Mau yeah... saya tunggu di kafe tempat Namikaze-san bekerja" pesannya.
'Kelihatannya orang ini memaksa banget.. ingin aku pergi dengannya. Oh.. ya darimana dia tahu tempat kerjaku?' pikirku.
"Iya terserah Haruno-san. Tapi saya tidak janji" pesanku. Setelah mengirim pesan terakhir padanya. Aku segera menuju halte bus depan sekolah.
.
.
.
[Sakura High School - pulang sekolah]
Seorang perempuan sedang duduk santai ditaman sekolah. Dia menanti orang yang dari jam istirahat belum ditemui. Dari kejauhan orang yang ditunggu sudah menampakan wujutnya.
"Hay Sakura-chan sedang main apa? Kayaknya asik banget mainnya" ucap Shikamaru melihat Sakura memegang posel.
"Eh.. nggak main apa-apa Shikamaru-kun" jawab Sakura sedikit terkejut.
Shikamaru mendekat ke arah Sakura yang duduk dibangku taman. Kemudiah dia duduk di sebelah Sakura.
"Mana bento yang sudah kamu janjikan Sakura-chan?" ucap Shikamaru.
"Oh.. iya Shikamaru-kun.. maaf aku lupa tadi waktu istirahat tidak memberikannya. Jadi Ini bentonya" ucap Sakura sambil mengambil bento yang berada ditas.
"Sudah tak apa-apa.. yang penting Sakura-chan menepati janji" Shikamaru menerima bento yang diberikan oleh Sakura.
"Selamat makan" Shikamaru segera membuka tempat makan milik Sakura dan mencoba satu potong bento.
"Pasti rasanya sudah tidak enak?" tanya Sakura.
"Emm.. amm.. masih enak kok " jawab Shikamaru masih mengunyah bento.
"Syukurlah kalau begitu"
Mencoba satu potong bento, Shikamaru semakin ketagihan memakannya. Dengan cara makannya yang lahap, Shikamaru seperti orang yang kelaparan. Lima menit sudah dia menyelesaikan makanannya.
"Terimakasih bentonya Sakura-chan" tak ada jawaban dari Sakura. Shikamaru pun menengok ke arahnya. Shikamaru heran melihat Sakura senyum-senyum sendiri memandang ponselnya.
'Aku nggak tahu kalau Sakura memiliki kepribadian yang seperti ini' Shikamaru menahan tawa setelah melihat Sakura senyum-senyum sendiri. Kemudian rasa penasaran menghampiri Shikamau. Dia pun punya ide.
"Kamu lagi main apa.. kelihatannya bahagia banget?" Shikamaru mengambil ponsel milik Sakura.
"Eh.. Shikamaru-kun kembalikan" ucap Sakura mencoba mengambil kembali ponsel yang diambil paksa oleh Shikamaru.
"Wah.. ada yang sedang pendekatan nih.." ucap Shikamra setelah melihat ponsel Sakura.
"Kembalikan Shikamaru-kun.." masih berusaha mengambil ponselnya.
"Hanya mau kenal? Hahah.." tawa Shikamaru membaca pesan terakhir Sakura.
"Bodoh.." ucap Sakura menahan malu.
"Kamu benar-benar suka pada Naruto ya?" tanya Shikamaru.
"Bodoh.." ucap Sakura memalingkan wajahnya kesamping. Wajahnya sudah merona hebat karna Shikamaru mengetahuinnya.
"Baiklah kalau begitu-" dengan senyum yang mengembang Shikamaru segera mengetik sesuatu di ponsel Sakura.
"Mau diapain ponselku Shikamaru-kun" ucap Sakura kawatir Shikamaru mengirim pesan yang tidak-tidak kepada Naruto.
"Tenang saja Sakura-chan. Kamu tinggal menunggu hasilnya" ucap Shikamaru tenang. Sedang mengotak-atik ponsel Sakura.
Dengan berat hati Sakura pasrah membiarkan Shikamaru mengotak-atik ponselnya. Sakura hanya bisa melihat tingkah Shikamaru yang sesekali melirik kepadanya dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh Sakura.
"Shikamaru-kun?" tanya Sakura..
"Tenang Sakura-chan.. sedikit lagi beres" ucap Shikamaru sambil mengambil ponsel dikantong celananya. Kemudian mengetik sesuatu.
Lima menit sudah berlalu. "Ini Sakura-chan" Shikamaru mengembalikan ponsel milik Sakura.
"..." Dengan cemberut Sakura menerima ponselnya.
"S-shikamaru-kun?"
"Hm.."
"Kenapa jadi begini?" ucap Sakura setelah membaca pesan yang dikirim oleh Shikamaru.
"Apa? Kenapa? Kamu nggak suka nonton?" Seolah-olah tidak ada yang salah.
"Dasar Shikamaru-kun jahat.. aku belum siap ketemu dia tahu" ucap Sakura. Sakura bingung ingin ngomong apa lagi. Dia tidak tahu rasa hatinya sekarang. Ada rasa senang dan ada rasa malu, semuanya bercampur menjadi satu.
"Jangan kuatir Sakura-chan. Jalani, dan rasakan kebaahagiannya" ucap Shikamaru sambil menahan tawa.
"Shikamaru-kun bodoh.."
"Bodoh..."
"Bodoooohhh.."
.
.
.
Dalam perjalanan menuju kafe paman Kakashi, aku naik bus seperti biasanya. Halte demi halte sudah dilewati. Bus ini berjalan dengan cepat hinga berhenti di halte berikutnya. Banyak penumpang yang naik membuat bus ini menjadi panas. Suasana didalam bus begitu sempit, sampai-sampai mengganggu aktivitas dudukku.
Mataku tertuju pada perempuan parubaya yang sedang hamil berdiri dibelakangku. Dia terlihat kesakitan terdesak orang-orang yang naik bus ini. Entah mengapa diriku lambat dalam menawarkan tempat duduk.
"Bibi bisa duduk disini" ucap perempuan dibelakang tempat dudukku. Nada suaranya sangat lembut sehingga perempuan parubaya tersenyum ke arah perempuan itu.
"Terimakasuh nak" ucap perempuan parubaya itu dan seger duduk.
Aku menoleh ke belakang memperhatikan perempuan yang menawarkan tempat duduknya tadi. Perempuan tersebut juga tidak sengaja melihat diriku menoleh. Kami saling memandang satu sama lain. Ciri-ciri perempuan tersebut memakai kacamata bulat dan memiliki rambut panjang berwarna putih berpadu pirang yang diikat kebelakang berdiri dibelakangku.
'Hm... dia seumuran denganku atau lebih tua satu tahun dariku' batinku. Kemudian aku mulai menawarkan tempat dudukku padanya.
"Hay.. kalau lelah duduk disini. Sebentar lagi saya mau turun di halte depan"ucapku padanya.
"Tidak... terimakasih sebentar lagi saya juga mau turun di halte depan" ucap perempuan itu.
"Ya sudah kalau begitu" ucapku singkat.
Beberapa menit kemudian halte bus depat sudah terlihat. Bus ini pun otomatis berhenti didepanya. Aku menunggu penumpang pada turun duluan, setelah itu baru diriku turun paling belakang. Aku mulai melangkah menuju tempat kerjaku, dari arah depat terlihat perempuan yang sama dengan di bus.
Perempuan itu berhenti tepat di depan kafe tempat kerjaku. Kemudian dia masuk kedalam kafe. Alis sebelah kananku naik dengan sendirinya. 'Mungkin dia seorang pelanggan' pikirku.
...
[Markas Sasori]
"Ok.. malam ini harus tuntas kerja kita" ucap Sasori mau menjelaskan rencana yang tertunda kemarin.
"Siap bos" ucap Daidara.
"Hm.. peralatan sudah kalian siapkan" tanya Sasori.
"Sudah bos" ucap Hidan.
"Baik tepat pukul 9 malam kita mulai beraksi. Pertama tama kita lumpuhkan dulu target kita. Setelah itu bawa target kita ke dalam gudang yang berada dekat dermaga Konoha. Kemudian-" berhenti sejenak menghirup udara.
" -baru kita habisi dia disitu.. ada pertanyaan?" ucap Sasori menjelaskan.
"Target kita mau diapain bos?" ucap Hidan.
"Tunggu sebentar... klien kita nelpon" lima menit berlalu setelah Sasori menerima telpon.
"Tadi kalian tanya apa?"
"Mau diapain korban kita?"
"Tenang saja nanti kalian akan tahu sendiri.." ucap Sasori.
"Kalau target kita meninggal bagaimana bos?" ucap Daidara.
"Jangan kuati akan sesuai prosedur.. apa sudah paham?"
"Paham bos" jawab keduannya.
"Baik mari kita siap-siap dulu.
.
.
.
"Ada acara apa ini rame-rame berkumpul didapur? Tidak biasanya begini" ucap Shikamaru.
"Ini ada pegawe baru Shikamaru" ucap kakashi. Kemudian Kakashi menyuruh pegawe baru memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan saya Shion, mohon bimbinggannya" ucapnya singakat.
"Salam kenal Shion-san" ucap para pegawe kafe tersebut.
Setelah saling mengenal "Ok.. acara perkenalannya sudah selesai lanjutkan kerja kalian masing-masing" ucap Kakashi.
Kemudian para pegawe kembali bekerja seperti semula. Shikamaru memperhatikan perempuan yang bernama Shion tersebut. 'Wajahnya seperti tidak asing bagiku' pikirnya dan menghampiri Shion.
"Hay.. Shion-chan" panggil Shikamaru
"Eh.. ada apa?"
"Kalau kamu butuh bantuan atau mau tanya-tanya bilang saja tidak usah sungkan" uap Shikamaru.
"Hm.. ano.. baik Shiki-"
"Shiki..? panggilan macam apa itu? panggilan saja Shikamaru"
"Ah.. iya Shikamaru-san" ucap Shion
"Dilihat-lihat Shion-chan mirip temannya temanku.. eh.. bagaimana menjelaskannya yah."
"Saya paham Shikamaru-san. Kalau boleh tahu teman kamu namanya siapa?"
'Saat itu Naruto mengajaknya makan ramen bersama. Tapi rambutnya berwarna hitam. Mungkit dia mengecat rambutnya. Dan juga aku tidak tahu namanya... Dari sepulang makan ramen Naruto belum pernah menjelaskannya.. Tidak ada salahnya kalau bertannya' pikir Shikamaru.
"Shikamaru-san" ucap Shion mengibas-ibaskan tanganya ke wajah Shikamru.
"Hehe.. maaf... namanya Namikaze Naruto" ucap Shikamaru baru sadar dari pikirannya.
"Maaf saya tidak mengenalnya.. " ucap Shion.
"Shikamaru ini pesanan no 16" ucap salah satu pegawe.
"Ok... siap meluncur.." ucap Shikamaru. Setelah itu Shikamaru mengantar pesanan tersebut "Shion-chan nanti kita lanjut lagi ngobrolnya" ucap Shikamaru dari kejauhan.
Kafe milik paman Kakashi sangat ramai kalau sedang jam pulang seperti ini. Banyak siswa-siswi pulang sekolah mampir ke kafe ini. Ada juga kariyawan pulang bekerja mengadakan rapat disini. Atau ada acara keluarga merayakan di kafe ini.
Tempat dan suasana kafe ini sangat strategis, berada disamping perempatan dekat lampu lalulintas. Dari 100 m kearah kanan terdapat Sekolah, didepan kafe ini terdapat kedai ramen milik Guy-sensei, dan disebelah kanan berdiri perusahaan-perusahaan besar. Jadi sudah biasa kalau kafe ini ramai pelanggan.
"Maaf paman Kakashi aku terlambat" ucapku.
"Santai saja Naruto.. tapi kau habis darimana?" tanaya Kakashi.
"Tadi ada masalah pencernaan kurang baik"
"Oh.. kalau begitu cepat bantu Shikamaru. Kelihatannya dia lagi kerepotan" ucap Kakashi.
"Iya paman" Aku segera menuju dapur tempat Shikamaru berada.
Dapur sangat sibuk para pegawe mondar-mandir menyiapkan pesanan pelanggan. Shikamaru terlihat kerepotan sekali. Aku tersenyum memandang Shikamaru 'Dia kelihatan sudah ahli mengantar pesanan'.
"Oi... Naruto... Malah senyum-senyum sendiri. Bantuin.." omel Shikamaru.
"Hm.."
"Kau darimana?" ucap Shikamaru.
Pesanan no 8
"Biasa.." ucapku melangkah pergi mengantar pesanan no 8.
"Woy.. Naruto jawab yang benar" ucap Shikamaru.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 08.45 malam. Digang kecil, tiga orang sudah bersiap-siap memulai rencanannya. Gang itu tak ada satupun cahaya bulan yang menerangi kedalah. Semua gelap kecuali layar ponsel yang menyala.
"Baik.. perhatikan betul-betul wajah orang ini.. jangan sampai salah orang" Sasori memperlihatkan foto ke pada Deidara dan Hidan.
"Siap bos"
Waktu berjalan begitu cepat sudah limabelas menit menunggu akhirnya target ke tiga orang tersebut telah muncul.
"Kayaknya itu orangnya bos, tapi dia bersama seorang perempuan?" ucap Deidara menunjuk kearah lelaki disebrang jalan.
"Iya sudah tahu"
"Ayo bos kita tangkap sekarang" ucap Hidan terburu-buru.
"Kau bodoh ya.. ini masih bayak orang.. kita tunggu hingga suasana aman terlebih dahulu.. Setelah itu baru kita SIKAT.."
"Hm.. baik bos" ucap Hidan paham.
Ketiga orang tersebut mengikuti target yang seperti difoto. Sasori dan anak buahnya memakai jaket hitam menutupi seluruh tubun dan kepalanya. Diwajah mereka memakai topeng badut untuk menutupi identitasnya. Sasori memakai topeng badut berwajah tersenyum, Deidara memakai topeng badut bermata besar, dan Hidan memakai topeng badut berwajah sedih dan satu pemukul baseball dibawa olehnya.
Sudah sepuluh menit mereka mengikutinya. Tibalah disuatu tempat seperti bangunan yang lama ditinggal oleh pemiliknya. Sasori selaku bos dari preman tersebut meminta anak buahnya bersiap-siap untuk melakukan penyergapan.
"Kalian bersiap-siaplah setelah tikungan depan, mulai beraksi kita... mumpung dia lagi menerima telpon, kita sembunyi dirumah tua itu." ucap Sasori
"Hm.. Ayo Hidan kita ambil tempat didekat gerbang" ucap Deidara.
"Haha... malam yang indah untuk berburu" ucap Hidan.
Daidara dan Hidan bersembunyi dipohon besar didepan gerbang rumah tua tersebut. Target mulai mendekat sedikit demi sedikit. Hingga sampai diperkarangan rumah Sasori memanggil target dari belakang.
"Yoo kalian-. " sapa Sasori dari belakang sambil menyilangkan tangannya didada.
" -tenang jangan takut" ucap Sasori.
"Siapa kau?"ucap permpuan disamping Naruto.
"Penggemar beratmu" ucap Sasori sambil tersenyum (didalam topeng)
"Kau ada urusan apa dengan kami?" ucap Shion.
"Aku... hanya menjemput rezeki 2019 ini" ucap Sasori.
"Hm.. " Naruto mengajak perempuan disampingnya pergi. Sebelum Naruto melanggkah lebih jauh, Sasori menepuk tangannya untuk memberi aba-aba kepada Deidara dan Hidan untuk keluar.
TING
Suara pemukul baseball yang dibawa Hidan terkena lantai. "Hm... aku haus" ucap Hidan.
"Mau pergi kemana kau?" tanya Deidara.
"Haha... ada gadis imut disini.. sini sama om nggak sakit kok" ucap Hidan.
"Aku nggak takut sama kalian" ucap perempuan disamping Naruto.
"Oh.. begitukah?" tanya Deidara.
"Apa kau mau harta kami?" ucap Naruto.
"Hm... bagaimana yah-" ucap Sasori berhenti berpikir. Kemudian Sasori menepuk tangannya lagi. Hidan maju kearah Naruto yang ada didepannya.
"Kesini anak maniss..." ucap Hidan. Diapun mulai mengayunkan pemukul baseball ke wajah Naruto.
BUAK
"Aaahhh..."
...
[Depan Kafe – sudut pandang Naruto]
Hari ini hari yang sibuk yang pernah aku alami. Dimana banyak sekali pelanggan yang datang ke kafe paman Kakashi. "Rasanya tubuhku sakit semua" gumamku.
"Naruto... " panggil Shikamaru.
"Hm.. ada apa?" ucapku.
"Habis ini mau kemana?"
"Aku mau belanja dulu.. persediaan makanan sudah habis"
"Oh... kalau gitu aku pulang duluan" ucap Shikamaru menuju ke halte bus.
"Hm.."
Aku segera melangkah pergi menuju tempat belanja. Karna malam hari ini uangku hanya cukup untuk membeli bahan masakan, aku memutuskan untuk jalan kaki.
"Namikaze-san"
"..." aku menengok kearah suara yang memanggilku. 'Perempuan ini mau apa?' batinku.
"Kau mau pulang ya?" tanya Shion.
"Hm.. "
"Baiklah kalau begitu kita pulang bareng"
"Tunggu.. kenapa kau mau tahu? "
"Terus mau keman?"
"Woy kau belum jawab pertanyaanku"
"Ok.. aku temani. Dimana tempatnya?"
'Kenapa dengan perempuan ini? aneh. Atau dia tadi mendengar pembicaraanku dengan Shikamaru' batinku.
"Tempat belanja di jalan Hokage" ucapku.
"Baik itu jalan searah ke rumahku.. kita kesana bersama" ucap Shion.
"Terserah..."
Kami mulai berjalan kaki bersama, tepatnya dia didepanku. Aku tak tahu jalan pikiran perempuan ini. 'Hey kita baru bertemu beberapa jam, jangan sok akkrap... denganku. Mengapa seolah-olah kau sudah tahu jalan pikiranku. Tapi aku berpikir positif saja dengan dia' pikirku.
"Em...terimakasih sudah membantuku tadi.. " ucap Shion berhenti berjalan.
Aku memandangnya sejenak "Oh... jangan dipikirkan.." ucapku.
'Jadi dia melakukan ini hanya mau berterimakasih kepadaku.' Pikirku.
"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih" ucap Shion membungkukkan badan.
"Lupakan saja" ucapku sambil melangkah berjalan.
"Tunggu... Namikaze-san" Shion menarik bajuku dari belakang.
Sepontan alis mataku terangkat sebelah "Hm.. ada apa?" ucapku.
"Em.. eto.. "
"Apa?"
"Tidak jadi"
'Sialan.. perempuan satu ini.. buang-buang waktu saja' batinku.
Waktu berlalu kami sampai disebuah rumah tua yang bergaya eropa. Disini tidak begitu banyak kendaraan berlalu lalang atau pun orang yang melintas. Semuanya gelap, hanya cahaya lampu kota yang menerangi jalan trotoar. Didepan rumah itu terdapat satu pohon besar yang sangat tua. Banyak daun-daun bergeletak dibawah pohon besar itu.
Sebelum kami melewati rumah tua itu, nada dering ponselku berbunyi. Seketika aku mengambil ponsel yang berada disaku celanaku. Terlihat nama Sasuke dilayar ponselku tersebut. Aku segera mengangkat panggilan telponnya.
"Halo.. ada apa Sasuke?" tanyaku.
"Naruto.. kau ada dimana sekarang?" tanya Sasuke.
"Aku habis pulang kerja.. memangnya ada apa?"
"Minta tolong belikan ramen ekstra jumbo dua porsi yeah... nanti aku ganti" ucap Sasuke.
"Hm.. tapi aku agak sedikit lama.." ucapku. Soal uangku yang hanya cukup untuk membeli bahan persediaan masakan. 'Terpaksa tidak jadi membeli bahan masakan, aku tidak enak untuk menokak permintaan Sasuke..'
"Ok aku tunggu.. sesuai aplikasi ya mas.. jangan lama-lama"
"Sialan... kau kira aku tukan ojek makanan apa?"
"Hahah.. maaf bercanda..."
TUUTTT
Segera aku menutup telponya dan memasukan ponsel kedalam saku celanaku. Bola mataku melirik kearah Shion berdiri. Dia hanya melamun menatapku dengan wajah yang aneh. Aku meresponnya dengan menaikkan kedua bahuku keatas. Dan setelah itu aku segera mengarahkan wajahku kedepan untuk berjalan kembali.
Didepan rumah tua yang bergaya eropa tersebut. Aku merasakan ada seseorang yang mengawasi kami dari belakang. Penasaran dengan keberadaan orang yang ada dibelakang, aku menengok kearah belakang. Tak ada siapapun dibelakang kami, hanya kegelapan malam yang terlihat oleh mataku.
Shion memandangku yang tiba-tiba menengok ke belakang. "Ada apa?" tanya Shion.
"Aku merasa ada yang mengikuti kita dari belakang" ucapku memberitahu Shion yang aku rasakan dari tadi.
"Mana... nggk ada...?" tanya Sihon.
"Hm... yah sudah kita lanjut jalan saja" ucapku. Satu langkah kami berjalan, bulu kuduku berdiri setelah suara dari belakang memanggil kami.
"Yoo kalian-. " suara dari belakang.
Dengan reflek kami memberanikan diri menengok kearah suara itu berada. Aku melihat topeng badut muncul dari balik gelabnya tembok rumah.
DEG
Aku terkejut jantungku bedetak dengan cepat, terasa darahku dipompa dengan begitu cepat melalui pembulu darahku. 'Jangan-jangan ini hantu penunggu rumah tua ini?' pikirku.
" -tenang jangan takut" ucap suara itu melannjutkan.
'Apanya yang jangan takut... bulu tanganku sudah berdiri semuai ini...' batinku.
"Siapa kau?"ucap Shion menyadarkan pikiranku.
"Penggemar beratmu" ucap badut berwajah tersenyum.
"Hm.. kita lari saja Shion-san" ucapku berbisik ke telinga Shion.
"Tenang saja Namikaze-san jangan panik" ucap Shion menenangkan diriku.
"Kau ada urusan apa dengan kami?" ucap Shion.
"Aku... hanya menjemput rezeki 2019 ini" ucap orang tersebut.
Aku segera menggenggam tangan kiri Shion dan segera mengajak pergi dari situ. Langkah kami tidak begitu panjang. Sebelum kami melanggkah lebih jauh, orang yang memakai topeng badut menepuk tangannya dua kali.
PLAK PLAK
TING
Suara pemukul baseball yang dibawa salah satu badut didepan kami terkena lantai. "Hm... aku haus.." ucap badut membawa pemukul itu..
"Mau pergi kemana kau?" tanya badut bermata lebar.
"Sial.." umpatku. Dari balik pohon besar muncul dua orang badut yang menghadang jalan kami.
"Haha... ada gadis imut disini.. sini sama om nggak sakit kok" ucap badut membawa tongkat baseball.
"Dasar mesum.." ucap Shion.
"HAHAHA..." ucap badut membawa tongkat baseball.
"Sini maju kalau berani... aku nggak takut sama kalian" ucap Shion.
'Aku tidak tahu kenapa perempuan disampingku sangat berani? Apa dia tidak takut sedikit pun? Atau dia memiliki bela diri seperti karate, silat atau sejenisnya...? Aku pribadi sangat takut mau bagaimana dalam menanggapi situasi seperti ini..' pikirku.
"Oh.. begitukah?" tanya badut bermata lebar.
"Apa kau mau harta kami?" ucapku untuk mencari solusi dari keadaan kami ini.
"Hm... bagaimana yah-" ucap badut dibelakang kami. Kemudian badut itu menepuk tangannya dua kali lagi.
PLAK PLAK
Badut yang membawa pemukul baseball maju kearah diriku. Aku merasa akan ada sesuatu yang menimpa diriku.
"Kesini kau anak maniss..." ucap badut itu. Diapun mulai mengayunkan pemukul baseball tepat ke wajahku.
BUAK
"Aaaaaahhhh..."
To Be Continue...
"Maaf kalau ceritanya ada sedikit genre comedynya dan kali ini sangat pendek. Semoga kalian terhibur"
Terimakasih atas review, saran dan pendapatnya.
From:
Rikudou Pein 007
Kurotsuki Makito
Adislt
Darkvincent
AbL3h Namikaze
Choku Tomoe
Hamba Allah
