DENIED

Tetsuya menatap nanar pada undangan prom yang baru dia dapatkan. Sudah mendekati hari H, tapi belum satupun dirinya mendapat seorang pria untuk dibawa kesana. Menyebalkannya lagi, yang banyak mengajaknya adalah kaum wanita. Duh, Tetsuya kurang manis dan cantik apanya coba?

Aomine Daiki, sahabat dari jaman bocah yang rencana jadi pilihan terakhir, malah mencari cewek-cewek berbikini. Dan kenapa hanya Momoi yang mendapat banyak tawaran kencan? Padahal segala yang disarankan olehnya telah Tetsuya lakukan. Hidup memang kadang mengesalkan!

Disclaimer :

Kuroko No Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Original Story by Gigi

Warning :

T

AkaFemKuro

Shoujo – Little Shounen ai

Friendship, Romance, Fluff

Out of character

Rasa-rasanya Tetsuya malas sekali masuk kampus hari ini. Teman-temanya selalu mengoceh tentang bingung memilih teman kencan atau gandengan. Sedangkan dirinya? Ya Tuhan, salah apa memang Tetsuya hingga banyak yang mengira dirinya pria!

"Tetsu, kau datang kan?"

"Harus dengan pasangan memangnya?"

"Tidak sih, atau kau mau jadi pasanganku?"

"Kalau kau tak jelalatan memandan wanita berbikini, mungkin aku mau menjadi gandenganmu, Aomine-kun."

"Jangan jual mahal gitulah." Aomine menowel dagu Tetsuya, "Ayo sini sama abang."

Mata Tetsuya memincing tajam, lalu menjitak jidat sahabatnya dengan tangan.

"Ittai, Tetsu!"

"Kenapa harus kau yang menawariku untuk datang?" Rasanya Tetsuya ingin pundung dipojokkan.

"Begini-begini, aku populer loh."

Iya populer. Siapa yang tidak kenal Aomine Daiki disini? Si anggota inti basket, yang dim, sering tidur di kelas, dan obsesi mengerikan tentang paha dan dada yang tak tertandingi.

"Kalau saja Aomine-kun tidak terobsesi dengan paha dan dada, mungkin aku mau datang bersama."

Aomine berdecak, "Tidak ada laki-laki yang tahan dari godaan dada dan paha, Tetsu. Apalagi jika mereka yang berbunyi boing-boing dan padat, rasanya- Ittai!"

"Jaga ucapan didepan perempuan,"

"Siapa?"

"Tentu saja aku!"

"Kau? Coba buka kaosnya dulu, ada yang mengembang atau hanya papan penggilasan."

Kurang ajar. Jika Aomine bukan sahabatnya, sudah Tetsuya masukan berkas kepolisian dengan judul pelecehan.

"Aomine-kun belum pernah dilempar sandal?"

"Maa..ma rileks, Tetsu." Ujar Aomine yang melihat Tetsuya sudah mengambil beberapa sandal entah milik siapa, "Atau mau aku kenalkan ke teman-teman basketku, siapa tahu ada yang mau memungutmu?"

Yang benar saja, memangnya Tetsuya hewan terlantar?!

Menyebalkan, bukannya tambah damai setelah curhat, kini Tetsuya malah merasa salah memilih sahabat.

Pantulan kaca masih menyisakan sosoknya. Tetsuya sungguh bingung ingin memakai gaun yang seperti apa. Yah, meski berpenampilan begini, tapi ibunya tak pernah absen membelikannya dress, jaga-jaga jika ada pangeran tiba-tiba nyasar menemuinya.

Long dress dengan punggung yang terekspos?

Helai biru menggeleng pelan, rasanya belum pantas dirinya memakai pakaian seperti itu sekarang.

Midi dress?

Tetsuya menggeleng lagi, rasanya aneh dan terasa kurang pas.

Pilihan terakhir jatuh pada koleksi mini dress miliknya. Memang tidak banyak, namun pantas lah untuk prom kampusnya. Lagipula, Tetsuya terlalu pelit jika harus membeli baju baru untuk acara seperti ini yang sebenarnya hanya membuang tenaga.

Diambilnya sebuah mini dress berwarna merah marun, yang berkombinasi dengan pinggiran warna hitam metalik berbahan satin dan brokat, simple tapi elegan. Membuatnya mengekspos warna kulit putih Tetsuya yang memang putih dan mulus dari pertama dilahirkan.

Rambut pendeknya hanya ditata sedemikian rupa hingga rapi, lalu diberi jepitan simple disisi kiri. Kemudian bedaknya tersapu polos, toh muka Tetsuya sudah putih alami. Bibirnya diberi sentuhan lipstick tipis. Namun semua itu bukan karena Tetsuya dandan sendiri, tapi hasil karya Momoi Satsuki.

"Aaaa, Tet-chan, kawaiii!"

"Se-sesak, Satsuki-san."

"Mou, padahal kita sudah berteman dari bayi, tapi masih diberi embel-embel –san."

Tetsuya hanya tersenyum, "Kebiasaan."

"Aku maafkan, tapi sering-sering dandan seperti ini."

"Aku harus bangun dini hari tiap pagi jika ingin begini."

"Mou, tapi Tet-chan sangat imut. Ugh, aku jadi iri." Momoi memperbaiki dandanannya sendiri, "Padahal Tet-chan kan laki."

"Aku copot lagi dandanannya."

"Bercanda-bercanda," Momoi meringis, "Sudah siap?"

"Aku jalan sendiri."

"Ikut aku saja."

"Maksudnya aku jadi obat nyamuk saat kau dan Izuki senpai jalan? Tidak, terimakasih."

"Tapi kalau kau jalan sendiri dengan penampilan seperti ini, akan mengkhawatirkan."

"Memangnya aku bagaimana? Hanya seperti biasanya."

Momoi menatap Tetsuya tidak percaya, "Sepertinya bukan hanya Midorin yang butuh kacamata, tapi Tet-chan juga."

"Hah?"

"Ayo pokoknya ikut saja."

Dan beginilah akhirnya, kini Tetsuya berada dalam mobil kakak tingkat yang juga teman prom sahabatnya.

"Tet-chan nanti jangan mau diberi minuman atau makanan orang yang tidak dikenal, ya."

Memangnya Tetsuya anak kecil apa?

"Iya."

"Jangan mau diajak ngobrol orang asing ya."

Sejak kapan kakak tingkatnya ini bertingkah seolah ayahnya? Tapi Tetsuya hanya mengangguk. Tak mengiyakan atau menolak permintaan.

"Sudah sampai." Momoi kembali membenahi dandanan, "Tet-chan masuk sendiri, apa barengan?"

"Sendiri, nanti dikira harem-an."

Uhuk! Izuki yang tadinya minum air mineral, menyembur keluar. Mukanya boleh datar, tapi jenis kata yang keluar sedikit berarti liar.

Seperti yang diharapkan, suasana pesta kampusnya memang gerlap gempita. Semua mencoba menonjolkan apa yang dia punya. Gaun termahal, berpadu dengan riasan dari penata rias terkenal. Kemudian saling memamerkan pasangan. Entah jadi pasangan beneran atau hanya semalam.

Dan hal pertama yang Tetsuya lihat ketika masuk adalah ruangan yang tiba-tiba hening menyapa, kemudian puluhan mata yang mengamati kedatangannya, lalu sedetik kemudian ada siulan menggoda.

Tapi Tetsuya tidak ingin percaya bahwa siulan itu untuknya. Bisa jadi karena Momoi jalan dibelakangnya. Namun, ketika matanya melihat kiri kanan, Tetsuya hanya mendapati dirinya seorang.

Lalu matanya meneliti lagi, siapa tahu dirinya digoda karena ada yang salah dengan penampilannya.

Flat-shoes berwarna hitam-merah. Senada dengan gaunnya. Kemudian tasnya juga tak masalah. Lalu satu tangannya mengambil kaca kecil yang Momoi selipkan. Tak ada yang perlu perbaikan. Lalu apa? Apa yang membuat laki-laki di kampusnya memberi siulan menggoda?

Tak ambil pusing, Tetsuya terus melangkah didalam hingga dirinya menabrak sebuah benda yang teridentifikasi merupakan dada bidang.

"Maaf, aku-"

"Iya nona-" Tangan kokoh menjepit dagu miliknya, "Tetsuya?"

"A-Akashi-kun?"

"Kau Tetsuya?"

Muka Tetsuya memerah. Antara malu dan entahlah.

"Ayo ikut aku." Tangan itu menariknya. Menautkan kedua jari mereka layaknya sepasang kekasih yang tengah mencinta.

"Kemana?"

"Ikut saja." Akashi berjalan, sambil menarik tangan Tetsuya yang ternyata begitu lembut ketika dipegang. Dan berhenti setelah wajahnya menengok kebelakang.

Raut wajah memerah, lalu lengan putih yang terekspos, kemudian kaki jenjang yang menawan dapat dilihat setiap insan yang memandang.

"Akashi-kun?"

Akashi melepas jasnya, kemudian menaruhnya di pundak Tetsuya, "Pakai ini." Dan Akashi kembali menariknya, membelah keramaian pesta, menuju tempat yang lebih sepi untuk interaksi berdua.

"Tetsuya," Dua tangan kokoh Akashi menangkup muka Tetsuya yang tersapu make up tipis. Dalam hatinya, Tetsuya sedikit malu meski sudah tahu bahwa Akashi tidak tertarik dengan wanita, "Aku tidak menyangka bahwa kau begitu menyukaiku."

Eh? Apa katanya tadi? Apa Akashi tahu bahwa Tetsuya menyukainya? Duh malunya, padahal dirinya tahu kalau Akashi doyan pria.

"Apa maksudmu?" Tanya Tetsuya sambil menekan suaranya agar tidak gagap.

"Kau berdandan seperti ini hanya untukku, kan?"

70 persen iya, 30 persen karena Tetsuya mencari pasangan.

"Aku menerima Tetsuya apa adanya."

"Aku menerima Tetsuya apa adanya." Akashi berucap mantap sambil menatap dua aquamarine yang bersinar ditengah malam, "Kau tidak perlu seperti ini, Tetsuya."

"Maksud Akashi-kun?"

"Aku tahu, kau seperti ini agar aku tak malu. Tapi percayalah," Make up Tetsuya disapu dengan sapu tangan miliknya, "Tetsuya yang biasanya sudah menggoda. Dan lagi berdandan seperti ini akan melukai harga dirimu sebagai pria."

Dak!

Bersama dengan hilangnya senyum di wajah Tetsuya, Akashi bisa merasakan tulang keringnya ditendang Tetsuya menggunakan flat-shoesnya.

"Aww!"

"Akashi-kun, mati saja!" Lalu Tetsuya melepas tautan, dan pergi meninggalkan Akashi yang kesakitan. Ramping begitu, daya tendang kaki Tetsuya menakutkan.

"Tetsuya!"

"…"

"Oiii!"

Sambil meringis, Akashi bersandar karena tak mampu mengejar. Apa salahnya? Bukannya harusnya Tetsuya senang karena Akashi membalas perasaannya? Karena dalam sekali lihat, Akashi bisa paham jika Tetsuya ada rasa. Lalu kenapa Tetsuya malah menendangnya dan menyuruhnya mati saja?

Apa ada yang luput dari pengawasan heterokromnya yang terkenal awas dan tajam? Ah, memang begini resiko orang tampan. Mungkin Tetsuya malu karena Akashi sudah tahu.

Ya, pasti begitu.

To be continue.

AN :

Yang ini ada yang ingat? Wkwk

Semoga ingat ya^^

Untuk semua review yang masuk, saya berterimakasih sekali, dan maaf belum bisa membalas karena banyaknya pekerjaan yang keluar masuk tanpa jeda. Makanya sampai telat bikin ff spesial buat Akashi-sama :')

Otanjoubi omedetou Akashi-sama, semoga langgeng dengan Tetsuya :*

Terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.