Author : Hibiki Kurenai

Title : the UnRomantic Love Story

Genre : Comedy 50%, Friendship 30%, Romance 20%, Slice of Life

Cast : EXO, SHINee, TVXQ, SuJu

Pair : SuHo x Lay [main pair], 50%OffPairs, 50%CrackPairs

Setting : Alternate Universe

Rate : T (beneran segala umur loh)

Length : masih belum jelas. LoL

Warn : OOC! Of course, Don't Like Don't Read. You've been warned, ma dear~

.

.

DisClaim : semoga amal n ibadah semuanya di terima di sisi-Nya. *PLAKK! BUGH! DHIESS! dihajar massa* euhm... mereka semua milik Yang Maha Kuasa n orang tua masing2. Hehehe...

.

.

.


.

.

.

Okay~ udah clear, udah fix!

Gue udah ga galau lagi, kita udah ga galau lagi.

Jadi kalo gue sekarang jerit2 "WELCOME TO 'otp. ELEVEN PLUS ONE' (11+1)!" udah ga bakal ada yang ngelempar gue pake batako lagi kan ya?

Kekekekeke~

Cause with the ruckus, the rumour and etc, we are know that there's no otp. TWELVE anymore.

Kalo pun bisa jadi dua belas ekor lagi secara utuh, kemungkinan.x toh nyaris zero~

.

.

Tapi gue ga akan berhenti nulis fics yg ada YiFan.x~

Coz gue sayang sama mereka semua, termasuk YiFan. Jadi gue ga akan nyerah buat jadi KTs. Lagian, nulis fics EXO tanpa segala keanehan n keabstrakan Laxy-hyung itu serasa makan sayur asem yang kuah.x kurang asem jawa.x. Hahay~

.

.

Ah, once more~

Ada temen gue fans EXO dari London –author di AFF– yang pernah bilang…

" Jangan ngaku jadi fans suatu boyband kalau ternyata ada satu member yang lo benci di boyband itu. Misal.x, gue suka EXO tapi gue ga suka XiuMin coz yada~ yada~ yada~. Kalo lo suka boyband, maka lo harus suka semua.x. Semua member.x, semua sifat yg ada pada mereka juga. Buruk.x, baik.x. Sukai mereka apa ada.x. Begitu juga waktu ada member yg hengkang, jangan langsung ngejudge jelek trus berbalik jadi memusuhi si ex-member. Dia keluar pasti ada alasan.x. Dan sebagai fans setia, harus.x bisa bangkit dari keterpurukan. Ga perlu sedih, galau, kesel, marah terlalu lama. Kalau pun berpisah jalan dari rekan2.x yg lain, harus.x kita bisa mendukung kedua2.x. Coz biarpun udah ga bersama, mereka masih tetap satu kesatuan di hati kita. Jadi ada fanwar berlarut2 antar sesama fans gara2 hal ini itu ga banget! "

.

.

Sejauh ini, gue setuju sama temen gue itu. Maka.x gue –fanbase di tempat gue maksud.x–, ga sekedar nyebut 'otp. 11' doang. Tapi 'otp. 11+1'.

Gue n rekan2 mendukung kedua belah pihak secara seimbang.

Menyayangi EXO ato pun YiFan secara sama rata.

Ga ngeblame EXO dengan kata2 menyudutkan mereka waktu itu. Ga ngeblame YiFan yg hengkang di saat kritis. Coz kami tahu, yg pergi n yg ditinggalkan sama2 menanggung luka. Malah, luka yg dirasakan pihak yg bersangkutan lebih dalam dari pada yg dirasain fans. Jadi sebagai fans, kita harus bisa bertahan menghadapi ini semua.

.

.

Senyuman mendukung penuh ketulusan yg diberikan fans buat mereka disaat susah itu sesuatu yg ga ternilai, aniya?

.
.

Well, curcol gue udahan yak?!

Kekekekeke~

Please, yg ga demen sama curcol gue silakan protes via PM. Ga usah rusuh di comment, ne?!

#ganurut_guegorok_leherlo

.

.

Yak~ sampe jumpa tiga minggu lagi, ne?

Bubyeeeeee~

.

.

.


.

.

.

.

.

.

There's

CHAPTER IV

.

.

.

.

HAPPY READING NYAAAW~ (n_n)V

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

" MAMAAAAA! " seorang anak lelaki manis bertubuh jangkung untuk anak seusianya berlari menghampiri seorang pemuda yang juga manis dengan mata panda dan bibir feline-nya.

" HimChan?! Cepat sekali kau datangnya. YongGuk mana? " tanya pemuda itu sambil celingukan mencari-cari orang yang biasa mengasuh putera semata wayangnya itu.

" Ma… maafkan aku, Tao laoshi! Aku kehilangan jejak Hime! " yang bersangkutan muncul dengan nafas terengah-engah.

" Sudahlah, tidak apa-apa. Toh kalau anak ini tersesatnya cuma di area kampus, pasti bisa cepat ketemu. Ne? Hime-chan? " ZiTao memang tersenyum ramah, tapi tangannya sibuk menjewer telinga anaknya yang bandel itu.

" A… Ampun! Mama! Aku janji tidak akan kabur lagi! Adududuh! " bocah berumur delapan tahun itu mengaduh memegangi telinganya yang memerah.

.

.

.

.

Ketiganya berjalan melewati lorong-lorong gedung utama kampus. Sambil mengobrol ringan atau sesekali membalas sapaan dari orang yang mengenal mereka. Inilah keseharian ZiTao, seorang ibu tunggal di usianya yang masih muda, baru dua puluh lima tahun. Menunggu puteranya HimChan pulang sekolah sekitar pukul tiga sore. Lalu menitipkannya pada rekan sesama dosen, Zhang YiXing, yang seumur-umur belum pernah kebagian jatah mengajar sore. Sementara dia sendiri akan melanjutkan pekerjaannya sebagai dosen atletik dan martial arts sampai jam delapan malam. Hari ini pun tidak jauh berbeda. Sebentar lagi, tinggal satu belokan lagi mereka akan sampai di kelas tempat YiXing mengajar.

.

.

.

.

" Ah! Syukurlah ada Tao laoshi! " seru seorang mahasiswi yang tiba-tiba muncul di ujung tikungan.

" Yeah, Vic. Ada apa? " sahut ZiTao santai. Sudah terbiasa dengan murid-murid YiXing yang sama anehnya dengan dosennya.

" Tolong kami! " pinta gadis itu panik.

" Memangnya apalagi yang Lay-ge lakukan? " tanya ZiTao yang mulai bingung.

" Tolong suruh Lay laoshi berhenti mengajar! " Victoria buru-buru menarik tangan ZiTao.

" Apa-apaan ini?! "

.

.

.

.

Pertanyaan ZiTao terjawab saat dia masuk dalam ruang kelas nan luas mirip studio yang keempat sisinya dilapisi cermin. Di seberang pintu, tampak YiXing berdiri bersandar di tengah dinding kaca. Dari jarak sekitar sepuluh meter, mata ZiTao yang tajam bisa melihat kalau kondisi gege-nya itu sedang tidak sehat. Pria manis itu tampak terengah dan mukanya pucat. Para murid hanya berdiri diam tak bergerak dalam posisi masing-masing, tidak ada yang berani mendekati sang dosen. Che, Lay-ge dan sifat keras kepalanya yang menyusahkan! gerutu ZiTao dalam hati.

.

.

.

.

" Oke, oke~ kalian semua bisa pulang sekarang! " ZiTao berteriak dengan volume maksimal.

" Tao? " panggil YiXing lemah.

" Cukup, ge. Kau ini, sudah tahu sedang tidak enak badan. Masih maksa mengajar. " omel si pria feline sambil menghampiri seniornya itu.

" Habisnya… " tubuh pemuda manis itu perlahan merosot ke lantai setelah ruang kelas kosong. Menyisakan dia, ZiTao, HimChan dan YongGuk. " Ummph…! "

" Apa yang kau rasakan, ge? " tanya ZiTao.

" Mual... Pusing… Uhk! " YiXing mengernyitkan alisnya, tubuhnya mulai berkeringat dingin.

" Lalu? " dengan isyarat ZiTao menyuruh HimChan mengambil keranjang sampah di pojok ruangan. Buat jaga-jaga kalau YiXing nanti muntah.

" Perutku… sssh… kram… "

" Yah! Gege, Lay-ge! Bangun! "

.

.

.

.

.

.

\(^._.^)_(^._.^)/

.

.

.

.

.

.

" Oke, pertanyaan terakhir… Hmmm? Ini cukup menarik. " presenter wanita itu tersenyum geli membaca catatannya.

" Menarik bagaimana noona? " SuHo memasang senyum bisnisnya di depan kamera.

" Begini~ sudah jadi rahasia umum kalau kau adalah seorang gay. Sudah bukan rahasia juga kalau ada dua orang pengusaha terkenal yang terus mengejarmu. Nah, nah, kalau bisa memilih, kau ingin memilih siapa? Wu YiFan atau Park ChanYeol? " tanya si presenter dengan ekspresi oh-aku-bisa-mati-tertawa. " Jawab yang jujur ya? Karena yang penasaran bukan hanya aku lho~ "

" Oooh… masalah itu~ " SuHo memamerkan senyumnya yang paling menyilaukan, membuat si presenter bergidik ngeri karena tahu arti senyuman itu. " Aku tidak akan memilih keduanya. "

" Ja… jadi begitu? Tidak ada alasan? " noona presenter itu tersenyum salah tingkah.

" Tidak ada. Apa masih ada pertanyaan lagi? "

.

.

.

.

Si presenter menggeleng canggung. Suasana berat tidak enak yang mendadak tercipta di sesi akhir talkshow itu terselamatkan oleh isyarat crew kamera yang menandakan durasi hampir habis. Begitu kamera dan seluruh peralatan perekam di-off-kan, suasana mencekam semakin terasa. Para crew dan tamu artis lain tidak ada yang berani mendekati SuHo selama senyum maut raja iblis itu masih terpasang di wajahnya. Dalam hati mereka mengutuki kecerobohan team kreatif yang memasukkan pertanyaan laknat itu. Untung ini bukan siaran live, jadi scene tadi bisa diedit.

.

.

Senyuman angelic –tapi beracun– SuHo baru luntur saat masuk ke ruang ganti. Tipe wajahnya yang lembut memang tidak bisa dibuat jadi lebih sangar lagi. Tapi makian 'sopan' dan gerutuan pelan yang meluncur dari mulutnya bisa jadi penanda kalau pemuda angelic itu sedang dalam mood yang sangat buruk. Kai sendiri cuma geleng-geleng kepala. Kalau sudah begini tidak ada yang bisa meredakan amarah boss-nya itu. Well, kecuali YiXing tentunya. Pria tan ini kembali menghela nafas saat mengingat puluhan miscall dari duo mahluk 'abstrak' yang masuk ke ponsel SuHo. Hyung pasti akan melempar ponselnya nih…

.

.

.

.

" Dua mahluk sialan itu… " geram SuHo dengan nada rendah. Dia hampir melempar ponselnya seperti yang dipikirkan Kai, ketika sebuah panggilan bernomor asal China muncul di layarnya.

" Siapa hyung? " tanya Kai yang mengintip dari balik bahu SuHo.

" Molla, paling juga dari si tiang bendera lapangan TiananMen itu. Oi, naga jangkung idiot, mau apa kau telepon pakai nomor asing segala?! Trick-mu tidak akan mempan! " sergah SuHo ketus.

" Siapa yang kau sebut idiot, hah, dasar rakyat jelata! " sebuah suara yang asing menanggapi ucapan SuHo. Suara yang dikenalnya sebagai…

" Lu… LuHan-ge?! " yang mulia siluman rusa jejadian! pikir Kai dan SuHo sambil menelan ludah. " Ehmm… ma… maaf gege. Aku kira ini nomor orang lain. "

" Che, andai kau bukan adik iparku, aku pasti sudah menghajarmu sampai bonyok. Cepat kau keluar! Aku tunggu di lobi gedung SBS! " perintah LuHan telak tanpa tawar menawar.

" Lho, gege ada di Korea? Ada apa nih? " SuHo makin tidak mengerti dengan jalan pikiran hyungnya ini.

" Kalau aku bilang YiXing pingsan dan harus dirawat di Rumah Sakit Pusat Beijing, apa kalian akan datang ke lobi dalam waktu lima menit? " kata LuHan dengan santainya.

.

.

.

.

Resmi sudah julukan LuHan sebagai pembawa berita bencana berjalan. Sepanjang SuHo mengenal LuHan, entah kenapa setiap kali pria bermata bulat mirip rusa itu datang ke Korea, dia selalu membawa kabar buruk. Dan kunjungannya kali ini adalah yang kelima kalinya dalam dua tahun terakhir. Tanpa buang waktu SuHo dan Kai bergegas mengemasi barang mereka. Meski setelah ini dia harus mengevaluasi hasil rapat dewan komisaris, SuHo tidak peduli. Baginya YiXing jauh lebih penting. SuHo segera mengirim pesan pada BaekHyun yang isinya menyuruh pemuda mungil itu melepaskan sisi sadisnya untuk menangani para share holder itu.

.

.

.

.

.

.

\(^._.^)_(^._.^)/

.

.

.

.

.

.

" Hnnnghh… Hime… HimChan… Ini… di mana? " YiXing mengerjapkan mata perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya terang di ruangan serba putih itu.

" Lay-ge? Kau sudah sadar? MAMAAA! Lay-ge siumaaan! " jerit HimChan yang sedari tadi duduk anteng di samping ranjang rawat YiXing.

" Anak nakal, tidak usah berteriak, mama sudah dengar tahu. " ZiTao mencubiti kedua belah pipi puteranya itu sampai memerah. " Ah, gege. Bagaimana perasaanmu? "

" Sudah tidak seburuk tadi sih… tapi… Aku masih mual. Ummph! " YiXing menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.

" Yah! Yah! YongGuk! Tolong ambilkan keranjang sampah! " pekik ZiTao.

" Hoeeekkk! "

.

.

.

.

Belum sempat YongGuk bergerak dari tempatnya di dekat pintu, YiXing sudah keburu muntah-muntah. Untungnya, HimChan menemukan sebuah baskom metal di bawah ranjang rawat dan langsung menyodorkannya di depan wajah YiXing. Untung, karena kalau terlambat sedikit saja, mungkin kaus Louis Vuitton dan celana jeans JapanArmy yang dikenakan ZiTao bisa jadi korban. Selama dua puluh menitan pemuda unicorn itu terus muntah tanpa jeda. Semua yang ada di dalam perutnya dia keluarkan sampai yang tersisa tinggal lendir asam lambung bening kekuningan.

.

.

Setelah ZiTao meminumkannya segelas air putih untuk berkumur, YiXing kembali membaringkan diri ke kasur. Tubuhnya terasa lemas, tenggorokannya perih dan nafasnya masih agak sesak. Tapi setidaknya, perutnya sudah tidak kram. Seingat YiXing, dia memang sudah sering keluar masuk rumah sakit karena hemophilia ringan yang dideritanya. Tapi belum pernah sekalipun dia dirawat di rumah sakit hanya karena pingsan. Entahlah, YiXing tidak mau memaksakan diri untuk berpikir karena kepalanya kembali berdenyut nyeri.

.

.

.

.

" Gege, sejak kapan kau sakit begini?! " tanya ZiTao setelah dia selesai membereskan limbah buangan YiXing.

" Hmmm… terakhir kali aku liburan ke Korea kapan ya? Sebulan yang lalu mungkin? Well, kayaknya sih sejak itu kesehatanku menurun. " YiXing mengerutkan alisnya, mencoba mengingat.

" Serius?! Kau yakin sudah selama itu sakitnya, ge?! " ZiTao membelalakkan matanya tidak percaya. Karena selama ini YiXing tampak sehat-sehat saja.

" Tidak juga. Sepertinya dari dua bulan sebelumnya juga sudah aneh. Tapi gejalanya tambah parah sebulan belakangan ini. " terang YiXing dengan wajah tanpa dosanya yang khas.

" Kau sakit sudah hampir tiga bulan tapi kau baru sadar sekarang?! Ya Tuhan, gege! " teriak ZiTao frustasi.

.

.

.

.

YongGuk, HimChan dan YiXing menarik nafas panjang. Mulai lagi deh ceramah berpanjang lebar tentang pentingnya menjaga kesehatan dari sang Master Wushu, semuanya dibeberkan mulai dari A sampai Z. Mendengar ocehan ZiTao itu sedikit banyak YiXing jadi merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kesehatannya sendiri. Padahal kondisi prima adalah modal utama seorang entertainer dan dancer untuk bekerja. Ngomong-ngomong soal sehat, biasanya LuHan-lah yang akan menegurnya duluan. Tapi sejak dia sadar tadi, YiXing sama sekali tidak melihat batang hidung kakak iparnya itu. Ke mana perginya si rusa jejadian itu?

.

.

.

.

" Kau mencari LuLu? " seolah bisa membaca pikirannya, tiba-tiba seorang pemuda manis berpipi chubby berjalan tertatih ke dalam ruangan sambil membawa sebuah IV-drop (infus plus tiangnya).

" Lho, XiuMin-ge?! Kenapa kau ada di sini? Kau sakit apa? " tanya YiXing mengabaikan ZiTao yang masih terus bicara sendirian.

" Kau lupa, didi-ku sayang? Hari ini aku harus diinduksi, karena si kecil ini terlalu betah tinggal di dalam perutku. " jawab XiuMin, kakak kandung YiXing itu lalu mengelus perut buncitnya.

" Oh iya, benar juga. Kalau sesuai jadwal, harusnya Xiu-ge 'kan sudah melahirkan seminggu yang lalu. " YiXing manggut-manggut. " Eh, gege. LuHan-ge mana? Jangan bilang kalau dia sedang di luar ruangan dan memberitahu SuHo-hyung tentang kondisiku. "

" Eeer… sebenarnya lebih parah lagi. Soalnya, mungkin saja dia sudah dalam perjalanan menuju kemari bersama SuHo dan manajer hitamnya itu. Hehe~ " XiuMin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

" WHADDA?! "

.

.

.

.

.

.

\(^._.^)_(^._.^)/

.

.

.

.

.

.

" Hyung… rasanya seperti mimpi ya? " gumam YiXing sambil mengeratkan pelukannya pada suami angelicnya itu.

" Iya… aku juga masih tidak percaya… " SuHo menyurukkan wajahnya ke cerukan leher istrinya, menghirup aroma lavender yang selalu menguar dari kulit putih nan lembut itu.

" Aku benar-benar tidak menyangka kalau sebentar lagi kita akan punya anak, hyung. " ucap YiXing dengan mata menerawang.

" Kau ini, clueless seperti biasa. Seharusnya kau bisa merasakan gejalanya, 'kan? " pria angelic itu nyengir.

" Yah, hyung! Tiga bulan ini aku sibuk banget tahu! Jadi aku tidak sempat berpikir sampai ke arah sana! Huff! " YiXing menggembungkan pipinya kesal.

" Iya, iya~ yang penting sekarang kau sudah tidak apa-apa. " pemuda angelic itu mendongakkan wajahnya, lalu memagut bibir plum YiXing dalam sebuah ciuman yang panjang dan panas.

" Ehemmm! Aku tahu kalian sedang berbahagia, tapi ada anak kecil di sini woi! " tegur ZiTao iritasi.

.

.

.

.

Pria feline itu dengan kesal menunjuk ke arah HimChan yang mata dan telinganya ditutup rapat oleh YongGuk. Sementara remaja tujuh belas tahun yang status resminya adalah tunangan bocah manis itu hanya bisa tersenyum salah tingkah. Tidak salah sih, kalau pasangan suami-istri itu ingin mengungkapkan rasa senang atas kabar bahagia yang mereka terima dari dokter pribadi keluarga Zhang. Kabar yang menyatakan kalau kurang dari enam bulan lagi mereka akan segera menimang anak. Plusnya lagi, sang dokter memperkirakan kalau YiXing mengandung bayi kembar. Melepas kegembiraan itu sah-sah saja, tapi lihat situasi juga dong.

.

.

.

.

" Aish! Sudahlah! Lebih baik kami pulang saja. Ayo anak-anak! " pemuda berparas mirip panda itu keluar dari kamar rawat sembari menghentak-hentakkan kakinya.

" Selamat malam, SuHo-ge! Lay-ge, cepat sembuh ya? Nanti ajari aku menari lagi! " HimChan melambaikan tangannya riang lalu berlari menyusul ibunya.

" A… ano… SuHo-ssi, Lay laoshi, selamat malam. " YongGuk membungkuk sebelum undur diri.

" Yosh, sudah tidak ada orang~ " SuHo melongok keluar, memastikan sudah tidak ada orang lain di lorong. Lalu dia menutup pintu dan mengganti lampu utama dengan lampu tidur yang remang.

" Hyung~ kesini~ " YiXing mengulurkan tangan menyambut suaminya. " Peluk aku~ "

" As your wish, my dear. " pemuda angelic itu ikut membaringkan dirinya di ranjang rawat dan memeluk istrinya erat.

" Hmmmh~ semoga proses kelahiran bayi Xiu-ge berjalan lancar, ne? " gumam YiXing dengan suara yang sarat kantuk.

" Amiiin. Semoga nanti anaknya tidak se-troll LuHan-ge. Hehe~ " ucap SuHo bercanda.

" Hehehe~ iya, ya. Satu Xiao Lu saja sudah merepotkan, apalagi dua. " mereka berdua pun terkekeh bersama.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

\(^._.^) Tsuzuku nyaw~ (^._.^)/

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Before…

Buat yang berkenan kasih comment, sankyuu for your appreciation nyaw~

Buat yang sekedar SiDer… well… sankyuu udah nyempatin baca fics gue ini nyaw~

Semoga karya gue kali ini memuaskan n menghibur.

.

.

Then, see ya next chapter~

.

.