.
.
.
.
.
.
© Title: Family Rush!©
.
Author:
Queen Winkata
.
Cast:
Kim Seokjin as Jin
(Putera Pertama, si Sulung Keluarga Kim)
Kim Jiwon as Bobby
(Putera Kedua; kembaran tak identik B.I/Hanbin)
Kim Hanbin as B.I
(Putera Ketiga; kembaran tak identik Bobby/Jiwon)
Kim Hyunsoo as Rany
(Putri Pertama sekaligus bungsu keluarga Kim)
.
Support Cast:
Kim Wonshik as Father of 4 Kim's Siblings
(cuman sebut nama untuk beberapa chaptere kedepan)
Cha Haekyeon as 'Mother' of 4 Kim's Siblings
(cuman sebut nama untuk beberapa chaptere ke depan)
Kim Taehyung as V
Kim Donghyuk as Donghyuk
Kim Jinhwan as Jinhwan
Koo Junhoe as Junhoe
and more cast
(penjelasannya nyusul beserta cast lain)
.
Genre:
Humor , Family, Romance, Friendship
(genre lain menyusul)
.
Disclaimer:
All chara belongs to themselves and GOD.
Tapi ini cerita punya saya, ide pun dari saya juga.
.
Summary:
Sejak hari dimana Seongnam Art Senior High School mengadakan audisi untuk mencari siswa-siswi baru, sikap Jin sedikit berubah. Sering senyum-senyum sendiri, bahkan tertawa sendiri. Sampai membuat ke-3 adiknya, Bobby, B.I dan Rany bingung bukan kepalang.
Tak jauh berbeda dengan Taehyung. Pemuda manis itu juga mengalami hal yang sama, sebagai anak semata wayang, kedua orangtua Taehyung −Namjoon dan Yoongi cemas melihat perubahan yang terjadi pada putra kesayangan mereka itu.
Apa yang sebenarnya terjadi pada 2 pemuda ini?
.
"Kak Jin tidak gila kan?"
.
"Apa sebaiknya kita membawa Taehyung ke psikiater, Namjoon-ah?"
.
Warning:
Fiction ini terinspirasi dari sebuah Manga yang berjudul Family Rush! Karya Kuze Mizuki. Bagi yang udah pernah baca Manga ini jangan heran jika ada beberapa alur di fiction ini yang sama dengan Manga yang kusebut tadi. Tapi akan aku buat beda dengan imajinasiku sendiri. Pokoknya ini bener-bener beda dan ini tentang Family, adegan romance kujejelin berkala/?.
GaJe, OOC (maybe) Yaoi with little bit Straight ^w^
.
Don't like, don't read!
Just go to [X]
.
Nb:
Ide membuat fanfic ini berdasarkan dari ide bajret yang tiba-tiba lewat, entahlah akan jadi apa fanfic ini^^
.
Queen Winkata Present ^~^
Pagi hari, di kediaman Kim Namjoon
"Morning Taehyungie~" Taehyung tersentak kaget mendengar sapaan Ibunya, pemuda manis itu balas tersenyum ke arah Ibunya yang memandangnya menyelidik. "Morning too Mom~"
Yoongi −nama Ibunya Taehyung− mengernyitkan dahi bingung, dilihatnya sang putra tengah terkikik geli entah karena apa. Ini masih pagi, dan tingkah Taehyung sudah begitu aneh. Walau sebenarnya anaknya itu memang aneh. Dan Yoongi bingung bukan main melihat tingkah putranya tersebut.
"Namjoon-ah" Yoongi mendekat ke arah seorang pria dewasa yang tengah sibuk berkutat dengan gadgetnya, sedangkan yang dipanggil menolehkan kepalanya, "Ada apa sayang?"
Yoongi menghela nafas pelan, dengan gerakan cepat pria dewasa dengan wajah manis nan feminim itu mengarahkan kepala Namjoon kearah Taehyung yang tengah mengolesi roti dengan selai. "Apa yang aneh darinya? Ia tampak seperti biasanya, Yoongi-ya~" tukas Namjoon dengan wajah polos, Taehyung terlihat baik-baik saja di matanya. Putra bungsunya itu hanya sedang mengolesi roti dengan selai yang terpajang cantik di meja makan.
Jawaban Namjoon yang tidak sesuai harapan tersebut membuat Yoongi kesal, pria feminim itu menjitak pelan kepala suaminya itu. "Coba lihat baik-baik!" perintah Yoongi dengan suara lirih bercampur nada kesal yang kentara.
Mau tak mau Namjoon menajamkan pandangannya ke arah putra satu-satunya yang kini tersenyum-senyum dengan semburat tipis menghiasi pipi chubbynya. Namjoon melototkan kedua matanya.
"Taehyung . . ." pria dewasa dengan surai sewarna dengan permen kapas itu kehabisan kata-kata. Putra semata wayangnya ini tidak gila kan?
"Dia sudah begitu dari kemarin sebenarnya." Yoongi menghela nafas pelan begitu melihat reaksi suaminya masih sama, melototkan matanya. Pria manis itu berbisik pelan ke telinga Pria tampan yang masih shock tersebut, "Apa sebaiknya kita membawa Taehyung ke psikiater, Namjoon-ah?"
Dan respon Namjoon hanyalah anggukan kepala kaku. Sepertinya Ayah satu anak ini terlampau shock dengan perubahan pada putra kesayangannya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak berbeda jauh dengan keadaan di kediaman Kim Wonshik. Tiga bersaudara Kim (read: Bobby, B.I dan Rany) tengah memandang penuh selidik ke arah saudara tertua mereka. Saudara tertua mereka, Kim Seokjin, tengah memasak makanan kesukaan adik-adiknya.
Memang tidak ada yang salah dengan kegiatan si sulung Kim di pagi hari itu, hanya saja. . .
"Kak Jin tidak gila kan?" mendengar penyataan yang menjurus ke pertanyaan yang terlontar dari bibir si bungsu membuat si kembar Kim mengangkat bahu, tanda tak tahu.
"Apa perlu kita bawa kak Jin ke Rumah Sakit Jiwa kak Hanbin?" Hanbin mengggelengkan kepala tanda tak tahu, sedangkan Rany meringis pelan ketika Bobby menggeplak belakang kepalanya. Tidak kencang sih, tapi tetap saja sakit.
"Sembarangan. Kak Jin itu masih waras tahu!" jerit Bobby tertahan, takut ketahuan Jin yang masih asyik dengan dunia-nya.
Penggambaran yang jelas untuk keadaan bersaudara Kim ini adalah. . .
Jin sedang ada di dapur, sibuk memasak sarapan untuk pagi ini. Sedangkan ke-tiga adiknya tengah mengintip dari balik dinding yang memisahkan antara ruang makan yang bergabung menjadi satu dengan dapur. Ke-tiga remaja itu melongokkan kepala mereka, dengan posisi B.I di atas, Rany berada di tengah dan Bobby yang ada dibawah.
"Habisnya, tingkahnya kak Jin seperti orang sedang jatuh cinta saja." celetuk si bungsu dengan wajah keki. Tidak habis pikir saja, apa yang membuat kakak tertuanya itu jadi aneh begini.
Asal kau tahu magnae-ya, kau sudah cukup pintar untuk menebaknya kok.
"Sarapan sudah siap!" teriakan Jin cukup membuat ke-tiga remaja tersebut kaget bukan main. Alhasil mereka ber-tiga jatuh bertumpuk layaknya pakaian, membuahkan bunyi yang cukup memekakkan telinga.
Bobby berteriak kesakitan, pasalnya sudah ditindih Rany si bungsu yang bertubuh bongsor, tubuhnya juga ditindih B.I yang berada diatas tubuh Rany. Singkat cerita, posisi mereka saling tumpang tindih, dimana posisi paling atas ada B.I, lalu ada si bungsu Rany dan yang terakhir tergeletak mengenaskan di lantai adalah Bobby. Poor Bobby.
Jin mengernyitkan dahi bingung, melihat posisi ke-tiga adiknya yang tumpang tindih tersebut. "Sedang apa kalian?" tanyanya dengan wajah bingung, membuat kepala ke-tiga remaja itu menoleh kearah Jin. Lengkap dengan cengiran khas masing-masing.
"Hehehe~ Hanya melihat kak Jin dari sini saja kok." alibi si bungsu dengan cengiran khasnya. Bobby dan B.I ikut menganggukkan kepala mereka, tanda setuju. Sedikit melupakan bahwa posisi mereka masih tumpang tindih.
"Oh. Kalian masih betah di posisi begitu?" Bobby yang paham maksud kakak tertuanya itu berteriak galak ke arah dua adiknya yang masih mencerna perkataan Jin, "Ya! Menyingkir dari tubuhku!"
Hampir ada 2 menit untuk B.I dan Rany memahami keadaan. Ke-dua adik Bobby itu hanya tertawa jahat mendengar teriakan sang kakak tertua kedua di keluarga Kim itu, keduanya malah semakin menekan tubuh Bobby yang berada di bawah. Bobby pun berteriak semakin keras, dan Jin justru tertawa. Membiarkan keributan yang dilakukan adik-adiknya itu.
Bahkan mereka sampai tidak menyadari kehadiran Junhoe dan Donghyuk yang menatap mereka bingung.
"Ehem!"
Mendengar suara deheman yang entah berasal darimana membuat ke-empat saudara Kim itu menghentikan keributan mereka sejenak, dan tertangkaplah sosok Junhoe dan Donghyuk yang tengah tersenyum canggung kearah mereka. (Hanya Donghyuk yang tersenyum canggung, sedangkan Junhoe memandang sinis Bobby yang menjadi alas si bungsu Kim. Dan betapa si bungsu itu terlihat sangat asyik menindih Bobby dan B.I yang menindih pujaan hatinya yang masih saja tersenyum idiot −menurutnya sih.)
Buru-buru B.I bangkit dari atas tubuh adik bungsunya, tak lupa membantu si bungsu berdiri. Bobby berdiri dengan gerakan patah-patah −dibantu Rany−, si Kim ke-dua tersebut malu bukan kepalang. Apalagi ketika ia bertemu pandang dengan Donghyuk. Well tadi itu benar-benar memalukan. Posisinya tadi benar-benar. . .
Arghh, Bobby tidak ingin mengingatnya lagi!
"Ada angin apa kalian datang sepagi ini kemari?" tanya B.I dengan senyuman tanpa dosa, seolah hal konyol yang baru saja ia lakukan bersama si bungsu dan kakak kembarnya tidak pernah terjadi. Donghyuk yang semula tersenyum tipis kini memasang wajah cemberut. Pemuda manis itu menyenggol Junhoe yang asyik cengengesan melihat Rany yang well tampak sangat manis hari ini. Setidaknya dimata seorang Koo Junhoe.
Junhoe terkesiap pelan, memandang tajam Donghyuk seolah telah mengganggu aktivitasnya. Pemuda manis itu balas memandang Junhoe dengan pandangan galaknya, dan menunjuk B.I dengan dagunya. Junhoe pun akhirnya paham maksud Donghyuk. "Hehehe, ingin mengajak kalian semua untuk berangkat bersama saja kak."
"Berangkat bersama siapa maksudmu?" tanya Bobby dengan pandangan penuh selidik, Junhoe menyeringai penuh arti. "Kau akan tahu nantinya, kak Jiwon."
"Ya, Jun-pabo Bilang saja kau ingin ikut sarapan disini." komentar si bungsu dengan sangat pedasnya membuat Junhoe ataupun lebih tepatnya Donghyuk menunduk malu. Well bisa dikatakan seperti itu juga, salahkan Junhoe yang membuatnya telat bangun tadi pagi. Sehingga ia tidak sempat memasak dan dengan pintarnya lagi pemuda Koo itu justru menyeretnya ke arah rumah empat bersaudara Kim ini.
"Sudah-sudah, kemarilah kalian semua. Ayo sarapan! Kebetulan aku memasak dalam porsi banyak." Jin dengan sangat baik hatinya mengajak Donghyuk dan juga Junhoe untuk ikut sarapan bersama. B.I pun menyeret sang kakak kembar dan juga adiknya perempuannya itu untuk segera menuju meja makan. Kakak pertamanya itu akan marah jika mereka tidak segera makan.
.
.
.
.
.
.
"Terima kasih untuk makanannya kak Jin." Jin tersenyum tampan, pemuda itu mengusak pelan surai dua pemuda dihadapannya. "Sama-sama, lagipula kalian sudah seperti adik bagiku. Tentunya aku tidak akan menelantarkan kalian."
Mendengar perkataan Jin, mau tak mau membuat Donghyuk dan Junhoe tersenyum. Jin memang tipikal kakak yang baik.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" pekik Rany dengan semangat. Gadis itu kini memakai seragam khas Seongnam Art Senior High School. Dengan beanie hitam yang menutupi separuh kepalanya dan hoodie yang berada di balik jas sekolahnya, gadis itu tersenyum dengan sangat manis. Membuat Junhoe terpana sesaat.
Tiba-tiba, dengan beraninya Bobby memegang erat pergelangan tangan Donghyuk. Pemuda manis itu sontak menoleh ke arah kakak ke-dua Rany yang memandangnya dengan senyum tampan. "Donghyuk-ah, kau berangkat bersamaku." kata Bobby yang menjurus ke arah perintah, Donghyuk melototkan kedua matanya kaget. "Ta-tapi. . ."
"Ayo! Kita bisa telat kalau tidak cepat!" tanpa memperdulikan Donghyuk yang berusaha protes, Bobby segera membawa pemuda manis tersebut untuk ikut bersamanya. Meninggalkan Jin, B.I, Junhoe dan Rany yang memandang kasihan ke arah Donghyuk.
"Kak Hanbin! Aku berangkat bersamamu saja ya!" pinta si bungsu, gadis itu langsung memeluk lengan sang kakak ketiganya. Tak lupa memasang wajah memelas yang tentunya membuat B.I sedikit terpengaruh. Tapi pemuda dengan dandanan hip hop itu teringat, jika ia punya janji dengan kekasih manisnya. Dan terpaksa B.I menolak permintaan adik manisnya itu, "Maafkan kakak ya? Kakak harus menjemput kak Jinhwan. Kau berangkat bersama Junhoe saja bagaimana?"
Junhoe tersenyum kemenangan mendengar perkataan B.I, ia pun dengan tidak tahu malunya langsung menggenggam jemari si bungsu Kim itu. Tentunya saja membuahkan pekikan nada tinggi dari gadis tersebut.
"Berangkat bersamaku?" demi panda-panda lucu di China sana, Rany benar-benar ingin muntah melihat ekspresi Junhoe yang minta ditabok −menaik turunkan alisnya dan tersenyum idiot−. Gadis itu menghela nafas pelan setelah melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, waktu tersisa tinggal 20 menit lagi. Mau tak mau ia menganggukkan kepalanya.
Jin terkekeh pelan melihat betapa lesunya si bungsu, pemuda tertua bersaudara Kim itu menepuk bahu Junhoe. "Hati-hati di jalan. Pastikan ia pulang bersamamu nanti."
Junhoe menjawabnya dengan anggukan kepala antusias, pemuda tinggi tersebut langsung menarik tangan Rany yang nampak ogah-ogahan mengikuti langkah lebarnya.
Kini tinggal Jin seorang, pemuda tampan itu tersenyum −lebih tepatnya menyeringai.
Memulai aksi terbesar dalam hidupnya hari ini juga bukanlah hal yang buruk, pikir Jin dengan gambaran inner yang tengah membenahi letak poni rambutnya.
Dengan wajah berseri dan juga senyuman tampan −andai adik-adiknya melihat tingkahnya ini, pasti mereka mengira jika Jin benar-benar sudah tidak waras−, Kim Seokjin meninggalkan pekarangan rumahnya dan memulai aksi pertamanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Err kak?" Jin menolehkan kepalanya sejenak ke arah sosok manis yang duduk dengan canggung di sebelahnya, namun tak lama kemudian pemuda tampan tersebut kembali memusatkan perhatiannya pada jalanan di hadapannya.
Yah mereka berdua tengah berada di dalam mobil yang sama, dengan tujuan Seongnam Art SHS. Dengan Seokjin yang berada di kursi kemudi.
"Ada apa Taehyung-ah?" yang punya nama justru menundukkan kepalanya, terlihat jika pipi gembil pemuda manis yang juga bermarga Kim tersebut memerah manis layaknya tomat masak yang siap panen. Suara lembut Seokjin benar-benar membuatnya meleleh.
Seokjin yang melihat pemandangan tersebut dari sudut matanya menyeringai tipis, dan tentunya bersorak gembira di dalam hatinya sendiri.
'Hehehe, manisnya Taehyungie-KU. Pasti aku terlihat tampan di matanya. Hohohoho~'
Tak di sangka ternyata si sulung Kim ini alay juga.
Oke, back to the story.
"Err. . . apa tidak apa jika aku berangkat bersamamu kak Jin?" dengan wajah merona Taehyung mencoba memulai percakapan dengan Jin yang masih fokus menyetir di sebelahnya. Pemuda manis itu memainkan jemarinya tanda salah tingkah.
"Tidak apa, lagi pula adik-adikku sudah berangkat sendiri-sendiri. Dan sebenarnya, aku memang ingin berangkat bersamamu kok Manis~" wajah manis itu semakin merona. Tampaknya Jin memang bakat sekali membuat si manis disampingnya merona.
"Kak Jin apaan sih. Gombal banget deh." Taehyung semakin menundukkan kepalanya dalam berusaha menyembunyikan wajahnya yang benar-benar merah. Jin yang melihatnya justru semakin tersenyum.
Well, sepertinya ini langkah awal yang sangat bagus baginya. Taehyung merespon dengan sangat manis semua gombalannya.
Dan sulung keluarga Kim itu semakin memantapkan hatinya untuk melakukan pendekatan pada si manis Taehyung ini.
"Ada apa sih Koo? Kita sudah sampai di sekolah dan harus ke kelas sekarang juga! Kau ingin mati di tangan Kang Songsaenim?" Junhoe justru tersenyum manis mendengar omelan Rany. Dan pemuda itu tak mengindahkan tatapan tajam gadis manis yang duduk dengan gusar di samping kursinya.
Memang benar, sekarang ini ia dan si bungsu dari Kim bersaudara sudah sampai di tempat parkir mobil sekolah mereka. Tapi pemuda Koo itu tampaknya ingin sedikit berlama-lama dengan si gadis Kim pujaan hatinya itu.
"Masih ada 5 menit lagi kok. Tenang saja okay?" dengan senyuman mematikan Junhoe berusaha untuk melelehkan hati Rany yang kini mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah manis.
'Dasar Koo Junhoe sialan! Tapi, senyumannya tampan sekali~' –gerutuan si bungsu di dalam hatinya
Seringai tersungging di bibir tipis Junhoe, pemuda itu lantas mendekatkan kepalanya ke arah Rany yang masih sibuk mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil dan. . .
PLAK!
Junhoe terkejut sesaat. Rany barusan saja menampar pipinya. Pelan sih, tapi sakit juga. Karena Rany tak main-main menamparnya tadi.
"Jangan dekat-dekat!" Gadis Kim itu dengan segera keluar dari mobil tersebut dan berlari secepat mungkin untuk menghindari Junhoe. Sembari menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.
Sepanjang jalan gadis itu mengoceh dengan suara lirih, beberapa kata makian terdengar cukup banyak. Dan gadis itu tidak terlalu peduli akan siswa-siswi yang melihatnya dengan pandangan aneh di sepanjang koridor menuju kelasnya. Tujuannya sekarang adalah sampai di kelasnya yang entah kenapa terasa sangat jauh sekali jaraknya.
SRAK
"Hei, ada apa?" tanya seorang pemuda dengan wajah manis yang tengah duduk di bangku yang letaknya bersebelahan dengan pintu kelas yang baru saja dibuka cukup kencang oleh Rany. Jeon Jungkook −tertera jelas di name tag yang tersemat di jas sekolah pemuda tersebut−, mengernyitkan dahinya begitu melihat Rany yang dengan gampangnya duduk disebelahnya.
"Mingyu belum datang kan? Hari ini aku ingin tukar tempat duduk dengannya." tanya balik gadis Kim itu. Tanpa menunggu jawaban dari Jungkook, Rany memilih menidurkan kepalanya di atas meja. Tidak mau menjawab pertanyaan Jungkook sama sekali.
"Untung Mingyu belum datang, bisa-bisa kau dihabisi olehnya." ujar Jungkook. Pemuda manis tersebut mengguncang tubuh gadis disampingnya dengan cukup kencang setelah merasa jika gadis disampingnya belum menjawab pertanyaannya, "Ya! Jawab dulu pertanyaanku!"
Dengan sedikit gusar Rany memalingkan wajahnya ke arah Jungkook −masih diposisi kepalanya yang ada di atas meja−, gadis itu berdecak sebal. "Ck, kau berisik sekali sih. Aku bosan duduk di samping Koo bodoh itu."
Jungkook memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti. "Kalian berdua sedang bertengkar? Sepasang kekasih mana boleh bertengkar, ini masih pagi."
"Kalian? Maksudmu siapa?" tanya Rany dengan wajah tidak mengerti. Gadis itu menegakkan tubuhnya dan memandang Jungkook dengan wajah blank face yang terlihat imut.
Jungkook menghela nafas pelan, "Tentu saja kau dan Junhoe. Kalian pacaran kan?" Beberapa siswa-siswi yang tadinya asyik mengobrol langsung diam mendengar pertanyaan Jungkook. Mereka sontak mengerubuti Jungkook dan Rany yang tengah shock berat akibat mendengar pertanyaan sedikit gila dari Jungkook.
"Aku juga penasaran dengan kalian berdua, kalian pacaran tidak sih?" tanya Eunha, gadis berambut pendek sebahu dengan nama asli Jung Eunbi itu mengguncang pelan bahu Rany. Sedangkan Rany sendiri masih tergulung dengan suasana shock berat.
"Kalian berpacaran?" –beberapa gadis terlihat kepo dan terus melontarkan pertanyaan pada si bungsu Kim ini.
"Jika benar, hancur sudah hatiku ini." –beberapa respon alay para murid laki-laki terdengar cukup jelas di telinga gadis Kim kita itu.
Merasa pusing dengan kebisingan yang diciptakan teman sekelasnya itu Rany pun menggebrak kuat meja yang kini menjadi tempatnya untuk sementara waktu. Gadis Kim itu mengedarkan pandangannya ke seluruh mata teman sekelasnya. "Kami tidak berpacaran, okey?"
"Serius? Kalian terlihat dekat." sahut Jungkook dengan pandangan kepo. Rany pun memutar kedua matanya jengah. Dia dan Junhoe terlihat dekat karena bocah Koo itu selalu menempel padanya.
"Ck, aku serius. Kalian tidak percaya?" anggukan kepala dari seluruh teman-teman sekelasnya −Donghyuk juga sekelas dengannya dan Junhoe, namun sayang pemuda manis itu belum terlihat batang hidungnya− membuat Rany menjerit frustasi.
'Harus dengan cara apa agar mereka percaya kalau aku dan Junhoe tidak pacaran!?', batin Rany kesal.
SRAK
"Ada apa ini?" pucuk dicinta, ulam pun tiba. Orang yang sedang dibicarakan pun datang memasuki kelas yang sudah semakin riuh. Koo Junhoe mengernyitkan dahinya, pertanda tidak mengerti dengan keadaan kelasnya kini. Mata tajamnya memandang Rany yang nampak terkulai lesu di bangku tepat di samping Jungkook.
"Kenapa kau duduk disini? Kau tidak salah duduk kan?" tanya Junhoe dengan sedikit sangsi. Well, dia dan si bungsu Kim ini kan duduk sebangku. Kenapa jadi dengan si Jungkook lemot ini sih?
"Suka-suka dong. Jangan sok mengaturku." jawab Rany dengan nada ketus. Gadis itu balas menatap Junhoe dengan tatapan tajam.
Terjadilah adu pandang mata antara kedua anak manusia itu. Pandangan mata yang berisi kilatan volt listrik maksudnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Terimakasih kak Bobby atas tumpangannya." Donghyuk tersenyum manis ke arah Bobby yang tengah mematikan mesin mobil miliknya. Bobby yang mendengar ucapan terima kasih Donghyuk balas tersenyum tampan. "Tidak masalah~ Lagipula kau memang harus berangkat bersamaku terus."
Donghyuk membulatkan kedua mata sipitnya. Kaget mendengar perkataan si putra kedua Kim yang tinggal diseberang rumahnya dan Junhoe itu. "M-maksud kak Bobby ap−"
Sebelum Donghyuk selesai dengan perkataannya, Bobby memilih menyela perkataan pemuda manis itu. Karena ia tahu pasti, pemuda manis itu pasti ingin bertanya apa maksud perkataannya barusan. "Panggil aku Jiwon. Oke?" Bukan dengan nada meminta, namun nada perintah yang tak terbantahkan meluncur keluar dari celah bibir Bobby. Donghyuk pun mau tak mau menganggukkan kepalanya. Bobby tersenyum melihat respon Donghyuk.
Setelah melepas sabuk pengaman, kedua pemuda itu keluar dari mobil dengan tas masing-masing. Bobby segera menghampiri Donghyuk yang tengah merapikan seragamnya kembali. "Kuantar sampai kelasmu. Sekalian melihat si little Kim."
Dan kedua pemuda itu bergegas masuk ke gedung sekolah setelah bel pertanda masuk telah berbunyi. Donghyuk merasakan pipinya kembali memanas begitu merasakan telapak tangan yang lebih besar dari telapak tangannya tengah memenjarakan telapak tangannya dalam kehangatan. Dan Donghyuk berani sumpah, jantungnya berdetak kencang sekali. Seperti mau meledak.
Ya, mau meledak karena serangan cinta Kim Jiwon yang berhasil merasuki hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sekali lagi terima kasih ya Kak Jin." Taehyung menundukkan kepalanya sembari mengucapkan terima kasih pada Jin. Kini keduanya tengah berada di depan koridor kelas Taehyung.
Jin menganggukkan kepalanya, pemuda tampan itu mengacak surai lembut Taehyung. "Iya, sama-sama. Sekarang masuklah, sebelum para guru masuk ke kelas."
"Kalau begitu kak Jin juga harus segera masuk kelas." kata Taehyung cepat, pemuda manis itu terlihat khawatir. Bel pertanda masuk kelas sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu, dan bukan hal bagus jika seluruh siswa-siswi belum masuk ke kelas masing-masing. Jin yang melihat kekhawatiran di mata Taehyung tersenyum tampan. "Pulang sekolah, kutunggu di depan ruangan klub karate. Sampai jumpa Taehyung-ie~"
Taehyung melambaikan tangan ke arah Jin yang juga melakukan hal yang sama. Pemuda manis tersebut menghentikan lambaian tangannya saat kedua manik matanya tak lagi melihat sosok kakak kelasnya yang telah menghilang karena berbelok ke arah kanan koridor yang berisikan ruang kelas siswa-siswi kelas II. Well disana ada lift dan tangga yang menghubungkan ke lantai atas, lantai yang isinya ruang kelas siswa-siswi kelas III. Setelahnya pemuda bersurai merah itu memasuki kelasnya dan duduk di bangkunya dengan heboh. Takut-takut kalau tadi ada yang memergokinya telat.
Sambil menunggu guru dari pelajaran pertama hari ini masuk, Taehyung membuka buku PR-nya. Untung saja sudah ia kerjakan semalam. Tiba-tiba Taehyung merasakan sikutan pelan di lengan kirinya. Taehyung pun menengokkan kepalanya ke arah si pelaku penyikut lengannya barusan, ternyata teman sebangkunya yang kini menatapnya dengan cengiran bodoh yang Taehyung tahu sebagai kode untuk meminjam sesuatu darinya.
"Apa?" tanya Taehyung dengan wajah blank khasnya. Sedangkan yang ditanya kembali mengeluarkan cengirannya. "Kulihat kau sudah mengerjakan PR dari Yoo Songsaenim. Pinjam ya?"
Tak ada pilihan lain bagi Taehyung selain meminjamkannya pada teman sebangku sekaligus sahabatnya itu. "Buat choreo baru aja sempat tapi ngerjain PR gak sempat. Kemarin-kemarin ini ngapain aja?" tanya Taehyung tak habis pikir. Teman baiknya itu memang sedikit malas jika berurusan dengan tugas. Kecuali tugas itu membuat Koreografi.
"Eomma menghukumku, eomma menuduhku menghilangkan eyeliner barunya. Ck, padahal bukan aku yang menghilangkannya." curhat Park Jimin dan dengan sangat anteng menyalin tugas Taehyung. Kedua makhluk dengan gender sama tapi beda peran (?) ini sudah berteman sejak masa Junior High School. Tidak heran melihat kedekatan mereka yang layaknya saudara kembar. Saudara kembar aneh maksudnya.
Iya, aneh.
Mereka sering sekali tertawa tidak jelas secara bersamaan dan komunikasi alien mereka sudah cukup menjelaskan jika kedua bocah ini memang aneh.
Park Jimin dikenal berwajah mesum dan tingkahnya sedikit alay tapi jago sekali dance, jangan lupakan otot-otot seksi yang menempel di setiap sisi lengannya dan juga perutnya itu. Kim Taehyung dikenal memiliki wajah manis tapi kelakuan kayak alien, suka melamun dan sering ber-blank face.
Itulah pendapat orang-orang yan mengenal dekat ataupun tidak dengan dua makhluk ini.
Jadi heran, bagaimana Jin bisa menyukai Taehyung yang rada-rada begini -_-
"Yakin? Lalu eyeliner yang tergambar rapi di matamu itu?" tanya Taehyung dengan wajah kepo. Jimin menghentikan aktivitasnya sejenak, pemuda bermarga Park itu meraba-raba area matanya sendiri. "Eyeliner? Eyeliner apaan? Tadi aku buru-buru jadi tidak pa-"
Taehyung senyum evil melihat sahabat karibnya kehabisan kata-kata. Jimin meneguk ludahnya pelan. Aduh siap-siap dengan amukan Eomma deh, pikir Jimin ketar-ketir.
"Jangan adukan ini pada Eommaku Taehyung-ah." Taehyung melebarkan senyumannya melihat Jimin yang kini tengah memohon padanya. Pemuda manis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Berbohong itu tidak baik Jimin-ah~ Anak nakal harus dihukum." Ujar Taehyung dengan senyuman manis ala malaikat. Namun dimata Jimin, senyuman itu bagaikan senyuman malaikat maut yang tengah bersiap mencabut nyawanya.
"Aku akan mengabulkan apapun keinginanmu! Oke? Please, jangan adukan ini pada Eommaku. Pulang kerumah tinggal nama saja aku nanti!" pekik Jimin dengan nada memohon. Pemuda tampan itu bahkan mengabaikan sejenak acara menyalin tugas yang seharusnya cepat ia selesaikan.
Taehyung menutupi wajahnya dengan menundukkan kepalanya ke arah meja. Terkikik pelan melihat betapa ketakutannya sahabatnya itu akan amukan Eommanya sendiri. Taehyung akui, Eommanya Jimin itu memang sedikit killer.
"Arraseo, aku tidak akan mengadukannya. Cepat salin tugasku, sebelum Yoo Songsaenim masuk kelas." Sembari menahan kekehannya Taehyung menyuruh Jimin untuk kembali melanjutkan acara menyalin tugas tersebut. Yoo Songsaenim bisa masuk kelas kapan saja, bisa gawat jika pria paruh baya itu melihat aktivitas rusuh Jimin. Kalau Jimin yang dihukum sih tidak masalah, bagaimana jika ia ikut dihukum? Bagaimanapun juga Jimin menyalin tugasnya.
Suasana diantara kedua sahabat itu kembali hening. Jimin sibuk menyalin tugas Taehyung dengan khidmat dan Taehyung asyik melamun.
'Kak Jin itu kakak tingkat yang sangat tampan, pintar dan baik hati. Populer di kalangan semua siswa-siswi dan juga kalangan para guru.
Siapa yang tidak akan terpesona pada sosok itu?
Semua orang pasti ingin menjadikan pemuda tampan itu menjadi kekasih. Kim Seokjin adalah tipe pacar idaman.'
Wajah Taehyung memerah tiba-tiba, pemuda manis itu teringat kejadian tadi pagi di rumahnya. Bahkan Ayah-Ibunya sampai shock.
Karena Kim −Handsome− Seokjin tiba-tiba sudah berada di depan pintu rumahnya dan meminta izin pada Ayah-Ibunya untuk berangkat sekolah bersamanya.
Taehyung tak bisa lebih meleleh daripada coklat yang dipanaskan di dalam microwave. Bagaimana kakak tingkatnya itu meminta izin untuk berangkat sekolah bersamanya dengan wajah tampan, memberikan senyuman ala kekasih romantis pada Ayah-Ibunya.
"Tae? Hello! Bumi pada Taehyung?"
Taehyung terkesiap, pandangannya beralih ke arah Jimin yang memandangnya aneh. "A-apa?" tanya Taehyung sedikit tergagap. Rona tipis di pipinya masih belum hilang juga. Membuat Jimin sedikit curiga dengan kelakuan sahabatnya itu.
Pemuda bermarga Park itu menaruh buku tugas Taehyung di dalam laci bangku sahabatnya itu, dan setelahnya memandang Taehyung penuh selidik. "Kau habis melamun ya?" tanya Jimin tanpa mengalihkan pandangannya dari Taehyung. Membuat Taehyung salah tingkah.
"Oh ya tadi kau bersama Senior Seokjin kan?"
DEG
Taehyung membulatkan kedua matanya kaget. Bagaimana Jimin bisa tahu!?
Jimin menyeringai melihat Taehyung yang hanya bisa terdiam. Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara sahabat sekaligus senior mereka itu. "Diam berarti iya."
Taehyung menggigit bibir bawahnya ragu, haruskah ia ceritakan pada sahabatnya ini?
"Aku bisa jelaskan ini. A-"
SRAK
Pintu kelas tiba-tiba terbuka lebar, menampakkan sesosok pria paruh baya yang ternyata adalah Yoo Songsaenim. Pria paruh baya itu dengan sedikit tergesa memasuki kelas Taehyung dan Jimin.
"Kumpulkan Tugas kalian sekarang!" titahnya cepat, dengan sigap ketua dan wakil ketua kelas di kelas tersebut mulai memutari setiang bangku untuk mengumpulkan tugas yang diminta Yoo Songsaenim.
Jimin mengambil buku tugas Taehyung dan juga miliknya, kemudian memberikannya pada Nayeon si wakil ketua kelas mereka yang berhenti di samping bangkunya dan Taehyung.
Pemuda bermata sipit itu menepuk pundak Taehyung yang tengah ber-blank face setelahnya. "Istirahat nanti ceritakan semuanya padaku."
Taehyung pun akhirnya memilih pasrah. Mereka sudah bersahabat cukup lama, jadi tidak salahnya berbagi cerita dengan Jimin. Semoga saja Jimin tidak kaget akan ceritanya nanti.
Bobby melambaikan tangannya begitu mata sipitnya melihat Donghyuk dan Junhoe yang baru saja memasuki area kantin. Tapi, adik bungsunya tidak datang bersama mereka. Pemuda Kim itu menatap Junhoe penuh selidik.
"Mana adikku?" tanya Bobby sembari menatap tajam Junhoe yang hampir mendudukkan bokongnya ke kursi panjang yang ada di depannya. Ketiganya kini tengah menunggu Jin dan juga pasangan B.I-Jinhwan.
"Tadi, Rany dihampiri oleh kakak kelas. Sepertinya ada urusan penting kak." melihat Junhoe yang nampak badmood membuat Donghyuk pun menjawab pertanyaan kakak kelasnya itu.
"Kakak kelas? Siapa?"
Ketiga pemuda tersebut menengokkan kepala mereka ke arah Jin yang baru saja tiba. Sepertinya pertanyaan tadi dilontarkan oleh Jin. Kakak tertua Kim itu sedikit waspada mendengar adik bungsunya tengah berurusan dengan kakak kelas yang entah siapa ia tidak tahu. Donghyuk pun dengan ragu menjawab, "Eum, kalau aku tidak salah dengar tadi kakak kelas itu memperkenalkan dirinya ke Rany dengan nama Buffy."
"Ah, tenang saja kak Jin. Aku kenal siapa itu Buffy." suara B.I yang tenang membuahkan delikan dari si sulung Kim. Pemuda tampan dan berbahu lebar itu masih setia memandang adiknya dengan pandangan tajam. "Sekalipun kau kenal dengan si Buffy itu tidak akan membuatku untuk tidak khawatir pada Rany! Adik kita sedang bersama laki-laki selain kita okey? Gosh, apa yang sebenarnya terjadi!?" pekik Jin sedikit over. Si sulung itu khawatir bukan kepalang. Bagaimanapun juga adik terakhirnya itu seorang gadis. Dan adiknya itu kini tengah bersama dengan pemuda yang ia tak ketahui seperti apa wujudnya –memang sih Hanbin tahu siapa si Buffy itu.
Jin memang sangat ove-protective sekali pada si bungsu, dan terkadang kelakuannya itu membuat si bungsu kesal bukan main.
"Tenang saja kak Jin. Buffy orang yang baik kok, dia tidak akan macam-macam." sahut B.I sembari berusaha menenangkan kakak sulungnya itu. Bobby mengernyitkan dahinya bingung, memang seberapa kenalnya B.I dengan si Buffy itu sampai ia tenang saja adik bungsu mereka tengah bersama pemuda tersebut?
"Ya! Kau serius mengenalnya?" tanya Bobby menuntut. Well bagaimanapun juga ia adalah seorang kakak. Tentunya ia khawatir dengan si bungsu yang kini tak tahu dimana gerangannya. Apalagi gadis Kim itu tengah bersama laki-laki lain selain saudara-saudaranya.
"Tentu, dia anak kelas Rapping. Sayangnya kita tidak satu kelas dengannya juga. Tapi aku mengenalnya karena dia sempat membantuku menyelesaikan tugas lirik dari Yang Songsaenim." jawab B.I dengan wajah meyakinkan.
Umur panjang, orang yang dibicarakan tengah berjalan ke arah mereka ber-enam yang tengah sibuk menenangkan Jin. Gadis Kim itu menatap heran kakak-kakaknya. "Kalian sedang apa?" tanyanya dengan wajah bingung. Terlihat lucu sekali. Dengan kepala dimiringkan ke arah kanan dan mengerjap bingung.
Bobby segera berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah si bungsu. Dan dengan sayangnya pemuda bergigi kelinci itu menjitak sayang kepala si adik. "Ya! Kau kemana saja sih! Kami menunggumu dari tadi tahu!" omel Bobby ala Ibu-ibu yang kesal karena anak gadisnya pulang terlambat. Yang diomeli mengeluarkan cengiran lebar. "Ada urusan penting tadi kak. Maaf ya?"
Jin menghela nafas pelan dan menarik Rany untuk duduk di sebelahnya. Pemuda tampan itu mengacak pelan surai perak adiknya itu. "Lain kali beritahu kami dulu oke? Kau membuat kami khawatir." Peringatan itu diangguki oleh si bungsu dengan patuh.
Suasana yang awalnya sedikit mencekam berubah menjadi damai kembali. Para remaja tanggung itu pun memesan makanan ataupun minuman mereka, tanda rasa lapar dan juga haus sudah mereka tahan sejak pelajaran pertama tadi pagi.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, remaja-remaja tanggung itu asyik mengobrol satu sama lain.
"Donghyukie~ kita berdua satu kelompok ya! Kau tahu kan aku paling lemah menulis lirik?" pinta Rany dengan wajah memelas. Gadis itu bahkan menarik jemari Donghyuk yang kebetulan duduk tepat diseberangnya. Donghyuk tersenyum lucu melihat sikap manis gadis Kim itu. "Tentu saja! Kita kerjakan sepulang sekolah nanti oke?" dan keduanya saling melempar senyum manis. Mengabaikan Junhoe yang kini justru memasang raut wajah tidak terima.
Junhoe memutus tautan tangan Rany dan Donghyuk dengan wajah masam. "Kau akan sekelompok denganku. Titik." ujar Junhoe. Singkat, padat dan jelas. Terlebih pemuda Koo itu menggunakan nada yang terlampau datar dan justru menjurus layaknya nada perintah seorang bos ke anak buahnya yang susah diatur.
Rany dengan senang hati menendang kaki Junhoe kencang. Posisi duduk mereka bersebelahan, walau susah tapi si bungsu Kim itu masih bisa menjangkau kaki panjang Junhoe. "Cih, aku tidak mau. Cari orang yang mau sekelompok denganmu saja sana!" tolak gadis itu dengan wajah super menyebalkan yang ia pelajari langsung dari sang kakak kedua Bobby.
Yeah si kembar pertama itu memang memberikan pelajaran ekstra untuknya, menolak Koo Junhoe dengan cara yang menyebalkan. Mungkin itu sebagai bentuk pertahanan diri (?) juga.
Karena jujur saja ia tidak suka di perintah dengan cara seperti itu. Pengecualian untuk kakak-kakaknya dan juga kedua orangtuanya.
"Kalau begitu aku bergabung dengan kalian berdua."
Dan pertikaian antara kedua bocah tanggung itu tak terelakkan. Aksi jambak dan berteriak dilakukan keduanya tanpa tahu malu. Hanya Donghyuk dan juga Jinhwan yang sibuk melerai keduanya. Jin, Bobby dan B.I terlihat tak ada niatan untuk membantu melerai. Bobby justru menyemangati si bungsu untuk membuat si Junhoe babak belur.
Makan siang kala itu benar-benar diwarnai kegaduhan yang menarik perhatian. Tanpa Junhoe maupun kakak-kakak Rany, ada sepasang mata yang menatap si bungsu dengan penuh minat.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi?"
"Seperti yang kau lihat tadi pagi."
Jimin mengernyitkan dahinya begitu mendengar jawaban Taehyun yang terdengar sedikit lesu. Ada apa dengan bosah ini sebenarnya? "Hei, kau oke kan?" Jimin terlihat sedikit khawatir melihat wajah Taehyung yang tiba-tiba saja memerah layaknya kebakaran. Sedangkan Taehyung berusaha menutupi wajah terbakarnya dengan cepat. Entah apa yang pemuda manis itu bayangkan sebelumnya ini. "Aku oke kok. Tenang saja." jawabnya dengan gugup.
Jujur saja sih Jimin melihat semua interaksi antara sahabatnya ini dengan senior mereka −Jin− pagi tadi. Walau tidak terlalu dengar apa yang keduanya bicarakan, tapi pemuda Park itu melihat bagaimana perhatiannya si Pangeran Sekolah mereka pada seorang Kim Taehyung. Dan Jimin yakin, andai saja bel masuk belum berkumandang, siswa-siswi yang melihat apa yang Jimin lihat pasti akan memandang iri pada sosok manis sahabatnya ini.
Bagaimana tidak? Kim Seokjin adalah salah satu siswa populer di sekolah ini, dan beberapa orang menganggap Senior Kim itu sebagai salah satu Pangeran Sekolah. Seokjin juga dikenal orang yang sangat baik, ramah pada siapapun entah itu junior ataupun pada para Guru beserta staff sekolah. Apalagi sampai mendapat perhatian intens yang di dapat Taehyung. Wah kalau sampai fans Senior Seokjin melihat interaksi keduanya tadi pagi, bisa habis Taehyung.
"Kelihatannya kalian dekat sekali ya? Aku baru tahu kau mengenal Senior Seokjin." Jimin mencoba memancing Taehyung untuk bercerita, siapa tahu ia bisa membantu. Taehyung itu sangat bodoh tentang percintaan. Jadi sebagai teman yang baik, Jimin sepatutnya membantu sahabat manisnya ini kan?
Awalnya Taehyung terlihat ragu, namun akhirnya pemuda manis dengan senyuman khas itu mau bercerita juga. "Belum sedekat yang kau bayangkan kok." jeda sebentar, pemuda yang sangat unggul di bidang dance dan juga taekwondo itu melanjutkan ucapannya. "Siapa yang tidak kenal Senior Seokjin? Se-antero sekolah pasti tahu siapa dia. Hanya orang kurang pergaulan yang tidak mengenalnya."
Melihat reaksi Taehyung yang malu-malu begitu bisa Jimin pastikan jika Taehyung pasti ada rasa dengan senior mereka itu.
"Kau menyukainya?" tanya Jimin dengan wajah polos. Taehyung langsung menoleh ke arah sang sahabat dan menatapnya tajam. Hampir melotot. Semakin dilihat reaksi Taehyung benar-benar mengisyaratkan jika pemuda alien ini memang menyukai Seokjin. Itulah yang Jimin pikirkan.
"A-apaan sih! Pertanyaanmu konyol sekali!" dengan gugup Taehyung memalingkan mukanya kearah lain. Tidak berani memandang Jimin, sekaligus menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tapi sayang, Jimin sudah melihatnya terlebih dahulu.
Jimin tertawa menggoda ke arah sahabatnya itu. "Yakin tidak suka? Diambil orang lain tahu rasa." Dan pemuda Park itu makin tertawa keras melihat reaksi Taehyung selanjutnya.
Kim Taehyung siswa tahun ke-dua sekaligus sahabatnya, benar-benar fix jatuh cinta pada Senior Seokjin.
Sepertinya Jimin harus turun tangan untuk membantu sahabat manisnya ini. Anggap saja Jimin sedang baik hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hanbin-ah." B.I menolehkan kepalanya. Jinhwan menatapnya ragu. Saat ini keduanya tengah berjalan ke arah perpustakaan sekolah mereka. Sehabis makan siang bersama tadi –yang dipenuhi aksi anarkis Rany sang adik dan Junhoe yang hanya bisa pasrah diapa-apakan adiknya−, keduanya atau lebih tepatnya Jinhwan teringat untuk meminjam sebuah buku yang harus didapatkannya untuk membantu tugas dari Jung Songsae. Dan buku itu kabarnya ada di perpustakaan sekolah. Jinhwan berencana mencari buku tersebut, dan sebagai kekasih yang baik B.I tentu akan menemani kekasihnya. Masih ada waktu 45 menit sebelum kelas selanjutnya dimulai, jadi tidak masalah baginya untuk menemani pacarnya itu.
"Aku harus mengerjakan tugas dengan Mark, jadi nanti kau pulang duluan saja. Tidak apa kan?" Jinhwan berharap kekasihnya ini sedikit mengerti dengan kondisinya. B.I memang tipikal pacar yang sedikit posesif, apalagi pacarnya adalah Jinhwan si mungil nan manis anak klub vokal. Makin posesif-lah pemuda itu. B.I menghela nafas panjang, well untuk saat ini ia harus menekan sifat posesifnya. Bagaimanapun juga tugas ini adalah tugas yang harus dikerjakan bersama yang berarti akan saling mempengaruhi nilai masing-masing. B.I tidak ingin egois dan membiarkan kekasihnya mendapat nilai jelek. "Baiklah kalau begitu. Sampai dirumah telfon aku oke?"
Jinhwan memekik girang, akhirnya pacarnya ini mau mengalah. Well pertanda baik untuknya kali ini. Kelewat gembira pemuda manis itu menarik tubuh tegap kekasihnya dan memeluknya erat. Tak lupa bibir tipisnya mengecup sayang pipi B.I yang merona parah.
Siswa-siswi yang tengah lalu-lalang di koridor tersebut menatap keduanya seolah kegiatan keduanya adalah tontonan menarik ala drama-drama di televisi. Anggota klub pendukung pasangan inipun terlihat tergeletak dengan damai bersama lubang hidung mereka yang mengeluarkan darah. Fanservice dadakan dan terlalu manis eoh?
Pasangan ini memang termasuk pasangan fenomenal, tak heran jika mereka bahkan memiliki fanclub sendiri.
Kembali dengan pasangan B.I-Jinhwan ini, kondisi keduanya masihlah berpelukan mesra di tengah koridor menuju perpustakaan. Mengabaikan berbagai pasang mata yang menonton gratis tayangan live yang mereka berikan. B.I yang awalnya merona parah kini justru memeluk erat kekasihnya, dengan rangkulan maut di pinggang ramping Jinhwan yang terlihat sebagai rangkulan posesif. Pemuda sipit itu mengirimkan tatapan mematikan kearah beberapa pasang mata yang menatap ꞌlaparꞌ kearah kekasih manisnya.
Merasa keadaan mulai sedikit tak terkendali –beberapa dari penonton tersebut mulai berusaha mendekat ke arah mereka, atau lebih tepatnya ke arah Jinhwan−, B.I segera membawa kekasihnya itu untuk pergi dari sana dan melanjutkan perjalanan mereka ke perpustakaan sekolah.
"Kalau ingin pergi kemanapun kau harus bersamaku oke?" titah B.I sembari mempercepat langkahnya. Pemuda itu tak henti menajamkan pandangannya ke arah siswa-siswa yang masih asyik memandangi kekasihnya. Jinhwan terkekeh lucu melihat betapa posesifnya Kim Hanbin si kekasih tampannya. Bagi pemuda manis itu kekasihnya yang tengah mengirimkan aura mematikan untuk melindunginya itu adalah hal terlucu yang pernah ia lihat. Sekaligus melihat wajah B.I yang sedikit cemberut namun tetap tampan.
Jinhwan sangat beruntung ya?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kak Seokjin!" panggil seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang tampak berlari ke arah Jin yang memunggunginya. Jin pun menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya. "Oh, Sowon-ah. Ada apa?" tanya Jin sembari menghentikan langkahnya. Sowon –nama gadis cantik tadi− tersenyum manis. "Jaebum membutuhkan bantuanmu. Ruang dewan murid hanya berisi omelannya saja dari tadi." keluh gadis itu dengan wajah sebal. Setelah hampir mendengar omelan Jaebum –ketua Dewan Murid yang baru− di ruang rapat Dewan Murid selama 20 menit, akhirnya ia bisa keluar dari ruangan itu. Walau hanya sebentar, karena Jaebum si senior sipit nan galak menyuruhnya untuk mencari kakak kelasnya yang kini ada di hadapannya.
Jin tertawa pelan. Bisa ia bayangkan betapa suramnya ruang rapat yang di pimpin Jaebum itu. Jaebum kalau marah memang mengerikan. Tapi semengerikan apapun adik kelasnya itu Jin sangat menaruh harapan besar pada pemuda itu, karena pemuda bermarga Im itu memang tipe pekerja keras dan bertanggung jawab pada tugas-tugas yang diembannya. Jin percaya jika Jaebum bisa membawa banyak perubahan baik untuk sekolah mereka ini. "Memang apa yang bisa kubantu?" tanya pemuda itu masih dengan senyumannya.
Sowon dengan cepat menarik tangan Jin dan membawa kakak kelasnya itu untuk ikut bersamanya kembali ke ruang rapat. ꞌTerlalu lama di luar begini bisa membuat Jaebum marah, habislah akuꞌ pikir Sowon takut.
"Kepala sekolah mengingatkan pada Ketua tentang acara perayaan ulang tahun sekolah. Dan Ketua sepertinya cukup frustasi pada pembagian tim kerja. Karena beberapa siswa tingkat II sedikit mengacau. Apalagi waktu persiapan hanya tinggal 3 bulan lagi." jelas Sowon. Gadis itu sangat ingat bagaimana Jaebum memarahi siswa se-angkatannya yang dinilai tidak becus untuk merekrut siswa-siswi tingkat I untuk berpartisipasi kegiatan tahunan intu. Sungguh menyeramkan melihat wajah seram Senior tingkat terakhir itu.
"Panitia acara sudah dibentuk kan?" Sowon menganggukkan kepala. Panitia acara intinya sih sudah dibentuk beberapa hari yang lalu. Pembagian tugas yang masih sedikit ribet. "Ketua yang membentuknya lusa kemarin. Ketua Panitianya adalah Buffy. Dia juga Ketua Panitia Tahun Ajaran Baru kemarin ini."
Jin mengeluarkan gumaman ꞌOohꞌ dari belah bibirnya. Pantas saja ia merasa pernah dengar nama itu. Ternyata anak tahun kedua dengan wajah ala preman itu yang bernama Buffy.
Perjalanan ke arah ruang rapat dewan murid tidaklah memakan waktu yang lama. Tidak sampai 15 menit mereka pun sampai di ruangan yang sedikit sesak karena begitu banyak manusia di dalam sana. Beberapa siswa-siswi yang melihat kedatangan Sowon dan Jin menghembuskan nafas lega. Setidaknya ꞌpawangꞌ Jaebum sudah datang.
Rapat Kegiatan Tahunan itu berjalan kembali. Jin sempat adu pendapat dengan Jaebum mengenai susunan acara. Dan juga beberapa guest untuk memeriahkan acara inti. Rapat itu menghabiskan waktu lebih dari 2 jam, karena Jaebum benar-benar menginginkan persiapan matang-matang untuk acara Tahunan ini. Alhasil Jin harus meminta tolong Jaebum untuk mengizinkannya dari kelas dengan menyuruh anggota Dewan Murid yang baru untuk memberika surat dispensasi Jin pada guru yang ada di kelas Jin sekarang.
Dan tak terasa bel tang pulang sekolah telah berbunyi. Jaebum menutup rapat hari itu. Rapat melelahkan dan menguras emosi itu menghasilkan susunan acara dan rencana perekrutan anggota Panitia untuk setiap seksi dan juga masalah Guest. Jin menepuk pundak Jaebum, "Semangat! Acara ini pasti akan se-sukses tahun lalu." Jaebum tersenyum kearah Jin, pemuda bermarga Im itu balas menepuk pundak temannya itu. "Kalau begitu aku harus banyak meminta saran darimu kak Jin." tukas pemuda yang sangat berbakat di bidang dance tersebut. Membuahkan tawa diantara keduanya. Keduanya memang sedikit akrab karena bagaimanapun juga Jin adalah mantan ketua Panitia Acara Ulang Tahun Sekolah setahun yang lalu dimana Jaebum juga ikut terlibat di acara tersebut, dimana ia berperan sebagai seksi bidang Humas.
Tawa Jin berhenti ketika ia melihat seorang pemuda tampan dengan surai perak tengah membereskan notebook dan berbagai barang yang ada di meja rapat. Jin menyikut lengan Jaebum pelan. "Itukah yang namanya Buffy?" tanya Jin dengan pandangan yang tak teralihkan dari pemuda perak tadi. Dengan nada berbisik tidak ingin pemuda yang dibicarakan sampai mendengar. Jaebum pun mengikuti arah pandangan Jin dan menganggukkan kepalanya pelan. "Ya begitulah. Dia adalah Ketua Panitian Acara Tahun Ajaran Baru kemarin. Ada apa memang?"
"Aku ada urusan dengannya. Kau duluan saja sana." usir Jin dengan gesture melambaikan tangan ke arah Jaebum dan cengiran tampan di wajahnya. Jaebum yang semula kesal dengan perlakuan temannya itu pun tertawa kecil. Pemuda Im itu pun meninggalkan ruang rapat dengan segera, ia ingin cepat-cepat pulang kerumah soalnya.
Setelah merasa hanya ada mereka berdua diruangan itu Jin menghampiri pemuda tersebut. Tanpa basa-basi Jin mengintrogasi Buffy yang sedikit terkejut akan kehadirannya. "Ada urusan apa antara kau dengan Rany?" tanya Jin to the point. "Rany adalah adik bungsuku, jadi aku perlu tahu apa urusan kalian berdua." lanjut Jin seolah memberi tahu informasi pada pemuda dihadapannya ada hubungan apa antara ia dan Rany sang adik.
"Saya hanya menawarinya untuk mengikuti perekrutan Panitia Ulang Tahun Sekolah Senior Seokjin. Dan juga menjadi Guest Acara ini. Karena menurut saya, penampilannya sewaktu audisi di Tahun Ajaran Baru adalah penampilan yang sangat memukau. Hanya itu." jelas Buffy dengan mimik wajah tenang. Jin yang mendengar penjelasan pemuda dihadapannya menganggukkan kepalanya pelan. Jin hanya khawatir pada adik bungsunya itu oke? Ia mengira jika Rany membuat masalah pada pemuda dihadapannya ini.
"Jawabannya?"
"Ia belum memutuskannya Senior Seokjin. Katanya ia ingin meminta persetujuan dari kakak-kakaknya terlebih dahulu."
Diam-diam Jin tersenyum bangga pada sang adik bungsunya itu. Rany masih paham jika Jin, Bobby dan B.I setidaknya harus mengetahui kegiatan apa yang dilakukannya di sekolah. Jin menepuk pelan pundak pemuda itu. "Baiklah terimakasih infonya Buffy. Maaf kalau tadi aku bersikap tidak baik padamu." dan mengajak Buffy berjabat tangan. Pemuda itu menyambut tangan Jin dan keduanya berjabat tangan dengan wajah ramah. "Tidak apa Senior Seokjin. Itu wajar kok karena kita berdua juga tidak terlalu mengenal satu sama lain."
Setelahnya kedua pemuda itu berjalan keluar ruang rapat yang memang disediakan sekolah untuk Dewan Murid. Keduanya berpisah arah setelah keduanya sampai di koridor khusus kelas III berada. Buffy menuju ke arah tangga menuju lantai bawah dan Jin harus melanjutkan langkahnya ke arah kelasnya yang kebetulan berada di ujung koridor. Melambaikan tangan sebagai salam perpisahan, Jin melanjutkan perjalanannya ke kelas III-B kelasnya tercinta.
Dengan cepat pemuda Kim itu menyambar tas punggungnya dan segera keluar kelas. Baru dua langkah keluar kelas, ponsel yang ada di saku celana sekolahnya berdering.
Begitu ID Caller terbaca oleh mata tajamnya, Jin buru-buru menekan tanda Answer yang muncul di layar ponselnya dan membawa benda persegi panjang nan datar miliknya ke telinga.
"Taehyung-ah!" Jin nyaris memekik begitu tahu siapa yang menelfonnya. Jangan tanya kapan Jin punya nomor ponsel Taehyung.
"Ooh. . . kak Jin tahu ini nomorku darimana?" tanya suara merdu dari line seberang. Jin menepuk pelan dahinya, duh bisa ketahuan deh kalau dia menguntit Taehyung dengan mencari arsip siswa milik pemuda itu untuk tahu nomor ponselnya.
"I-itu aku. . eum bukannya kau memberikan nomormu padaku tadi pagi? Kau sendiri yang mengetiknya di ponselku. Ingat?" Jin berharap Taehyung percaya saja pada perkataannya kali ini.
"Yah mungkin aku lupa kalau sudah memberi kakak nomorku." jawaban Taehyung membuat Jin bernapas lega. Jin kan tidak ingin di cap sebagai stalker –walau kenyataannya memang begitu−. "Eum jadi, kak Jin ada dimana? Aku sudah ada di depan klub karate."
.GOD
Terkutuklah Jin dengan segala kepikunannya. Ia benar-benar berdosa sekali membiarkan Taehyung menunggunya di depan klub karate sendirian. Tapi demi Tuhan, Jin benar-benar lupa akan janjinya sendiri pada Taehyung. Padahal janji itu ia kumandangkan sendiri pagi tadi.
Berjalan cepat bukanlah pilihan yang tepat agar cepat sampai di depan klub karate yang sialnya lagi ada di lantai dasar, jadi Jin memilih berlari. Berlari sekuat tenaga layaknya dikejar-kejar sekelompok Badak mengamuk. Kemampuan berlari Jin bisa dikatakan cepat dan sedikit keren, apalagi ketika ia melompati beberapa anak tangga yang menghubungkan beberapa lantai-lantai koridor antara kelas III ke kelas II begitupula dengan kelas II ke kelas I.
Setelah mencapai lantai dasar, kaki panjang Jin berlari cukup kencang ke arah ruangan klub karate. "Taehyung-ah, kau masih disana kan?" tanya Jin di sela-sela kegiatannya berlari.
"I-iya kak. Aku masih di depan ruang klub kok." jawab si manis di sana.
Bisa Jin lihat dari kejauhan kalau Taehyung memang masih ada di depan ruangan klub karate. Dan tepat sedetik kemudian Taehyung memalingkan wajahnya menjadi ke arah Jin.
"Ma-maaf. Tadi aku harus mengikuti rapat Dewan Murid." Taehyung menepuk pelan pundak Jin yang naik-turun. Pemuda manis itu tersenyum pelan. "Tidak apa-apa kak. Hanya 10 menit kok." Pemuda manis itu menarik tangan Jin dan membiarkan kakak kelasnya itu duduk sembari mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Taehyung yakin jika kakak kelasnya ini habis berlari kesurupan saat menuju kemari.
Setelah yakin nafasnya sudah teratur, Jin melontarkan permintaan maaf ke arah Taehyung yang hanya memaklumi. Bagaimanapun juga kegiatan Jin memang cukup padat sebagai siswa kelas III. Ditambah ia termasuk siswa teladan. Guru-guru pasti menyuruhnya mengikuti kegiatan ini-itu.
"Kita pulang sekarang?" ajak Jin dengan wajah bersalah. Well walau Taehyung hanya menunggunya sekitar 10 menit itu bukan pertanda bagus bagi si sulung Kim ini. Sama saja berarti Jin sudah mengingkari janjinya sendiri. Dan Jin adalah orang yang selalu tepat waktu.
Taehyung menganggukkan kepalanya pelan. Membuat Jin segera bangkit dan menarik Taehyung kearah mobilnya diparkir.
Selama perjalanan mengantar Taehyung, suasana di dalam mobil sungguh hening. Tak ada satupun dari keduanya yang buka suara. Hanya aktivitas saling melirik satu
sama lain yang mereka berdua lakukan. Jin yang tidak tahan dengan suasana mencekam seperti itu buka suara. Masih fokus menyetir tentunya. "Kau anak tunggal ya Taehyung-ah?" tanya Jin membuka percakapan. Taehyung menolehkan kepalanya cepat, cukup terkejut dengan pertanyaan Jin. Karena yah tidak ada yang tahu kalau dia anak tunggal. Karena bagaimanapun juga Taehyung tipe orang yang pendiam dan sedikit menutup diri dari orang asing. Hanya orang-orang yang benar-benar dekat dengannya saja yang tahu tabiatnya seperti apa. Jadi tidak heran jika balasan Taehyung terdengar sekali nada terkejutnya, "Kak Jin tahu darimana?"
Jin jadi gugup sendiri. Haruskah ia mengaku jika ia sudah hampir setahun ini membuntuti Taehyung? "Aku tidak sengaja melihat arsipmu. Dan yah aku tahu dari arsip itu. Maaf jika aku lancang menanyakannya." Setidaknya Jin tidak terlalu berbohong disini. Dulu ketika masih sedikit berurusan dengan Dewan Murid ia sempat mengobrak-abrik arsip-arsip seluruh siswa-siswi yang ada di sekolah –membantu pendataan siswa-siswi baru maksudnya−. Dan saat itu kedua matanya tidak sengaja menangkap lembar berisi data Taehyung.
Sungguh bukannya Jin bermaksud lancang untuk membuka-buka arsip dan mencari identitas Taehyung. Ia hanya tidak sengaja menemukannya dan berakhir dengan keingintahuan besar yang menjadikannya stalker Kim Taehyung selama setahun.
"Hmm, tidak apa kak." kata Taehyung masih senyuman yang menjadikan pemuda itu semakin terlihat manis. "Oh ya kak Jin nanti mampir sebentar ya? Akan kukenalkan pada Ayah dan ꞌIbuꞌku. Dan sebagai rasa terima kasih kakak harus makan malam dirumahku." lanjut Taehyung dengan cengiran yang manis.
Dan Jin bersumpah jika saja ia tidak sedang mengemudi, sudah pasti Taehyung akan di iya-iyakan olehnya. Demi seluruh koleksi benda-benda pink miliknya Taehyung semakin membuatnya jatuh cinta.
Lagipula tawaran untuk dikenalkan pada calon mertua tidak boleh ditolak kan?
Jarum jam yang ada di ruang keluarga menunjukkan pukul 08.00 malam. Tapi sosok kakak sulung mereka belum pulang juga. Rany nyaris saja menelfon polisi untuk melaporkan hilangnya sang kakak sebelum suara yang dikenalnya menggema di seluruh ruangan itu.
"Aku pulang~!" Jin, kakak sulung mereka akhirnya menampakkan batang hidungnya. Pemuda tampan itu berjalan mendekat ke arah adik-adiknya yang terbengong melihatnya.
"Hei! Balas sapaanku dong!" teriak Jin sebal. Membuat ke-tiga adiknya tersadar dari lamunan masing-masing, dan ketiganya membalas sapaan Jin dengan loyo. "Selamat datang kak Jin."
"Nah, gitu dong!" tersenyum tampan melihat bagaimana menurutnya adik-adiknya itu. Tapi ia sadar jika kondisi adik-adiknya tengah bergelimpangan tak ada tenaga di sofa dan juga karpet bulu yang ada di ruangan itu. "Kalian kenapa sih?" tanyanya bingung.
"La-lapar. . ." suara cempreng B.I muncul tiba-tiba. Pemuda sipit itu menggerakan tangannya seolah ingin menggapai Jin dengan gaya dramatis. Dasar, korban sinetron.
"Pesan makanan saja ya? Kakak sedang malas memasak." Dan setelahnya Jin memesan makanan melalui layanan pesan antar. Tak perlu bertanya apa yang ingin dimakan oleh adik-adiknya, jika keadaan seperti ini mereka biasanya ingin makan Pizza. 1 large Meat Lovers Cheese Mayo Pizza penuh keju Mozzarella untuk si bungsu dan 2 large Bulgogi Pizza.
Rany, Bobby dan B.I saling pandang melihat kakak sulung mereka yang kini nampak begitu gembira. Memandang aneh kakak sulung mereka itu.
"Kakak keatas dulu ya? Ganti baju." kata Jin sembari melangkahkan kakinya ke arah tangga yang berada tak jauh dari tempatnya berkumpul bersama adik-adiknya, tanpa mendengar balasan dari adik-adiknya pemuda Kim itu segera menuju tangga yang menghubungkan lantai 1 dimana kamarnya berada. Melewati anak tangga tersebut dengan cepat, padahal bahaya sekali jika ꞌberlariꞌ di tangga seperti yang Jin lakukan kini. Pemuda tampan itu tiba-tiba menghentikan langkahnya di pertengahan tangga, menatap ke arah adik-adiknya yang juga menatap ke arahnya. "Kalau Layanan Pesan Antarnya sudah datang panggil saja kakak, oke? Biar kakak yang bayar tangihannya."
Dan lagi-lagi tanpa mendengar balasan dari adik-adiknya, Jin melesat masuk ke kamarnya yang berjarak cukup dekat dengan tangga.
"Ada yang salah dengan kak Jin." –Rany menatap kedua kakak kembarnya dengan tatapan linglung.
"Tidak biasanya dia baik begini." –Bobby hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya bingung.
"Pulang larut dan wajah gembira itu. . ." –sama seperti keadaan kakak kembar dan adik bungsunya, B.I seolah kehilangan kata-kata melihat tingkah kakak sulungnya barusan.
"Ada apa dengan Kak Jin?" –tanya ketiga kakak-beradik itu entah pada siapa.
Kelakuan orang jatuh cinta memang aneh kan ya?
To Be Continue~
Halo semuaaaa /dadah-dadah ala Miss Korea/? *uhuk. . .hoeks*
Kembali lagi bersama saya manusia gaje tukang ngutang epep :(
Saya ingin melontarkan (?) permintaan maaf pada readerdeul sekalian karena lama tidak mengupdate fiction ini /bow/. Karena terjadi banyak sekali kendala, entah itu kehabisan ide ataupun tidak sempat buka laptop T^T
Saya datang kembali membaca lanjutan dari Family Rush! Dengan chaptere ke 0.3! Horeeeey~~
Oh ya sebelumnya saya akan memberitahukan bahwa ada beberapa typo yang mungkin readers sekalian bisa memaklumi saya yang hanya manusia biasa tempatnya typo dan salah T^T
Beberapa typo diantaranya adalah. . .
*Typos:
Sebelumnya di chaptere 02. Audisi Masuk Seongnam Art SHS, tercantum Organisasi Siswa di Sekolah Kim bersaudara itu namanya Dewan Siswa. Itu sebenarnya adalah typo. Saya typo lupa memperbaiki T^T Yang benar adalah Dewan Murid. Maaf sekali baru nyadar kalo typo /bow/
Oh ya Jin itu sudah bukan Ketua Dewan Murid lagi. Seokjin jadi Ketua Dewan Murid waktu dia kelas I yang berarti masa jabatannya habis saat ia hampir menginjak kelas II –sebelum Ujian Kenaikan Kelas II ia turun jabatan− Dan sekarang dia hanya anggota biasa, karena agak aneh juga kan kalau anak kelas tingkat akhir masih ikut organisasi siswa. Apalagi jadi Dewan Murid. Dan kesalahan itu tercantum juga di chaptere 02. Audisi Masuk Seongnam Art SHS, dan akan saya perbaiki biar enak dibaca :(
Jadi itulah typo yang ingin saya jelaskan. Maaf sekali kalau saya baru nyadar. Hiks :( maapkeun yak /kasih kolornya Bobby hyung/?
Selamat membaca untuk readers semua yang masih berkenan menunggu lanjutan fiction ini.
Saya sangat menerima kritik dan saran untuk setidaknya membantu kelancaran epep ini.
Silent readers, Looked reader mari silahkan menikmati~~
Balasan Review – Audisi Masuk Seongnam Art SHS
for YongInnieee: Halo chingu~~ Iya untuk chaptere kemarin Taehyung mulai muncul. Karena sebagai pasangan yang akan dipasangkan dengan kak Jin (alamak bahasa saya belibet), Taehyung akan dikhususkan untuk muncul juga hehehe. Dan di chaptere ini Taehyung akan muncul lebih banyak sesuai porsinya. Karena yah judul Chaptere ini sendiri ꞌAda Apa Dengan Kak Jin dan Taehyung?ꞌ
Ini lanjutannya sudah ada, semoga tidak bosan menunggu lanjutan epep ini yang terlampau lelet T^T
Semoga chaptere ini menarik dan sedikit memuaskan ya.
Berkenankah kamu untuk review lagi?
.
for she3nnO: Halo chingu~ Maaf baru bisa update ini epep hehe. Masih setiakah kamu menunggu kelanjutan ini epep? /mata sedih/
Terimakasih karena udah mau pegel nahan senyum dan mau ngakak untuk chaptere sebelumnya. Semoga chaptere ini juga akan ngebuat kamu pegel nahan senyum dan mau ngakak juga ;)
Kak Bobby emang tukang Modus, keliatan banget kan dari wajahnya. Jadi pantes aja kalo jomblo terus :( /dijitak kak Bobby/
Kak Hanbin ketularan si Kak Bobby. Untung mereka berdua ganteng hehe. Nanti bakalan ada kok chaptere sendiri buat Kak Hanbin sama Kak Jinhwan. Begitupula untuk kak Bobby sama Donghyuk hehe. Ditunggu yaa
Kak Jin reaksi buat tahu adek-adeknya mulai cinta-cintaan itu nanti setelah semua adeknya (Bobby sama Rany) jadian sama pasangan masing-masing. Yang pasti rempong abis. Kan Kim Family keluarga ajaib hehehe.
Ini lanjutannya sudah ada, semoga tidak bosan menunggu lanjutan epep ini yang terlampau lelet T^T
Semoga chaptere ini menarik dan sedikit memuaskan ya.
Berkenankah kamu untuk review lagi?
And Special Thanks for:
BaconieSonjay, Sien Venus, Taehyung243, YongInnieee, btsgurl613, hunhan aegy, hyemi270, , BbuingHeaven,JeonTri1397, SHoonHoon96, 29mar, she3nn0
Yang sudah mau berkenan me-follow bahkan me-favoritekan fiction ini.
Sekali lagi terima kasih :)
/bow/
