Melihat Kak Gaara, aku teringat lagi kejadian tadi siang, rasa sesak menjalar begitu saja didadaku, lekas aku menggeleng kuat, berusaha melupakannya sesaat. Tapi, disamping itu rasa senang perlahan menyusup kedalam hatiku, sikap Gaara padaku mulai seperti dulu lagi.

"Yeay! Kak Gaara~..."

.

.

.

.

KIMI TO BOKU NO KANKEI

Hubungan Kau dan Aku

Pair : SasuSaku, slight GaaSaku, and other pairing

Rate : T

Hurt/Comfort/Romance/Friendship

Disclaimer : Naruto belongs to Kishimoto Masashi

Warning : DLDR(!), OoC, abal, AU, Typo, sudut pandang Sakura, minim deskripsi, dan lain sebagainya.

...

.

.

.

.

Normal PoV

Sasuke meraba – raba nakas disamping ranjangnya, mencari handphone miliknya yang entah sejak kapan berbunyi, rasa kantuk yang masih menderanya membuatnya berusaha keras mencari keberadaan benda canggih itu, dan... dapat!

Klik.

"Ha – "

" – Kak Sasukeee! Kau baru bangun?!" Sontak Sasuke menjauhkan handphone itu dari telinganya saat mendengar suara cempreng dari seberang. Si gadis merah jambu.

"Kalau iya, kenapa?! Apa mau mu?!" hardik pemuda itu kesal, karena sudah mengganggu acara tidurnya. Sasuke mengambil posisi duduk diatas kasurnya sambil tangan kirinya yang tidak memegang ponsel memijat – mijat pelan pelipisnya.

"Isss, kau ini! Cepat pergi mandi dan baca pesan dariku yang sudah kelewat banyak itu!" tukas Sakura dari seberang.

Klik.

Belum sempat Sasuke menjawab, sambungan telepon itu sudah diputuskan oleh Sakura. Ibu jarinya men-touch icon surat di layar handphone miliknya, lekas membuka pesan dari gadis itu, ada lima belas pesan dan isinya sama semua.

Senpai! Jemput aku sekarang, hari ini kita kencan! Aku tunggu, awas saja kalau tidak! Jangan harap aku akan membantumu mendapatkan Matsuri!

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, Sakura mengajaknya kencan? Laki – laki berambut raven itu mendengus pelan lalu beranjak malas – malasan dari atas kasurnya dan masuk kedalam kamar mandi.

.

.

.

.

.

Tok tok tok.. Sasuke mengetuk perlahan daun pintu besar berwarna tanah didepannya, sambil sedikit merapikan rambutnya yang lepek akibat memakai helm, melalui kaca jendela yang berada di samping pintu tersebut.

Kriet...

Sosok gadis berambut merah muda sebahu itu muncul dibalik pintu dengan senyum yang mengembang saat melihat Sasuke dengan style khasnya berdiri sambil memasang pose cool.

Sasuke memandangi Sakura lekat - lekat, gadis bernama bunga itu terlihat manis dengan dress biru tua selutut dan wedges hitam, tanpa sadar pemuda bernama lengkap Uchiha Sasuke itu tersenyum kecil dengan semburat tipis menghiasi pipi tirusnya.

"Ah, Kak Sasuke? Ayo pergi!" ajak Sakura setelah menutup pintu rumahnya dan lantas mengamit lengan pemuda berambut raven disampingnya, membuat laki – laki itu sedikit tersentak.

"Hn."

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke mengamati cafe yang baru beberapa kali ia kunjungi ini, sesuai namanya Himawari cafe, sepanjang dinding cafe ini terdapat gambar bunga matahari, dengan iringan lagu yang terkesan kekanak – kanakkan, dan lagi, pengunjung cafe ini rata – rata remaja tanggung dan ababil. Sangat tidak cocok untuk berkencan, pikir Sasuke.

"Heh, jidat." Panggil Sasuke pada gadis disampingnya yang tengah menatap ke arah pintu kafe.

"Hm?"

"Kau berdalih mengajak kencan hanya untuk memandangi pintu cafe?! Yang benar sa – "

" – Kau akan tahu maksudku, senpai." Potong Sakura, lekas berbalik menghadap pemuda disampingnya dengan senyum yang mengembang, setelah apa yang sedari tadi ia tunggu sudah datang.

Sasuke yang tak sengaja melihat kearah pintu kafe langsung menatap Sakura tak percaya, "Kau mau menguntit kencan mereka lagi?" tanyanya sambil berbisik.

Gadis itu nyengir, "Sebenarnya bukan nguntit sih, gini..." Sakura mendekatkan bibirnya ketelinga Sasuke, "Nanti... kita pura – pura gak sengaja ketemu sama mereka, kita ajak double date gitu, Kakak alihkan perhatian Kak Matsuri, terus aku bisa sama kak Gaara deh, yey!" kata Sakura ikut berbisik dengan nada yang bersemangat. Sasuke meringis mendengar suara cempreng itu memekik kecil didepan telinganya.

Uchiha bungsu itu hanya memutar mata bosan, seharusnya ia tahu maksud terselubung Sakura mengajaknya kencan, "Aku menolak," Ucap Sasuke sontak membuat Sakura melotot padanya.

"Eeeh?! Mana bisa gitu! Kau lupa perjanjian kita?" Mata emeraldnya menatap Sasuke sebal, "Dan jangan buat rencanaku hari ini berantakan, senpai..." lanjut Sakura dengan geram.

Ah, iya. Tentang perjanjian mereka waktu itu, sebenarnya Sasuke sendiri sudah tidak begitu memikirkannya lagi, alasan dia mengajak Sakura bersimbiosis mutualisme itu rasanya sudah menghilang entah kemana, dia memang menyukai Matsuri, seperti yang ia katakan pada Sakura saat gadis itu menanyakan alasan dirinya menyukai Matsuri. Ia menyukai Matsuri sebab gadis itu tidak mengejar – ngejarnya seperti para penggemar wanitanya, dan juga tidak banyak tingkah, itu saja.

Ha, apa benar?

Lalu, bagaimana dengan Sakura... apa bedanya dia dan Matsuri?

Ah, sekarang Uchiha Sasuke baru sadar, apa bedanya Sakura dan Matsuri? kedua gadis itu terlalu sama, bahkan orang yang mereka cintai pun sama. Mungkin satu – satunya pembeda kedua gadis itu hanya ke-keras-kepala-annya saja, dan itu berlaku pada Haruno Sakura seorang.

Dan, kenapa gadis yang di sukainya bukan Sakura saja? – mereka sama, kan?

.

.

.

.

.

Sasuke menggelengkan kepala bersurai hitam miliknya, menepis semua fikiran aneh yang melintas di kepalanya barusan, Uchiha bungsu itu menatap gadis disampingnya sinis, "Ku bilang ti – "

"Sasuke, Sakura..."

"!"

Sakura sontak terperanjat kaget, mendapati siapa yang menyela pembicaraan mereka. Lain lagi dengan pemuda Uchiha disampingnya yang hanya memasang muka datar.

"Ah, Kak Matsuri dan ... kak Gaara," sapa Sakura kikuk, masih sedikit syok karena mendapati orang tengah mereka bicarakan sudah berdiri dihadapan mereka.

"Boleh gabung?" tanya Matsuri.

"Te- tentu,"

Sepasang kekasih itu lekas duduk dikursi kosong yang berada disatu meja yang sama dengan Sasuke dan Sakura, "Terima kasih,"

.

.

.

"Kebetulan sekali, ya kita bertemu disini," kata Matsuri memulai obrolan. Yang hanya dibalas dengan 'Hn,' oleh Sasuke.

Emerald hijau gadis itu terpaku pada sosok gadis berambut cokelat sebahu didepannya, memperhatikan betul sikap sosok orang yang dicintai oleh orang yang dicintainya.

Jadi ini? Gadis yang sudah membuat Gaara dan Sasuke jatuh cinta? Gadis yang menjadi saingan cintanya?

Dalam hati, Sakura meringis mendapati kenyataan bahwa dia berada jauh di bawah Matsuri, setidaknya itulah penilaiannya ketika sedari memperhatikan Matsuri yang bercerita tentang kebetulan mereka bertemu hari ini yang sebenarnya sudah direncanakan olehnya. Dengan hanya berbatas meja kaca ini Sakura merasa benar – benar melihat Matsuri yang sesungguhnya, tutur bahasanya yang sopan, senyuman yang menawan, tawanya yang khas. Ah, Sakura rasanya ingin mengubur dirinya dalam-dalam.

.

.

.

Sasuke menatap Sakura dari ujung matanya, gadis pink itu masih memperhatikan Matsuri dengan intens. Oh, mungkin dia sedang membanding – bandingkan dirinya dengan Matsuri? Pikir Sasuke. Entahlah, ia tidak mau tahu akan hal itu, lalu pandangan onyx-nya bergulir menatap sosok laki – laki berambut merah yang duduk dihadapannya sambil menyesap kopi hitam yang sudah dipesan sebelumnya.

Adik dari Uchiha Itachi itu menatap lekat – lekat pemuda bernama lengkap Sabaku no Gaara yang ada didepannya dengan pandangan menilai.

Oh, jadi ini? Pemuda yang dicintai Sakura dan Matsuri? Pemuda yang menjadi saingannya?

Sasuke berdecih dalam hati, menyadari kenyataan ia kalah dari laki – laki yang ada dihadapannya ini, karena gadis yang disukainya malah jatuh cinta pada Sabaku no Gaara, dua – duanya gadis di Tokyo Gakuen yang tidak terpesona padanya. Haruno Sakura dan Matsuri.

.

.

.

.

"Eh, Sakura, kau tidak apa – apa?" Tanya Matsuri yang melihat Sakura menundukkan kepalanya lesu tak bersemangat.

Sakura yang mendengar Matsuri bicara padanya, lekas mengangkat kepalanya, menatap langsung sang saingan cinta. "Eh? Aku tidak apa – apa, kok." Jawabnya sedikit gelagapan.

Matsuri hanya tersenyum kecil, "Oh, syukurlah. Kau terlihat tidak semangat tadi, apa kami mengganggu kencan kalian?"

"Eh? Tidak kok! Tidak!" jawab Sakura cepat, takut Matsuri dan Gaara pergi begitu saja dan mengacaukan rencananya kali ini. "Beneran," ucapnya lagi, berusaha meyakinkan Matsuri.

Matsuri tertawa kecil melihat sikap Sakura barusan, "Haha, iya iya, jadi kita double date ya?"

"I-iya" Kata Sakura kikuk seraya menatap Sasuke yang ada disebelahnya.

Alis pink miliknya berkedut mendapati Sasuke tengah menatap Gaara dengan tatapan yang sulit diartikan.

'Kenapa dia?' batin Sakura heran.

.

.

.

.

.

Dua kepala gadis berbeda warna itu menembus keramaian kota Tokyo, bergabung bersama ratusan gadis remaja maupun pasangan kekasih berlalu-lalang keluar – masuk toko – toko ber-merk yang berjejer di kanan – kiri mereka.

"Sakura kesana yuk~ banyak pilihan dress cantik loh. Ayo.." Sakura hanya mengangguk pasrah menanggapi ajakan Matsuri yang kesekian kalinya, emeraldnya mengerling sekilas ke tangan Matsuri yang menenteng empat paper bag yang berisi barang – barang branded yang mereka beli beberapa saat lalu, ditangannya sendiri juga tak jauh beda dengan Matsuri.

Sakura menengokkan kepalanya kebelakang, mencari – cari keberadaan Sasuke dan Gaara yang berjalan mengiringi dirinya dan Matsuri, tapi sepasang emerald-nya tidak bisa menemukan laki – laki berambut hitam mencuat maupun yang berambut merah terang diantara pemuda – pemudi yang mayoritas berambut hitam lepek dan pirang.

Mata cokelat Matsuri melirik sekilas toko sepatu ternama yang baru saja mereka lewati, lalu menatap Sakura yang celingak – celinguk seperti mencari seseorang.

"Oh iya, waktu itu kau dan Sasuke kerumah ku kan?" pertanyaan dari gadis berambut cokelat itu seakan menghilang ditiup angin, tak ada jawaban dari gadis pink disebelahnya.

"Hey, kau baik – baik saja Sakura?" Matsuri menghentikan langkahnya sejenak.

"Eh? I-iya, aku tidak apa – apa." Sakura ikut menghentikan langkahnya, sesekali mengedarkan pandangan emerald-nya kesegala arah. "Aa, Kak Sasuke sama kak Gaara mana, ya?"

Ucapan Sakura barusan membuat Matsuri menyadari sesuatu, kekasihnya dan Sasuke. "Eh iya, biar ku hubungi, sebentar ya.." Matsuri mengambil ponselnya yang ada di saku celananya, langsung menghubungi kekasihnya.

.

.

.

.

.

Sasuke mengerucutkan bibirnya kesal, saat menyadari gadis pink itu menghilang entah kemana bersama Matsuri, bukannya ia bodoh ataupun pelit pulsa, tapi ini rekor pertama bagi seorang Uchiha Sasuke melupakan suatu benda yang penting baginya, mengingat Sasuke yang memiliki daya ingat kuat, tidak mungkin melupakan benda canggih bernama ponsel itu, kalau bukan karena Haruno Sakura yang me-rong-rong-nya untuk segera datang menjemput gadis pink itu.

.

.

.

Pekikan kecil nun alay gadis – gadis yang melihat Sasuke mengacak – acak brutal rambut bermodel pantat ayamnya dimuka umum, menimbulkan kesan cool bagi kaum hawa yang melihatnya barusan. Tapi Sasuke malah menatap tajam gadis – gadis itu yang membuat mereka kabur meski masih ada beberapa yang mencuri pandang.

Sempat Sasuke berfikir untuk meminjam ponsel Gaara, tapi –you-know-lah- dia seorang Uchiha loh! UCHIHA! U-CHI-HA! Uchiha Sasuke namanya, pemuda tampan yang memiliki gengsi setinggi langit untuk melakukan hal yang ada didaftar paliiiiiiiiiiiiiing bawah untuk hal yang tidak diinginkannya.

"Ya, hime, kau dimana?"

Sasuke menoleh pada Gaara yang berjalan disampingnya sedang berbicara ditelepon dengan Matsuri, Sasuke tahu itu, tidak mungkin kan, hime yang dipanggil Gaara adalah Sakura? Ayolah, bahkan pemuda bertato dikening itu tidak menyertakan Sakura dalam nada ke-khawatir-annya.

"Baiklah, aku tunggu disana, bye." Gaara memasukkan kembali ponselnya kedalam saku chino- pantsnya. Lalu berjalan melawan arah dari tujuan mereka mencari dua sosok gadis berambut pink dan cokelat. Sasuke hanya menggendikkan bahu dan kemudian berjalan disamping Gaara.

Sasuke dan Gaara sudah sampai ditempat awal pertemuan 'kebetulan' mereka berempat, Gaara melangkah masuk kedalam himawari kafe sedikit melirik Sasuke yang hendak melangkahkan kaki menjauh.

"Hei," panggil Gaara, pemuda berambut raven itu menghentikan langkahnya sebentar tanpa niat menoleh pada Gaara.

"Tung – "

"Tch! Aku bukan tipe laki – laki bodoh dan buta yang hanya bisa menunggu, aku ingin menjemput apa yang seharusnya jadi milikku," kemudian adik dari Uchiha Itachi itu langsung menghilang dibalik lalu lalang manusia di waktu menjelang senja ini.

Gaara tidak bodoh, ia tahu betul ucapan Sasuke, pemuda Uchiha itu menyindirnya, tapi mengingat kalimat Sasuke barusan, Gaara benar – benar merasa bodoh dan buta, tapi ia tak mengerti kalimat terakhir Sasuke, 'Aku ingin menjemput apa yang seharusnya jadi milikku.'

'Tentu saja, Sakura memang milikmu, memangnya apa? Dasar Uchiha bodoh. Atau... yang dimaksud oleh Sasuke adalah Matsuri?'

Mendengus kecil dan menggelengkan kepala pelan, Gaara kemudian berlari menyusul Sasuke, pergi menjemput dua gadis itu. Memastikan kebenaran hal yang tadi tiba – tiba melintas dikepalanya begitu saja.

.

.

.

.

"Jadi mereka ada di Himawari? Huh! Bukannya jemput malah menunggu, sangat tidak gentle!" gerutu Sakura, sedikit mengerucutkan bibir sebal, membuat Matsuri terkikik disebelahnya.

"Kau benar, mereka sangat tidak gentle –EH?!"

Laki – laki yang menerjang memeluknya sontak membuatnya terkejut, kepalanya cokelatnya yang terbenam didada sang pria dengan jelas dapat mencium wangi maskulin yang menguar dari tubuh tegap itu. Bibirnya melengkung membentuk senyuman.

Jeritan gadis – gadis menguap keudara ketika melihat adegan romantis didepannya.

"Gaara..."

Sasuke yang menyaksikan kejadian itu sedikit terkejut, dia tidak mengira Gaara akan cepat menyusulnya, dan langsung memeluk tubuh Matsuri. Bukan. Bukan ia cemburu atau apa, tapi ia merasa hatinya tercubit ketika melihat gadis yang berdiri tak jauh didepannya ikut menyaksikan adegan sepasang kekasih itu dengan mata yang berkaca – kaca, siap menumpahkan cairan bening itu dalam sekali kedipan mata.

GREP!

Dengan cepat Sasuke melangkah dan memeluk Sakura, meredam tangis gadis itu didadanya, tangan kirinya mengusap – usap lembut kepala berhelaian merah mudanya, mencoba menenangkan gadis itu, tangan kanannya menyusup di pinggang Sakura, mendekapnya lebih erat.

"Hiks.. Sasuke.. senpai.."

Dan sekali lagi jeritan gadis – gadis disekitar mereka menguap keudara ketika melihat adegan yang lebih romatis didepannya.

Gaara yang masih memeluk Matsuri melirik sekilas kearah Sasuke dan Sakura, sudut bibirnya terangkat, Gaara tersenyum lega, 'Ternyata memang bukan Matsuri.'

.

.

.

.

.

.

"Hiks... hiks..." Matahari sudah di gantikan bulan sejak satu jam lalu. Gadis bernama bunga itu masih menangis sesenggukkan, duduk memeluk lutut di atas bangku taman. Orang – orang yang lalu lalang didepannya pun menatap prihatin padanya.

"Heh, berhentilah menangis, kau membuat orang menilai ku jelek," tutur Sasuke yang sedari tadi duduk disebelah Sakura, sambil bersandar menyilangkan tangan. "Orang – orang mengira aku menyakitimu. Padahal kan bukan aku."

Sakura mengangkat kepalanya menoleh pada Sasuke, sedikit memonyongkan bibirnya, "Aku ini wanita, jadi wajar saja kalau aku menangis begini," ia mengusap kasar bekas air matanya, lalu mencondongkan tubuhnya ke Sasuke. Sasuke sedikit salah tingkah saat Sakura makin mendekatkan wajahnya, tanpa sadar Sasuke menahan nafas.

"Kau itu pria, wajar saja kau bisa menyembunyikan perasaanmu, aku tahu, di dalam sini kau pasti sakit hati, kan?" ucapnya seraya menunjuk dada kiri Sasuke, lekas kembali keposisinya semula saat menyadari jaraknya dan Sasuke sangat dekat. Sakura beringsut, ia mendongakkan kepalanya menatap langit malam yang cerah bertabur bintang, mencoba merilekskan sejenak pikirannya.

Bhuah!

Sasuke mengambil nafas banyak – banyak saat Sakura menjauhkan wajahnya, ia yakin wajahnya sekarang pasti memerah akibat menahan nafas. Jujur, Sasuke sempat berfikir kalau tadi Sakura hendak menciumnya, tapi segera ia tepis pikiran konyol itu, mana ada gadis yang berciuman dengan pria lain saat sedang galau.

Sasuke meletakkan tangan kanannya diatas dada kirinya perlahan, tempat yang habis Sakura tunjuk beberapa saat lalu, dapat ia rasakan debaran jantungnya yang cepat.

'Tch. Aku seperti orang yang sedang jatuh cinta. Eh? Jatuh cinta? Pada siapa? Sakura? Mana mungkin!'

Sasuke mendengus geli dengan pertanyaan batinnya, jatuh cinta pada Sakura? Yang benar saja. Jangan buat seorang Uchiha Sasuke menertawakan dirinya sendiri, jatuh cinta pada gadis menyebalkan yang bahkan mencintai orang lain sangat bukan Uchiha Sasuke sekali.

.

.

"Kau betah disini?" Sasuke sedikit tersentak saat Sakura memanggilnya, bibir gadis pink itu bergerak melanjutkan kalimatnya. "Aku mau pulang." Ucapnya seraya berbalik melangkahkan kaki jenjangnya.

" , kita pulang," kata Sasuke beranjak menyusul langkah kecil Sakura dengan cepat, lalu menyusupkan jemarinya diantara jemari mungil gadis itu, rasa hangat menjalar begitu saja ketika kedua telapak tangan itu bersatu. Sakura yang terkejut dengan aksi Sasuke menatap pemuda disampingnya yang sedang tersenyum kecil kearahnya.

"Kau kan kekasihku." Kata Sasuke.

"Yeah, tapi cuma pura – pura." Sakura menimpali. Lekas membuang muka.

Ucap Sasuke spontan. Membuat gadis yang digenggam tangan olehnya itu mengangkat sebelah alis, terkejut.

"Hah?"

'Shit!' Dalam hati, Sasuke mengutuk dirinya yang sembarangan bicara, entah kenapa bibirnya bisa menyebutkan kalimat pertanyaan itu, "Tidak, lupakan yang barusan." Sasuke melepaskan genggaman tangannya pada Sakura, berjalan mendahului gadis itu menuju motornya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada sekarang.

"Bicara apa aku tadi."

.

.

.

Sakura masih berdiri mematung, sejak Sasuke melepaskan genggaman tangannya. Ada perasaan hampa menyelimutinya.

"Apa yang dia bicarakan?" bisiknya lirih, yang hanya dibalas oleh sapuan lembut angin malam yang menerpa tubuhnya.

"Heh, Kau mau ku tinggal?" kata – kata ketus Sasuke membuatnya tersentak. Dengan cepat Sakura menghampiri Sasuke yang sudah siap dengan motornya.

.

.

Sakura's PoV

"Heh, Kau mau ku tinggal?" aku tersentak mendengar nada bicara ketus itu, huh, dia kembali menjadi Sasuke yang arogan lagi. Tak ingin membuatnya kesal, lekas ku hampiri Sasuke yang sudah siap dengan motornya.

Sasuke menyodorkan helm hitam milikku, aku mengambil benda di tangannya lalu memakai helm itu. Ku nyamankan posisi dudukku di atas jok belakang motornya.

Sasuke mulai menjalankan motornya dengan kecepatan normal, dan aku pun merasa angin malam yang menerpaku semakin dingin, tanganku yang semula berada diatas lutut reflek mencengkeram pinggang Sasuke, aku sudah tak tahan lagi, ini benar – benar dingin!

Aku sedikit melonggarkan cengkeramanku pada pinggang Sasuke saat angin yang menerpaku tidak begitu kencang, ternyata ia memelankan laju motornya, dan kemudian menepi, dia mau apa? Aku mundur sedikit saat tangan Sasuke bergerak membuka jaketnya dan menyodorkannya padaku.

"Pakai, bisa – bisa kau mati kedinginan," ucapnya dengan nada mengejek.

Lama kubiarkan tangan Sasuke menggantungnya, "Heh, cepat ambil –" katanya mulai tak sabar.

"Kalau tidak tulus, lebih baik tidak usah, pakai saja lagi." Kataku cuek.

Sasuke mematikan mesin dan turun dari motor, ia menyodorkan lagi jaket itu padaku, tapi, kali ini Sasuke malah meletakkannya di pangkuanku. "Cepat pakai," Sasuke menatapku tajam, ragu – ragu aku memakai jaketnya, ditatap seperti itu membuatku takut dan juga.. merasa di khawatirkan olehnya.

Sasuke mulai menjalankan kembali motornya pelan. Aku merapatkan dudukku padanya, ragu – ragu aku melingkarkan tanganku di pinggangnya, ingin menyalurkan rasa hangat yang kudapat dari jaket miliknya, aku tahu dia juga kedinginan. Memeluknya dari belakang begini membuatku semakin hangat bahkan malah merasa panas.

.

.

.

.

Lama kutatap wajahku dicermin, mata yang memerah akibat kelamaan menangis, hanya gara – gara melihat Gaara dan Matsuri berpelukkan. Ternyata perasaanku pada Gaara tidak berubah, masih seperi dulu, tingkahku juga sama, masih cengeng, keras kepala, kekanak – kanakkan, tidak ada manis – manisnya sama sekali sangat berbanding terbalik dengan Matsuri, pantas saja Gaara tidak mau melirikku.

Hufft..

Kuambil segenggam air yang mengucur dari keran, membasuh muka kusutku agar sedikit lebih segar, dengan handuk kecil yang tersampir di dinding, ku keringkan muka ku, lekas berjalan keluar dari kamar mandi.

Kulirik sekilas jaket biru tua yang ada di atas kasurku, kuambil jaket itu kemudian duduk di pinggiran kasur, ini.. milik orang itu, akan ku kembalikan setelah kucuci nanti.

.

.

Ano... Yang tadi itu... aku tidak salah dengar kan? Masa sih Sasuke... men – Ah aku pasti salah dengar, mana mungkin kan? Tapi... Argh!

Ku acak rambut ku yang masih setengah basah, menjatuhkan kasar tubuhku kekasur, membuat jaket Sasuke jatuh kemuka ku, wangi maskulinnya menguar, terasa sangat jelas, tanpa sadar sudut bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman, tapi lekas mengerucut mengingat sifat lembutnya tadi berubah menjadi ketus kembali, kusingkirkan jaket itu meletakkannya disampingku, pandanganku beralih menatap langit – langit kamarku. Perlahan mulai memejamkan mata.

.

.

.

"Kalau begitu, kau mau jadi kekasihku sungguhan?"

.

Aku berbalik gelisah, tak bisa memejamkan mata, masih teringat ucapan Sasuke tadi, aku tak tahu...

Sasuke yang salah bicara, atau aku yang salah dengar? Aku jadi sangsi.

Aku suka Gaara. Sasuke suka Matsuri. Jadi, apa maksudnya bertanya begitu?

Argh! Aku tak mau tahu. Dan tak mau peduli.

Kupejamkam mataku lagi, lalu mulai menghitung domba, berharap dengan cara ini aku bisa cepat tidur. Berharap kejadian hari ini adalah bagian dari mimpiku yang panjang.

.

.

.

Tbc...

A/n :

Minna, genki desuka ?

Err.. udah berapa lama bulan fic ini ga update? *ngitungbulandikalender*

Ano~ sebenernya bulan kemaren mau apdet ngetik chapter empat ini, mumpung paket modem baru diperpanjang, tapi, berhubung penyakit lama kambuh (baca : males) jadi ya di tunda mulu. *dilemparsendal*

Untuk yang menunggu fic Daisuki Summer and You mungkin dalam waktu dekat ini di update, mungkin ya... *ditampol*

Osh!

Bales review non-login dulu,

CherryGold26 : Hehe, ga papa kok. Makasih ya :D ahaha mungkin, Sasu-nya masih ga ngeh sama perasaannya. *apasih* yosh! Makasih udah review chapter ini, review again? ^^

De Chan : Hai juga, bener tuh, wkwkw. Oke ini lanjut , berkenan review lagi? Sankyu~

H : Ini sudah update, maaf ya ga kilat ;( Yosh, berkenan review again? Sankyu~ :D

.

.

.

.

Mind to review ?