Reply for::

Erika Himawari:: Istilahnya? Entahlah? XDa bercanda,,,! setelah saya pikirkan, istilahnya adalah….. "Dark Fighter" ====== gaje and muncul tiba-tiba. (Abaikan!)

Aiko Uchinami:: Hmm… sankyuuu.. =w=, ganbarimasu!

Aiko Enma:: kan sudah saya bilang pasti keserempet sama si M, XDa salahkan M!

Untuk koreksinya, iya, anda benar sekali, terima kasih… T^T

-Yang benar memang Mrs. Angelina…. Saya salah tulis… =^=

-Anda benar lagi! Saya salah info! T^T, terima kasih! *bungkuk2*

-HIKS! Haruskah saya memberi anda piring sebagai hadiah? Jawaban anda 3-3nya benar! *kapanngasihpertanyaancoba* seharusnya begini, "Sebegitu pentingkah diriku untuknya…,"

Ferra Rii:: Ehe, iya~… =/=. Karena itu saya minta maaf bagi yang kemarin terganggu puasanya gara-gara fic saya, saya mohon maaf sekali…. Bagilah dosa kalian kepada saya… XDa

Iya, tentang itu saya juga baru menyadarinya setelah dipublish… =w=, terima kasih sudah menyempatkan diri anda… ^^

Kusa:: Terima kasih banyak! Ganbarimasu yo~.. (^w^)

Bara no hana-chan:: Iya, terima kasih banyak… maaf atas ketidaknyamanannya ya…

Keikoku Yuki:: Iya, anda 'PRIA'(?) sejati! *digaplok*

Hehe, iya, maaf atas ketidaknyamanannya tentang adegan2 nista mereka berdua *digorok*, dan tentang paragraf yang kebelah dua tersebut,,, mungkin ada gempa(?),,,XDa.. dan tentang "atau-lebih-tepatnya-menggoda- dengan" itu saya juga bingung sendiri, mau saya hilangkan 'dengan'-nya tapi yang 'berbicara'-nya akan terlihat ganjil juga, ==a

terima kasih, Yuki-san! =3

SoraShieru:: Maaf ya,, ^^"… otak saya lagi memang mesum, *padahaludahdarisononya*

Sankyuuuu~

Ariefyana Fuji Lestari:: hehe, iya.. =/=… maaf ya… panggil saja saya Cha! ^^ mau panggil Udin juga boleh~ terimakasih reviewnya,,,

RukaAna:: Saya masih belum mau mati mudaaaa~… (T^T)…engg, mungkin nyerempet Lime? XDa… haha, saya malah bayangin Sebastian lagi beli sayur sama ibu-ibu tetangga dan pake daster. *plaak* terima kasih reviewnya…. Ini saya update kok, maaf lama.. ^^"

Gia:: hehe, terima kasih,,,, Saya akan ganti kalau sudah saatnya,,, =w=…

For all:: Thanks for read and reviewwww~

*sembah-sujud(lagi)*


Disclaimer:: I'm so bored to repeat this for a multiple times, but this one is not my own. ©Yana Toboso

Rated:: T to M

Genre:: Drama, Romance, Yaoi, AU, OOC, Hurt/Comfort, Supernatural

.

If you hate boys love, its better to you to not read this fic.

.

Don't Like, Don't Read

..

Enjoy! ^^

Hitori Janai

(ひとりじゃない)

.

.

"Nggh-," Ciel mengerang pelan sebelum ia membuka kedua bola mata safirnya. Matahari yang kini beranjak dari ufuk timur, membuat pandangannya sedikit terhalang.

Ia sadar bahwa baju atasannya telah lenyap dan tergantikan dengan selimut putih yang tipis. Seraya mengumpulkan sisa nyawa yang masih berkeliaran, ia memikirkan apa yang terjadi padanya semalam. Setelah beberapa saat sosoknya langsung bangkit dengan sigap dan mengecilkan pupil matanya.

Yeah, ia melupakan sesuatu yang sangat penting. Kontrak. Ciel menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian, mencari sosok yang ia butuhkan. Menyadari bahwa Sebastian tak ada di kamarnya, ia langsung berlari ke lantai bawah dengan emosi.

"Sebastian! Di mana kau? Se―," ketemu. Sosok tampan yang ia cari telah ditemukan di dapurnya. Namun sosok itu sama sekali tak menoleh padanya, dan itu membuat Ciel menjadi semakin kesal.

"Sebastian, apa maksudmu?" desisnya sambil memperhatikan Sebastian yang sedang memasak tanpa suara.

Melihat orang yang ditanyai tidak menjawab, Ciel langsung menarik lelaki yang lebih tinggi darinya itu dengan kasar ke arahnya, "Sebastian! Kau berani tak mengacuhkanku?"

"Aku sedang memasak, Ciel. Setidaknya tunggulah sampai aku selesai," mata ruby-nya terlihat kosong, tanpa ekspresi.

"Tch! Brengsek kau!" Ciel menggeram dan melepaskan cengkramannya pada kerah baju Sebastian. Masih dengan cara kasarnya.

Ini hari Sabtu, jadi Ciel tak perlu terburu-buru untuk bersiap-siap berhubung dia libur sekolah dan baru masuk kerja nanti siang. Diliriknya jam yang menempel di dinding bata dengan malas, masih jam 9. Sudah 10 menit lamanya Ciel mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di meja makan, namun Sebastian masih saja belum selesai dengan urusannya. Semakin lama ia menunggu, semakin keras pula jari mungilnya berbenturan dengan kayu yang padat itu. Ia sudah tak sabar lagi, terlalu lama baginya untuk menunggu 'kucing' besarnya.

"Maaf lama," sepiring nasi goreng telur telah tersedia di hadapan sepasang mata biru laut. Baunya harum, dan sudah pasti rasanya enak kalau itu buatan tangan Sebastian. Tapi sekarang Ciel sama sekali tak berselera makan, yang ingin ia lakukan adalah bertanya.

"Jawab aku Sebastian," Ciel mengaduk-aduk segelas susu coklat di samping makanannya dengan bosan.

"Tentang apa?"

"Tch!" Ciel menggebrak meja dengan sekuat tenaga, "Aku tanya apa maksudmu tentang tadi malam! Kenapa kau tak melakukan kontraknya!"

Kedua orb sang raven masih tak berani menatap mata Ciel, ia hanya mendesah pelan, "Aku masih belum siap, aku tak ingin membuatmu terluka gara-gara aku,"

"Bukankah kau yang menyuruhku sebelumnya? Sekarang aku mau menurutimu, tapi kaulah yang menolakku! Apa kau ingin mempermainkanku?" bahu mungil Ciel turun naik dengan tempo yang tak teratur, wajahnya semakin memanas seiring dengan emosinya yang tak terkendali.

"Awalnya aku memang berniat untuk membuat kontrak denganmu secepatnya, tapi setelah melihatmu terluka seperti tadi malam… membuatku tak sanggup untuk memikirkannya lagi. Aku tak ingin melihatmu terluka lagi. Aku akan menghadapi mereka sendirian, tanpa melibatkanmu,"

"Sendirian? Kau tahu bahwa kau tak akan bisa melakukannya! Jangan membuatku tertawa, Sebastian!"

Sebastian masih tak bergeming, ia memilih untuk diam dan melanjutkan aktivitasnya untuk menyeruput tehnya.

Ciel juga ikut terdiam, ia masih menatap Sebastian dengan tatapan murka. Terbesit di ingatannya tentang tadi malam.


Flashback on::

"Apa kau bercanda?" kedua mata indah Sebastian membulat dengan suksesnya. Ciel hanya menggeleng lemah dan menatap sosok di depannya dengan lembut.

"Apa kau tidak akan menyesal?" melihat Ciel yang kembali menggeleng, membuat Sebastian terdiam.

"Baiklah, akan kulakukan…," sang raven mendekatkan wajahnya ke sisi kanan wajah Ciel, "Sekarang tutuplah matamu, ini tidak akan sakit," bisiknya tepat di kuping Ciel.

Ciel menuruti kata-kata lelaki yang kini sangat dekat dengannya, ia sedikit meremat sprei kasur untuk menghilangkan rasa takutnya. Hembusan napas mint Sebastian menerpa kulit lehernya, membuat tubuhnya sedikit bergidik.

"Nggh-… Sebas… ti… an…," Ciel menggeliat tak nyaman saat lidah Sebastian menelusuri titik sensitif di lehernya. Mencari tempat terbaik untuk melakukan 'sesuatu'. Tak lama setelah Ciel merasakan kecupan di antara perpotongan leher dan selangkangannya, ia merasa aneh. Kepalanya langsung pusing dan tak terkendali, matanya mendadak terasa berat, terlalu berat untuk terbuka kembali.

"Ssstt… ini sudah waktunya untuk tidur, My Lord…," Sebastian mengelus dahi Ciel sambil menyeringai licik.

"Kau― Si…a…lan…," Ciel sempat meremas baju Sebastian sedikit sebelum akhirnya ia terbang ke dunia mimpi.

Flashback off~


Ciel mempererat kepalan kedua tangannya dengan gemas, menahan emosinya sekuat tenaga.

"Lalu? Apa maksud perlakuanmu itu kemarin? Heh, aku tak menyangka ternyata kau begitu pengecut, Sebastian… Kau menyedihkan!" pancing Ciel.

Merasa dirinya dicerca seperti itu, Sebastian menatap Ciel dengan tatapan tajam. Kali ini dirinyalah yang harus menahan emosinya, ia sedikit memijit pelipisnya yang berkedut-kedut.

"Apa? Aku benar kan? Buktinya saja kau tak membantahku, itu berarti kau memang pengecut, kan!" desisnya sinis. Sebastian tak tahan lagi, ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan menarik Ciel dengan kasar ke arah konter dapur untuk memojokkannya.

"Aku tidak bisa merubahmu menjadi monster sepertiku, Ciel! Aku ingin kau menjadi manusia! Kau tahu kan seperti apa wujud kami? Kami ini monster, Ciel, monster!" Sebastian menumpahkan segala amarahnya pada sosok mungil di hadapannya.

"Aku tahu, karena itu aku ingin menjadi sepertimu!" Ciel membalas dengan keras.

"Tapi aku tidak mau!"

"Kenapa!"

"Kau hidup sebagai manusia, mahluk yang sempurna… itu sudah cukup untukku,"

"Cukup? Kau mau aku menjadi semakin tua dan akhirnya mati sebelum kau?"

Sebastian terdiam sejenak, lalu memutar kedua bola matanya ke arah lain, "Itu… yang terbaik,"

Ciel dapat merasakan matanya yang kini berkaca-kaca, memendam rasa sakit di hatinya, "Kau pembohong…! Kau bilang kau mencintaiku!"

"Aku memang mencintaimu, melebihi diriku sendiri…,"

"Heh, kau memang pintar membuat kata-kata manis, siluman!" suara merdu Ciel mulai bergetar menahan kumpulan air yang membendung di ekor matanya.

"Ciel…," Sebastian membingkaikan wajah 'boneka' Ciel dengan kedua tangannya, membuat kedua safirnya menatap kedua ruby miliknya.

"Aku sangat mencintaimu…karena itulah aku tak ingin melukaimu, aku mohon…kau boleh meminta apapun dariku, asalkan jangan memaksaku untuk merubahmu, aku mohon…,"

Suara rendah Sebastian meruntuhkan pertahanannya, matanya kembali terasa kabur, namun kali ini bukan karena ia merasa sakit, tetapi karena sesuatu yang basah menghiasi kedua pipinya.

"Kau curang…curang sekali, Sebastian…aku juga ingin melindungimu," Ciel memukul dada Sebastian dengan lemah, mencoba menyembunyikan air matanya. Tetapi itu percuma, Sebastian sudah melihatnya.

"Aku tahu, karena itu maafkanlah keegoisanku ini," Sebastian menyeka air mata Ciel dengan jari-jari lentiknya dan menempelkan dahinya ke dahi mulus Ciel. Napas mereka saling beradu bersamaan dengan kedua pasang mata mereka yang saling tertutup.

"Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Ciel. Masih dengan matanya yang tak terbuka.

"Hm? Apa?" Sebastian mendongakkan kepalanya dan mengangkat tubuh Ciel ke atas konter. Kini posisi mereka sejajar, tak lupa Sebastian mengelilingi Ciel dengan kedua tangannya yang berada di samping pemuda itu.

"Sejak awal aku melihatmu, aku membencimu…,"

"Aku tahu," Sebastian terkekeh pelan.

"Kau selalu menggangguku, membuatku kesal dan tak punya harga diri, itu semua hal yang paling kubenci,"

"Ya, aku tahu…,"

"Aku sangat alergi dengan kucing, termasuk kau…,"

"Haha, ya, aku tahu…," mungkin Ciel alergi pada kucing biasa, termasuk dirinya, tetapi alergi yang ditujukan Ciel kepada Sebastian memiliki arti lain.

"Kau stalker dan paman-paman mesum,"

"Boleh aku menganggap itu sebagai pujian?" Ciel ikut tertawa kecil mendengar jawaban Sebastian.

Ciel membingkai wajah indah Sebastian dengan perlahan sebelum ia berbisik, "Tapi kurasa aku telah jatuh cinta padamu," Sebastian tersenyum lembut, ia menatap Ciel lama. Wajah pemuda yang bernama Ciel itu berwarna merah seperti biasanya.

"Kalau itu, aku juga tahu…," gumamnya sambil merapatkan kedua belahan bibirnya ke milik Ciel. Ciel tak melawan, ia malah mengalungkan kedua tangannya ke leher Sebastian, ciuman mereka memang tak panas. Namun cukup hangat untuk memadu cinta mereka berdua. Sebastian memiringkan kepalanya untuk mempererat bibir mereka, tanpa berinisiatif untuk menelusuri mulut manis Ciel lebih dalam.

Sebastian melepaskan ciumannya perlahan, tanpa membuka matanya, ia menjelajahi wajah Ciel dengan kedua bibirnya. Mulai dari dahi mulus Ciel, berjalan melalui pipinya yang semerah tomat, lalu menjilati air mata Ciel yang mulai mengering di ekor matanya. Ciel menikmati sensasi yang diberikan Sebastian, menerimanya dengan senang hati. Selesai dengan aktivitasnya di mata Ciel, Sebastian kembali menelusuri wajah 'cantik' Ciel dengan lembut, ia sedikit mengigit dagu Ciel, membuat Ciel mengerang tertahan. Tak puas dengan hal itu, Sebastian mengecup bibir ranum Ciel dengan singkat, lalu berhenti di hidung mancung Ciel, dan menempelkan dahinya ke dahi Ciel lagi. Napas panas mereka kembali berbagi, kali ini dengan penuh napsu yang membara.

"Kau memang berbahaya, Ciel…," erang sebastian.

"Kaulah yang berbahaya, kau adalah kucing yang membuat punggung indahku kini terpampang cakar kucing yang sangat kubenci…,"

Sebastian menyeringai senang, "Yeah, kau benar…karena itu kau harus hati-hati padaku agar tak menyerangmu, kau tahu? Aku sedang menahan diriku sekarang, ini pertama kalinya kau berniat untuk menggodaku,"

Mata Ciel membola tertahan saat tangan Sebastian meraba pinggangnya yang tak tertutup helaian benang satu pun, ia terlalu emosi sampai lupa memakai atasan bajunya, "He-hentikan, kucing mesum!"

.

"Waaaakh! GYYAA~!"

.

Well, selama Sebastian berada di sampingnya, kediaman Phantomhive tak akan pernah sepi.

-xxxXXXxxx-


Di suatu tempat yang gersang dan tanpa cahaya sang surya, sepasang mata kuning keemasan berpendar ke sekelilingnya. Tak ada siapa-siapa di taman yang luas itu, hanya ada dirinya. Sosok pemilik mata itu melihat ke arah langit, lagi-lagi tak ada hal lain yang dapat dilihatnya, yang ada hanya langit yang berwarna merah pekat dan awan hitam. Ia merasa bosan di tempat ini, ia ingin segera melakukan sesuatu, tapi rasanya itu tidak mungkin. Ia adalah 'pion' yang hanya bergerak oleh perintah tuannya, sang 'Raja'.

Samar-samar ia mendengar suara yang menyerukan namanya, nama yang diberikan oleh sang tuan. Dengan cepat ia berjalan ke arah istana, singgasana sang 'tuan' berada. Sambil menundukkan kepalanya, ia berlutut hormat.

"Kau tahu apa yang aku perintahkan?" sebuah suara yang terdengar berat memenuhi ruangan yang berbau aroma asing, dan berkabut.

"Saya mengerti," sang mata 'emas' mengangguk sambil mendengarkan perintah yang ditujukan padanya dalam otaknya. Tanpa tuannya harus berbicara, ia dapat mengerti apa yang diucapkan tuannya dalam hati.

"Kerjakan sekarang, kau tahu kan aku paling tidak suka menunggu?"

"Yes, your highness," sahut sang 'pion' bersamaan dengan kepergiannya tanpa meninggalkan bayangan hitamnya sekalipun.

Sang 'tuan' menyeringai dalam kegelapan, "Hmm…kurasa permainan baru akan dimulai sekarang,"

-xxxXXXxxx-


Weekend telah berlalu dengan cepat, selama 2 hari itu, Ciel dan Sebastian hanya mendapatkan serangan 'ringan' dari para musuh. Ciel mulai mendapatkan keberaniannya, ia sudah mencoba untuk melawan mereka walaupun hanya beberapa dari mereka. Well, mau tak mau Ciel harus melawan mereka dengan kekuatan 'seadanya' berhubung ia tak diijinkan untuk mengikat kontrak bersama partnernya.

Hari senin, hari awal tersibuk bagi semua orang setelah berlibur sejenak, begitu pula Ciel dan Sebastian yang menjalani peran murid dan gurunya.

"Ciel Phantomhive?" yang memanggil mengernyitkan alisnya, tak ada jawaban. Ditiliknya benda yang menjadi pusat perhatian murid-muridnya. Oke, itu menjawab semuanya. Terlihat sesosok pangeran tidur sedang melakukan aksinya. Apa? Ya tentu saja tidur, bukan bermain congklak. Oke, aku tahu Inggris sama sekali tak ada hubungannya dengan permainan itu, jadi kita abaikan saja.

Sepasang mata crimson menatap benda itu dengan tatapan kesal, "Pukul saja agar dia tidak bangun selamanya, Mr. Sebastian," ucap seseorang dengan kejam tanpa ada nada bercanda.

Sebastian hanya tersenyum, "Kau memang sangat perhatian pada teman-temanmu, Alois," dan perkataan itu sukses membuat Alois tercekat.

'Brengsek, dia pura-pura bodoh atau apa?' gerutunya dalam hati.

"Memang aku sangat keras dalam mengajar, tapi bukan berarti aku menganut kekerasan yang seperti itu," gumam Sebastian sambil berpura-pura berpikir dan menatap pangeran tidur kembali.

Sebastian mendesah pelan, "My, my…sepertinya aku harus melakukan cara terakhirku padamu," Alois menautkan alisnya dengan bingung, termasuk murid-murid yang lain.

Lalu tak lama semua pasang mata itu terbelalak melihat apa yang dilakukan sang crimson terhadap si sleeping beauty.

"Kyaaaaaa~!" jeritan para gadis memenuhi sudut ruangan itu tepat saat sang guru berbisik di cuping telinga Ciel dengan mesra. Wajah mereka memerah senang dan juga cemburu, sangat berbanding terbalik dengan sang korban yang terkaget-kaget.

"Sudah waktunya untuk bangun, Pangeran…," bisikan sexy Sebastian yang dipadu dengan tiupan napas beraroma mint-nya membuat semua bulu kuduk sang korban berdiri seketika.

Ciel, yang merupakan sang korban tersebut langsung menarik tubuhnya dan memasang wajah panas, "HUWAAAA!" teriaknya histeris. Refleks ia menutupi kedua telinganya dengan erat.

"Oh, good morning, prince…tapi, aku lebih suka kalau kau mendengarkanku saat pelajaran," Sebastian tersenyum simpul dan berjalan kembali ke depan kelas.

"Tch! Shit!" Ciel mengumpat kesal, rasa kantuknya hilang seketika. Itu berarti dia harus mengikuti pelajaran Matematika ini selama 2 jam ke depan.


"Kau sengaja, ya?" suara halus namun terdengar berat menohok seseorang pria berbadan tegap.

"Apa? Kau masih marah tentang tadi pagi?" Sebastian memutar matanya ke sumber suara yang sedang duduk angkuh di kursinya.

Ciel berdecak pelan, "Tch, memang merepotkan kalau kau di sini…," gumamnya pada diri sendiri.

"Kau tidak suka kalau pacarmu dekat denganmu?"

Ciel menaikkan sebelah alisnya, "Pacarku? Siapa?"

Kali ini giliran Sebastian yang berdecak tak jelas, "Ya ampun, Ciel…kau sama sekali tak menganggap keberadaanku? Setelah kita melakukan 'ini' dan 'itu' masa kau tak mengerti juga?"

Ciel terhenyak, ia mencoba untuk memutar otaknya, lalu tiba-tiba wajahnya memanas seiring dengan otaknya yang mencerna perkataan Sebastian.

"A-apa katamu? Jadi maksudmu, kita ini pacaran?" Sebastian mengangguk pasrah melihat keadaan sang pujaan hatinya yang begitu lemot jika memikirkan tentang hal-hal seperti ini.

"Siapa yang bilang begitu! Aku kan tidak pernah─," tiba-tiba ia ingat kejadian hari sabtu semalam, saat ia menyatakan perasaannya pada sosok tampan di hadapannya itu. Barulah ia sadar bahwa itulah yang menjadi ikrar ikatan cinta mereka.

Ciel menepuk dahinya sendiri, "Brengsek! Kenapa aku melakukan itu! Arggh, sial!" Sebastian hanya terdiam melihat sang kekasih mengacak-ngacak rambutnya sendiri sambil menggumamkan kata-kata 'kotor'.

"Apa kau menyesal? Sebegitu menyebalkankah aku ini?" Sebastian berjalan mendekati sosok Ciel, sedangkan Ciel sendiri menghentikan aktivitasnya dan berfokus pada tangan Sebastian yang mulai mengelilingi kursi yang ditempatinya.

"Ma-mau apa kau? Kita sedang di sekolah, Sebastian!"

"Ini ruanganku, mereka tak akan mengusik kita…," ujar sebastian tanpa menghiraukan kedua tangan Ciel yang mendorongnya menjauh. Yeah, memang benar ini ruangan Sebastian. Apa kalian heran kenapa guru baru seperti Sebastian mendapatkan ruangan khusus? Kalian ingat kalau tempat mereka adalah Loyale Garden, kan? Ya, benar. Semua guru di sekolah ini memiliki ruangan masing-masing, dan Sebastian baru menempati ruangannya selama 2 hari.

"Se-sebas… kumohon hentikan…,"

"Hmm…," Sebastian tak menghiraukan protes Ciel dan terus meraup pipi Ciel dengan gemas.

"Aku tahu kau pasti tak akan menolakku," goda Sebastian.

"Ap-apa? Kau percaya diri sekali!" Ciel menutupi pipinya yang semakin, yah, merah pekat.

"Aku memang selalu begitu…," Sebastian semakin mendekatkan wajahnya, Ciel akhirnya mengerang pasrah dan mengikuti permainan sang raven.

"Jangan macam-macam, Sebas…," pinta Ciel disela-sela ciuman mereka.

"Hmm…kau hanya perlu diam," Sebastian tak membuka matanya dan terus melumat bibir Ciel dengan lembut, ia seakan lupa daratan. Sepertinya ia menganut ajaran 'semau gue'. Well, lupakan bahasa planet yang baru disebutkan tadi. Itu tak penting sama sekali, bukan?

"Ekhem..," suara asing yang berdehem cukup keras membuat kedua sejoli yang sedang memadu cinta itu kalap. Ciel langsung menjauhi tempat duduk Sebastian dan berdiri tegak layaknya seorang anggota paskibra yang nyasar, sedangkan Sebastian hanya mendengus dan mengangkat wajahnya dengan malas.

Namun tak lama setelah mata ruby Sebastian mencerna siapa yang ada di hadapannya, tubuhnya menegang dengan ekspresi tak percaya.

"KAU─," Sebastian mendesis tajam ke arah sosok itu.

Kedua bola darkblue Ciel ikut membola ketika sosok tak dikenal itu berlutut di hadapan Sebastian dan berkata,

"Saya datang untuk menjemput anda, Tuan…,"

.

.

TBC~

.

.


A/N::

Saya speechless, chap kali ini penuh romance! KENAPA! Kenapa hayo? SAYA TIDAK TERIMA! *plakk*

.

di sini ada tokoh yang menjabat sebagai 'Aku' kan? nah itu adalah moderator saya... nanti saya perkenalkan! =w=

.

Aduh, udah ceritanya pasaran, temannya gaje, nggak nyambung… nggak mutu,,, sebenarnya yang saya bikin ini apa? #malahcurcol

..maaf kalau Chap kali ini pendek banget, saya lagi buntu…

Tapi saya sadar kekurangan saya yang berjibun,,, karena itu maafkan saya,

Sekarang kan lebaran~

=w=

Jadi maafkan saya ya?ya?*telatwoy*

Terima kasih bagi yang sudah setia membaca fic aneh ini apalagi mereview…

.

Selamat Lebaran Bagi yang menjalankan…

Silahkan koreksinya~

Salam, Nyaaaa~

(^w^)m