This story belong thetwistedstar, and i just translate it with my sunbae-nim exoticbabyly
Please don't reupload this story!
Default State of Being (Indonesian)
Description:
Kyungsoo adalah seorang novelis roman-gay dan Jongin berperan sebagai sumber inspirasinya.
Foreword:
Selamat datang di permulaan 'keadaan normal'
atau lebih suka kusebut
Bertahan dengan omong kosong Jongin.
Default State of Being 4
Kyungsoo dapat merasakan kegembiraan Jongin dan ia merinding sendiri membayangkan hal apa gerangan yang membuat Jongin sesenang itu.
"Kyungsoo!" panggil Jongin ceria sambil menatap lekat namja lain yang lebih tua darinya itu, lalu duduk di samping mejanya dengan kepala bertopang pada tangan.
Kyungsoo seolah dapat melihat ekor bayangan Jongin yang mengibas-ngibas heboh di pantatnya.
"Kalau bukan sesuatu yang bisa membantuku cepat menyelesaikan ini, maaf saja aku tak tertarik." Namja bermata bulat itu tidak berpaling dari layar laptopnya sembari mengetik dengan cepat, menunjukkan kemahirannya.
"Baiklah, handjob kalau begitu." sahut Jongin masih dengan nada cerianya lalu ia berdiri dan mendudukkan dirinya di atas meja, tepat di sebelah laptop Kyungsoo. Tangannya mulai bergerilya ke bawah untuk membuka kancing celana Kyungsoo, namun sayang Kyungsoo segera menepisnya.
"Bisakah tanganmu jauh-jauh dari celanaku dan biarkan aku menyelesaikan ini dahulu. Oke?"
Pout imut Jongin tetap saja gagal untuk mengalihkan perhatian Kyungsoo dari layar penuh tulisan itu. Kerap kali namja itu menekan tombol backspace beberapa saat sebelum membaca kembali tulisannya dan mengetik sesuatu lagi. Ritmenya selalu sama dan kedua orang itu sudah terbiasa akan hal ini. Tapi tidak serta merta berarti Jongin menyukainya.
"Pernahkah kau iseng-iseng coba menghitung berapa kali kau menggunakan kata 'penis'?"
"Tidak."
"Lubang?"
"Tidak."
"Sosis?"
"Diamlah."
"Berdenyut!"
"Aku benci padamu!" Kini Kyungsoo sedang menekan tombol control+f dan memasukkan kata 'berdenyut'. "Shit", ia mengumpat pelan. Ia mengamati rak bukunya sebelum mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Aku bersumpah akan memotong jarimu jika kau beranjak hanya untuk mengambil kamus thesaurus dan bukannya mencari di internet."
Kyungsoo pun duduk kembali dan menghindari menatap Jongin yang tampak terhibur. Namja yang lebih muda itu turun dari meja dan berdiri di belakang kursi Kyungsoo dan menatap sejumlah sinonim yang dapat menggantikan kata 'berdenyut'.
"Aku suka kata 'berkedut'."
"Sudah pasti itu." dengus Kyungsoo.
"Kau juga bisa menggunakan kata yang lebih cerdas seperti 'bergetar'."
Kyungsoo menghela nafas panjang ketika Jongin mulai membaca satu per satu sinonim lain yang disediakan oleh yang praktis dan berguna. Persetan, ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan bagian ini agar bisa lanjut ke bab yang lebih menarik. Dan ia sedang tidak membicarakan alurnya. Jenuh mendengar omongan Jongin, Kyungsoo berputar di kursinya, mencengkeram kemeja Jongin dan menariknya ke bawah untuk melumat kasar bibirnya. Tentu saja namja tan itu merespon dengan semangat dan Kyungsoo menikmatinya sebentar sebelum akhirnya pelan-pelan melepaskan diri.
"Shut. The. Fuck. Up."
Seiring berjalannya waktu, ia semakin tahu bagaimana caranya mengendalikan seorang Kim Jongin.
Ruangan itu kini tenang dan tentram untuk mengetik. Jongin masih bertengger di belakangnya, namun ia diam saja, kepalanya bersandar di pundak Kyungsoo sambil melihat kata-kata yang Kyungsoo ketikkan di laptop. Kyungsoo tidak tahu apakah lelaki satunya itu benar-benar membaca apa yang ia tulis atau cuma sekedar menatap kosong untuk mendiamkan diri. Ia yakin pasti alasan kedua lebih memungkinkan, tapi Jongin tetap saja mengagetkannya.
Kyungsoo menekan tombol save sebelum mematikan laptopnya dan memutar kursinya, mengalihkan perhatiannya pada Jongin. Beberapa detik kemudian namja itu sudah duduk di atas pahanya, lengannya bergelayut di bahunya dan senyum lebar terpatri di wajah tampannya.
"Ada pelayan baru di depot!" Jongin melonjak-lonjak dalam posisi duduk di atas paha Kyungsoo.
"Pelayan baru?" tanyanya, alisnya naik dengan tampang tak tertarik.
"Dia benar-benar seksi – sulit kau bayangkan. Aku sudah bilang pada Kris kita akan menemuinya di sana untuk makan siang dan bukan di tengah kota, oke?"
"Tunggu, kita makan siang bersama Kris?"
"Tentu saja. Ini kan hari Rabu."
Sial. Ini hari Rabu.
Kyungsoo cukup yakin Jongin akan jatuh dari kursinya kalau dia bersandar sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari si pelayan baru seperti itu. Ia sempat berpikir-pikir akankah Jongin menyadari seandainya ia mendorong kursi itu dengan kakinya saat Jongin sedang bersandar. Untung bagi Jongin, Kris datang dan pencariannya tertunda jadi Kyungsoo tak sempat melakukan hal tersebut. Ah baiklah.
"Sebaiknya ini—"
"Anda ingin minum sesuatu?"
Tiga namja itu menatap sang pelayan. Jongin meringis amat lebar sementara Kris mengamati pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki sebanyak dua kali sebelum mengucapkan sesuatu.
"Katakan kalau kau legal."
Pelayan itu memandangnya tak suka. "Aku normal."
"Bisa kuubah," ujar Kris dengan senyuman sambil melihat nametag namja itu. "Zitao."
"Anda ingin minum apa?"
"Aku mau kopi." kata Kyungsoo, menginterupsi acara PDKT Kris. Dua namja lainnya turut memesan sesuatu, Kris tampak sedikit gusar sembari memandangi bokong pelayan itu ketika ia berbalik pergi.
"Sepertinya kamu kehilangan pesonamu." Goda Jongin.
"Huh? Bagaimana keadaan bokongmu?"
Jongin mengacungkan jari tengahnya, namun tak mengatakan apapun.
Default State of Being
Hari itu hari Jumat dan Kyungsoo sudah berencana menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan sambil menyelesaikan bukunya. Ia tak sabar segera mengirimkannya ke redaksi supaya ia bisa beristirahat. Ketika hampir waktunya makan siang, ia mendapat telepon dari Jongin. Tentunya itu keadaan darurat dan Jongin membutuhkan Kyungsoo untuk datang ke studio dance-nya segera. Kyungsoo mengumpat sepanjang perjalanan ke sana.
Kyungsoo sedang menyusuri koridor saat lengan Jongin muncul dari sebuah pintu ruangan kosong dan serta merta menariknya masuk.
"Ahh!"
"Aku perlu bantuan."
"Bantuan bukanlah hal yang darurat jadi persetan denganmu dan selamat bersenang-senang." Kyungsoo berpaling untuk pergi, namun Jongin langsung bergerak menghalangi pintu.
"Dengarkan dulu."
Kyungsoo mengerang tapi Jongin menganggapnya sebagai pertanda setuju.
"Namja satu ini benar-benar nikmat diajak begituan."
"Aku tak paham lantas apa hubungannya denganku. Sana setubuhi dia."
"Itulah. Aku bukan tipenya, tapi kurasa dia pasti menyukaimu. Mantan pacarnya berwajah innocent seperti rusa dan kau kurang lebih sejenis itu."
"Jadi... Kau ingin aku tidur dengannya?"
"Aku ingin kita main bertiga."
Kyungsoo menyipitkan matanya menatap Jongin. "Kalau aku tak tertarik dengannya?"
"Artinya kau penyuka wanita."
Kyungsoo memikirkan ide itu, mencoba mempertimbangkan pro kontranya, tapi dasar Jongin tidak sabaran.
"Dia akan segera pergi, jadi aku butuh jawabanmu sekarang."
Kyungsoo menghembuskan nafas panjang. "Baiklah."
"Terimakasih! Sekarang kau adalah pacarku dan kita saling jatuh cinta dan yeah, ayo!"
"Tunggu, apa? Aku kenapa?!" Kyungsoo tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya karena Jongin sibuk menyeretnya keluar dari ruangan itu menuju pintu masuk studio.
Ia mendengar suara pintu ditutup dan derapan langkah kaki dari arah mereka, namun tak memiliki kesempatan untuk memalingkan mukanya karena Jongin menggenggam rambutnya dan menciumnya paksa. Meski ia merasa jengkel juga dengan Jongin, ia tetap harus mengakui bahwa ia menikmati ciuman itu. Jongin sedang menghisap kuat bibir bawah Kyungsoo ketika pada akhirnya ia menyadari ada orang lain di situ berkat celetukan kaget mereka yang menggema.
Kyungsoo merasa kaget saat Jongin melepaskan tautannya.
"Sehun, hey!" seru Jongin ramah sambil melingkarkan lengannya di sekitar pinggang Kyungsoo dan menariknya mendekat.
Sehun namja yang cute. Sehun sangat menarik. Sehun bukanlah orang yang tergolong seksi menurut Kyungsoo. Sehun menatap lucu pada Kyungsoo.
"Oh, ini kekasihku, Kyungsoo."
"Senang bertemu denganmu, Kyungsoo." katanya malu-malu.
Kyungsoo pun tersenyum. Sungguh imut sekali. Sungguh sangat imut dan jelas-jelas namja itu sedang tebar pesona padanya. Ia tidak menyangka hal itu, apalagi saat namja cute itu menjilat bibirnya. Lengan Jongin semakin erat menggenggam pinggangnya dengan pesan ku-bilang-juga-apa yang tersirat.
"Hey! Bergabunglah dengan kami nanti malam." ujar Jongin, seperti barusan mendapat ide. Kyungsoo memutar matanya malas.
"Aku tak tahu," sahut Sehun pelan, matanya masih terpaku sesaat pada Kyungsoo sebelum mengalihkan tatapannya pada Jongin. "Aku ada jadwal latihan."
"Tapi ini malam Jumat!" rajuk Jongin. "Dan aku janji ini akan menyenangkan." Jongin mencondongkan sedikit tubuhnya pada Kyungsoo lalu mengecup pipinya. "Iya kan, sayang?"
"Tentu!" cetus Kyungsoo, ia berharap nadanya tidak kedengaran terpaksa.
Sepertinya mereka berhasil karena Sehun pun menyetujuinya dan Jongin memberikan alamat bar tempat ketemuan padanya.
"Apa kau sudah selesai denganku...?" Kyungsoo mengecup singkat Jongin, hanya untuk show pastinya, sebelum ia bertolak menuju pintu, diikuti tangan Jongin yang mendorong pantatnya.
Default State of Being
Musik menggema keras dan di sana terlalu banyak orang, membuat Kyungsoo sedikit tak nyaman. Ia sedang duduk-duduk di bar, menggenggam segelas bir di tangannya, dan Baekhyun terus menatapnya dengan pandangan aku-tahu-sesuatu. Ia tak lagi melihat Jongin sejak Sehun datang dan mengajak Sehun ke dance floor yang penuh sesak dengan manusia. Namun Kyungsoo tetap bergeming dan memilih duduk manis daripada harus berdesakan dengan tubuh-tubuh penuh keringat di depannya.
Ia mengedarkan pandangan ke kumpulan itu lagi, kali ini ia mendapati sebuah wajah yang familiar. Jongin menempelkan tubuhnya pada Sehun dan namja itu tampaknya tak keberatan sama sekali. Mungkin Jongin memang tidak butuh bantuannya untuk ini. Harus ia akui, walau ia agak cemburu, Sehun kelihatan seksi dalam balutan pakaian ketatnya dan rambutnya yang disisir ke belakang. Jongin menatap ke arah Kyungsoo dan menyeringai. Ah sialan.
Jongin memutar badan Sehun sehingga ia memunggungi namja itu, lalu memeluk erat perutnya. Kyungsoo menyaksikan Jongin yang berbisik di telinga Sehun dengan posisi seintim itu. Ia merasakan pipinya memanas ketika melihat pandangan Sehun yang penuh arti terhadapnya. Holy fuck, sungguh menggoda. Kyungsoo sempat bengong selama tiga detik sebelum meletakkan gelas birnya dan menuju kerumunan orang untuk menemui dua pria yang menatapnya. Apa-apaan, pikirnya. Keramaian di dance floor mungkin bisa menyembunyikan skill menarinya yang payah.
Kyungsoo tidak tahu apa yang tadi Jongin bisikkan, namun sekarang Sehun seenaknya melingkarkan lengannya di pinggang Kyungsoo dan menariknya hingga jarak mereka amat dekat. Kyungsoo memiringkan sedikit kepalanya agar dapat melihat Jongin, yang kini sedang mengelus-elus rambutnya. Kemudian Jongin memajukan wajahnya dan menyambar bibirnya, dengan Sehun yang masih berada di tengah-tengah mereka. Lidah Jongin yang menari-nari dalam mulutnya dan tangan Sehun yang meraba-raba di balik bajunya pun membuat Kyungsoo mengeluarkan desahan. Jongin menarik rambut Kyungsoo dan membuatnya berhadapan dengan Sehun. Jelas sekali ia ingin Sehun dan Kyungsoo berciuman dan Sehun tidak keberatan akan hal itu, malahan ia langsung mengunci bibir Kyungsoo dan melumatnya lembut. Tak tahan dengan sensasinya, Kyungsoo pun membalas ciumannya, lidah mereka pun saling melilit—berciuman panas di dance floor dengan Jongin yang membantu menggerakkan kepalanya. Sial, hawa di sekitar pun mulai terasa panas. Kyungsoo mengangkat lututnya mengenai bagian tengah Sehun, merasakan sesuatu yang mulai mengeras di balik celananya.
"Ayo!" itulah hal terakhir yang Kyungsoo dengar sebelum lengan Jongin menggamit pergelangan tangannya dan ia terpisah dari Sehun. Jongin menggenggam Sehun dengan tangannya yang satunya dan menarik dua orang itu menuju pintu keluar.
Perjalanan kembali ke rumah Kyungsoo diwarnai dengan dua insiden nyaris kecelakaan dan Jongin yang menerabas lampu merah. Sehun kelihatan tidak menyukai peraturan lalu lintas – ia bergerak menuju kursi penumpang dan duduk di atas paha Kyungsoo untuk make out dengannya lalu tangannya mengelus kemaluan Jongin yang terbalut celana jeans sepanjang perjalanan.
Pakaiannya terlepas dan jatuh entah di lift atau di pintu dan Kyungsoo hanya bisa berharap bisa cepat masuk ke dalam rumah sebelum perhatiannya teralihkan oleh kancing sabuk Sehun. Ia lalu melucutinya dengan semangat dan melepaskan benda-benda lain yang dapat dijangkaunya. Jongin ada di belakang Sehun, berjalan mundur menuju kamar tidur sedangkan Sehun menuntun Kyungsoo bersamanya. Kyungsoo melepaskan celana yang dikenakannya dan menendangnya sembarangan.
Bagian belakang kakinya membentur tempat tidur dan ia pun membaringkan diri sambil menarik Sehun bersamanya. Tidak mudah untuk menggeser tubuhnya di ranjang itu saking sempitnya, tapi akhirnya mereka berhasil, dan Kyungsoo pun menggenggam rambut Sehun lalu menariknya untuk sebuah ciuman.
Sehun, ternyata, tidak suka duduk diam terlalu lama. Namja itu lalu melepas tautan bibirnya pada Kyungsoo lalu mulai menjelajahi tubuh Kyungsoo dengan lidahnya, dan menghisap kuat daerah pahanya. Kyungsoo merasakan getaran dari tenggorokan Sehun yang diakibatkan oleh desahannya, ternyata Jongin sedang 'bekerja' di bagian bawah Sehun. Ia mencengkeram spreinya, desahan Sehun yang berikutnya serasa menghantarkan hembusan nafas panas pada batang kemaluannya yang sudah menegang sempurna. Lalu sebuah lidah basah menyapa kemaluannya membuat Kyungsoo merintih, tubuhnya bergetar karena sentuhan itu. Sehun menggodanya, namja itu menjilat mulai dari dasar penisnya hingga ke bagian kepala, lalu memutar lidahnya di sana namun tak segera mengulumnya, dan gara-gara itu Kyungsoo jadi makin tak sabar.
Suara sebuah tabung yang dibuka pun terdengar dan Kyungsoo berasumsi bahwa itu Jongin yang bertengger di belakang Sehun dengan lube-nya. Tangan Sehun menekan kuat paha Kyungsoo, namja itu menatapnya dan tersenyum lebar sebelum tiba-tiba melahap sekaligus batang panjangnya. Nafas Kyungsoo tercekat merasakan sensasi hangat dan lembab yang meliputinya. Kyungsoo meraih kepala Sehun dan menggenggam rambutnya sementara Sehun menghisap kuat kemaluannya. Tiba-tiba ia merasa kesulitan bernafas.
Ia berusaha memerangi hasratnya untuk menyodokkan 'senjata' nya yang berada di dalam mulut Sehun selagi namja itu mendesah, getaran tenggorokan itu semakin membuat Kyungsoo gila dan terangsang. Kyungsoo mengangkat kepalanya menatap Jongin, rupanya ia sedang mempersiapkan lubang Sehun dengan jarinya dan membuatnya mendesah nikmat seperti tadi. Ia mengamati Jongin yang sedang menggigit bibir bawahnya sambil mengelus-elus punggung Sehun dengan salah satu tangannya dan Kyungsoo pun menelan ludah. Ia membiarkan kepalanya terkulai ke atas sprei, cengkeramannya pada rambut Sehun bertambah erat saat namja yang lebih muda itu menekan pahanya semakin keras dan mempercepat gerakan mengulumnya.
Jongin turut mendesah ketika ia memasuki Sehun, yang dimasuki itu memelankan ritme blowjob-nya pada Kyungsoo – mulutnya menganga dan ia membenamkan kukunya di paha Kyungsoo tersebut. Kyungsoo melepaskan genggamannya pada rambut Sehun dan menopang tubuhnya dengan sikunya lalu menjelajahi fitur wajah Sehun dengan jemarinya.
Jongin memang sedang tidak menyetubuhi Kyungsoo, namun ia bisa mendengarkan suara kulit yang bersinggungan tiap kali ia menusuk Sehun dalam-dalam. Ia merintih pelan dan Jongin melirikkan matanya untuk menatapnya. Tiba-tiba dada Kyungsoo terasa berat, rupanya Sehun mengulum dan menghisap lagi batang kemaluannya. Ia mengalihkan pandangannya pada Sehun, lalu mengusap bulir keringat yang mulai muncul di dahinya. Sehun mendesah lagi sebelum membiarkan penis Kyungsoo terlepas dari mulutnya.
"Bergeraklah," kata Sehun dengan terengah sambil menoleh pada Jongin yang sedang 'bekerja' di belakangnya.
Sehun kemudian memanjat dari tengah-tengah selangkangan Kyungsoo, lalu mengangkanginya dan menurunkan tubuhnya untuk mencium Kyungsoo sementara Jongin bergerak semakin maju. Kyungsoo melekukkan punggungnya, kemaluan mereka yang sudah amat mengeras saling bersinggungan satu sama lain saat Jongin menghujam dalam lubang Sehun. Ritmenya cepat, rintihan-rintihan kecil meluncur dari bibir Sehun sementara Jongin mendesah makin keras. Kuku jari Kyungsoo menancap di punggung Sehun, menariknya semakin ke bawah agar tubuh mereka semakin bersentuhan. Suasana di ruangan itu terasa sangat panas, tapi sayang sekali jika harus dihentikan karena di saat yang sama hal itu teramat nikmat.
"Jongin, lebih cepat!" pinta Kyungsoo dengan terbata ketika Sehun melepaskan tautan bibirnya.
Jongin memang tidak mengecewakan, ia mulai menggerakkan penisnya keluar-masuk dengan lebih cepat sambil mencengkeram erat paha Sehun, menariknya ke belakang. Hal itu membuat Kyungsoo dan Sehun semakin intens bersinggungan meski masih dirasanya kurang. Sehun meletakkan tangannya di rambut Kyungsoo dan tiba-tiba menjambaknya cukup keras. Sebagai respon, penisnya semakin menegak dan Sehun menarik lebih keras. Kyungsoo membenamkan kukunya di paha Sehun, mendorongnya sedikit ke belakang untuk membantu Jongin supaya bergerak lebih cepat, dan sensasinya sungguh luar biasa.
Hujaman itu perlahan-lahan melambat, temponya semakin pelan dan Jongin mengeluarkan lenguhan keras. Ia mengeluarkan maninya di dalam Sehun, sedangkan Sehun masih menggerakkan pantatnya menemui tusukan Jongin selagi ia menikmati orgasmenya. Sehun mendudukkan dirinya, rambutnya berantakan dan wajahnya memerah. Ia memutar tubuhnya, mengangkangi perut Kyungsoo seraya berbisik sesuatu pada Jongin. Beberapa saat kemudian Kyungsoo dapat merasakan sebuah kondom dipakaikan padanya dan otaknya tak sempat memproses keadaan sekitarnya ketika Sehun menurunkan tubuhnya, membuat penis Kyungsoo yang terbalut kondom itu terbenam dalam kehangatan lubangnya.
"Fuck!" desah Kyungsoo. Sehun mulai menaik-turunkan tubuhnya—Ia sangat hangat, ketat, dan licin. Kyungsoo meletakkan tangannya pada paha Sehun setelah menggerayangi punggung putih Sehun, membantunya mengangkat badannya lalu menurunkan badannya dengan sekali sentak dan hal itu benar-benar nikmat. Inilah yang dibutuhkannya. Erangan Sehun teredam saat Jongin mulai menyambar bibirnya. Kyungsoo memang tidak menyaksikannya, namun ia bisa mendengar suaranya dan hal itu semakin membuat panas suasana.
Semua rangsangan ini mulai membuat kepalanya berputar dan ia makin tak tahan. Desahan mereka bertambah keras. Dinding-dinding otot Sehun semakin erat menjepit penis Kyungsoo ketika Sehun mencapai orgasmenya dan dua tusukan kemudian Kyungsoo pun ejakulasi, ia menarik Sehun yang masih 'mengendarai' nya ke bawah dengan sekali sentak, dirasakannya sebuah sensasi merayapi sekujur tubuhnya. Nafasnya tercekat saat Sehun menurunkan tubuhnya untuk terakhir kali.
Kyungsoo menengadah dan mendapati Jongin mengelus bagian tulang punggung Sehun dengan jarinya sementara Sehun bersandar padanya. Matanya bertemu dengan mata Jongin dari balik bahu Sehun dan ia tersenyum lembut padanya. Jongin membalas senyuman itu dengan senyuman lebar yang memperlihatkan giginya serta matanya yang membentuk bulan sabit sebelum mengecup singkat leher Sehun.
Kyungsoo yakin kalau tadinya ia jatuh tertidur dengan wajah Sehun terbenam di dadanya serta lengan Jongin melingkar di pinggangnya, tapi saat ia membuka mata ia menemukan dirinya tergeletak sendiri di pojok kasur, tangannya terkulai lemas. Ia mengerang dan mengucek matanya, ia jadi terjaga gara-gara ingin pipis. Ia beranjak dari tempat tidurnya, mencoba setenang mungkin saat menuju kamar mandi.
Ia terpaksa bangun, meski ia sebenarnya enggan. Tak lama kemudian ia sudah selesai, lalu mencuci tangannya dan berjalan kembali ke kamarnya ketika ia sadar mengapa dua namja lainnya itu tidak berada di dekatnya saat ia terbangun tadi. Sehun sedang bersandar pada sandaran kayu di sisi lain tempat tidur, tangannya mencengkeram rambut Jongin sementara namja satunya itu menggerakkan kepalanya naik-turun mengulum batang kemaluannya. Kyungsoo berhenti melangkah, hanya menonton pertunjukan di hadapannya. Desahan-desahan kecil Sehun membuat libidonya mulai naik kembali.
Jongin melepaskan tautannya pada penis Sehun dan menatap Kyungsoo dengan seringaian di wajahnya.
"Kemarilah!" suruhnya.
Dan siapakah Kyungsoo untuk bisa menolak? Persetan dengan tidur.
To Be Continue
Well special thanks to~! exoticbabyly.. who is help me to translate it to Indonesian language~! And don't forget to the thetwistedstar who is gave me a permission to translate this story.. And, once again.. i do not own this story. this story belongs to thetwistedstar
Well, aku harap para readers membaca pesan saya untuk kali ini. Seandainya ff yang sudah susah payah diterjemahkan oleh exoticbabyly hanya mendapati respon seadanya maka saya dengan senang hati akan memperlambat proses updatenya. Dan untuk part 4 ini, seandainya review tidak lebih dari 15 maka dengan terpaksa saya perlambat proses updatenya, lebih lambat dari keluarnya chap 4 ini.
Terimakasih untuk yang sudah review^^ saya sangat menghargainya
Read Original story :
www. asianfanfics dot com story/ view/ 231465/ 1/ default-state-of-being-exo-jongin-kyungsoo-kaisoo/ 18
*tolong hilangkan spasi serta kata 'dot' itu diganti dengan tanda titik untuk membaca original story.
Last Word, Review and Favorite PLEASE
