Halo semua! Saya tahu kalau saya bersalah karena sudah sangat teramat lama tidak mengupdate fic ini. Selaku author, saya betul-betul minta maaf *sungkemin readers + reviewers* Thanks to FansN3ji-Wiend HyuuRa yang sudah memotivasi saya untuk mengupdate fic ini. Sekarang seharusnya saat untuk membalas review. Tapi karena saya lupa review yang belum saya balas dari mana, maka saya balas secara universal saja ya? *dilempar*

To all: Nyehehehe...sorry banget! Ane mendadak webe tentang Naruto. Dan jadilah fic ini saya gantungin lama banget! Maafkan saya! *sembah sujud* m(_ _)m || Sakura memang sengaja saya buat sedemikian rupa sehingga awalnya nampak selalu ternistai *senyum inosen* Tapi nantinya kan nggak! *buka rahasia* || Mengenai Tuan Sinis, saya sarankan untuk tidak menanggapinya. Sungguh, saya tidak hiatus karena dapat flame dari dia. Saya hiatus karena bosan dengan suasana dan beralih ke forum RPG *disundul* Sekali lagi saya minta maaf semua! Terima kasih reviewnya.

Special to sinis_kun_chan_Fc_SasuSaku: Satu kata untuk anda tuan, "Terima kasih!" :)

Nah sekarang saatnya pertunjukan! Hotaru Ayuzawa proud to present!

~PAUPER BECOME PRINCESS~

Author: Hotaru Ayuzawa.

Disclaimer: Naruto punya saya! Oom Kishimoto hanya meminjamnya untuk beberapa saat! –author digoreng Oom Kishimoto- Iya deh... Naruto milik Oom Masashi Kishimoto seorang.

Main Pairing: SasuSaku.

Last chapter: Demi melanjutkan kuliahnya, Sakura rela untuk menjadi pelayan Sasuke selama setahun dan meninggalkan apartemen mungilnya.

Chapter 4...

Senja itu sangat indah. Langit sore nampak kemerahan terkena bias dari matahari yang hendak kembali ke peraduannya. Sesosok gadis langsing berwajah letih membatu di depan kamar apartemennya. Memandangi pintu kayu tersebut sejak lima menit yang lalu. Apartemen bernomor 12 adalah rumahnya selama ini. Sejak dirinya kehilangan sang nenek yang kembali pada-Nya, apartemen inilah yang berjasa menyelamatkannya dari segala macam bahaya yang menghadang. Melindunginya dari panas, dingin, dan serangan binatang buas. Kedua sudut bibirnya terkurva tipis. Membentuk selengkung senyuman sedih. Iya, Haruno Sakura sedang bersedih sekarang. Inilah saatnya dia berpisah. Mereka tidak akan saling bertegur sapa selama setahun. Uchiha Sasuke yang membuatnya harus meninggalkan apartemen ini. Sepi tak terurus dan tanpa penghuni. Desahan nafas panjang terdengar. Menepuk bingkai pintunya dengan sayang sebelum akhirnya memalingkan wajahnya dan pergi dari sana. Meninggalkan rumahnya untuk sementara waktu. Mudah-mudahan, Baka-Ayam itu tidak menuntut lebih dari ini. Mudah-mudahan dirinya tidak lagi berbuat macam-macam sehingga menyebabkan hukuman atau apalah namanya itu ditambah dengan entengnya oleh Sasuke Uchiha. Dan mudah-mudahan, apartemen kosong ini tidak dimasuki hantu dan arwah-arwah tuna wisma lainnya. Gawat kalau setahun kemudian, apatemen kesayangannya ini berubah menjadi sarang setan. Meracau lagi Sakura? Err... Dia rasa tidak. Itu kenyataan, sayang. Gadis muda ini mengambil sepeda pink miliknya. Tas ransel besar digendongnya di belakang sementara tas tangan sederhana diletakkan di keranjang depan. Meneguk ludah sedikit gugup. Oke, kita berangkat. Perlahan namun pasti, Sakura mulai mengayuh sepeda tuanya. Angin semilir sore berhembus lembut menerpa wajah halusnya. Emerald miliknya memandang lurus ke depan. Berusaha untuk memompa keberaniannya. Karena bagaimana pun juga, ini adalah hari pertamanya tinggal di rumah Uchiha Sasuke. Dan Sakura yakin, kalau rumah seorang Uchiha sama sekali tidak bisa dikatakan sederhana. Uchiha. Nama itu terdengar sangat familiar di telinganya. Uchiha Madara sang pemilik Konoha University. Universitas swasta tempat Sakura mengeyam pendidikan sekarang ini. Belum lagi nama Uchiha Itachi yang sangat terkenal di mana-mana. Seorang pemuda luar biasa tampan yang kerap menghiasi halaman demi halaman Sexy Man Magazine. Majalah luar biasa langganan Ino. Sakura, sejujurnya saja adalah salah satu dari ratusan fans Uchiha Itachi di Konoha University.

Tunggu! Kalau sekarang dia akan tinggal di rumah Keluarga Uchiha, itu artinya dia juga akan bertemu dengan Uchiha Itachi kan? Siapa tahu Uchiha Itachi tinggal serumah dengan Baka-Ayam itu. Ingatan itu membuat Sakura senang dan tanpa dia sadari, sepeda yang dikayuhnya sudah berkecepatan tinggi. Senyuman itu kian melebar dan menampilkan sederetan kalsium rapi di antara bibir merah itu. Oh yeah! Sore yang indah sekali kawan! Semangat, terus mengayuh sepedanya. Melupakan sedikit kegundahannya tadi. Mengingat wajah tampan Uchiha Itachi memang obat mujarab untuk menghilangkan kesedihan.

...

Krik krik krik!

Suara jangkrik mulai berkerik tanda malam menjelang. Haruno Sakura terjebak dalam kesunyian dan kegelapan malam. Dan belum lagi dia tersesat. Dia tahu alamat rumah Keluarga Uchiha. Ta-tapi, Sakura tidak tahu kalau Uchiha Mansion dikelilingi hutan pinus seperti ini. Nah lho! Bagaimana ini? Kepanikan jelas terpeta di wajahnya. Siaga dan waspada. Matanya melirik ke kanan-kiri guna memantau keadaan. Keadaan seperti ini membuat nyalinya ciut. Sakura takut gelap dan takut kesunyian seperti ini. Kedua irisnya bergulir ke satu sisi menuju sisi yang lain dengan cepat. Angin malam berhembus dingin seolah mengejek Sakura yang tengah meringkuk sendirian di bawah pohon besar. Sepedanya terparkir sempurna di sampingnya. Kami-sama! Hanya satu kata itu yang berkali-kali dibisikkannya. Berharap Tuhan menolong dirinya. Air mata menetes, membasahi pipinya yang kemerahan. Sakura memeluk lututnya. Kelopaknya terpejam sempurna. Menyembunyikan kristal hijau itu di balik helaian bulu mata. Terkantuk dan menenggelamkan kepalanya di atas tumpukan tangannya sendiri. Haruno Sakura sudah resmi memasuki alam mimpinya. Pukul tujuh malam. Artinya si raja siang benar-benar sudah kembali ke peraduannya. Posisinya digantikan bulan yang tampak benderang. Bersanding sempurna dengan taburan bintang yang mempesona. Ratusan kilometer di bawahnya, seorang gadis muda masih nampak larut dalam mimpinya. Bergeming tanpa suara. Wajahnya nampak damai dalam tidurnya. Dengkuran halus sayup-sayup terdengar. Angin malam mulai bersahabat, membelai lembut sang gadis. Turut serta mengantarkannya dalam perjalanan menuju alam maya yang indah.

Ciiit!

Decitan mobil terdengar. Lampu kekuningan menyala terang. Haruno Sakura tersentak kaget dan memicingkan mata ke sumber cahaya. Kedua pandangan emeraldnya jatuh pada sesosok solid yang berkemeja putih bersih. Bagian atas kancingnya dibuka, sedikit memperlihatkan dada bidang pemiliknya. Sakura mengerjap sekali. Beranjak dari duduknya dan memasang kuda-kuda. Kalau orang itu berniat jahat padanya, Sakura sudah siap melancarkan pukulan satu-dua padanya. Persepsinya salah ternyata. Itu bukan orang jahat. Itu...

"Haruno?"

Suara berat nan lembut itu milik Hyuuga Neji. Salah satu sahabat Uchiha Sasuke. Sepupu Hinata dan bagian dari Keluarga Hyuuga. Sakura mengenali pemiliknya. Berjalan pelan menuju sang pemuda bermata lavender keputihan. "Ne-Neji-senpai? Apa yang kau lakukan di sini?" Menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Sedikit salah tingkah. Hyuuga Neji menggeleng heran. Tatapan menyelidik dilayangkan pada Sakura. "Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kenapa kau bisa di sini?" Jeda sesaat. "Jangan bilang kau sedang ingin ke rumah Sasuke tapi tersesat di sini!" Tuan Muda Hyuuga melirik sepeda merah muda milik Sakura. Berikut dengan segenap barang bawaannya. Sakura hanya mengangguk dalam diam. Dengusan pelan dari Neji. "Kau, ikut aku! Kita ke rumah Sasuke sekarang. Kebetulan aku juga hendak ke sana." Setengah mengedikkan kepalanya ke arah Sakura. "Ba-bagaimana dengan sepeda saya?" "Hn, letakkan saja di bagasi!" Gadis muda itu mengangguk dan menuntun sepedanya. Dibantu Neji, sepeda merah muda itu aman dalam bagasi. Mereka berangkat!

Skip time!

Sakura's POV

Pintu gerbang raksasa itu terbuka lebar. Menampilkan rumah megah di dalamnya. Aku ternganga melihat semua ini. Keluarga Uchiha memang layak disebut Keluarga Terkaya di Konoha dan bahkan mungkin di seluruh Jepang. Mansion mewah bergaya Jepang-Eropa bertingkat tiga dengan kolam entah apa membentang di depannya. Cahaya rembulan memantul sempurna pada permukaannya yang tenang. Suasananya lengang dan tenang. Sungguh suatu pemandangan spektakuler yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku melirik Neji-senpai yang tampaknya sama sekali tidak terpesona dengan pemandangan luar biasa yang disuguhkan Uchiha Mansion. Dugaan sementara, Neji-senpai sudah terbiasa kemari. Mungkin hal itulah yang menyebabkan dirinya merasa sudah tak asing dengan tempat ini. Gumaman pelan terdengar. Neji-senpai menyuruhku untuk melangkah. Beringsut maju. Entah mengapa kakiku terasa seberat timah. Mungkin karena faktor gugup? Entahlah. Kami menaiki undakan dan aku terdiam. Memandang pemuda Hyuuga itu tengah menekan bel rumah. Butuh tiga kali pencetan agar sepasang pintu itu terbuka. Sesosok manusia berkulit agak pucat menyembul di balik pintu. Mata onyx itu menatapku dengan pandangan menilai. Astaga! Itu kan!

Dan detik berikutnya, aku tak bisa mengingat apa-apa lagi.

-To be continue-

~Pojok Author~

Akhirnya, setelah sekian lama! *pelukin fic sendiri* Seperti yang sudah saya katakan di atas, saya betul-betul minta maaf karena telat banget mengupdate fic ini! Dan karena masih pemanasan pasca hiatus, jadi fic-nya pendek banget *sungkem* MIND TO REVIEW? *dijumroh*