Title : Mianhae, Saranghae
Cast :
Chen a.k.a. Kim Jong Dae (EXO-M)
Xiu Min a.k.a. Kim Min Seok (EXO-M)
And Other...
Genre : Romance, Angst (dikit)
Rated : T
Author : Rin Rin Kim ChenMin EXOtic «» Akita Fisayu
MIANHAE, SARANGHAE
.
WARNING! YAOI!
.
Disclainmer : EXO ɷ SM | Wonder Girls (Sohee) ɷ Pledis • Mianhae, Saranghae ɷ Rin Rin Kim ChenMin EXOtic © Akita Fisayu
.
Summary : Xiu Min terduduk di balik tembok. Tatapan nya kosong. Hanya karena mendengar pengakuan dari seorang yang sangat ia cintai… 'Mianhae… aku tidak bermaksud…' 'PERGI KAU!' 'Mianhae! Jeongmal Mianhae! Jeongmal Saranghaeyo!' 'Masih bisa berkata seperti itu? Sedangkan kau sudah menyakitinya? Cih, pengecut' ChenMin fic! Summary kepanjangan O_O
.
WARNING! TYPO BEREDAR DI MANA-MANA! EYD TIDAK BERATURAN! ALUR KECEPETAN! RIN RIN MASIH PEMULA! HARAP DIMAKLUMI!
.
Music : B2ST - When The Door Closes
A/N :
Kalau bisa, membaca FF ini sambil mendengar lagu yang diatas :)
Author P.O.V
"AKU MEMBENCI KALIAN!" pekik Chen, tangannya mengepal kuat menahan amarah.
Baekhyun dan Chanyeol terdiam. Terlebih Baekhyun. Sedikit bersalah. Namun, bukan dia maupun namjachingunya, kan, yang salah? Hanya otak Chen tidak berjalan dengan baik hari ini.
"C—Chen…" desis Chanyeol, kini ia tidak banyak omong karena situasi yang tidak memungkinkan.
"Ck, terserah kau mau membenci kami atau tidak. Itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Ayo, Yeollie!" ucap Baekhyun, meninggalkan Chen yang masih tertunduk—menangis. Chanyeol agak bingung, antara menemani Chen atau ikut dengan Baekhyun. Tapi…
"Maafkan aku Chen… jeongmal mianhae… Ah, tunggu aku Baekkie!" seru Chanyeol mengejar Baekhyun yang sudah meninggalkannya.
Chen sedikit mengangguk mendengar ucapan bercampur seruan Chanyeol. Sepertinya, Chanyeol memilih berada di tengah-tengah.
"Nde… Chan… hiks…" isak Chen. Pandangan nya sedikit kabur.
BRUK
"Mianhae… chingudeul…"
ͼ Mianhae, Saranghae ͽ
"Jadi, kau sudah mempunyai namjachingu? Hey, kenapa tidak bilang kepadaku?" tanya Xiu Min kesal.
"Mianhae Xiu ge… Kris ge memang seperti ini… hehehe…" kekeh namjachingu Kris, Tao.
"Yak Baby, kenapa kau malah mendukung Xiu Min ge?" tanya Kris tidak terima.
"Eeeh… kan kasihan… Xiu Min ge nya…" jawab Tao.
Xiu Min menggelengkan kepalanya. Kris kadang kekanak-kanakan. Maklum, walau Kris lebih tinggi dari Xiu Min dan terlihat lebih tua, namun tingkahnya kadang akan seperti anak kecil.
"Oh ya ge, ada maksud lain aku datang ke Korea"ujar Kris. Menyeruput black coffee nya.
"Ah, apa?" tanya Xiu Min, memiringkan kepalanya bingung. Ada apa gerangan sepupunya ini ke Korea selain liburan?
"Saat masuk universitas nanti, aku akan kuliah di Korea. Sedangkan Tao, katanya akan menjadi adik kelas gege, namun saat gege sudah lulus" jawab Kris sambil terkekeh.
"Jinjja? Waah… pasti akan seru!" seru Xiu Min girang. Pasalnya, Kris akan sangat membantu nanti. Dan akan menjadi pusat perhatian. Nantinya.
"Tapi, kami akan kembali ke Kanada, gege…" ujar Tao lesu.
"Kapan?" tanya Xiu Min bingung.
"Besok kami akan kembali" jawab Kris singkat.
"Mwoya.. cepat sekali.." keluh Xiu Min kesal.
"Tenang ge! Kami akan kembali saat tahun pelajaran baru!" jawab Tao semangat.
"Oke~ akan aku tunggu" ujar Xiu Min mengedipkan sebelah matanya.
"Ah, sudah malam. Xiu Min ge, mau aku antarkan pulang?" tawar Kris. Melihat keluar jendela yang sudah mulai gelap.
"Ah, tidak perlu. Aku bisa menggunakan bis" tolak Xiu Min.
"Aah… Xiu Min ge~~ ikut kami nde~~ bbuing bbuing~~ :3" pinta Tao dengan jurus aegyo panda mautnya.
'Mirip Sehun -_-', batin Xiu Min ngeri. Namun karena kadar keimutan yang sangat tinggi, membuat Xiu Min mengalah.
"Baiklah… aku akan ikut" jawab Xiu Min tersenyum.
"YES!"
"Baguslah. Aku tidak perlu khawatir hyung akan di—"
"Kau kira aku yeoja heh? -_- kau juga lupa kemampuan taekwondo ku yang sudah sabuk hitam paling atas?" sindir Xiu Min, dengan aura dingin keluar dari tubuhnya.
"Ah… ah… nde… tentu saja aku tidak lupa.. gege…" ujar Kris bergidik ngeri.
"Eeh… Xiu Min gege juga bisa seni bela diri ya…" ucap Tao dengan nada riang.
"Memang Tao bisa seni bela diri apa?" tanya Xiu Min bingung. Saat menatap Tao, aura dinginnya menghilang. Habis... Tao itu polos.
"Wushu!" jawab Tao, bangga.
"Tao pernah menjuarai kejuaraan wushu nasional, lho, ge." Timpal Kris. Sedikit banyak merasa senang bisa membanggakan namjachingunya di depan Xiu Min.
"Wah? Jeongmal? Daebak! Ajari aku lain kali, nee." Sahut Xiu Min antusias. Tao mengangguk gembira.
"Sudah, Ayo kita pulang.." Kris terkekeh melihat antusiasme kedua orang yang sangat disayanginya itu.
ͼ Mianhae, Saranghae ͽ
DEG
DEG
Chen membuka matanya. Dia sudah berada di kamarnya. Bagaimana bisa…? Padahal seingatnya dia tadi pingsan... Ah, mungkin orang tuanya yang mengangkatnya.
"…Ahh…" Chen mengerang kecil saat mencoba duduk. Posisi tidurnya mungkin salah dan itu membuat tubuhnya kaku.
Tanpa sengaja Chen mengusap bantalnya. Basah. Tapi tidak ada bau.. Berarti, air mata?
Chen mendesah. Dia teringat pertengkarannya dengan BaekYeol. Ani, mungkin hanya dengan Baekhyun saja… Ini gara-gara Xiu Min.
CKLEK
"Jong Dae, kau sudah sadar, nak?"
Eomma membuka pintu kamar Chen dan masuk sambil membawa baki berisi segelas teh hangat dan semangkuk ramyeon yang masih mengepulkan asap.
"Eomma…"
"Tadi kau pingsan. Untung Appa menemukanmu lalu segera membawamu ke kamar. Kau kenapa, Jong Dae?" tanya Eomma, khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Eomma. Hanya sedikit lelah." Chen meremas selimutnya.
"Hmm…" Eomma memerhatikan wajah Chen. Yeoja paruh baya itu tersenyum lembut kemudian mengelus pipi anaknya. "Kau menangis, Dae-ie. Berceritalah pada Eomma, sayang…"
Chen menggigit bibirnya. Di satu sisi, ia malu bercerita pada Eomma tentang masalahnya. Di lain sisi, ia membutuhkan seseorang yang bisa dijadikannya tempat berkeluh kesah.
"Aku, menyukai seseorang, Eomma.." Chen memulai dengan suara kecil. "Mulanya hanya dia yang menyukaiku.. Aku tidak menyukainya sama sekali. Kemudian kedua sahabatku mengatakan untuk mencoba membalas perasaannya.. Tapi aku belum bisa, belum. Karena aku menyukai yeoja bernama Sohee…"
Eomma mendengarkan dengan sabar. Tangannya mengelus-elus punggung Chen yang mulai bergetar.
"Ta—tapi… Ketika aku menyatakan cintaku pada Sohee, dia mendengarnya… Sayangnya, Sohee menolakku.. Hiks.. Dan.. Dia… Sepertinya menjauh dariku.."
"Apa kau tulus menyukainya, Dae-ie?" tanya Eomma lembut.
"A—aku…"
"Eomma dan Appa tidak akan marah sekalipun yang kau sukai itu namja. Tapi ingatlah, Jong Dae… Jangan salah mengartikan 'mencoba menyukai' dengan 'menjadikan pelampiasan'…"
Chen membulatkan matanya. Eomma menepuk bahunya seraya tersenyum tipis.
"Sekarang makanlah.."
ͼ Mianhae, Saranghae ͽ
Esok harinya…
Baekhyun masih bersikap dingin. Chanyeol yang berada di pihak netral mulai bingung harus bersikap bagaimana. Lagipula Chen juga tidak terlalu menggubris keduanya.
''E—engg.. Annyeong, Chen" Sapa Chanyeol, canggung. Matanya melirik Baekhyun dan Chen yang masih enggan berbicara satu sama lain.
"Annyeong" Balas Chen, dingin. Lalu pergi ke luar kelas.
"…Hufft.." Chanyeol menghela napas melihat tingkah Chen. Baekhyun memandang sinis namjachingunya.
"Sudahlah, Yeollie. Biarkan saja dia!"
Chanyeol tidak menjawab. Dia tahu, mendebat perkataan Baekhyun di saat namja manis itu sedang bad mood hanya akan memperkeruh suasana.
•ᴥ• ~Rilakkuma~ •ᴥ• ~Rilakkuma~ •ᴥ•
Chen berjalan tak tentu arah. Ini masih pagi, jadi ia memutuskan untuk menyegarkan pikirannya terlebih dahulu. Mungkin saja di tengah jalan ia bertemu Xiu Min…
Hei, Kim Jong Dae! Sadarlah, 'penguntit'mu itu sudah memiliki namjachingu! Jangan berharap..!
Chen menggeleng kuat-kuat. Dia tidak boleh memikirkan Xiu Min lagi. Tidak boleh.
"...Xiuu~!"
DEG
Aigoo.. Hampir saja Chen berhasil mengenyahkan bayangan Xiu Min dari otaknya!
Sementara itu, Luhan, orang yang tadi meneriakkan nama Xiu Min, berlari kencang menghampiri sahabatnya yang tersenyum lebar di gerbang sekolah.
"Yaa, cerah sekali wajahmu hari ini, Baozi! Ada apa, eoh?" tanya Luhan seraya mencubit kedua pipi chubby Xiu Min, yang langsung disambut ringisan dari namja tembem itu.
"Aduh, lepas! Isshh…" Xiu Min menyingkirkan tangan Luhan dan menepuk-nepuk pipinya. "Bisa-bisa pipiku bertambah melar Lulu!"
"Aku memang mengharapkan itu, kok" kikik Luhan. Xiu Min melotot mendengar perkataan Luhan.
"Hehehe... Ayo, jawab pertanyaanku tadi! Kenapa kau senang sekali hari ini, eum?" tanya Luhan masih penasaran.
"Rahasia~ Nanti saja kuceritakan..." ujar Xiu Min sambil menjulurkan lidahnya, kemudian berlari ketika Luhan mengambil ancang-ancang akan memukulnya.
"Yak! Baozi! Tungguuu!"
"Tidak akan~~!"
Xiu Min tertawa-tawa, kaki-kakinya masih berlari. Dan…
BRUK!
Tubuhnya sukses menabrak seseorang.
"Auw!" Xiu Min terduduk di tanah. Pantatnya terasa panas. Sementara tubuh yang ditabraknya malah tetap tegak. Sepasang mata mengawasinya yang mengaduh kesakitan.
"Uukhh…"
Xiu Min mencoba berdiri. Tapi kakinya goyah, dan sebelum ia kembali jatuh, tangan seseorang menggapai serta menggenggam lengannya erat. Menahannya.
"Go—gomawo…" Xiu Min mendongak, hendak berterima kasih.
Namun matanya melebar melihat siapa yang menolongnya. Kim Jong Dae.
"K—kau…"
Chen berdiri di depannya dengan raut muka datar. Xiu Min refleks menarik lengannya dan mundur. Mundur sampai punggungnya menabrak Luhan yang mengejarnya.
"Appo! Kenapa kau tiba-tiba mundur, Xiu… Eh." Protes Luhan terhenti melihat Chen berdiri beberapa meter di depan mereka berdua. Sebaliknya, matanya segera menyipit tajam.
"Kenapa kau bisa di sini?!"
"Gwenchana?"
Chen mengabaikan Luhan dan bertanya kepada Xiu Min. Sejujurnya, ia berusaha keras untuk tidak terlihat gugup, dan berhasil memasang poker face-nya.
"N—nee.." Xiu Min menunduk. Tidak berani menatap wajah Chen.
Chen menghela napas—lagi.
Untuk beberapa menit, ketiganya diam. Sampai akhirnya Luhan jengah lalu menarik Xiu Min. "Kajja, kita kembali ke kelas!"
Xiu Min hanya menurut saja. Tapi matanya sesaat melirik Chen sebelum mengikuti langkah Luhan.
'Kenapa aku masih tak bisa melupakannya…?'
ͼ Mianhae, Saranghae ͽ
TENG~ TENG~ TENG~
Bunyi bel masuk menyentakkan lamunan Chen. Namja bersuara emas itu memejamkan matanya sejenak lalu berbalik. Berjalan lamat-lamat ke kelasnya.
.
.
Apa dia harus menyerah? Sama seperti Xiu Min?
.
.
BaekYeol sedang berdiskusi tentang sesuatu saat Chen melewati mereka dan duduk di bangkunya. Chanyeol segera menoleh ke belakang sedangkan Baekhyun menatap lurus ke depan.
"Kau dari mana, Chen?"
"Jalan-jalan."
Chanyeol mengangguk. Ia kembali menghadap ke depan karena seonsaengnim sudah masuk ke dalam kelas.
Dan sepanjang pelajaran, Chen sama sekali tidak bisa fokus.
ͼ Mianhae, Saranghae ͽ
"APHAH?! BENHERHAN, HYWUNG!?"
PLAK
"Habiskan dulu makanan di mulutmu, Hunnie! Aigooo.." kesal Luhan sehabis menjitak kepala Sehun.
Sehun meringis, lalu cepat-cepat menghabiskan makanannya. "Glup!…Apa? Hyung tabrakan sama Chen hyung?!"
Xiu Min mengangguk malas, melahap bakpaonya.
Kini XiuHunHan menghabiskan waktu istirahat di kantin. Kantin masih sepi, jadi mereka bisa ramai sesuka hati.
"Terus?"
"Apa nya?" tanya Xiu Min balik.
"Tidak mungkin hanya tabrakan. Pasti ada yang lebih.." sahut Sehun.
"Seperti…?"
"Kissu secara tak sengaja…"
DUAKK!
Luhan tidak setengah-setengah. Dia memukul lengan Sehun dengan piring besi, hingga Sehun mengaduh-aduh kesakitan. Wajah Xiu Min merona merah.
"M—mwo? Tentu saja tidak! Dasar…" cicit Xiu Min. Dia memalingkan mukanya agar HunHan tidak melihat betapa merahnya wajahnya.
TAP
TAP
Greek—
XiuHunHan kompak menoleh ke arah BaekYeol yang menarik kursi tak jauh dari mereka kemudian duduk. Pasangan itu mengobrol pelan tanpa menyentuh makanan dan minuman yang telah dibeli.
"BaekYeol? Kenapa tak ada… Uhm…" Luhan menghentikan kalimatnya. Dia melihat Xiu Min yang terpaku. "Xiu…?"
"Di mana Chen?"
Sehun dan Luhan terdiam. Mereka memandang miris, 'Bukankah kau ingin melupakannya? Kenapa kau masih berharap pada si brengsek itu?'
Xiu Min berdiri. Tapi Sehun buru-buru menahan tangannya. "Hyung, mau ke mana?"
"Engg.. Jalan-jalan sebentar…" Xiu Min tahu, HunHan akan melarangnya mencari Chen.
"Duduklah, Xiu! Bakpao mu masih tersisa banyak!" Luhan ikut menggenggam tangan Xiu Min.
"Aku akan membawanya!" Xiu Min bersikeras. Dengan kekuatannya, dia menghempaskan tangan HunHan dan membawa kantong kertas berisi bakpaonya pergi.
Tanpa disadari, BaekYeol mengamati mereka sedari tadi.
—Taman belakang sekolah
Chen, seperti kemarin, berbaring di atas rerumputan dan memandang langit-langit. Gemericik air sungai yang tenang semakin membuat nyaman suasana.
"Majimak insal naege geonnegi jeone~ Aju jamkkanman meomchwoseo nal bomyeo useojwo~
Jamsinama naege bicheul jun nege~ Kkeuchirado nunmul ttawin boigi sirheoseo na~"
Chen bernyanyi. Dia menyenandungkan lagu dari B2ST yang berjudul When The Door Closes itu dengan pandangan kosong. Sekosong hatinya.
"Neoege useum jieumyeo~ Gomapdago haengbokhan chueok naege mandeureojwoseo~…"
Dan Xiu Min mendengarnya.
Namja imut itu berjongkok di balik semak-semak, setelah 10 menit mengelilingi sekolah demi menemukan Chen.
Xiu Min memejamkan matanya. Menikmati suara merdu Chen yang mengalir bersama hembusan angin. Membuatnya merasa hangat dan nyaman…
Akhirnya Xiu Min memutuskan untuk berdiri dan menghampiri Chen. Dia mendudukkan dirinya tanpa suara di samping Chen yang masih asyik bernyanyi.
"Eosaekhan misoreul bichumyeo~ Neol ireoke bonaejiman~—"
Chen berhenti sebentar untuk mengambil napas. Mendadak ia tersadar ada seseorang di sampingnya. Dengan cepat ia menoleh ke samping dan menemukan Xiu Min memandangnya lekat.
"Xiu~..."
ChenMin sama-sama diam. Mereka hanya melihat satu sama lain dan berbagi melalui tatapan penuh arti.
".…Apa kau lapar? Ini." Xiu Min mengulurkan kantong bakpao. Chen menatapnya bingung.
"Apa isinya?"
"Bakpao." Jawab Xiu Min polos.
Chen terkekeh, "Gomawo, kau juga makanlah."
"Nde!"
Xiu Min meraih sebuah bakpao dan melahapnya. Chen tersenyum kecil seraya menggigit bakpaonya. Pasangan yang imut~
"…Saranghae, Kim Min Seok." Ujar Chen tiba-tiba.
Xiu Min membeku. Chen sendiri tidak tahu mengapa ia tiba-tiba berbicara seperti itu.
"…"
"Kau tak menyukaiku lagi?"
"Aku…"
TENG~! TENG~!
Bunyi bel menginterupsi perkataan Xiu Min. Xiu Min yang merasa terselamatkan buru-buru berdiri dan membungkuk pada Chen, lalu pergi.
Chen lagi-lagi menghela napas.
"Kenapa sangat sulit… eo?"
ͼ Mianhae, Saranghae ͽ
"Xiu~ ayo cepat!" pinta Luhan. Kakinya seperti berlari ditempat.
"Sebentar… aku masukkan dulu buku-buku ku, Lulu…" ujar Xiu Min, tangan nya tampak merapihkan buku-buku denga cepat.
"Sehunnie sudah menunggu~~" pinta Luhan.
"Nde… nde.. oke, aku siap—yak! Xi Luhan! Kenapa kau meninggalkan ku?!" pekik Xiu Min kaget karena Luhan sudah berlari keluar kelas.
"Aish.. dasar anak itu" gerutu Xiu Min, pemikirannya, Luhan akan date lagi dengan SehunNYA.
"Kalau begitu, tidak perlu mengajak pulang bersama lagi" lanjut Xiu Min kesal.
Xiu Min terus berjalan, sambil menggerutu karena Luhan meninggalkan nya.
"Dasar aneh, rusa kerdil, rusa jelek, rusa—KRIS…?" pekik Xiu Min kaget, melihat Kris yang terengah-engah berada di depan nya. ayolah, ini masih di koridor sekolah, kenapa Kris bisa ada disini?
"Ah, Xiu Min ge, untung aku bertemu dengan mu" ujae Kris lega.
"Kau.. kenapa?" tanya Xiu Min.
"Banyak yang mengerubuni ku, karena sesak akhirnya aku lari, tapi mereka mengejar ku, untung aku tidak bersama Tao" jawab Kris, menyandarkan punggung nya yang terasa lelah di dinding.
"Oh.. dan.. kenapa kau ada di sekolah ku? Bukan kah 3 jam lagi kau akan kembali ke Kanada bersama Tao?" tanya Xiu Min, memilih berjalan, dan Kris mengikutinya dari belakang.
"Aku sengaja menjemput mu, ge" jawab Kris.
"Baguslah, aku sedang kesal dengan Rusa aneh dan Anak cadel" keluh Xiu Min kesal. Teringat lagi Luhan meninggalkan nya.
"Sehun dan Luhan ge maksud nya?" tanya Kris. Tahun lalu, Kris pernah dikenalkan dengan Luhan oleh Xiu Min. begitu juga dengan Sehun.
Xiu Min mengangguk.
"Ooh… aku tadi melihat mereka di gerbang, saat menjemputmu" ujar Kris.
"Mwoya? Lalu?" tanya Xiu Min.
"Mereka pergi" jawab Kris singkat.
"Aish… dasar mereka..!" kesal Xiu Min.
"Ge, sepertinya kita harus cepat, Panda Tao akan marah jika aku berlama-lama karena dia mengetahui juga jam pulang sekolah" ujar Kris terkekeh.
Xiu Min mengangguk, dan akhirnya berjalan cepat—diikuti Kris menuju gerbang sekolah.
Tanpa mereka sadari—lagi, Chen melihat Xiu Min dan Kris. Sorotan matanya kembali kosong.
'Menyerah…'
'Jangan salah mengartikan 'mencoba mencintai' dengan 'menjadi pelampiasan''
BRUK
"Babo!" desis Chen pilu, meremas kuat tasnya. Menahan emosi yang bisa keluar sewaktu-waktu. Membiarkan punggung nya lecet karena bertabrakan keras dengan dinding.
Chen menutup matanya. Mencoba mencari ketenangan untuk sesaat. Dan kedua orang yang berdiri tidak jauh darinya. Hanya menatap nya pilu.
"Aku harus datangi Chen!"
"Tidak! Biarkan dia seperti itu. Biarkan dia merasakan hal yang harus dirasakan nya, Yeollie!"
Ucapan Baekhyun yang tegas dan kecil menghentikn langkah Chanyeol. Chanyeol hanya menatap datar Baekhyun.
"Dia sedang tertekan, Baekkie!"
"Biarkan! Arrghh! Ayo kita pergi!"
Baekhyun menggeram kesal dan menarik paksa tangan Chanyeol. Chanyeol sebenarnya ingin menolak. Namun lebih baik menurut dari pada membuat namjachingunya ini semakin marah.
Baekhyun terdiam terus semasa perjalanan—menarik Chanyeol keluar sekolah. Dalam hati kecilnya, dia sangat kasihan kepada Chen. Sama seperti Chanyeol. Baekhyun amat khawatir kepada Chen. Namun, ego nya yang sangat besar menutupinya.
"Ck, kau kena akibatnya, Kim Jong Dae" cibir Baekhyun kecil. Dengan mata sedih karena mengucapkan hal yang tidak ingin diucapkannya.
Salahkan egonya. Yang membuatnya seperti ini.
ͼ Mianhae, Saranghae ͽ
Xiu Min berjalan dengan santai. Bersama orang-orang yang sedang berlalu lalang membuat nya seperti diantara kerumunan.
Bisa diketahui, Xiu Min baru saja kembali dari bandara Incheon untuk mengantarkan Kris dan Tao yang kembali ke Kanada.
"Ah, sepertinya aku bisa ketempat itu" ujar Xiu Min, menyadari jalan yang ia lewati adalah jalan yang sudah sangat ia hapal.
Xiu Min berlari dengan cepat menuju sebuah pinggiran sungai yang sepi. Alasan ia berlari cepat hanya untuk menbuat orang tidak mengetahui tempat ini selain dirinya—
Tunggu?
Xiu Min sudah sampai ditempat yang sangat ia rindukan. Namun kenapa ada orang yang tengah menatap sungai itu dengan tatapan kosong?
Tapi… rasanya Xiu Min kenal siapa orang itu.
Xiu Min tidak mengeluarkan suara. Dia mematung. Bukan mematung biasa. Namun mematung memperhatikan orang itu. Tampak, orang itu melempar batu kearah sungai itu. Tetap, pandangan kosong.
"Majimak insal naege geonnegi jeone~ Aju jamkkanman meomchwoseo nal bomyeo useojwo~ Jamsinama naege bicheul jun nege~ Kkeuchirado nunmul ttawin boigi sirheoseo na~"
DEG
'Suara ini…'
"Neoege useum jieumyeo~ Gomapdago haengbokhan chueok naege mandeureojwoseo~
Eosaekhan misoreul bichumyeo~ Neol ireoke bonaejiman~"
'C—C—'
"I muni dachimyeon ne moseubi sarajimyeon~ Harureul nunmullo salgetjiman~ Neowaui chueok ttaemune~ Honja nama haengbogeul deo baralge~ Na jigeum I soneul nochimyeon~ Ije tto useul il eopgetjiman~ Dareun saramui pumeseo~ Utgo isseul neol bomyeo na useo bolge~"
Suara orang itu menggema di pinggir sungai ini. Xiu Min menikmati suaranya. Nyanyian ini sama seperti yang dinyanyikan Chen di pinggir sekolah.
Chen?
Bisa diketahui, orang itu adalah Chen. Entah kenapa Chen mengetahui tempat yang menurut Xiu Min terpencil ini—karena tidak ada yang datang kesini kecuali dirinya.
"Geu saramgwauigildeon—"
"—gildeon inyeonui kkeute~ Seoseo gidarigo itdeon naran geol arajwo~ Jamsirado geu saram saenggagi nal ttae~ Geuttaeboda utge hal neol yaksokhaebojiman neo~"
Entah mengapa Xiu Min ikut bernyanyi. Suara indah nya melanjutkan nyanyian Chen. Sambil menutup matanya dan menggoyang-goyangkan tubuh nya mengikuti irama. Dan Chen yang merasa ada orang selain dirinya. Mencari keberadaan orang itu—Xiu Min. Dan langsung bisa ditemukan karena Xiu Min menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Chen tersenyum melihat itu. Walau dia sudah sangat pasrah akan mengenai Xiu Min. namun cukup dengan ini, dia sudah cukup senang.
"Xiu Min, keluar saja…" ujar Chen. Dengan suara datar yang terdengar lembut.
Xiu Min tersentak. Tangan mungilnya dengan cepat menutup mulutnya. Sungguh, demi apapun ini sangat memalukan.
"Keluar saja… Xiu Min…" kekeh Chen. Merasa kelakuan Xiu Min itu seperti anak kecil. Padahal, Xiu Min lebih tua dari Chen.
Xiu Min masih terdiam. Ia sangat malu.
"N—nde…"
Xiu Min berdiri, dan keluar dari semak-semak.
"Wa—waeyo…?" tanya Xiu Min gugup.
"Gwenchana… duduklah…" jawab Chen, menepuk-nepuk tanah yang berada disampingnya.
Xiu Min mengangguk kecil. Dan akhirnya duduk disebelah Chen.
"…."
Keheningan menghampiri. Tidak ada satupun dari kedua insan ini mampu memulai pembicaraan. Pertama, karena Chen sangat pasrah, dikarenakan Xiu Min memiliki namjacingu—menurutnya. Kedua, Xiu Min cukup malu karena ketahuan mengintip dan bernyanyi. Suaranya sangat jarang didengar orang.
"Eng… kenapa kau ada disini?" tanya Xiu Min, setelah mampu mengumpulkan suara untuk membuka pembicaraan.
"Aku… hanya tidak sengaja menemukan tempat ini…" jawab Chen kecil, "dan kenapa kau berada disini?"
"Karena… ini tempat yang nyaman… dulu… aku sering kesini…" jawab Xiu Min.
"O—ooh.."
Keheningan kembali menyapa. Terlalu canggung untuk keduanya memulai pembicaraan lagi.
Malam yang dingin. Sepi. Namun indah. Dengan beberapa ekor kunang-kunang menghampiri mereka. Seperti mengajak untuk bermain atau menemani masa-masa romantis.
"Xi—Xiu.. Min.. hyung.." panggil Chen gugup.
"N—nde?" sahut Xiu Min.
"Kau… sudah memiliki… namjachingu?" tanya Chen. Sakit sekali ia mengatakan hal ini. mengetahui hal yang nyata. Bahwa Xiu Min mempunyai namjachingu yang lebih tampan darinya.
"Mw—mwo..?" tanya Xiu Min kaget. Namjachingu? Bahkan dia tidak menyukai siapa-siapa, kecuali namja yang berada didepan nya ini.
"Aku… sudah melihat nya… hahaha.. aku bodoh… ck. Xiu Min hyung, aku harus pulang… mianhae…" ujar Chen, segera berdiri menyadari ucapan bodoh nya ini.
Xiu Min diam mematung, menyadari apa yang dimaksud Chen.
"Bukan kau saja yang bodoh, Chen. Aku juga… bodoh… bahkan lebih bodoh darimu—"
|TBC|
(BACA YANG DITEBELIN! )
TBC ._.
NOOO! w(TTATTw)
Ingin nya langsung END gitu… TToTT
Dan awalnya Rin Rin kira ini bakal jadi Chap yang terpanjang… ternyata… =="a
Oh ya, RIN RIN BAKAL HIATUS KARENA RIN RIN SIBUK SAMA MAU UKK, JADI NYA NGGAL NGE-PUBLISH LAGI (MUNGKIN). TAPI RIN RIN BAKAL TETEP NULIS KOK… TAPI AKAN LAMA KARENA RIN RIN SIBUK DAN MAU FOKUS BELAJAR ._.
BALASAN REVIEW :
Azura Lynn Gee : Iya marahan ._. 92 liners marahan! w(TTATTw) bingung karena ada TBC di tengah jalan? Mianhae.. awalnya cuman buat iseng-iseng.. '3' thanks for your review… review again please… #bbuing2
Daevict024 : Xiu Min nggak bakal tega buat Chen menderita… thanks for your review… review again please… #bbuing2
Kopi Luwak : Nggak kuat? Tutup mata /.\ thanks for your review… review again please… #bbuing2
Akita Fisayu : Iya nggak ada temen ._. kan pas itu, Chen nya labil #dihajar thanks for your review… review again please… #bbuing2
XiuBy PandaTao : Nanti bahagia kok.. tenang… #pokpokpok(?) thanks for your review… review again please… #bbuing2
Brigitta Bukan Brigittiw : Hati-hati chingu… nanti di sambar petir nya Chen -_- thanks for your review… review again please… #bbuing2
ajib4ff : Ada dong… :3 di Chap ini ada Tao :3 Chap depan mudah-mudahan ada SuLay :3 thanks for your review… review again please… #bbuing2
xiaa : Rin Rin juga kasihan u.u thanks for your review… review again please… #bbuing2
Kim Jong DaeBak : Cinta itu emang butuh perjuangan sob(?) '-'a thanks for your review… review again please… #bbuing2
