Disclaimer:

I do not own Naruto.

Author's Note:

Yohoho... I am back!! XD

Khusus untuk FreiyA_SnowDrops : Call me Megu! Atau Megu-chan! -Puppy eyes no jutsu- Chiaki itu nama suami saya... (Para pencinta Chiaki-senpai keselek... wakakakak) Thanks for d' review! Cepetan sign up di FFN!! Nggak bakal rugi, deh! XD

Well, kawan... Chapter ini memang agak pendek, tapi bakal cepet di-update kok! ^^ Selamat membaca!!!!


From Storm 'til Shine

3

Shore and Sky



"HAAAAHH??!!" Mulut Naruto terbuka lebar, dan matanya pun melotot.

Sasuke hampir tak bisa menahan tawa. Sebagian karena mimik Naruto yang sangat lucu baginya, juga karena heran pada permainan takdir yang mempertemukan mereka.

"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku sampai seperti itu," kata Sasuke, masih diiringi dengan tawa kecil.

"Eh… eh…?!!" Naruto masih sangat kebingungan, "T-tapi… kata kakak itu… adik lelakinya… Ja-jadi kupikir, yang akan kuselamatkan adalah anak berumur sepuluh tahun atau di bawahnya…"

Sasuke hampir nyengir, "Ya, sepuluh… tambah delapan tahun lagi, OK?"

Mendengar itu, Naruto terdiam, tapi lalu ia melanjutkannya dengan tersenyum. Agaknya senang pada kenyataan ini. Tapi… tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu…

"Terus, bagaimana kau bisa ada di laut? Kenapa kau bisa tenggelam? Apa mereka menenggelamkanmu? Atau kau terpeleset dan tenggelam karena tak bisa berenang?" tanya Naruto bertubi-tubi. Api kecemasan mewarnai matanya, padahal peristiwa ini sudah lewat beberapa hari yang lalu.

Detik itu juga, senyum di bibir Sasuke menghilang.

"Aku bukannya tak tahu berenang," katanya.

Naruto semakin memandangnya heran. Sasuke menjawab tatapan itu dengan datar, "Aku ingin bunuh diri."

Kali ini, mata Naruto melotot lagi, dipenuhi dengan kemarahan.

"DASAR BODOH!!! Apa-apaan kau ini?!!"

Sebagai balasan, Sasuke hanya tersenyum sedih padanya. Sukses membuat Naruto tercekat, semua kata-kata tegurannya tertahan di lidah.

"Kupikir keluargaku tak mengharapkan aku lagi… mereka tak butuh aku, Naruto," katanya, kembali ke wajah stoic itu.

"Ta-tapi kau dengar aku 'kan? Mereka khawatir padamu!" balas pemuda pirang itu, mencoba membela sesuatu, atau seseorang… entah apa dan siapa.

Sasuke memandang jauh ke laut, tapi jelas, yang benar-benar ia lihat bukanlah kumpulan air garam yang bergelombang itu.

"Selama ini… mereka menumpukan harapan mereka pada kakakku, Itachi," ia menerawang jauh mengingat masa lalunya, "Aniki yang serba bisa dan sempurna itu dicintai oleh semua orang. Sekeras apapun aku berusaha, mereka tak pernah mau memandangku. Dalam keluargaku, aku tidak lebih dari sebuah pelengkap… pelengkap yang bahkan tidak dibutuhkan. Karena itu… saat diculik, sebenarnya aku tidak peduli. Aku tidak peduli apakah aku bisa kembali pada mereka atau tidak. Tapi aku juga tidak mau dibawa lari dan dijadikan budak oleh nenek sialan itu. Lebih baik mati saja."

Naruto memandang Sasuke tidak percaya.

"Jadi, di tengah badai begitu kau melompat ke laut?!" tanya Naruto.

"Ya," jawab Sasuke pendek.

"AAAGGH!! Kau ini memang bodoh!! Nyawamu itu berharga, tahu! Kalau kau tidak disayangi, minimal cintailah dirimu sendiri!!" seru Naruto kesal sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.

Sasuke terdiam. Tak ada bantahan. Tapi juga tak ada rasa gentar ataupun penyesalan yang tersirat dari mata onyx-nya.

Naruto bisa dengan mudahnya membaca ini.

"…sudahlah, sesukamu saja."

Pemuda pirang itu berdiri dan hendak beranjak pergi. Tetapi tiba-tiba saja Sasuke menahan lengan Naruto dengan genggaman tangannya yang kuat.

"Jadi… karena itu kau bisa bertahan?" tanya Sasuke singkat.

Tanpa menatap ke Sasuke, Naruto mengangguk. Ia berusaha untuk menghilangkan kekesalannya kepada pemuda berambut gelap itu… lagipula, apa gunanya ia marah? Toh Sasuke sudah selamat… Terlebih lagi, ia bukan siapa-siapa untuk Sasuke.

Ia akhirnya menoleh.

Mata biru itu pun memandang ke Sasuke dan ia berkata, "Aku percaya… selama aku bisa bertahan dengan mencintai dan melindungi diriku sendiri, suatu saat nanti akan ada orang lain yang mau menerimaku apa adanya… meskipun mungkin hanya seorang."

Sasuke mempererat genggamannya pada lengan Naruto. Mata onyx itu bertemu dengan mata biru langit.

Sang pemilik mata onyx bertanya lirih, "Apa aku boleh… menjadi orang itu?"

Sesaat Naruto membelalakkan matanya. Mungkin tak percaya pada pendengarannya sendiri. Tapi hanya sesaat. Karena tiba-tiba terganti dengan sebuah senyuman terindah yang pernah Sasuke saksikan seumur hidupnya.


"Boleh," jawab pemuda pirang ini lembut, "Selama kau mengizinkan aku melakukan hal yang sama."

"Sasuke! Bagaimana kalau kita membuat tulisan SOS seperti yang di film-film itu?"

"Hah?" balas Sasuke bingung.

"Iya! Tulisan SOS di pasir pantai!! Meniru film-film tentang orang yang terdampar di pulau seperti kita."

"Hn…" Sasuke berpikir sejenak,"boleh juga."

Naruto nyengir dan membalas, "Aku cari ranting dulu!"

Beberapa saat kemudian…

"Segini cukup?" tanya Naruto setelah membuat tulisan SOS yang seukuran dengan tubuhnya.

"…terlalu kecil," komentar Sasuke pendek.

"Ah! Masa' sih??" balas Naruto sangsi.

"Coba kau pikir! Yang melihat ini berada jauh di atas sana!" tunjuk Sasuke ke langit, "Mana mungkin tulisan sekecil itu bisa terbaca? Yang pilot di sini siapa, sih?" balas Sasuke tajam.

Naruto memanyunkan bibirnya dan menjawab, "Iya, iya…"

Pemuda pirang energik itu pun menggoreskan rantingnya di pasir pantai dan membuat huruf S yang amat besar.

"Segini cukup?" tanyanya lagi.

Sasuke melihat dan berpikir sejenak…

"…terlalu tipis. Sepertinya kita butuh ranting lagi."

Naruto memandang Sasuke penuh tanda tanya.

Tak lama, kayu-kayu berukuran sedang telah siap di tangan mereka.

"Kita buat berdua," ucap Sasuke.

Merekapun mengikuti alur huruf S yang telah dibuat Naruto tadi. Bergerak bersamaan, dan selesai bersamaan pula.

"Hufuf S, selesai!!" seru Naruto.

Sasuke tersenyum dan berjalan beberapa langkah dari tempat mereka berada. Berusaha untuk tidak menginjak hasil karyanya dengan Naruto.

Ia berhenti di tempat kosong yang berada di sebelah kiri huruf S itu.

'Kira-kira di sini…' pikirnya dalam hati.

"Ke sini, Naruto-chan!" panggil Sasuke segera, bermaksud untuk membuat huruf O bersama dengan Naruto.

Wajah Naruto refleks memerah mendengar panggilan itu.

Saat Sasuke melihat rona merah di wajah pemuda pirang itu, barulah ia menyadari kebodohannya tadi.

'Kelepasan…' katanya dalam hati, hampir bergerak untuk memegang mulutnya, dengan wajah yang mulai memerah juga.

"OK, Sasu-chan," balas Naruto pada akhirnya. Sembari berjalan mendekat kepadanya.

Saat tatapan mereka bertemu, rona merah belum juga hilang dari wajah masing-masing. Tapi ide jahil melintas di otak Sasuke.

"Narussy," katanya.

Dibalas, "Saskay."

"Uschi," balas Sasuke lagi.

"Sasu-koi," balas Naruto, dengan wajah yang semakin memerah.

Sasuke pun begitu…

"Naru… koi."

SIIING… kali ini tak ada balasan.

Hening menyelimuti mereka lagi, padahal jantung masing-masing terus saja berdebar kencang.

Naruto lalu tersenyum penuh arti pada Sasuke, "TEME!"

Sasuke membalas dengan senyuman yang sama persis dan membalas, "DOBE."


"Sasuke…"

"Hn."

"Kau belum bisa tidur?"

Setelah semua yang terjadi hari ini? Tentu saja belum!

"Hn."

"Kalau begitu… hadap sini, buka matamu. Lihatlah ke langit," pinta Naruto.

Sasuke mengubah posisinya yang tadinya membelakangi Naruto. Ia berbaring terlentang, mengikuti posisi pemuda pirang ini. Sasuke membuka matanya, dan memandang langit…

Ribuan bintang menyambutnya. Entah dimana bulan sekarang.

"Sasuke," panggil Naruto lagi.

"Hn?"

"Apa kau tahu? Aku iri pada langit," kata pemuda pirang itu.

"…kupikir kau suka langit," balas Sasuke sekenanya.

Ia sendiri tidak tahu mengapa ia berpikir begitu… Mungkin, salah satu alasannya, kalau Naruto tidak suka… mana mungkin Naruto tetap bertahan di AU untuk bisa jadi pilot? Untuk melarikan diri dari sikap semena-mena mereka itu 'kan gampang? Tinggal pergi, pergi dari tempat itu. Tapi Naruto tidak pergi… kira-kira apa alasannya?

"Aku memang suka," ucap Naruto, "…cinta malah. Tapi aku juga iri. Iri sekali."

"Kenapa?"

Naruto diam sejenak.

"Pada langit itu…," ucap Naruto pelan, "banyak orang yang menggantungkan harapannya. Entah ia akan cerah, mendung, atau malah badai… Semuanya, menjadi tempat bergantung banyak orang. Orang-orang yang piknik pastinya berharap langit akan cerah 'kan? Sedangkan toko Payung misalnya, mungkin saja berharap hujan setiap hari. AU juga amat bergantung padanya… kalau muncul awan badai, semua jadwal penerbangan dihentikan. Kita juga, Sasuke… andaikan hujan, kita tidak mungkin bisa tidur di sini 'kan? Mau tidak mau kita harus mencari tempat berteduh, atau malah harus membuatnya sendiri…"

Sasuke menatap Naruto. Meski yang bersangkutan hanya menatap ke langit. Sasuke lalu menyentuh tangan kiri Naruto, dan menggenggamnya erat. Naruto merasakan genggaman itu dan tersenyum pada Sasuke. Tak lupa ia balas menggenggam erat. Matanya kembali ke langit malam.

"Aku iri pada langit… ia diperhatikan dan dicintai oleh banyak orang," sambung Naruto, "Aku tahu… aku yang kecil ini tidak mungkin membandingkan diri dengan langit yang luas itu. Tapi… jika memikirkan bahwa aku ini makhluk hidup, sedangkan dia benda mati… dan melihat keadaanku, yang bahkan tak dianggap ada oleh orang-orang, kurasa… aku makhluk yang sangat menyedihkan."

Sasuke bangkit dari baringnya. Ia duduk dan menoleh pada pemuda yang masih berbaring di atas 'kasur' mereka itu. Mata onyx-nya tidak juga lepas dari Naruto.

"Itu adalah salah satu alasan mengapa aku jadi pilot… yah, kupikir… mungkin aku bisa belajar padanya?" Naruto nyengir.

"Dasar utsuratonkachi," kata Sasuke.

"Apa? Kenapa lagi, te…" me? Protes Naruto terhenti. Bibirnya dibungkam oleh bibir Sasuke.

Tidak sampai semenit setelahnya, Sasuke melepasnya dan berkata, "Lalu aku ini apa, hah? Aku ada di sini. Kau bukan makhluk menyedihkan… dan tidak akan pernah lagi. Aku janji, dobe."

Mendengar itu, wajah Naruto bersemu merah… rasa bahagia terpancar jelas dari wajahnya.

"Terima kasih," katanya sambil tersenyum lembut.

Bibir mereka kembali beradu. Kali ini Naruto tidak lagi berkeinginan untuk menolak ataupun menghentikan Sasuke. Dia menyempatkan diri untuk membalas.

Nampaknya, malam ini akan jadi malam yang panjang…

-
To Be Continued...
-